4 research outputs found
STUDI LABORATORIUM DRILL-IN FLUID BERBASIS AIR UNTUK MENGURANGI FORMATION DAMAGE PADA LINTASAN 8 ½ INCI PADA SUMUR X
Lintasan 8 ½ inci pada sumur X yang menembus formasi sandstone berporositas tinggi di kedalaman 3167 - 4772 ft menghadapi tantangan serius berupa kehilangan sirkulasi (lost circulation) dan potensi kerusakan formasi (formation damage). Permasalahan ini dapat menurunkan kestabilan sumur, meningkatkan risiko stuck pipe, serta menambah biaya operasi dan non-productive time (NPT). Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan formulasi lumpur berbasis air tipe drill-in fluid dengan penambahan polimer, inhibitor shale, agen pengendali filtrasi, dan material pengendali kehilangan sirkulasi (LCM). Metode penelitian meliputi pencampuran sampel menggunakan Hamilton Beach Mixer, kemudian dilakukan pengujian laboratorium terhadap sifat fisik dan kimia lumpur (mud weight, rheologi, filtrasi, pH, MBT, dan kadar K⁺) sesudah proses hot roll pada suhu 215 °F selama 16 jam untuk mensimulasikan kondisi bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesifikasi desain lumpur yang mampu menjaga kestabilan lubang bor sekaligus meminimalkan invasi filtrat ke dalam formasi produktif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa lumpur terformulasi memiliki densitas 9,05 ppg, viskositas plastis 18 cP, yield point 33 lb/100 ft², filtrat API 4,8 ml/30 menit, serta konsentrasi K⁺ 31.470 mg/l. Seluruh parameter yang diperoleh berada dalam rentang spesifikasi desain yang ditetapkan
Optimasi Sifat Reologi Lumpur KCl-Polymer Polyamine pada Suhu 300°F dengan Menggunakan XCD Polymer
The drilling fluid system is a crucial component in drilling operations. Problems commonly occur when penetrating formations containing reactive clay or shale, which may affect wellbore stability. Drilling fluid functions to maintain wellbore conditions; therefore, chemical additives are required to improve mud properties. This study aims to evaluate the mud properties of Water-Based Mud of the KCl Polymer Polyamine type through testing at original temperature, 200°F, 250°F, and 300°F. The measured parameters include mud weight, pH, rheology, API filtrate, solid content, MBT, K+, and Cl-. At 300°F, the rheological values did not meet the specification, requiring additional XCD Polymer of 0.1–0.4 ppb. The results indicate that adding 0.3 ppb XCD Polymer produces suitable rheological properties at high temperature. Mud preparation was performed by mixing and testing using mud balance, rheometer, API filtrate press, retort kit, and digital pH meter with Bentonite, NaOH, Starch, PAC-LV, Soltex, CaCO3, XCD, Barite, KCl-Polymer, and Polyamine
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS OIL-BASED DAN SYNTHETIC LUBRICANT DALAM MENINGKATKAN SIFAT PELUMASAN HIGH-PERFORMANCE WATER BASED MUD
Gesekan dan torsi yang tinggi pada operasi pengeboran dapat menyebabkan pipe stuck, keausan pada peralatan pemboran, dan bahkan bisa kehilangan kontrol sumur, sehingga memerlukan penambahan aditif pelumas. Penelitian ini membandingkan efektivitas oil-based lubricant (mineral oil) dan synthetic lubricant (polyglycol) pada konsentrasi 1% dalam meningkatkan sifat pelumasan HPWBM. Tiga sampel lumpur (non-lubricant, oil-based lubricant, synthetic lubricant) dikondisikan pada 300°F (149°C) selama 16 jam. Pengujian sifat rheologi, filtrasi, dan lubricity (coefficient of friction (CoF) dan torsi) dilakukan sesuai standar API. Penambahan lubricant tidak mempengaruhi densitas (SG 1,45), plastic viscosity (27 cP), dan pH (9,7). Namun, terjadi peningkatan yield point (21-23 lb/100ft²) dan low shear-rate yield point (2-5 lb/100ft²). Oil-based lubricant terbukti lebih efektif menurunkan CoF dari 0,28 menjadi 0,23 (penurunan 12,86%), sedangkan synthetic lubricant hanya menurunkan CoF menjadi 0,26 (penurunan 5,48%). Meskipun oil-based lubricant menunjukkan kinerja tribologis yang lebih unggul, synthetic lubricant dapat menjadi alternatif yang ekonomis untuk operasi pengeboran dengan anggaran terbatas atau pada formasi yang tidak terlalu menuntut performa pelumasan tinggi
ANALISIS EFEKTIVITAS LUMPUR KCL POLYMER UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN HOLE CLEANING PADA TRAYEK 12-1/4” FORMASI SHALE BERTEKANAN TINGGI
Pembersihan lubang merupakan salah satu aspek krusial dalam operasi pengeboran, khususnya pada formasi shale bertekanan tinggi yang bersifat reaktif serta mudah mengalami pembengkakan akibat interaksi dengan fluida pemboran. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas lumpur berbasis KCl Polymer yang diaplikasikan pada hole berdiameter 12-1/4” dengan kedalaman 3167 ft dan temperatur formasi 165 °F. Fokus penelitian meliputi evaluasi kemampuan lumpur dalam menjaga stabilitas reologi, mengendalikan laju filtrat, serta meningkatkan efektivitas transportasi cutting untuk mencegah permasalahan operasional seperti tight hole, stuck pipe, dan keterlambatan pengeboran. Metodologi penelitian dilakukan melalui pembuatan lumpur KCl Polymer di laboratorium, kemudian diuji menggunakan peralatan standar untuk memperoleh parameter Yield Point (YP), Gel Strength (GS), Low Shear Rate Viscosity (LSRV), serta Cutting Carrying Index (CCI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lumpur KCl Polymer mampu menghasilkan nilai YP dan LSRV yang optimal dalam mendukung mekanisme pengangkutan cutting, menjaga GS pada tingkat memadai untuk mencegah pengendapan padatan saat sirkulasi berhenti, serta memberikan sifat inhibisi KCl yang efektif menekan potensi pembengkakan shale melalui mekanisme pertukaran ion. Secara keseluruhan, penggunaan lumpur KCl Polymer pada hole 12-1/4” terbukti efektif dalam mengatasi permasalahan hole cleaning pada formasi shale bertekanan tinggi, yang ditunjukkan oleh parameter reologi sesuai spesifikasi, densitas lumpur sebesar 13,70 ppg dalam rentang tekanan pori–fraktur, serta nilai CCI sebesar 3,686 yang menandakan kemampuan pengangkutan cutting berada pada kategori sangat baik
