5 research outputs found

    Diseminasi Informasi mengenai Penyakit Parkinson pada Pasien Rawat Jalan Poliklinik Neurologi Rumah Sakit Universitas Mataram

    No full text
    Parkinson's disease is a neurodegenerative disease that is quite common in the elderly population, which is the second most common after Alzheimer's disease. Patients with advanced Parkinson's disease will rely heavily on family members to carry out their basic daily activities. This activity aims to disseminate information related to Parkinson's disease to visitors to the Neurology Polyclinic at the University of Mataram Hospital. The activities carried out included pre-tests, topic presentations, and post-tests. The enthusiasm of the participants in this activity was recorded as a photo documentation. Statistical analysis using paired t-test was carried out to test whether there was a significant difference between the mean pre-test and post-test scores of the participants. A total of 15 participants participated in this whole series of activities with great enthusiasm. There was a significant increase in the post-test mean value compared to the pre-test mean value (p = 0.002). Community service activities in the form of counseling are effective in increasing participants' knowledge about Parkinson's disease

    Pemeriksaan Elektroensefalografi dan Edukasi Kontrol Bangkitan pada Pasien Epilepsi di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma

    No full text
    Epilepsi merupakan salah satu penyakit dibidang neurologi dengan prevalensi yang tinggi. Pasien epilepsi merupakan merupakan pengunjung terbanyak di poli saraf Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit epilepsi menimbulkan beban sosial dan ekonomi bagi pasien dan keluarganya. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) untuk konfirmasi diagnosis dan menentukan lokasi lesi pada pasien rawat jalan epilepsi di RSJ Mutiara Sukma dan memberikan edukasi kepada mereka mengenai upaya mencapai kontrol bangkitan yang baik. Sebanyak 59 pasien epilepsi di RSJ Mutiara Sukma turut berpatisipasi dalam kegiatan ini, dengan karakteristik sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, berusia lebih dari 20 tahun, dan memiliki tingkat pendidikan rendah (sekolah dasar). Sekitar 40,7% dari jumlah tersebut menunjukkan hasil abnormal pada pemeriksaan EEG dengan lokasi terbanyak di lobus temporal. Seluruh pasien epilepsi dan anggota keluarga pendampingnya menunjukkan perhatian yang tinggi terhadap seluruh rangkaian kegiatan ini, termasuk pada sesi edukasi. Kegiatan ini memberikan manfaat yang besar bagi pasien dan keluarga pengasuhnya. Perlu dilakukan evaluasi secara berkala terkait jumlah pasien epilepsi yang dilakukan pemeriksaan EEG dan yang mencapai kontrol bangkitan epileptik optimal sebagai indikator penting dari keberhasilan kegiatan ini

    Perbandingan Efektivitas Terapi Injeksi Hidrodiseksi Menggunakan Panduan Ultrasonografi Antara Normal Saline Dengan Triamcinolone Pada Pasien Sindroma Terowongan Karpal Di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang

    No full text
    Latar Belakang: Sindrom terowongan karpal (STK) merupakan lesi saraf perifer karena mekanisme nontraumatis yang sering di jumpai. STK merupakan suatu neuropati, yang disebabkan oleh suatu tekanan atau jebakan nervus medianus dibawah ligamentum carpi transversum (flexor retinaculum). Metode terapi untuk sindrom terowongan karpal (STK) berbagai macam. mulai dengan metode non-surgical (fisioterapi, pendekatan psikologis, farmakoterapi, injeksi) hingga surgical (pembedahan). Saat metode non-surgical diindikasikan, injeksi kortikosteroid lokal ke dalam terowongan karpal bisa digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan kesemutan. Hidrodiseksi digunakan untuk adhesiolysis di bawah jepitan. Bertujuan menghilangkan adhesi dan melepaskan nervus medianus dari retinakulum dan jaringan ikat disekitarnya dan menghindari cedera pada saraf. Metode: Penelitian experimental ini dilaksanakan di poliklinik rawat jalan rumah sakit dr. SAiful Anwar Malang Sejak Agustus 2018 hingga Oktober 2018. Total 30 pasien dengan STK yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak diapatkan kriteria eklusi. Seluruh subyek penelitian dilakukan pemeriksaan skoring NPS, FSS, SSS yang dibandingan sebelum dan 4 minggu setelah injeksi hidrodiseksi dan membandingkan efektifitas agen injeksi. Hasil: NPS sebelum dan sesudah Injeksi triamcinolone (sig 0.000; p<0.05), FSS (sig 0.020; p<0.05), dan SSS (sig 0.001; p<0.05). NPS sebelum dan sesudah injeksi normal saline NaCl 0,9% (sig 0.001; p<0.05), FSS (sig 0.005; p<0.05), dan SSS (sig 0.000; p<0.05). NPS antara hasil injeksi triamcinolone dan normal saline NaCl 0,9% (sig 0.341; p<0.05), FSS (sig 0.425; p< 0.05), SSS (sig 0.350; p< 0.05). Kesimpulan: Didapatkan perbedaan signifikan antara NPS, FSS, dan SSS sebelum dan sesudah injeksi hidrodiseksi dengan triamcinolone dan normal saline NaCl 0,9% dan hasil yang tidak signifikan pada perbandingan antara triamcinolone dan normal saline NaCl 0,9% pada pasien STK rawat jalan Poli Saraf Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang. Kedua Injeksi memiliki efektivitas yang kurang lebih sama

    Edukasi Mengenai Gangguan Kognitif Pada Pasien Hipertensi di Poli Neurologi Rumah Sakit Universitas Mataram

    No full text
    Cognitive impairment in hypertensive patients is a significant clinical problem. It is a prevalent condition that has a major impact on quality of life. Hypertension, characterized by persistently elevated blood pressure, has been identified as a potential risk factor for cognitive impairment. Assessing cognitive function in hypertensive patients is essential for early detection and intervention. Community participation is crucial to raise awareness about the symptoms of cognitive impairment in hypertensive patients. Therefore, education on cognitive impairment associated with hypertension is necessary to reduce its morbidity. This community service activity aims to provide education on the definition, signs, and symptoms, as well as early detection methods of cognitive impairment in hypertensive patients to patients and their families at the neurology clinic University of Mataram Hospital. The activity was conducted using an interactive method with the aid of PowerPoint slides. The participants were given a pre-test, followed by a presentation on the disease, a discussion session, and finally, a post-test. There were 14 participants in total. The education session began with a pre-test consisting of five questions about cognitive impairment and hypertension. The participants' average score was 74.2. The material covered definitions, symptoms, early signs, and how to conduct early detection of cognitive impairment and hypertension. The education session concluded with a post-test, which revealed that 10 participants (71.4%) showed an increase in their knowledge scores, with a mean score of 88.5. Effective communication, information, and education are essential in improving knowledge about the early detection of cognitive impairment in hypertensive patients

    Edukasi Penyelaman Aman bagi Nelayan Pesisir Montong Lombok Barat

    No full text
    Traditional diver diving activities look for fish by archery underwater frequently do not pay attention to safety aspects, so there is an increasing risk of causing diving injuries. Diving injuries are preventable injuries, if safe diving guidelines are followed and obeyed. Diving injuries symptoms can be mild to severe, so education about prevention and recognition of disease disorders that can occur due to diving is being given. The community service is carried out in two simultaneous activities: diving safety lectures and general medical examination. The participants, 30 participants for general medical examination, and 4 participants for traditional divers. Of the 30 participants for general medical examination, it was predominantly female (18/30), with an age range of 4-60 years with a median age of 37 years. The most common diseases that are complained of are upper respiratory tract infections (ARI) (8/30), skin complaints (6/30), hypertension (6/30), diabetes (4/30), headaches (3/30), diarrhea (1/30), musculoskeletal complaints (1/30) and toothache (1/30). Education is carried out to all participants. The media used were a slide projector and x-banner. Four traditional divers comes with 3 Decompression sickness and 1 barotrauma. Questions coverage diving preparation, Diving techniques and do's and don't's after diving. The community service went well with 34 enthusiastic participants filled by questions. Three most common diseases being ARI, skin complaints and hypertension and diving injuries of decompression sickness and barotrauma.Kegiatan menyelam yang dilakukan penyelam tradisional untuk mencari ikan dengan memanah seringkali tidak memperhatikan aspek keselamatan, sehingga risiko cedera penyelaman meningkat. Cedera penyelaman merupakan cedera yang dapat dicegah, jika panduan penyelaman yang aman dipelajari dan dipatuhi. Cedera penyelaman dapat ringan sampai dengan kematian, sehingga edukasi tentang pencegahan dan pengenalan gangguan-gangguan penyakit yang dapat terjadi akibat penyelaman perlu dilakukan. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam dua kegiatan yang bersamaan: ceramah keamanan penyelaman dan pengobatan gratis. Masyarakat menghadiri kegiatan pengabdian cukup antusias, 30 peserta pengobatan gratis, adapun penyelam tradisional yang berpartisipasi sejumlah 4 orang.&nbsp; Dari 30 peserta pengobatan gratis didominasi jenis kelamin perempuan (18/30), dengan rentang usia 4 – 60 tahun dengan median usia 37 tahun. Penyakit tersering yang dikelukan adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) (8/30), keluhan kulit (6/30), hipertensi (6/30), diabetes (4/30), sakit kepala (3/30), diare (1/30), keluhan musculoskeletal (1/30) dan sakit gigi (1/30). Edukasi dilakukan kepada semua masyarakat hadir. Media edukasi yang dipergunakan adalah slide projector dan x-banner. Sebanyak 4 penyelam tradisional datang dengan diagnosis 3 penyakit dekompresi dan 1 barotrauma. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul terkait persiapan penyelaman, teknik penyelaman dan do’s and don’t’s setelah menyelam. Kegiatan pengabdian berlangsung dengan baik dihadiri 34 peserta dan diisi dengan pertanyaan interaktif. Tiga penyakit terbanyak ISPA, keluhan kulit dan hipertensi dengan cedera penyelaman berupa penyakit dekompresi dan barotrauma
    corecore