1,720,968 research outputs found

    Hubungan Antara Berat Dinding Sarang Polen Dengan Berat Polen Lebah Madu (Trigona Sp.)

    No full text
    Budidaya lebah madu adalah salah satu kegiatan usaha yang tidak berbasis lahan, sehingga tidak menjadi pesaing bagi usaha pertanian pada umumnya. Perlebahan bahkan berperan dalam optimalisasi sumberdaya alam melalui pemanfaatan nektar dan serbuksari, yakni dua produk tumbuhan yang sebagian besar akan terbuang siasia apabila tidak dimanfaatkan untuk pakan lebah madu. Dengan begitu, perlebahan merupakan jenis kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah terhadap budidaya tanaman. Hasil yang diperoleh dari industri perlebahan tidak saja terbatas pada madu saja, tetapi juga termasuk lilin, royal jelly, propolis, tepungsari, dan racun lebah. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di daerah Pasuruan di Dusun Andong Desa Ngembal Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan dan Desa Sonoageng Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk.Dilaksanakan pada bulan November sampai dengan bulan Juli 2021. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi atau memprediksi berat dinding sarang polen dengan berat polen lebah madu (Trigona. sp) dan mengetahui besarnya hubungan antara berat dinding sarang polen dengan berat polen lebah madu (Trigona. sp). Materi penelitian yang digunakan pada penelitian ini dengan menggunakan 3 sangkar polen yang berasal dari jenis lebah madu Trigona sp. Butiran pollen yang digunakan untuk ditimbang sebanyak 5 butir pada satu sangkar, sample diambil dari tiga buah sangkar untuk dijadikan ulangan, hal ini karena jumlah pollen yang didapat pada setiap sangkar tidak sama. Sampel yang didapatkan dari peternakan lebah madu tanpa sengat (Stingless bee) yang ada di Desa Ngembal Pasuruan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi lapang (field study). Hasil penelitian menunjukkan besar korelasi antara berat dinding pollen dan berat pollen basah, pollen jemur dan pollen oven adalah 0,180, -0,216 dan -0,298. Hasil korelasi dengan berat pollenbasah adalah 0,180 artinya berat pollen basah berhubungan positif dengan korelasi sangat lemah terhadap berat dinding pollen. Hasil korelasi dengan berat pollen jemur adalah -0,216 artinya berat pollen jemur memiliki hubungan negatif dengan korelasi lemah terhadap berat dinding pollen. Hasil korelasi dengan berat pollen oven adalah -0,298 artinya berat pollen oven memiliki hubungan negatif dengan korelasi lemah terhadap berat dinding pollen. Bentuk hubungan antara berat dinding pollen dan berat pollen basah memiliki persamaan Y = 3243,8 + 0,15X, nilai koefisien regresi antara berat dinding pollen dan berat pollen basah adalah 0,1485 yang artinya setiap kenaikan 1 mg berat dinding pollen makan akan menaikkan berat pollen basah sebesar 0,1485 mg. Bentuk hubungan antara berat dinding pollen dan berat pollen jemur memiliki persamaan Y = 2642,5 - 0,1821X, nilai koefisien regresi antara berat dinding pollen dan berat pollen jemur adalah -0,1821 yang artinya setiap kenaikan 1 mg berat dinding pollen makan akan menurunkan berat pollen jemur sebesar 0,1821 mg. Bentuk hubungan antara berat dinding pollen dan berat pollen oven memiliki persamaan Y = 2446,8 - 0,226X, nilai koefisien regresi antara berat dinding pollen dan berat pollen oven adalah -0,226 yang artinya setiap kenaikan 1 mg berat dinding pollen makan akan menurunkan berat pollen oven sebesar 0,226 mg. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan atau korelasi antara berat dinding pollen dan berat pollen, namun besaran korelasi dibedakan berdasarkan jenis pollen. Nilai korelasi dengan pollen basah sebesar 0,180 yang berarti memiliki korelasi sangat lemah. Sedangkan dengan pollen jemur dan pollen oven sebesar -0,216 dan -0,298 yang berarti memiliki korelasi lemah. Bentuk hubungan antara berat dinding pollen dan berat pollen dipengaruhi oleh jenis pollen. Bentuk hubungan berat dinding pollen dan berat pollen basah yaitu positif yang berarti jika berat dinding pollen meningkan maka diikuti kenaikan berat pollen basah. Sedangkan bentuk hubungan berat dinding pollen dan berat pollen jemur dan oven adalah negatif yang berarti jika berat dinding pollen meningkat maka akan diikuti penurunan berat pollen jemur dan pollen oven. Saran pada penelitian selanjutnya adalah perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan pollen yang menyebabkan bentuk hubungan berbeda untuk pollen basah, jemur dan oven

    Pengaruh Adsorben Limbah Tempurung Kelapa Dan Mineral Limbah Ternak Puyuh Terhadap Kemurnian Gas Bio

    No full text
    Gas bio memiliki potensi sebagai renewable energy, karena proses pembentukannya yang tidak memerlukan waktu lama dan dapat memanfaatkan berbagai limbah khususnya limbah dari sektor pertanian dan peternakan. Gas bio memanfaatkan limbah ternak yang difermentasi secara anaerobic di dalam suatu digester melalui tahap hidrolisis, asidogenik dan metanogenesis. Produk utama gas bio adalah gas CH4, namun adanya gas pengotor seperti gas CO2 dapat menurunkan kualitas gas bio yang menyebabkan penurunan nilai kalor gas bio. Kualitas gas bio dapat ditingkatkan melalui proses pemurnian gas bio dengan metode adsorpsi melalui kolom adsorber. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karbon aktif dari limbah tempurung kelapa dan mineral dari limbah ternak puyuh sebagai adsorben gas bio ternak terhadap kemurnian gas bio dengan berbagai perlakuan Hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh adsorben terbaik untuk x memurnikan gas bio yang mampu menurunkan konsentrasi gas karbon dioksida dan meningkatkan konsentrasi gas metana. Materi penelitian yang digunakan adalah gas bio hasil fermentasi anaerob limbah ternak puyuh dan limbah cumi-cumi di dalam tangki pencernaan yang terbuat dari jerigen. Adsorben Karbon aktif dari limbah tempurung kelapa dari buah kelapa (Cocos nucifera) yang diperoleh dari pasar belimbing Kota Malang, Jawa Timur. Adsorben mineral yang telah diaktivasi menggunakan larutan NaOH yang diperoleh dari limbah ternak puyuh (Coturnix coturnix japonica L) yang diperoleh dari peternakan puyuh milik bapak Arif Rahmad Hakim yang berlokasi di Desa Karjan, Bunut Wetan, Pakis, Malang, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan dengan empat kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah variasi perbandingan konsentrasi adsorben karbon aktif dari limbah tempurung kelapa dengan mineral dari limbah ternak puyuh yaitu, P0: kontrol atau tanpa perlakuan; P1: 100% karbon aktif dari limbah tempurung kelapa; P2: 75% karbon aktif dari limbah tempurung kelapa + 25% mineral dari limbah ternak puyuh; P3: 50% karbon aktif dari limbah tempurung kelapa + 50% mineral dari limbah ternak puyuh, P4: 25% karbon aktif dari limbah tempurung kelapa + 75% mineral dari limbah ternak puyuh, dan P5: 100% mineral dari limbah ternak puyuh. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah kandungan gas bio (konsentrasi gas CH4 dan CO2), persentase kenaikan konsentrasi gas CH4 dan persentase penurunan konsentrasi gas CO2. Parameter pendukung yang diamati adalah laju alir pemurnian gas bio dan tekanan pemurnian gas bio. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance), apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan uji JND (Jarak Nyata Duncan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi perbandingan konsentrasi adsorben karbon aktif dari limbah tempurung kelapa dengan mineral dari limbah ternak puyuh memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,01) terhadap kandungan gas bio (konsentrasi gas CH4 dan CO2), tekanan pemurnian gas bio dan laju alir pemurnian gas bio. Kandungan gas bio limbah ternak puyuh dan limbah cumi-cumi sebelum pemurnian (P0) melalui analisis Gas Chromatography (GC) yaitu konsentrasi gas CO2 (69,65 ± 1,96c), konsentrasi gas CH4 (27,13 ± 2,09b) dan konsentrasi gas H2 (3,22 ± 0,139a). Hasil analisis ragam terhadap konsentrasi gas CO2 (%) menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (69,65 ± 1,96c), P1 (32,42 ± 5,08a), P2 (58,63 ± 1,80b), P3 (30,90 ± 2,93a), P4 (59,18 ± 3,20b), dan P5 (78,57 ± 1,141d). Hasil analisis ragam terhadap konsentrasi gas CH4 (%) menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (27,13 ± 2,09b), P1 (63,89 ± 3,80d), P2 (35,87 ± 1,38c), P3 (63,76 ± 3,41d), P4 (31,17 ± 3,16bc), dan P5 (5,13 ± 0,85a). Hasil analisis ragam terhadap penurunan tekanan pemurnian gas bio menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (252,34 ± 1,68 Pa), P1 (162,27 ± 2,41 Pa), P2 (32,70 ± 0,55 Pa), P3 (22,99 ± 0,91 Pa), P4 (4,07 ± 0,34 Pa), dan P5 (7,82 ± 0,35 Pa). Hasil analisis ragam terhadap peningkatan kecepatan alir pemurnian gas bio menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (1,36 ± 0,27 mL/s), P1 (2,47 ± 0,98 mL/s), P2 (5,62 ±0,29 mL/s), P3 (8,75 ± 0,13 mL/s), P4 (22,70 ± 0,16 mL/s), dan P5 (16,30 ± 0,12 mL/s). Penurunan konsentrasi gas CH4 dan peningkatan konsentrasi gas CO2 pada perlakuan P5 dalam penelitian ini disebabkan tidak dilakukan aktivasi secara fisik terhadap kedua adsorben yang telah dilakukan pemurnian sehingga, ketika dilakukan pemurnian pada perlakuan P5 adsorben sudah mengalami kejenuhan. Kejenuhan pada adsorben disebabkan telah terisinya rongga-rongga adsorben oleh gas pengotor yang menyebabkan adsorben tidak mampu melakukan pemurnian gas bio lagi. Aktivasi secara fisik disarankan untuk dilakukan terhadap adsorben yang telah digunakan dengan cara diangin-anginkan pada ruangan terbuka ataupun dipanaskan menggunakan oven atau sinar matahari

    Pengaruh Pemberian Limbah Kulit Kopi Tomat Afkir Dan Kol Terhadap Pertumbuhan Larva Lalat Tentara Hitam (Hermetia Illucens)

    No full text
    Salah satu permasalahan yang paling sering kita hadapi di dunia peternakan adalah terkait bahan bahan pakan sumber protein yang merupakan salah satu bahan pakan yang paling dibutuhkan oleh ternak yang dipelihara, karena mahalnya sumber protein maka peternakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan protein ternak sehingga sekarang muncul sumber protein alternatif yang bisa menekan biaya produksi dan memiliki kualitas yang setara. Dalam proses produksinya, baik peternak, pertanian maupun limbah industri yang terbuang sia-sia kini dapat digunakan sebagai pakan larva lalat tentara hitam sehingga tidak mencemari lingkungan dan memiliki nilai guna. Salah satu limbah peternakan yang dapat digunakan adalah kotoran ayam dan untuk limbah pertanian yang dapat digunakan seperti limbah buah, dan sayur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan lalat tentara hitam dengan pemberian media pakan limbah kulit kopi dan tomat. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menyediakan bahan pakan alternatif untuk ternak berupa larva lalat tentara hitam dan mampu memanfaatkan limbah pertanian dan limbah peternakan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva lalat tentara hitam usia 2 hari seberat 200 gram yang ditampung di masing-masing bak pemeliharaan dengan perlakuan dan ulangan yang berbeda beda. Metode penelitian yang digunakan menggunakan metode percobaan rancangan acak lengkap dengan menggunakan 4 perlakuan sebagai berikut: P0: 100 % Limbah Sayuran P1: 100 % Limbah kulit kopi, P2: 100 % Tomat afkir , P3: 33.3 % limbah sayuran + 33.3% Limbah Kulit Kopi + 33.3% Tomat Afkir. Sedangkan variabel yang diamati adalah pertambahan bobot badan larva. Daya cerna larva lalat tentara hitam, FCR larva lalat tentara hitam. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu Penggunaan limbah kulit kopi dan tomat afkir serta limbah kol sebagai media pertumbuhan larva lalat tentara hitam memberikan pengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan larva lalat tentara hitam. Hasil rataan terbaik dari penggunaan limbah pertanian/ limbah peternakan adalah limbah tomat afkir. Saran dari penelitian ini adalah hendaknya peternak dapat memanfaatkan peluang dengan membudidayakan BSF yang bertujuan untuk menjadi pakan alternative bagi ternak dikarenakan nilai gizinya yang tinggi dapat memengaruhi produktivitas ternak tersebut. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai kandungan nutrisi dengan pemberian media pakan nabati dan hewani

    Pengaruh Lumpur Organik Unit Gas Bio (Lougb) Terhadap Daya Tarik Lebah (Trigona Sp.) Pada Bunga Timun (Cucumis Sativus L.)

    No full text
    Lumpur Organik Unit Gas Bio (LOUGB) merupakan produk samping (by product) yang banyak mengandung nutrisi dan unsur hara yang dapat digunakan sebagai bahan pakan dan pupuk organik. Pupuk organik mengandung unsur hara makro dan mikro yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Penggunaan pupuk LOUGB pada tanaman timun dapat memberikan efek yang berguna bagi pertumbuhan vegetatif maupun generatif tanaman timun, tak terkecuali pada pertumbuhan bunga timun. Penggunaan pupuk tersebut nantinya akan berguna bagi tanaman timun untuk menghasilkan bahan pokok berupa bunga yang penting bagi kebutuhan lebah. Dengan memanfaatkan potensi yang ada maka dapat dikatakan tanaman timun dapat dijadikan sebagai tanaman pakan lebah karena menyediakan pakan bagi lebah berupa nektar dan polen Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan pupuk hasil olahan LOUGB terhadap daya tarik lebah Trigona sp. dengan berbagai perlakuan ke bunga timun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bunga timun tersebut dengan daya tarik lebah Trigona sp. pada bunga timun. Materi penelitian yang digunakan adalah pupuk organik hasil pengelolaan LOUGB yang berbentuk padatan. Polybag sebagai wadah untuk menanam timun, koloni lebah Trigona sp.yang menjadi subjek dalam penelitian, stopwatch untuk mengamati waktu perpindahan lebah Trigona sp. ke bunga timun dan buku catatan untuk mencatat jumlah kedatangan lebah Trigona sp. kepada bunga timun. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan pola Subsampling yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah variasi perbandingan konsentrasi media tanam dari LOUGB, P0: tanpa penambahan pupuk organik LOUGB; P1:90% tanah dan 10% pupuk organik LOUGB; P2: 80% tanah dan 20% pupuk organik LOUGB; P3: 70% tanah dan 30% pupuk organik LOUGB dan P4: 60% tanah dan 40% pupuk organik LOUGB. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh pupuk hasil olahan LOUGB pada tanaman timun terhadap daya tariknya lebah Trigona sp.pada bunga timun, lama waktu lebah Trigona sp.berpindah ke bunga lain, periode teraktif lebah dalam mencari makanan, bentuk dan warna bunga timun. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance), apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi pupuk organik dari LOUGB memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap daya tarik lebah Trigona sp.kepada bunga timun. Namun, memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,01) terhadap lama waktu berpindah lebah Trigona sp.ke bunga timun. Hasil analisis ragam terhadap daya tarik lebah Trigona sp.memberikan pengaruh yang sangat nyata (P0,05) yaitu P0 (12,7 ± 1,77), P1 (12,8 ± 1,02), P2 (13,1 ± 1,04), P3 (12,8 ± 1,33), dan P4 (13,1 ± 1,83). Pemberian pupuk hasil pengelolaan LOUGB pada tanaman timun memberikan efek pada pertumbuhan vegetatif dan generatif. Hasil tersebut berpengaruh terhadap ketertarikannya lebah Trigona sp. pada bunga timun yang dibuktikan dengan jumlah bunga yang lebih banyak akan lebih menarik lebah Trigona sp. untuk berkunjung ke bunga timun dan pertumbuhan tanaman dan bunganya yang cukup optimal. Hal ini terjadi karena pupuk LOUGB dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman timun

    Pengaruh Adsorben Arang Aktif dan Serbuk Besi Terhadap Persentase Gas Metana dalam Gas Bio

    No full text
    Energi untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti memasak, berkendara dan listrik menggunakan energi dari fosil yang ketersediaannya tidak dapat diperbaharui dan akan terus berkurang. Peternakan merupakan salah satu penyebab lain dari polusi udara dan pemanasan global karena kotoran yang menghasilkan gas amonia. Gas bio merupakan bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan bahan bakar fosil. Gas bio bisa diperoleh dari limbah peternakan yang diproses secara anaerobik di dalam digester. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh arang aktif batok kelapa dan serbuk besi teroksidasi (Fe2O3) sebagai adsorben gas bio ternak terhadap persentase gas metana dan peningkatan kandungan gas metana di dalam gas bio yang tersaring oleh adsorben. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh adsorben terbaik untuk pemurnian gas bio dan mengestimasikan peningkatan kadar gas metana. Materi penelitian yang digunakan adalah gas bio ternak ayam broiler yang diproduksi di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan Brawijaya yang terletak di Sumbersekar. Metode penelitian adalah percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu P0: kontrol, P1: 100% arang aktif, P2: 75% arang aktif + 25% serbuk besi, P3: 50% arang aktif + 50% serbuk besi, P4: 25% arang aktif + 75% serbuk besi, dan P5: 100% serbuk besi. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of variance), apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji JNT (Jarak Nyata Terkecil). Hasil analisis ragam terhadap rata-rata peningkatan luas area gas metana menunjukkan perbedaan sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (7478,13±1291,87 mm2), P1 (19355,62±2563,86 mm2), P2 (23250,97±2152,57 mm2), P3 (34175,90±2118,60 mm2), P4 (22554,79±1793,17 mm2), dan P5 (24412,52±2211,81 mm2). Hasil analisis ragam terhadap rata-rata penurunan konsentrasi gas CO2 menunjukkan perbedaan sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (86,44±1,36 %), P1 (72,98±3,50 %), P2 (68,82±2,22 %), P3 (56,77±2,81 %), P4 (68,08±3,62 %), dan P5 (66,52±3,05 %). Hasil analisis ragam terhadap rata-rata peningkatan konsentrasi gas metana menunjukkan perbedaan sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (11,89±1,60 %), P1 (25,22±1,53 %), P2 (30,56±2,22 %), P3 (42,66±2,83 %), P4 (31,28±3,53 %), dan P5 (32,90±3,01 %). Hasil analisis ragam terhadap penurunan gas pada gas bio menunjukkan perbedaan sangat nyata (P<0,01) yaitu P0 (392,37±80,09 Pa), P1 (269,76±49,04 Pa), P2 (196,19±80,09 Pa), P3 (122,62±49,05 Pa), P4 (171,67±49,05 Pa), dan P5 (220,71±49,05 Pa). Penggunaan arang aktif dan serbuk besi sebagai adsorben gas bio ternak berpengaruh terhadap peningkatan luas area gas metana, penurunan konsentrasi gas CO2, penigkatan konsentrasi gas metana dan penurunan tekanan gas pada gas bio. Persentase kadar gas metana terbaik dihasilkan pada perlakuan P3 (50% arang aktif + 50% serbuk besi) yaitu peningkatan kadar gas metana mencapai 42,66% dengan penurunan kadar gas CO2 mencapai 56,77%. Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan penambahan panjang adsorben dan volume adsorben (arang aktif dan serbuk besi) yang digunakan

    Pengaruh Lumpur Organik Unit Gas Bio Terhadap Produksi Nektar Bunga Mentimun (Cucumis Sativus L.)

    No full text
    Lumpur Organik Unit Gas Bio (LOUGB) merupakan produk samping dari pembuatan gas bio yang memiliki banyak nutrisi dan unsur hara yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Pupuk organik memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi pada tanah. Penggunaan pupuk LOUGB pada tanaman mentimun dapat membikan pengaruh pada pertumbuhhan vegetatif dan generatif tanaman mentimun. Penggunaan pupuk tersebut juga memberikan pengaruh dalam pertumbuhan bunga mentimun yang penting untuk kebutuhan lebah. Dengan potensi tersebut maka tanaman mentimun dapat dijadikan sebagai tanaman pakan lebah karena menyediakan pakan berupa nektar dan polen bagi lebah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan pupuk LOUGB terhadap jumlah bunga, bobot bunga, serta jumlah nektar dengan berbagai perlakuan terhadap tanaman mentimun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengaruh pada jumlah bunga,bobot bunga, serta jumlah nektar pada tanaman.mentimun

    “Peranan Pupuk Limbah Cumi dan Puyuh Terhadap Daya Tarik Lebah pada Bunga Sawi

    No full text
    Pemanfaatan sawi sebagai pakan bagi lebah memiliki manfaatnya tersendiri guna memenuhi nutrisi yang diperlukan oleh lebah. Tanaman sawi memiliki kemampuan untuk berbunga yang cukup lama yakni sampai dua minggu. Harganya yang ekonomis, mudah didapat dan gizinya yang tinggi membuat tanaman sawi menjadi potensi yang baik bagi pakan lebah itu tersendiri. Penggunaan pupuk limbah ternak puyuh dan limbah cumi bagi tanaman sawi dapat memberikan efek yang berguna bagi pertumbuhan bunga sawi. Penggunaan pupuk tersebut nantinya akan berguna bagi tanaman sawi untuk menghasilkan bahan pokok yang penting bagi kebutuhan lebah. Dengan memanfaatkan potensi yang ada maka dapat dikatakan tanaman sawi dapat dijadikan sebagai tanaman pakan lebah karena produksi nektar dan polennya tersebut yang cukup lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak puyuh (LTP) dan limbah cumi (LC) terhadap daya tarik lebah Apis mellifera viii dengan berbagai perlakuan ke bunga sawi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bunga sawi tersebut dengan daya tarik lebah Apis mellifera pada bunga sawi. Materi penelitian yang digunakan adalah pupuk organik hasil olahan limbah ternak puyuh (LTP) dan limbah cumi (LC) yang berbentuk padatan. Polybag sebagai wadah untuk menanam sawi, koloni lebah Apis mellifera yang menjadi subjek dalam penelitian, stopwatch untuk mengamati waktu perpindahan lebah Apis mellifera ke bunga sawi dan Notebook untuk mencatat jumlah kedatangan lebah Apis mellifera kepada bunga sawi. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah variasi perbandingan konsentrasi media tanam dari limbah ternak puyuh (LTP) dan limbah cumi (LC) yaitu, P0: varian kontrol tanpa adanya perlakuan; P1: 100% Limbah Puyuh; P2: 75% Limbah Puyuh + 25% Limbah Cumi; P3: 50% Limbah Puyuh + 50% Limbah Cumi; P4: 25% Limbah Puyuh + 75% Limbah Cumi, dan P5: 100% Limbah Cumi. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah seberapa besar pupuk hasil olahan limbah ternak puyuh (LTP) dan limbah cumi (LC) pada tanaman sawi terhadap daya tariknya lebah Apis mellifera pada bunga sawi, lama waktu lebah Apis mellifera berpindah ke bunga lain, periode teraktif lebah dalam mencari makanan, bentuk dan warna bunga sawi. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance), apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi pupuk organik dari limbah ternak puyuh (LTP) dan limbah cumi (LC) memberikan pengaruh yang sangat nyata (P0,01) terhadap lama waktu berpindah lebah Apis mellifera ke bunga sawi. Hasil analisis ragam terhadap daya tarik lebah Apis mellifera memberikan pengaruh yang sangat nyata (P0,01) yaitu P0 (12,59 ± 1,71), P1 (12,54 ± 1,39), P2 (13,20 ± 1,04), P3 (12,80 ± 0,98), P4 (13,12 ± 1,85) dan P5 (14,15 ± 1,19). Pemberian pupuk hasil olahan limbah ternak puyuh (LTP) dan limbah cumi (LC) pada tanaman sawi memberikan efek pada pertumbuhan vegetatef dan generatif. Hasil tersebut berpengaruh terhadap ketertarikannya lebah Apis mellifera pada bunga sawi yang dibuktikan dengan jumlah bunga yang lebih banyak akan lebih menarik lebah Apis mellifera untuk berkunjung ke bunga sawi dan pertumbuhan tanaman dan bunganya yang cukup optimal. Hal ini diperkirakan terjadi karena pupuk hasil olahan limbah ternak puyuh (LTP) dan limbah cumi (LC) dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman sawi. Sangat disarankan untuk melakukan pengamatan disaat cuaca cerah dan intensitas cahaya matahari yang cukup untuk lebah beraktivitas

    Perbedaan Metode Budidaya Lebah Ratu Apis Mellifera Terhadap Luas Telur, Larva Dan Pupa

    No full text
    Koloni lebah madu Apis mellifera yang tidak memiliki lebah ratu didalamnya akan menstimulasi lebah pekerja yang ada didalam koloni untuk membangun sarang ratu yang baru. Faktor usia lebah ratu yang membatasi fungsi dan tanggung jawab pada sebuah koloni, maka perlu dilakukan pergantian lebah ratu pada koloni. Proses penggantian lebah ratu tersebut dapat menggunakan metode penangkaran tanpa lebah ratu (queenless) dan pencangkokan larva (grafting). Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2022 hingga Januari 2023 di Peternakan Lebah Madu PT Kembang Joyo Sriwijaya yang berada di Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penampilan luas telur, larva dan pupa dari metode penangkaran tanpa ratu (queenless) dan pencangkokan larva (grafting), dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam metode penangkaran lebah ratu Apis mellifera. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05) pada luas tolo telur dalam metode penangkaran lebah ratu dengan perlakuan grafting. Hasil penelitian pada luas tolo telur menunjukkan hasil yang nyata (P0,05) dalam metode penangkaran lebah ratu, dengan nilai perlakuan grafting lebih besar disbanding queenless. Hasil penelitian pada luas tolo pupa menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05) bahwa perlakuan grafting memiliki nilai yang lebih besar dibanding dengan nilai queenless. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Perlakuan grafting dan queenless memiliki perbedaan penampilan luas telur, larva dan pupa dari metode penangkaran tanpa lebah ratu (queenless) dan pencangkokan larva (grafting) menghasilkan nilai yang signifikan terhadap luas telur, larva dan pupa. Grafting dan queenless menghasilkan nilai yang signifikan terhadap luas telur, larva dan pupa

    Pengaruh Pemanasan dengan Gas Bio Sapi Terhadap Penampilan Propolis Lebah Tanpa Sengat (Trigona Sp)

    No full text
    Limbah ternak sering dianggap sebagai hal yang tak bernilai dan tak bermanfaat, pengolahan limbah ternak berperan dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Kotoran ternak dapat diubah menjadi gas bio yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Gas bio yang dihasilkan kotoran sapi dapat menghasilkan nyala api yang dapat digunakan untuk melarutkan propolis. Gas bio dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme methanobacterium pada kondisi tanpa oksigen (anaerob). Gas bio memiliki kandungan utama yaitu gas metana (CH4), karbon dioksida (CO2), gas hidrogen sulfida (H2S), nitrogen (N), hidrogen (H2) dan oksigen (O2). Propolis atau lem lebah dikumpulkan oleh lebah madu dari berbagai macam jenis tumbuhan, terutama dari bagian kuncup dan daun. Propolis digunakan sebagai pertahanan diri Trigona untuk melindungi diri dari serangan predator sehingga propolis diproduksi lebih banyak dari madu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelarutan propolis dengan menggunakan gas bio sapi yang ditinjau dari bobot propolis, volume propolis, ektrak propolis, dan rendemen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan informasi dalam menambahkan pengetahuan umum masyarakat mengenai pengaruh pelarutan propolis dengan bio gas sapi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2023 sampai bulan September 2023, pengambilan gas bio dilaksanakan pada peternakan pak Sulis di desa Wonokerto, Bantur, Malang dan pengujian variabel dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Materi penelitian yang digunakan adalah propolis sebanyak 10 gram dengan penambahan aquades 40 ml (1:4) dan dilarutkan menggunakan gas bio sapi dengan panas P1: 700C, P2: 750C, P3 800C, P3 850C, P4 900C. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot propolis, volume, ekstrak dan rendemen propolis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gas bio sapi dalam melarutkan propolis tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot propolis, volume propolis, ekstrak propolis dan rendemen. Bobot propolis (20,65 ± 3,82) g, volume propolis (32,50 ± 5,00) ml, ekstrak propolis (22,25 ± 1,89), rendemen (0,45 ± 0,04). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gas bio sapi dengan penyaringan menggunakan arang batok kelapa sebagai bahan adsorben tidak mencemari larutan propolis karena propolis memiliki sifat antimikroba yang kuat, sehingga dapat membantu membersihkan dan melindungi tubuh dari infeksi. Perbedaan suhu pada pelarutan propolis menggunakan gas bio sapi dengan penyaringan dari arang batok kelapa tidak berpengaruh terhadap bobot propolis, volume propolis, ekstraksi dan juga rendemen, namun dapat menambah nilai bobot propolis dan volume propolis juga dapat menurunkan nilai ekstraksi propolis dan rendemen

    Pengaruh Pupuk Organik dari Sludge Padat Biogas Limbah Cumi-cumi dan Burung Puyuh Terhadap Produksi Nektar dan Bunga Sawi Hijau

    No full text
    Sawi hijau memiliki kemampuan untuk berbunga dengan durasi yang cukup panjang. Kemampuan tersebut juga membuat sawi hijau memiliki potensi yang besar sebagai pakan lebah. Namun adanya permasalahan antara banyaknya tumbuh bunga sawi hijau yang tidak searah dengan kualitas dari daging daun sawi hijau, membuat kesempatan lebah untuk memanfaatkan bunga sawi hijau sebagai sumber pakannya menjadi lebih singkat dikarenakan waktu panen sawi hampir bersamaan dengan tumbuhnya bunga sawi. Karena adanya permasalahan tersebut, dibutuhkan media tanam yang ramah lingkungan untuk mempercepat stimulasi bunga dan jumlah nektar pada bunga sawi hijau agar lebah dapat memanfaatkan bunga sawi hijau menjadi sumber pakannya dengan waktu yang lebih lama sebelum waktu panen sawi hijau tiba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dari penggunaan pupuk organik dari sisa pembuatan gas bio limbah cumi dan burung puyuh sebagai media tanam terhadap produksi nektar dan pertumbuhan bunga dari sawi hijau dengan berbagai perlakuan kepada tanaman sawi hijau. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif dari tanaman sawi hijau serta dapat meningkatkan produksi nektar dan bobot bunga dari sawi hijau. Materi penelitian yang digunakan adalah pupuk limbah organik biogas dari cumi dan puyuh (Coturnix coturnix japonica L.) yang sudah berbentuk padatan. Polybag sebagai wadah untuk menanam sawi hijau. Timbangan digital analitik serta tisu untuk menimbang bobot dari bunga serta nektar yang diperoleh. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah variasi. Perlakuan yang diberikan adalah variasi perbandingan konsentrasi media tanam dari limbah cumi dan puyuh yaitu, P0: varian kontrol tanpa adanya perlakuan; P1: 100% Limbah Puyuh; P2: 75% Limbah Puyuh + 25% Limbah Cumi; P3: 50% Limbah Puyuh + 50% Limbah Cumi; P4: 25% Limbah Puyuh + 75% Limbah Cumi, dan P5: 100% Limbah Cumi. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah bunga pada tiap individu tanaman, jumlah produksi nektar bunga per bunga dan bobot bunga yang dihasilkan rata-rata per satuan bunga. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance), apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan uji JND (Jarak Nyata Duncan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi perbandingan konsentrasi pupuk organik dari limbah cumi dan puyuh memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata (P<0,01) terhadap jumlah bunga. Sedangkan pada bobot bunga, produksi dan produktivitas nektar variasi perbandingan konsentrasi pupuk organik dari limbah cumi dan puyuh tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05). Hasil analisis ragam terhadap rata-rata jumlah bunga menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P0,05) yaitu P0 (0.00945 ± 0.0032), P1 (0.0111 ± 0.0035), P2 (0.0126 ± 0.0044), P3 (0.0127 ± 0.0014), P4 (0.01095 ± 0.0008), dan P5 (0.0442 ± 0.0027). Hasil analisis ragam terhadap bobot bunga sawi hijau menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata (P>0,05) yaitu P0 (0,0223 ± 0,000580), P1 (0,0228 ± 0,000386), P2 (0,0235 ± 0,000445), P3 (0,0237 ± 0,000769), P4 (0,0240 ± 0,000259), P5 (0,0225 ± 0,001012). Serta hasil analisis ragam terhadap produktivitas nektar juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) yaitu yaitu P0 (42,385 ± 14,108), P1 (48,823 ± 15,937), P2 (53,523 ± 18,322), P3 (53,651 ± 7,022), P4 (45,702 ± 3,505) dan P5 (48,967 ± 10,837) Pemberian media tanam pupuk organik dari sludge padat biogas limbah cumi dan puyuh ini hanya memberikan efek terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif saja tanpa ada dampak yang diberikan kepada nektar yang dihasilkan. Pengukuran nektar disarankan dilakukan pada musim kemarau dan di daerah yang terkena intensitas cahaya matahari lebih lama agar optimal pengukurannya
    corecore