1,721,013 research outputs found

    PENGARUH TEMNPERATUR SINTESIS SECARA ELEKTROKIMIA TERHADAP KONDUKTIVITAS LISTRIK DAN MORFOLOGI POLIPIROL

    No full text
    Penelitian tentang polimerisasi polipirol secara elektrokimia dengan variasi temperatur telah dilaksanakan dalam tugas akhir ini. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Elektronika dan Komputasi Fakultas MIPA Universitas Jember dan laboratorium Fisika Zat Padat Fakultas MIPA Institut 10 November Surabaya, mulai bulan April 2002 sampai dengan Juni 2002. Polimerisasi polipirol menggunakan pelarut aquades, dan sebagai pendukung elektroiitnya digunakan Sodium P-Toluen Sulfonat. Pada polimerisasi konsentrasi dopan dan rapat arus dibuat tetap, yaitu, pada dopan sebesar 0,1 M sedangkan rapat arusnya adalah sebesar 5 mAcm-- . Pada sintesis ini dari masing-masing variasi temperatur berlangsung selama satu jam. Polimerisasi dibuat dengan temperatur yang berbeda yaitu sebesar, 13° C, 20° C, 25° C, 35° C, 39° C. Temyata dari basil penelitian ini didapatkan harga konduktivitas listrik yang tertinggi pada temperatur 20°C, yaitu sebesar (115 ± 6,9) S/cm. Selain itu dari sintesis ini pula ditinjau morfologi permukaannya yaitu dengan mikroskop optik (MO). Gambar yang diperoleh menunjukan bahwa permukaan yang lebih halus diperoleh pada film dengan konduktivitas yang tinggi, yaitu pada temperatur 20°C

    PENGUKURAN KONDUKTIVITAS LISTRIK

    No full text
    Latar belakang dari penelitian ini didasari dari pentingnya parameter konduktivitas listrik digunakan untuk menentukan kuat atau lemah suatu bahan didalam menghantarkan arus listrik, sedangkan permasalahan yang muncul adalah bagaimana menentukan konduktivitas listrik, sehingga diketahui kemampuan bahan di dalam menghantarkan arus listrik. Tujuan penelitian untuk menentukan konduktivitas bahan dengan menggunakan metode metode dua titik, empat titik, dan van der Pauw, kemudian membandingkannya sehingga diperoleh metode yang paling baik untuk digunakan di dalam melakukan pengukuran konduktivitas listrik. Pada prinsipnya pengukuran konduktivitas listrik dengan menggunakan metode dua titik, masing masing jolok untuk arus listrik dan tegangan terletak pada titik yang sama, sehingga menyebabkan terjadinya hambatan kontak dan hambatan sebar di bawah tiap — tiap jolok logam. Sedangkan untuk metode empat titik dan van der Pauw jolok pembawa arus listrik dan jolok yang digunakan untuk menentukan tegangan keluarannya terletak pada posisi yang berbeda, dimana jolok pembawa arus listrik masih menimbulkan terjadinya hambatan kontak dan hambatan sebar. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk jolok logam yang digunakan untuk menentukan tegangan keluarannya, karena tegangan keluaran diukur menggunakan volt meter digital (fluke 8842A multimeter) yang memiliki impedansi tinggi yang menarik sedikit arus listrik yang mengakibatkan hambatan kontak dan hambatan sebar dapat diabaikan sehingga hambatan bahan dapat ditentukan secara pasti. Dari ketiga metode yang digunakan ternyata metode yang paling baik digunakan untuk pengukuran konduktivitas listrik adalah metode empat titik dan van der Pauw, sedangkan metode dua titik selalu konsisten lebih kecil dari metode empa

    PENENTUAN ENERGI GAP POLIPIROL DENGAN MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI OPTIK

    No full text
    Film Polipirol telah berhasil dibuat dengan memvariasikan konsentrasi dopan dan waktu sintesis. Sintesis film ini menggunakan Sodium Toluene Sulphonate sebagai dopannya, aquades sebagai pelarut dan elektroda yang digunakan adalah stainless steel. Variasi konsentrasi dopan yang digunakan adalah 0,05M; 0,1M; 0,15M; dan 0,2M sedangkan variasi waktu sintesis yang digunakan adalah 1 menit, 2 menit, dan 3 menit. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Elektronika dan Komputasi Jurusan Fisika FMIPA dan Laboratorium Biologi Molekuler mulai bulan Februari 2002 - Mei 2002. Dalam penelitian ini telah dilakukan pengukuran absorbsi dasar pada daerah panjang gelombang 200 nm - 300 nm dan diperoleh hasil bahwa energi gap polipirol adalah 4,67eV s/d 5,31eV. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa konsentrasi dopan berpengaruh terhadap energi gap. Akan tetapi tidak mutlak, sehingga perlu penelitian lebih lanjut

    Analisis Dan Investigasi Karakter Semikonduktor P+-Gaas/N+-Si Heterojunction Untuk Persambungan Sel Surya Tandem Berbasis Si/Gaas Menggunakan Archimedes 2.0.1

    No full text
    Penelitian terhadap teknologi sel surya terus berkembang dan kini para peneliti berusaha meningkatkan efisiensi sel surya dengan mengoptimalkan kemampuan penyerapan spektrum cahaya matahari pada sel surya. Sel surya yang didesain memiliki kemampuan menyerap spektrum cahaya matahari yang sangat besar adalah sel surya tandem (multijunction), yang termasuk dalam sel surya generasi ketiga (Dimroth and Kurtz, 2007). Sel surya tandem (multijunction) merupakan desain sel surya di mana terdapat beberapa persambungan p-n yang dibuat dari material semikonduktor yang berbeda. Penggunaan material berbeda (bandgap berbeda) yang digunakan sebagai persambungan inilah yang ditujukan untuk mendapatkan maksimum foton dari spektrum cahaya matahari. Dalam proses fabrikasi sel surya tandem terdapat batasan mendasar terkait penggunaan material dengan mengoptimalkan bandgap yang memungkinkan tercapainya nilai efisiensi yang tinggi melalui rendahnya tingkat defect. Di balik nilai efisiensi sel surya tandem yang sangat tinggi terdapat tantangan dalam proses fabrikasinya. Berbagai usaha telah dilakukan salah satunya yaitu optimasi persambungan p-n yang digunakan untuk menghubungkan sel satu dengan sel yang lainnya. Persambungan p-n memegang peran penting dan perhatian khusus untuk meningkatkan efisiensi sel surya tandem, hal ini dikarenakan persambungan memiliki pengaruh terhadap besar-kecilnya energi yang diteruskan hingga mampu menghasilkan energi listrik. Oleh karena itu dibutuhkan karakteristik persambungan p-n ideal yang diterapkan untuk menghubungkan antar sel sehingga diharapkan didapatkan energi cahaya yang optimum untuk dikonversi dan menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang besar. Dengan memanfaatkan keunggulan pemodelan numerik berbasis metode beda hingga, respon berupa densitas dan potensial yang diperoleh dari solusi persamaan Poisson non-stasioner digunakan untuk investigasi semikonduktor p+- GaAs/n+-Si heterojunction sebagai persambungan untuk sel surya tandem berbasis Si/GaAs. Peneliti bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketebalan persambungan agar didadaptakan persambungan ideal yang diaplikasikan untuk sel surya tandem berbasis Si/GaAs. Mengacu pada hasil dan analisis maka secara umum dapat disimpulkan bahwa pada semua variasi ketebalan yang dilakukan pada masing-masing lapisan, yakni Si dan GaAs, menunjukkan semakin berkurang ketebalan lapisan persambungan semakin besar rapat arus yang dihasilkan dan semakin rendah besarnya energi konduksi pembawa muatan. Hal ini menunjukkan bahwa pembawa muatan pada semikonduktor p+-GaAs/n+-Si heterojunction semakin mudah menembus barrier saat ketebalan lapisan semakin tipis sehingga menghasilkan arus yang semakin besar. Rendahnya energi konduksi yang dihasilkan oleh persambungan p+-GaAs/n+-Si heterojunction menunjukkan bahwa saat struktur ini digunakan untuk sambungan pada sel surya tandem berbasis Si/GaAs dapat mentransfer energi dengan baik tanpa banyak kehilangan listrik yang dihasilkan

    PENGEMBANGAN SENSOR PH MENGGUNAKAN PRUSSIAN BLUE-POLIPIROL

    No full text
    Telah dikembangkan teknologi pengukuran pH 'dengan menggunakan Polipirol -Prussian Blue sebagai sensor p1-1. Polipirol merupakan suatu polimer konduktif yang bersilat mengantarkan arus [istrik. Prussian Blue merupakan senyawa komplek antara besi dengan sianida. Teknik yang digunakan untuk sensor ini adalah teknik polimerisasi dengan metode galvanostatik menggunakan elektroda stainless steel. Masi' Penelitian Menunjukkan Film tipis yang berwarna coklat kehitaman atau hitam. Penentuan panjang gelombang maksimum dengan menggunakan uji indikator asam ( larutan fiC1 0,1 M), uji indikator basa (larutan Na01-1 0,1 M) dan uji silat netralitas menggunakan larutan air. Hasa yang diperoleh pada panjang gelombang 250 nm dan film Polipirol (ppy)-Prussian Blue (PB) yang terbentuk cenderung bekerja pada daerah basa range p11 7-p1-1 8 dengan persaingan garis Y=0,329X-2,33 dan reproduksibilitas 0.010

    Purwarupa Sistem Irigasi Otomatis Menggunakan Multiple Sensor Berbasis Map Karnough

    No full text
    Sebagian besar petani masih menggunakan metode irigasi permukaan dengan menggunakan tenaga manusia atau tenaga diesel yang menghabiskan banyak biaya dan waktu. Selain itu, irigasi permukaan membutuhkan volume air yang sangat banyak bahkan terkesan membuang-buang air. Penyesuaian volume distribusi air irigasi dengan kebutuhan tanaman dapat dilakukan dengan mengotomatisasi sistem irigasi. Akan tetapi, tidak semua petani dapat mengatur waktu penyiraman dari sistem irigasi otomatis. Oleh karena itu diperlukan irigasi dengan kontrol sistem yang real time dan hanya memerlukan satu kali pengaturan set point. Tujuan penelitian ini membuat prototype sistem pengontrol otomatis untuk penyiraman menggunakan Arduino Uno. Kontrol sistem otomatis menggunakan sistem kontrol berdasarkan persamaan Karnough-map dari tegangan keluaran sensor. Sensor yang digunakan antara lain YL-69 (kelembaban tanah), LDR (intensitas cahaya), LM35 (suhu). Metode penelitian yang dilakukan meliputi perancangan, realisasi dan pengujian. Prototype dirancang menggunakan tiga sensor yaitu LDR (intensitas cahaya), LM35 (suhu) dan YL 69 (kelembaban tanah). Keluaran dari tiga sensor tersebut di sederhanakan menggunakan Karnough-map sehingga menghasilkan satu keluaran. Prototype direalisasikan dengan merangkai semua komponen untuk blok sistem kemudian dilakukan penyiraman. Prototype menggunakan relay sebagai kontrol on-off pada pompa air, sensor YL-69 sebagai pembaca kelembaban tanah, sensor LM35 sebagai pembaca suhu dan sensor LDR sebagai pembaca intensitas cahaya. Pengujian blok sistem bertujuan untuk menetukan set point yang akan digunakan pada pengujian penyiraman. Pengujian penyirmaan menggunakan set point tegangan yang kemudian dari beberapa tegangan sensor disederhanakan dengan Karnough-map. Karnough-map berfungsi untuk menyederhanakan dari beberapa tegangan input menjadi satu keluaran output. Jika kondisi tegangan keluaran sensor memenuhi syarat untuk melakukan penyirman berdasarkan Tabel kebenaran Karnough-map maka sistem akan menyiram. Setelah melakukan pengujian blok sistem dilakukan pengujian penyirman lapang dengan meletakkan prototype di ruang terbuka sehingga diketahui apakah sistem dapat menyiram dengan kondisi alam yang ada. Hasil pengujian blok sistem didapatkan masing-masing sensor bekerja dengan baik. Sensor-sensor yang digunakan memiliki nilai error yang kecil, akurasi, presisi dan tingkat linieritas yang tinggi. Hasil pengujian prototype sistem penyiraman dapat bekerja dengan baik. Sistem dapat melakukan penyiraman berdasarkan sesuai kondisi alam. Ada kondisi wajib dimana sistem dapat melakukan penyiraman yaitu kondisi dimana tanah kering atau sensor YL-69 mengirimkan sinyal 1 (high). Selama pengujian penyiraman sistem melakukan penyiraman selama 10 detik. Jumlah air yang disiramkan sebanyak 111,18mL. Jumlah air yang didapatkan berdasarkan rasio penyiraman dimana debit air yang dikeluarkan pompa adalah 0,11118 L/detik. Sistem akan berhenti menyiram saat jumlah air sudah memenuhi syarat untuk sensor YL-69 mengirimkan sinyal 0 (low)

    PENGARUH GELOMBANG ULTRASONIK TERHADAP PERILAKU MAKAN DAN TINGKAT AGRESI HAMA TIKUS

    No full text
    . Tikus merupakan salah satu hama yang cukup dikenal di dunia pertanian Asosiasi tikus dengan manusia seringkali bersifat parasitisme. Cara biasa untuk memberantas hama tikus sangat mahal dan menyita banyak waktu. Grelombang ultrasonik adalah gelombang bunyi yang memiliki frekuensi di atas frekuensi pendengaran manusia Gelumbang ultrasonik ini dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan hama tikus. Untuk dapat menghasilkan gelombang ultrasonik dengan bentuk gelombang dan frekuensi yang diinginkan. dapat dirancang pembangkit gelombang unmoral dengan menggunakan rangkaian multivihrator yang komponen utamanya mengunakan IC NE 555. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gelombang ultrasonik terhadap perilaku makan dan tingkat agresi hama tikus, dan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi keluaran dan lamanya pengaktifan dari pembangkit gelombang ultrasonik terhadap perilaku makan dan tingkat agresi hama tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang ultrasonik frekuensi 40 KHz tanpa menggunakan setang waktu maupun dengan menggunakan selang waktu 8 detik mampu mempengaruhi perilaku makan dan tingkat agresi hama tikus. Semakin lama pengaktifan pembangkit gelombang ultrasonik, semakin efektif dalam mempengaruhi perilaku makan dan tingkat agresi hama tiku

    ANALlSIS BENTUK SPEKTRUM ABSORPSI NaCl DENGAN MENGGUNAKAN SUMBER CAHA YA TUNGSTEN DAN DETEKTOR FOTODIODA

    No full text
    Penggunaan sampel NaCI yang diletakkan antara monokromator dan detektor akan mempengaruhi cahaya output yang akan dihasilkan. Sebab sampel akan melakukan proses absorpsi terhadap berkas cahaya yang melewati sampel NaCl tersebut, sehingga tidak semua cahaya bisa diloloskan. Sedangkan bila tanpa menggunakan sampel, seluruh cahaya akan lobos menuju detektor dan tidak terjadi proses absorpsi cahaya. Besamya konsentrasi larutan NaCl juga mempengaruhI hasil dari proses atenuasi cahaya yang terjadi. Semakin besar konsentrasi sampel larutan NaCl yang digunakan, maka cahaya yang keluar akan semakin lemah. Bentuk grafik hubungan antara tegangan terhadap panjang gelombang tanpa sampel adalah bentuk spektrum dari tungsten. Sedangkan, bentuk grafik hubungan antara tegangan terhadap panjang gelombang dengan menggunakan sampel adalah bentuk spektrum NaCl. Bentuk spektrum absorpsi dari NaCl yang dihasilkan adalah spektrum pita dengan lebar spektrum 350nm - 900nm. Bentuk grafik hubungan antara tegangan terhadap panjang gelombang dengan menggunakan sampel mmiliki bentuk grafik bergelombang. Hal ini disebabkan adanya kenaikan dan penurunan intensitas tegangan

    Sistem Monitoring Kadar Air Sebagai Kontrol Penyiraman Tanaman Berbasis Internet Of Things

    No full text
    Kelembaban tanah merupakan salah satu variabel yang paling berpengaruh untuk terciptanya lingkungan yang ideal. Kelembaban tanah dipengaruhi oleh kadar air dalam tanah. Kadar air dalam tanah berpengaruh pada kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman. Penambahan kadar air dalam tanah disebut dengan menyiram. Menyiram tanaman harus sesuai dengan kebutuhan agar tanaman tidak busuk saat kelebihan air atau kering saat kekurangan air. Menyiram tanaman agar sesuai dengan kebutuhan dapat menggunakan sistem kontrol yang dilengkapi dengan sensor kadar air yang bisa dimonitoring kapan saja. Kemajuan teknologi dimanfaatkan untuk membuat sistem kontrol penyiraman otomatis yang dikendalikan dari jarak jauh dengan memanfaatkan internet. Sistem kontrol penyiraman menggunakan microcontroller wemos D1 mini dan sensor YL-69 untuk mengetahui nilai dari kadar air. Sistem kontrol dihubungkan dengan sebuah relay agar bisa mengendalikan output penyiraman. Penyiraman akan dilakukan apabila nilai kadar air kurang dari set point kemudian sistem kontrol akan berhenti melakukan penyiraman saat lebih dari set point. Kontrol penyiraman dilakukan melalui website ThinkSpeak dengan menggunakan fitur read. Sistem monitoring dan konrol penyiraman tanaman dengan menerapkan IoT memiliki variabel yang akan diuji yaitu nilai kadar air. Pengambilan data kadar air menggunakan sensor YL-69 sehingga menghasilkan variasi data kadar air akibat penambahan massa air. Sebelum alat digunakan harus melakukan kalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi bertujuan untuk mengetahui akurasi, presisi dan sensitivitas dari instrumen yang telah dibuat. Tahap kalibrasi yaitu mengukur nilai kadar air pada tanah dalam kondisi kering kemudian tanah ditambahkan air secara bertahap hingga viii tanah dalam kondisi basah sehingga diketahui sensitivitas dari instrumen. Pembacaan sensor YL-69 pada nilai kadar air diulang sebanyak sepuluh kali agar mendapatkan presisi dari instrumen. Data hasil pembacaan sensor YL-69 kemudian dibandingkan dengan pengukuran menggunakan metode ASM untuk mengetahui akurasi dari instrumen. Metode ASM membandingkan nilai massa tanah kering dengan massa air, nilai dari metode ASM mengambarkan ketersediaan air bagi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan nilai sensitivitas instrumen sebesar 0,033 volt/% yang artinya setiap perubahan 1% nilai kadar air, nilai tegangan akan berubah sebesar 0,033 volt. Nilai sensitivitas merupakan kemampuan instrumen untuk mendeteksi perubahan pada objek yang diukur. Instrumen berkerja dengan baik pada rentang 0% sampai 50%. Instrumen memiliki nilai akurasi 90,68% dan nilai presisi 98,66%. Kelayakan alat instrumen pengukuran kadar air bernilai 94,67% sehingga sangat layak untuk digunakan

    Karakteristik Spektrum Sumber Radiasi untuk Spektroskopi Sinar Tampak

    No full text
    Penelitian tentang karakttaristik spektum sumber radiasi untuk spektroskopi sinar tampak telah dilakakan di Laboratorium Instrulealasi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember. Ksrakteristik spektreanSumber radiasi untuk Spektrokopi dilakukan dengan menggunakan Lock in Amplifier dengan referensi frekuensi dari optical Chopper sebesar 1000 Hz. Sumber radiasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah lampu tangsten dan laser. Pengujian pengaruh filter absorbsi menggunakan filter warna merah,kuning,hijau dan biru
    corecore