8 research outputs found

    Bio-mediated soil improvement of loose sand with fungus

    No full text
    This article presents an innovative method of bio-mediated soil improvement for increasing the shear strength of loose sand. The improvement is realized by mixing the loose sand with the inoculum of Rhizopus oligosporus, a kind of fungus widely used in food industry for making Indonesian tempeh. The objective of this article is to investigate the performance and mechanism of mixing tempeh inoculum as a binding agent of loose sand particles. The inoculum dosage, water content of loose sand, and curing time were examined for identifying the increment of unconfined compressive strength (qu) of the samples. The results showed that qu of the treated samples increased when the inoculum dosage was elevated. It shows that 5.24% inoculum could yield 68 kPa of qu, and 5% water content and 3 d curing time produced the maximum qu. Moreover, the mechanism of hypha and mycelium in binding the soil particles was clearly observed using a digital microscope and scanning electron microscope. Keywords: Bio-mediated soil improvement, Loose sand, Rhizopus oligosporu

    Analisis Balik Kurva Penurunan terhadap Waktu pada Pekerjaan Reklamasi dengan Metode Elemen Hingga dan Evaluasi Derajat Konsolidasi Tanah Lunak Berdasarkan Hasil Monitoring Settlement Beacon

    No full text
    Abstrak Artikel ini memaparkan kajian analisis-balik penurunan tanah pada pekerjaan reklamasi di Makassar menggunakan program berbasis Metode Elemen Hingga (MEH). Perhitungan dilakukan dengan menggunakan pendekatan dua dimensi (2D) dan jenis model regangan bidang. Adapun tahapan penimbunan disimulasikan sesuai dengan tinggi dan waktu konstruksi di lapangan. Tujuan dari analisis-balik ini adalah untuk mendapatkan parameter tanah aktual berupa modulus elastisitas, permeabilitas, dan kuat geser tanah dasar laut berupa tanah lunak serta memprediksi penurunan final. Dengan menerapkan metode coba-coba pada input parameter, hasil perhitungan telah menunjukkan kurva penurunan yang mirip dengan data terukur di lapangan. Selain itu, untuk memprediksi penurunan akhir, dilakukan juga interpretasi hasil monitoring settlement menggunakan metode Asaoka (1978) dan metode ekstrapolasi hiperbola. Interpretasi dengan metode Asaoka (1978) dilakukan dengan beberapa interval waktu untuk memeriksa pengaruhnya terhadap prediksi nilai penurunan final. Adapun metode ekstrapolasi hiperbola dilakukan dengan menggunakan data penurunan saat tinggi timbunan mencapai elevasi final. Derajat konsolidasi pun dihitung setelah penurunan final diperolej. Berdasarkan hasil perhitungan dengan ketiga metode tersebut, maka diperoleh derajat konsolidasi pada area studi adalah berkisar 94.7-97.5%. Kata-kata Kunci: Analisis-balik, derajat konsolidasi, metode elemen hingga, reklamasi, tanah lunak Abstract This paper presents a back-analysis of the time-settlement curve from reclamation at Makassar using a finite element method (FEM) program. The calculation was performed using a 2D plane strain model. Moreover, the backfill sequence was also simulated as the same as the sequence in the field. Back-analysis aims to obtain actual soil parameters, namely modulus of elasticity, permeability, and undrained shear strength of soft soil seabed, and to predict final settlement. After trial and error of input parameters, the result shows that the obtained settlement curve was close to the measured settlement data. Additionally, interpretation of monitoring data using the Asaoka (1978) method and hyperbolic extrapolation method was also carried out to predict the final settlement. Predictions with Asaoka's method were performed using several time intervals to investigate its effect on the anticipated final settlement value. As for the hyperbolic extrapolation method, only settlement data after the backfill reached the final elevation were used for interpretation. Then, final settlement values can be predicted, and the degree of consolidation can be calculated. It was obtained by the three methods that the degree of consolidation in the study area was about 94.7- 97.5%. Keywords: Back-analysis, degree of consolidation, finite element method, reclamation, soft soil

    STUDI KORELASI TAHANAN UJUNG SONDIR TERHADAP SIFAT TEKNIS TANAH LEMPUNG BANDUNG

    No full text
    Uji Sondir atau Cone Penetrometer Test ( CPT ) dengan kapasitas 2.5 ton merupakan suatu uji lapangan untuk mengetahui tahanan ujung (qc) dan tahanan selimut tanah (fs) sebagai korelasi parameter karakteristik tanah . Berdasarkan pada kemudahan operasional dan hasil ujinya memberikan nilai korelasi yang cukup baik dengan parameter uji laboratorium dari hasil penelitian terdahulu, maka pada penelitian ini akan dilakukan korelasi nilai tahanan ujung sondir dengan karakteristik tanah dari uji laboratorium yaitu parameter kuat geser dan konsolidasi tanah lempung di Indonesia. Korelasi yang dibuat untuk daerah Indonesia mempunyai cakupan yang luas dan memberikan rentang cukup besar sehingga tinjauan penelitian dipersempit untuk tanah lempung daerah Bandung. Lapisan tanah di Bandung didominasi oleh lapisan hasil pelapukan gunung berapi vulkanik dengan jenis tanah yang berbeda yaitu tanah residual dan tanah sedimen. Sesuai teori dari Wesley , tanah residual dan sedimen mempunyai karakteristik yang bebeda yaitu ada atau tidak adanya nilai tekanan prakonsolidasi. Dari Penelitian ini korelasi dilakukan antara nilai tahanan konus ( qc) dengan parameter kuat geser undrained dan nilai OCR ( over consolidated ratio) , nilai qc terhadap indek plastisitas serta nilai koefisien α terhadap nilai qc dan koefisien kemampatan volume. Hasil yang diperoleh memberikan grafik dengan trend yang hampir sama tetapi dengan nilai yang berbeda seperti grafik yang telah dibuat oleh peneliti terdahulu dengan tanah dari luar Indonesia yang mempunyai karakteristik dan pembentukan tanah yang berbeda.Kata Kunci: Tahanan ujung, Tanah Residual, Sedimen, Kuat Geser Tanah Undrained, Prakonsolidas

    Development of Nationwide Vs30 Map and Calibrated Conversion Table for Indonesia using Automated Topographical Classification

    No full text
    A nationwide Vs30 map for Indonesia was developed based on automated topographic classification from 90-m grid digital elevation data and their correlation with Vs30. Automated topographic classification has been proposed by Iwahashi and Pike (2007) and a procedure to convert topographic class into Vs30 maps has been developed by Imamura and Furuta (2015) based on Vs data from J-SHIS (Japan Seismic Hazard Information System). In order to be suitable for Indonesia, calibration work according to Imamura and Furuta's procedure should be conducted since the geotechnical conditions in Japan may not be the same as in Indonesia. This paper presents adjustment of the Vs30 correlation by Imamura and Furuta to convert topographic class into Vs30 and construct a Vs30 map of Indonesia. This correlation was calibrated by using Vs data from BMKG (Indonesian Agency for Meteorological, Climatological, and Geophysics) as well as standard penetration test logs that were collected by the authors. Utilization of local field measurement data will certainly enhance the reliability of the Vs30 map. The developed nationwide Vs30 map will be very useful for disaster mitigation programs and for preliminary design of earthquake resistant buildings and infrastructure in Indonesia.</jats:p

    SIMULASI LUAPAN LUMPUR DI TITIK 42 TANGGUL PENAHAN LUMPUR SIDOARJO

    No full text
    Kejadian Lumpur Sidoarjo atau LUSI yang terjadi sejak tahun 2006 di Porong, Sidoarjo merupakan salah satu fenomena geologi dan geoteknik yang menarik untuk diteliti. Material lumpur memiliki karakteristik unik yaitu merupakan material Non-Newtonian dan mengikuti model reologi Bingham. Aplikasi model ini ditandai dengan adanya yield stress dan viskositas. Lumpur dengan material utama berupa lempung ini memiliki kadar air di atas batas cairnya. Oleh karena itu, nilai yield stress dapat mencapai 2 kPa. Di dalam makalah ini, dibahas penentuan parameter reologi LUSI dengan menggunakan uji laboratorium yaitu Moving Ball Test selain indeks properti lumpur seperti batas-batas Atterberg, kadar air, berat jenis, dan analisis saringan. Sebanyak tiga buah sampel lumpur diambil di lokasi untuk diuji. Dasar teori yang digunakan pada uji tersebut adalah kesetimbangan bola dengan persamaan Navier-Stokes. Kurva yang diperoleh berupa hubungan antara shear stress dan shear strain rate. Dari kurva tersebut dapat diturunkan parameter reologi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai yield stress LUSI berada dalam rentang 145 -450 Pa dan viskositas berada dalam rentang 0.05 –0.13 kPa-s. Simulasi numerik dengan menggunakan program Flo2d dilakukan dengan mengasumsikan terjadi keruntuhan tanggul penahan lumpur pada titik tertentu di sisi Barat Jalan Raya Porong Sidoarjo. Hasil simulasi menunjukkan bahwa luas sebaran dan ketebalan deposisi lumpur sangat dipengaruhi oleh parameter reologi. Oleh karena itu, dapat dikembangkan peta resiko bencana yang tergantung pada parameter reologi.Kata-kata kunci: Bingham, lumpur Sidoarjo, viskositas, yield stres

    KAJIAN GEOTEKNIK INFRASTRUKTUR UNTUK KOTA PADANG MENGHADAPI ANCAMAN GEMPA DAN TSUNAMI

    No full text
    Latar belakang Gempa 30 September 2009 sebagai “alarm” bagi kota Padang, posisi kota Padang menghadapi resiko bencana dimasa mendatang, khsusnya terhadap Gempa megathrust dan Benioffyang berpotensi menimbulkan resiko tsunami dan liquifaksi. Banyaknya bangunan yang gagal akibat liquefaksi, pengalaman beberapa peneliti dalam penanganan kasus di Padang.Metode kajian berupa site visit ke lokasi, pengumpulan data-data kerusakan kota Padang saat gempa 29 September 2009, data-data geologi dan kegempaan, data bor dan CPT / CPTu, analisis likuifaksi menggunakan konsep NCEER dan perhitungan Liquefaction Potensial Index (LPI), pemetaan kerentanan terhadap likuifaksi dan tinjauan bahaya tsunami di kota Padang.Kesimpulan dan rekomendasi dari studi:(1) Tanah dikota Padang lapisan atas didominasi oleh pasir halus yang memiliki konsistensi lepas hingga sedang dan berpotensi mengalami liquefaksi dengan tingkat yang amat tinggi.(2) Masalah keamanan bangunan di Padang, bukan saja akibat dari kondisi bangunan yang buruk, mungkin tidak dirancang dan dilaksanakan terhadap gempa, tetapi kondisi tanah dasar juga memerlukan perhatian khususnya bahaya liquefaksi yang dapat mengakibatkan kegagalan pada pondasi dan selanjutnya dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur atas secara langsung.(3) Untuk bangunan yang masih survive, maka proteksi yang dapat diterapkan disamping peninjauan dan perkuatan struktur adalah dengan melakukan underpinning atau grout pada lapis tanah pasir dibawahpondasi. Bangunan bangunan yang sudah tidak dapat digunakan karena tingkat kerusakan yang berat maka sebaiknya pondasi dirancang ulang untuk menahan kemungkinan terjadinya potensi liquefaksi misalnya dengan menggunakan pondasi dalam sebagai sub struktur.(4) Zonasi kerentanan terhadap likuifaksi dapat dilakukan berdasarkan Liquefaction Potential Index.(5) Mengingat keseluruhan kota Padang terletak pada area yang rendah, maka kerentanan terhadap potensi kerusakan akibat tsunami cukup tinggi, untuk itu disarankan kajian yang lebih mendalam mengenai tsunami diperlukan.(6) Berdasarkan resume hasil analisis LPI terlihat bahwa rata-rata potensi likuifaksi yang terjadi pada kota Padang sangat besar (very high). Dengan besaran settlement yang terjadi berkisar antara 15.5 – 71.2cm dan besaran lateral displacement yang terjadi berkisar antara 2.9 – 13.5 cm.(7) Direkomendasikan untuk merencanakan tsunami hill atau tempat tempat tinggi ditempat publik yang dapat menyelamatkan masyarakat dari bahaya tsunami. Lokasi tersebut dapat dipilih pada area terbuka yang mudah dijangkau oleh orang orang yang berada disekitaranyaKemungkinan lain adalah membuat dinding pertahanan terhadap tsunami (tsunami wall) sepanjangpantai, misalnya dengan memanfaatkan jalan jalan dipinggir pantai seperti diantaranya jalan Samuder

    Development of Nationwide Surface Spectral Acceleration Maps for Earthquake Resistant Design of Bridges Based on National Hazard Maps of Indonesia 2017

    No full text
    Spectral acceleration at the ground surface, including peak ground acceleration, provides essential information for earthquake resistant design and must be provided to bridge engineers in easily accessible media. Spectra acceleration maps are one way to deliver such information, but unfortunately the most recent Indonesian earthquake resistant design standard for bridges, SNI 2833-2016, only provides maps of earthquake hazard at bedrock. The development of earthquake acceleration maps at the ground surface for Indonesia in this study was based on earthquake hazard maps at bedrock with probability of exceedance (PE) 7% in 75 years, i.e. equal to an earthquake with a return period of 1034 years. Site conditions were adopted from the nationwide Vs30 map of Indonesia proposed by Irsyam (2017), which is a modified version of the Vs30 map proposed by Imamura &amp; Furuta (2015). Site conditions combined with hazard value were used to determine the amplification factors according to the criteria in SNI 2833-2016 and then multiplied with hazard at bedrock to obtain surface spectra acceleration maps. The resulting maps are very useful for determining earthquake loads for bridge design at the preliminary design stage. Improvements to incorporate more advanced calculation methods and updated data in a future research are recommended and very feasible
    corecore