1,721,039 research outputs found

    DINAMIKA KEHIDUPAN SOSIAL-EKONOMI ETNIS TIONGHOA DI MAKASSAR PADA MASA ORDE BARU (1966-1998)

    No full text
    Permasalahan yang ditemukan di Makassar dari tahun ketahun yang terbilang menarik untuk dikaji adalah mengenai kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi yang talik ulur. Tarik ulur disini dikarenakan ada kendala yang didapat juga ada keuntungan yang diterima. Permasalahan dalam penelitian ini antara lain adalah: (1) bagaimana kondisi sosial-ekonomi etnis Tionghoa di Makassar menjelang Orde Baru; (2) bagaimana perkembangan, perubahan, dan kesinambungan kondisi sosial-ekonomi etnis Tionghoa di Makassar pada masa Orde Baru (1966-1998); dan (3) apa nilai dan norma yang terkandung pada sosial-ekonomi etnisTionghoa di Makassar pada masa Orde Baru (1966-1998)

    PERBEDAAN PEMIKIRAN SOEKARNO DAN HATTA TENTANG STRATEGI PERJUANGAN MENUJU KEMERDEKAAN PADA ERA PERGERAKAN NASIONAL TAHUN 1927-1936

    No full text
    Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana latar belakang/ faktor-faktor yang membuat perbedaan antara Soekarno dan Hatta tentang strategi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia pada era pergerakan nasional? (2) bagaimana pemikiran Soekarno dan Hatta tentang strategi perjuangan menuju kemerdekaan pada era pergerakan nasional? (3) bagaimana dampak dari perbedaan Soekarno dan Hatta tentang strategi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia terhadap keutuhan pergerakan nasional ?. Tujuan melakukan kajian penelitian adalah (1) mengkaji pemikiran Soekarno dan Hatta tentang strategi perjuangan menuju kemerdekaan pada era pergerakan nasional (2) latar belakang/ faktor-faktor yang membuat perbedaan antara Soekarno dan Hatta tentang strategi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia pada era pergerakan nasional (3) mengkaji dampak dari perbedaan Soekarno dan Hatta tentang strategi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia terhadap keutuhan pergerakan nasional. Manfaat kajian dalam penelitian ini adalah (1) bagi peneliti, sebagai sarana latihan dalam melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah, latihan berfikir dan memecahkan masalah secara kritis dan logis memperdalam pengetahuan tentang perbedaan pemikiran Soekarno dan Hatta pada era Pergerakan Nasional; (2) bagi mahasiswa dan calon guru sejarah, dapat menambah penguasaan materi sejarah intelektual; (3) bagi almamater, sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji permasalahan yaitu Pendekatan Sosiologi Pengetahuan dan menggunakan teori hermeunitika . Sumber yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber tertulis. Hasil dari pembahasan yaitu perbedaan perbedaan pemikiran yang terjadi antara Soekarno dan Hatta tentang strategi perjuangan yang dugunakan pada era pergerakan nasional merupakan sesuatu hal yang sangat unik untuk dibahas. Keunikan yang terjadi adalah perbedaan strategi yang digunakan unutk mencapai Indonesia merdeka melalui organisasi pergerakan. Dengan massa-aksinya Soekarno merasa sangat yakin dengan konsep perjuangannya dapat membawa Indonesia ke menuju kemerdekaan. Begitu juga sebaliknya dengan Hatta menggunakan konsep pendidikan kader dapat membawa Indonesia menuju kemerdekaan. Dampak dari perbedaan diantara kedua pemimpin partai membuat angggota-anggota partai yang lain pun mengikuti apa yang diarahkan oleh masing-masing pemimpin organisasi yaitu Soekarno maupun Hatta. Soekarno berjuang melalui Partindo sedangkan Hatta berjuang dengan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI-Baru. Simpulan dari pembahasan berusaha untuk menjawab permasalahan yaitu Pertama, kondisi lingkungan sosial, budaya, politik dan ekonomi dapat mempengaruhi pemikiran Soekarno maupun Hatta. Kedua, konsep pemikiran Soekarno tentang massa-aksi dan konsep pendidikan kader dari Hatta merupakan stratetegi yang berbeda pada era pergerakan nasional untuk mencapai Indonesia merdeka. Ketiga, dampak dari adanya pemikiran Soekarno dan Hatta tentang strategi yang digunakan dalam berjuang melalui organisasi bagi keutuhan persatuan yang terjadi pada era pergerakan nasiona

    Peranan Organisasi Aisyiyah Dalam Pemberdayaan Perempuan Di Jawa Tahun 1917-1945

    No full text
    Organisasi Aisyiyah merupakan organisasi perempuan Persyarikatan dari Muhammadiyah, merupakan gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi mungkar, yang berazaskan Islam. Aisyiyah didirikan di Yogyakarta tanggal 22 April 1917 dan resmi dideklarasikan pada tanggal 19 Mei 1917. Berdirinya organisasi Aisyiyah tidak lepas dari sejarah Organisasi yang menaunginya. Pendiri dari Muhammadiyah sendiri sangat memperhatikan pembinaan terhadap kaum perempuan. Aisyiyah berjuang mengenai hak dan peran perempuan serta mengangkat derjat kaum perempuan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: mengapa Aisyiyah melakukan pemberdayaan terhadap perempuan, bagaimana usaha-usaha yang dilakukan Aisyiyah dalam pemberdayaan perempuandn hasil yang dilakukan oleh Aisyiyah. Tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah: menganalisis bagaimana Aisyiyah berjuang dalam pemberdayaan kaum perempuan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh organisasi Aisyiyah serta menganalisis hasil dari perjuangan Aisyiyah dalam pemberdayaan perempuan di Jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Teknik pengumpulan yang digunakan ialah studi pustaka. Tori yang digunakan ialah teori peran dengan pendekatan sejarah sosial. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa berdirinya organisasi Aisyiyah berdiri dipengaruhi beberpa faktor baik dari dalam maupun dari luar. Faktor pendukung bergeraknya organisasi dipengaruhi peran tokoh-tokoh perempuan yang berperan dalm Aisyiyah dan menjadi kader Aisyiyah sendiri. adanya persaman perjuangan dengan organisasi perempuan lainnya, akhirnya muncul federasi perempuan yaitu Kongres Wanita Indonesia. Secara nasional Aisyiyah berjuang bersama organisai lainya dalam memperjuangkan hak dan derajat kaum perempuan. Secara keorganisasian Aisyiyah berjuangan bersama anggotanya dengan mendirikan Frobel School, Kweekschol, Nasyiatul Aisyiyah, Wa al-Ashri, AdzDhakirat, Magribi School. Aisyiyah menggunakan media cetak untuk penyebaran dakwahnya, media tersebut bernama Suara Aisyiyah. Aisyiyah dan organisasi perempuan mengalami masa sulit saat kependudukan Jepang. Gerakan perempuan dilarang sebagai gantinya didirikan Fujinkai. Tujuannya Fujiankai ialah sebagai pendukung dan melengkapi tentara Jepang. Tugasnya membuat seragam, mendirikan dapur umum, dan didiprong berfikir untuk mengatasi masalah krisis ekonomi. Jepang berusaha untuk memperluas kekuaasaan , namun sebaliknya pemerintah Indonesia memanfaatkan untuk persiapan kemerdekaan Indonesia. Hasil yang dicapai Aisyiyah pada tahun 1917-1945 dalam pemberdayaan perempuan meliputi berbagai hal. Dalam hal pemikiran, Aisyiyah merupakan hal yang baru dalam pembaharuan pemikiran mengenai perempuan Islam Indonesia yang melakukan gerakan untuk mengangkat derajat kaum perempuan serta mendorong kaum perempuan aktif di ruang publik untuk berdakwah. Melalui gerakan pendidikan, Aisyiyah membina generasi muda melalui pendidikan dan pengajian. Aisyiyah berkomunikasi dengan efektif melalui media cetak Suara Aisyiyah yang menyampaikan informasi sekaligus menjadi media dakwahnya. Sebagai organisasi nasional yang lahir pada masa penjajahan, ikut aktif dalam kegiatan membela dan memajukan bangsa dan negara serta aktif dalam proses menuju kemerdekaan Republik Indonesia. Keberhasilan Aisyiyah dalam berdakwah tidak luput dari peranan tokoh-tokoh perempuan Aisyiyah

    Fungsi Juru Pelihara Dalam Pelestarian Cagar Budaya Di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso Tahun 2010-2017

    No full text
    Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember. Latar belakang penelitian adalah cagar budaya megalitik yang ada di Bondowoso begitu melimpah sehingga memungkinkan banyak yang terabaikan dan tidak terawat. Apalagi masyarakat awam dan tidak mengenal apa artinya sebuah batu yang ada di lahannya. Masyarakat awam hanya tahu bahwa batu tersebut adalah batu biasa yang terdapat disawah tanpa melestarikannya, maka dari hal inilah dibutuhkan seseorang yang mau bertanggung jawab untuk merawat maupun menjaga benda tersebut. Orang yang menjaga maupun yang merawat serta memelihara disebut sebagai juru pelihara. Pada struktur organisasi BPCB, seorang juru pelihara berada pada posisi terbawah dan memiliki peran yang sangat penting dalam tugas dan kewajiban untuk melestarikan cagar budaya. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana keberadaan cagar budaya di desa Pekauman kabupaten Bondowoso 2010-2017; (2) Bagaimana tindakan atau usaha yang dilakukan juru pelihara dalam melestarikan cagar budaya di desa Pekauman kecamatan Grujugan kabupaten Bondowoso tahun 2010-2017. Tujuan penelitian yaitu: (1) mengkaji dan menganalisis keberadaan cagar budaya di desa Pekauman kabupaten Bondowoso tahun 2010- 2017; (2) mengkaji dan menganalisis tindakan atau usaha yang dilakukan juru pelihara dalam melestarikan cagar budaya di situs Pekauman kecamatan Grujugan kabupaten Bondowoso tahun 2010-2017. Manfaat penelitian yaitu: (1) bagi peneliti, penelitian ini merupakan usaha peneliti dalam mendalami materi sejarah lokal pada sekelompok orang yang melaksanakan peran sesuai dengan fungsi dan kewajibannya dalam pelestarian cagar budaya; (2) Bagi perkembangan ilmu kesejarahan, dapat memberi kontribusi nyata atas penelitian yang telah dilakukan sebagai karya khasanah keilmuan kesejarahan bagi calon guru sejarah; (3) Bagi mahasiswa, dapat memberi wawasan mengenai peran seorang juru pelihara situs megalitik; (4) Bagi pembaca dan masyarakat luas, dapat dijadikan referensi bacaan mengenai peranan seorang juru pelihara situs megalitik; (5) Bagi masyarakat Bondowoso, dapat dijadikan sebagai referensi dan sadar akan pentingnya cagar budaya serta dapat melestarikan cagar budaya yang ada di Bondowoso sebagai warisan budaya megalitik. Metode Penelitian yaitu (1) pemilihan topik; (2) heuristik; (3) kritik (verivikasi sumber dan keabsahan sumber); (4) interpretasi (analisis dan sintesis); (5) historiografi (penulisan) (Kuntowijoyo, 1995: 89). Hasil penelitian adalah (1) keberadaan cagar budaya di desa Pekauman kabupaten Bondowoso tahun 2010- 2017 yaitu tetap terjaga dan terawat dengan baik. Hal ini terbukti saat di temukan cagar budaya oleh Juru pelihara pada saat bersih-bersih di sekitar cagar budaya. temuan cagar budaya tersebut berjumlah 24 cagar budaya, kondisi pada saat di temukan sudah tidak berbentuk formasi.; (2) tindakan atau usaha yang dilakukan dalam melestarikan cagar budaya di desa Pekauman kecamatan Grujugan kabupaten Bondowoso tahun 2010-2017 sudah sesuai dengan kewajiban dan tugasnya. Bahkan untuk mencegah terjadinya konflik dengan masyarakat, juru pelihara merelakan uang pribadinya untuk mengganti rugi saat tanaman terinjak oleh pengunjung, bahkan ada sebagian masyarakat yang dibantu untuk membayari pajak tanah yang ditempati cagar budaya. Berdasarkan pembahasan dalam penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa (1) keberadaan cagar budaya yang ada di desa Pekauman sampai saat ini masih tetap terawat dan terjaga dengan baik. Meskipun karena faktor alam membuat cagar budaya banyak yang sudah rapuh; (2) usaha atau tindakan yang dilakukan oleh para juru pelihara PNS (Fauzan Ali, Marzuki, Amsari dan Ansori) dan Non PNS (Ahmad Fait dan Hadi Abdurahman) melaksanakan sesuai dengan fungsi dan kewajiban juru pelihara. Usaha atau tindakan untuk menjalankan kewajiban dan tugasnya, juru pelihara harus mendekati, memberi motivasi, mengayomi dan memberi sedikit bantuan untuk membayari pajak tanah serta ganti rugi ketika tanaman terinjak oleh pengunjung

    Peranan Grup Sekar Budaya Dalam Melestarikan Kesenian Jaranan Campursari Di Desa Sukosari Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember Tahun 2010 - 2018

    No full text
    Latar belakang berdirinya Grup Sekar Budaya di Desa Sukosari dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, dimana dengan berdirinya Grup Sekar Budaya dapat memberikan pendapatan tambahan terhadap anggotanya yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Pembentukan Grup Sekar Budaya bertujuan untuk melestarikan kesenian jaranan yang sudah tidak eksis lagi dan tidak berkembang. Sehingga dengan berdirinya Grup Sekar Budaya kesenian jaranan yang berada di kecamatan Sukowono dapat eksis dan juga berkembang dengan baik. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian yaitu: 1) Apa yang melatarbelakangi berdirinya Grup Sekar Budaya di Desa Sukosari Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember tahun 2010;? 2) Bagaimana upaya Grup Sekar Budaya dalam melestarikan kesenian jaranan campursari di Desa Sukosari Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember tahun 2010-2018?. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) mengkaji dan menganalisis latar belakang berdirinya Grup Sekar Budaya tahun 2010; 2) mengkaji dan menganalisis upaya Grup Sekar Budaya dalam melestarikan kesenian jaranan campursari di desa Sukosari Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember Tahun 2010-2018. Manfaat yang ingin dicapai oleh peneliti yaitu: 1) Bagi mahasiswa dapat memberikan kontribusi dan tambahan wawasan mengenai kesenian jaranan campursari; 2) Bagi pemerintah kota jember, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran tentang perkembangan dan upaya dalam melestarikan kesenian jaranan campursari; 3) Bagi masyarakat dapat memberikan tambahan pengetahuan tentang kesenian jaranan campursari; 4) Bagi peneliti lain sebagai dorongan motivasi dan inovasi untuk melakukan penelitian sejenis yang lebih mendalam. x Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori peran. Sedangkan pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan antropologi budaya. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu berdirinya Grup Sekar Budaya tahun 2010 sebagai tempat bernaungnya sejumlah seni budaya , sebagai media edukasi baik pendidikan maupun latihan, sebagai media hiburan bagi masyarakat sekitar dan peminat seni, sebagai tempat mengatur strategi seputar seni yang ditekuni dan juga sebagai tempat bersilaturahmi. Tujuan didirikannya Grup Sekar Budaya ialah melestarikan kebudayaan tradisional, sarana untuk ajang kreatifitas generasi muda, meningkatkan ekonomi masyarakat melalui kesenian dan ikut mensukseskan program pemerintah di bidang seni budaya masyarakat. Untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut, Grup Sekar Budaya melakukan berbagai upaya diantaranya yaitu; 1) Upaya perlindungan yang meliputi, mengadakan latihan dan regenerasi serta mendaftarkan organisasi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan; 2) Upaya pemanfaatan yang meliputi membentuk kelompok arisan dan meningkatkan pendapatan anggota; 3) Upaya pengembangan yang meliputi, mengikuti kegiatan karnaval dan mengadaptasikan keseniannya dengan kesenian modern. Upaya tersebut memberikan dampak yang positif terhhadap pendapatan anggota. Simpulan dari penelitian ini adalah, berdirinya Grup Sekar Budaya dilatarbelakangi oleh fator ekonomi dan kondisi kesenian jaranan, sehingga Grup Sekar Budaya berdiri untuk melestarikan kesenian jaranan. Untuk mengatasi masalah tersebut upaya yang dilakukan Grup Sekar Budaya dalam melestarikan kesenian jaranan antara lain 1) Upaya Perlindungan, 2) Upaya Pemanfaatan, dan 3) Upaya Pengembangan. Upaya yang dilakukan Grup Sekar Budaya tersebut sangat berpengaruh terhadap pendapatan anggota

    Jemaat Greja Kristen Jawi Wetan Rejoagung Kecamatan Semboro Kabupaten Jember Tahun 1945-2018

    No full text
    Kependudukan Jepang atas Indonesia berdampak besar bagi rakyat pribumi secara langsung. Kedatangan Pemerintahan Jepang pada tahun 1942 merupakan pencobaan yang sangat berat bagi jemaat Kristen di Desa Rejoagung. Tepatnya tahun 1943, banyak anggota Jemaat dan pengurus Jemaat yang ditahan oleh Ken Pei Tai (polisi militer Jepang). Gereja mulai bangkit dari ketertindasan setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu yang ditandai dengan kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Selanjutnya, dihimpunlah Sidang Majelis Agung di Mojowarno tanggal 6-9 Agustus 1946 sehingga momentum ini diperingati setiap tahun sebagai Hari Kebangunan Kembali GKJW atau Hari Pembangunan GKJW. Hal inilah yang memicu GKJW untuk terus bangkit dan bertumbuh sebagai warga Kerajaan Allah dan saksi Kristus di dunia ini. Penelitian ini mengkaji beberapa masalah: (1) bagaimana perkembangan jemaat GKJW Rejoagung Tahun 1945-2018; (2) bagaimana kehidupan religious Jemaat GKJW Rejoagung Tahun 1945-2018; (3) bagaimana kehidupan non religious Jemaat GKJW Rejoagung Tahun 1945-2018. Tujuan Penelitian yaitu: (1) menganalisis perkembangan jemaat Kristen di Desa Rejoagung Tahun 1945-2018; (2) menganalisis kehidupan religius Jemaat Kristen di Desa Rejoagung Tahun 1945-2018; (3) menganalisis kehidupan non religius Jemaat Kristen di Desa Rejoagung Tahun 1945-2018

    DINAMIKA GERWANI DI KOTA SEMARANG TAHUN 1954-1965

    No full text
    Berdirinya Gerwani di kota semarang di latar belakangi oleh beberapa hal yaitu meliputi latar belakang geografis, sosial ekonomi, budaya, politik. Dari segi geografis kota semarang dipilih karna letaknya yang strategis dimana kota ini dekat dengan pelabuhan dan juga dikenal sebagai kota dagang. Semenjak VOC membangun kawasan ini dan menjadikannya salah satu pusat perdagangan yang paling utama di Jawa. Dan juga kota ini sempat menjadi pusat aktivisme golongan Kiri dan Nasionalis semenjak awal 1920-an. kota Semarang memiliki dua topologi, yaitu wilayah perbukitan (kota atas) dan lembah atau daratan (kota bawah) yang berbatasan langsung dengan laut. Gerwani memulai persemaian awal organisasinya melalu daerah perbukitan dahulu karena di anggap masih pelosok sehingga lebih mudah untuk menyebarkan ideologinya yang kemudian menjalar ke daerah lembah atau daerah kota. Pemilihan kota atas sebagai persemaian awal juga didasari untuk memudahkan langkah Gerwani dalam melebarkan sayap karena di kota atas masyarakatnya lebih mudah direkrut

    Munculnya Golongan Syiah, Khawarij dan Sunni dalam Islam pada masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Tahun 35 – 41 H / 656 – 661 M di Jazirah Arab

    No full text
    Munculnya berbagai macam pemahaman politik mengenai kekhalifahan dan keimamahan terjadi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Keretakan kaum Muslimin muncul sesaat wafatnya Rasulullah SAW., dan memucak pada masa Khalifah Ustman bin Affan. Pasca Ustman terbunuh pada tahun 35 H / 656 M oleh para pemberontak, kaum Muslimin membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ali mewarisi kekacauan dan konflik internal menyebabkan pemerintahannya rapuh dan labil. Oleh karena itu, pemerintahan Ali penuh dengan perse;isihan antar sesama kaum Muslimin. Puncak dari peperangan yang terjadi pada masa pemerintahan Ali yaitu Perang Shiffin yang diakhiri dengan arbitrase / tahkim. Tahkim inilah yang menyebabkan Islam terpecah menjadi tiga golongan yaitu Syiah, Khawarij dan Sunni. Permasalahan dalam penelitian ini adalah 1) latar belakang dan proses munculnya 3 golongan dalam Islam yakni Syiah, Khawarij dan Sunni 35 – 41 H di Jazirah Arab, 2) bagaimanakah perkembangan kehidupan dari 3 golongan dalam Islam yakni Syiah, Khawarij dan Sunni tahun 35 – 41 H / 656-661 M di Jazirah Arab, dan 3) bagaimana dampak munculnya Islam menjadi 3 golongan yakni Syiah, Khawarij dan Sunni 35 – 41 H / di Jazirah Arab. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) menganalisis latar belakang dan proses munculnya 3 golongan dalam Islam yakni Syiah, Khawarij dan Sunni 35 – 41 H / 656-661 M di Jazirah Arab, 2) menganalisis perkembangan kehidupan dari 3 golongan dalam Islam yakni Syiah, Khawarij dan Sunni tahun 35 – 41 H / 656- 661 M di Jazirah Arab, dan 3) menganalisis dampak munculnya Islam menjadi 3 golongan yakni Syiah, Khawarij dan Sunni 35 – 41 H / 656-661 M di Jazirah Arab. Manfaat dari penelitian ini adalah bagi civitas akademi Universitas Jember, dapat menambah ilmu pengetahuan tentang munculnya Islam menjadi 3 golongan yakni Syiah, Khawarij dan Sunni dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya, bagi calon guru sejarah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber belajar dan sumber materi sejarah Asia Barat dalam proses belajar mengajar, bagi almamater FKIP Universitas Jember, dapat memberi informasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang dilakukan melalui empat tahap yaitu; tahap heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Simpulan dari penelitian ini adalah hal-hal yang melatarbelakangi dan menyebabkan munculnya golongan Syiah, Khawarij dan Sunni dalam Islam pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib adalah karena faktor politik dan perebutan kekuasaan dan jabatan khalifah antara Ali bin Abi Thalib dan Muawwiyah bin Abi Sufyan yang berdampak pada pecahnya pasukan / pendukung Ali menjadi tiga golongan. Perkembangan dari golongan Syiah, Khawarij dan Sunni selama masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib dan setelahnya pada masa Dinasti Umayyah selalu memberikan kontribusi sendiri dalam setiap kehidupannya, salah satunya adalah bidang politik, budaya, dan agama yang saling menetukan arah perjuangannnya masing-masing. Dampak munculnya golongan Syiah, Khawarij dan Sunni ini adalah perbedaan pelaksaan ibadah dalam agama Islam yang cukup siginifikan serta pandangan politik yang berdampak pada perebutan kekuasaan. Kesimpulan yang dapat diambil dari garis besar penelitian ini adalah adanya perbedaan pemahaman dalam menyikapi kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah SAW., menyebabkan kaum Muslimin berselisih. Puncak dari perselisihan ini yakni adanya tahkim. Tahkim yang diharapkan dapat mengembalikan persatuan kaum Muslimin justru menyebabkan kaum Muslimin terpecah menjadi tiga golongan. Tiga golongan politik yaitu Syiah (pro-Ali), Khawarij (kontra-Ali) dan Sunni (sebagian pro-Muawiyah, sebagian pro-Ali dan sebagian netral). Permasalahan politik antar tiga golongan berkembang menjadi permasalahan teologi

    Perdagangan Maritim di Pelabuhan Banten pada masa Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1651-1683 M

    No full text
    Banten merupakan tempat dimana rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada awal abad ke 17. Banten merupakan sumber lada yang utama, yang bahkan dalam dunia perdagangan menjadi lebih penting dari pada rempah-rempah di Maluku (Lubis, 2003:45). Disana terdapat banyak pedagang asing dari Eropa. Pada tahun 1653 Belanda harus bersaing dengan Inggris dan negara-negara lainnya dalam menancapkan pengaruh di Banten. Posisinya yang strategis berada diselat sunda karena negeri ini dapat dicapai langsung dari laut. Gambaran mengenai letak strategis Banten menjadi unsur kejayaan di bidang perniagaan. Itulah mengapa VOC sampai mendirikan markas besar di Batavia (Jakarta sekarang) yang secara geografis dekat dari Banten. Asisten Cornelis De Houtman menggambarkan dalam laporannya yang mengatakan karakteristik pelabuhan Banten yang berskala internasional, terdapat pembagian kerja bagi pedagang asing yang ada di Banten seperti orang-orang persia yang menjual Obat-obatan dan Permata, sementara orang arab lebih aktif di laut membawa komoditasnya, dan orang barat yang umumnya berkepentingan membawa rempah-rempah

    Peranan Kelompok Tani Harapan Kita Dalam Meningkatkan Kemakmuran Petani Di Desa Suger Lor Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso Tahun 1997-2018

    No full text
    Kelompok Tani Harapan Kita karena hamparan lahan yang luas dan subur, namun petani di Desa Suger Lor tidak dapat mengelola lahan pertanian sesuai dengan tata cara budidaya padi dengan benar; (2) usaha yang dilakukan Kelompok Tani Harapan Kita yaitu dengan melakukan kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, menerapkan panca usaha tani, serta membantu petani dalam memasarkan hasil panennya; (3) pengaruh usaha yang dilakukan Kelompok Tani Harapan Kita yaitu meningkatnya jumlah produksi padi dan berpengaruh terhadap pendapatan petani di Desa Suger Lor
    corecore