1,721,016 research outputs found
Pelarutan Batuan Leucite dan Apatit Menggunakan Kombinasi Senyawa Humik Ketela Pohon dan Bakteri (Pelarut Fosfat dan Kalium).
Batuan mineral apatit dan leusit merupakan sumber daya mineral dengan ketersediaan tinggi tetapi mempunyai kelarutan mineral rendah. Penelitian ini difokuskan pada kombinasi bakteri pelarut fosfat dan kalium dan humik ketela pohon sebagai agen bioleaching dalam proses pelarutan kalium dan fosfat dari bahan agromineral.
Bahan agromineral leusit yang digunakan diperoleh dari Situbondo dan Pati, sedangkan bahan apatit berasal dari kabupaten Tuban dan Ciamis di Indonesia. Agromineral diperlakukan dengan isolat bakteri pelarut fosfat (BPF) dan bakteri pelarut kalium (BPK), dikombinasikan dengan senyawa humik dari ketela pohon sebagai media. Kelarutan mineral diamati setiap 2 minggu sekali selama 12 minggu meliputi fosfat, kalium, dan pH media. Produksi asam organik dianalisa untuk mengamati aktivitas bakteri dan perubahan fisik permukaan batuan akibat pelarutan bakteri dipindai menggunakan scanning microscope electron (SEM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pelarutan fosfat tertinggi tercatat pada minggu ke 4 (344,23 ppm) yang dilepaskan dari apatit Tuban dengan kombinasi BPF dan BPK dengan senyawa humik, sedangkan pelarutan kalium tertinggi diperoleh pada minggu ke 6 untuk Leusit Situbondo (44,21 me / 100 g) dengan kombinasi senyawa humik ketela pohon dan BPK. Analisis Anova menunjukkan tanda yang berbeda pada kedua mineral untuk pelarutan fosfat, dan kalium. Hasil SEM menunjukkan kerusakan permukaan batuan setelah periode pengamatan 12 minggu yang mengindikasikan bahwa pelarutan mineral terjadi. karena banyak asam organik seperti asam sitrat, ferulat, khumarat, siringat, dan malat terdeteksi, dan dapat disimpulkan bahwa baik BPK dan atau BPF secara aktif tumbuh di media bahan humik dari ketela pohon, mendukung pelarutan fosfat dan kalium dari batuan leusit dan apatit sebagai sumber untuk agrominerals
Uji Selektivitas Mikroba Pelarut Fosfat pada Media Cair (Molasse) dengan Beberapa Konsentrasi
Suatu pengujian dilakukan terhadap empat jenis bakteri pelarut fosfat, terdiri dari isolat I (Pseudomonas putida), isolat II (Pseudomonas aerogenusa), isolat III (TP. 4) dan isolat IV (Chromobacterium violaceum). Keempat isolat di atas ditumbuhkan pada media cair molasse, Penelitian dilakukan secara faktorial dengan rancangan dasar RAL, faktor pertama yaitu jenis isolat dan faktor kedua yaitu konsentrasi molasse dengan empat taraf, yaitu M1 (2 ml/l aq), M2 (4 ml/l aq), M3 (6 ml/l aq), M4 (8 ml/l aq) dan M5 (10 ml/l aq), Masing-masing isolat diinokulasikan ke dalam media molasse dengan populasi sekitar 1,25 x 105 dan diinkubasikan selama dua bulan, dimana setiap dua minggu dilakukan analisis P-parut pada media tersebut
PENGARUH PEMBERIAN MINERAL LEUSIT DAN MIKROBA PELARUT KALIUM TERHADAP KETERSEDIAAN DAN SERAPAN HARA KALIUM TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea) PADA TANAH INCEPTISOL
Inceptisol adalah salah satu jenis tanah utama di Indonesia dengan total
luas tanah 70,5 juta ha. Di pulau Jawa, kebanyakan tanah-tanah Inceptisol
memiliki intensitas pengelolaan yang sudah intensif dibandingkan dengan
Inceptisol di Luar Jawa. Inceptisol selain ditemukan dalam bentuk lahan sawah
dan perkebunan, terdapat juga dalam bentuk lahan-lahan tegalan yang umumnya
memiliki ketersediaan hara yang rendah. Salah satu hara esensial yang
ketersediaannya pada tanah cenderung rendah adalah kalium. Ketersediaan kalium
yang rendah ini dikarenakan masih tingginya tingkat fiksasi kalium serta adanya
proses pencucian yang menghilangkan kalium dari tanah. Peningkatan
ketersediaan kalium dapat dilakukan dengan adanya penerapan teknologiteknologi
baru, seperti penggunaan pupuk kalium yang berasal dari alam yaitu
leusit. Penggunaan pupuk kalium yang berasal dari alam pada umumnya memiliki
kecepatan perilisan yang lambat jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk
sintetik, seperti KCl. Penggunaan bakteri pelarut kalium ini menjadi salah satu
cara yang dapat diterapkan untuk dapat mempercepat proses perilisan kalium dari
pupuk yang digunakan. Bakteri pelarut kalium mampu melepaskan kalium yang
tidak tersedia menjadi tersedia melalui asam-asam organik yang dihasilkannya
Penggunaan kacang tanah sebagai tanaman indikator karena tanaman ini
merupakan salah satu tanaman yang memiliki kebutuhan kalium yang besar.
Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama (S):
Sumber kalium yang terdiri dari empat taraf yaitu: 1. Kontrol (S0), 2. Mineral
Leusit Pati 4,97 gram/tanaman (S1), 3. Mineral Leusit Situbondo 4,82
gram/tanaman (S2), 4. Pupuk KCl 0,60 gram/tanaman (S3) dan faktor kedua (M):
Macam Mikroba Pelarut Kalium yang terdiri dari tiga taraf yaitu: 1. Kontrol (M0)
DIAGNOSIS KESEIMBANGAN HARA PADA DAUN TANAMAN TEBU LAHAN KERING MENGGUNAKAN METODE DRIS (STUDI KASUS: PG. BUNGAMAYANG, LAMPUNG DAN PT. PG. RAJAWALI II UNIT SUBANG, JAWA BARAT)
Kebutuhan gula berbading lurus dengan pertumbuhan penduduk di
Indonesia. Namun, produksi gula dalam negeri masih belum dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan gula nasional. Salah satu penyebabnya adalah produktivitas
tebu Indonesia masih tergolong rendah, terutama tebu yang dibudidayakan di lahan
kering/tegalan. Upaya peningkatan produksi tanaman tebu sangat diperlukan yakni
melalui perbaikan teknik budidaya diantaranya dengan memperbaiki kesuburan
tanah melalui pemupukan. Untuk menetapkan jenis dan dosis pupuk diperlukan
rekomendasi pemupukan yang tepat. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam
menentukan rekomendasi pemupukan adalah dengan melakukan diagnosis status
hara. Salah satu cara untuk melakukan diagnosis status hara tanaman dapat
dilakukan melalui analisis tanaman.
Interpretasi hasil analisis tanaman untuk mendapatkan nilai status hara
dalam tanaman tebu dilakukan menggunakan metode DRIS. Prinsip metode DRIS
adalah menilai hara tanaman untuk mendapatkan komposisi hara yang paling
berimbang serta diperoleh produksi dan kualitas hasil yang tinggi. Penentuan ini
didasarkan pada nisbah hara satu terhadap lainnya dan berhubungan dengan
produksi tinggi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hara pembatas utama
produktivitas sebagai penyebab belum optimalnya produktivitas tanaman tebu
sekaligus mengetahui urutan keseimbangan hara N, P, K dan Mg untuk melakukan prioritas perbaikan hara di kebun-kebun tebu berproduktivitas rendah dan sedang.
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai informasi dasar dalam
meningkatkan produktivitas tebu sekaligus sebagai dasar pertimbangan anjuran
dosis pupuk hara makro Penelitian ini dilaksanakan di PG. Bungamayang, Lampung dan PT. PG.
Rajawali II unit Subang, Jawa Barat mulai bulan Juli 2016 hingga Oktober 2016.
Metode penelitian yang digunakan adalah melalui survey pengambilan contoh daun
tebu di lapangan berdasarkan prosedur baku, masing-masing sebanyak 25 dan 21
contoh. Kebun-kebun tebu berproduktivitas tinggi (>80 ton/ha) dijadikan dasar
untuk menetapkan norm, sedangkan kebun-kebun tebu berproduktivitas sedang (60
ā 80 ton/ha) dan rendah (<60 ton/ha) digunakan untuk mengetahui faktor hara yang
menjadi pembatas produktivitas. Sebagai uji coba atau verifikasi diperoleh Norm
N/P, N/K, K/P, N/Mg, P/Mg dan K/Mg masing-masing 11,37; 1,61; 7,24; 15,19;
1,33; dan 9,81.
Hasil penelitian diperoleh rasio hara N/P, N/K, K/P, N/Mg, P/Mg dan K/Mg
seimbang pada daun tanaman tebu berdasarkan diagram DRIS berturut-turut 10,57
- 12,17; 1,44 - 1,78; 6,22 - 8,26; 14,99 - 17,39; 1,18 - 1,48 dan 7,62 - 12,00. Hasil
diagnosis rasio hara menunjukkan terjadi ketidakseimbangan hara Mg pada kebunkebun
di PG. Bungamayang. Sedangkan di PG. Subang menunjukkan terjadi
ketidakseimbangan hara N dan Mg. Berdasarkan Indeks DRIS tanaman tebu
menunjukkan unsur hara Mg umumnya menempati urutan pertama sebagai faktor
pembatas pada kebun tebu berproduktivitas sedang dan rendah di PG.
Bungamayang. Sedangkan pada kebun tebu berproduktivitas sedang dan rendah di PG. Subang, unsur hara N dan Mg bergantian menempati urutan pertama sebagai
faktor pembatas produktivitas serta diduga terdapat hara lain diluar N, P, K dan Mg
yang memiliki nilai tidak seimbang
Pengaruh Aplikasi Biochar Dan Kompos Terhadap Sifat Fisika Tanah Alfisol, Efisiensi Air Dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt L.)
Biochar merupakan mineral amorf yang diperoleh melalui proses pirolisis,
digunakan sebagai bahan pembenah tanah
Pengaruh Kombinasi Sumber Fosfat dengan Bakteri Pelarut Fosfat terhadap Peningkatan Kadar P Tanah Alfisol dan Serapannya pada Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)
Unsur hara merupakan zat yang dibutuhkan oleh tanaman dan memegang peran penting dalam pertumbuhan tanaman. Tanah Alfisol merupakan salah satu jenis tanah yang memiliki beberapa kelebihan, sehingga produktivitasnya masih sangat berpotensi untuk ditingkatkan. Tanah alfisol juga memiliki beragam permasalahan seperti halnya P tersedia yang rendah. Kondisi ini tidak menguntungkan dalam budidaya tanaman seperti sorgum. Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan salah satu tanaman yang membutuhkan unsur hara P dalam jumlah yang cukup banyak untuk proses pertumbuhannya. Peningkatan unsur P dapat dilakukan dengan cara menambahkan sumber P pada tanah seperti penambahan pupuk anorganik buatan atau pupuk anorganik alam. Batuan fosfat bersifat tidak mudah larut (slow release), sehingga dibutuhkan bantuan dari mikroba untuk mengubah P menjadi tersedia bagi tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kombinasi antara penambahan sumber fosfat dan bakteri pelarut fosfat terhadap kadar fosfat dalam tanah dan serapan P-jaringan tanaman sorgum. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 sampai Januari 2018 di Lahan Penelitian, Laboratorium Kesuburan Tanah, dan Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama (P): Sumber Fosfat yang terdiri dari empat taraf yaitu: 1. Kontrol (P0), 2. TSP 0,21 g/tanaman (P1), 3. TSP 0,42 g/tanaman (P2), 4. Rock Phosphate 1,95 g/tanaman (P3) dan faktor kedua (B): Macam Bakteri Pelarut Fosfat yang terdiri dari tiga taraf yaitu: 1. Kontrol (B0), 2. Pseudomonas sp. (B1), 3. Bacillus sp. (B2). Selanjutnya dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aplikasi kombinasi sumber fosfat dan inokulasi BPF secara nyata mampu meningkatkan pH tanah, kadar P-jaringan, serapan P-Jaringan, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat basah, berat kering tanaman sorgum dan memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kadar P dalam tanah. Perlakuan Rock Phosphate yang dikombinasikan dengan inokulasi BPF memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan TSP pada parameter pH tanah, P-tersedia tanah, kadar P-Jaringan dan tinggi tanaman sorgum. Perlakuan inokulasi BPF mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan hasil terbaik didapatkan pada penambahan inokulasi bakteri Bacillus sp
PENGARUH PEMBERIAN MINERAL LEUSIT DAN BAKTERI PELARUT KALIUM TERHADAP KETERSEDIAAN KALIUM DALAM TANAH, SERAPAN KALIUM, PERTUMBUHAN DAN KUALITAS TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST
Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang saat ini banyak dibudidayakan oleh petani rakyat atau perusahaan-perusahaan besar. Tembakau termasuk dalam tanaman semusim yang memiliki sistem perakaran tunggang. Bagian dari tanaman tembakau yang dihasilkan untuk produksi adalah daun
UJI TANAMAN BAYAM (Amaranthus tricolor) DAN RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum) SEBAGAI AGEN FITOREMEDIASI PADA TANAH TERCEMAR LOGAM Pb DAN Cd
Logam Pb dan Cd banyak digunakan sebagai bahan proses industri salah satunya adalah daur ulang koran bekas. Dari kegiatan ini, banyak limbah yang mengandung logam Pb dan Cd yang terbuang di lingkungan dari proses deinking. Keberadaan logam Pb dan Cd di dalam tanah sangat mudah diserap oleh tanaman yang dibudidayakan seperti tanaman semusim dan tanaman hortikultura.
Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai November 2014, melaui tiga tahap, yaitu tahap pertama adalah analisis pendahuluan (analisis tanah, limbah dan pupuk guano) yang dilaksanakan di laboratorium kesuburan tanah. Identifikasi karakteristik dan pembibitan tanaman hiperakumulator (Amaranthus tricolor dan Pennisetum purpureum) yang dilaksanakan di Agrotechno Park, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Tahap kedua adalah tahap aplikasi yang akan dilakukan di green house Agrotechnopark, Universitas Jember. Pengaplikasian perlakuan menggunakan rancangan percobaan Split Plot rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang meliputi tanaman hiperakumulator (H), dan limbah kertas koran yang mengandung logam Pb dan Cd (L) dengan nilai ketepatan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Faktor pertama atau main plot yaitu tanaman hiperakumulator yang terdiri dari dua taraf, yaitu (T1) Tanaman Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), (T2) Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor). Faktor kedua atau sub plot yaitu dosis logam Pb dan Cd yang terdiri dari taraf yaitu: (L0) Dosis limbah 0 gram, (L1) Dosis limbah 1 mg/kg (Cd) dan (L2) Dosis limbah 2 mg/kg (Pb). Tahap ketiga adalah tahap analisis hasil penelitian menganalisis tanah, nilai BAF dan jaringan tanaman di laboratorium kesuburan tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember, serta analisis kandungan logam Pb dan Cd.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kemampuan serapan logam Cd pada tanaman rumput gajah 0,744 mg/kg dan pada tanaman bayam 0,117 mg/kg. Kemampuan serapan logam Pb pada tanaman rumput gajah 0,839 mg/kg dan pada tanaman bayam 0,440 mg/kg. Rumput gajah lebih efektif mengakumulasi logam Pb daripada tanaman bayam. Sedangkan tanaman bayam lebik efektif mengakumulasi logam Cd daripada tanaman rumput gajah. Tanaman rumput gajah menunjukkan gejala keracunan pada warna daun. Daun memiliki nilai 7,5 GY (5/6) atau hijau tua. Parameter tinggi tanaman menunjukkan gejala keracunan (tanaman semakin kecil) akibat logam Pb dan Cd. Bayam tidak terlalu menunjukkan keracunan pada warna daun dan pada tinggi tanamannya tidak terganggu
INVENTARISASI DAN UJI KEMAMPUAN PELARUTAN KALIUM OLEH MIKROBA PELARUT KALIUM DARI RHIZOSFER TANAMAN TEBU (Saccharum Officinarum)
Kalium merupakan salah satu unsur hara makro yang dibutuhkan oleh
tanaman dalam jumlah melebihi kebutuhan tanaman akan hara forsfor. Bagi
tanaman tebu, kalium berfungsi dalam menentukan panjang batang tebu yang
dapat digiling dan jumlah batang anakan. Kalium juga berperan penting dalam
proses sintesis dan translokasi sukrosa dari daun ke jaringan simpanan sukrosa di
batang tebu. Pemasokan unsur hara bagi tanaman paling utama melalui tanah.
Jumlah kalium dalam tanah cukup banyak sekitar 2,3% dari kerak bumi yang
terdiri dari 90% - 98% dalam bentuk mineral dan 2%- 10% tersedia bagi tanaman.
Pelarutan kalium salah satunya dilakukan oleh mikroba yang berada pada daerah
perakaran tanaman. Kemampuan mikroba dalam melarutkan mineral tanah
berbeda-beda. Mikroba dengan kemampuan pelarutan yang tinggi mampu
melarutkan kalium yang terikat pada mineral.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi mikroba pelarut
kalium dari rhizosfer tanaman tebu dan untuk mengetahui kemampuannya dalam
melarutkan berbagai mineral pembawa kalium.
Penelitian ini dilaksanakan mulai Bulan Desember 2014 sampai Bulan
Maret 2015. Pengambilan contoh tanah dilakukan di Daerah Semboro, Pradjekan
dan Asembagus dengan masing-masing lima titik pengambilan contoh. Analisis
kimia dilakukan berdasarkan daerah pengambilan contoh berupa pH tanah, kalium
total dan kalium dapat ditukar. Mikroba diisolasi pada media aleksandrov agar
berdasarkan titik pengambilan contoh. Mikroba yang tumbuh dan mampu membentuk zona bening dianggap sebagai mikroba pelarut kalium. Masingmasing
satu mikroba yang dianggap unggul diuji kemampuannya pada media
aleksandrov agar dengan berbagai sumber kalium (K2HPO4, Feldspar Jepara,
Trakhit Barru, Leusit Pati dan Leusit Situbondo). Pengamatan pada media
aleksandrov agar berupa perhitungan diameter mikroba dan diameter zona bening yang terbentuk. Perbandingan kedua diameter tersebut merupakan rumus
perhitungan dari Indeks Pelarutan (IP). Selain itu mikroba terpilih juga diuji pada
media aleksandrov cair dengan berbagai sumber kalium untuk dilihat
kemampuannya berupa hasil Kalium Dapat Ditukar (K-dd). Hasil indeks pelarutan
dan kalium dapat ditukar dihubungkan menggunakan analisis korelasi. Mikroba
yang memiliki indeks pelarutan tertinggi dikoleksi di Laboratorium Biologi
Tanah. Analisis kalium total dan kalium dapat ditukar dilakukan menggunakan
alat AAS.
Hasil penelitian ini adalah terdapat lima belas jenis mikroba berdasarkan
titik pengambilan contoh yang diuji pada media aleksandrov agar dan cair dengan
berbagai sumber kalium. Hasil perhitungan indeks pelarutan menunjukkan bahwa
lima belas mikroba memiliki kemampuan yang searah dalam melarutkan berbagai
sumber kalium. Masing-masing dua mikroba berdasarkan daerah pengambilan contoh dengan IP tertinggi dijadikan koleksi Laboratorium, yakni mikroba A1a,
A4b, P1b, P2b, S2a dan S4b. Lima belas mikroba terpilih awal juga diuji pada
media aleksandrov cair. Media aleksandrov cair tersebut dianalisis untuk diketahui
nilai kalium dapat ditukar (K-dd). Nilai IP dan K-dd menunjukkan hubungan yang
lemah pada setiap perlakuan sumber kalium. Pada media aleksandrov cair dengan
sumber kalium Feldspar Jepara, mikroba S3b memiliki K-dd tertinggi yakni 12,25
ppm. Pada media aleksandrov cair dengan sumber kalium Feldspar Jepara,
mikroba S3b memiliki K-dd tertinggi yakni 12,25 ppm. Sedangkan pada media
aleksandrov cair dengan sumber kalium Trakhit Barru, Leusit Pati dan Leusit
Situbondo secara berturut-turut adalah mikroba P5a, A3a dan S3b, yakni 6.34 ppm, 18,17 ppm dan 4,59 ppm
- ā¦
