1,721,171 research outputs found
Profil Berpikir Kreatif Menurut Wallas dalam Menyelesaikan Soal Materi Balok Ditinjau dari Tipe Kepribadian Florence Littauer Siswa Kelas VIII G
Pada hakikatnya sebagai manusia memiliki karakteristik yang berbedabeda,
baik dalam bersikap, pola pikir maupun kepribadiannya, demikian pula
dengan peserta didik. Menurut Littauer (1996), tipe kepribadian manusia
digolongkan menjadi empat, yaitu sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis.
Perbedaan kepribadian tersebut juga berpengaruh terhadap profil berpikir kreatif
siswa saat menyelesaikan suatu masalah, seperti pada penyelesaian masalah
matematika. Menurut Siswono (dalam Putri dan Wijayanti, 2012) ada 3 kriteria
seseorang untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif yaitu kefasihan,
keluwesan dan kebaruan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir kreatif siswa
berdasarkan tipe-tipe kepribadian menurut Florence Littauer. Jenis penelitian ini
adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah
4 siswa kelas VIII G MTs Negeri 2 Jember. Penelitian ini dilakukan pada
semester genap tahun ajaran 2017/2018. Instrumen penelitian yang digunakan
adalah angket tipe kepribadian, tes soal profil berpikir kreatif, dan pedoman
wawancara.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, siswa cenderung melalui
semua tahapan berpikir kreatif model Wallas. Terdapat perbedaan antara masingmasing
tipe kepribadian dalam melalui setiap tahapan berpikir kreatif model
Wallas. Adapun profil berpikir kreatif siswa dengan tipe kepribadian sanguinis
(S), koleris (K), melankolis (M), dan phlegmatis (PH) adalah sebagai berikut
PENERAPAN TEORI PEMBELAJARAN VAN HIELE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN SEGITIGA, PERSEGI, DAN PERSEGI PANJANG SISWA KELAS III SD NEGERI PAGUNG 3 KEDIRI
Geometri merupakan salah satu aspek yang diajarkan dalam pembelajaran Matematika di sekolah dasar. Dalam kenyataannya, masih banyak siswa yang lemah dalam pelajaran matematika. Sebagian anak didik bahkan berpendapat bahwa pelajaran matematika adalah “momoknya” pelajaran, sehingga hasil belajar Matematika kurang memuaskan. Berdasarkan pengamatan awal di lapangan yakni di SD Negeri Pagung 3 Kediri, diperoleh temuan data bahwa dalam pembelajaran Matematika yang selama ini dilaksanakan cenderung bersifat konvensional dan masih berpusat pada guru. Guru menyampaikan materi melalui ceramah kemudian menyuruh siswa untuk mengerjakan latihan soal. Siswa hanya sebagai obyek pasif dalam pembelajaran yang datang, duduk, catat dan hafal. Dalam pembelajaran yang dilakukan, guru jarang menggunakan alat peraga yang ada di sekolah sehingga pemahaman siswa dalam materi yang diberikan hanya sebatas teori yang tertanam. Siswa kurang memahami secara mendalam. Aktivitas belajar siswa tergolong rendah, hal ini terlihat dari rendahnya kemauan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, tidak berani mengungkapkan pendapat, maupun bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut. (1) bagaimanakah penerapan teori pembelajaran van Hiele untuk meningkatkan hasil belajar siswa pokok bahasan segitiga, persegi, dan persegi panjang pada siswa kelas III SD Negeri Pagung 3 Kediri? (2) bagaimanakah hasil belajar siswa setelah menerapkan teori pembelajaran van Hiel
PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN MENERAPKAN TEORI VAN HIELE TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN LUAS SEGITIGA, PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI PADA SISWA KELAS IV SDN PATRANG 01
Penelitian dilaksanakan di SDN Patrang 01 Jember. Responden yang diambil
yaitu seluruh siswa kelas IV yang terdiri dari 70 siswa. Metode pengumpulan data
yang digunakan adalah tes. Data yang diperoleh dengan menggunakan metode tes
merupakan data utama dalam penelitian ini. Kelas ekperimen dan kelas kontrol
ditentukan dengan uji homogenitas. Data uji homogenitas diperoleh dari hasil
ulangan harian matematika pada tema 3 subtema 3. Hasil perhitungan secara manual
dan menggunakan SPSS mendapatkan harga = 0,569, selanjutnya harga
dikonsultasikan dengan harga , dengan = 1 dan = 68 pada taraf
signifikansi 5% dan didapat = 1,995. Berdasarkan nilai = 1,995 dan nilai
= 0,569, maka < . Dengan demikian tidak ada perbedaan mean yang
signifikan antara kelas IVA dan IVB, hal ini menunjukkan tingkat kemampuan awal
siswa sebelum diberikan perlakuan adalah homogen. Selanjutnya, kelas dipilih
dengan pengundian dan didapat kelas IV A sebagai kelas kontrol dan kelas IV B
sebagai kelas eksperimen.
Analisis statistik uji-t dilakukan dengan 2 cara, yaitu menghitung secara
manual dan menggunakan program SPSS. Berdasarkan perhitungan manual dan
menggunakan program SPSS diperoleh nilai rata-rata beda pre-test dan post-test pada
kelas eksperimen ( ) sebesar 18,42857 sedangkan nilai rata-rata beda pre-test dan
post-test pada kelas kontrol ( ) sebesar 11,39286. Deviasi nilai individu dari kelas
eksperimen (Σ ) diperoleh sebesar 11971,88889 dan hasil kelas kontrol (Σ )
sebesar 4842,75. Hasil perhitungan dengan rumus uji-t secara manual maupun
menggunakan program SPSS diperoleh = 2,247, harga ini kemudian
dikonsultasikan dengan dengan = 68, pada taraf signifikansi 5% dan
didapat = 1,995.
Berdasarkan analisis tersebut diperoleh > (2,247 > 1,995),
dengan demikian hipotesis nihil ( ) ditolak dan hipotesis alternatif ( ) diterima.
Jadi terdapat pengaruh yang signifikan pembelajaran dengan menerapkan teori Van
Hiele terhadap hasil belajar matematika pokok bahasan luas segitiga, persegi panjang
dan persegi pada siswa kelas IV SDN Patrang 01. Guru dapat menerapkan Teori Van
Hiele dalam pembelajaran geometri. Karena berdasarkan hasil penelitian yang sudah
dilakukan, penggunaan teori Van Hiele dalam pembelajaran geometri terbukti lebih
baik dibandingkan dengan pembelajaran saintifik. Guru harus memperhatikan faktor
internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa terutama pada minat dan perhatian
serta motivasi belajar siswa
Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan FPB dan KPK Siswa Kelas IV SDN Kepatihan 01 Jember
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan
pengaruh hasil belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan
model Problem Based Learning dengan siswa yang dibelajarkan dengan model
ekspositori pokok bahasan FPB dan KPK siswa kelas IV SDN Kepatihan 01
Jember?”. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pengaruh model Problem
Based Learning terhadap hasil belajar pokok bahasan FPB dan KPK pada siswa
kelas IV SDN Kepatihan 01 Jember
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) BERBANTUAN ALAT PERAGA KANCING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT SISWA KELAS IV SDN KARANGREJO 01 JEMBER
Berdasarkan data hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan
pada hari Sabtu, 12 Agustus 2016 di kelas IV SDN Karangrejo 01 Jember,
interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa saat pembelajaran
masih kurang baik, siswa cenderung individualis, pasif dan pembelajaran berpusat
pada guru. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV SDN Karangrejo
01 Jember, metode pembelajaran yang digunakan masih metode ceramah, tanya
jawab dan penugasan, serta penggunaan alat peraga belum optimal. Berdasarkan
dokumen hasil ulangan harian matematika kelas IV SDN Karangrejo 01 Jember
secara klasikal diperoleh rata-rata hasil belajar siswa 56,8 dengan kriteria kurang
baik.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian dengan
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan alat peraga
kancing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun rumusan
masalah dalam penelitian ini ada 3, yaitu: (1) bagaimanakah penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan alat peraga kancing untuk pokok
bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat siswa kelas IV SDN
Karangrejo 01 Jember?; (2) bagaimanakah peningkatan aktivitas belajar pokok
bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan alat peraga kancing siswa kelas IV
SDN Karangrejo 01 Jember?; dan (3) bagaimanakah peningkatan hasil belajar
pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan alat peraga kancing siswa
kelas IV SDN Karangrejo 01 Jember?.
Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK dengan menggunakan model
skema Hopkins. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Siklus I terdiri dari 3
pertemuan yaitu 2 kali pembelajaran dan 1 kali tes akhir siklus I, pada siklus 2
terdiri dari 2 pertemuan yaitu 1 kali pembelajaran dan 1 kali tes akhir siklus II.
Penelitian ini menggunakan 4 metode pengumpulan data yaitu observasi,
wawancara, dokumentasi, dan tes. Analisis data yang digunakan adalah analisis
data kualitatif. Subjek penelitian berjumlah 37 orang siswa, terdiri dari 18 siswa
laki-laki dan 19 siswa perempuan.
Hasil penelitian ini, dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT berbantuan alat peraga kancing pembelajaran dapat berjalan baik dari
adanya tahap penomoran, berdiskusi, dan pemberian jawaban, meskipun aktivitas
bertanya dan berpendapat masih berjalan kurang baik. Namun, bantuan alat
peraga dapat meningkatkan kemampuan berhitung dan memudahkan siswa
memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Dibuktikan
adanya peningkatan persentase aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 69,2%
(kriteria cukup aktif) menjadi 78,5% pada siklus II (kriteria aktif) dan peningkatan
rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 70,8 (kriteria baik) menjadi 80,1
rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II (kriteria sangat baik).
Saran yang perlu dipertimbangkan dari penelitian ini bagi guru, adanya
peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam penelitian ini hendaknya dapat
dijadikan referensi untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
berbantuan alat peraga dalam pembelajaran matematika dengan lebih memotivasi
siswa agar berani bertanya dan berpendapat.
Bagi pihak sekolah hendaknya mengupayakan adanya pengadaan sarana
dan prasarana khususnya alat peraga yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran
agar aktivitas dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik lagi, serta bagi peneliti
lain dapat dijadikan referensi bacaan untuk dikembangkan dalam penelitian
selanjutnya khususnya model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan
berbantuan alat peraga kancing
Literasi Matematika Berdasarkan Kemampuan Matematika Siswa Kelas VI SDN Jember Lor 05
Literasi matematika adalah kemampuan seseorang dalam merumuskan,
menerapkan, dan menafsirkan matematika dalam bermacam konteks. Dalam hal
ini termasuk kemampuan dalam bernalar secara matematis, menggunakan konsep,
fakta, dan prosedur. Diketahui pada saat observasi bahwa literasi matematika
siswa kelas VI SDN Jember Lor 05 masih rendah. Hal ini berkaitan pula dengan
kemampuan matematika siswa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, peneliti
tertarik untuk mengetahui apakah memang benar literasi matematika siswa kelas
VI SDN Jember Lor 05 tergolong rendah. Penelitian yang akan dilakukan terkait
dengan literasi matematika siswa dalam hal merumuskan masalah, menerapkan
konsep, dan menafsirkan hasil penyelesaian matematika yang ditinjau dari
kemampuan matematika rendah, sedang, dan tinggi.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk
mendeskripsikan literasi matematika berdasarkan kemampuan matematika siswa.
Penelitian ini dilakukan di SDN Jember Lor 05, dengan subjek penelitian 37 siswa
kelas VI. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu tes dan wawancara.
Metode analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis data deskriptif.
Berdasarkan hasil tes kemampuan matematika dari 37 siswa terdapat 5
siswa (13,5%) berkemampuan matematika rendah, terdapat 27 siswa (73%)
berkemampuan matematika sedang, dan 5 siswa (13,5%) berkemampuan
matematika tinggi. Hasil analisis data tes literasi matematika siswa menunjukkan
bahwa terdapat kecenderungan yang terlihat pada siswa berkemampuan
matematika rendah, sedang, dan tinggi dalam menyelesaikan soal literasi
matematika.
Siswa berkemampuan matematika rendah, literasi matematika siswa juga
cenderung rendah. Siswa berkemampuan matematika rendah memiliki kecenderungan tidak menuliskan dengan lengkap dan benar tentang apa yang
diketahui dan ditanyakan dari soal. Siswa belum mampu merumuskan masalah ke
dalam model matematika serta tidak menuliskan langkah-langkah penyelesaian
secara runtut. Siswa menyelesaikan soal dengan benar untuk soal pertama
meskipun tidak dapat menjelaskan konsep apa yang digunakan, sedangkan untuk
soal kedua dan ketiga tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
Siswa tidak menafsirkan hasil penyelesaian dan tidak menyimpulkan hasil
penyelesaian masalah yang paling tepat.
Siswa berkemampuan matematika sedang, cenderung memiliki literasi
matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang berkemampuan
matematika rendah. Siswa berkemampuan matematika sedang memiliki
kecenderungan untuk menuliskan tentang apa yang diketahui dan ditanyakan dari
soal. Siswa mampu merumuskan masalah kedalam model matematika namun
terdapat beberapa siswa yang tidak menuliskan langkah-langkah penyelesaian
secara runtut. Siswa menyelesaikan soal dengan benar tetapi terdapat penggunaan
konsep matematika yang kurang tepat. Siswa tidak menafsirkan hasil penyelesaian
dan tidak menyimpulkan hasil penyelesaian masalah yang paling tepat.
Siswa berkemampuan matematika tinggi, cenderung memiliki literasi
matematika yang tinggi pula. Siswa berkemampuan matematika tinggi memiliki
kecenderungan menuliskan secara benar dan tepat tentang apa yang diketahui dan
ditanyakan dari soal. Siswa merumuskan masalah ke dalam model matematika.
Siswa mampu merancang strategi penyelesaian permasalahan secara runtut,
menggunakan konsep matematika, dan menyelesaikan soal dengan tepat. Siswa
mampu menafsirkan hasil penyelesaian dan menyimpulkan hasil penyelesaian
masalah yang paling tepat.
Adapun saran agar penelitian ini dapat bermanfaat yaitu bagi guru,
diharapkan untuk membiasakan siswa mengerjakan soal literasi matematika atau
soal HOTS yang membutuhkan penalaran tinggi. Bagi peneliti selanjutnya, dapat
dijadikan referensi untuk melakukan penelitian sejenis. Hal yang perlu
diperhatikan bagi peneliti selanjutnya yaitu disarankan untuk membuat soal yang
dapat memungkinkan siswa untuk memenuhi semua indikator literasi matematika
PENERAPAN METODE DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN PECAHAN SISWA KELAS IV SDN SUMBER KALONG 01 JEMBER TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Pendidikan menurut Hamalik (1994:3) adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya
PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV DALAM PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT DI SDN TEMPEH KIDUL 01 TEMPEH - LUMAJANG
Pembelajaran matematika di tingkat dasar bertujuan sesuai dengan
kurikulum, guru cenderung menggunakan teknik pembelajaran yang berpusat
pada guru, dan bersifat verbal, sehingga membuat siswa kurang menyenangi
pelajaran matematika akibatnya hasil belajar menjadi rendah.
Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) mengetahui aktifitas siswa kelas IV
dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan dan pengurangan bilangan
bulat melalui penerapan metode demonstrasi dengan media tangga bilangan, (2)
mengetahui hasil belajar siswa kelas IV dalam pembelajaran matematika materi
penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui penerapan metode
demonstrasi dengan media tangga bilangan.
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tempeh Kidul 01 Tempeh –
Lumajang, yang terdiri dari 24 siswa, 10 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan.
Siswa dibagi menjadi 6 kelompok yang hiterogen. Penelitian ini menggunakan
Penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas yang
dilakukan sebanyak 2 siklus. Metode pengumpulan data melalui obeservasi, tes,
dan dokumentasi teknis. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif dan kuantitatif. Deskriptif kualitatif untuk menganalisis data berupa
observasi, dokumentasi, sedangkan deskriptif kuantitatif untuk menganalisis tes
individu. Pengambilan data mulai dilakukan tanggal 26 Pebruari 2010 sampai 15
Juni 2010, dengan subjek penelitian siswa kelas IV SDN Tempeh Kidul 01
Tempeh – Lumajang. Data yang dikumpulkan berupa aktifitas siswa, aktifitas
guru, dan tes individu.
Berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil observasi diketahui
bahwa persentase aktivitas siswa selama pembelajaran matematika dalam
penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat adalah: pada siklus I persentase
hasil aktivitas siswa dengan kriteria baik sebesar 58%; siklus II sebesar 92%.
Dari hasil tes akhir yang dilakukan siswa, terdapat 92% siswa dengan yang
tuntas. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa persentase ketuntasan
belajar siswa secara klasikal melebihi kriteria ketuntasan klasikal yang
ditentukan sekolah yaitu 75%.
Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa
penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika materi
penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dapat meningkatkan aktifitas
dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Tempeh Kidul 01 Tempeh – Lumajang
Profil Metakognisi Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Ditinjau Dari Kemampuan Matematika Dan Gender Siswa SMP Kelas VIII. Viii
Metakognisi adalah kesadaran seseorang tentang proses berpikirnya sendiri.
Metakognisi adalah cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berpikir
dan kemampuan mereka dalam menerapkan strategi belajar yang tepat. Siswa
yang mengelola kegiatan kognitifnya dengan baik memungkinkan dapat
menangani tugas dan menyelesaikan masalah dengan baik pula. Seperti yang
dikemukakan Omrod (2008:369) banyak siswa yang menganggap dalam
memecahkan masalah matematika tidak memerlukan kegiatan metakognisi
sehingga soal cerita yang mudah juga dapat membuat siswa salah dalam
mengerjakannya. Menyelesaikan soal cerita merupakan salah satu bagian dalam
melatih kemampuan pemecahan masalah sehingga diperlukan langkah-langkah
dan strategi yang tepat. Dalam hal ini metakognisi sangat diperlukan.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana profil metakognisi
dalam menyelesaikan soal cerita materi sistem persamaan linear dua variabel
ditinjau dari kemampuan matematika dan gender siswa SMP kelas VIII. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil metakognisi dalam menyelesaikan soal
cerita materi sistem persamaan linear dua variabel ditinjau dari kemampuan
matematika dan gender siswa SMP kelas VIII.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah enam siswa dari kelas VIII A
SMPN 1 Ambulu. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu: soal tes kemampuan matematika, soal cerita matematika, dan pedoman
wawancara. Berdasarkan analisis data validasi instrumen, ketiga instrumen
tersebut dinyatakan valid. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui
tes dan wawancara. Tes yang dilakukan ada 2 yaitu tes kemampuan matematika
untuk menentukan subjek penelitian dan tes soal cerita matematika. Fokus
penelitian ini yaitu satu siswa perempuan dan satu siswa laki-laki berkemampuan
matematika tinggi, satu siswa perempuan dan satu siswa laki-laki berkemampuan
matematika sedang, satu siswa perempuan dan satu siswa laki-laki berkemampuan
matematika rendah. Subjek yang terpilih diberikan tes soal cerita matematika dan
dilakukan kegiatan wawancara.
Berdasarkan hasil tes dan wawancara yang dilakukan, keenam subjek
melakukan semua kegiatan metakognisi. Siswa perempuan dan siswa laki-laki
berkemampuan matematika tinggi mampu melakukan kegiatan perencanaan,
pemantauan, dan evaluasi dengan lengkap yang ditunjukkan dengan tercapainya
semua indikator pada setiap tahap memahami soal, membuat rencana,
melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Siswa perempuan dan siswa lakilaki
berkemampuan sedang mampu melakukan kegiatan perencanaan dan
pemantauan tetapi kurang lengkap karena beberapa indikator tidak tercapai yaitu
tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanya dalam soal dan tidak mampu
menguji hasil yang diperoleh namun melakukan kegiatan evaluasi dengan
lengkap. Siswa perempuan berkemampuan matematika rendah melakukan
kegiatan perencanaan, pemantauan dan evaluasi tetapi kurang lengkap. Siswa lakilaki
berkemampuan matematika rendah melakukan kegiatan perencanaan dan
evaluasi dengan lengkap tetapi tidak melakukan kegiatan pemantauan dengan
lengkap. Kegiatan metakognisi siswa laki-laki berkemampuan matematika tinggi
berbeda dengan kegiatan metakognisi siswa laki-laki berkemampuan matematika
rendah. Kedua subjek sama-sama melakukan semua tahap akan tetapi untuk siswa
laki-laki berkemampuan matematika tinggi lebih lengkap karena semua indikator
tercapai sedangkan siswa laki-laki berkemampuan matematika rendah tidak
memenuhi beberapa indikator. Kegiatan metakognisi siswa perempuan
berkemampuan matematika tinggi juga berbeda dengan kegiatan metakognisi
siswa perempuan berkemampuan matematika rendah. Kedua subjek juga samasama
melakukan semua tahap akan tetapi untuk siswa perempuan berkemampuan
matematika tinggi lebih lengkap karena semua indikator tercapai
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING SISWA KELAS III SDN SUKAMAKMUR 02 JEMBER
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sukamakmur 02 Jember sejak tanggal
23 Januari 2016 sampai 31 Mei 2016 dengan subjek penelitian seluruh siswa kelas
III yang berjumlah 31 siswa dengan rincian 12 siswa laki-laki dan 19 siswa
perempuan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, tes dan
dokumentasi. Pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan model Problem
Based Learning pada materi operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan.
Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari
empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Siklus I terdiri
atas tiga pertemuan, namun hasil pembelajaran pada siklus I tidak memenuhi
indikator keberhasilan penelitian, sehingga perlu dilaksanakan siklus II terdiri atas
dua pertemuan guna memperbaiki kegiatan pembelajaran pada siklus I.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) persentase rata-rata aktivitas
belajar siswa pada siklus I sebesar 72%, kemudian meningkat menjadi 87% pada
siklus II; (2) rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 71, kemudian
meningkat menjadi 81 pada siklus II. Berdasakan hasil penelitian yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning
pada materi operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa Kelas III SDN Sukamakmur 02 Jember. Saran dari
penelitian ini adalah penerapan model Problem Based Learning dapat dijadikan
sebagai salah satu pilihan model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru
kelas untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar serta meningkatkan ketuntasan
belajar siswa yang rendah, diperlukan adanya kajian mengenai pengadaan berbagai
media pembelajaran guna memudahkan siswa SDN Sukamakmur 02 Jember dalam
mengikuti pembelajaran, serta bagi peneiliti lain sebelum melaksanakan siklus I,
sebaiknya peneliti berkodinasi dengan guru kelas agar pembelajaran dapat berjalan
dengan tertib sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik
- …
