1,720,967 research outputs found
“Gending Jali” Karya Komposisi Musik Fantasia Untuk Ansambel Musik
“Gending Jali” adalah karya komposisi musik fantasia untuk ansambel musik. “Gending” merupakan istilah yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut bentuk komposisi musik karawitan, yang menyajikan seni suara Instrumenal. Sementara “Jali” merupakan singkatan dari pulau Jawa dan Bali. Karya komposisi ini merupakan gambaran perjalanan kehidupan penulis. Bentuk musik yang digunakan dalam komposisi ini adalah fantasia yang merujuk pada komposisi bebas dan berimprovisasi. Proses penciptaan karya ini menggunakan metode kualitatif dengan merumuskan ide penciptaan, observasi, penentuan instrumen, perancangan konsep karya, penggarapan konsep karya, dan penulisan notasi. Karya komposisi musik fantasia ini bertujuan untuk menggabungkan idiom musik “gending” karawitan dari Pulau Jawa dan Bali menggunakan ansambel musik dengan instrumen: violin, viola, violoncello, flute, kendang dan piano. Hasil dari penelitian adalah sebuah karya komposisi fantasia gending karawitan Jawa dan Bali yang diwakilkan oleh ansambel musik. Bagian-bagian dari karya menggambarkan perjalanan hidup dari penulis."Gending Jali" is a fantasia musik composition for musik ensemble. "Gending" is a term used by Javanese people to refer to a form of musikal composition in karawitan, which presents instrumental sound art. While "Jali" stands for the islands of Java and Bali. This composition is a description of the author's life journey. The musikal form used in this composition is fantasia which refers to free and improvised composition. The process of creating this work uses a qualitative method by formulating the idea of creation, observation, determining the instrument, designing the concept of the work, working on the concept of the work, and writing notation. This fantasia musik composition work aims to combine musikal idioms of karawitan "gending" from Java and Bali using a musik ensemble with instruments: violin, viola, violoncello, flute, drum and piano. The result of the research is a fantasia composition of Javanese and Balinese gending karawitan represented by the musik ensemble. The parts of the work describe the life journey of the author
Analisis Struktur Musik dan Teknik dalam Penyajian “Partita in A Minor” (BWV 1013) untuk Alto Saksofon
Artikel ini menyajikan hasil analisis struktur musik dan teknik ekspresif Partita in A minor karya Johann Sebastian Bach (BWV 1013). Repertoar Partita in A minor (BWV 1013) karya Johann Sebastian Bach awalnya dibuat untuk solo flute, tetapi telah disajikan sebagai solo saksofon alto untuk tujuan pertunjukan. Rumusan masalahnya adalah adanya perbedaan teknik bermain antara flute dan alto saxophone yang menimbulkan beberapa tantangan dalam merepresentasikan frase musik dalam repertoar. Permasalahan yang timbul pada pertunjukan alto saxophone akan kami jelaskan berdasarkan metode penelitian kualitatif yang menyajikan analisis musikologis secara mudah dipahami. Kebaruan artikel ini adalah menyajikan analisis struktur musik dan tugas pertunjukan solo alto saxophone. Repertoar ini awalnya ditujukan untuk pertunjukan seruling solo tanpa pengiring. Studi ini menunjukkan bahwa meskipun repertoar instrumen seruling memiliki perbedaan yang signifikan dalam timbre dan frase napas, instrumen ini memiliki beberapa kesamaan dalam hal jangkauan dan organologis , sehingga sangat mirip dengan pertunjukan alto saxophone. Kami menyimpulkan bahwa ini cocok untuk Pengaruh terbesarnya adalah cara memainkannya dengan tempo yang lebih lambat dibandingkan permainan seruling.Penulis berharap penelitian ini dapat mendorong musisi lain untuk menyalin dan menampilkan repertoar klasik yang lebih luas, mulai dari instrumen seruling hingga saksofon.This article presents an analysis of the results of the musical structure and expressive techniques of Johann Sebastian Bach's Partita in A minor (BWV 1013). Johann Sebastian Bach's Partita in A minor (BWV 1013) repertoire was originally composed for flute solo, but has been presented as an alto saxophone solo for performance purposes. The formulation of the problem is that there are diferences in playing techniques between flute and alto saxophone which pose several challenges in representing musical phrases in the repertoire. We will explain the problems that arise in alto saxophone performances based on qualitative research methods that present easy-to-understand mttsicological analysis. This novelty article presents an analysis of the musical structure and tasks of alto saxophone solo performance. This repertoire was originally intended for solo flute performances without accompaniment. This study shows that although the repertoire of flute instruments has significant diferences in timbre and breath phrasing, these instruments share some similaities in terms of range and organology, making them very similar to alto saxophone performance. We conclude that it is siitable for the biggest influence is the way it is played at a slower tempo than flute playing. The author hopes that this research can encourage other musicians to copy and perform a wider classical repertoire, from flute instruments to saxophones
Tema dan Variasi Lagu “Mansibin Siraben” dalam G Mayor untuk Gitar Tunggal
Komposisi tema dan variasi lagu “Mansibin Siraben” dalam G Mayor untuk gitar tunggal ini merupakan penelitian tugas akhir yang bertujuan untuk mengangkat salah satu lagu rakyat Papua. Lagu karya Arnold Clemens Ap yang sebelumnya hanya populer di kalangan rakyat Papua dari mulut ke mulut ini digubah dengan mengadopsi struktur komposisi musik Klasik Barat. Melalui penyusunan tugas akhir ini, diharapkan dapat menjadi salah satu repertoar gitar Klasik dari Indonesia yang ditujukan untuk para pemain gitar tingkat menengah. Beberapa teknik permainan yang diterapkan antara lain meliputi arpeggio, elaborasi melodi, pola ritme triol, not seperenambelasan, perubahan sukat serta perubahan modus dari mayor ke minor, dan harmonik artifisial.The Theme and variations of the “Mansibin Siraben” in G Major untuk for guitar solo gitar is a graduate programme research which aimed to uphold one of the Papuan folksong. The song written by Arnold Clemens Ap is famous within people of Papua were handed down by oral tradition. The theme and variation is adopted from the Western music tradition. Hopely, this research could achieve an Indonesian Classical music repertoar for guitarists with medium level. Some techniques used for composing, i.e.: arpeggio, melody embelishment, triplet, sixteenth note, time-signature change and mode, and artificial harmonic playing
KOMPOSISI SUITA BERGAYA BAROK UNTUK DUET GITAR
Teks lengkap dapat diakses di layanan Serial, lantai 3 Gedung Perpustakaan.Komposisi suita untuk duet gitar yang digubah dalam penelitian ini merupakan eksperimentasi dengan mengacu pada struktur musik komposisi suita jaman Barok, yakni suita dengan empat bagian pokok: Allemande, Courante, Sarabande, dan Gigue; serta satu bagian tambahan diantara Sarabande dan Courante, yaitu Bouree
Sebuah Ibadah Musik Gereja Dengan Iringan Keroncong Audio Style
Penulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan bentuk iringan musik keroncong dalam bentuk yang baru yaitu style keyboard dengan penambahan audio. metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan kualitatif. berdasarkan pengalam sebelumnya penulis menemukan bentuk iringan baru ini dari salah satu ujian seorang rekan yang menggunakan iringan musik keroncong audio ini. dan dari hasil yang di peroleh penulis terinspirasi untuk mengangkat menjadi sebuah iringan pada peribadahan. Dari hasil yang didapat penulis mununjukkan bahwa iringan keroncong dalam format audio style ini mampu menghadirkan nuansa musik keroncong yang identik tanpa personel aslinya
"Kelana" Komposisi Musik Program Untuk Combo Band
Komposisi program berjudul “Kelana” untuk combo band ini digubah dengan mengadopsi musik etnik Sunda, Bali, dan Jawa sebagai acuan ide kreatif. Genre musik meliputi fusion jazz dan funk dengan menyajikan idiom-idiom musik etnik, baik berupa tangga nada pentatonik pelog dan slendro, ritme permainan gamelan, pola permainan kendhang yang dipadu dengan tangga nada serta harmonisasi dalam kazanah musik jazz.
Komposisi ini mendeskripsikan tentang pengalaman hidup penulis yang tinggal di lokasi di mana terdapat persinggungan dengan budaya dari 3 etnik tersebut di atas. Selain itu, dalam komposisi ini juga mengungkapkan pengalaman, perasaan, serta kesan estetis personal penulis mengenai kehidupan dan interaksi dengan keluarga sejak masa kecil hingga kuliah.The composition titled "Kelana" for this combo band was created by incorporating elements of Sundanese, Balinese, and Javanese ethnic music as the basis for its creative concept. The musical genre encompasses fusion jazz and funk, presenting ethnic musical idioms, including the pentatonic scales of pelog and slendro, the rhythmic patterns of gamelan, and the kendhang playing patterns, integrated with these scales and harmonization within the context of jazz music. This composition reflects the composer’s personal life experiences, particularly growing up in an area where the cultures of the three mentioned ethnic groups intersect. Furthermore, the work conveys the composer’s emotional experiences, feelings, and personal aesthetic impressions related to life and family interactions from childhood through to university years
Ande-Ande Lumut: komposisi musik untuk ansambel vokal
Skripsi berjudul “Ande-ande Lumut” Komposisi Musik untuk Ansambel Vokal ini digubah dengan struktur komposisi musik bebas. Ide musikal komposisi ini diambil dari sebuah cerita rakyat Jawa Timur dengan judul Ande-ande Lumut. Teknik komposisinya, sebagian besar menggunakan sistem tangganada pentatonis Jawa yang dikombinasikan dengan harmonisasi tonal Barat. Secara struktural, komposisi dibagi menjadi delapan bagian yang menyiratkan adegan. Kedelapan komposisi tersebut berjudul ‘Prolog’, ‘Mbok Rondo Monolog’, ‘Pertolongan’, ‘Sayembara’, ‘Tipu Muslihat’, ‘Perjuangan’, ‘Realita’, dan ‘Epilog’. Dalam keseluruhan komposisi musik ini peran musikalnya terdiri dari: narator yang diperankan oleh ansambel vokal, solis-solis yang bertindak sebagai tokoh cerita, serta instrumen piano yang berfungsi sebagai pengiring dan mendukung suasana adegan. Tujuan penting penulisan komposisi dalam penulisan skripsi tugas akhir ini adalah untuk mengangkat dongeng rakyat Indonesia sebagai sumber kreativitas komposisi musik agar lebih dikenal oleh generasi muda.The research entitled “Ande-ande Lumut” Komposisi Musik untuk Ansambel Vokal is composed by free-form composition structure. The musical ideas are taken from a folk tale with the same title coming from East Java. The mechanical composition, is mostly Javanese pentatonic scales combined with tonal harmony. Structurally, the composition is divided into eight parts, each indicating its scene. The eight composition are entitled ‘Prolog’, ‘Mbok Rondo Monolog’, ‘Pertolongan’, ‘Sayembara’, ‘Tipu Muslihat’, ‘Perjuangan’, ‘Realita’, and ‘Epilog’. In the overall composition of music, the musical roles consists of: narrator played by chorus, the soloists acting as characters, and the piano instrument as an accompanist and supportive atmosphere of the scene. The important goal of writing a composition in this research is toraise Indonesian folk tales as a source of creativity in musical composition than it will be better known by younger generation
Requiem: Untuk Solo Vokal, Koor dan Orkestra
Requiem merupakan salah satu jenis komposisi untuk vokal yaitu misa. Dalam tradisi gereja Katolik, requiem dipandang perlu karena bertujuan untuk mendoakan arwah yang sudah meninggal agar masuk kedalam surga. Komposisi ini ditulis untuk solis-solis, koor dan orkestra. Terdapat 18 lagu secara keseluruhan dengan kriteria resitatif, aria, lagu koor dan instrumental orkes.
Teknik komposisi menggunakan words painting, dimana syair dilukiskan dengan nada-nada tertentu agar pesan komposisi dapat sampai ke perasaan pendengar. Motif melodi dari komposisi ini mengutamakan kesederhanaan akan tetapi diolah sedemikian rupa hingga menjadi berstandar virtuos.Requiem is one of the vocal compositions which called mass in Catholic Church tradition, Requiem is necessarily important as its purpose is to pray for the soul in purgatory in order to enter into heaven. This composition is written for the soloist, the choir, and the orchestra. There are 18 songs in a whole, with the criteria of recitative, arias, choir songs and orchestral instrument.
The composition technique uses words painting, in which lyrics described with a certain tone so that the message of the composition can be absorbed into the feelings of the audiences.
The motif of this composition melody gives priority to simplicity however it treated in such way to be a virtuous’ criterion
Kanthi Laku: Resital Gitar
“KANTHI LAKU” adalah resital gitar tugas akhir yang memiliki tujuan untuk memberikan inspirasi bagi pendengar dan penikmat musik klasik, dengan memberikan pengalaman, proses pembelajaran dalam pencapaian sebuah ilmu. Kanthi Laku sendiri memiliki arti yakni pengetahuan atau kemampuan itu dapat diraih melalui proses atau latihan. Repertoar yang akan dibawakan penulis yaitu: “Fantasia no. 10Que contrahaze la harpa en la manera de luduvico”,“Lute Suite no.4 in E Mayor BWV 1006a”, “Grand Sonata A major movement 1”,“Gran Jota”, “Canzonetta”, “Caprice no. 7 op. 20”,“Cordoba”, ”Las Albejas” dan “Un Sueno En La Floresta”, “Tio Arango”. Resital gitar akan dilaksanakan pada 6 April 2019 pukul 18.00 WIB di Recitall Hall Fakultas Bahasa dan Seni UKSW.“KANTHI LAKU” is a final project in a form of guitar recital. The purpose of this recital was to give inspiration for listeners and classical music connoisseurs, with provide experience, learning to achieve a science. Kanthi laku is knowledge or abilities that can be achieved through a process or practice. The repertoire that will writer show is “Fantasia no. 10Que contrahaze la harpa en la manera de luduvico”,“Lute Suite no.4 in E Mayor BWV 1006a”, “Grand Sonata A major movement 1”,“Gran Jota”, “Canzonetta”, “Caprice no. 7 op. 20”,“Cordoba”, ”Las Albejas” dan “Un Sueno En La Floresta”, “Tio Arango”. This guitar recital was held on 6th of April 2019 at 18.00 on Recitall Hall of Faculty Language and Arts
- …
