1,720,980 research outputs found

    Pengaruh Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan Bibit Asam Jawa dan Asam Manis (Tamarindus indica L.)

    Get PDF
    Tanaman asam merupakan tanaman penting yang mempunyai potensi, tetapi kurang diperhatikan. Tanaman asam mempunyai manfaat sebagai rempah dan jamu tradisional. Tidak ada penelitian mengenai bagaimana komposisi media tanam yang baik untuk asam jawa dan asam manis. Atas dasar tersebut dilakukan penelitian “Pengaruh Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan Bibit Asam Jawa dan Asam Manis (Tamarindus indica L.)”. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh komposisi media tanam terhadap pertumbuhan bibit asam jawa dan asam manis. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 sampai Desember 2017 di Pusat Inovasi Agroteknologi Universitas Gadjah Mada, Berbah, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap) faktorial 4 x 2 dan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama komposisi media  tanam  antara  tanah : pupuk kandang : arang sekam 4 : 0 : 0, tanah : pupuk kandang : arang sekam 2 : 1 : 1, tanah : pupuk kandang : arang sekam 1 : 2 : 1, tanah : pupuk kandang : arang sekam 1 : 1 : 2. Faktor kedua jenis asam antara: asam jawa dan asam manis. Data hasil pengamatan dianalisis varians pada tingkat keprcayaan 95%. Apabila terdapat beda nyata antar perlakuan, diuji lanjut dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Hasil yang diperoleh tidak terdapat pengaruh kombinasi perlakuan media  tanam terhadap pertumbuhan bibit asam jawa dan asam manis

    Pengaruh Lama Simpan dan Macam Wadah Penyimpanan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Panen Muda Jahe Merah (Zingiber Officinale Var. Rubrum. Rosc.)

    Get PDF
    Tanaman jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum. Rosc.) merupakan salah satu komoditas pertanian yang permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun baik di dalam maupun di luar negeri. Jahe merah dikembangkan karena memiliki khasiat sebagai bahan obat tradisional, bumbu masak, dan penghasil senyawa aromatik. Meskipun tanaman jahe merah telah lama dibudidayakan, namun peningkatan produksi jahe merah belum maksimal. Oleh karena itu, selain perluasan area tanam, penggunaan benih bermutu menjadi salah satu upaya dalam menunjang keberhasilan peningkatan produksi jahe merah di Indonesia, Mutu benih sebelum ditanam harus terjaga agar tanaman jahe merah dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian untuk mendapatkan lama simpan dan macam wadah penyimpanan yang berpengaruh paling baik terhadap mutu benih, pertumbuhan dan hasil jahe merah. Lama penyimpanan yang diterapkan yaitu 0 bulan, 1 bulan, dan 2 bulan, dan macam wadah yang digunakan adalah kotak anyaman bambu (besek), karung beras, dan plastik hermetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penyimpanan sampai dengan 2 bulan menggunakan ketiga macam wadah penyimpanan berupa keranjang anyaman bambu (besek), karung beras, dan plastik hermetik menghasilkan pertumbuhan dan bobot segar rimpang jahe merah yang sama baiknya

    Pengaruh Takaran Kombinasi Pupuk NPK dan Pupuk Organik Alami Diperkaya Mikroba Fungsional terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.)

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2015 di KebunPercobaan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, di Banguntapan, Bantul,Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan takaran kombinasi pupuk NPKdan pupuk organik alami diperkaya mikroba fungsional (POD) yang memberikanpertumbuhan dan hasil jagung optimal, dan mengetahui efektivitas POD dalammeningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung. Perlakuan disusun dalam rancanganacak kelompok lengkap faktor tunggal dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor yang diuji berupa takaran kombinasi pupuk NPK (NPK majemuk + urea) dan POD yangterdiri atas 7 aras yaitu tanpa pupuk (P0), 300 kg/ha NPK + 250 kg/ha urea (P1), 2ton/ha POD (P2), 300 kg/ha NPK + 250 kg/ha urea + 2 ton/ha POD (P3), 225 kg/haNPK + 187,5 kg/ha urea + 2 ton/ha POD (P4), 150 kg/ha NPK + 125 kg/ha urea + 2ton/ha POD (P5) dan 75 kg/ha NPK + 62,5 kg/ha urea + 2 ton/ha POD (P6). Datapengamatan dianalisis menggunakan ANOVA dengan taraf signifikasi 5% dan apabilaterdapat beda nyata dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test dengan tarafsignifikasi yang sama. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan dan hasil pipilankering biji jagung optimal (6,12 ton/ha) dicapai oleh perlakuan 300 kg/ha NPK + 250kg/ha urea (P1). Takaran kombinasi pupuk 225 kg/ha NPK + 187,5 kg/ha urea + 2ton/ha POD (P4) memberikan pertumbuhan dan hasil jagung (6,09 ton/ha) yang samabaiknya dengan takaran NPK standar (P1). POD sebanyak 2 ton/ha yangdikombinasikan dengan ¾ NPK standar (P4) efektif meningkatkan pertumbuhan danhasil jagung dengan nilai RAE mendekati 100%

    Pertumbuhan Gulma dan Hasil Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merrill) ‘Mallika’ terhadap Pengolahan Tanah dan Jarak Tanam di Lahan Pasir Pantai

    Get PDF
    Pengolahan tanah merupakan salah satu langkah penting dalam teknik budidayatanaman di lahan marginal seperti tanah pasir. Salah satu cara untuk meningkatkanproduktivitas adalah dengan pengaturan jarak tanam. Pengaturan jarak tanam yangtidak tepat akan menimbulkan tumbuhnya gulma. Penelitian ini bertujuan untukmenentukan jenis gulma sebelum dan sesudah perlakuan pengolahan tanah dan jaraktanam terhadap pertumbuhan gulma dan hasil kedelai hitam. Penelitian dilaksanakandi lahan pasir pantai Samas, Bantul pada bulan Oktober 2014 sampai dengan Februari2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial yangterdiri dari dua faktor yaitu pengolahan tanah (tanpa olah tanah, olah tanah, olah tanahdengan pembenaman gulma) dan jarak tanam (20 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm).Hasilpenelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengolahan tanah dan pembenaman gulmadengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dapat meningkatkan jumlah polong isi, jumlah bijiper tanaman, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji Secara keseluruhan sebelumpengolahan tanah didominasi oleh gulma rumputan dan setelah pengolahan tanahdidominasi oleh gulma daun lebar. Pertumbuhan gulma Axonophus compressus danCynodon dactylon dapat terkendali

    PENGARUH KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN AKAR DUA FASE WARNA BATANG PADA STEK BATANG BAWAH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Agr)

    Get PDF
    Ketersediaan biji karet sebagai bahan tanam untuk batang bawah seringkali terkendala iklim serta musim biji yang hanya ada satu kali dalam setahun. Stek batang karet dari tanaman seedling dilakukan sebagai upaya dalam memenuhi ketersediaan batang bawah dengan penambahan auksin untuk memicu pertumbuhan akar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi auksin dan fase warna batang yang paling tepat untuk pertumbuhan akar pada stek batang bawah karet. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Getas pada bulan Februari sampai September 2018. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor yaitu fase warna batang dan konsentrasi IBA dengan jumlah 60 tanaman setiap perlakuan sebagai ulangan. Faktor pertama adalah fase warna batang yang terdiri dari dua yaitu cokelat dan hijau. Faktor kedua yaitu konsentrasi IBA yang terdiri dari 0, 100, 200, dan 300 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek batang cokelat dengan konsentrasi IBA 100 ppm memberikan respon terbaik pada persentase berakar sebesar 54,84% dan panjang akar 7,93 cm, sedangkan stek batang hijau menunjukkan hasil terbaik pada perlakuan IBA 300 ppm dengan persentase berakar sebesar 34,38% dan panjang akar 5,83 cm pada pengamatan 3 Bulan Setelah Stek. Panjang akar stek pada 6 BSS tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata baik pada perlakuan penambahan IBA maupun warna batang

    Pengaruh Jenis Bahan Tanam dan Takaran Kompos Blotong terhadap Pertumbuhan Awal Tebu (Saccharum officinarum L.)

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan pada 20 Mei sampai dengan 17 September 2015 di Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui pengaruh jenis bahan tanam yaitu budchip, budset, dan bagal terhadap pertumbuhan awal tebu. 2) Mengetahui takaran kompos blotong yang tepat terhadap pertumbuhan awal tebu. 3) Mengetahui pengaruh jenis bahan tanam tebu pada berbagai takaran kompos blotong (filter cake) terhadap pertumbuhan awal tebu. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga blok sebagai ulangan. Percobaan ini terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah jenis bahan tanam terdiri dari tiga aras yaitu budchip, budset, dan bagal. Faktor kedua adalah dosis blotong yang terdiri dari 4 aras yaitu: 0 (kontrol), 5, 10, dan 15 ton/ha, Pengamatan dilakukan terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah anakan, jumlah ruas, bobot segar, bobot kering, luas daun dan luas akar. Data dianalisis menggunakan analisis varian pada level 5% dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test jika hasil analisis varian menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Tanaman tebu yang berasal dari budchip dan budset memiliki jumlah anakan, jumlah daun, bobot segar, bobot kering, laju asimilasi bersih, dan laju asimilasi bersih yang lebih baik daripada tanaman tebu yang berasal dari bagal. Tanaman tebu yang diberi kompos blotong memiliki pertumbuhan yang lebih baik daripada tanaman yang tidak diberi takaran kompos blotong, tanaman tebu dengan perlakuan takaran kompos blotong 10 dan 15 ton/ha, dan memiliki pertumbuhan yang secara nyata lebih baik dibanding perlakuan yang lain pada parameter jumlah anakan, jumlah daun, jumlah ruas, bobot segar dan bobot kering

    Pengaruh Proporsi Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tumpangsari Kubis (Brassica oleracea Var. Capitata L.) dengan Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)

    Get PDF
    Jumlah penduduk di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan penurunan luas kepemilikan lahan pertanian karena permintaan lahan pemukiman yang tinggi. Selain itu, juga akan berdampak terhadap kuantitas produksi sayuran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kubis dan tomat merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang tinggi. Tumpangsari merupakan salah satu program intensifikasi pertanian untuk meningkatkan hasil dan produktivitas lahan dalam satu musim tanam. Pengaturan proporsi tanaman perlu diperhatikan karena untuk mendapatkan proporsi tanaman yang optimal, sehingga dapat meningkatkan efisien penggunaan lahan dan me­ningkat­­kan produksi kedua tanaman. Penelitian ini berjudul “Pengaruh Proporsi Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tumpangsari Kubis (Brassica oleracea var. Capitata L.) dengan Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)”. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan kombinasi perbandingan jumlah tanaman yang memberikan produktivitas lahan yang menguntungkan dalam sistem tumpangsari kubis dan tomat. Penelitian dilaksanakan pada Juni–September 2017 di lahan sawah di daerah Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan lima pelakuan dan tiga blok sebagai ulangan. Faktor yang diuji adalah perbandingan jumlah tanaman atau proporsi populasi yaitu 100% kubis; 25% kubis : 75% tomat; 50% kubis : 50% tomat; 75% kubis : 25% tomat; dan 100% tomat. Hasil penelitian menunjukkan tumpangsari dengan proporsi 75% kubis dan 25% tomat memberikan produktivitas lahan dan pendapatan ekonomi yang menguntungkan sebab nilai kesetaraan lahan lebih dari satu (NKL <1), yaitu 1,13 dan nilai ekonomi sebesar Rp 76.773.870,-

    Pengaruh Bahan Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) Tercekam Salinitas

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh macam bahan organik berupa pupuk kandang ayam dan pupuk hijau azolla dalam mengurangi dampak cekaman salinitas pada tanaman padi. Rancangan perlakuan yang digunakan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) Faktorial. Penelitian ini dilakukan dengan mengaplikasikan jenis bahan organik berbeda pada beberapa tingkat salinitas. Perlakuan jenis bahan organik terdiri dari tiga aras yakni tanpa bahan organik (B0), penggunaan pupuk kandang ayam (B1), dan penggunaan pupuk hijau azolla (B2), sedangkan perlakuan tingkat salinitas terdiri dari empat aras yaitu EC <0,4 dS/m atau kontrol (S0), 2,5 dS/m (S1), 5 dS/m (S2) dan 7,5 dS/m (S3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interkasi antara perlakuan tingkat salinitas dan jenis bahan organik. Terjadi penurunan pertumbuhan dan hasil secara nyata pada tanaman padi varietas IR-64 yang tercekam salinitas dimulai dari tingkat salinitas 2,5 dS/m pada parameter pertumbuhan luas daun, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot kering total tanaman. Sementara pada parameter hasil terjadi penurunan pada panjang malai, bobot malai, jumlah gabah per malai, bobot 100 butir gabah bernas dan bobot gabah kering giling total per rumpun. Pupuk kandang ayam menghasilkan tinggi tanaman tertinggi, sedangkan pupuk hijau azolla memberikan hasil tertinggi pada bobot segar tajuk, bobot segar akar, bobot kering akar, jumlah anakan, bobot kering total tanaman dan jumlah malai

    Pengaruh Bobot Rimpang dan Tempat Penyimpanan terhadap Mutu Bibit Rimpang Jahe (Zingiber officinale Rosc.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bobot rimpang dan tempat penyimpanan terhadap kualitas bibit jahe (Zingiber officinale Rosc.), Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, yang berlokasi di Banguntapan, Bantul, pada bulan Mei 2014 hingga Desember 2014. Rancangan percobaan yang digunakan  Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor perlakuan, yaitu bobot rimpang dan tempat penyimpanan. Perlakuan bobot rimpang berupa bobot rimpang berukuran kecil (10 gram), bobot rimpang berukuran sedang (30 gram), bobot rimpang berukuran besar (50 gram). Perlakuan tempat penyimpanan berupa penyimpanan di plastik hermatik, penyimpanan di karung beras, dan penyimpanan di rak terbuka. Rimpang hasil panenan disimpan selama 1 hingga 4 bulan untuk diamati mutu fisiknya, kemudian dikecambahkan selama 2 bulan untuk mengetahui mutu bibitnya. Di akhir pengamatan, perlakuan bobot rimpang memberikan hasil gaya berkecambah dan indeks vigor hipotetik yang tidak berbeda nyata, sedangkan perlakuan tempat penyimpanan di plastik hermatik memberikan hasil gaya berkecambah dan indeks vigor hipotetik yang nyata lebih tinggi. Dapat disimpulkan bahwa ketiga perlakuan bobot tidak memberikan mutu bibit yang berbeda, dan pernyimpanan di plastik hermatik memberikan mutu bibit yang paling baik hingga akhir pengamatan. Kombinasi bobot rimpang besar dan penyimpanan di plastik hermatik memberikan interaksi yang nyata lebih tinggi pada parameter berat kering akar dan luas akar total
    corecore