1,721,051 research outputs found
Dan Tuhan Milik Orang Aceh Yang Bergembira
Belakangan orang Aceh mulai tidak tertawa. Tidak lama lagi mereka akan lupa cara untuk tersenyum. Kompleksitas fenomena yang mereka hadapi, datang dan mengendap di dalam bawah sadar mereka sehingga membuat saraf-saraf tertentu mulai berhenti bekerja. Fenomena lainnya datang, menggendap lagi di tempat yang sama. Terus-menerus begitu. Sejarah Aceh adalah sejarah ketegangan. Kita mengira setelah perjanjian damai pada 2005, orang Aceh dapat menjadi manusia yang berbahagia. Tapi ternyata itu adalah awal mula babak baru tentang Aceh: tentang ketegangan, tentang keseriusan dan tentang cara belajar untuk benar-benar melupakan cara untuk tertawa. Selamat datang di Aceh, tempat di mana Anda benar-benar akan melupakan cara bagaimana untuk tertawa
Pemerintahan Sendiri (Self-Government)
Akhirnya yang tersisa dari Pilkada 2012 lalu bagi para pemenang hanyalah sukacita kemenangan ditambah dengan segudang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Selebihnya adalah realisasi janji kampanye yang telah bertebaran di media, dalam pidato, orasi, kaos, stiker ataupun spanduk. Intinya, yang merupakan visi-misi para pemenang. Karena jika tidak, pemilih Aceh yang sangat restrospektif sudah membuktikannya di beberapa Pilkada lal
Pidie, “Cina Hitam“ di Aceh
Kabupaten Pidie, pada tahun 2007 yang lalu dimekarkan menjadi Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya – dulunya lebih dikenal dengan sebutan Pedir. Semasa konflik, wilayah ini dikenal sebagai ‘daerah rawan’ oleh Pemerintah, karena merupakan basis pendukung pemberontakan DI/TII-nya (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) Daud Beureueh serta Hasan Tiro dengan GAM-nya (Gerakan Aceh Merdeka). Keduanya merupakan putra asli kelahiran Pidie. Selain semangat juang, banyak pula yang lupa bahwa sebenarnya masyarakat Pidie juga dikenal dengan warisan budaya turun-temurun yang sampai kini masih dianut kuat oleh masyarakatnya, yaitu semangat merantau
EEE – KTP…
Gerakan perlawanan anti korupsi di Indonesia kini menghadapi babak baru. Kasus mega korupsi proyek E-KTP menjadi benchmark terhadap keseriusan elemen perlawanan terhadap praktik korupsi, termasuk Pemerintah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan LSM anti-korupsi. Babak baru bagi Pemerintah, karena ini merupakan ujian kesekian kalinya bahwa pemberantasan korupsi dan segala jenis praktik turunannya sepertinya bukan semakin terminimalisir, tapi malah semakin menjadi-jadi. Di sisi lain bagi lembaga super bodi seperti KPK, kasus E-KTP juga menjadi ujian kredibilitas bagi mereka untuk menangani kasus tersebut secara tuntas tanpa terseret arus kepentingan dan politicking elit politik nasional
Revolusi Peh Tem dan Budaya Online
Peh Tem !.. Sep Gura..! Meubagoe!. Adalah ekspresi warga Aceh ketika menyatakan keterkejutan, kekesalan dengan nada marah dan tidak senang. Secara lisan sedikit susah untuk membedakan pemaknaan ungkapan ini. Namun jika konteks sosialnya dilekatkan ditambah intonasi dan mimik wajah sang penutur maka kesan yang ditangkap oleh lawan bicara akan sedikit lebih mudah, apakah Peh Tem yang diucapkan tersebut berarti marah karena ada hal yang sudah direncanakan atau diharapkan ternyata tidak terealisir. Atau Peh Tem yang dilekatkan dalam kalimat dan dilengkapi dengan kata kata lainnya. Seperti dalam..Jak Peh Tem Keudeh!
De Atjehers: Dari Serambi Mekkah ke Serambi Kopi
Buku ini mengurai berbagai fenomena warung kopi dan ngopi sebagai salah satu alat transformasi budaya yang paling revolusioner di Aceh dalam lebih dari satu dekade terakhir. Eekosistem yang diciptakan oleh kopi, budaya ngopi, warung kopi serta penikmat kopi di Aceh tidak hanya berhenti menjadi Fakultas Kopi, tapi lebih dari itu, bisa menjadi Universitas Kopi dimana siapa saja bisa belajar, kapan saja, dan dimana saja untuk menyelesaikan problematika sosial secara egaliter, rileks dan bersahaja. Karena jika ditempat lain tidak mampu lagi menyelesaikan masalah, maka silahkan bawa ke warung kopi. Sambil ngopi, maka semua masalah akan selesai di warung kopi
Muhammadiyah Di Ujung Barat: Sumbangan Pemikiran Angkatan Muda
Buku ini merupakan kumpulan tulisan/opini para Angkatan Muhammadiyah Aceh yang dipublikasi dalam berbagai media massa lokal maupun nasional. Hal ini membuktikan bahwa Angkatan Muda Muhammadiyah setidaknya telah memberikan sumbangsih pemikiran dalam menanggapi berbagai isu yang terjadi dewasa ini, baik di level lokal, nasional dan internasional
Yang Tersisa Paska 12 Tahun MoU Helsinki
MoU Helsinki sudah memberikan warna tersendiri dalam wajah kehidupan masyarakat Aceh. Banyak hal positif dan kemajuan yang telah tercapai. Pemerintah Republik Indonesia telah memberikan amnesti (ampunan) kepada semua yang terlibat dalam kegiatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selambat-lambatnya adalah 15 hari sejak MoU Helsinki ditandatangani. Seluruh narapidana politik (Napol) dan tahanan politik (Tapol) yang pernah dan sempat ditahan akibat keterlibatan dalam konflik Aceh telah dibebaskan tanpa syarat
Diskursus Islam Aceh
Ini bukanlah kesimpulan akhir yang menyeluruh, selain hanya melihat salah satu dari sekian banyak perspektif batas waktu praktik diskursif Islam Aceh. Ini juga belum bisa menjelaskan arah perkembangan dominasi wacana Islam Aceh ke depan paska konflik. Harapannya adalah identitas Islam Aceh bisa mengambil segala makna positif dari unsur lokalisme, nasionalisme dan globalisme, sehingga niat untuk menjadi demokratis-humanis tidak terjegal oleh syariat Islam. Sebaliknya, demokrasi dan Islam Aceh mudah-mudahan bisa berevolusi menjadi demokrasi yang religius dan menjadi model bagi dunia
Om-Om, Telolis Om!
Fenomena media sosial akhir-akhir ini semakin menegaskan bahwa sesuatu yang terjadi di satu belahan dunia, bisa menjadi viral dan membuat bagian dunia lain menjadi ikut-ikutan latah. Di satu sisi fenomena tersebut seolah menjadi hiburan bagi kebanyakan khalayak untuk sejenak keluar dari himpitan problema kehidupan yang begitu serius dan hampir tidak terpecahkan. Fenomena viral di sosial media “Om Telolet Om“ juga seakan menjadi jalan keluar instan bagi anak bangsa dari segenap permasalahan, mulai dari air mata, makar, penistaan agama, 212, 412, pilkada, kemiskinan, komunisme, radikalisme, terorisme (baca: telolisme) dan lain sebagainya, yang jauh lebih serius untuk dicarikan solusinya
- …
