3 research outputs found
Efektivitas pelatihan metode online learning dan blended learning dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Cardiopulmonary Resusitation (CPR) pada mahasiswa keperawatan di Universitas Brawijaya Malang
Henti jantung merupakan gangguan fungsi jantung secara mendadak tanpa adanya tanda-tanda awal dengan tanpa adanya nadi karotis, tanpa adanya pernafasan juga terjadinya penurunan kesadaran. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah bagian dari Basic Life Support (BLS) yang merupakan suatu rangkaian tindakan untuk perawatan pada pasien di dalam kasus henti jantung. Dengan tingginya angka henti jantung mahasiswa keperawatan perlu pendidikan dan keterampilan, maka sangat perlu pelatihan khusus seperti Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).
Pengetahuan perawat di dalam penatalaksanaan pada pasien gawat darurat begitu penting dan harus dikuasai jika tidak menguasai ilmunya maka akan sulit seorang perawat memberikan penanganan yang cepat dan akurat. Pelatihan merupakan pendidikan singkat sebagai tambahan dalam meningkatkan kinerja pegawai di rumah sakit untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran online learning maupun blended learning merupakan pembelajaran yang mau tidak mau harus dijalankan untuk mensukseskan era millennial dengan beralih ke system technology. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas pelatihan metode online learning dan metode blended learning dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Cardiopulmonary Resusitation (CPR) pada mahasiswa keperawatan.
Metode yang digunakan yaitu metode quasi-experiment design dimana metode dengan menggunakan pretest - posttest design. Lokasi penelitian di Kampus 2 Universitas Brawijaya Malang. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 40 mahasiswa, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini dengan teknik random sampling yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok A (Online) dan B (Blended). Tehnik pengambilan data melalui kuesioner.
Hasil analisa data diperoleh karakteristik responden berdasarkan umur responden pada Kelompok A paling dominan berusia 21 tahun sejumlah 15 orang (75.0%), dan pada Kelompok B paling dominan berusia 21 tahun sejumlah 12 orang (60.0%), Berdasarkan jenis kelamin pada kelompok A semua perempuan berjumlah 20 orang (100.0%), sedangkan pada kelompok B paling dominan perempuan sejumlah 19 orang (95.0%). Kemudian sumber informasi tentang BLS pada kelompok A paling dominan mendapatkan dari pengajar dan tenaga Kesehatan yaitu 10 orang (50.0%), sedangkan kelompok B paling banyak melalui pengajar sejumlah 11 orang (55.0%). Berdasarkan Analisa data menggunakan uji t berpasangan pada variabel pengetahuan kelompok A nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok A sebelum dan sesudah diberikan pelatihan online learning. variabel keterampilan kelompok A nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok A sebelum dan sesudah diberikan pelatihan online learning. variabel pengetahuan kelompok B nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok B sebelum dan sesudah diberikan pelatihan blended learning. variabel keterampilan kelompok B nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok B sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan blended learning. Berdasarkan Analisa data menggunakan uji MANOVA untuk membandingkan antara kelompok A (Online Learning) dan kelompok B (Blended Learning) pada variabel yang diteliti secara simultan. Dari tabel tersebut didapatkan p-value yang lebih besar dari α 5% (0.228 > 0.050) meyatakan bahwa secara simultan/serempak terdapat perbedaan yang tidak signifikan antara 2 kelompok pada peningkatan angka pengetahuan dan keterampilan. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak signifikannya hasil yang ditemukan dikarenakan sampel yang digunakan dalam penelitian ini keseluruhan mahasiswa keperawatan S1 reguler semester 7 yang mendapatkan nilai A pada mata kuliah keperawatan gawat darurat sehingga mahasiswa tersebut sudah mendapatkan pembekalan sebelumnya tentang CPR dan menyebabkan perbandingan nilai tidak terlalu jauh berbeda.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa adanya perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah online learning dimana hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan pada kelompok A setelah diberikan pelatihan online learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR). Terdapat perbedaan keterampilan sebelum dan sesudah online learning dimana hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan keterampilan pada kelompok A setelah diberikan pelatihan online learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR). Penelitian ini juga adanya peningkatan pengetahuan pada kelompok B setelah diberikan pelatihan blended learning sehingga terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah blended learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan keterampilan sebelum dan sesudah blended learning dimana hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan pada kelompok B setelah diberikan pelatihan blended learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR) dan hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan metode yang lebih efektif, metode pelatihan blended learning dan online learning sama-sama efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Cardiopulmonary Resusitation (CPR) pada mahasiswa keperawatan S1 reguler semester 7 Universitas Brawijaya
Efektivitas pelatihan metode online learning dan blended learning dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Cardiopulmonary Resusitation (CPR) pada mahasiswa keperawatan di Universitas Brawijaya Malang
Henti jantung merupakan gangguan fungsi jantung secara mendadak tanpa adanya tanda-tanda awal dengan tanpa adanya nadi karotis, tanpa adanya pernafasan juga terjadinya penurunan kesadaran. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah bagian dari Basic Life Support (BLS) yang merupakan suatu rangkaian tindakan untuk perawatan pada pasien di dalam kasus henti jantung. Dengan tingginya angka henti jantung mahasiswa keperawatan perlu pendidikan dan keterampilan, maka sangat perlu pelatihan khusus seperti Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).
Pengetahuan perawat di dalam penatalaksanaan pada pasien gawat darurat begitu penting dan harus dikuasai jika tidak menguasai ilmunya maka akan sulit seorang perawat memberikan penanganan yang cepat dan akurat. Pelatihan merupakan pendidikan singkat sebagai tambahan dalam meningkatkan kinerja pegawai di rumah sakit untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran online learning maupun blended learning merupakan pembelajaran yang mau tidak mau harus dijalankan untuk mensukseskan era millennial dengan beralih ke system technology. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas pelatihan metode online learning dan metode blended learning dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Cardiopulmonary Resusitation (CPR) pada mahasiswa keperawatan.
Metode yang digunakan yaitu metode quasi-experiment design dimana metode dengan menggunakan pretest - posttest design. Lokasi penelitian di Kampus 2 Universitas Brawijaya Malang. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 40 mahasiswa, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini dengan teknik random sampling yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok A (Online) dan B (Blended). Tehnik pengambilan data melalui kuesioner.
Hasil analisa data diperoleh karakteristik responden berdasarkan umur responden pada Kelompok A paling dominan berusia 21 tahun sejumlah 15 orang (75.0%), dan pada Kelompok B paling dominan berusia 21 tahun sejumlah 12 orang (60.0%), Berdasarkan jenis kelamin pada kelompok A semua perempuan berjumlah 20 orang (100.0%), sedangkan pada kelompok B paling dominan perempuan sejumlah 19 orang (95.0%). Kemudian sumber informasi tentang BLS pada kelompok A paling dominan mendapatkan dari pengajar dan tenaga Kesehatan yaitu 10 orang (50.0%), sedangkan kelompok B paling banyak melalui pengajar sejumlah 11 orang (55.0%). Berdasarkan Analisa data menggunakan uji t berpasangan pada variabel pengetahuan kelompok A nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok A sebelum dan sesudah diberikan pelatihan online learning. variabel keterampilan kelompok A nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok A sebelum dan sesudah diberikan pelatihan online learning. variabel pengetahuan kelompok B nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok B sebelum dan sesudah diberikan pelatihan blended learning. variabel keterampilan kelompok B nilai p=0,000, terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan dalam melaksanakan CPR pada mahasiswa keperawatan kelompok B sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan blended learning. Berdasarkan Analisa data menggunakan uji MANOVA untuk membandingkan antara kelompok A (Online Learning) dan kelompok B (Blended Learning) pada variabel yang diteliti secara simultan. Dari tabel tersebut didapatkan p-value yang lebih besar dari α 5% (0.228 > 0.050) meyatakan bahwa secara simultan/serempak terdapat perbedaan yang tidak signifikan antara 2 kelompok pada peningkatan angka pengetahuan dan keterampilan. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak signifikannya hasil yang ditemukan dikarenakan sampel yang digunakan dalam penelitian ini keseluruhan mahasiswa keperawatan S1 reguler semester 7 yang mendapatkan nilai A pada mata kuliah keperawatan gawat darurat sehingga mahasiswa tersebut sudah mendapatkan pembekalan sebelumnya tentang CPR dan menyebabkan perbandingan nilai tidak terlalu jauh berbeda.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa adanya perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah online learning dimana hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan pada kelompok A setelah diberikan pelatihan online learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR). Terdapat perbedaan keterampilan sebelum dan sesudah online learning dimana hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan keterampilan pada kelompok A setelah diberikan pelatihan online learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR). Penelitian ini juga adanya peningkatan pengetahuan pada kelompok B setelah diberikan pelatihan blended learning sehingga terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah blended learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan keterampilan sebelum dan sesudah blended learning dimana hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan pada kelompok B setelah diberikan pelatihan blended learning Cardiopulmonary Resusitation (CPR) dan hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan metode yang lebih efektif, metode pelatihan blended learning dan online learning sama-sama efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Cardiopulmonary Resusitation (CPR) pada mahasiswa keperawatan S1 reguler semester 7 Universitas Brawijaya
HUBUNGAN SELF-CARE DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT AN-NISA TANGERANG
Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan keterlibatan aktif pasien dalam perawatan sehari-hari agar kualitas hidup tetap optimal. Salah satu komponen utama dalam manajemen DM tipe 2 adalah self-care, yang meliputi pengaturan pola makan, kepatuhan minum obat, aktivitas fisik, pemantauan kadar glukosa darah, serta pencegahan komplikasi. Pelaksanaan self-care yang konsisten tidak hanya berperan dalam mengendalikan kondisi fisik, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis dan sosial pasien. Namun, pada praktiknya masih banyak pasien DM tipe 2 yang belum mampu menerapkan self-care secara optimal, sehingga berdampak pada penurunan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-care dengan kualitas hidup pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien DM tipe 2 yang terdaftar di poli penyakit dalam Rumah Sakit An-Nisa Tangerang, dengan jumlah populasi sebanyak 4.825 orang. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 98 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA) untuk menilai tingkat self-care dan Diabetes Quality of Life (DQOL) untuk mengukur kualitas hidup pasien. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai p value = 0,003 (< 0,05), yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara self-care dengan kualitas hidup pada pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kemampuan self-care berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2
