1,721,001 research outputs found
Gambaran Kasus Kejadian Gigitan Ular Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Ssakit Perifer Di Jember (Retrospective Study Tahun 2016-2017)
Gigitan ular adalah salah satu faktor masalah kesehatan yang sangat sering
terjadi di negara tropis dan sub tropis. Berbagai komplikasi yang timbul akibat dari
gigitan ular berbisa memerlukan sebuah terapi suportif dan simtomatik, untuk
mendukung fungsi organ tersebut. Sementara menunggu pemulihan organ tersebut
akibat bisa ular dapat melakukan identifikasi komplikasi yang terjadi dan tata
laksana yang adekuat diperlukan untuk menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas pada kasus gigitan ular.
Tatalaksana keracunan yang disebabkan oleh gigitan hewan seperti ular
berbisa, atau kecelakaan yang disengaja sangat membutuhkan penilaian yang cepat,
sangat akurat dan pemberian terapi yang sangat tepat. Sehingga dapat
menyelamatkan nyawa pasien dan membuat pengobatan yang lebih efektif dan
lebih efisien dalam hal penanganan racun dari sebuah gigitan ular.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa gambaran kasus gigitan ular di
Instalasi gawat Darurat rumah sakit perifer di Jember. Desain penelitian yang
digunakan adalah obsevasi dengan melihat data di rekam medik. Populasi dalam
penelitian ini adalah pasien yang terkena gigitan ular di rumah sakit pereifer di
Jember (RSD kalisat dan RSD Balung). Teknik pengambilan sampel menggunakan
total sampling dengan melihat data rekam medik pasien yang terkena gigitan ular.
Alat pengumpul data yaitu lembar observasi prevalensi dan mortalitas.
Hasil penelitian didapatkan prevalensi gigitan ular di Rumah Sakit Kalisat
dan Rumah Sakit Umum Balung sebanyak 0,52%, angka morbiditas adalah 57 dan
91 kasus dengan persentase 100%, sedangkan angka kematiannya adalah 0 kasus
dengan persentase 0 % pada 2016 -2017. Hasil data prevalensi gigitan ular dan
angka morbiditas meningkat setiap tahun, sementara data tingkat kematian masih
belum ada.
Penanganan gigitan ular yang pertama yaitu mengidentifikasi ular yang
menggigit korban dengan cara di foto atau ada orang lain yang melihat kronologi
kejadian tersebut. Apabila memungkinkan untuk membawa ular yang menggigit ke
rumah sakit guna untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut. Setelah itu untuk korban
yang tergigit ular tidak perlu dilakukan pengikatan atau penghisapan pada area yang
tergigit dikarenakan itu dapat memperjelek keadaan pasien yang terkena gigitan
ular. Tindakan yang sebaiknya di lakukan jika membantu orang yang terkena
gigitan ular yaitu cukup dengan mengurangi aktifitas gerak pada area yang terkena
gigitan yang berguna untuk meminimalisir penyebaran bisa dan peningkatan
absorbsi sistemik bisa. Kemudian memposisikan pasien terlentang apabila tidak
mengalami mual dan muntah. Setelah itu membidai dengan elastic bandage di area
yang terkena gigitan agar tidak terjadi kontraksi lanjutan pada otot yang dapat
menimbulkan peningkatan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening.
Selanjutnya di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut dan
mendapatkan sabu (serum anti bisa ular)
Hubungan Tipe Kepribadian dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember
Hipertensi atau yang sering disebut dengan tekanan darah tinggi adalah
gangguan asimptomatik yang ditandai dengan adanya tekanan darah yang
meningkat secara terus menerus. Hipertensi ini disebut-sebut sebagai the silent
killer atau pembunuh yang tersembunyi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
adanya hipertensi yaitu gaya hidup (alkohol, merokok), obesitas (kegemukan),
kurangnya olahraga, keturunan, stres dan tipe kepribadian. Hipertensi yang
disebabkan oleh faktor tipe kepribadian ini yaitu hipertensi primer/ hipertensi
esensial yang penyebabnya tidak diketahui.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan tipe kepribadian
dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di RSD dr. Soebandi Kabupaten
Jember. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik menggunakan pendekatan
cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability
sampling dengan cara quota sampling. sampel penelitian sejumlah 84 orang.
Pengumpulan data tipe kepribadian introvert dan extrovert dilakukan
menggunakan Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) untuk mengukur tipe
kepribadian responden dan dilakukan pengukuran tekanan darah oleh perawat di
poli jantung untuk mengukur tekanan darah responden. Analisa data
menggunakan spearman rank dengan tingkat signifikansi 0,001.
Pada penelitian ini didapatkan nilai tengah tipe kepribadian responden
yaitu 18 yang termasuk dalam tipe kepribadian introvert dan nilai tengah tekanan
darah yaitu 150 mmHg. Hasil uji statistik spearman rank didapatkan p value =
0,001 yang berarti Ha gagal ditolak sehingga dapat diartikan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara tipe kepribadian dengan tekanan darah. Kekuatan
korelasi dengan nilai 0,375 yang berarti kekuatan korelasi lemah dengan arah
korelasi - (negatif) yaitu berlawanan arah, semakin rendah nilai tipe kepribadian,
maka akan semakin tinggi tekanan darah responden, atau semakin introvert maka
akan lebih berisiko memiliki tekanan darah yang tinggi.
Tipe kepribadian merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan
hipertensi. Tipe kepribadian berpengaruh terhadap munculnya hipertensi dapat
dilihat dari bagaimana seseorang menggunakan koping stresnya. Emosi negatif
dan pengendalian terhadap emosi tergantung dengan tipe kepribadian masingmasing individu. Stres yang ditentukan oleh tipe kepribadian merupakan salah
satu etiologi dari penyakit hipertensi.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan
antara tipe kepribadian dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di RSD dr.
Soebandi Kabupaten jember. Tipe kepribadian merupakan salah satu faktor yang
dapat menyebabkan hipertensi, maka dari itu tenaga kesehatan terutama perawat
harus memperhatikan dan melakukan pengkajian terhadap pasien hipertensi untuk
mengoptimalkan kesehatan psikologis pasien yang berdampak pada kesehatan
fisik
Gambaran Response Time Dan Lama Triage Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran respon time dan
lama triage di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung.
Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan (dokter dan perawat) yang
bertugas di IGD. Sampel yang digunakan adalah perawat IGD berjumlah 17 orang
dengan desain penelitian deskriptif kuantitafif dengan teknik total sampling,
terdapat satu variabel yang memuat dua unsur yaitu response time dan lama
triage. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi respon time dan lama
triage.
Hasil Response time di IGD RSD Balung rata-rata 2,42 menit, respon
time tercepat pada shift pagi rata-rata 1.89 menit dan terlama pada pada shift
malam rata-rata 2,76 menit, Triage di IGD RSD Balung rata-rata 2,36 menit,
triage tercepat pada shift pagi rata-rata 1,82 menit, dan terlama pada shift malam
rata-rata 2,59 menit. Responden tergolong kelompok umur produktif rata-rata
berumur 32,35 tahun, jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (64,70%), semua
petugas adalah berpendidikan tinggi dan lama kerja terbanyak adalah 1 – 5 tahun
(52,94%).
Karakteristik tenaga kesehatan meliputi pendidikan, umur, jenis kelamin,
lama bekerja, keterampilan, beban kerja, sikap, status ketenagaan, pelatihan dan
riwayat bekerja. Karena keterbatasan waktu dalam penelitian ini yang waktunya
singkat, sehingga karakteristik tenaga kesehatan belum diteteliti secara
menyeluruh, diharapkan peneliti selanjutnya memiliki waktu yang cukup sehingga
karakteristik bisa diteliti menyeluruh
Hubungan Spiritualitas Dengan Stres Pada Penderita Hipertensi di Poli Jantung RSU dr. H. Koesnadi Kabupaten Bondowoso
Stres menjadi salah satu faktor penyebab hipertensi. Hubungan stres dengan hipertensi terjadi melalui aktivitas saraf simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap pada seseorang. Spiritualitas merupakan salah satu koping untuk menangani stres. Seseorang yang memiliki spiritual tinggi dipercaya bahwa keyakinan dan hubungan dengan Tuhannya lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara spiritualitas dengan stres pada pasien hipertensi di Poli Jantung RSU dr. H. Koesnadi Kabupaten Bondowoso. Variable dalam penelitian ini adalah Spiritualitas dan Stres. Desain penelitian ini menggunakan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 84 responden yang diperoleh dengan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner Daily Spiritual Experience Scale (DSES) dan Perceived Stress Scale (PSS) pada tanggal 14-28 Agustus 2018. Hasil analisis bivariate dengan uji korelasi Spearman yaitu p value= 0,001 dan r= -0,429 (p<0,05), terdapat hubungan yang signifikan antara spiritualitas dengan stres pada penderita hipertensi. Seseorang yang memiliki spiritualitas yang baik dapat mengendalikan penyakit kronisnya dan membantu pasien untuk mengelola kondisinya dengan sabar, tenang dan dapat menentukan tujuan hidupnya. Saran bagi perawat dapat memberikan motivasi kepada pasien agar menerima penyakit serta meningkatkan kepatuhan dalam berobat
Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Intensi Bantuan Hidup Dasar Pada Perawat di Rsd Dr. Soebandi Jember
Based On the Theory of Planned Behaviour perspective, basic life support intention
is determined by attitudes, perception of a social norm, perceived self-efficacy,
control ability in performing basic life support. The aim of this study was to analyze
the validity and reliability of the basic life support intention questionnaire, which
was designed to measure basic life support intention among nurses. A total of 48
items were developed based on literature reviews encompassing four main
constructs: attitude, social norms, self-efficacy, and control ability. The
questionnaire then undergoing a validation process that included construct and
content validity (CVI), and reliability analysis, This study was conducted on nurses
in dr. Soebandi hospital jember. The questionnaire was distributed to 160 nurses,
of whom only 80 questionnaires returned. The results of the CVI test on 36
questionnaire statements found that the CVI value was in the range 0,85-1, while
the results of the construct validity test on 48 questionnaire statements were found
to be valid and obtained 21 statement items. Reliability test-retest results obtained
the value of coefficient correlation 0,75 and an alpha value of 0,669 which means
it is reliable. The final set of basic life support intention consisted of 21 items
measuring attitude (four items), social norms (seven items), self-efficacy (six items),
and control ability (four items) of practicing basic life support intention. Basic life
support intention questionnaire was shown to be a valid and reliable
PENGARUH TERAPI PSIKOEDUKASI TERHADAP INTENSI MELAKUKAN OPERASI KATARAK PADA PASIEN KATARAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JELBUK KABUPATEN JEMBER
Intention was required by cataract patients to do cataract surgery. One of the
intervention that can increase intention to perform cataract surgery is
psycoeducation therapy. This research aimed to analyze the effect of
psycoeducation theraphy to intention for doing cataract surgery on cataract
patients in public health center Jelbuk Jember. This research used preexperimental
design with one group pretest-posttest. The subjects of this study
were cataract patients who have cataract surgery in Public Health Center Jelbuk
Jember. This research used total sampling that consist of 16 people. The
instrument used an intention questionnaire. The result showed that
psycoeducation theraphy had an effect to the intention for doing cataract surgery
of cataract patients in public health center Jelbuk Jember, based on a statistical
Wilcoxon test with CI=95% showed that p value=0.034 is significant ( significant
p value<α=0.05). Psychoeducation can touch all of problem on cataract patiens
like, scared, unknown and financial proplem. Psychoeducation therapy can be
applied as a nursing intervention in patients with cataract who lack the intention
of cataracts
HUBUNGAN KADAR GULA DARAH DENGAN VISUS PADA PASIEN PASCA OPERASI KATARAK DIABETIKUM DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar gula darah
terhadap visus pada pasien pasca operasi katarak diabetikum di RSD dr. Soebandi
Jember. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan menggunakan rancangan
penelitian cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 30 orang. Teknik
sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen yang digunakan
berupa lembar checklist dan observasi. Analisa data yang digunakan adalah spearman
rank correlation dengan nilai signifikansi 5%.
Hasil penelitian diperoleh nilai p value = (α ≤ 0,000), artinya ada hubungan
antara kadar gula darah dengan visus pada pasien pasca operasi katarak diabetikum di
RSD dr. Soebandi Jember. Disamping itu, berdasarkan uji analisis spearman rank
correlation diperoleh nilai korelasi = -0,811 dengan memiliki arti kekuatan korelasi
kuat dan arah korelasi negatif sehingga semakin tinggi variabel kadar gula darah
maka semakin buruk pula visus pasca operasi.
Kesimpulan penelitian ini bahwa ada hubungan kadar gula darah dengan
visus pada pasien pasca operasi katarak diabetikum di RSD dr. Soebandi Jember.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja petugas
kesehatan dalam memberikan pelayanan yang lebih komprehensif dan juga dapat
menjadi referensi untuk petugas kesehatan mengulas kembali hasil pemeriksaan kadar
gula darah dengan visus di masa lalu
HUBUNGAN HEALTH LOCUS OF CONTROL DENGAN INTENSI MELAKUKAN OPERASI KATARAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEMPUREJO KABUPATEN JEMBER
Tujuan dari penelitian ini adalah menganilsa hubungan health locus of control dengan intensi melakukan operasi katarak di wilayah kerja Puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember. Variabel independen pada penelitian ini adalah health locus of control, variabel dependen adalah intensi melakukan operasi katarak. Desain penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan cara simple random sampling. Sampel penelitian sebanyak 84 orang dengan menggunkan perhitungan aplikasi G*Power 3 dengan standart effect size yaitu 0,30, menggunakan α error probability yaitu 0,05 dan power (1-β error probability) yaitu 0,80 maka didapatkan data dengan jumlah sampel sebesar 84 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Multidimensional Health of Control Scale (MHLCS) untuk mengukur health locus of control dan kuesioner intensi menjalani operasi katarak untuk mengukur intensi pasien katarak. Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan spearman rank.
Pada penelitian ini didapatkan nilai tengah HLC tertinggi pada dimensi IHLC yaitu 11.00, diikuti dengan PHLC dan CHLC nilai tengah yaitu 6.00. Nilai tengah intensi melakukan operasi katarak didapatkan nilai tengah 7.00. Hasil uji statistic menggunakan spearman rank menunjukan adanya korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah antara health locus of control dengan intensi melakukan operasi katarak ( p value = 0,001 dan r = 0,396). Berdasarkan hasil
penelitian ini didapatkan bahwa HLC memiliki hubungan positif dengan intensi
melakukan operasi katarak.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif dari health locus of control dengan intensi melakukan operasi katarak di wilayah kerja Puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember. Seseorang harus memiliki keyakinan terhadap sumber kontrol kesehatannya agar dapat meningkatkan intensi melakukan operasi katarak. Oleh karena itu, diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk mengkaji HLC dan intensi pasien katarak sehingga akan meningkatkan HLC dan intensi pasien katarak agar derajat kesehatannya menjadi meningkat. Pengaplikasian HLC dapat dikombinasikan dengan cara memberikan psikoedukasi tentang HLC, pentingnya pengendalian dan kesdaran diri sendiri untuk meningkatkan intensi pada pasien katarak untuk melakukan operasi katarak
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PERIOPERATIF KATARAK DENGAN INTENSI PASIEN MENJALANI OPERASI KATARAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEMPUREJO KABUPATEN JEMBER
Katarak merupakan sebuah penyakit yang disebabkan karena lensa mata mengalami kekeruhan. Kekeruhan terjadi karena penambahan cairan pada lensa mata yang dapat mengganggu daya penglihatan. Katarak yang tidak ditangani akan mengakibatkan kebutaan permanen. Penyembuhan katarak salah satunya dengan operasi. Sebelum menjalani operasi pasien katarak harus memiliki intensi atau niat terlebih dahulu. Intensi dapat terbentuk salah satunya dengan sebuah keyakinan dari sebuah perilaku. Keyakinan seseorang akan muncul salah satunya dengan adanya pengetahuan tentang suatu hal. Baik atau buruknya pengetahuan seseorang diukur dari tingkatan pengetahuan yang dia miliki. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perioperatif katarak dengan intensi pasien katarak menjalani operasi di wilayah kerja puskesmas Tempurejo kabupaten Jember. Variabel independen dari penelitian ini adalah tingkat pengetahuan tentang perioperatif katarak dan variabel dependen penelitian ini adalah intensi pasien katarak menjalani operasi.
Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel mengguanakan random sampling dengan metode cluster sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini sebesar 84 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan perioperatif katarak untuk mengukur tingkat pengetahuan responden tentang perioperatif katarak, dan kuesioner intensi menjalani operasi katarak untuk mengukur intensi responden menjalani operasi katarak. Teknik analisa data menggunakan uji statistik spearman rank dengan tingkat signifikan 0,05.
Pada penelitian ini didapatkan nilai rata-rata tingkat pengetahuan sebesar 4,12, dan rata-rata nilai intensi sebesar 5,8. Hasil uji statistik dengan sperman rank menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan tentang perioperatif katarak dengan intensi pasien katarak menjalani operasi. Nilai p value adalah 0,004 dan nilai r adalah 0,308. Hasil menunjukkan bahwa korelasi bersifat positif dengan tingkat keeratan lemah. Korelasi positif memiliki makna bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang perioperatif katarak maka semakin tinggi intensi menjalani operasi katarak.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perioperatif katarak dengan intensi pasien katarak menjalani operasi di wilayah kerja puskesmas Tempurejo kabupaten Jember. Rendahnya intensi pasien katarak untuk menjalani operasi dapat disebabkan salah satunya oleh rendahnya tingkat pengetahuan tentang perioperatif katarak. Diharapkan bagi tenaga keperawatan untuk dapat meningkatkan tingkat pengetahuan pasien tentang perioperatif katarak agar mereka bersedia untuk menjalani operasi katarak
Hubungan Antara Efikasi Diri Perawat dengan Profesionalisme Perawat di Ruang IGD Rumah Sakit di Kabupaten Jember Jember relationship between self efficacy and emergency nurses professionalism in hospital in Jember
Nurse professionalism is an important role in the healing process of
patients. Nursing services must meet the needs and demands of the community in
providing health services professionally. This study was conducted to determine
the relationship between the efficacy and professionalism of ED nurses in
hospitals in Jember Regency. This research is quantitative research with
correlational research design with a cross-sectional method. The sampling
technique used total sampling technique with a sample of 56 nurses. The results of
this study indicate that the average efficacy of nurses at the ED is 27.75 from a
minimum value of 17 and a maximum value of 40. The average value of
professionalism of nurses in three hospitals in Jember Regency is 61.91. The
results of the bivariate analysis of nurses' self-efficacy with the professionalism of
ED nurses using the Spearman test obtained a P value of 0.638 (p> α) which
means there is no relationship between the efficacy of nurses and the
professionalism of nurses in the hospital emergency room in Jember Regency.
This can be caused due to the high need or workload of nurses which causes
nurses to experience burnout or work stress, which can affect the decline in the
level of professionalism of nurses. Hospitals can pay attention to the factors that
can affect the professionalism of nurses so that nurses can increase
professionalism in work such as motivation, education, training, and length of
work
- …
