1,721,174 research outputs found

    Pembelajaran Fisika Fluida Statis Melalui Model Project Based Learning Disertai Mind Map Di MAN 1 Jember

    No full text
    Fisika merupakan ilmu yang mempelajari perilaku dan struktur materi yang gejalanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran fisika perlu diarahkan pada proses berpikir dan membutuhkan aktivitas siswa agar belajar lebih bermakna. Hal ini sesuai dengan dengan implementasi kurikulum 2013 yang menuntut peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran, namun metode yang digunakan pada saat ini masih belum memperhatikan aktivitas peserta didik atau peserta didik belum terlibat langsung dalam pembelajaran.. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang melibatkan siswa aktif melakukan kegiatan belajar bersama kelompok dengan bimbingan guru untuk menemukan pengetahuan. Penerapan model pembelajaran tidak hanya untuk mematuhi aturan tetapi juga memperhatikan beberapa faktor. Suatu model pembelajaran jika tidak sesuai dengan karakteristik materi akan membuat tujuan pembelajaran kurang tersampaikan. Pemahaman karakteristik materi sangat diperlukan sebelum menentukan model pembelajaran yang digunakan. Model project based learning disertai mind map adalah model pembelajaran yang sintakmatiknya membuat peserta didik aktif dalam kegiatan belajar, dapat mendorong kreativitas dan juga melatih siswa untuk dapat menganalisis konsep dan dapat memecahkan masalah dengan cepat. Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan penelitan ini adalah mendeskripsikan aktivitas belajar siswa selama menggunakan model project based learning disertai mind map dalam pembelajaran fluida statis di MAN 1 Jember dan mengkaji pengaruh model project based learning disertai mind map dalam pembelajaran fluida statis di MAN 1 Jember terhadap hasil belajar siswa kelas XI. ix Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain penelitian post-test only control design. Tempat penelitian ditentukan secara purposive sampling area. Sampel penelitian ditentukan dengan cara cluster random sampling. Penelitian ini dilaksanakan di MA Negeri 1 Jember. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah tes, observasi, dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik analisis data menggunakan Independent Sample T-test dengan bantuan SPSS 24 dan teknik deskriptif dengan persentase. Hasil analisis data skor persentase aktivitas belajar siswa secara keseluruhan diperoleh 66% atau aktivitas belajar siswa selama pembelajaran fisika fluida statis Melalui model project based learning disertai mind map di MAN 1 Jember termasuk dalam kategori aktif. Hal ini dikarenakan siswa dituntut untuk melakukan seluruh kegiatan pembelajaran secara aktif dan mandiri. Hasil analisis data hasil belajar diperoleh sig. (2-tailed) sebesar 0,000 atau 0,000 ≤ 0,05. Jika dikonsultasikan dengan pedoman pengambilan keputusan, maka pembelajaran fisika fluida statis melalui model project based learning disertai mind map di MAN 1 Jember berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar (H0 ditolak, Ha diterima). Berdasarkan hasil uji analisis data, dapat disimpulkan: 1) Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran fisika fluida statis melalui model project based learning disertai mind map di MAN 1 Jember termasuk dalam kriteria aktif; 2) Pembelajaran fisika fluida statis melalui model project based learning disertai mind map berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar ranah kognitif siswa di kelas XI MAN 1 Jember

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER DISERTAI PRAKTIKUM TERHADAP AKTIVITAS DAN PEMAHAMAN KONSEP FISIKA SISWA MATERI GAS IDEAL DI SMAN 1 JENGGAWAH

    Full text link
    Fisika merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang penting untuk diajarkan karena memberikan bekal ilmu kepada siswa dan menumbuhkan kemampuan berpikir yang berguna untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III SDN SIDOMULYO 04 KECAMATAN PRONOJIWO KABUPATEN LUMAJANG

    No full text
    Kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran IPA di SD hanya untuk mencapai target kurikulum. Siswa datang ke sekolah untuk mengikuti pembelajaran dengan metode ceramah dari guru saja, menulis materi dari buku paket yang tersedia atau bahkan hanya didikte oleh guru karena kurangnya fasilitas yang tersedia di sekolah. Kurangnya variasi metode guru dalam menyampaikan pengetahuan terhadap siswa-siswi dapat mengakibatkan kurangnya motivasi siswa untuk belajar sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa menjadi kurang dari target minimal (SKM) yang harus dicapai. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1). untuk mengetahui aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA tentang gerak benda dengan menggunakan metode eksperimen. (2). mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran IPA tentang gerak benda dengan menggunakan metode eksperimen. (3). untuk mengetahui peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA tentang gerak benda dengan menggunakan metode eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sidomulyo 04 Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang, dengan jumlah siswa 16 anak yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak dua siklus. Metode pengumpulan data melalui observasi dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskreptif kualitatif untuk menganalisis data berupa hasil observasi dan deskreptif kuantitatif untuk menganalisis data hasil tes formatif. Pengambilan data dilaksanakan mulai tanggal 8 Maret 2010 sampai dengan 25 Maret 2010 dengan subyek penelitian siswa kelas III SDN Sidomulyo 04 Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Data yang dikumpulkan berupa aktifitas siswa dan hasil tes formatif siswa secara kelompok dan individu. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi penggunaan metode eksperimen pada pembelajaran IPA pada siklus I adalah sebagai berikut: siswa sangat aktif 31,5%, siswa aktif 18,75%, siswa cukup aktif 37,50% dan siswa kurang aktif 12,5%. Pada siklus II : siswa sangat aktif 56,25%, siswa aktif 18,75%, siswa cukup aktif 18,75% dan siswa kurang aktif 6,25%. Sedangkan hasil tes formatif dapat diketahui pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh 69,25 dengan ketuntasan klasikal 75%, sedangkan pada siklus II diperoleh data rata-rata nilai 81,31 dengan ketuntasan klasikal 93,75. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa siswa mengalami peningkatan aktivitas dan hasil belajar dengan menggunakan metode eksperimen pada pembelajaran IPA tentang gerak benda dan hal-hal yang mempengaruhi gerak benda. Aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat karena metode eksperimen mampu menciptakan pembelajaran yang melibatkan siswa secara fisik dan mental selama pembelajaran dan memberikan motivasi siswa untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan, menantang, dan bermakna. Siswa menjadi berani untuk mengemukakan pendapat dan gagasan yang berkaitan dengan pengetahuan yang telah didapatkan selama kegiatan berlangsung, dan dapat meningkatkan keakraban antara siswa dan guru, siswa dengan siswa. Hal ini juga membawa dampak yang sangat baik bagi perkembangan sosial anak

    UJI JENIS KAWAT PENGHANTAR BERDASARKAN DERET VOLTA MENGGUNAKAN KALORIMETER

    No full text
    Energi listrik termasuk kebutuhan pokok masyarakat saat ini. Berdasarkan Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan namun dapat diubah kebentuk energi yang lain. Manfaat energi listrik bagi kehidupan sehari-hari cukup banyak, salah satunya energi listrik diubah menjadi energi panas (kalor)

    Pengembangan Modul Fisika Pokok Bahasan Suhu dan Kalor Berwawasan Lingkungan Pesisir Pantai di SMK Perikanan dan Kelautan Puger

    Full text link
    Pembelajaran dalam kurikulum 2013, guru diharapkan dapat mengaitkan proses pembelajaran dengan lingkungan, sumber daya alam, dan energi disekitarnya agar siswa dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Dengan demikian, diperlukan sumber belajar dan media belajar yang berbeda untuk siswa yang berada pada lingkungan yang berbeda. Buku yang disediakan pemerintah dan penerbit tentunya pasti akan bersifat umum dan nasional supaya dapat digunakan secara nasional. Padahal yang dibutuhkan siswa pada saat ini adalah yang khusus, detail, nyata dan dekat pada konteks lingkungannya. SMK Perikanan dan Kelautan Puger berada dalam lingkungan dekat dengan pesisir pantai. Akan tetapi, guru menggunakan buku paket cetak dan belum adanya penggunaan bahan ajar yang terintegrasi dengan lingkungan pesisir pantai sebagai sumber belajar materi suhu dan kalor. Oleh karena itu, perlu dikembangan modul fisika berwawasan lingkungan pesisir pantai agar memungkinkan siswa belajar langsung mengamati fenomena yang terkait dalam materi suhu dan kalor. Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan validitas, efektivitas dan respon siswa terhadap modul fisika pokok bahasan suhu dan kalor berwawasan lingkungan pesisir pantai di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (R&D). Model pengembangan menggunakan model menurut Nieveen yaitu meliputi preliminary research, prototyping stage, dan assesment stage. Tahap preliminary research dilakukan studi pendahuluan yaitu melakukan wawancara dan mengkaji penelitian-penelitian terdahulu untuk menganalisis kebutuhan. Tahap-tahap prototyping stage dirancang modul fisika berwawasan lingkungan pesisir pantai yang meliputi halaman judul, halaman identitas, prakata, daftar isi, daftar gambar, petunjuk penggunaan modul, judul bab, tujuan bab atau kompetensi, uraian pokok bahasan atau materi, bahan diskusi, contoh soal, peta konsep, rangkuman, tes formatif, latihan, glosarium, kunci jawaban, dan daftar pustaka serta halaman sampul belakang luar. Modul fisika berwawasan lingkungan pesisir pantai dinilai kevalidannya oleh dua ahli dalam pendidikan fisika sehingga didapatkan perhitungan nilai rata-rata validator menujukkan skor 3,38 dengan kriteria sangat valid. Modul fisika berwawasan lingkungan pesisir pantai juga dinilai kevalidannya oleh dua pengguna yakni guru mata pelajaran fisika sehingga didapatkan skor 3,64 dengan kriteria sangat valid. Tahap assessment stage berupa modul fisika berwawasan lingkungan pesisir pantai diuji lapangan pada kelas eksperimen, sedangakn pada kelas kontrol pembelajaran seperti biasa. Proses pembelajaran dilakukan selama dua kali pertemuan. Hasil belajar siswa pada pembelajaran di kelas eksperimen memperoleh skor N-gain sebesar 0,43 dengan kriteria sedang sedangkan di kelas kontrol memperoleh skor N-gain sebesar 0,29 dengan kriteria rendah. Dengan demikian, modul fisika pokok bahasan suhu dan kalor berwawasan lingkungan pesisir pantai memiliki kriteria efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga layak digunakan sebagai bahan ajar pada pokok bahasan suhu dan kalor. Modul fisika pokok bahasan suhu dan kalor berwawasan lingkungan pesisir pantai di SMK Perikanan dan Kelautan Puger mendapat respon siswa sebesar 86,11 % dengan kriteria sangat positif. Dengan demikian, modul yang dikembangkan dikatakan praktis dan mudah untuk digunakan. Kesimpulan pada penelitian ini adalah menghasilkan modul fisika pokok bahasan suhu dan kalor berwawasan lingkungan pesisir pantai berupa produk yang valid berdasarkan penilaian ahli dan pengguna, produk yang efektif didasarkan pada peningkatan hasil belajar siswa, dan produk yang praktis dan mudah berdasarkan respon positif siswa

    PENERAPAN MODEL CONCEPT ATTAINMENT DISERTAI TEKNIK CONCEPT MAPPING PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI MA

    No full text
    Berdasarkan hasil analisis Independent-Sample T-test , dengan signifikasi kurang dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan varians pada data nilai kelas eksperimen dan kelas kontrol (data tidak homogen). Sehingga analisis Independent-Sample T-test menggunakan asumsi equal variances not assumed. Terlihat dari hasil analisis Independent-Sample T-test di atas, nilai t pada equal variance not assumed adalah 2,136 dengan signifikansi (2-tailed) 0,038. Nilai sig. 0,038 0,05 sehingga Ha diterima. Oleh karena itu, berdasarkan pedoman keputusan pada bab 3 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Hasil analisis aktivitas siswa pada kelas eksperimen yang diperoleh selama proses pembelajaran menunjukkan bahwa pada pelaksanaan pembelajaran I tergolong aktif yaitu sebesar 74,3% sedangkan pada pembelajaran II tergolong sangat aktif yaitu sebesar 80,2%, sedangkan untuk rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan I dan II adalah sebesar 77,25 % dan dapat dikategorikan aktif. Berdasarkan analisis data yang diperoleh, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar fisika siswa menggunakan model pembelajaran Concept Attainment disertai teknik Concept Maping dengan menggunakan pembelajaran konvensional di sekolah, 2) Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Concept Attainment disertai teknik Concept Mapping tergolong sangat aktif dengan skor rata-rata 83,9

    Pengaruh Suhu Dan Lama Waktu Roasting Terhadap Massa Jenis Biji Kopi Robusta Menggunakan Mesin Roasting Tipe Hot Air

    No full text
    Tahapan penting yang akan menentukan mutu kopi siap konsumsi adalah roasting. Metode ini telah dikembangkan dan digunakan untuk memperoleh mutu seduhan kopi yang terbaik dan spesifik. Selain metode yang digunakan, jenis kopi sangat berpengaruh terhadap karakteristik mutu seduhan kopi yang dihasilkan. Biji kopi tidak akan memiliki nilai komersil yang tinggi sebelum dikenakan proses roasting untuk pembentukan karakter aroma dan cita rasa yang terbaik. Roasting merupakan perpaduan antara waktu dan suhu yang mengubah struktur dan sifat kimia di dalam biji kopi melalui proses pirolisasi. Biji kopi bermutu tinggi sekalipun tidak dapat memiliki aroma dan cita rasa maksimum jika proses roasting tidak dilakukan dengan tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji beberapa hal, diantaranya, a) Menganalisis pengaruh suhu roasting terhadap massa jenis biji kopi robusta menggunakan mesin roasting tipe hot air b) Menganalisis pengaruh lama waktu roasting terhadap massa jenis biji kopi robusta menggunakan mesin roasting tipe hot air c) Mengetahui suhu yang cocok untuk kopi robusta. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian Eksperimen. Penelitian Eksperimen merupakan penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Untuk dapat melaksanakan suatu eksperimen yang baik, perlu dipahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkait dengan komponen-komponen eksperimen, Baik yang berkaitan dengan jenis-jenis variabel, hakekat eksperimen, karakteristik, tujuan, syarat-syarat eksperimen, langkah-langkah penelitian eksperimen, dan bentukbentuk desain penelitian eksperimen. Selanjutnya, Dalam penelitian eksperimen dikenal beberapa variabel. Berdasarkan dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa a) suhu pada saat roasting terus mengalami kenaikan tetapi massa jenis semakin berkurang, hal ini menunjukkan hubungan terbalik antara suhu dengan massa jenis biji kopi robusta b) semakin lama diroasting maka berat kopi akan mengalami penurunan dikarenakan kadar air dalam biji kopi sudah mulai mengalami penurunan, hal ini menunjukkan hubungan terbalik antara lama waktu dengan massa jenis biji kopi robusta c) hasil suhu roasting terbaik dan bisa digunakan untuk penyeduhan adalah dalam suhu 200˚C dalam waktu 15-20 menit

    IDENTIFIKASI KEMAMPUAN LITERASI ENERGI SISWA SMA NEGERI ARJASA KABUPATEN JEMBER

    No full text
    Pendidikan berkaitan erat dengan pembangunan mendatang yang berkelanjutan sehingga pembangunan masa depan lebih berkualitas dan berkelanjutan. Salah satu aspek perkembangan yang pesat yaitu masalah teknologi seperti mendunianya penggunaan sepeda bermotor sehingga memunculkan upaya untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yaitu dengan literasi energi dikalangan generasi muda. Pentingnya literasi energi bagi siswa karena adanya ancaman krisis energi yang dihadapi negara-negara di dunia saat ini. Pemahaman terhadap kondisi tersebut hanya dimungkinkan jika seseorang memiliki pengetahuan tentang gagasan dasar konsep energi. Literasi energi merupakan hal penting yang harus diketahui oleh para siswa sekolah menengah, karena dengan adanya literasi energi siswa mengetahui permasalahan energi dunia pada saat ini dan mampu memecahkan permasalahan energi dimasa mendatang. Hal ini dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan kegiatan belajar mengajar di dunia pendidikan, untuk megukur tingkat kemampuan literasi energi, dan untuk menilai dampak pendidikan yang lebih luas. Oleh karena itu, peneliti berinisiatif untuk melakukan penelitian identifikasi kemampuan literasi energi siswa SMA negeri arjasa kabupaten jember

    Pengaruh Lks Fisika Sma Berbasis Diagram Vee Terhadap Kemampuan Kreativitas Ilmiah (Scientific Creativity) Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Suhu Dan Kalor

    No full text
    Praktek pembelajaran yang sering diterapkan di kebanyakan sekolah condong mendorong siswa untuk menghafal prinsip dan konsep serta belum mampu memanfaatkan konsep tersebut sebagai alternatif menyelesaikan masalah. Hal serupa juga berlaku pada mata pelajaran fisika. Para siswa seringkali menjawab atau menyelesaikan permasalahan dari guru dengan jawaban seadanya dan monoton. Hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan kreativitas ilmiah siswa tergolong rendah. Permendiknas No. 20 tahun 2016 menyatakan bahwa melalui pendekatan ilmiah suatu pembelajaran akan menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan berpikir, bertindak secara kreatif, mandiri, kritis, kolaboratif, produktif, dan komunikatif. Tujuan tersebut juga berlaku untuk mata pelajaran fisika. Pengguaan lembar kerja siswa memberikan dampak yang cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif pada siswa. Dengan memadukan lembar kerja siswa dengan bantuan akan meningkatkan kemampuan kreativitas ilmiah dan hasil belajar siswa. Banyak penelitian yang telah dilakukan dan menunjukkan hasil positif dari penerepan lembar kerja siswa berbantuan diagram Vee. Diagram Vee merupakan diagram berbentuk “V” yang merepresentasikan teori belajar konstruktivisme. Diagram Vee membantu siswa untuk mengorganisasikan pengetahuan yang disusun berdasarkan kegiatan prosedural, konsep-konsep teoritis dan ide-ide yang merujuk pada penyelidikan ilmiah. Dengan pembelajaran yang sedemikian rupa diharapkan kemampuan kreativitas ilmiah siswa akan berkembang dan memberikan dampak yang baik pada hasil belajar siswa.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dari penerapan LKS Fisika SMA berbasis diagram Vee sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan kemampuan kreativitas ilmiah (scientific creativity) dan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperimental dengan desain penelitian Posttest Only Control Design. Teknik analisis data yang digunakann oleh peneliti adalah uji normalitas dan uji beda (t-test) dengan menggunakan SPSS 23. Peneliti melakukan 3 kali pembelajaran fisika mengenai materi suhu dan kalor di dalam kelas pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Perlakuan yang diberikan kepada kelas kontrol dan eksperimen oleh peneliti adalah berbeda. Kelas eksperimen menggunakan LKS Fisika SMA berbasis diagram Vee, sedangkan untuk kelas kontrol tidak menggunakannya

    Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TAI (Team Assisted Individualization) disertai Media Pocket Book dalam Pembelajaran Fisika di SMA

    No full text
    Tujuan dasar dari setiap ilmu termasuk fisika adalah mencari pengetahuan yang bersifat umum dalam bentuk konsep, prinsip, asas, kaidah, hukum, ataupun teori yang dapat diandalkan. Oleh karena itu, dalam mempelajari fisika siswa diharapkan tidak hanya sekedar mengetahui kumpulan konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi mampu menerapkannya untuk membangun pengetahuannya sendiri (konstruktivisme). Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran fisika dengan menerapkan model pembelajaran yang variatif dan menonjolkan peran aktif siswa. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif TAI (Team Assisted Individualization). Model kooperatif tipe TAI merupakan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan pengajaran individual yang diprakarsai oleh Robert Slavin. Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan belajar individual dan belajar kooperatif. Selain itu untuk membantu siswa dalam melakukan langkah-langkah pada pembelajaran menggunakan model TAI dibutuhkan media, salah satunya media berbentuk buku saku (pocket book). Maka rumusan masalah yang diangkat adalah: (1) bagaimana aktivitas belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif TAI disertai media pocket book pada pembelajaran fisika di SMA?, (2) bagaimana kerjasama siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif TAI disertai media pocket book pada pembelajaran fisika di SMA? (3) dan bagaimana perbedaan hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif TAI disertai media pocket book pada pembelajaran fisika di SMA. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Kemudian desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Posttest only control design. Dalam penelitian ini terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan masing-masing 3 kali pembelajaran. Tempat penelitian ditentukan menggunakan cara purposive sampling area. Sampel penelitian ditentukan dengan cara cluster random sampling. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 5 Jember, teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan tes. Analisis data untuk hasil belajar menggunakan uji Independent samplet-test dengan bantuan SPSS 16. Data aktivitas belajar siswa yang diperoleh dari observasi sebesar 87,67% dengan kriteria sangat aktif. Data kerjasama siswa yang diperoleh dari observasi sebesar 90,67% dengan kriteria sangat baik. Hasil uji hipotesis dari analisis hasil belajar siswa menggunakan Independent sample t-test dengan Sig.(2-tailed) sebesar 0,000 lebih kecil dari α = 0,05, maka Ha diterima. Dengan demikian ada perbedaan yang signifikan pada hasil belajar siswa antara yang menggunakan model pembelajaran kooperatif TAI disertai media pocket book dengan yang menggunakan model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru. Berdasarkan analisis data yang diperoleh, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) penerapan model kooperatif tipe TAI disertai media pocket book dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa selama pembelajaran fisika dengan kriteria sangat aktif, (2) penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI disertai media pocket book dapat meningkatkan kerjasama siswa selama pembelajaran fisika dengan kriteria sangat baik,(3) ada perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa antara yang menggunakan model pembelajaran TAI disertai media pocket book dengan yang menggunakan model pembelajaran yang biasa digunakan di sekolah
    corecore