27 research outputs found
SELEKSI DAN KARAKTERISASI JAGUNG CALON HIBRIDA TOLERAN CEKAMAN KEKERINGANPROGRAM STUDI MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI
ABSTRAKDarnis. Program Magister Pertanian, 2015. Program Pasca sarjana Universitas Muslim Indonesia Makassar. Seleksi dan Karakterisasi Jagung Calon Hibrida Toleran Cekaman kekeringan. Pembimbing Hj. St. Subaedah dan H. Amir Tjoneng.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan : 1) Untuk memperoleh genotipe jagung hibrida yang toleran terhadap cekaman kekeringan. 2) Untuk menganalisis karakter morfologi tanaman jagung hibrida yang toleran terhadap cekaman kekeringan. 3) Untuk menganalisis karakter agronomi tanaman jagung hibrida yang toleran terhadap cekaman kekeringanPenelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode rancangan petak terpisah (petak terbagi) dengan tiga ulangan. Petak utama (PU) yaitu kondisi kekeringan (cekaman sedang) dan optimum. Anak petak (AP) adalah jagung hibrida yang terdiri dari 10 calon hibrida dan 4 varietas pembanding P 27, NK 33, Bisi_2 dan Bima_3. Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa : 1) Genotipe H8 merupakan genotipe yang toleran terhadap cekaman kekeringan, dengan jumlah produksi 10,5 ton/ha dan genotipe H3 merupakan genotipe yang peka terhadap cekaman kekeringan. 2) Karakter morfologi genotipe H9 dan H6 memberikan rata-rata tinggi tanaman yang lebih tinggi, umur berbunga jantan dan betina yang lebih cepat dan anthesis silking interval (ASI) paling rendah. 3) Karakter agronomi genotipe H3, H8 dan H9 pada perlakuan optimum memberikan respon yang lebih baik terhadap tinggi letak tongkol, rendemen biji dan hasil produksi yang lebih tinggi
ANALISIS KERAGAAN GENETIKJAGUNG TOLERAN CEKAMAN KEKERINGANDI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN
ABSTRAKEKO ILMAWAN. Analisis Keragaan Genetik Jagung Toleran Cekaman Kekeringan Di Lahan Sawah Tadah Hujan. Dibimbing oleh HJ. ST. SUBAEDAH dan ANDI TAKDIR M.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan : 1) Untuk mengevaluasi keragaan genetik dari 8 genotipe jagung yang toleran terhadap cekaman kekeringan. 2) Untuk menganalisis indeks sensitivitas kekeringan dari 8 genotipe jagung yang toleran terhadap cekaman kekeringan.Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Bajeng Kabupaten Gowa-Sulawesi Selatan sejak Juli sampai September 2016 dengan menggunakan metode Rancangan Petak Terbagi. Sebagai petak utama adalah perlakuan cekaman yang terdiri dari 3 taraf yaitu tanpa cekaman, cekaman sedang, dan cekaman parah. Sebagai anak petak adalah jagung calon hibrida 8 genotipe yaitu: G1(ST201315), G2(ST201328), G3(ST201342), G4(ST201364), G5(ST201320), G6(ST201359), G7(ST201312), G8(ST201309) dan 2 varietas pembanding yaitu Bima 3 dan Bima 7. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali sebagai kelompok sehingga diperoleh 90 unit percobaan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) Genotipe G2(ST201328) dan G5(ST201320) adalah genotipe dengan lebar daun tertinggi, umur berbunga jantan tercepat, umur berbunga betina tercepat, anthesis silking interval (ASI) tercepat, umur panen tercepat dan kadar air biji terendah. Genotipe G7(ST201312) adalah genotipe untuk tinggi tanaman tertinggi, bobot tongkol tertinggi, panjang tongkol tertinggi dan bobot seribu biji tertinggi. Genotipe G8(ST201309) adalah genotipe untuk panjang daun tertinggi, tinggi tertancapnya tongkol tertinggi , bobot tongkol per petak (kg/petak) tertinggi serta produksi hasil per hektar (ton/ha) tertinggi. 2) Indeks sensitivitas kekeringan untuk cekaman sedang yaitu genotipe G1(ST201315), G2(ST201328), G5(ST201320) G6(ST201359), G7(ST201312) dan G8(ST201309) adalah genotipe dengan kriteria toleran sampai medium toleran sedangkan genotipe G3(ST201342) dan G4(ST201364) adalah genotipe yang peka (P) terhadap kekeringan. Indeks sensitivitas kekeringan (S) untuk cekaman parah yaitu genotipe G1(ST201315), G2(ST201328) G3(ST201342), G5(ST201320), G6(ST201359) dan G8(ST201309) adalah genotipe dengan kriteria toleran sampai medium toleran sedangkan genotipe G4(ST201364) dan G7(ST201312) adalah genotipe yang peka terhadap kekeringan.Kata kunci : jagung, genotipe, toleran cekaman kekeringa
Uji Biofungisida Formulasi Bacillus subtilis Terhadap Intensitas Serangan Fusarium moniliforme Pada Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan penting di Indonesia
menduduki tempat kedua setelah padi. Biopestisida merupakan formulasi yang
mengandung mikroba tertentu baik berupa jamur, bakteri, maupun virus yang bersifat
antagonis terhadap mikroba lainnya atau menghasilkan senyawa tertentu yang bersifat
racun baik bagi serangga maupun nematoda. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui keefektifan biofungisida formulasi B. subtilis terhadap pertumbuhan dan
intensitas serangan F. moniliforme serta untuk mengetahui formulasi B. subtilis yang
paling efektif dalam mengendalikan F. moniliforme pada tanaman jagung. Penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Formulasi yang digunakan yaitu formulasi B. subtilis TLB1 (P1), formulasi B. subtilis
BJ6 (P2), formulasi B. subtilis TM3 (P3), formulasi B. subtilis TM4 (P4), formulasi
B. subtilis BNt4 (P5), formulasi B. subtilis BNt5 (P6), formulasi B. subtilis BNt6
(P7), formulasi B. subtilis BNt8 (P8), fungisida sintetik Dithane (K1), dan aplikasi
F.moniliforme (K2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi B. subtilis
berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman dan sangat efektif terhadap
intensitas serangan F. moniliforme dimana pada pengamatan terakhir 5 MST
memberikan pengaruh yang sangat nyata dengan intensitas terendah 70,83% serta
formulasi yang paling efektif terhadap intensitas serangan F. moliforme adalah
formulasi B. subtilis BJ6.
Kata kunci: B. subtilis, F. moniliforme, Biofungisida, dan Jagung (Zea mays L.
Genetik tanaman analisis keragaman padi varietas ase lapang hasil induksi radiasi sinar gamma generasi M2
VII, 50 HA
Perilaku masyarakat dalam melestarikan hutan mangrove di wilayah pesisir kabupaten pangkep
xi 83 ha
Analisis Faktor -Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Dan Pendapatan Petani Dari Penggunaan Benih Padi Bersertifikat Dan Benih Padi Tidak Bersertifikat Di Kabupaten Maros
xii 78 ha
Evaluation of Potential Production of Maize Genotypes of Early Maturity in Rainfed Lowland
Maize development at the rainfed lowland after rice is often confronted with the occurrence of drought stress at the time of entering the generative phase, which will cause be hampered crop production. Consequently, in the utilization of the rainfed lowland areas optimally, an effort that can be done using the varieties of early maturity to minimize crop failures due to its short rainy season. The aim of this research was evaluating the potential yield of genotypes of candidates of maize early maturity in the rainfed lowland areas. The study was conducted during May to August 2016 at South Sulawesi, Indonesia. The study used randomized block design to compare 12 treatments and consists of 8 genotypes namely CH1, CH2, CH3, CH4, CH5, CH6, CH7, CH8 and the use of four varieties, namely Bima 3, Bima 7, Lamuru and Gumarang. The results showed that genotype of CH2, CH3, CH5, CH 6, CH7 and CH8 harvesting has less than 90 days. There are two genotypes namely genotypes of CH7 and CH8 that have a fairly high production respectively of 7.16 tons / ha and 8.11 tons/ ha and significantly not different from the superior varieties Bima3
Aanalisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerapan Pertanian Organik pada Petani Sayuran Dataran Tinggi dI Kabaupaten Gowa( Studi Kasusu Petani Sayuran Dataran Tinggi di Kecamatan Tinggi Moncong dan Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa)
xi, 68 ha
