142 research outputs found

    ANALISIS OPTIMASI JARINGAN FTTX TEKNOLOGI GPON PADA LAYANAN TRIPLE PLAY PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA WITEL SIDOARJO

    No full text
    Layanan telekomunikasi bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat di era globalisasi ini. Beragam layanan komunikasi juga disediakan oleh provider untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin hari semakin beragam. Salah satu layanan yang semakin banyak peminatnya yaitu layanan triple play yang disediakan oleh PT. Telkom Indonesia. Triple play adalah layanan yang diberikan operator telekomunikasi bagi pelanggan rumah berupa langganan TV kabel, telepon rumah, dan akses internet. Dengan hanya menggunakan satu jaringan kabel fiber optik pelanggan sudah bisa menikmati tiga layanan sekaligus. Seiring dengan meningkatnya jumlah pelanggan layanan triple play, dengan lokasi dan jarak yang semakin beragam, seringkali terjadi gangguan pada pelanggan yang memiliki jarak yang cukup jauh dari sentral seperti yang terjadi pada pelanggan PT. Telkom Indonesia Witel Sidoarjo. Salah satu gangguan yang sering terjadi yaitu redaman yang besar pada proses transmisi sehingga menyebabkan nilai power link budget pelanggan mendekati batas minimal power link budget berdasarkan standart ITU-T dan standart yang digunakan oleh PT. Telkom Indonesia. Pada penelitian ini dilakukan analisis optimasi pada jaringan menggunakan simulasi optisystem untuk meningkatkan nilai power link budget, Bit error rate dan kualitas jaringan dengan mengganti beberapa komponen pada jaringan tersebut. Untuk tahapan penelitiannya, pertama dilakukan analisa pengukuran yang dilakukan dilapangan secara langsung. Untuk melakukan optimasi jaringan dibutuhkan pula topologi jaringan dari provider hingga end user atau pelanggan. Pada tahap kedua, dilakukan perhitungan untuk mengetahui nilai power link budget dan rise time budget pelanggan yang kemudian dibandingkan dengan standart ITU dan standart yang berlaku. Dengan membangdingkan nilai tersebut diketahui bahwa pada pelanggan dengan jarak terjauh didapatkan nilai power link budget yang mendekati batas minimal standar yang berlaku. Tahap selanjutnya yaitu dilakukan perancangan dengan optisystem sebelum dilakukan optimasi dan setelah dilakukan optimasi. Untuk optimasi yang diberikan yaitu dengan mengganti jumlah dan rasio splitter. Pada jaringan sebelum optimasi digunakan splitter dengan rasio 1:4 dan 1:8, kemudian digantikan dengan splitter 1:32 setelah optimasi. Dengan berkurangnya jumlah splitter yang digunakan maka jumlah konnektor yang digunakan juga berkurang sehingga redaman yang diberikan oleh konektor berkurang. Untuk parameter yang dibandingkan berdasarkan hasil simulasi yaitu power link budget, bit error rate, dan q factor. Dengan mengganti jumlah dan rasio splitter didapatkan nilai power link budget, dan BER yang semakin kecil serta Q Factor yang semakin besar, seperti pada pelanggan 12 didapatkan nilai power link budget yang semula sebesar -26,619 dBm meningkat menjadi -24,53 dBm, nilai BER sebelum optimasi sebesar 3.1 x 10-17 meningkat menjadi 1,4 x 10-41 serta nilai Q Factor semula 8,3 meningkat menjadi 13,44. Berdasarkan hasil perancangan optimasi yang dilakukan penulis pada software tersebut dapat disimpulkan bahwa jaringan lebih efektif ketika menggunakan satu buah splitter dengan rasio 1 :32 dibandingkan dua buah splitter dengan rasio 1 : 4 dan 1 : 8 seperti sebelumnya

    Analisis Performansi Cakupan Indoor dan Interferensi Media Server MiniDlna Perangkat WLAN IEEE 802.11 b/g/n 2.4 Ghz pada Sistem Operasi Openwrt

    No full text
    Wireless Local Area Network merupakan salah satu teknologi komunikasi yang saat ini sedang berkembang, dan di saat bersamaan dibutuhkan layanan terbaik untuk setiap layanan yang ada beserta jaminan QoS, salah satunya adalah media streaming. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perfomansi cakupan indoor dan interferensi media server minidlna pada perangkat WLAN IEEE 802.11 b/g/n 2.4 Ghz dengan sistem operasi Openwrt, disamping banyaknya faktor interferensi jaringan sekitar. Pada penelitian ini telah dilakukan pengukuran untuk melihat adanya pengaruh interferensi menggunakan dua access point interferer terhadap WLAN IEEE 802.11 b/g/n yang dinyatakan dengan thoughput, delay dan jitter. Hasil studi menunjukkan dengan adanya interferensi dua access point interferer pada jarak 1 sampai 10 meter, semua band tergolong dalam kategori buruk mengacu pada standarisasi Tiphon dengan data terbesar yaitu delay 671 ms dan jitter 298,2 ms dan penurunan throughput pada band b 50 kbps, band g 100 kbps dan band n 10 kbps per jarak 4 meter

    Analisa Nilai RSS (Received Signal Strength) dan Discovery Time terhadap Jarak dan Jumlah Beacon pada Sistem Smartkey berbasis Bluetooth Low Energy

    No full text
    Bluetooth smartkey system adalah alat yang bekerja sebagai pengganti kunci sebagai sistem keamanan pada kendaraan. Dengan memanfaatkan teknologi Bluetooth Low Energy, diharapkan alat ini dapat digunakan sebagai alternatif dari teknologi smartkey yang pada saat ini menggunakan transmisi RF dengan frekuensi yang berbeda beda. Pada penelitian, didapatkan bahwa jarak efektif dari komunikasi BLE pada kondisi LOS mencapai 8.5 Meter pada kondisi pada TX Power -21 dBm dan mencapai 103 meter dengan TX Power 1dBm. Ditemukan juga bahwa pathloss mempengaruhi jarak transmisi secara signifikan dimana pada pada kondisi Non-Line of Sight, terjadi penurunan jarak efektif yaitu 67.58% -87.64% dibandingkan dengan kondisi Line of Sight. Hal ini terjadi seiring meningkatnya nilai Pathloss Exponent yang pada mulanya 2 ketika pengujian dilakukan di ruang terbuka menjadi 3 ketika dilakukan di tempat yang terhalang dinding bangunan. Dari hasil pengujian ditemukan juga bahwa jumlah BLE Beacon yang digunakan tidak meningkatkan delay dari proses discovery time dimana dengan pengaturan advertising rate 1000ms, lama dari rata rata proses discovery tidak meningkat seiring dengan bertambanya jumlah beacon yaitu diantara 1192ms sampai dengan 1722ms. Selain kondisi dari pathloss, nilai RSSI yang terbaca oleh sistem juga dipengaruhi oleh jarak antar kedua perangkat, baik pada kondisi LOS maupun kondisi NLOS, Peningkatan nilai RSSI ini tergantung pada nilai path loss exponent yang berkaitan dengan lokasi pengujian. Pada kondisi LOS, nilai RSSI yang terbaca pada jarak 1 meter sebesar -71,82 meningkat menjadi -83.44 pada jarak 5 meter dan menjadi -94.80 pada jarak 10 Meter. Sedangkan pada kondisi NLOS, nilai RSSI yang terbaca oleh sistem yaitu 73.51 pada jarak 1 meter, menjadi -94.39 pada jarak 5 meter dan menjadi -94.67 pada jarak 10 meter

    Implementasi Sistem Telemetry Monitor Detak Jantung Dan Laju Napas Untuk Pencegahan Overtraining Saat Bersepeda Menggunakan Logika Fuzzy

    No full text
    Overtraining adalah bentuk kronis dari kelelahan patologis dalam olahraga. Keinginan yang berlebihan yaitu melebihi kapasitas fungsional otak adalah pemicu overtraining. Untuk mencegah terjadinya overtraining maka digunakan metode fuzzy untuk mengambil kesimpulan dari hasil pengukuran kondisi tubuh. Fuzzy logic adalah suatu cabang ilmu Artificial Intellegence, yaitu suatu pengetahuan yang membuat komputer dapat meniru kecerdasan manusia sehingga diharapkan komputer dapat melakukan hal-hal yang dikerjakan manusia memerlukan kecerdasan. Pada proses pembuatan proyek akhir ini penyusun menggunakan sensor detak jantung dan laju napas sebagai masukan ke Arduino yang di supply oleh daya 9 V DC, kemudian keluaran dari Aduino berupa hasil kondisi tubuh dan output fuzzy yang ditampilkan di LCD dan disimpan pada memori, kemudian dapat dimonitor dari jarak jauh dengan radio telemetry. Parameter kontrol fuzzy sensor detak jantung yaitu kategori pelan dengan batas 40 hingga 70 bpm, kategori normal dengan batas 65 hingga 105 bpm, kategori aktivitas ringan dengan batas 100 hingga 135 bpm, kategori aktivitas berat dengan batas 130 hingga 170 bpm, kategori anaerob dengan batas >165 bpm. Parameter kontrol fuzzy sensor laju napas yaitu kategori lambat dengan batas <17 bpm, kategori normal dengan batas 13 hingga 20 bpm, kategori cepat dengan batas >17 bpm. Kontrol output fuzzy yaitu berhenti dengan nilai 0 sampai 25 dan lanjut dengan nilai 25 sampai 50. Pengujian sensor nilai error terbesar yaitu 5,95 % pada detak jantung dan 8 % pada laju napas. Sedangkan nilai error terkecil yaitu 1,06 % pada detak jantung dan 0 % pada laju napas. Jarak maksimum pengiriman data menggunakan radio tanpa penghalang sejauh 140 meter dan dengan penghalang sejauh 96 meter. Hasil pengujian data secara keseluruhan memiliki hasil yang sesuai dimana nilai yang ditampilkan pada alat dan rule base sesuai

    PERANCANGAN DAN REALISASI ANTENA MIKROSTRIP 700 MHZ MODEL PATCH CIRCULAR DENGAN METODE LINEAR ARRAY SEBAGAI PENERIMA TV DIGITAL

    No full text
    Teknologi digital pada media broadcastsalah satunya adalah televisi (TV), memiliki keunggulan salah satunya adalah tahan terhadap noise. Antena adalah salah satu komponen terpenting dari telekomunikasi digital. Berbagai macam antena telah banyak dikembangkan untuk beragam aplikasi, salah satunya adalah antena Mikrostrip. Pada penelitian ini dibuat antena Mikrostrip dengan metode linear array dengan 2 elemen patch berbentuk circularyang nantinya akan menggunakan kanal frekuensi 700 MHz. Tujuannya adalah sebagai penerima sinyal dari siaran televisi digital di daerah Jember dan Malang. Dari hasil penelitian didapatkan karakteristik dari antena yang dibuat memiliki besar return loss -23,1962 dB, VSWR 1,1487 dB, gain 2,8732 dBm dan bandwidth 17,5 MHz. Dengan karakteristik tersebut, antena mikrostrip dapat bekerja dengan baik pada frekuensi 692 – 710 MHz

    Analisis Perencanaan Jaringan Lte-Advanced Dengan Metode Carrier Aggregation Dan Penambahan Fitur Frequency Reuse DI Wilayah Urban Kota Surabaya

    No full text
    Teknologi LTE-Advanced diperkenalkan oleh 3GPP dengan realese 10 dan 11, LTE-Advanced sebagai evolusi dari LTE diharapkan memberikan kecepatan data rate yang lebih tinggi dan diharapkan memberikan efisiensi spektrum. Salah satu metode untuk perencanaan LTE-Advanced adalah Carrier Agregation. Metode Carrier Aggregation diharapkan dapat mengoptimalkan performa jaringan LTE di Indonesia dengan menggunakan frekuensi 1800 MHz dan 900 MHz. Dalam perencanaan jaringan interferensi pada teknologi LTE tidak bisa dihindari, interferensi yang paling mendominasi adalah co-channel interference. sehingga dibutuhkan teknik manajemen interferensi yaitu fitur frequency reuse. Pada tugas akhir ini akan membahas tentang perencanaan LTE- Advanced dengan menggunakan metode carrier aggregation dan penambahan fitur frequency reuse dengan pendekatan planning by capacity dan planning by coverage pada frekuensi Primary cell 1800 MHz mode FDD dengan bandwidth 20 MHz dan frekuensi Secondary Cell 900 MHz mode FDD dengan bandwidth 10 MHz di wilayah urban Kota Surabaya, dengan memperhatikan beberapa parameter yaitu, Signal Level, CINR, dan Throughput

    Rancang Bangun Dan Implementasi Antena Mikrostrip Meanderline Dengan Metode Line Feed Pada Sistem Monitoring Ph Air

    No full text
    Antena merupakan sarana untuk memancarkan atau menerima gelombang elektromagnetik yang terdapat sinyal informasi didalamnya. Antena mikrostrip merupakan salah satu antena low profile yang dapat diintegrasikan pada bidang garis yang dicetak dengan jaringan dan alat aktif. Kinerja antena mikrostrip Meanderline dapat bekerja pada sistem monitoring pH air dengan mengetahui frekuensi kerja dari RF APC220 yaitu pada frekuensi 418-455 MHz. Perancangan antena mikrostrip meanderline terbaik berupa simulasi diperoleh frekuensi kerja pada 434 Mhz dengan nilai parameter VSWR sebesar 1.2281, return loss sebesar -19.7979 dB, dan bandwidth sebesar 6.996 Mhz, sedangkan pada antena fabrikasi memiliki nilai optimum yang bekerja pada frekuensi 423 Mhz dengan parameter VSWR sebesar 1.08, return loss -28.50 dB, dan bandwidth sebesar 19.92 Mhz. Acuan terbaik antena mikrostrip memiliki jarak kerja optimal pada 460 meter, dan saat menggunakan antena perancangan yang berupa antena mikrostrip meanderline mencapai jarak optimal 500 meter. Pengukuran jarak transmisi data dari sistem monitoring pada kondisi NLOS dengan menggunakan antena default yang berupa antena monopole memiliki jarak kerja optimal pada 180 meter, dan saat menggunakan antena perancangan yang berupa antena mikrostrip meanderline mencapai jarak optimal 240 mete

    Analisis Kinerja Routing Protocol Optimized Link State Routing (OLSR) dan Ad Hoc On Demand Distance Vektor (AODV) Pada Vehicular Ad Hoc Network (VANET)

    No full text
    Vehicular Ad Hoc Network (VANET) merupakan salah satu sarana pengembangan teknologi komunikasi nirkabel antar kendaraan yang memungkinkan terjadinya pertukaran data dan pengambilan keputusan secara cepat dan efisien. Proses berkendaraan yang tidak aman didarat cenderung meningkatkan resiko kecelakaan, untuk itu teknologi VANET dikembangkan dengan tujuan dapat memperkecil resiko kecelakaan sehingga meningkatkan kenyamanan berkendara. Pada tugas akhir ini, akan dilakukan penelitian akan dilakukan dengan menggunakan software simulasi jaringan NS-2 dengan 2 buah routing protocol yaitu routing protocol proactive Optimized Link State Routing (OLSR) dan routing protocol reactive Ad Hoc On-demand Distance Vector (AODV). Melalui kedua routing protocol di atas akan dilakukan perrbandingan performansi menggunakan parameter Quality of Service (QoS) dengan sekenario perubahan jumlah dan kecepatan node. Setelah dilakukan penelitian terlihat bahwa routing protokol OLSR yang tetap memiliki hasil packet delivery ratio yang besar daripada routing protokol AODV. Karena nilai packet delivery rationya yaitu 99,33%; 99,41%; dan 99,11%. Hal ini dikarenakan paket yang diterima pada routing protokol OLSR lebih besar daripada routing yang lainnya. Serta nilai packet delivery ratio OLSR selalu stabil. Routing protokol OLSR juga tetap memiliki hasil deley yang stabil daripada routing protokol AODV. Karena nilai delay yang diperoleh yaitu 1,174292 s; 1, 174292 s dan 1.187146 s. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari hasil simulasi pada penelitian ini routing protokol OLSR memiliki kinerja yang lebih baik dalam pengiriman data

    ANALISIS POTENSI PEMBANGUNAN BTS VSAT PT. INDOSAT SALES AREA JEMBER DI PERKEBUNAN BLAWAN MENGGUNAKAN MODEL PROPAGASI TWO RAY GROUND

    No full text
    Pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi membuat operator-operator seluler di Indonesia saling berlomba untuk terus meningkatkan pelayanannya. Salah satunya dengan cara melalui pembangunan jaringan baru di daerah yang belum terjangkau oleh jaringan layanan telekomunikasi, contohnya seperti studi kasus pada PT. Indosat Sales Area Jember yang akan melakukan pembangunan BTS VSAT di perkebunan Blawan, Kabupaten Bondowoso menggunakan model propagasi two ray ground. Dari hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa kualitas sistem komunikasi VSAT ditentukan melalui analisa perhitungan link budget yang dihasilkan, yaitu meliputi bandwidth sebesar , gain GDMG sebesar 45,89 dB dan GBLW sebesar 41,95 dB, EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) sebesar 58,9 dBW, Redaman Ruang Bebas (Path Loss LFS) arah uplink sebesar LFS= 199,411 dB serta arah downlink sebesar LFS = 195,39 dB. Beda fase paling besar yaitu 7129,309º yang terletak pada arah 22º jarak 3,8 Km, dengan level daya terima sebesar -26 dBm. Serta level daya yang paling banyak diterima yaitu antara -20 dBm s.d -40 dBm dengan presentase penerimaan pada level ini sebesar 62,5 %

    ANALISIS SISTEM PENGENALAN DAN KEAMANAN KRIPTOGRAFI HILL CIPHER PADA PLAT NOMOR KENDARAAN MENGGUNAKAN METODE TEMPLATE MATCHING

    No full text
    Kemajuan teknologi berkaitan erat dengan efisiensi manusia dalam melakukan pekerjaannya, salah satunya adalah pada sistem perparkiran. Semakin tinggi frekuensi kendaraan yang keluar masuk suatu tempat parkir akan memungkinkan komputer untuk menggantikan peran manusia dalam melakukan pencatatan plat nomor kendaraan. Pada penelitian ini akan dibuat suatu sistem yang dapat mengenali plat nomor dan memiliki sistem keamanan terhadap data plat nomor itu sendiri. Sistem pengenalan plat nomor pada penelitian ini menggunakan metode template matching. Pengambilan data dilakukan pada saat siang dan malam hari. Pada pengambilan data siang hari, dari 10 citra uji terdapat 9 citra yang teridentifikasi dengan benar (akurasi 90%). Sedangkan pada malam hari, dari 10 citra uji terdapat 8 citra yang teridentifikasi dengan benar (akurasi 80%). Sehingga, total akurasi sistem dalam melakukan proses identifikasi adalah sebesar 85%. Pada uji sudut 0⁰ dan -15⁰ diperoleh nilai akurasi sebesar 16,7% dan 6,7%, sedangkan pada sudut lainnya tidak dapat teridentifikasi dengan benar. Pada uji jarak 1m diperoleh nilai akurasi sebesar 12,7%, sedangkan pada uji jarak lainnya tidak ada yang teridentifikasi dengan benar. Pada proses keamanan data, citra yang telah teridentifikasi (dalam hal ini sebagai plaintext) akan dienkripsi menggunakan algoritma kriptografi hill cipher. Dari 20 data plaintext, terdapat 20 data yang terenkripsi dengan benar, dengan kata lain akurasi algoritma kriptografi hill cipher pada sistem adalah 100%
    corecore