1,720,984 research outputs found

    Rasio Mikroorganisme Autotrof dan Heterotrof Pembentuk Biofilm pada Budidaya Tambak Intensif Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Probolinggo, Jawa Timur

    No full text
    Pada budidaya tambak udang vaname menjadikan pilihan utama bagi para pembudidaya di Indonesia. Udang vaname merupakan salah satu jenis udang yang mudah dalam pembudidayaan. Semakin berkembangnya usaha dari budidaya udang, ditemukan juga ada beberapa permasalahan yang mengganggu para pembudidaya contohnya seperti penyakit udang vaname dan kematian pada udang vaname. Tujuan dari pada penelitian ini itu untuk mengidentifikasi dari jenis mikroorganisme autotrof dan heterotrof yang mengganggu udang vaname Laboratorium Perikanan Air Payau dan Laut (PAPL) Probolinggo FPIK-UB, dan menganalisis penyebab adanya yang ditinjau dari kondisi perairan pada tambak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif yaitu data primer dan data sekunder. Pada penentuan titik sampling penelitian ini berada di 3 titik kolam tambak intensif udang vaname. Sampel penelitian yang diambil berupa sampel biofilm dan data pendukung berupa pengukuran kualitas air. Pengambilan sampel dilakukan setiap 2 minggu sekali dalam 2 bulan (tanggal 1 Maret, 16 Maret, 29 Maret dan 2 April 2022) pada pukul 09.00-14.00 WIB. Metode analisis data yang diambil yaitu analisis taksonomi, analisis korelasi person. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa adanya jenis-jenis mikroorganisme autotrof dan heterotrof seperti mikroalga (autotrof) dan bakteri (heterotrof). Hasil dari pengukuran kualitas air seperti suhu berkisar 29,1-32,15 ℃, kecerahan berkisar antara 35-55 cm, pH berkisar 8, DO berkisar antara 7,5-10,11 mg/L, nitrat berkisar antara 0,28-9,8 mg/L, amonia berkisar antara 0-2,45 mg/L, salinitas berkisar 18,4-31,44 ppt, fosfat berkisar antara 0,13-0,73 mg/L, TOM berkisar antara 16,32-173,8 mg/L, dan TDS berkisar antara 1039,56-1044,28 mg/L. Hasil dari analisis ke 10 parameter menunjukkan bahwa parameter kualitas air (suhu, kecerahan, pH, DO, nitrat, amonia, salinitas, fosfat, TOM dan TDS) mempunyai pengaruh dalam kelimpahan mikroorganisme autotrof dan heterotrof. Dari hasil nilai ke sepuluh parameter kualitas air masih banyak tergolong kurang baik untuk budidaya udang dan bagus menjadi tempat pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio sp. Saran yang bisa diberikan pada penelitian yaitu agar lebih meningkatkan keseimbangan kualitas air tambak dan perlu mengidentifikasi jenis-jenis mikroalga ataupun bakteri yang merugikan sebagai awal yang bisa mencegah penularan penyakit pada udang di tambak

    Analisis total coliform sebagai bioindikator kualitas perairan Sungai Kalilamong dan tambak serta dampak terhadap ikan bandeng di Kabupaten Gresik

    No full text
    Aktivitas masyarakat sekitar bagian hilir turut menyumbang beban limbah pencemar ke perairan misalnya kebiasaan membuang sisa kotoran manusia serta sisa kotoran hewan berdarah panas. Hal tersebut menjadi sumber keberadaan coliform di perairan sungai. Mengingat peruntukan perairan yang dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari termasuk digunakan untuk mengairi tambak, sehingga perlu dilakukan pengamatan status mutu dan tingkat pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis total coliform di perairan Sungai Kalilamong bagian hilir, tambak sekitar dan ikan bandeng hasil budidaya serta menganalisis status pencemaran di Sungai Kalilamong bagian hilir serta tambak sekitar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2023 hingga Februari 2023. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Total coliform diukur dengan metode MPN, penentuan kualitas air menggunakan indeks pencemaran dengan acuan baku mutu air sungai peruntukan kelas II menurut PP No.22 tahun 2021. Penentuan kualitas air pada tambak budidaya perikanan menggunakan metode skoring. Total coliform tertinggi berada di stasiun 5 (Sungai Kalilamong Kecamatan Kebomas) dengan nilai 2066,67 MPN/100 ml. Lokasi sungai pada stasiun 5 berdampingan secara langsung dengan pemukiman penduduk yang padat dan masyarakat sekitar membuang sisa kotoran secara langsung ke perairan sungai. Total coliform terendah berada di stasiun 4 (Tambak 2 budidaya perikanan) dengan nilai 1313,33 MPN/100 ml. Perairan tambak 2 tidak menerima aliran buangan sisa kotoran secara langsung dan lokasi tambak cukup jauh dari pemukiman penduduk. Nilai indeks pencemaran tertinggi diperoleh pada stasiun 2 (Sungai Kalilamong Kecamatan Cerme) sebesar 2,21 karena stasiun 2 menerima aliran secara langsung berupa limbah domestik, limbah budidaya, dan limbah industri sehingga untuk memanfaatkan perairan sungai ini diperlukan perlakuan terlebih dahulu seperti proses pengendapan. Nilai indeks pencemaran terendah yakni pada stasiun 1 (Sungai Kalilamong Kecamatan Benjeng) sebesar 1,16. Lokasi stasiun 1 tidak berbatasan secara langsung dengan pemukiman serta aktivitas lain yang menghasilkan limbah dengan jumlah yang besar. Kualitas air tambak 1 dan 2 berdasarkan skoring diperoleh tingkat kesesuaian untuk budidaya ikan bandeng sebesar 50% saja. Total coliform pada sampel ikan bandeng hasil budidaya sebesar 55 MPN/gr menunjukkan kondisi bahwa ikan bandeng telah terkontaminasi coliform dengan jumlah yang tinggi sehingga sebelum dikonsumsi perlu penanganan yang benar agar dapat menghilangkan bakteri tersebut. Total coliform di Sungai Kalilamong dan tambak sekitar masih memenuhi baku mutu, akan tetapi pada ikan bandeng hasil budidaya telah melebihi ambang batas total coliform bagi ikan segar untuk dikonsumsi. Sungai Kalilamong dan tambak tergolong tercemar ringan berdasarkan baku mutu kualitas air peruntukan budidaya ikan bandeng. Diperlukan edukasi untuk merubah kebiasaan masyarakat dalam membuang limbah ke sungai, disamping itu juga diperlukan upaya untuk mengolah limbah sebelum masuk ke perairan umum

    Bioassessment Menggunakan Perifiton Terhadap Buangan Limbah Tekstil dan Rumah Pemotongan Unggas di Sungai Sedayu Kabupaten Kediri

    No full text
    Sungai Sedayu menjadi salah satu sungai yang terdampak oleh zat pencemar yang diduga berasal dari limbah rumah tangga, pertanian, perkebunan, limbah pabrik tekstil, dan limbah dari rumah pemotongan unggas. Terdapatnya zat pencemar dapat dilihat melalui parameter fisika, kimia, dan biologi. Salah satu parameter penting yang digunakan dalam menduga status perairan terdapat pada faktor biologi. Parameter biologi merupakan bentuk korelasi yang terjadi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Parameter biologi yang dapat digunakan salah satunya yaitu perifiton. Perifiton memiliki kecenderungan menetap pada susbtrat sungai sehingga dianggap mampu menggambarkan kondisi sungai. Selain itu, perlu dilihat faktor pendukung kehidupan perifiton dengan menganalisis kualitas air di Sungai Sedayu. Kondisi Sungai Sedayu dapat diketahui melalui analisis data yang diperoleh dari perifiton dan parameter fisika serta kimia yang digunakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2023 hingga April 2023 di Sungai Sedayu, Kabupaten Kediri. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survey dan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Analisis Data yang digunakan yaitu Kelimpahan Perifiton, Kelimpahan Relatif Perifiton, Indeks Keanekaragaman, Indeks Keseragaman, Indeks Dominasi, dan Indeks Pencemaran. Selain itu, pengambilan sampel dilakukan di 5 titik sepanjang Sungai Sedayu bagian hilir. Data sekunder yang digunakan dalam Data sekunder yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini yaitu Jurnal, Buku Identifikasi, Peraturan Pemerintah, Laporan Kinerja tahunan DLH Kabupaten Kediri.. Pengambilan data lapang dimulai pada tanggal 01 Maret 2023. Data primer yang diambil meliputi sampel perifiton yang telah diawetkan dan sampel air. Sampel yang telah diambil selanjutnya dianalisis di laboratorium untuk mengetahui jenis dan kelimpahan perifiton dan mengetahui kadar Nitrat, Orthofosfat, serta Total Organic Matter. Jenis perifiton yang ditemukan di Sungai Sedayu secara umum yaitu berasal dari Divisi Chrysophyta terutama pada Genus Nitzschia dan Navicula Pengukuran parameter fisika dan kimia diperoleh hasil suhu air berkisar antara 24,5°C – 25,3°C. Kecepatan arus berkisar antara 0,1783 m/s – 1,5236 m/s. Substrat dasar perairan pada setiap stasiun di dominasi oleh batuan besar. Nitrat berkisar antara 0,2857 mg/L – 1,2624 mg/L. Orthofosfat diperoleh berkisar antara 0,0814 mg/L – 0,5185 mg/L. Total Organic Matter diperoleh berkisar antara 1,264 mg/L – 13,904 mg/L. DO berkisar antara nilai 4,35mg/L – 8,15mg/L. Kelimpahan Total Perifiton sebanyak 156.581,741 sel/mm2. Kelimpahan Relatif tertitnggi yaitu dari Divisi Chrysophyta sebesar 58,49% di stasiun 4. Indeks Keanekaragaman tertinngi 3.181610612 di stasiun 1. Indeks Keseragaman tertinggi 0.468878 di stasiun 1. Indeks Dominasi tertinggi 0.139462442 di stasiun 4. Indeks Pencemaran air yang diperoleh di Sungai Sedayu masih dalam kondisi baik atau memenuhi baku mutu air kelas II sesuai dengan peruntukannya

    Analisis Status Kualitas Perairan Pesisir dengan Menggunakan Metode Storet dalam Menentukan Status Mutu Air Laut untuk Kegiatan Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Pesisir Probolinggo

    No full text
    Wilayah perairan pesisir Probolinggo dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kepentingan yang berdampak pada masukan bahan pencemar ke dalam perairan dan mengakibatkan penurunan daya dukung pada wilayah pesisir. Keadaan dari ekosistem pesisir dapat berpengaruh terhadap produktivitas dan juga beban ekosistem pesisir. Terkhususnya aktivitas tambak yaitu budidaya udang vaname yang berada disekitar pesisir yang menggunakan air pesisir sebagai sumber air untuk proses budidaya. Berdasarkan Statistik Sumber Daya Pesisir dan Laut 2020 luasan wilayah perikanan budidaya Jawa Timur seluas 51.778 hektar, sementara dalam Perda Zonasi No. 1 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Jawa Timur Tahun 2018-2038, telah dialokasikan ruang pesisir untuk perikanan budidaya seluas 2.913,45 hektar yang didalamnya terdapat pesisir Probolinggo. Data tersebut menunjukkan banyaknya tambak yang akan memasok air budidaya dari kawasan pesisir sehingga perlu dilakukannya analisis kualitas air sumber untuk menunjang proses budidaya.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air sumber budidaya udang vaname di pesisir Probolinggo dan status baku mutu perairan Probolinggo yang didasarkan pada keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 dengan menggunakan metode STORET. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari – Maret di pesisir Probolinggo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan data primer yang diperoleh dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan secara langsung selama penelitian. Data primer yang diperoleh yaitu data hasil pengukuran parameter suhu, TSS, pH, DO, nitrat, nitrit, amonia, BOD, fosfat dan total coliform. Data sekunder diperoleh dari instansi, jurnal, dan situs internet. Pengambilan sampel dilakukan setiap sekali dua minggu sebanyak tiga kali pada 5 stasiun yaitu stasiun 1 pesisir (Tambak Alim Muntasor), stasiun 2 pesisir (Tambak Sumber Lancar), stasiun 3 pemukiman (Tambak PT. TBAI Probolinggo), stasiun 4 pariwisata (Timur BJBR), stasiun 5 mangrove (Lab. Percobaan FPIK Probolinggo). Penentuan stasiun pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data yang digunakan dalam menentukan status mutu air dengan menggunakan metode STORET. Hasil pengukuran parameter fisika yang diperoleh di pesisir Probolinggo adalah suhu 28 – 36.8 OC, TSS 33 – 53 mg/l. Parameter kimia didapat pH 8.4 – 6.9, DO 4.2 – 8.5 mg/l, nitrat 0.1977 – 0.6268 mg/l, nitrit 0.0002 – 0.013 mg/l, fosfat 0.0429 – 0.2654 mg/l, ammonia 0.0325 – 0.3934 mg/l, BOD 2.5 – 3.7 mg/l. Parameter biologi didapatkan total coliform 140 – 2400 jml/100 ml. Berdasarkan hasil skoring dari metode STORET pada bulan februari- maret 2023 tergolong tercemar ringan - tercemar sedang dengan total skor pada stasiun 1 (Tambak Alim Muntasor) adalah -12, stasiun 2 (Tambak Sumber Lancar) adalah -24, stasiun 3 (PT.TBAI Probolinggo) adalah -22, stasiun 4 (Laboratorium Perikanan Air Payau dan laut FPIK) adalah -16, dan stasiun 5 (daerah pariwisata (Timur BJBR) adalah -10. Saran yang dapat diberikan dalam menunjang penelitian ini adalah dengan melakukan eksplorasi tempat penelitian yang lebih luas yang memiliki potensi tercemar dan perlu melakukan perkiraan cuaca saat melakukan pengukuran dari kualitas air dikarenakan musim seperti penghujan sangat mempengaruhi hasil kualitas air yang didapat di daerah pesisir

    Pemetaan Potensi Tambak Perikanan Berdasarkan Nilai Produktivitas Tambak dan Trophic State Index (TSI) Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo

    No full text
    Salah satu kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang dapat dilakukan dan dioptimalkan adalah budidaya tambak. Mengetahui potensi perikanan tambak pada suatu wilayah pesisir memiliki sejumlah kepentingan penting yang melibatkan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi. Kecamatan Mayangan yang berada di Kota Probolinggo, Jawa Timur memiliki wilayah pertambakan yang cukup luas. Namun, potensi perikanan tambak pada Kecamatan Mayangan masih belum maksimal dan informasi tentang potensi perikanannya masih sangat minim. Komoditas perikanan tambak yang dimiliki di Kecamatan Mayangan yaitu Ikan Nila, Ikan Bandeng, dan Udang Vaname. Potensi perikanan dapat ditentukan salah satunya dengan nilai produktivitas tambak dan tingkat kesuburan perairan. Produktivitas tambak dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk luas tambak, teknik pengelolaan tambak, komoditas yang dibudidaya, lokasi tambak, dan waktu panen. Analisis mengenai nilai produktivitas tambak atau tingkat kesuburan perairan dimaksudkan untuk mengetahui potensi perikanan tambak pada Kecamatan Mayangan.. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2024 hingga Maret 2024 di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo khususnya pada wilayah pertambakan di dua kelurahan, yaitu Kelurahan Mangunharjo dan Kelurahan Sukabumi. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei lapangan, turun langsung ke para petambak yang berada di Kecamatan Mayangan. Melakukan wawancara ke para petambak mengenai produktivitas tambak yang dimiliki, faktor yang mempengaruhi seperti luas tambak, teknik pengelolaan tambak, komoditas yang dibudidaya, waktu panen dan lokasi tambak serta melakukan pengambilan sampel dari masing – masing tambak. Sampling dilakukan untuk mengetahui tingkat kesuburan perairan. Parameter utama berupa total fosfat, kecerahan dan nilai klorofil-a. Parameter penunjang berupa kualitas air yang meliputi DO, suhu, salinitas, dan kekeruhan. Data yang sudah didapat kemudian diolah dan dikelompokkan menggunakan metode clustering untuk pembuatan peta tematik potensi perikanan di Kecamatan Mayangan. Hasil penelitian pemetaan potensi tambak perikanan berdasarkan nilai produktivitas tambak dan Trophic State Index (TSI) menggunakan sistem informasi geografis menunjukkan nilai kesuburan perairan pada tambak di Kecamatan Mayangan hampir semuanya berstatus oligotrofik kecuali pada tambak nila di Kelurahan Mangunharjo dengan status trofik mesotrofik. Hal tersebut dikarenakan mayoritas petambak yang berada di Kecamatan Mayangan umumnya masih menggunakan teknik pengelolaan tambak yang masih tradisional, sehingga tidak melakukan pemupukan dan intensitas monitoring kualitas perairan yang cenderung rendah. Kecamatan Mayangan memiliki potensi perikanan tambak yang cukup besar. Hal ini dikarenakan lokasi nya yang sangat strategis dekat dengan garis pantai dan pelabuhan

    Rasio Mikroorganisme Autotrof dan Heterotrof Pembentuk Biofilm Pada Budidaya Tambak Intensif Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

    No full text
    Pada budidaya tambak udang vaname menjadikan pilihan utama bagi para pembudidaya di Indonesia. Udang vaname merupakan salah satu jenis udang yang mudah dalam pembudidayaan. Semakin berkembangnya usaha dari budidaya udang, ditemukan juga ada beberapa permasalahan yang mengganggu para pembudidaya contohnya seperti penyakit udang vaname dan kematian pada udang vaname. Tujuan dari pada penelitian ini itu untuk mengidentifikasi dari jenis mikroorganisme autotrof dan heterotrof yang mengganggu udang vaname Laboratorium Perikanan Air Payau dan Laut (PAPL) Probolinggo FPIK-UB, dan menganalisis penyebab adanya yang ditinjau dari kondisi perairan pada tambak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif yaitu data primer dan data sekunder. Pada penentuan titik sampling penelitian ini berada di 3 titik kolam tambak intensif udang vaname. Sampel penelitian yang diambil berupa sampel biofilm dan data pendukung berupa pengukuran kualitas air. Pengambilan sampel dilakukan setiap 2 minggu sekali dalam 2 bulan (tanggal 1 Maret, 16 Maret, 29 Maret dan 2 April 2022) pada pukul 09.00-14.00 WIB. Metode analisis data yang diambil yaitu analisis taksonomi, analisis korelasi person. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa adanya jenis-jenis mikroorganisme autotrof dan heterotrof seperti mikroalga (autotrof) dan bakteri (heterotrof). Hasil dari pengukuran kualitas air seperti suhu berkisar 29,1-32,15 ℃, kecerahan berkisar antara 35-55 cm, pH berkisar 8, DO berkisar antara 7,5-10,11 mg/L, nitrat berkisar antara 0,28-9,8 mg/L, amonia berkisar antara 0-2,45 mg/L, salinitas berkisar 18,4-31,44 ppt, fosfat berkisar antara 0,13-0,73 mg/L, TOM berkisar antara 16,32-173,8 mg/L, dan TDS berkisar antara 1039,56-1044,28 mg/L. Hasil dari analisis ke 10 parameter menunjukkan bahwa parameter kualitas air (suhu, kecerahan, pH, DO, nitrat, amonia, salinitas, fosfat, TOM dan TDS) mempunyai pengaruh dalam kelimpahan mikroorganisme autotrof dan heterotrof. Dari hasil nilai ke sepuluh parameter kualitas air masih banyak tergolong kurang baik untuk budidaya udang dan bagus menjadi tempat pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio sp. Saran yang bisa diberikan pada penelitian yaitu agar lebih meningkatkan keseimbangan kualitas air tambak dan perlu mengidentifikasi jenis-jenis mikroalga ataupun bakteri yang merugikan sebagai awal yang bisa mencegah penularan penyakit pada udang di tambak

    Analisis Bakteri Salmonella sp. sebagai Bioindikator pada Air Baku Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Pesisir Probolinggo

    No full text
    Pesisir merupakan wilayah yang membatasi daratan dengan lautan. Perairan pesisir Probolinggo dimanfaatkan sebagai sumber air baku media budidaya Udang Vaname. Kualitas air baku dipengaruhi oleh kegiatan masyarakat disekitar pesisir Probolinggo seperti pemukiman, pelabuhan, industri, pariwisata dan peternakan. Beberapa kegiatan tersebut menyumbang limbah organik yang merupakan sumber paparan bakteri Salmonella. Bakteri ini menyebabkan penolakan pemasaran produk perikanan seperti Udang Vaname oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Bakteri patogen ini juga dapat menyebabkan penyakit Salmonellosis pada manusia. Bakteri Salmonella sp. dijadikan sebagai bioindikator kualitas air pesisir sebagai air baku budidaya Udang Vaname. Penelitian ini dilakukan pada bulan februari-Maret 2023 di perairan Pesisir Probolinggo yaitu di Tongas dan Mayangan. Pengujian kualitas air dilakukan di Laboratorium Hidrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya dan Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Kecamatan Bangil, Pasuruan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ada tidaknya kandungan bakteri Salmonella sp. pada air di pesisir Probolinggo dan mengetahui hubungan kandungan bakteri dengan parameter fisika-kimia air. Metode survei pada penelitian ini adalah deskriptif dengan metode penentuan titik pengambilan sampel purposive sampling berdasarkan beberapa kriteria yaitu dekat dengan tambak Udang Vaname yang juga berada di sekitar pemukiman, kagiatan pariwisata dan kegiatan industri. Analisis data menggunakan uji beda Kruskal-Wallis dan Regresi linier berganda. Data primer berupa hasil pengukuran parameter suhu, pH, DO, salinitas, nitrit, amonia, dan total bahan organik, serta kelimpahan bakteri Salmonella. Hasil penelitian diperoleh rata-rata total bakteri Salmonella dengan tiga kali pengambilan sampel di 5 stasiun pada kisaran 136,67 – 5025,33 CFU/ml. Hasil analisis regresi linier berganda antara parameter kualitas air dengan total bakteri Salmonella, diperoleh nilai korelasi sebesar 0,828 dan nilai R square diperoleh sebesar 0,686. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kondisi perairan di pesisir Probolinggo tercemar bakteri Salmonella dengan kadar yang cukup tinggi dan melebihi baku mutu air laut menurut PP nomor 22 Tahun 2021 yaitu nihil sel/100 ml dan menurut Peraturan BPOM No. 13 Tahun 2019 tentang batas maksimal Salmonella pada daging udang yaitu negatif/25 gr sampel. Kadar bakteri Salmonella di 5 stasiun tidak berbeda nyata. Korelasi antara variabel kualitas air terhadap kelimpahan bakteri Salmonella sangat tinggi/kuat karena mendekati 1. Pengaruh parameter kualitas air yang diukur pada penelitian ini terhadap total bakteri Salmonella di perairan pesisir Probolinggo yaitu sebesar 68,6%. Saran yang dapat diberikan yaitu penambahan pengulangan pengambilan data, meningkatkan sanitasi dan kebersihan dalam pengolahan daging udang, melakukan pengujian bakteri Salmonella sp. pada Udang Vaname hasil budidaya yang memanfaatkan air laut sebagai media hidupnya dan pengujian sedimen

    Hubungan Rasio N/P terhadap Komposisi dan Kelimpahan Fitoplankton pada Air Baku untuk Tambak Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) di Pesisir Probolinggo

    No full text
    Fitoplankton merupakan organisme yang bergerak mengikuti arus dan memiliki peran dalam produktivitas primer perairan. Keberadaan fitoplankton dipengaruhi oleh ketersediaan nutrien di perairan. Nutrien yang berperan sebagai faktor pembatas pada pertumbuhan fitoplankton ialah Nitrat dan Fosfat. Kedua nutrien tersebut dapat mempengaruhi kelimpahan serta komposisi fitoplankton. Perairan pesisir Probolinggo merupakan daerah yang banyak dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan contohnya tambak Udang Vanname (Litopenaeus vannamei). Aktivitas manusia seperti pembuangan limbah ke badan perairan, kegiatan pertanian dan perindustrian berpengaruh terhadap kualitas perairan dan unsur hara di perairan. Tujuan penelitian yaitu menganalisis konsentrasi Nitrat dan Fosfat pada air baku untuk tambak Udang Vanname di pesisir Probolinggo, menganalisis komposisi dan kelimpahan fitoplankton pada air baku untuk tambak Udang Vanname di pesisir Probolinggo dan menganalisis hubungan rasio N/P terhadap komposisi dan kelimpahan fitoplankton pada air baku untuk tambak Udang Vanname di pesisir Probolinggo.Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Maret 2023 di pesisir Probolinggo, Jawa Timur. Data primer yang diambil meliputi sampel air pesisir yang diperoleh menggunakan metode purposive sampling. Parameter kualitas air yang diukur secara in situ pada penelitian ini yaitu suhu, kecerahan, pH, DO, dan salinitas. Sementara itu, parameter nitrit, nitrat, fosfat dan amonia dianalisis di Laboratorium Hidrobiologi Divisi Lingkungan Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Parameter biologi meliputi kelimpahan fitoplankton, kelimpahan relatif, indeks dominansi dan indeks keanekaragaman. Hubungan nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton dianalisis menggunakan regresi linier berganda pada software SPSS 26. Hasil penelitian diperoleh konsentrasi nitrat di perairan pesisir Probolinggo berkisar antara 0,1977 mg/l – 0,6268 mg/l, sementara itu konsentrasi orthofosfat berkisar antara 0,0429 mg/l – 0,5454 mg/l. Komposisi fitoplankton yang diperoleh terdiri dari 4 divisi dan 23 genus dengan kelimpahan berkisar antara 259-5.184 mg/l. Data kelimpahan fitoplankton yang diperoleh menunjukkan bahwa pesisir Probolinggo tergolong ke dalam perairan oligotrofik – mesotrofik. Rasio N/P di perairan pesisir Probolinggo berkisar antara 1 : 1 hingga 6,5 : 1. Divisi fitoplankton yang paling banyak ditemukan perairan pesisir Probolinggo ialah Ochrophyta dengan kelas Bacillariophyceae atau biasa disebut diatom. Hasil regresi linier berganda pada nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton diperoleh persamaan yaitu Y = 8,856 + 2,067X1 – 0,187X2. Keoefisien determinasi yang diperoleh sebesar 37,8% yang berarti hubungan nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton bernilai sedang

    Hubungan Rasio N/P Terhadap Komposisi Dan Kelimpahan Fitoplankton Di Perairan Pantai Lekok, Pasuruan, Jawa Timur

    No full text
    Fitoplankton adalah plankton kelompok tumbuhan dan merupakan produsen primer terbanyak di perairan. Fitoplankton juga merupakan penghasil oksigen pada wilayah perairan karena dapat melakukan fotosintesis dan sebagai dasar rantai makanan bagi kehidupan perairan laut. Keberadaan dan aktivitas fitoplankton berhubungan dengan lingkungan perairan sekitarnya. Unsur hara merupakan suatu zat yang diperlukan untuk pertumbuhan fitoplankton. Suplai unsur hara ke dalam suatu perairan, khususnya Nitrogen (N), Fosfat (P), dan Silikat (Si) sering dikatakan sebagai faktor pembatas yang dapat mempengaruhi penyebaran dan pertumbuhan populasi dan komunitas fitoplankton. Kandungan unsur hara nitrat dan fosfat dalam perairan tinggi, maka dapat dikatakan bahwa perairan tersebut memiliki kesuburan dan produktivitas yang tinggi pula. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsentrasi nitrat dan fosfat, komposisi dan kelimpahan fitoplankton, serta rasio N/P. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2023 di Perairan Pantai Lekok, Pasuruan, Jawa Timur. Metode penentuan stasiun yang digunakan yaitu metode purposive dengan 3 stasiun pengambilan sampel dan 3 kali pengulangan pada masing-masing stasiun. Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan menggunakan plankton net dengan bantuan water sampler. Parameter kualitas perairan yang diukur meliputi: suhu, kecerahan, pH, DO, salinitas, nitrat, fosfat, dan silikat. Analisis data fitoplankton meliputi: kelimpahan dan komposisi fitoplankton, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, serta indeks dominansi. Hasil perhitungan kelimpahan fitoplankton berkisar antara 46?908 sel/ml, masuk dalam kategori oligotrofik. Jenis fitoplankton yang teridentifikasi di Perairan Pantai Lekok, Pasuruan, Jawa Timur, terdiri dari 4 divisi dan 15 genus. Komposisi fitoplankton tertinggi yaitu divisi Bacillariophyta (98,55%), kemudian Dinoflagellata (1,05%), Ochrophyta (0,26%), dan Chlorophyta (0,13%). Hasil perhitungan indeks keanekaragaman berkisar antara 0,9289?1,8559 (kategori rendah), indeks keseragaman berkisar antara 0,1787?0,3054 (kategori tidak merata), dan indeks dominansi berkisar antara 0,3726?0,7148 (kategori ada jenis fitoplankton yang mendominasi). Konsentrasi nitrat dan fosfat masing-masing berada dalam kisaran 0,0584?0,1675 ppm dan 0,033?0,1005 ppm. Rasio N/P berada dalam kisaran 1,04?3,56. Hasil pengukuran parameter kualitas air terdiri dari: suhu berkisar antara 27,8?32,3°C, kecerahan berkisar antara 54?263 cm, pH berkisar antara 7,1?9,42, DO berkisar antara 2,1?7,62 ppm, salinitas berkisar antara 28?34 ppt, dan silikat berkisar antara 0,0257?0,0513 ppm. Konsentrasi nitrat termasuk dalam kategori oligotrofik dan fosfat termasuk kategori mesotrofik. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara nitrat dan fosfat dengan kelimpahan fitoplankton. Nilai determinan atau R-Square yaitu sebesar 79%, artinya kelimpahan fitoplankton dapat diterangkan secara linier sebesar 79

    Analisis Hubungan Limbah Organik Terhadap Jenis Dan Kelimpahan Bakteri Vibrio Pada Air Baku Budidaya Udang Vaname Kawasan Pesisir Probolinggo, Jawa Timur.

    No full text
    Pemanfaatan terhadap kawasan pesisir yang digunakan oleh masyarakat dengan penerapan teknologi budidaya yang dilakukan secara super intensif dan padat tebar yang tinggi pada kegiatan budidaya udang vaname akan berdampak kepada munculnya limbah organik sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga akan berdampak pada perubahan komponen fisika, kimia, dan biologi kualitas perairan. Rendahnya kualitas sumber air yang digunakan untuk budidaya yang disebabkan oleh limbah bahan organik dan munculnya bakteri patogen yang menyebabkan penyakit seperti bakteri Vibrio sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beban limbah organik serta mengetahui analisis hubungan keberadaan limbah organik terhadap komposisi jenis dan kelimpahan total bakteri Vibrio sp. pada sumber air tambak daerah Probolinggo, Jawa Timur. Pengambilan sampel air dilakukan pada 5 stasiun pengamatan dengan pengulangan yang dilakukan sebanyak 3 kali. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode secara deskriptif dengan sumber data yang digunakan adalah berupa data primer dan data sekunder. Hasil data pengukuran parameter kualitas air dibandingkan dengan ketetapan yang sudah ditentukan sesuai baku mutu menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. 75 Tahun 2016 serta Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001. Analisis data untuk mengetahui hubungan total organik meter (TOM) dan total kelimpahan bakteri Vibrio sp. selama penelitian diketahui dengan metode uji korelasi dan regresi menggunakan perangkat lunak berupa aplikasi SPSS. Pengukuran kadar limbah organik dengan menghitung kadar Total Organic Matter (TOM) diperoleh hasil pada stasiun 1 pada minggu pertama (sampling 1) mengalami peningkatan melebihi baku mutu yang sudah ditentukan yaitu dengan nilai TOM sebesar 61 mg/L. Peningkatan terjadi pada minggu kedua (sampling 2) dengan seluruh stasiun kadar nilai TOM melebihi batas baku yang sudah ditentukan. Hasil dari pengamatan terhadap identifikasi jenis bakteri Vibrio yang telah ditemukan adalah Vibrio alginolyticus, Vibrio parahaemolyticus, Vibrio vulnificus, dan Vibrio fluvialis. Hasil dari perhitungan kelimpahan bakteri Vibrio sp yang tertinggi terjadi kepada hampir seluruh stasiun 1, stasiun 2, stasiun 3 dengan kelimpahan mencapai 103 dan 104 CFU/ml. kecuali stasiun 4 dan 5 diwaktu pengamatan minggu kedua (sampling 2) dengan nilai 0 pada stasiun 4 sedangkan pada stasiun 5 nilainya adalah 102 CFU/ml. Hasil dari analisa hubungan bahan organik dengan kelimpahan bakteri vibrio dapat menunjukkan nilai dari koefisein korelasi (R) sebesar 0,461 memiliki sifat korelasi positif dengan kriteria korelasi sedang, dikarenakan hasil nilai R mendekati 0,60. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini yakni hubungan bahan organik dan kelimpahan bakteri vibrio memiliki korelasi positif dengan kriteria korelasi sedang, sehingga dapat diartikan bahwa peningkatan nilai organik yang tinggi akan berdampak pada kelimpahan bakteri vibrio yang semakin tinggi. Saran yang diberikan berupa pemberian pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat
    corecore