2,155 research outputs found
PENINGKATAN HASIL DAN KANDUNGAN KALSIUM JAMUR MERANG
Jamur merang (Volvariella volvaceae (Bulliard ex Fries) Singer) merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai masa depan baik untuk
dikembangkan. Dedak padi dan dedak jagung merupakan sumber karbohidrat yang mengandung banyak unsur karbon (C) dan nitrogen (N) yang dapat
digunakan sebagai tambahan nutrisi pada media tumbuh jamur merang. Penambahan serbuk sabut kelapa (cocopeat) pada media tanam dapat meningkatkan
kadar kalsium dalam tanah. Berdasarkan hal tersebut penggunaan serbuk sabut kelapa sebagai campuran media tanam jamur merang pada penelitian yang telah
dilakukan dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan bahan tersebut meningkatkan kandungan kalsium dalam tubuh buah jamur merang. Pemanfaatan
serbuk sabut kelapa dan penambahan sumber karbon memberikan pengaruh interaksi pada kecepatan panen, perlakuan M3V1 (jerami+cocopeat 1:2 dan
dedak padi) memberikan kecepatan panen tercepat yaitu 10 hst. Ditinjau dari segi penambahan sumber karbon, macam karbon yang dikombinasikan tidak
menunjukkan peningkatan hasil, namun apabila sumber karbon tidak dikombinasikan seperti perlakuan V2 (dedak padi+dedak jagung) memberikan pengaruh
terhadap berat total dan jumlah total tubuh buah jamur merang, perlakuan V3 (dedak jagung) dan V1 (dedak padi) merupakan perlakuan terbaik dengan berat
total tubuh buah jamur merang 455,44 g dan 433,06 g. Pemanfaatan serbuk sabut kelapa pada media tanam dapat meningkatkan kandungan kalsium jamur
merang, namun tidak pada semua perlakuan. Perlakuan V2 (dedak padi
PENGARUH APLIKASI PUPUK ORGANIK dan SILIKA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI MERAH
Tingginya tingkat konsumsi cabai merah besar harus di imbangi dengan produksi agar dapat memenuhi kebutuhan konsumsi cabai merah di Indonesia. Tingkat konsumsi cabai merah besar didalam outlook komoditas tanaman pangan dan hortikultura pada tahun 2017 masih belum terpenuhi sebesar 183.833 ton. Kendala yang di hadapi yaitu tingkat kesuburan tanah yang rendah. Kondisi bahan organik dan silika hasil analisis tanah yang digunakan budidaya tanaman cabai menunjukkan tingkat C-Organik tanah dengan nilai 1,78 % dan silika tersedia 430,6 (SiO2 mg/kg) kedua hara termasuk kedalam harkat rendah berdasarkan panduan analisis tanah 2009. Perlakuan yang dapat dilakukan dengan memberikan pupuk organik dan pupuk silika pada media tanam cabai merah besar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan menggunakan 3 ulangan dengan faktor pertama pupuk organik (P) terdiri dari 4 taraf dengan dosis pupuk organik 0g, 62,5g, 125g dan 250g. Faktor kedua pemeberian pupuk silika (S) terdiri dari 4 taraf 0g, 0,85g, 1,69g dan 2,59g. Hasil aplikasi pupuk organik dan pupuk silika terdapat pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah. Hasil dapat dilihat pada variabel pengamatan laju pertumbuhan, biomasa, presentase bunga, jumlah buah, dan berat total buah. Perlakuan Terbaik terdapat pada kombinasi Organik 250g dengan Silika 0,85g
PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK TERHADAP KANDUNGAN FENOLIK
Kedelai saat ini menjadi sumber pangan fungsional. Kedelai mengandung kandungan protein tersebut tertinggi dibandingkan kacangkacangan
lain. Salah satu kandungan biji kedelai yang dapat bermanfaat bagi manusia adalah senyawa fenolik dan flavonoid. Tanaman
kedelai dapat bersimbiosis dengan bakteri Synechococcus sp. Bakteri ini dapat menjadi biofertilizer bagi tanaman walaupun dalam keadaan
lingkungan yang tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri lain dan dapat memfiksasi gas N2 dari udara. Penelitian dilakukan untuk
mengetahui pengaruh dosis pupuk organik terhadap kadar fenolik dan flavonoid biji tanaman kedelai yang berasosiasi dengan
Synechococcus sp. Penelitian dilaksanakan di Agroteknopark Universitas Jember. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan
Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor yaitu faktor dosis pupuk organik dan inokulasi bakteri Synechococcus sp. Nilai rerata
antar perlakuan pada setiap parameter dibedakan dengan SEM (Standard Error Mean). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik
dan flavonoid biji kedelai meningkat pada tanaman kedelai yang berasosiasi dengan Synechococcus sp seiring dengan meningkatnya dosis
pupuk organik
PENGARUH CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KARAKTER
Cekaman kekeringan merupakan kondisi lingkungan dimana tanaman tidak menerima asupan air yang cukup, sehingga
tanaman tidak dapat melakukan proses pertumbuhan dan perkembangan secara optimal serta produksi menurun.
Cekaman kekeringan adalah masalah utama pada hasil produksi tanaman di seluruh dunia. Hal tersebut juga dapat
memicu terjadinya cekaman oksidatif yakni suatu keadaan lingkungan yang mengalami peningkatan Reactive Oxygen
Spesies (ROS) akibat adanya suatu over reduksi dari proses fotosintesis. Peningkatan ROS yang bersifat radikal bebas
dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara ROS tersebut dan status antioksidan yang ada di dalam tanaman.
Tanaman yang toleran terhadap cekaman seperti tanaman sorgum beradaptasi dengan cara memproduksi senyawasenyawa
yang bersifat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman kekeringan terhadap
kandungan protein dan aktivitas protein antioksidan tanaman sorgum pada setiap fase pertumbuhan. Penelitian ini
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 variasi perlakuan yaitu pemberian PEG 0% (kontrol), fase
vegetatif PEG 10%, fase reproduktif I PEG 10%, dan fase reproduktif II PEG 10%. Parameter yang diamati adalah
pertumbuhan tanaman, kandungan total protein terlarut, pola protein dan aktivitas protein antioksidan. Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan kandungan protein dan aktivitas protein antioksidan pada fase pertumbuhan yang
berbeda dengan konsentrasi PEG 10%. Fase vegetatif menunjukkan kandungan protein tertinggi yaitu 12,90 mg/g dan
aktivitas protein antioksidan yaitu pada perlakuan kontrol 52,63 %
PENGARUH INOKULASI JAMUR MIKORIZA ARBUSKULA DAN APLIKASI BATUAN
Inokulasi jamur mikoriza arbuskula dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh inokulasi jamur mikoriza dan aplikasi batuan fosfat terhadap pertumbuhan padi gogo. Penelitian dilakukan di Desa Tempurejo,
Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi, dengan pola dasar
rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Petak utama adalah aplikasi batuan fosfat yang terdiri atas empat taraf, yaitu 0, 150, 300,
dan 600 kg/ha. Anak petak adalah inokulasi mikoriza, yaitu tanpa inokulasi dan Inokulasi mikoriza. Data hasil pengamatan dianalisis
menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan (α, 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dosis
batuan fosfat dan inokulasi jamur mikoriza tidak memberikan pengaruh yang nyata pada variabel pengamatan laju pertumbuhan tanaman
dan berat bulir per rumpun. Pengaruh tunggal aplikasi batuan fosfat dengan dosis 150 kg/ha memberikan hasil yang nyata dan terbaik
terhadap kadar P pada jaringan tanaman
PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT KOPI KLON BP 308 SEBAGAI RESPON DOSIS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan mutu bibit kopi klon BP 308 sebagai respon dari adanya perlakuan pupuk
organik kulit kopi dan cekaman kekeringan. Penelitian ini dilakukan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Kebun Percobaan
Kaliwining, Jember. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai dengan Mei 2015. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan
Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama ialah aplikasi dosis pupuk organik (P) meliputi;
P0=Pupuk urea 10 g/polybag; P1= pupuk organik 250 g/polybag; P2= pupuk organik 400 g/polybag dan faktor kedua adalah cekaman
kekeringan (K) meliputi; K0=90-100% kapasitas lapang; K1= 70-80% kapasitas lapang; K2= 50-60% kapasitas lapang. Dosis pupuk
organik dan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap parameter indeks mutu bibit dan luas daun. Perlakuan pupuk organik
berpengaruh sangat nyata terhadap rasio pucuk akar dan berpengaruh nyata pada tinggi tanaman. Sedangkan cekaman kekeringan
berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter percobaan
Pengaruh Aplikasi Bakteri Synechococcus Sp. dan Pupuk Kalium terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)
Tomat merupakan salah satu komoditas holtikultura yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan memerlukan penanganan serius untuk meningkatkan hasil dan kualitas. Tanaman tomat tidak tahan terhadap awan dan iklim yang sejuk. Kondisi iklim atau cuaca yang tidak menentu dapat mengakibatkan adanya terhambatnya proses fotosintesis serta kerontokan bunga yang menyebabkan daya produksi tanaman menurun. Selain itu, dapat disebabkan kondisi tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit serta teknis budidaya dari petani. Terhambatnya proses fotosintesis serta kerontokan bunga pada tanaman dapat mempengaruhi proses produksi tanaman tersebut. Salah satu cara yang dilakukan yaitu pengaplikasian bakteri Synechococcus sp. dan pupuk Kalium. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang tediri dari 2 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah bakteri Synechococcus sp. yang terdiri dari 2 taraf yaitu Faktor pertama adalah bakteri Synechococus sp yang terdiri dari 2 taraf yaitu S0 (Tanpa inokulasi bakteri Synechococcus sp.) dan S1 (Inokulasi bakteri Synechococcus sp.). Faktor kedua adalah pemberian pupuk kalium dengan jenis pupuk KCl dengan 5 taraf yaitu D0 = Pupuk KCl 0 kg/ha (0 g/tanaman), D1 = Pupuk KCl 75 kg/ha (3,15 g/tanaman), D2 = Pupuk KCl 100 kg/ha (4,2 g/tanaman), D3 = Pupuk KCl 125 kg/ha (5,25 g/tanaman), D4 = Pupuk KCl 150 kg/ha (6,30 g/tanaman). Hasil penelitian menunjukkan Perlakuan dosis pupuk 3,15 g (D2) dengan tanpa aplikasi bakteri Synechococcus sp. Pada variabel jumlah bunga dan jumlah buah memiliki kenaikan yang selaras, namun pada variabel jumlah bunga yang rontok mengalami penurunan. Semakin tinggi jumlah bunga pada tanaman tomat dan semakin rendah jumlah bunga yang rontok, maka semakin besar pula buah tomat terbentuk. Hal ini dibuktikan dengan persentase pembentukan bunga menjadi buah pada gambar 4.8 menunjukkan bahwa pada perlakuan dosis pupuk 3,15 g (D2) dengan tanpa aplikasi bakteri Synechococccus sp. (S0) memiliki persentase pembentukan buah sebesar 43,07%. Persentse pembentukan buah pada tomat juga dapat mempengaruhi berat buah per tanaman tomat. Semakin besar persentase pembentukan buah maka semakin besar pula berat buah per tanaman tomat. Berdasarkan hasil data statistik gambar 4.7 menunjukkan bahwa pada perlakuan S0D2 memiliki rata – rata berat buah sebesar 420.83. Hali ini selaras dengan jumlah bunga per tanaman serta jumlah buah per tanaman
Aplikasi Pupuk Nitrogen dan Hormon Giberelin terhadap Produksi Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.)
Tanaman buncis merupakan komoditas hortikultura yang memiliki tingkat
permintaan tinggi dari konsumen, hal tersebut dalam kenyataannya produksi
buncis pada tahun 2009-2014 mengalami produksi yang fluktuasi, dengan data
terakhir pada tahun 2014 diperoleh produksi sejumlah 318.214 ton/ha dengan luas
panen 28.632 ha. Faktor yang menyebabkan turunnya produktivitas yang belum
bisa mencapai target, diantaranya yaitu kebutuhan nutrisi yang diberikan oleh
tanaman buncis. Namun disisi lain juga ketidak tersedianya unsur hara didalam
tanah yang akan diserap oleh tanaman dan kondisi tanah yang tidak mendukung
budidaya tanaman buncis membuat produktivitas jauh dibawah potensi genetik.
Nutrisi yang diberikan untuk tanaman buncis yaitu berupa pupuk. Menurut
Amara dan Muorad (2013), pemupukan merupakan proses pemberian bahan
berupa organik maupun anorganik yang dilakukan bertujuan untuk mencukupi
kebutuhan nutrisi ketika tanaman melakukan proses pertumbuhannya mulai dari
fase vegetatif hingga fase generatif. Menurut Rahman et al., (2014) nutrisi utama
yang digunakan oleh tanaman dalam jumlah yang besar dan sering dilengkapi
untuk pertumbuhan yaitu pupuk Nitrogen, Fosfor dan Kalium. Pupuk merupakan
faktor penting dalam menjalankan proses budidaya tanaman. Pentingnya
pemupukan yang diaplikasikan ke suatu tanaman akan mempengaruhi hasil yang
nantinya akan diperoleh. Pada fase pembungaan tanaman buncis ini juga rentan
terjadi pengguguran bunga sehingga untuk mencegah dari rontoknya bunga dapat
diaplikasikan zat pengatur tumbuhan, sejenis hormon giberelin (GA3). Hormon
giberelin mampu merangsang pertumbuhan bunga dan pembentukan bakal buah
serta memperkuat kondisi batang pada tanaman buncis. Selain itu pada fase
pembungaan hormon giberelin juga memiliki peran dalam mencegah perontokan
bunga
PENINGKATAN KUALITAS BUNGA POTONG KRISAN (Chrysanthemum morifolium Ramat) MELALUI APLIKASI BAKTERI FOTOSINTETIK Synechococcus sp. DAN GA3
potong yang banyak digemari tetapi krisan dari Indonesia belum dapat
diekspor secara optimal karena belum memenuhi standar kualitas yang diinginkan
oleh negara-negara konsumen. Di Indonesia masih banyak kasus menunjukkan
bahwa bunga potong krisan yang dihasilkan oleh petani bermutu rendah. Melihat
realita tersebut maka diperlukan teknologi yang mampu menghasilkan bunga
potong krisan yang dapat memenuhi selera pasar dan standar mutu krisan potong.
Beberapa alternatif teknologi tersebut diantaranya dengan merangsang
pertumbuhan krisan yang baik melalui aplikasi bakteri Synechococcus sp. dan
GA3. Aplikasi bakteri Synechococcus sp. mampu meningkatkan kandungan auksin
pada tanaman sehingga berpengaruh positif bagi pertumbuhan tanaman. Auksin
pada tanaman mampu mendukung pertumbuhan tanaman melalui pemanjangan
dan perkembangan sel pada titik tumbuh tanaman seperti pucuk dan akar sehingga
akan berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara dan proses fotosintesis
tanaman. GA3 mendorong pertumbuhan tanaman dengan cara merangsang
pembelahan dan pembesaran sel. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh bakteri fotosintetik Synechococcus sp. dan GA3 terhadap
pertumbuhan dan kualitas produksi bunga potong krisan (Chrysanthemum
morifolium Ramat). Penelitian ini dilakukakan pada Januari-Mei 2016 di
greenhouse Rembangan, Kab.Jember dengan rancangan percocaan Rancangan
Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan diulang sebanyak 2 kali. Faktor
pertama yaitu tanpa inokulasi Synechococcus sp. (S0), inokulasi Synechococcus
sp. 5ml/L (S1), diinokulasi Synechococcus sp. 10ml/L (S2) dan diinokulasi
Synechococcus sp. 15ml/L (S3), serta faktor kedua yaitu GA3 0ppm (G0), GA3 15ppm (G1), GA3 25ppm (G2) dan GA3 25ppm (G3). Analisis data dilakukan
dengan uji F 5% dan uji lanjut jarak berganda Duncan 5%. Interaksi antara
Synechococcus sp. dan GA3 memberikan pengaruh berbeda sangat nyata pada
diameter bunga, umur berbunga, umur panen dan lama kesegaran bunga; berbeda
nyata pada panjang tangkai dan diameter batang; berbeda tidak nyata pada jumlah
klorofil. Kombinasi perlakuan yang memberikan kualitas bunga potong terbaik
yaitu S2G2 (Synechococcus sp. 10ml/L dan GA3 25 ppm)
PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN TEKNIK BUDIDAYA TERHADAP PRODUKSI PADI DAN IKAN PADA SISTEM MINA PADI
Jajar legowo merupakan teknik budidaya yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam dan cocok dikombinasikan dengan sistem mina padi. Sistem mina padi merupakan cara pemeliharaan ikan disekeliling tanaman padi
- …
