1,721,048 research outputs found
PENGARUH BEBERAPA SUMBER KARBON TERHADAP PEMBENTUKAN KALUS PADA KULTUR ANTERA DUA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.)
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sehingga diperlukan peningkatan produksi. Salah satu faktor untuk penigkatan produksi padi adalah dengan menggunakan varietas unggul padi. Perakitan varietas unggul padi telah banyak dikembangkan oleh para pemuliaan tanaman dengan cara konvensional seperti pedigree. Perakitan varietas unggul selain dengan menggunakan pemulia tanaman secara konvensional, saat ini telah banyak dilakukan perbanyakan tanaman secara inkonvensional menggunakan bioteknologi. Salah satu bioteknologi yang digunakan untuk mendapatkan varietas unggul padi adalah kultur antera. Kultur antera adalah salah satu cara perbanyakan tanaman secara in vitro untuk mendapatkan tanaman haploid. Antera yang membentuk kalus merupakan awal proses untuk mendapatkan tanaman haploid.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui varietas dan sumber karbon yang paling baik dalam pembentukan kalus dari kultur antera padi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember pada bulan Maret 2015 sampai November 2015. Penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif. Penelitian ini menggunakan 2 faktor yaitu sumber karbon dan varietas padi dengan 5 kali ulangan. Sumber karbon yang digunakan yaitu glukosa 20 g/L, sukrosa 20 g/L dan maltosa 20 g/L sedangkan dua varietas yang digunakan adalah varietas padi Ciherang dan varietas padi IR64. Variabel yang digunakan dalam penelitian yaitu awal terbentuknya kalus yang dihitung pada awal antera mampu membentuk kalus, berat segar kalus ditimbang pada akhir pengamatan, persentase kalus dihitung diakhir pengamatan, tekstur dan warna kalus dilihat pada akhir pengamatan
PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KALIUM DAN KONSENTRASI GIBERELIN TERHADAP HASIL TANAMAN MELON (Cucumis melo L.)
Kandungan Natrium Daun Pada fase Pertunasan Tebu (Saccharum officinarum, L.) Akibat Aplikasi Sipramin
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar natrium pada jaringan daun akibat aplikasi sipramin dan pengaruh perbedaan kandungan natrium pada jaringan daun terhadap kandungan sukrosa daun. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa aplikasi sipramin yang berlebihan menyebabkan kadar natrium tanah dan jaringan daun tebu meningkat dan kandungan natrium dalam jaringan daun yang tinggi menyebabkan pembentukan sukrosa pada daun mentimun
“Pengaruh Konsentrasi Pupuk Daun dan Media Tanam terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Dendrobium Hasil Persilangan (Dendrobium celebes star x Dendrobium lasianthera)
Dendrobium sp merupakan salah satu genus anggrek yang memiliki jumlah
species terbesar diIndonesia dibandingkan dengan beberapa genus anggrek
lainnya. Pertumbuhan anggrek pada fase pembibitan mengalami kendala,
diantaranya disebabkan oleh komposisi dan konsentrasi pemberian pupuk daun
dan penggunaan media tanam. Komposisi pupuk NPK berperan penting dalam
menunjang pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh penggunaan pupuk daun dengan komposisi NPK
(21:21:21), serta media tanam yang sesuai untuk Dendrobium hasil persilangan
(D. celebes star x D. lasianthera. Penelitian dilaksanakan selama 120 hari dimulai
pada bulan Februari 2019 di Green House Agronomi Fakultas Pertanian
Universitas Jember. Metode percobaan menggunakan RAL (Rancangan Acak
Lengkap) faktorial dengan dua faktor, yaitu pupuk daun dan media tanam. Faktor
pertama yaitu aplikasi pupuk daun yang terdiri dari 6 taraf yaitu 0 g/l (P0), 1 g/l
(P1), 2 g/l (P2), 3 g/l (P3), 4 g/l (P4), dan 5 g/l (P5). Faktor kedua yaitu media
tanam terdiri dari 3 jenis yaitu sphagnum moss (M1), sabut kelapa (M2), dan akar
kadaka (M3). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan metode sidik ragam (ANOVA). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk daun 4 g/l dikombinasikan
dengan media sabut kelapa, memberikan hasil terbaik dalam berat kering
tanaman. Konsentrasi pupuk 4 g/l merupakan konsentrasi optimal untuk
meningkatkan berat segar, kandungan klorofil, total jumlah daun, serta jumlah
tunas. Media sabut kelapa berkontribusi meningkatkan berat segar, jumlah akar,
jumlah daun, jumlah tunas, serta volume akar. Media tanam akar kadaka berperan
dalam meningkatkan panjang akar tanaman
INDUKSI SOMATIC EMBRYOGENESIS SECARA LANGSUNG DENGAN MODIFIKASI BAP DAN IAA PADA TANAMAN TEMBAKAU (Nicotiana tabaccum L) VARIETAS H-382
Tembakau merupakan tanaman musiman yang tergolong sebagai tanaman perkebunan. Tembakau yang dikenal sebagai bahan baku pembuatan rokok memiliki kegunaan yang sangat banyak. Selain digunakan sebagai bahan baku rokok, tembakau juga digunakan sebagai susur dalam bahasa Jawa atau dikunyah oleh ibu-ibu dipedesaan. Manfaat tembakau diantaranya sebagai antioksidan karena mengandung polifenol, yaitu chlorogenik yang dapat menangkal radikal bebas.
Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk mengetahui konsentrasi BAP, IAA dan kombinasinya yang optimal untuk perbanyakan tembakau varietas H382 melalui jalur somatik embriogenesis secara langsung dan menghasilkan planlet tembakau varietas H382 yang seragam. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dari itu dilaksanakan penelitian ini di laboratorium Kultur Jaringan, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember, mulai tanggal 01 Januari sampai dengan 30 juni 2015.
Penelitian ini menggunakan tembakau varietas H382 dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 (dua) faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi BAP (B) terdiri dari 4 (empat) level, yaitu B0 (tanpa pemberian BAP/ konrtol 0 ppm), B1 ( konsentrasi BAP 2,0 ppm), B2 (konsentrasi BAP 2,5 ppm), dan B3 (konsentrasi BAP 3 ppm). Faktor kedua yaitu konsentrasi IAA (I) terdiri dari 4 (empat) level yaitu I0 (tanpa konsentrasi IAA/ kontrol 0 ppm), I1 (konsentrasi IAA 0,1 ppm), I2 (konsentrasi IAA 0,2 ppm), dan I3 (konsentrasi IAA 0,3 ppm). Percobaan ini disusun secara faktorial yang diulang sebanyak 4 (empat) kali. Data dianalisis dengan Anova apabila terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan maka dilanjutkan dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: perlakuan kombinasi antara konsentrasi BAP 3,0 ppm dan konsentrasi IAA 0,2 ppm (B3I2) dapat memicu pertumbuhan eksplan daun tembakau ditunjukkan dengan parameter jumlah tunas tertinggi dengan rerata 5,5; tinggi tunas tertinggi dengan rerata 5,00; jumlah daun tertinggi dengan rerata 22,50; dan panjang akar tertinggi dengan rerata 9,01 dibandingkan dengan perlakuan yang lain
Karakterisasi Tetua Persilangan Anggrek Genus Dendrobium Dan Identifikasi Planlet Anggrek Hasil Persilangan Secara Molekuler Sebagai Pendugaan Pewarisan Sifat
Pemuliaan tanaman anggrek meliputi koleksi tetua persilangan, proses karakterisasi, persilangan antar tetua, perkecambahan biji, pembentukan protokorm, regenerasi planlet dan aklimatisasi planlet. Banyak sekali aspek yang harus dipelajari dan diperhatikan oleh pemulia tanaman anggrek, terutama proses fisiologi dan identifikasi molekuler tanaman. Anggrek spesies memiliki sumber genetik yang tinggi untuk perbaikan dan peningkatan mutu genetik, tetapi berbagai permasalahan pada kesalahan prosedur persilangan, kendala dalam teknik perbanyakan serta eksploitasi anggrek spesies membuat pemanfaatan anggrek spesies sebagai tetua persilangan masih rendah dan belum maksimal. Selain itu, kegiatan pemuliaan tanaman anggrek sering kali meninggalkan proses pencatatan sumber benih berupa pollen parent dan seed parent. Sumber benih merupakan syarat wajib bagi pemulia tanaman anggrek yang akan mendaftarkan anggrek hibrida pada Royal Horticultural Society, UK. Oleh karena itu dilakukan penelitian pemuliaan tanaman anggrek yang meliputi analisis klaster hubungan kekerabatan, identifikasi karakter (karaktersiasi) morfologi secara lengkap, perbaikan mutu genetik dan peningkatan potensi tanaman anggrek melalui persilangan interspesifik dan resiprokal, identifikasi maternal inheritance secara molekuler untuk mengetahui pewarisan sifat pada planlet anggrek hasil persilanga
PENGARUH BAP (benzylaminopurine) DAN IBA (Indole-3-butyric Acid) TERHADAP INDUKSI KALUS TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha Curcas L.)
Jarak pagar ( Jatropha Curcas L.) sangat berpotensi sebagai biodiesel,
karena tidak bersaing dengan tanaman penghasil pangan, tidak dimakan binatang
karena beracun, tanaman ini mudah beradaptasi di lapangan,pertimbangan
lingkungan untuk mengurangi polusi, tidak tergantung pada bahan bakar fosil,
kesempatan bisnis baru untuk pendapatan petanidan kegiatan produksi bahan
bakar lebih terdesentralisasi. Namun, terdapat beberapa tantangan dalam
pengembangan jarak pagar itu sendiri, diantaranya (1) produksi rendah, (2)
teknologi budidaya masih kurang, dan (3) nilai jual masih rendah (Syakir, 2010).
Untuk menjawab tantangan tersebut dibutuhkan teknologi yang dapat
meningkatkan produksi dari jarak pagar tersebut, salah satunya adalah dengan
transfer genetic yang dapat dicapai dengan kultur jaringan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi BAP dan
IBA terhadap induksi kalus eksplan tangkai daun tanaman jarak pagar. Penelitian
dilaksanakan pada bulan November 2016 hingga Oktober 2017 di Laboratorium
Kultur Jairngan, Fakultas Pertanian Universitas Jember menggunakan Rancangan
Acak Lengkao (RAL) faktorial. Perlakuan BAP dan IBA yang diberikan terhadap
eksplan tangkai daun tersebut diantaranya BAP : Bo (0 ppm); B1 (1,0 ppm); B2
(3,0); dan B3 (5,0) yang dikombinasikan dengan IBA : Io (0 ppm); I1 (0,5 ppm); I2
(1,0); dan I3 (1,5) dengan empat kali ulangan. Pelaksanaan penelitian dimulai dari
pembuatan media, sterilisasi peralatan, sterilisasi eksplan yang dilanjutkan induksi
kalus. Variabel pengamatan dari penelitian ini diantaranya adalah kedinian
munculnya kalus, warna kalus dan tekstur kalus.
Hasil analisis ragam menunjukkan variabel pengamatan kedinian
munculnya kalus berbeda sangat nyata. Hasil penelitian didapatkan pertumbuhan
kalus dari eksplan tangkai daun tanaman jarak pagar cenderung lebih baik pada
perlakuan B1I3. Pada perlakuan tersebut, kedinian munculnya kalus sekitar 13-14
hari setelah tanam. Kalus yang didapat merupakan kalus bertekstur friable
(remah) dengan warna hijau kekuningan (7,5 GY 7/10)
PENGARUH KONSENTRASI JENIS PUPUK TERHADAP PEMBENTUKAN UMBI MIKRO TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) SECARA HIDROPONIK
Kentang merupakan salah satu komoditas yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat dalam rangka menunjang program diversifikasi pangan. Kentang memiliki kandungan karbohidrat sebesar 12,1% dan protein 4,04%. Produksi kentang Indonesia hingga saat ini belum dapat mencukupi kebutuhan kentang Indonesia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan komoditas kentang, sedangkan produksi kentang di Indonesia masih stagnan. Pada tahun 2013, luas panen kentang meningkat (70.187 ha), namun produktivitas kentang justru mengalami penurunan (16,02 ton/ha) dibandingkan tahun 2012. Produktivitas kentang yang rendah mengakibatkan produksi juga rendah. Salah satu faktor yang mengakibatkan rendahnya produksi kentang di Indonesia adalah mutu bibit yang kurang baik. Salah satu cara memperoleh bibit kentang yang bermutu tinggi dapat dilakukan dengan perbanyakan tanaman secara in vitro atau kultur jaringan. Penggunaan teknik kultur jaringan dapat menghasilkan bibit kentang dengan jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat dan tidak tergantung pada iklim dan musim. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perbanyakan umbi mikro tanaman kentang dengan cara hidroponik substrat. Kentang membutuhkan nutrisi untuk tumbuh dan berkembang. Jumlah unsur hara yang dibutuhkan kentang harus disediakan melalui media tanam. Kandungan hara makro dan mikro pada masing-masing pupuk berbeda. Beberapa jenis pupuk yang dapat digunakan dengan konsentrasi hara yang berbeda antara lain: Growmore, Vitabloom, Hyponex Merah, Baypolan, dan Super Vit. Jenis pupuk yang berbeda memiliki konsentrasi yang berbeda pula, sehingga memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tanaman kentang. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan planlet dan konsentrasi jenis pupuk di dalam teknik hidroponik substrat. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas umbi mikro kentang yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi jenis pupuk terhadap pembentukan umbi mikro dan total umbi mikro tanaman kentang secara hidroponik substrat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Juli 2015 di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian Universitas Jember. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan tersebut terdiri atas Growmore 0,006 ppm, Vitabloom 0,002 ppm, Hyponex Merah 0,003 ppm, Baypolan 0,009 ppm, dan Super Vit 0,002 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingi tanaman, jumlah daun, panjang akar, jumlah umbi, berat umbi, dan volume umbi terbaik adalah perlakuan Vitabloom 0,002 ppm. Konsentrasi pupuk Vitabloom 0,002 ppm mampu membentuk umbi mikro paling baik dibandingkan konsentrasi jenis pupuk lainnya. Total umbi mikro paling banyak yakni pada perlakuan konsentrasi pupuk Vitabloom 0,002 ppm sebesar 0,59 buah
TRANSFORMASI GEN SoSUT1 PADA TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L var. BL) TRANSGENIK OVEREKSPRESI GEN SoSPS1 MENGGUNAKAN VEKTOR Agrobacterium tumefaci
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan produk tanaman tebu sebagai
rintisan baru yang memiliki kandungan sukrosa lebih tinggi. Metode yang digunakan
adalah Transformasi Genetik dengan menyisipkan Gen SoSUT1 ke dalam genom
tanaman tebu (Saccharum officinarum L. var. BL) yang pada penelitian sebelumnya
telah overekspresi gen SoSPS1 dengan menggunakan vektor transformasi berupa
bakteri gram negatif Agobacterium tumefaciens. Penelitian ini dilaksanan di
Laboratorium Divisi Bioteknologi dan Biologi Molekuler, CDAST (Center for
Development of Advanced Sciences and Technology) Universitas Jember mulai
November 2013 hingga Januari 2015. Penelitian pendahuluan terkait perbanyakan
eksplan dengan 5 macam formulasi media sebagai berikut: I: MS0; II: MS0 +
Glutamin 50 mgL-1; III: MS0 + Glisin 2 mgL-1; IV: MS0 + Glutamin 50 mgL-1 +
Glisin 2 mgL-1; V: MS0 + 2,4-D 2 mgL-1 + BAP 2 mgL-1, dapat diketahui bahwa
formulasi media terbaik untuk perbanyakan tunas adalah penggunaan komposisi
media MS0 + 2,4-D 2 mgL-1 + BAP 2 mgL-1 dengan rata rata hasil 7,67 tunas dari
tiga ulangan planlet. Sedangkan hasil analisis PCR untuk konfirmasi keberadaan gen
SoSUT1 hasil transformasi dan gen bawaan SoSPS1 didapati 5 planlet dengan kode
G5, H2, H3, J2 dan J3 yang positif mengekspreikan kedua gen tersebut, dengan
efektifitas transformasi sebesar 10% (5 tanaman) pada transformasi ke-4
KARAKTERISASI TANAMAN TEBU PRODUK REKAYASA GENETIKA OVEREKSPRESI GEN SoSUTI GENERASI KEDUA
Tebu produk rekayasa genetika (PRG) overekspresi gen SoSUT1 merupakan
tanaman tebu hasil transformasi gen SoSUT1 pada penelitian sebelumnya. Gen
SoSUT1 merupakan gen penyandi protein SUT (Sucrose Transporter) pada
tanaman tebu, sebagai protein translokator sukrosa dari organ fotosintat menuju
organ penyimpanan. Overekspresi gen SoSUT1 diharapkan dapat meningkatkan
kandungan protein SUT1 sehingga akumulasi sukrosa pada organ batang juga
dapat mengalami peningkatan. Penelitian ini ditujukan untuk karakterisasi
pertumbuhan, ekspresi gen SUT1, serta kandungan sukrosa pada tanaman tebu
PRG overekspresi gen SoSUT1 generasi kedua yang ditumbuhkan dalam pot
percobaan.
Karakterisasi tebu PRG diawali dengan konfirmasi keberadaan gen SoSUT1
dengan analisis PCR menggunakan pasangan primer F/R HptII. Hasil konfirmasi
gen SoSUT1 pada 42 tanaman PRG generasi kedua.yang berasal dari 13 event
dengan analisis PCR menunjukkan 39 tanaman positif mengandung gen SoSUT1
yang telah ditransformasikan ke dalam genom tanaman. Tanaman tebu PRG
overekspresi gen SoSUT1 generasi kedua memiliki kestabilan genetik sebesar
92,8%. Analisis westernblot dengan menggunakan antibody SUT1 menunjukkan
bahwa tanaman tebu PRG memiliki pita protein SUT1 lebih tebal dibandingkan
dengan wildtype. Analisis kandungan sukrosa daun menunjukkan bahwa secara
umum kandungan sukrosa daun pada tanaman tebu PRG lebih rendah daripada
tanaman kontrol. Hasil analisis sukrosa batang pada 14 event tanaman tebu PRG umur 9 bulan menunjukkan bahwa secara umum kandungan sukrosa batang
tanaman PRG lebih tinggi dariada kontrol. Analisis pertumbuhan berupa rata-rata
jumlah anakan menunjukkan tebu PRG secara umum memiliki jumlah anakan
lebih sedikit daripada tebu non-PRG (kontrol)
- …
