1,720,991 research outputs found
Kesepakatan KTT ASEAN 2023 Dalam Bidang Transformasi Teknologi Fintech Dalam Dukungan Pencapaian ASEAN Connectivity 2025
Penelitian ini membahas tentang kesepakatan yang dicapai dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-43 di Indonesia pada tahun 2023. Fokus pada transformasi teknologi fintech, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kesepakatan tersebut dapat membantu mencapai tujuan ASEAN Connectivity 2025 dalam sektor digital innovation. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kesepakatan terkait isu digitalisasi dalam teknologi fintech dapat meningkatkan kemampuan infrastruktur, inovasi, dan logistik di ASEAN, serta meningkatkan kemampuan negara-negara anggota ASEAN dalam bersaing secara inklusif dan mempererat hubungan antarnegara. Kesepakatan tersebut memiliki peranan penting untuk memperkuat ketahanan keuangan di setiap negara. Salah satunya dengan mendorong penggunaan mata uang lokal agar dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung investasi lintas batas di kawasan ASEAN dan juga perdagangan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian secara kualitatif untuk mendeskripsikan fenomena secara lebih mendalam dan menyeluruh.This research discusses the agreement reached at the 43rd ASEAN Summit in Indonesia in 2023. Focusing on fintech transformation, this research explores how the agreement can help achieve the ASEAN Connectivity 2025 goal in the digital innovation sector. The purpose of this study is to analyze how the agreement on digitalization issues in fintech technology can improve infrastructure, innovation, and logistics capabilities in ASEAN, as well as enhance ASEAN member states' ability to compete inclusively and strengthen relations between countries. The agreement has an important role to play in strengthening financial resilience in each country. One of them is by encouraging the use of local currencies so that it can be one of the factors that penalize cross-border investment in the ASEAN region and also trade. In this research, the author used a qualitative research method to describe the phenomenon more deeply and comprehensively
Analisis ECFA terhadap Hubungan Lintas Selat Taiwan dan China terkait Perdagangan Lintas Batas dalam Pemerintahan Presiden Tsai Ing-wen
ABSTRAK
Taiwan dan China merupakan kedua negara yang memiliki sejarah panjang terkait ideologi, pemerintahan, dan wilayah. Kedua negara berseteru sejak tahun 1920 antara partai CCP dengan Kuomintang sampai akhirnya pemerintahan ROC pindah ke pulau Taiwan dan hubungan pada lintas selat secara politik tidak pernah akur. Disisi lain perdagangan kedua negara justru sangat akur, terutama setelah dibentuknya perjanjian dagang ECFA pada tahun 2010 yang mempermudah birokrasi perdagangan ekspor dan impor. Melalui teori ekspektasi perdagangan, penelitian ini menganalisis adanya hubungan “peaceful trade” pada kedua negara melalui perdagangan dan investasi. China memiliki ketergantungan dagang pada Taiwan dalam komoditas sirkuit terpadu dikarenakan Taiwan mampu memproduksi sirkuit terpadu dengan kualitas baik. Berdasarkan teori ketergantungan hubungan dagang menciptakan kondisi “peaceful trade” bagi hubungan lintas selat dalam kondisi politik yang tidak stabil. Metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini mengambil data dari Kementerian Keuangan Taiwan bahwa sirkuit terpadu juga dibutuhkan banyak negara sehingga Taiwan mampu menguasai 60% pasar global. Taiwan juga memiliki ketergantungan pada China dalam FDI, nilai FDI Taiwan ke China tahun 2021 jauh lebih tinggi 46 kali lipat dari pada perdagangan ekspor sirkuit terpadu ke China pada tahun 2021. Sehingga disimpulan bergantungnya perekonomian kedua negara sampai saat ini menciptakan kondisi dalam pada hubungan lintas selat.
ABSTRACT
Taiwan and China are two countries that have a long history of ideology, government and territory. The two countries had been in conflict since 1920 between the CCP and Kuomintang parties until the ROC government finally moved to the island of Taiwan and relations across the straits politically never got along. On the other hand, trade between two countries actually got along very well, especially after the formation of the ECFA trade agreement in 2010 which simplified the bureaucracy of export and import trade. Through the theory of trade expectations, this study analyzes the existence of a "peaceful trade" relationship between two countries through trade and investment. China has trade dependence on Taiwan in integrated circuit commodities because Taiwan is capable of producing good quality integrated circuits. Based on the theory of dependence, trade relations create conditions for "peaceful trade" for cross-strait relations in unstable political conditions. The qualitative method used in this research retrieves data from Taiwan's Ministry of Finance that integrated circuits are also needed by many countries so that Taiwan is able to control 60% of the global market. Taiwan also dependent on China in FDI, the value of Taiwan's FDI to China in 2021 is 46 times higher than the integrated circuit export trade to China in 2021. So it can be concluded that the economic dependence of the two countries has so far created conditions in cross-border strait relation
Tantangan dan Peluang Indonesia dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) untuk Menghadapi Ketahanan Pangan Pasca Pandemi Covid-19
Stabilitas pangan ASEAN termasuk Indonesia, menghadapi tantangan setelah pandemi COVID-19 yang mempengaruhi rantai pasokan global dan ekonomi. Ketergantungan pada impor pangan, perubahan iklim, dan infrastruktur pertanian yang terbatas menjadi isu utama. Kesenjangan akses terhadap pangan dan perlunya reformasi kebijakan menyoroti pentingnya kerjasama regional di ASEAN. Investasi dalam teknologi pertanian, diversifikasi sumber pangan, dan peningkatan kapasitas petani krusial untuk memperkuat ketahanan pangan di masa depan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi tantangan dan peluang Indonesia dalam konteks ASEAN pasca pandemi. Melalui kerjasama ASEAN dalam ASEAN Integrated Food Security (AIFS) dan Strategic Plan of Action on Food Security (SPA-FS) 2021-2025 dapat mendorong peningkatan produksi pangan domestik, diversifikasi sumber pangan, stabilisasi harga, dan perbaikan distribusi. Dengan demikian, kerjasama ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan di ASEAN tetapi juga memberikan manfaat signifikan bagi Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan petani, ketersediaan pangan yang berkelanjutan, dan daya saing global.The food stability of ASEAN, including Indonesia, is facing challenges in the wake of the COVID-19 pandemic, which has affected global supply chains and the economy. Dependence on food imports, climate change, and limited agricultural infrastructure are key issues. Gaps in access to food and the need for policy reforms highlight the importance of regional cooperation in ASEAN. Investment in agricultural technology, diversification of food sources, and capacity building of farmers are crucial to strengthen food security in the future. This research uses a descriptive qualitative approach to explore Indonesia's challenges and opportunities in the post-pandemic ASEAN context. Through ASEAN cooperation in ASEAN Integrated Food Security (AIFS) and the Strategic Plan of Action on Food Security (SPA-FS) 2021-2025, it can encourage increased domestic food production, diversification of food sources, price stabilization, and improved distribution. Thus, this cooperation not only strengthens food security in ASEAN but also provides significant benefits for Indonesia in improving farmers' welfare, sustainable food availability, and global competitiveness
Analisis Pencapaian Pendidikan yang Berkualitas sesuai SDGs GOAL 4 pada Mahasiswa UKSW dalam Konteks Pandemi COVID-19
This research aims to analyze the achievement of quality education in accordance with SDGs Goal 4 (Quality education) among Satya Wacana Christian University (UKSW) students in the context of the COVID-19 pandemic. The author wants to provide new understanding to related parties about how SDGs Goal 4 can be achieved in accordance with the targeted vision. The research method used is descriptive qualitative with data collection techniques in the form of interviews with students. In explaining the observed phenomenon, this research refers to the theories of SDGs Goal 4 and Human Security. The research findings show that UKSW has been trying effectively in achieving quality education amid the COVID-19 pandemic. Despite facing challenges in access and changes in learning methods, UKSW students continue to optimize the learning process. Student well-being is also recognized as an important factor in achieving quality education. Adequate psychological support and guidance is needed to maintain students' emotional and mental balance. The COVID-19 pandemic has also encouraged innovation and collaboration among UKSW students, with the development of adaptation skills, use of technology, and virtual work capabilities. Overall, the process of achieving SDGs Goal 4 during the COVID-19 pandemic has been a test for UKSW students. However, through persistent efforts, UKSW students have overcome various challenges and optimized the learning process. It is important for relevant parties to continue to provide adequate support so that the vision of SDGs Goal 4 can be achieved successfully in this pandemic situation.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pencapaian pendidikan yang berkualitas sesuai dengan SDGs Goal 4 (Pendidikan yang berkualitas) di kalangan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam konteks pandemi COVID-19. Penulis hendak memberikan pemahaman baru kepada pihak terkait tentang bagaimana SDGs Goal 4 dapat dicapai sesuai dengan visi yang ditargetkan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara kepada mahasiswa. Dalam menjelaskan fenomena yang diamati, penelitian ini mengacu pada teori SDGs Goal 4 dan Human Security. Temuan penelitian menunjukkan bahwa UKSW telah berusaha secara efektif dalam mencapai pendidikan yang berkualitas di tengah pandemi COVID-19. Meskipun menghadapi tantangan dalam akses dan perubahan metode pembelajaran, mahasiswa UKSW tetap berupaya mengoptimalkan proses pembelajaran. Kesejahteraan mahasiswa juga diakui sebagai faktor penting dalam mencapai pendidikan yang berkualitas. Dukungan dan bimbingan psikologis yang memadai diperlukan untuk menjaga keseimbangan emosional dan mental mahasiswa. Pandemi COVID-19 juga telah mendorong inovasi dan kolaborasi di kalangan mahasiswa UKSW, dengan pengembangan keterampilan adaptasi, penggunaan teknologi, dan kemampuan kerja virtual. Secara keseluruhan, proses pencapaian SDGs Goal 4 di masa pandemi COVID-19 menjadi ujian bagi mahasiswa UKSW. Namun, melalui upaya yang gigih, mahasiswa UKSW telah mengatasi berbagai tantangan dan mengoptimalkan proses pembelajaran. Penting bagi pihak terkait untuk terus memberikan dukungan yang memadai agar visi SDGs Goal 4 dapat tercapai dengan sukses dalam situasi pandemi ini
Urgensi Revisi Regulasi Terkait Aktivitas Lintas Batas di Perbatasan Indonesia-Filipina
Isu perbatasan saat ini menjadi isu yang sangat krusial bagi NKRI setelah sering terjadinya sengketa perbatasan, masalah politik sosial dan ekonomi, serta pelanggaran hukum terkait penyeberangan lintas batas. Tak terkecuali bagi perbatasan Indonesia-Filipina yang terletak di bagian paling utara Sulawesi, dimana masyarakat kedua pihak memiliki ikatan genealogis dan historis yang kuat sehingga wilayah ini memiliki borderscapes yang unik. Permasalahan yang ada di daerah perbatasan ini telah coba dijawab menggunakan regulasi yang dicetuskan kesepakatan kedua negara di tahun 1975 melalui Border Crossing Agreement dan Border Trade Agreement, namun perlu diakui regulasi-regulasi ini sudah tak relevan lagi empat dekade kemudian yang berpengaruh terhadap stabilitas dan kesejahteraan di wilayah perbatasan ini. Penelitian ini membahas urgensi pentingnya dilakukan revisi terhadap regulasi yang mengatur terkait aktivitas lintas batas di kawasan perbatasan Indonesia-Filipina dengan menggunakan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data wawancara dan studi literatur, serta penyajian data deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat urgensi dilakukannya revisi terhadap regulasi yang mengatur terkait aktivitas lintas batas di kawasan perbatasan Indonesia-Filipina untuk meminimalisir tindakan illegal dan lebih mengarahkan konektivitas penduduk dan perdagangan daerah perbatasan agar penduduk kedua negara dapat merasakan dampak sosial, ekonomi, dan politik yang setara dan berkeadilan.The border issue is currently a very crucial issue for the Republic of Indonesia after frequent border disputes, political social and economic problems, as well as legal violations related to cross-border crossings. This is no exception for the Indonesia-Philippine border which is located in the northernmost part of Sulawesi, where the people of both parties have strong genealogical and historical ties so that this region has unique borderscapes. The problems in border areas have been tried to be answered using regulations initiated by an agreement between the two countries in 1975 through the Border Crossing Agreement and Border Trade Agreement, but it needs to be acknowledged that these regulations are no longer relevant four decades later and have an impact on stability and prosperity in this border region. This research discusses the urgency of revising the regulations governing cross-border activities in the Indonesia-Philippines border area using a qualitative approach, interview data collection techniques and literature studies, as well as presenting analytical descriptive data. The results of the research show that there is an urgency to revise the regulations governing cross-border activities in the Indonesia-Philippines border area to minimize illegal acts and better direct population connectivity and trade in border areas so that residents of both countries can experience equal social, economic and political impacts. and fair
Peran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam Perlindungan dan Kesejahteraan Wanita eks Tuna Susila ( Sebagai Perwujudan SDGs ke-5 Mengenai Kesetaraan Gender)
Dalam Ilmu Hubungan Internasional, gender dan kesetaraan gender
merupakan sebuah permasalahan kompleks yang masih menjadi sebuah isu
global yang belum terpecahkan. Perlindungan dan kesejahteraan merupakan
salah satu aspek utama dalam kesetaraan gender. Kesejahteraan sosial
adalah salah satu aspek tujuan dari program pembangunan nasional yang
mana merupakan kondisi terpenuhinya kehidupan yang layak bagi
masyarakat sehingga pemerintah dapat melakukan fungsi sosialnya, meliputi
jaminan sosial, pemerdayaan sosial, rehabilitasi sosial dan perlindungan
sosial. Wanita Tuna Susila merupakan kelompok rentan dalam masyarakat
yang perlu dilindungi dan tidak dipandang sebelah mata. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui peran pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang
dilaksanakan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan
teori Hak Asasi Manusia dengan menggunakan metode kualitatif yang
berfokus pada interpretasi dan pemahaman tentang fenomena sosial yang
terjadi. Jurnal ini menunjukkan bahwa peran Dinas Sosial Provinsi Jawa
Tengah dan membawahi Panti Pelayanan Wanita Sosial “Wanodyatama”
telah melakukan sebuah implementasi dari program program kesejahteraan
dan pelayanan terhadap perempuan eks tuna susila dengan berbagai progam
yang telah berjalan beberapa tahun yang meliputi pemenuhan fasilitas dan
pelayanan mental fisik dan spiritual, penyaluran dan bimbinga
Diplomasi Kuasi Mediasi Tiongkok dalam Menjembatani Penyelesaian Konflik Tigray dan Pemerintah Ethiopia Tahun 2020-2022
Konflik Tigray dan Pemerintah Ethiopia tahun 2020-2022 secara garis besar dilatar belakangi oleh ketidakpuasaan terhadap kebijakan Perdana Menteri Abiy Ahmed. TPLF sebagai partai perwakilan Etnis Tigray melakukan serangan kepada pemerintah hingga memperoleh serangan balik yang semakin memperpanjang situasi konflik. Konflik tersebut kemudian memicu perhatian dunia internasional termasuk Tiongkok. Tiongkok memainkan peran dalam menjembatani penyelesaian konflik secara tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas terkait upaya-upaya yang dilakukan oleh Tiongkok dalam membantu menjembatani penyelesaian konflik. Metode yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian menghasilkan bahwa Tiongkok secara penuh menggunakan strategi diplomasi kuasi mediasi dalam upaya penyelesaian konflik. Upaya Tiongkok tersebut tercermin melalui identitas personal serta hasil interaksi yang terjalin. Tiongkokmendorong prinsip non intervensi dan penyelesaian secara regional bahkan memberikan bantuan kemanusiaan serta pembangunan berkelanjutan. Tiongkok tidak terlibat secara langsung untuk menjaga kepentingan nasional baik secara material maupun sosial berupa relasi dan norma yang berlaku.The Tigray conflict and the Ethiopian Government in 2020-2022 were mainly motivated by dissatisfaction with the policies of Prime Minister Abiy Ahmed. TPLF as a representative party of the Tigray ethnic group attacked the government until it received a counterattack that further prolonged the conflict situation. The conflict then sparked international attention, including China. China played a role in bridging the conflict resolution indirectly. This study aims to review the efforts made by China in helping to bridge the conflict resolution. The method used uses a descriptive qualitative approach. The study found that China fully used a quasi-mediation diplomacy strategy in an effort to resolve the conflict. China's efforts are reflected through personal identity and the results of the interactions that were established. China promotes the principle of non-intervention and regional resolution, even providing humanitarian assistance and sustainable development. China is not directly involved in maintaining national interests, both materially and socially, in the form of applicable relations and norms
Upaya Provinsi Papua dalam Mengatasi Narcotics Trafficking di Wilayah Perbatasan Republik Indonesiapapua New Guinea Tahun 2018-2021 (Studi Kasus: Kampung Skofro)
Skripsi ini membahas tentang upaya Provinsi Papua dalam mengatasi narcotics trafficking di wilayah perbatasan Republik Indonesia-Papua New Guinea Tahun 2018-2021 studi kasus : kampung Skofro. Penelitian ini menggunakam menggunakan Teori Sekuritisasi, Konsep Keamanan Nasional dan Konsep Kejahatan Transnasional. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data menggunakan kualitatif serta menggunakan jenis penelitian deskriptif, dengan menggunakan studi literatur yang bisa didapat dari berbagai sumber seperti wawancara, buku, artikel, jurnal dokumen publikasi pemerintah, surat kabar, situs resmi hingga lembaga. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat beberapa upaya yang dilakukan oleh Provinsi Papua diantaranya pembangunan Pos Terpadu Custom, Immigration, Quarantine, Security (CIQS), kerjasama dengan kepala kampung dalam proses pengamanan, sosialisasi kepada warga kampung, dan menjalin hubungan kerja sama dengan negara Papua New Guinea namun terdapat beberapa tantangan antara lain kurangnya respon dari Pemerintah Papua New Guinea terkait pembangunan Pos Lintas Batas (PLB), banyaknya jalan setapak/jalan tikus, kurangnya pengawasan di pintu masuk kawasan perbatasan, dan masih banyak gerakan separatis yang masih aktif di wilayah perbatasanThis thesis discusses the efforts of the Papuan Provincial Government in overcoming narcotics trafficking in the border region of the Republic of Indonesia-Papua New Guinea in 2018-2021 case study: Skofro village. This study uses the Securitization Theory, the concept of National Security and the concept of Transnational Crime. In this study, the data collection technique used qualitative and descriptive research, using literature studies that could be obtained from various sources such as interviews, books, articles, government publications, newspapers, official websites and institutions. The results of this study are that there are several efforts made by the Papuan Provincial Government including the construction of the Custom Integrated Post, Immigration, Quarantine, Security (CIQS), cooperation with village heads in the security process, socialization to villagers, and establishing cooperative relations with the Papuan state. New Guinea, but there are several challenges, including the lack of response from the Government of Papua New Guinea regarding the construction of the Transboundary Post (PLB), the number of footpaths/rat trails, the lack of supervision at the entrance to the border area, and there are still many separatist movements that are still active in the border areas
Strategi Indonesia Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Ditengah Masuknya Korean Wave Tahun 2017-2020
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi masuknya Korean Wave ke Indonesia dalam bidang industri kreatif dan hubungan bilateral antara Indonesia dengan Korea Selatan. Sehingga peneliti mencoba untuk menganalisis strategi yang harus dilakukan Indonesia dalam memanfaatkan peluang hadirnya Korean Wave sebagai sebuah inovasi baru. Hubungan bilateral Indonesia dengan Korea Selatan begitu erat, sehingga juga menjadi sebuah kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif nya dan di perkenalkan di Korea Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan analisis deskriptif. Sebagian besar data yang dikumpulkan berasal dari hasil literatur yang didukung oleh studi pustaka dan data dari website. Teori yang digunakan yakni Neoliberalisme dengan konsep hubungan kerja sama bilateral dan ekonomi kreatif. Hasil penelitian menunjukkan diplomasi yang dilakukan oleh badan ekonomi kreatif Indonesia dengan berbagai pihak baik dalam negeri maupun luar negeri mampu memperkenalkan karya produksi Indonesia di Korea Selatan. Peneliti menemukan strategi Bekraf, dengan melakukan perluasan pasar baik dalam lingkungan domestik maupun luar negeri, melakukan pendekatan dan kerja sama dengan lembaga pemerintah dan non-pemerintah, melakukan pelatihan, dan melakukan program hubungan kerja sama Indonesia-Korea Selatan pada event yang diselenggarakan.This research aims to determine the implications of the entry of the Korean Wave into Indonesia in the field of creative industries and bilateral relations between Indonesia and South Korea. So researchers try to analyze the strategies that Indonesia must carry out to take advantage of the opportunity of the presence of the Korean Wave as an innovation. Indonesia's bilateral relations with South Korea are so close, that it is also an opportunity for Indonesia to develop its creative economy and introduce it to South Korea. The research method used in this research is qualitative with descriptive analysis. Most of the data collected comes from literature supported by heritage studies and data from websites. The theory used is Neoliberalism with the concept of
bilateral cooperative relations and the creative economy. The research results show that the diplomacy carried out by the Indonesian creative economy agency with various parties, both domestic and foreign, was able to introduce Indonesian production works in South Korea. Researchers discovered Bekraf's strategy, by expanding the market both domestically and overseas, approaching and collaborating with government and non-government institutions, conducting training, and carrying out Indonesia-South Korea cooperative relations programs at events held
KERJASAMA INDONESIA-JERMAN DALAM PELESTARIAN KAWASAN TAMAN NASIONAL LORE LINDU MELALUI FOREST PROGRAMME III SULAWESI TAHUN 2018-2022
ABSTRACT
Deforestation and degradation of natural resources are the main problems in the management of the Lore Lindu National Park area. Social and economic activities carried out around the area can threaten the sustainability of the Lore Lindu National Park area (TNLL). natural. With the collaboration between Indonesia and Germany through the presence of Sulawesi's forest program III, it can contribute to forest conservation and rehabilitation to reduce emissions and improve the livelihoods of communities around the National Park area. The research method used in this study is a qualitative method and in this writing, the author will describe how the collaboration between Indonesia and Germany in the Preservation of the Lore Lindu National Park Area through the Sulawesi Forest Program III, Cooperation between Indonesia and Germany in the environmental field through the Sulawesi Forest Program III has making a significant contribution to the preservation of the TNLL area. This collaboration has produced a positive impact which can be seen from the marketing market which is achieved through the intervention activities carried out. Overall the collaboration between Germany through FP III Sulawesi has succeeded in strengthening efforts to conserve and manage the area.
Keywords: Sulawesi Forest Programme III, Indonesian-German Cooperation, Area Conservation, Lore Lindu National Park (TNLL)ABSTRAK
Deforestasi dan degradasi sumber daya alam menjadi permasalahan pokok dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Aktivitas sosial dan ekonomi yang dilakukan di sekitar kawasan dapat mengancamcam kelestarian kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti pangan, pemukiman, dan penyediaan lapangan kerja, masyarakat sekitar kawasan sebagian melakukan pencurian dan mengeksploitasi sumber daya alam. Dengan adanya kerjasama antara Indonesia dan Jerman melalui kehadiran forest programme III Sulawesi dapat memberikan kontribusi terhadap konservasi hutan dan rehabilitasi untuk mengurangi emisi dan memperbaiki penghidupan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan dalam Penulisan ini, penulis akan mendeskripsikan bagaimana kerjasama Indonesia dan Jerman dalam Pelestarian Kawasan Taman Nasional Lore Lindu melalui Forest Programme III Sulawesi, Kerjasama antara Indonesia dan Jerman dalam bidang lingkungan melalui Forest Programme III Sulawesi telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pelestarian kawasan TNLL kerjasama ini telah menghasilkan dampak positif yang dapat dilihat dari indikator keberhasilan yang di capai melalui intervensi kegiatan yang dilakukan. Secara keseluruhan kerjasama antara Jerman melalui FP III Sulawesi berhasil memperkuat upaya pelestarian dan pengelolaan kawasan.
Kata kunci: Forest Programme III Sulawesi, Kerjasama Indonesia-Jerman, Pelestarian Kawasan, Taman Nasional Lore Lindu (TNLL
- …
