1,721,001 research outputs found

    Analysis Of Supply Chain and Marketing Efficiency Of Rice in Kebumen Village, Banyubiru District, Semarang Regency

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengetahui gambaran rantai pasok beras di Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang dan 2) mengetahui efisiensi pemasaran beras yang terjadi dalam rantai pasok beras. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran dari aliran produk, aliran finansial, dan aliran informasi sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui margin pemasaran dan farmer’s share. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data secara purposive sampling untuk pelaku distribusi yang terlibat. Data diolah menggunakan pendekatan analisis rantai pasok dan analisis margin pemasaran. Hasil penelitian menunjukan gambaran rantai pasok beras yaitu terdapat empat lembaga atau pelaku rantai pasok yaitu petani (pemasok padi), pedagang pengumpul (penyalur gabah basah), penggilingan (berperan dalam pengolahan gabah menjadi beras/ supplier beras), pedagang besar (distributor ke konsumen akhir), dan konsumen dimana terdapat tiga aliran diantaranya aliran produk, aliran informasi, dan aliran finansial. Rantai pasok beras di Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru dinyatakan tidak efisien.The aims of this study were: 1) to describe the rice supply chain in Kebumen Village, Banyubiru District, Semarang Regency and 2) to determine the efficiency of rice marketing in the rice supply chain. The type of research used is descriptive qualitative and quantitative. Qualitative descriptive is used to describe product flow, financial flow, and information flow, while quantitative analysis is used to determine marketing margin and farmer's share. The types of data used are primary and secondary data with purposive sampling data collection techniques for the distribution actors involved. The data is processed using supply chain analysis approach and marketing margin analysis. The results of the study show an overview of the rice supply chain, namely there are four supply chain institutions or actors, namely farmers (suppliers), collectors traders (distributors of wet grain), mills (plays a role in processing grain into rice/rice suppliers), wholesalers (distributors to final consumers). , and consumers where there are three flows including product flow, information flow, and financial flow. The rice supply chain in Kebumen Village, Banyubiru District is declared inefficient

    Analisis Kelayakan Usahatani Bunga Potong Krisan

    Full text link
    Budidaya bunga potong krisan telah menjadi aktivitas pertanian yang umum di Kabupaten Semarang, terutama di Kecamatan Bandungan yang dikenal sebagai pemasok utama bunga potong untuk Kota Semarang dan sekitarnya. Namun, produksi bunga potong krisan masih kurang mendapatkan perhatian karena sifatnya yang rentan rusak dengan umur simpan pendek yang berakibat menurunkan nilai ekonomisnya. Petani sering melakukan budidaya sebagai rutinitas tanpa perhitungan pendapatan yang jelas, sehingga keuntungan atau kerugian tidak dapat dipastikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan, pengeluaran, penerimaan usahatani bunga potong krisan dan kelayakan usahatani bunga potong krisan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel petani dilakukan dengan cara non-probability sampling teknik purposive sampling dengan jumlah responden 2 petani. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Metode pengambilan data dengan wawancara, dokumentasi, pencatatan, kuesioner dan observasi. Hasil penelitian menunjukan biaya total yang dikeluarkan selama satu periode tanam sebesar Rp 7.093.000/400m2 atau Rp 17.732/m2, total penerimaan Rp 18.575.000/400m2 atau Rp 46.437,5/m2, total pendapatan sebesar Rp 11.482.000/400m2 atau Rp 28.705/m2 dan R/C ratio dengan nilai 2,61 setiap Rp1 yang digunakan menghasilkan penerimaan sebesar Rp2.61. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas usahatani bunga potong krisan di lokasi penelitian layak untuk dijalankan.Chrysanthemum cultivation has become a significant agricultural activity in Semarang Regency, especially in Bandungan Subdistrict, which is known as a major supplier of cut flowers to Semarang City and surrounding areas. However, chrysanthemum cut flower production still receives little attention due to its perishable nature with a short shelf life that results in lower economic value. Farmers often carry out cultivation as a routine without a clear calculation of income, so that profits or losses cannot be ascertained. This study aims to determine the income of chrysanthemum cut flower farming and the feasibility of chrysanthemum cut flower farming. The basic method used was descriptive quantitative. Sampling of farmers is done by non-probability sampling purposive sampling technique with the number of respondents 2 farmers. Data taken in the form of primary data and secondary data. Data collection methods with interviews, documentation, recording, questionnaires and observation. The results showed that the total costs incurred during one planting period amounted to Rp 7.093.000/400m2 or Rp 17.732/m2, total revenue Rp 18.575.000/400m2 or Rp 46.437,5/m2, total income of Rp 11.482.000/m2 or Rp 28.705/m2 and R/C ratio with a value of 2.61 every Rp 1 used generates revenue of Rp 2.61. This shows that chrysanthemum cut flower farming activities in the research location are feasible to be implemented

    ENTREPRENEURSHIP IN ANIMAL HUSBANDRY (CASE STUDY IN SETIA FARM PURWOREJO, PROVINSI JAWA TENGAH)

    Full text link
    Berwirausaha di bidang peternakan memiliki karakteristik dan lingkungan tertentu yang mempengaruhi keberhasilannya. Salah satu wirausaha yang telah berhasil membangun bisnis peternakan sapi adalah Setyo Hermawan pendiri Setia Farm di Purworejo, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik kewirausahaan yang dilakukan Setia Farm serta mengetahui faktor pendukung dan penghambatnya dalam mengelola kewirausahaan di Setia Farm. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dilakukan uji triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa hal utama dalam berwirausaha peternakan sapi di Setia Farm adalah rasa tanggung jawab terhadap bisnis yang dijalankan, konsisten dengan peternakan sapi. Faktor pendukung dalam berwirausaha bidang peternakan adalah pengalaman dan pengetahuan tentang peternakan sapi, pelayanan yang baik kepada konsumen melalui kualitas produk yang ditawarkan. Faktor penghambat adalah kurangnya pengendalian diri dengan mengutamakan keinginan untuk mencapai hal yang tertinggi tanpa melihat dampak negatifnya, infrastruktur belum menjamin keamanan pengiriman sapi ke luar pulau Jawa, sarana prasarana yang belum memadai (terutama kandang), dan kurang terpenuhinya pakan pada ternak.Livestock sector entrepreneurship has certain characteristics and frameworks that influence its success. One of his entrepreneurs who has successfully established a ranch is Setyo Hermawan, the founder of Setia Farm in Purwolejo, Central Java. This study was conducted to clarify the characteristics of entrepreneurship practiced by Setia farms and to clarify the facilitators and hindrances in managing entrepreneurship in Setia farms. This research uses a descriptive qualitative approach. Data collection techniques were performed using observations, interviews, and documentation. The data obtained were tested by source triangulation and technical triangulation. From the findings, it can be concluded that Setia Farm's entrepreneurial spirit in animal husbandry is a sense of responsibility of the management company in line with animal husbandry. Factors supporting the entrepreneurial spirit of the animal husbandry sector are the experience and knowledge in animal husbandry, the excellent service provided to consumers through the quality of the products offered. Disincentives are lack of self-control by prioritizing the desire to reach the highest level without seeing negative consequences, infrastructure that does not guarantee the safety of transporting cattle outside Java, and inadequate infrastructure (especially stables). , is an inadequate livestock supply. fodder for livestock

    Strategi Pengembangan Agribisnis Jambu Biji di Desa Watuagung Kabupaten Semarang

    Full text link
    Tanaman jambu sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki kontribusi terhadap pendapatan petani. Namun pengembangan jambu biji di Desa Watuagung masih sederhana dan terbatas. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah (1) Mengetahui faktor internal dan eksternal dalam pengembangan agribisnis jambu biji; (2) Mengetahui strategi pengembangan agribisnis jambu biji di Desa Watuagung, Kabupaten Semarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Teknik analisis data dengan menggunakan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Faktor internal yaitu lahan, jumlah produksi, modal, tingkat kosmopolitan petani, pengalaman petani, tingkat pendidikan, keterampilan petani dan koordinasi antar petani, sedangkan faktor eksternal yaitu sumber daya manusia, toko pertanian, peternak, keadaan iklim, permintaan pasar, kemitraan usahatani dan fluktuasi harga; (2) Alternatif strategi untuk pengembangan agribisnis jambu biji: a) Strategi SO yaitu memaksimalkan jumlah produksi untuk memenuhi permintaan pasar; b) Strategi WO yaitu meningkatkan pengalaman dan keterampilan petani untuk menambah kemitraan usahatani; c) Strategi ST yaitu melakukan perencanaan jumlah permintaan guna meminimalisirkan masalah fluktuasi harga; d) Strategi WT yaitu meningkatkan koordinasi antar petani untuk membuka potensi pasar.Guava plants have the potential to be developed because they contribute to farmers' income. However, the development of guava in Watuagung Village is still simple and limited. The purpose of this research is (1) to know the internal and external factors in the development of guava agribusiness; (2) Knowing the guava agribusiness development strategy in Watuagung Village, Semarang Regency. This type of research used is qualitative. Data analysis technique using SWOT. The results showed that (1) internal factors, namely land, amount of production, capital, cosmopolitan level of farmers, farmer experience, level of education, farmer skills and coordination between farmers, external factors, namely human resources, farm shops, breeders, climatic conditions, demand markets, farm partnerships and price fluctuations; (2) Alternative strategies for developing guava agribusiness: a) SO strategy, namely maximizing the amount of production to meet market demand; b) The WO strategy is to increase the experience and skills of farmers to increase farming partnerships; c) The ST strategy is planning the number of requests to minimize the problem of price fluctuations; d) WT's strategy is to improve coordination between farmers to unlock market potential

    Analisis Kelayakan Usahatani Padi Sawah di Kelurahan Pulutan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah

    Full text link
    Padi adalah tanaman utama dalam pertanian yang merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang menunjang kurang lebih 95% konsumsi masyarakat Indonesia. Ada dua jenis tempat membudidayakan padi di indonesia yaitu: padi sawah dan padi ladang. Permasalahan yang terjadi pada petani salah satunya adalah harga pestisida, harga pupuk, dan harga sewa alat yang terlalu mahal, serta harga benih yang tidak menentu. Penelitian ini bertujuan untuk 1). Mengetahui biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan usahatani padi sawah di Kelurahan Pulutan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, 2). Mengetahui R/C ratio usahatani padi sawah di Kelurahan Pulutan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Analisis penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis biaya produksi, pendapatan, penerimaan, dan R/C ratio. Sebanyak 10 responden yang diambil memiliki karakteristik khusus yaitu status kepemilikan lahan milik sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran usahatani padi sawah di Kelurahan Pulutan, Kecamatan Sidorejo sebesar Rp 3.501.133/ha/musim tanam. Rata-rata penerimaan yang diterima petani sebesar Rp 9.243.000/ha/musim tanam, rata-rata Pendapatan petani sebesar Rp 5.741.867/ha/musim tanam, dan nilai R/C ratio adalah sebesar Rp 2,64. Dimana nilai tersebut artinya bahwa usahatani layak dijalankan

    Correlation between Farmers Motivation in Following Cooperatives and Entrepreneurship in Farming with Perception of Cooperatives Success

    Full text link
    Kegiatan kewirausahaan bidang pertanian Indonesia khususnya petani tanaman pangan yaitu padi masih menjalankan aktivitas usahanya secara tradisional. Berbeda dengan yang ada di Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak dimana masyarakat petani dan koperasi secara bersama-sama membangun usaha budidaya padi, produksi padi, dan pemasaran beras menggunakan sentuhan inovasi serta didukung oleh teknologi modern sehingga dapat menghasilkan beras berkualitas dan berdaya saing bernama Beras Melati. Hal tersebut dilakukan bersama-sama di bawah naungan Koperasi Citra Kinaraya. Dalam mengembangkan kegiatan usaha tersebut, para petani tidak akan lepas dari motivasi mengikuti koperasi dan kewirausahaan usahatani dalam dirinya sehingga petani yang tergabung didalamnya secara bersama-sama mampu membangun usaha pertanian yang inovatif dan mampu terus bertahan di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi petani mengikuti koperasi dan kewirausahaan dalam usahatani dengan persepsi terhadap keberhasilan koperasi. Analisis data menggunakan korelasi Rank Spearman pada taraf nyata 5% dan hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh variabel independen berkorelasi secara signifikan dengan persepsi terhadap keberhasilan koperasi. Variabel motivasi petani mengikuti koperasi memiliki hubungan kuat sedangkan kewirausahaan usatahani yang dilihat dari variabel inovasi memiliki hubungan lemah dan variabel berani mengambil risiko serta variabel kemampuan manajerial memiliki hubungan sedang dengan persepsi terhadap keberhasilan usaha koperasi.Entrepreneurial activities in Indonesian agriculture, especially food crop farmers, namely rice, are still carrying out their traditional business activities. It is different from the one in the village of Mlatiharjo, Gajah District, Demak Regency, where farming communities and cooperatives jointly built rice cultivation, rice production and rice marketing business using a touch of innovation and supported by modern technology so that they can produce quality and competitive rice called Beras Melati. This was done together under the auspices of the Citra Kinaraya Cooperative. In developing these business activities, farmers will not be separated from the motivation of entrepreneurship and farming entrepreneurship within themselves so that the farmers who are members of it are jointly able to build innovative agricultural businesses and are able to continue to survive amid advances in agricultural science and technology. The purpose of this study was to determine the relationship between farmer’s motivation to join cooperatives and entrepreneurship in farming with perceptions of the success of cooperatives. Data analysis used Rank Spearman correlation at 5% significance level and the results of the analysis show that all independent variables are significantly correlated with perceptions of cooperative success. Farmer’s motivation to join cooperatives has a strong relationship, while entrepreneurial entrepreneurship as seen from the innovation variable has a weak relationships and the risk-taking variable and managerial ability variable has a moderate relationship with perceptions of the success of cooperative businesses

    Development Strategy For Organizational Plant Businesses In Sidomukti Village Getasan District Semarang District

    Full text link
    Saat ini petani tanaman hias di Desa Sidomukti mengoleksi lebih dari 60 jenis tanaman hias. Menanam tanaman hias memiliki keuntungan karena tidak membutuhkan lahan yang luas tapi mampu mencapai harga jual yang lebih tinggi. Saat ini usaha tanaman hias semakin berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) serta menganalisis strategi pengembangan usaha tanaman hias di Desa Sidomukti Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Informan dalam penelian ini adalah anggota kelompok tani Sidomakmur yang melakukan budidaya dan penjualan tanaman hias sedangkan key infoman dalam penelitian ini adalah ketua kelompok tani Sidomakmur. Metode analisis data menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang dapat digunakan oleh para pedagang tanaman hias di desa Sidomukti yaitu (1). Strategi SO: memanfaatkan ketenaran daerahnya untuk menarik pembeli, dengan menggunakan teknologi seperti media sosial untuk promosi dan pelayanan jual beli, serta memperluas jaringan pasar diluar daerah, (2). Strategi ST: dengan cara lebih banyak memasarkan barang keluar daerah dan terus mengikuti trend tanaman yang sedang banyak digemari, (3). Strategi WO: dengan cara memberikan garansi kerusakan apabila terjadi kerusakan tanaman yang tidak disengaja, (4). Strategi WT: dilakukan dengan cara harus tetap konsisten untuk meningkatkan kualitas pelayanan.Currently, ornamental plant farmers in Sidomukti Village collect more than 60 types of ornamental plants. Planting ornamental plants has the advantage of not requiring a large area of land but being able to achieve a higher selling price. Currently, the ornamental plant business is increasingly developing. The purpose of this study is to analyze internal factors (strengths and weaknesses) and external factors (opportunities and threats) as well as analyze the development strategy of ornamental plant business in Sidomukti Village, Getasan District, Semarang Regency. The research method used is a qualitative descriptive method. The informant in this study is a member of the Sidomakmur farmer group who cultivates and sells ornamental plants while the key informant in this study is the chairman of the Sidomakmur farmer group. The data analysis method uses SWOT analysis. The results of this research show that the strategies that can be used by ornamental plant traders in Sidomukti village are (1). SO strategy: taking advantage of the region's fame to attract buyers, by using technology such as social media for promotions and buying and selling services, as well as expanding market networks outside the region, (2). ST strategy: by marketing more goods outside the region and continuing to follow plant trends that are currently popular, (3). WO strategy: by providing a damage guarantee in the event of accidental plant damage, (4). WT Strategy: carried out in a way that must remain consistent to improve service quality

    Analysis Of The Feasibility Level Of Oil Palm Farming In Batu Payung Dua Village, District Marau, Ketapang Regency, West Kalimantan

    Full text link
    Suatu usahatani akan dikatakan layak apabila usahatani tersebut bisa memberikan manfaat yang maksimal kepada petani terutama dalam meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan usahatani kelapa sawit dan menganalisis tingkat kelayakan usahatani kelapa sawit tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2023 di Desa Batu Payung Dua Kecamatan Marau Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, dengan pendekatan kuantitatif yang menggunakan kuesioner sebagai panduan dari wawancara. Dari hasil penelitian sebanyak 18 petani kelapa sawit yang dijadikan responden menggunakan pendekatan nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pengeluaran usahatani, analisis penerimaan usahatani, analisis pendapatan usahatani, dan analisis kelayakan usahatani. Hasil analisis menunjukkan total produksi kelapa sawit di Desa Batu Payung Dua sebesar 618.108kg/tahun, dengan rata-rata harga penjualaan sebesar Rp 1.473/kg. Adapun biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani sebesar Rp 297.421.080/tahun, dengan nilai penerimaan sebesar Rp 910.335.727/tahun, sedangkan nilai pendapatan sebesar Rp 612.914.647/tahun. Maka diperoleh analisis kelayakan usahatani dalam R/C rasio sebesar 3,06, dan break even point harga jual sebesar Rp 481,18/kg, serta break event point unit didapatkan nilai sebesar 93.319 kg/tahun. Oleh sebab itu usahatani kelapa sawit di Desa Batu Payung Dua Kecamatan Marau Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat layak untuk dilanjutkan.A farming business will be said to be feasible if the farming business can provide maximum benefits to farmers, especially in increasing farmer income. This research aims to determine the income of oil palm farming and analyze the level of feasibility of oil palm farming. The research was carried out in August-September 2023 in Batu Payung Dua Village, Marau District, Ketapang Regency, West Kalimantan, with a quantitative approach using a questionnaire as an interview guide. From the research results, 18 oil palm farmers were used as respondents using a nonprobability sampling approach with purposive sampling technique. The analysis used in this research is farming expenditure analysis, farming revenue analysis, farming income analysis, and farming feasibility analysis. The results of the analysis show that total palm oil production in Batu Payung Dua Village is 618,108kg/year, with an average selling price of IDR 1,473/kg. The production costs incurred by farmers are IDR 297,421,080/year, with a revenue value of IDR 910,335,727/year, while the income value is IDR 612,914,647/year. So an analysis of the feasibility of farming was obtained in an R/C ratio of 3.06, and the break even point selling price was IDR 481.18/kg, and the break event point unit value was 93,319 kg/year. Therefore, oil palm farming in Batu Payung Dua Village, Marau District, Ketapang Regency, West Kalimantan is worth continuing

    Impact of The Corporate Social Responsibility (CSR) Program PT. Astra International for Community Welfare

    Full text link
    Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmen perusahaan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi yang menyesuaikan pencapaian kinerja ekonomi dengan kinerja sosial dan lingkungan. CSR diharapkan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat setelah menerima program dari perusahaan. Dusun Tanon, Desa Ngrawan merupakan salah satu yang mendapatkan program CSR PT. Astra Internasional melalui program Kampung Berseri Astra (KBA). Dari hasil observasi, program CSR tersebut telah memberikan dampak kepada masyarakat, namun belum ada penelitian yang membuktikan kebenaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pelaksanaan program CSR yang diberikan PT. Astra Internasional terhadap keseluruhan masyarakat dan pemerintah Desa. 2) mengetahui dampak dari program CSR PT. Astra Internasional terhadap kesejahteraan masyarakat. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam terhadap pengelola KBA, kepala desa, dan masyarakat penerima program CSR. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan CSR terdiri dari Stage I, Stage II, Stage III, Stage IV, Stage V dan 4 pilar terdiri dari: pilar pendidikan, pilar kesehatan, pilar lingkungan dan pilar kewirausahaan dan evaluasi; evaluasi dan rewards. Dalam pelaksanaan telah memenuhi konsep triple bottom line. CSR PT. Astra Internasional memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.Corporate Social Responsibility (CSR) is a company's commitment to participate in economic development that adjusts the achievement of economic performance with social and environmental performance. CSR is expected to have an impact on the welfare of the community after receiving the program from the company. Tanon Hamlet, Ngrawan Village is one of the recipients of the CSR program of PT. Astra International through the Kampung Berseri Astra (KBA) program. From the observations, the CSR program has had an impact on the community. However, there is no research that proves the truth. This study aims to: 1) knowing the implementation of the CSR program provided by PT. Astra International towards the whole community and village government. 2) knowing the impact of the CSR program of PT. Astra International towards the welfare of society. This type of research is descriptive qualitative. Data were obtained by conducting in-depth interviews with KBA managers, village heads, and communities receiving CSR programs. Test the validity of the data using technical triangulation and source triangulation. The results showed that the implementation of CSR consisted of Stage I, Stage II, Stage III, Stage IV, Stage V and 4 pillars consisting of: pillars of education, pillars of health, pillars of environment and pillars of entrepreneurship and evaluation; evaluation and rewards. In the implementation, it has fulfilled the triple bottom line concept. CSR PT. Astra International has a positive impact on people's welfare

    Faktor-faktor yang Memiliki Hubungan Dengan Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Produk Minuman Teh PT. Gunung Subur Sejahtera

    Full text link
    Perkembangan perusahaan PT. Gunung Subur Sejahtera sebagai industri teh yang memperluas jangkauan pasarnya dengan membuat berbagai outlet yang dinamakan Tea-House. Persaingan sesama pengusaha industri teh semakin hari semakin ketat sehingga setiap pelaku usaha diharuskan memiliki strategi masing-masing. Salah satu strategi untuk memenangkan persaingan adalah dengan cara mengupayakan kepuasan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memiliki hubungan dengan tingkat kepuasan konsumen terhadap produk minuman. Data penelitian dikumpulkan dengan melakukan metode survei. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 100 orang yaitu konsumen Tea House Gardoe Solo. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara harga, promosi, tempat, kualitas produk, dan gaya hidup terhadap kepuasan konsumen Tea-House Gardoe Solo.The development of the company PT. Gunung Subur Sejahtera as a tea industry that expands its market reach by creating various outlets called Tea-House. Competition among tea industry entrepreneurs is getting tougher day by day so that every business actor is required to have their own strategy. One strategy to win the competition is to strive for consumer satisfaction. This study aims to analyze the factors that have relationship with the level of consumer satisfaction toward beverage products. The research data was collected by conducting a survey method. The number of samples used in this study amounted to 100 people, namely consumers of Tea House Gardoe Solo. Data were analyzed using SPSS version 21. The results of the study indicate that there is a positive relationship between price, promotion, place, product quality, and lifestyle on consumer satisfaction in Tea-House Gardoe Solo
    corecore