1,721,524 research outputs found
Dining Social Alternatives: Paul’s Dealing with the emotional diversity of the Hellenistic Meal
Interaksi Simbolik Dalam Tiga Lukisan Kaca Karya Haryadi Suadi
Haryadi Suadi adalah maestro lukisan kaca khas Cirebon. Meskipun Haryadi seorang akademisi di lingkungan seni modern, Haryadi berperan penting di dalam mengembangkan seni lukis kaca khas Cirebon, tempat kelahirannya. Karya Haryadi Suadi merupakan substasiekspresi yang menekankan pada berbagai interpretasi atau pengalaman hidup penciptanya. Komunikasi seni yang terjadi dalam penyajian-pameran karya seni lukis kaca tradisi Haryadi Suadi berkorelasi dengan etnografi singkat lukisan kaca khas Cirebon. Lukisan yang dijadikan studi kasus kajian adalah lukisan berjudul Buroq, Kalacakra dan Sang Keadilan. Metode dan Teori yang digunakan adalah interaksi simbolik Herbert Blumer dengan metode kualitatif untuk menguraikan makna estetika simbolik tiga karya tersebut.
Kata kunci: lukisan kaca, Haryadi Suadi, Interaksi Simbolik, Komunikasi Seni.
ABSTRACT
Haryadi Suadi is a Cirebon glass painting maestro. Although Haryadi was an academic in the modern art environment, Haryadi played an important role in developing the unique glass painting of cirebon, his birthplace. haryadi suadi's work is an expression substrate that emphasizes various interpretations or life experiences of its creator. the art communication that takes place in the presentation of glass painting works of the haryadi suadi tradition correlates with a brief ethnography of cirebon glass paintings. paintings used as case study studies are paintings titled buroq, kalachakra and the justice. the method and theory used are herbert blumer's symbolic interaction with qualitative methods to describe the symbolic aesthetic meaning of the three works.
Keywords: Three Works of Haryadi glass painting, Symbolic Interaction, Communication of Art
Menjaga Persatuan (8 = ᴧ)
Dalam pandangan organisatoris, manusia dari lahir sampai mati memerlukan organisasi atau orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini persatuan adalah satu keniscayaan, karena berseberangan dengan orang lain dalam masyarakat dapat mengakibatkan ia ditinggalkan, tidak dipedulikan, bahkan dapat dihancurkan. Oleh sebab itu, mau tidak mau setiap individu merupakan komponen masyarkat yang mesti bertindak dengan status dan perannya sesuai dengan nilai dan norma yang dianut oleh suatu masyarakat atau organisasi di mana ia berada di dalamnya. Berbicara persatuan, paling tidak ada empat konsep yang melekat dengannya, yaitu keragaman, perpecahan, konflik dan perdamaian. Selanjutnya persatuan tidak
serta merta mengandung perdamaian, dan begitu pula keragaman, ia tidak selalu membawa kepada perpecahan dan konflik. Interaksi sosial selalunya dinamis, sehingga dalam pergaulan tidak ada persahabatan dan permusuhan yang abadi. Pola hubungan sosial sangat ditentukan oleh proses dan tingkat pemenuhan kebutuhan individu. Salah satu cara yang paling tepat untuk melanggengkan persatuan adalah dengan cara mencari keuntungan dari interaksi sosial bukan mencari kemenangan atau mendominasi pihak lain. Paper ini menjelaskan perkara ini secara sosiologis dengan merujuk kepada argument ilmiah umum dan Islam
Menjaga Persatuan (8 = ᴧ)
Dalam pandangan organisatoris, manusia dari lahir sampai mati memerlukan organisasi atau orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini persatuan adalah satu keniscayaan, karena berseberangan dengan orang lain dalam masyarakat dapat mengakibatkan ia ditinggalkan, tidak dipedulikan, bahkan dapat dihancurkan. Oleh sebab itu, mau tidak mau setiap individu merupakan komponen masyarkat yang mesti bertindak dengan status dan perannya sesuai dengan nilai dan norma yang dianut oleh suatu masyarakat atau organisasi di mana ia berada di dalamnya. Berbicara persatuan, paling tidak ada empat konsep yang melekat dengannya, yaitu keragaman, perpecahan, konflik dan perdamaian. Selanjutnya persatuan tidak
serta merta mengandung perdamaian, dan begitu pula keragaman, ia tidak selalu membawa kepada perpecahan dan konflik. Interaksi sosial selalunya dinamis, sehingga dalam pergaulan tidak ada persahabatan dan permusuhan yang abadi. Pola hubungan sosial sangat ditentukan oleh proses dan tingkat pemenuhan kebutuhan individu. Salah satu cara yang paling tepat untuk melanggengkan persatuan adalah dengan cara mencari keuntungan dari interaksi sosial bukan mencari kemenangan atau mendominasi pihak lain. Paper ini menjelaskan perkara ini secara sosiologis dengan merujuk kepada argument ilmiah umum dan Islam
Menjaga Persatuan (8 = ᴧ)
Dalam pandangan organisatoris, manusia dari lahir sampai mati memerlukan organisasi atau orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini persatuan adalah satu keniscayaan, karena berseberangan dengan orang lain dalam masyarakat dapat mengakibatkan ia ditinggalkan, tidak dipedulikan, bahkan dapat dihancurkan. Oleh sebab itu, mau tidak mau setiap individu merupakan komponen masyarkat yang mesti bertindak dengan status dan perannya sesuai dengan nilai dan norma yang dianut oleh suatu masyarakat atau organisasi di mana ia berada di dalamnya. Berbicara persatuan, paling tidak ada empat konsep yang melekat dengannya, yaitu keragaman, perpecahan, konflik dan perdamaian. Selanjutnya persatuan tidak
serta merta mengandung perdamaian, dan begitu pula keragaman, ia tidak selalu membawa kepada perpecahan dan konflik. Interaksi sosial selalunya dinamis, sehingga dalam pergaulan tidak ada persahabatan dan permusuhan yang abadi. Pola hubungan sosial sangat ditentukan oleh proses dan tingkat pemenuhan kebutuhan individu. Salah satu cara yang paling tepat untuk melanggengkan persatuan adalah dengan cara mencari keuntungan dari interaksi sosial bukan mencari kemenangan atau mendominasi pihak lain. Paper ini menjelaskan perkara ini secara sosiologis dengan merujuk kepada argument ilmiah umum dan Islam
Haryadi Suadi et la peinture sous verre. Un art populaire au service des académies
This article introduces the reverse glass paintings of Haryadi Suadi. Originating from Cirebon and educated at ITB, Haryadi Suadi discovered reverse glass painting in the mid-1970 thanks to a traditional glass painter named Rastika. Haryadi then devoted most of his work to this art, which used to be very popular in Java between the 1920s and the 1960s. Harydi Suadi draws inspiration from Cirebonese traditions, both in the themes he illustrates and by the use of specific idioms ; nevertheless, he achieved a considerable renewal of this tradition. The work on glass of Haryadi Suadi is unique : he does not follow the way of Cirebonese traditional reverse glass painters, nor does he have disciples in any Indonesian painting academy. Haryadi also meet with little success in the Indonesian contemporary art market. We conclude by presenting the main sources of inspiration of Haryadi through twelve works : the Chinese world, religion and popular beliefs (Islam, Javanese esoterism, mysticism), and the Western tradition shown in a few figurative or abstract examples.Samuel Jérôme. Haryadi Suadi et la peinture sous verre. Un art populaire au service des académies. In: Archipel, volume 76, 2008. pp. 99-126
- …
