1,720,987 research outputs found
PENENTUAN KADAR FLAVONOID PADA EKSTRAK DAUN TANAMAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROSKOPI INFRAMERAH DAN KEMOMETRIK
Flavonoid merupakan senyawa fenolik yang paling banyak ditemukan dalam tumbuhan, terdapat di beberapa bagian tanaman, terutama pada sel tanaman yang mengalami fotosintesis. Flavonoid diketahui memiliki aktivitas biologis diantaranya sebagai antivirus, antibakteri, antikanker, antioksidan, antiinflamasi, dan hepatoprotektor. Pada penelitian ini dilakukan penetapan kadar flavonoid dengan menggunakan instrumen spektroskopi inframerah karena metode analisis yang umum digunakan untuk menentukan kadar flavonoid membutuhkan tahapan analisis yang panjang dan waktu analisis yang cukup lama. Keuntungan menggunakan metode spektroskopi inframerah diantaranya adalah bersifat non destruktif, jumlah sampel yang dibutuhkan sedikit, hampir semua bentuk sampel dapat diteliti, dan teknik hampir tidak memerlukan pelarut kimia sehingga lebih ramah lingkungan.
Penetapan kadar dengan metode spektroskopi inframerah dan kemometrik ini memerlukan suatu analisis data multivariat (kemometrik) untuk mengekstrak informasi spektrum yang diperlukan dari spektrum inframerah dan menggunakan informasi spektrum tersebut untuk aplikasi kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan perangkat lunak The Unscrambler X 10.2. Teknik yang digunakan dari metode kemometrik untuk pembuatan model kalibrasi (analisis kuantitatif) dan model klasifikasi (analisis kualitatif) dalam penelitian ini masing-masing adalah Partial Least Square (PLS) dan Linear Discriminant Analysis (LDA). Penetapan kadar ini kemudian divalidasi dengan metode validasi silang (cross validation) Leave-One-Out dan 2-Fold Cross-Validation untuk menguji validitas model regresi Metode pembanding yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis dengan prinsip kolorimetri menggunakan pereaksi AlCl3 dengan standar kuersetin. Berdasarkan hasil penelitian, model PLS dengan spektroskopi NIR memberikan hasil terbaik dengan nilai R2 kalibrasi sebesar 0,9916499; R2 validasi sebesar 0,9893221; RMSEC sebesar 2,1521897, dan RMSECV sebesar 2,460588. Validasi model juga memberikan nilai yang baik dengan R2 LOOCV sebesar 0,9986664 dan R2 2-Fold-Cross-Validation sebesar 0,9823225. Model klasifikasi LDA yang digunakan pada pengkategorian antara matriks dengan sampel yang mengandung flavonoid memiliki akurasi sebesar 100%. Sedangkan penentuan kadar flavonoid dengan spektroskopi FTIR memberikan hasil yang kurang baik, karena nilai R2 kalibrasi sebesar 0,8653689 dan RMSEC sebesar 8,8958149, serta nilai LDA memiliki akurasi sebesar 86,84%.
Model PLS dan LDA dengan spektroskopi NIR yang telah terbentuk dan tervalidasi kemudian diterapkan pada sampel nyata sehingga diperoleh kadar flavonoid dalam sampel nyata. Kadar flavonoid pada sampel nyata yang diperoleh dari spektroskopi inframerah sebesar 36,3053 mg QE/g ekstrak untuk kapsul Stimuno dan 17,1862 mg QE/g untuk kapsul Daun salam. Hasil analisis ini kemudian dibandingkan dengan kadar yang diperoleh dari metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil penetapan kadar sampel yang diperoleh dari dua metode berbeda ini kemudian diuji dengan Uji T Dua Sampel Berpasangan dan dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar yang diperoleh tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai signifikansi 0,202, sedangkan pengkategorian sampel nyata dengan model LDA memberikan % kemampuan prediksi sebesar 100%
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENETAPAN KADAR FENOL TOTAL KOMBINASI EKSTRAK METANOL DAUN MANGGA GADUNG (Mangifera indica L. var. gadung) DAN EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
Senyawa fenolik merupakan produk alami yang memiliki sifat sebagai antioksidan yang dapat meredam radikal superoksida bebas, mempunyai sifat anti-aging yang baik untuk mengurangi resiko terjadinya kanker dan penyakit degeneratif lainnya. Mangga (Mangifera indica L.) merupakan salah satu tanaman asli dari Asia Tenggara. Kandungan senyawa polifenol dalam daun mangga yang besar diketahui memiliki banyak fungsi termasuk sebagai antioksidan dan biasa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit di beberapa negara. Tumbuhan lain yang juga banyak digunakan sebagai obat tradisional adalah pandan wangi. Pandan wangi (Pandanus amaryllifous Roxb.) juga mengandung senyawa polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan yang potensial sehingga dapat mengurangi resiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes.
Potensi antioksidan dari kedua tanaman tersebut bisa dimanfaatkan penggunaannya lebih lanjut, maka dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dan kadar fenol total dengan mengkombinasikan ekstrak daun mangga gadung dan daun pandan wangi dalam beberapa perbandingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar fenol total dan aktivitas antioksidan dalam bentuk tunggal ekstraknya terhadap kombinasi kedua ekstrak.
Tahapan penelitian yang pertama adalah ekstraksi, kemudian pengujian aktivitas antioksidan, dan penetapan kadar fenol total. Ekstraksi menggunakan metode remaserasi dengan pelarut metanol untuk daun mangga gadung dan etanol 96% untuk daun pandan wangi. Metode pengukuran aktivitas antioksidan yang digunakan adalah DPPH dengan vitamin C sebagai kontrol positif, sedangkan
ix
untuk penetapan kadar fenol total adalah pewarnaan reagen Folin-Ciocalteu dengan asam galat sebagai pembanding. Uji statistik menggunakan one way anova yang dilanjutkan dengan uji post hoc (LSD).
Hasil penelitian menunjukkan, rendemen yang diperoleh dari ekstraksi 100 g masing-masing serbuk daun mangga gadung dan daun pandan wangi berturut-turut sebesar 20,95% dan 11,65%. Hasil pengukuran aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa kelima perbandingan kombinasi ekstrak memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kecil dibandingkan vitamin C. Nilai IC50 vitamin C sebesar 2,613±0,021 μg/ml, diikuti ekstrak metanol daun mangga gadung tunggal sebesar 3,263±0,009 μg/ml, ekstrak etanol daun pandan wangi tunggal sebesar 39,700±1,033 μg/ml, dan kombinasi ekstrak metanol daun mangga gadung dengan ekstrak etanol daun pandan wangi pada perbandingan 2:1 sebesar 7,483±0,039 μg/ml, perbandingan 1:1 sebesar 13,392±0,157 μg/ml, dan perbandingan 1:2 sebesar 10,951±0,084 μg/ml. Kadar fenol total yang terbesar adalah kombinasi ekstrak metanol daun mangga gadung dan ekstrak etanol daun pandan wangi (2:1) (330,216±5,778 mg GAE/g ekstrak), kemudian disusul oleh ekstrak metanol daun mangga gadung tunggal (307,982±5,386 mg GAE/g ekstrak), kombinasi 1:1 (228,176±2,778 mg GAE/g ekstrak), kombinasi 1:2 (151,355±0,4589 mg GAE/g ekstrak), dan yang memiliki kadar fenol total yang terkecil adalah ekstrak etanol daun pandan wangi tunggal (44,244±0,122 mg GAE/g ekstrak). Kombinasi ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan yang paling besar dari kelima perbandingan kombinasi tidak dihasilkan dari kadar fenol total yang paling besar.
Hasil uji Anova dan uji LSD menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan berbeda pada masing-masing perbandingan kombinasi dan pembanding secara bermakna. Selain itu, kadar fenol total dari masing-masing perbandingan kombinasi juga menunjukkan perbedaan yang bermakna dilihat dari besarnya signifikasi pada uji anova (0,000) yang lebih kecil dari nilai 1% (nilai p < 0,01) dengan tingkat kepercayaan sebesar 99%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai landasan untuk penelitian lebih lanjut
Penentuan Kadar Flavonoid pada Ekstrak Daun Tanaman Menggunakan Metode NIR dan Kemometrik (Determination of Flavonoid in Leave Extracts Using NIR and Chemometric)
Flavonoid adalah senyawa dengan berbagai struktur fenolik dan banyak ditemukan pada tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode NIR dan kemometrik dapat digunakan
untuk menentukan kadar flavonoid. Metode spektrofotometri UV-Vis digunakan sebagai
pembanding. Flavonoid diekstraksi dari daun tanaman menggunakan metode ultrasonik dan maserasi.
Data spektra NIR dari ekstrak daun terpilih dihubungkan dengan kadar flavonoid menggunakan
metode kemometrik. Metode kemometrik yang digunakan untuk analisis kuantitatif dan analisis
kualitatif dalam penelitian ini masing-masing adalah Partial Least Square (PLS) dan Linear
Discriminant Analysis (LDA). Model PLS memberikan hasil yang baik dengan nilai R2 kalibrasi
sebesar 0,9916499 dan RMSEC sebesar 2,1521897. Selain itu, nilai R2 LOOCV dan R2 2-Fold-
Cross-Validation masing-masing sebesar 0,9986664 dan 0,9823225, sedangkan model klasifikasi
LDA memberikan akurasi sebesar 100%. Hasil penetapan kadar sampel yang diperoleh dari metode
NIR dan spektrofotometri UV-Vis kemudian diuji dengan uji t dua sampel berpasangan dan dapat
disimpulkan bahwa kadar yang diperoleh tidak memiliki perbedaan yang bermakn
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI AIR DAN FRAKSI ETER KOMBINASI EKSTRAK METANOL DAUN KOPI ARABIKA (Coffea arabica) DAN KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat terbebas dari senyawa radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa penyakit seperti cardiovascular heart disease, diabetes melitus, dan kanker merupakan penyakit yang dipicu oleh kerusakan oksidatif dengan adanya radikal bebas.
Antioksidan adalah molekul yang mampu menghambat kerusakan oksidatif yang dihasilkan radikal bebas. Antioksidan merupakan suatu senyawa yang memiliki kemampuan untuk bereaksi dengan radikal bebas menghasilkan suatu radikal bebas yang stabil dengan cara menerima atau menyumbangkan elektronnya.
Kopi Arabika (Coffea arabica) merupakan bahan minuman yang terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga terkenal di seluruh dunia. Didalam tanaman kopi Arabika terdapat senyawa polifenol merupakan antioksidan alami yang banyak dijumpai dalam asupan makanan sehari-hari. Selain itu, saat ini tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) menjadi begitu populer. Hampir di setiap pameran tanaman obat, nama rosella selalu diperkenalkan. Menurut hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kandungan asam askorbat (vitamin C) dan antosianin pada tanaman ini merupakan sumber antioksidan alami yang sangat efektif dalam menangkal berbagai radikal bebas.
Dalam upaya mendapatkan suatu sediaan obat herbal yang kaya akan kandungan antioksidan maka pada penelitian ini akan dilakukan penentuan aktivitas antioksidan kombinasi daun Kopi Arabika dan kelopak bunga rosella. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan (IC50) fraksi air dan fraksi eter ekstrak metanol daun kopi Arabika (Coffea arabica) dan ekstrak metanol kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa) serta kombinasi keduanya.
Penelitian ini dilakukan di laboratorium bagian biologi dan kimia Fakultas Farmasi Universitas Jember. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi simplisia, standarisasi simplisia dan ekstrak, fraksinasi dan pengujian aktivitas antioksidan.
Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH. Metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) merupakan metode yang paling sering digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan tanaman obat. Tujuan metode ini adalah mengetahui parameter konsentrasi yang ekuivalen memberikan 50% efek aktivitas antioksidan (IC50). Pada pengujian yang dilakukan aktivitas antioksidan terbesar yaitu fraksi air ekstrak metanol daun kopi Arabika dengan nilai IC50 26,201 ± 0,323 μg/ml disusul fraksi eter ekstrak metanol kelopak bunga rosella, fraksi eter ekstrak metanol daun kopi Arabika dan fraksi air ekstrak metanol kelopak bunga rosella dengan nilai IC50 62,407 ± 0,541 μg/ml; 73,321 ± 0,241 μg/ml; dan 230,560 ± 0,967 μg/ml.
Hasil uji One way anova menunjukkan nilai signifikansi ≤ 0,05 dengan taraf kepercayaan 95% maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan aktivitas antioksidan yang bermakna antara bentuk tunggal dan kombinasi. Hasil uji Post hoc (LSD) menunjukkan nilai signifikansi ≤ 0,05 dengan taraf kepercayaan 95% maka dapat dikatakan bahwa nilai aktivitas antioksidan pada setiap sampel berbeda secara bermakna jika dibandingkan dengan sampel lain
Penentuan Kadar Flavonoid pada Ekstrak Daun Tanaman Menggunakan Metode NIR dan Kemometrik (Determination of Flavonoid in Leave Extracts Using NIR and Chemometric)
Flavonoid adalah senyawa dengan berbagai struktur fenolik dan banyak ditemukan pada tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode NIR dan kemometrik dapat digunakan
untuk menentukan kadar flavonoid. Metode spektrofotometri UV-Vis digunakan sebagai
pembanding. Flavonoid diekstraksi dari daun tanaman menggunakan metode ultrasonik dan maserasi.
Data spektra NIR dari ekstrak daun terpilih dihubungkan dengan kadar flavonoid menggunakan
metode kemometrik. Metode kemometrik yang digunakan untuk analisis kuantitatif dan analisis
kualitatif dalam penelitian ini masing-masing adalah Partial Least Square (PLS) dan Linear
Discriminant Analysis (LDA). Model PLS memberikan hasil yang baik dengan nilai R2
kalibrasi
sebesar 0,9916499 dan RMSEC sebesar 2,1521897. Selain itu, nilai R2
LOOCV dan R2
2-FoldCross-Validation
masing-masing sebesar 0,9986664 dan 0,9823225, sedangkan model klasifikasi
LDA memberikan akurasi sebesar 100%. Hasil penetapan kadar sampel yang diperoleh dari metode
NIR dan spektrofotometri UV-Vis kemudian diuji dengan uji t dua sampel berpasangan dan dapat
disimpulkan bahwa kadar yang diperoleh tidak memiliki perbedaan yang bermakn
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI AIR DAN FRAKSI ETER KOMBINASI EKSTRAK METANOL DAUN KOPI (Coffea arabica) DAN EKSTRAK METANOL DAUN PANDAN (Pandanus amaryllifolius) DENGAN METODE DPPH
Antioxidants are nutrient and non-nutrient substances that is usually present in foodstuffs. Antioxidants can prevent the oxidative damage in the body. Arabica coffee is most common species of coffee found, consumed in Indonesia and has great economic importance. Pandan wangi is also most common spesies that found in Indonesia and have been used for traditional medicine by the people for many years ago. Arabica coffee and Pandan wangi known as plants with antioxidant activity
PENETAPAN KADAR MANGIFERIN PADA EKSTRAK DAUN MANGGA SPESIES KWENI (Mangifera odorata Griff.), PAKEL (Mangifera foetida Lour.) DAN KOPYOR (Mangifera indica L.) DENGAN METODE KCKT
Tanaman mangga merupakan salah satu tanaman yang paling mudah ditemukan
di wilayah Indonesia. Namun, tanaman mangga bukan termasuk tanman asli Indonesia.
Mangga yang berkembang di Indonesia diduga berasal dari India. Pemanfaatan mangga
masih terbatas pada buahnya sedangkan daunnya belum dimanfaatkan sama sekali.
Daun mangga mengandung berbagai senyawa kimia seperti fenol, flavonoid, tanin,
saponin, alkaloid dan steroid. Salah satu senyawa fenolik yang ditemukan pada mangga
adalah mangiferin. Jumlah senyawa kimia dalam suatu tumbuhan dipengaruhi oleh
lokasi tumbuh, varietas, tingkat kematangan dan lain-lain. Daun mangga yang
digunakan dalam penelitia ini adalah daun mangga spesies kweni, pakel dan kopyor
dimana ketiga mangga ini mempunyai spesies yang berbeda dan diduga memiliki
kandungan mangiferin yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
perbedaan kadar mangiferin pada ekstrak daun mangga spesies kweni, pakel dan
kopyor.
Penetapan kadar mangiferin dalam penelitian ini menggunakan metode
kromatografi cair kinerja tinggi. Kondisi analisis yang digunakan adalah kondisi
analisis hasil optimasi yang didasarkan pada penelitian sebelumnya (Zhang et al.,
2012). Kondisi analisis yang optimum adalah sebagai berikut. Fase gerak metanol:
aquabidest (31:69, v/v). Fase diam RPC-18. Laju alir 0,8 ml/menit. Panjang gelombang
258 nm. Volum penginjeksian 20 μl dan konsentrasi uji 10 ppm. Setelah dilakukan
optimasi kondisi analisis maka dilakukan validasi metode analisis yang meliputi uji
linieritas, uji batas deteksi dan kuantitasi, uji spesifisitas dan selektivitas, uji presisi dan akurasi. Tahap selanjutnya adalah analisis sampel yang meliputi ekstrak daun mangga
spesies kweni, pakel dan kopyor yang dilakukan dengan menimbang sebanyak 5 mg
masing-masing ekstrak kemudian dilarutkan dalam metanol 10 ml dan disaring dengan
membran filter 0,45 μm.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode yang digunakan dalam analisis
penetapan kadar mangiferin adalah valid meliputi linier dengan koefisien korelasi (r)
= 0,998, nilai Vxo (RSD) 3,545% dan nilai Xp 2,576 ppm. Peka dengan nilai batas
deteksi 0,594 ppm dan nilai batas kuantitasi 1,980 ppm. Spesifik dan selektiv. Presis
dengaan nilai RSD repeatabilitas 0,766% dan nilai RSD presisi antara 1,528%. Akurat
dengan nilai % recovery 100,53% ± 1,9657%. Hasil analisis mangiferin pada ekstrak
daun mangga spesies kweni, pakel dan kopyor menunjukkan nilai p <0,05 yang artinya
terdapat perbedaan kadar mangiferin pada ekstrak daun mangga spesies kweni, pakel dan kopyo
PENENTUAN KADAR ALKALOID PADA EKSTRAK DAUN TANAMAN MENGGUNAKAN METODE NIR DAN KEMOMETRIK
Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder terbanyak yang memiliki atom nitrogen, yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan dan hewan. Sebagian besar senyawa alkaloid bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Alkaloid dapat ditemukan pada berbagai bagian tanaman, seperti bunga, biji, daun, ranting, akar dan kulit batang. Alkaloid memiliki efek farmakologi yang kuat pada sistem mamalia serta organisme lain sehingga alkaloid mempunyai efek terapi yang penting. Atropin, morfin, kuinin dan vinkristin merupakan contoh alkaloid yang memiliki efek terapi seperti sebagai antimalaria dan kanker. Oleh karena itu penentuan jumlah alkaloid sangat penting terkait dengan kualitas tanaman obat. Pada penelitian ini dilakukan penetapan kadar alkaloid pada ekstrak daun tanaman menggunakan metode sprektoskopi infra merah dekat dan kemometrik. Hasil nilai kadar dari analisis secara kuantitatif yang didapatkan akan dibandingkan dengan hasil nilai kadar pada analisis menggunakan spektofotometri UV-Vis sebagai pembanding
Penetapan kadar dengan metode spektroskopi inframerah dekat dan kemometrik ini memerlukan suatu analisis data multivariat (kemometrik) untuk mengekstrak informasi spektrum yang diperlukan dari spektrum inframerah dan menggunakan informasi spektrum tersebut untuk aplikasi kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan perangkat lunak The Unscrambler X 10.2. Teknik yang digunakan dari metode kemometrik untuk pembuatan model kalibrasi (analisis kuantitatif) dan model klasifikasi (analisis kualitatif) dalam penelitian ini masing-masing adalah Partial Least Square (PLS) dan Linear Discriminant Analysis (LDA), Support Vector Machines (SVM) dan Soft Independent Modelling of Class Analogies (SIMCA). Penetapan kadar ini kemudian divalidasi dengan metode validasi silang (cross validation) Leave-One-Out dan 2-Fold-Cross-Validation untuk menguji validitas model regresi.
Metode pembanding yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis dengan prinsip kolorimetri menggunakan larutan BCG dan dapar fosfat pH 4,7 dengan standar kafein. Berdasarkan hasil penelitian, model PLS dengan spektroskopi NIR memberikan hasil terbaik dengan nilai R2 kalibrasi sebesar 0,9941739; R2 validasi sebesar 0,9937574; RMSEC sebesar 1,8891197 dan RMSECV sebesar 1,95626. Validasi model juga memberikan nilai yang baik dengan R2 LOOCV sebesar 0,9957413 dan R2 2-Fold-Cross-Validation sebesar 0,9885431. Model klasifikasi LDA dan SVM yang digunakan pada pengkategorian antara matriks dengan sampel yang mengandung alkaloid memiliki akurasi sebesar 100%. Sedangkan pada model SIMCA pengkatagorian antara matriks dengan sampel yang mengandung alkaloid memiliki akurasi 87% yang menunjukkan bahwa model SIMCA belum bisa mengelompokkan kategori sampel dengan benar.
Model PLS dan LDA dengan spektroskopi NIR yang telah terbentuk dan tervalidasi kemudian diterapkan pada sampel nyata sehingga diperoleh kadar alkaloid dalam sampel nyata. Kadar alkaloid pada sampel nyata yang diperoleh dari spektroskopi inframerah dekat sebesar 22,1960 mg CE/g ekstrak untuk kapsul Stimuno dan 5,5820 mg CE/g untuk kapsul Daun salam. Hasil analisis ini kemudian dibandingkan dengan kadar yang diperoleh dari metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil penetapan kadar sampel yang diperoleh dari dua metode berbeda ini kemudian diuji dengan Uji T Dua Sampel Berpasangan dan dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar yang diperoleh tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai signifikansi 0,479, sedangkan pengkategorian sampel nyata dengan model LDA memberikan % kemampuan prediksi sebesar 100%
VALIDASI METODE SPEKTOFOTOMETER SERAPAN ATOM (SSA) UNTUK PENETAPAN KADAR KALSIUM DALAM TULANG FEMUR TIKUS
Kalsium merupakan makromineral yang paling banyak terdapat di semua jaringan tubuh dan terlibat dalam proses biologi dan metabolisme tubuh. Tubuh manusia mengandung sekitar 1 kg kalsium. Sekitar 99% kalsium dalam tubuh ditemukan pada tulang dan gigi dan sekitar 1% terdapat pada cairan ekstra sel. Kalsium dalam tulang berupa mineral hidroksiapatit [CA10(PO4)6(OH)2] (Flynn, 2003). Asupan kalsium yang kurang dapat meningkatkan prevalensi resiko patah tulang pada usia menua. Hal ini terjadi ketika kalsium dalam tulang mengalami ketidakseimbangan antara resorpsi dan pembentukannya. Sehingga dibutuhkan asupan kalsium untuk menguragi resiko patah tulang (Douglas, 2013).
Penelitian yang dilakukan merupakan eksperimental laboratorium dengan jumlah sampel 12 ekor tikus dibagi dalam 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif (hanya diberi pakan standar 10% dari berat badan), kelompok perlakuan kalsium (dosis 0,09 g/ kg/ BB/ hari), perlakuan dilakukan seacara peroral selama 25 hari. Pada hari ke-26, dilakukan pembedahan dan diambil tulang femur untuk menentukan kadar kalsium dalam tulang. Tulang femur selanjutnya difurnace untuk mendapatkan sampel yang nantinya akan diukur oleh alat Spektrofometer Serapan Atom (SSA). Sebelum dilakukan pengukuran sampel untuk menentukan kadar kalsium dalam tulang femur, tahap berikutnya adalah dilakukan proses optimasi dan validasi metode. Proses optimasi meliputi: optimasi arus lampu, lebar celah, laju asetilen, panjang gelombang dan konsentrasi uji. Validasi metode meliputi: uji linieritas, uji batas deteksi dan batas kuantitasi, uji presisi dan uji akurasi.
Hasil penelitian menunjukkan untuk kondisi optimum metode SSA untuk penetapan kadar kalsium yaitu digunakan pada penentuan kadar kalsium arus lampu sebesar 10 mA; lebar celah sebesar 0,2 nm; laju asetilen sebesar 1,6 L/menit.; dengan panjang gelombang 422,7 nm, dengan konsentrasi uji optimum adalah 10 ppm. Validasi metode yang telah dilakukan diperoleh hasil untuk uji liniertas nilai koefisien korelasi r = 0,99697 menggunakan persamaan regresi linier dan Vx0 = 4,7998%; dan nilai Xp = 4,6502 ng. Uji batas deteksi dan batas kuantitasi dengan nilai BD = 0,6369 ppm dan BK= 1,9107 ppm. Uji presisi dengan nilai RSD= 1,86% . Uji akurasi dengan nilai Mean Recovery ± RSD = 100,726% ± 1,081%. Dari hasil yang didapatkan metode SSA dapat dikatakan valid dan dapat digunakan untuk mengukur kadar kalsium dalam femur tikus. Hasil pengukuran kadar diperoleh kadar kalsium dalam tulang femur tikus diberi asupan kalsium sebesar (kadar kalsium ± RSD) 15,8% ± 1,14% dan 17,8% ± 1,80%
- …
