233 research outputs found

    PEMANFAATAN NUTRISI CAIR TERHADAP KUALITAS DAN WAKTU PANEN KROTO

    Get PDF
    Semut rangrang (Oecophylla smaragdina) merupakan salah satu kategori serangga berguna, karena selain sebagai agen pengendali hayati pada bidang pertanian, semut rangrang juga mampu menghasilkan kroto. Kroto di Indonesia memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Semut rangrang membutuhkan asupan protein tinggi dan juga glukosa sebagai sumber energi. Oleh sebab itu dilakukan penelitian tentang nutrisi dan waktu panen manakah yang paling optimal untuk mendukung produksi kroto. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, yang menggunakan 2 taraf kombinasi yaitu nutrisi cair dan interval waktu panen. Nutrisi cair yang digunakan adalah larutan gula, larutan gula + PF-VIT, larutan madu dan larutan sirup. Interval waktu panen yaitu 9, 12 dan 15 hari, sehingga didapat 12 kombinasi perlakuan dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Proses pemanenan dilakukan sebanyak 4 kali dari setiap interval waktu panen kroto. Hasil pengamatan menunjukkan adanya interaksi yang berbeda nyata terhadap kombinasi antara perlakuan nutrisi cair dengan interval waktu panen. Kualitas kroto dengan kualitas panen terbaik yaitu dengan perlakuan waktu panen 9 hari. hal tersebut dikarenakan kualitas kroto lebih dipengaruhi oleh fase perubahan dari telur hingga menjadi imago. Proses pemanenan 9 hari, kroto masih tetap berbentuk larva, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi semut. sehingga menjadi lebih menguntungkan. Produksi tertinggi kroto adalah perlakuan larutan gula karena mengandung sukrosa. Sehingga dapat meningkatkan produksi kroto lebih optimal

    EFEKTIVITAS INSEKTISIDA NABATI DAUN TANJUNG DAN DAUN PEPAYA

    No full text
    Ulat grayak (Spodoptera litura F.) merupakan hama yang menyerang atau memakan tanaman pada bagian daun sehingga meninggalkan lubang. S. litura merupakan hama pada berbagai jenis tanaman karena bersifat polifagus (kisaran inang yang luas). Usaha yang dilakukan petani untuk mengatasi permasalahan ulat grayak yang menyerang tanaman, biasanya dilakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia. Akibat adanya dampak negatif insektisida kimia maka akhir-akhir ini masyarakat cenderung menggunakan bahan-bahan alami (pestisida nabati) yang ramah terhadap lingkungan Insektisida nabati adalah insektisidia yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Daun pepaya memiliki kandungan bahan aktif papain yang cukup efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap tanaman. Kandungan senyawa aktif daun tanaman tanjung (Mimusops elengi) mempunyai daya antibakteri terhadap Salmonella typhi dan Shigella boydii. Penggunaan campuran insektisida nabati yang bersifat sinergistik dapat meningkatkan efisiensi aplikasi karena insektisida campuran digunakan pada dosis yang lebih rendah dibandingkan dengan dosis komponen masing-masing secara terpisah. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember, dimulai bulan November 2014 sampai Juni 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan. Teknik pengaplikasian dengan 2 metode. Metode Pencelupan (Dipping Method) dan Metode Tetes. Persentase mortalitas larva S. litura, lethal time 50 (LT50), persentase larva yang menjadi pupa, persentase larva yang menjadi imago. Analisis dengan menggunakan Analisis Varian (ANOVA) bila menunjukkan hasil yang berbeda nyata dapat dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5%. Insektisida nabati dari ektrak daun tanjung (Mimusops elengi L.) dan daun pepaya (Carica papaya L.) efektif dalam mengendalikan hama S. litura. Konsentrasi paling efektif pada perlakuan A8 yaitu konsentrasi daun pepaya 40 gr + daun tanjung 40 gr/l air. Perlakuan ekstrak nabati daun pepaya lebih efektif dengan metode tetes, ekstrak daun tanjung lebih efektif dengan metode celup, sedangkan perlakuan kombinasi dapat dengan menggunakan keduanya. Penggunaan perlakuan kombinasi insektisida nabati lebih berpengaruh dibandingkan dengan pemberian insektisida nabati tunggal

    UJI EFEKTIVITAS RODENTISIDA NABATI EKSTRAK BUAH BINTARO

    No full text
    Tikus merupakan salah satu hama penting pada setiap komoditi tanaman . Kerugian yang ditimbulkan oleh hama tikus ini dapat mencapai 75% bahkan sampai dapat menyebabkan gagal panen pada tanaman yang dibudidayakan. Perlu dicari pengendalian terhadap hama tikus yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan melalui penelitian seperti penggunaan ekstrak Bintaro yang bersifat menolak atau mengusir terhadap hama tikus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektivan rodentisida nabati yang terbuat dari ekstrak buah Bintaro terhadap hama tikus. Hasil penelitian bermanfaat sebagai sumber informasi mengenai teknologi pengelolaan hama tikus yang ekonomis, aman dan ramah lingkungan, sehingga dalam penerapannya dapat diaplikasikan oleh petani. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Hayati Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember yang akan berlangsung mulai Agustustus sampai Oktober 2014. Rancangan percobaan di Laboratorium menggunakan (RAL) dengan perlakuan 5 konsentrasi dan 1 kontrol yaitu 2 ml/L, 4 ml/L, 6 ml/L, 8 ml/L dan 10 ml/L dan di ulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA, jika menunjukkan berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan 5 %. Pada setiap perlakuan digunakan 10 ekor tikus dengan pakan yang setiap hari diganti, pengamatan dilakukan setiap hari hingga mendapatkan hasil yang paling efektif. Pengamatan dilakukan terhadap mortalitas tikus, peningkatan berat badan tikus, jumlah konsumsi makan tikus. Hasil penelitan menunjukkan bahwa gejala keracunan yang disebabkan oleh rodentisida ekstrak buah bintaro terhadap tikus ditandai dengan terjadinya efek knock down, kemudian menurunnya tingkat aktivitas tikus, terjadi kerontokan bulu di sekitar hidung dan lubang anus dan muntah. Konsentrasi rodentisida ekstrak buah bintaro yang terbaik adalah 10 ml/L

    STUDI LAJU KONSUMSI BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) PADA PAKAN YANG DIBERI EKSTRAK NABATI

    Get PDF
    Burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) merupakan salah satu burung pemakan biji yang dikategorikan sebagai hama bagi tanaman padi karena mempunyai kemampuan konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan burung pemakan biji yang lain. Sehingga diperlukan upaya untuk menurunkan tingkat konsumsi dalam upaya untuk meminimalisir dampak kehilangan hasil dari serangan hama burung pada tanaman padi. Beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan diketahui dapat mempengaruhi aktivitas makan hewan. Namun, penelitian yang mengkaji pengaruh ekstrak tumbuhan terhadap aktivitas makan dan respon tubuh burung sedikit dilakukan. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan beberapa ekstrak tanaman pada pakan terhadap aktivitas makan dan indeks nutrisi burung Bondol Jawa. Beberapa jenis ekstrak yang digunakan, diantaranya: mengkudu (Morinda citrifolia), serai wangi (Cymbopogon nardus), lada (Piper nigrum), sembukan (Paederia scadens), dan kemangi (Ocimum basilicum)

    STUDI LAJU KONSUMSI BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) PADA PAKAN YANG DIBERI EKSTRAK NABATI

    No full text
    Burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) merupakan salah satu burung pemakan biji yang dikategorikan sebagai hama bagi tanaman padi karena mempunyai kemampuan konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan burung pemakan biji yang lain. Sehingga diperlukan upaya untuk menurunkan tingkat konsumsi dalam upaya untuk meminimalisir dampak kehilangan hasil dari serangan hama burung pada tanaman padi. Beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan diketahui dapat mempengaruhi aktivitas makan hewan. Namun, penelitian yang mengkaji pengaruh ekstrak tumbuhan terhadap aktivitas makan dan respon tubuh burung sedikit dilakukan. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan beberapa ekstrak tanaman pada pakan terhadap aktivitas makan dan indeks nutrisi burung Bondol Jawa. Beberapa jenis ekstrak yang digunakan, diantaranya: mengkudu (Morinda citrifolia), serai wangi (Cymbopogon nardus), lada (Piper nigrum), sembukan (Paederia scadens), dan kemangi (Ocimum basilicum). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis ekstrak yang terdiri atas 5 jenis, yaitu: biji lada, buah mengkudu, daun serai, daun sembukan, dan daun kemangi. Faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak yang terdiri atas 4 taraf konsentrasi, yaitu: 0,10 gr/ml, 0,15 gr/ml, 0,20 gr/ml, dan 0,25gr/ml. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah: (1) Jumlah pakan yang dikonsumsi burung, (2) Perubahan bobot tubuh burung, (3) Kemampuan bertahan hidup burung, dan (4) Indeks nutrisi burung. Data yang didapatkan kemudian diolah menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji kisaran jarak berganda Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara jenis dan konsentrasi ekstrak terhadap jumlah pakan yang dikonumsi dan perubahan bobot tubuh. Namun terdapat interaksi antara jenis dan konsentrasi ekstrak terhadap laju pertumbuhan, efisiensi konversi makanan yang dimakan, dan efisiensi konversi makanan yang dicerna. Penambahan ekstrak lada pada pakan memberikan jumlah pakan yang dikonsumsi paling sedikit dibandingkan jenis ekstrak lain (19,04 gr). Peningkatan konsentrasi lada pada 0,25 gr/ml menujukkan jumlah pakan yang dikonsumsi sebesar 36,97 gr dan lebih sedikit dibandingkan konsentrasi 0,20 gr/ml (41,61 gr). Terjadi perbedaan respon tubuh burung dalam menerima jenis ekstrak dan konsentrasi yang diberikan pada pakan selama 15 hari pengujian. Peningkatan bobot tubuh burung paling besar tedapat pada penambahan ekstrak mengkudu (0,99 gr). Penurunan bobot tubuh paling besar terdapat pada penambahan ekstrak lada (-1,15 gr). Peningkatan konsentrasi pada masing-masing jenis ekstrak menunjukkan penurunan bobot tubuh yang semakin besar. Indeks nutrisi burung menujukkan hasil bahwa ekstrak lada 0,25 gr/ml memberikan nilai laju konsumsi relatif (0,13 gr/gr bobot/hari) dan laju pertumbuhan relatif (-0,010 gr/gr bobot/hari) paling rendah dibandingkan jenis ekstrak dan konsentrasi lain. Efisiensi konversi makanan yang dimakan dan efisiensi konversi makanan yang dicerna pada ekstrak lada 0,25 gr/ml lebih rendah dibandingkan perlakuan lain, dengan nilai masing-masing sebesar -9,09% dan -11,53%. Sehingga ekstrak lada pada konsentrasi 0,25 % merupakan perlakuan paling baik dalam menurunkan jumlah pakan yang dikonsumsi, bobot tubuh, dan nilai indeks nutrisi burung bondol Jawa

    KAJIAN HISTOPALOGI SERANGAN NEMATODA pralylenchus coffeae PADA TANAMAN KOPI,tylenchulus semipenetrans PADA TANAMAN JERUK DAN meloidogyne spp. pada tanaman Tembakau

    No full text
    Hasil kajian histopatologi menunjukkan bahwa P. coffeae merupakan nematoda endoparasit migratori dan hanya merusak sel parenkhim korteks ke arah sumbu longitudinal, menyebabkan luka dan pembengkakan. T. semipenetrans merupakan nematoda semiendoparasit dan merusak sel korteks sedangkan Meloidogyne spp. merupakan nematoda endoparasit sedenter, merusak stele dan menyebabkan terbentuknya sel raksasa (giant cells)

    UJI EFEKTIVITAS INSEKTISIDA KARBOSULFAN TERHADAP HAMA TANAMAN TERUNG JEPANG (Solanum melongena L.)

    No full text
    Terung Jepang (Solanum Melongena L.) merupakan komoditi hortikultura yang penting bagi Indonesia. Tanaman terung ini hanyak diserang oleh hama sehingga dapat menurunkan produksinva. Usaha pengendalian yang dilakukan agar produksi tidak turun dengan menggunakan insektisida dan cara pengendalian lainnya seperti cara budidaya. Penggunaan insektisida dilakukan jika cara yang lain dianggap kurang berhasil. lnsektisida yang digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman terung Jepang berbahan aktif karbosulfan. Insektisida tersebut baru pertama digunakan untuk mengendalikan hama tanaman terung Jepang. Untuk mengetahui keefektifan insektisida karbosulfan dilakukan di laboratorium Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember dan lahan produksi PT. Mitra Tani Dua Tujuh di desa Karanganyar Kecamatan Ambulu pada bulan Desember 2000 sampai Maret 2001. Penelitian di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap Tunggal 6 perlakuan dengan 3 ulangan dan di lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok Tunggal 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Hasil penelitian di laboratorium diketahui nilai LC50 insektisida karbosullan untuk S. Litura 2,16 % dan E sparsa 0,05 % Adanya korelasi positif antara konsentrasi insektisida karbosulfan terhadap mortalitas larva E.sparsa dan S.litura. Perlakuan insektisida karbosulfan dapat menyebabkan penurunan jumlah penetasan telur S.litura Aplikasi insektisida di lapang dengan konsentrasi yang berbeda dapat menurunkan jumlah populasi maupun intensitas kemsakan yang disebabkan oleh E.sparsa, S.litura, ulat pemakan daun dan buah

    PENGARUH MEDIA PERBANYAKAN TERHADAP VIRULENSI CENDAWAN Metarrhizium anisepliae (M.) PADA KUMBANG BADAK Oryctes rhinoceros (L.)

    No full text
    . Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Hasil pembiakan massal cendawan M anisopliae pada media biakan air kelapa muda menghasilkan kerapatan konidia lebih tinggi dibandingkan dengan media biakan jagung manis, jagung lokal dan jagung hibrida. 2. Media biakan air kelapa muda mencapai virulensi tertinggi dengan nilai LT.50 terendah (12.51 hari) dibanding dengan dari media biakan yang Iainnya (jagung manis, jagung lukal dan jagung hibrida). 3 Mortalitas uret di lapang pada 1-3 minggu media air kelapa muda cenderung lebih tinggi dibanding media perbanyakan yang lain, sedang pada minggu ke-4 Dwi Budi RAHAYUNINGSIH PEM. I. ABDUL Mukti NUR II. SOEDRADJAD JUDUL. RESPON PERTUMBUHAN AWAL KLON-KLON UNGGUL KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) PADA MEDIA TANAH GAMBUT 9715101059 KATA KUNCI JUDUL. COFFEA CANEPHORA ASTRAK. Produktivitas kopi robusta di Indonesia masih cukup rendah, karena belum menggunkan bahan tanam unggul sesuai dengan kondisi Iingkungan setempat. Tanah gambut di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk perluasan tanaman kopi. Klon-klon unggul kopi robusta diharapkan mempunyai respon terhadap perlumbuhan awalnya sehingga dapat diketahui jenis klon kopi yang sesuai ditanam pada media tanah gambut untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Penelitian yang telah dilakukun bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan awal klon-klon unggul kopi robusta pada media tanah gambut serta interaksinya. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Kaliwining Jember dengan ketinggian tempat - 45 m dpl selama bulan Juni sampai dengan September 2001. Rancangan yang digunakan RAK faktorial 3 X 7 dengan 4 ulangan kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Faktor pertama yaitu macam media yang terdii dad 3 taraf : tanah gambut: campuran tanah gambut, tanah, dan pupuk kandang; campuran tanah dan pupuk kandang, faktor kedua meliputi macam klon unggul kopi robusta: KI (BP 308), K2 (BP 436). 1.0 (BP 961), K4 (BP 534), K5 (BP 409), K6 (BP 936), K7 (Ekselsa). Parameter yang diuji meliputi panjang akar, jumlah akar, berat basah akar, berat kering akar, diameter batang, tinggi tanaman, berat basah daun dan berat kering daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon yang paling baik dan mampu beradaptasi dengan tanah masam dan miskin hara seperti tanah gambut adalah klon BP 308 dan Fkseisa karena mempunyai struktur akar yang baik serta dapat menyerap nutrisi secara optimum. Media yang paling baik untuk pertumhuhan tanaman kopi adalah campuran tanah gambut, tanah regosol dan pupuk kandang, karena terbukti dapat meningkatkan pH dan memperbaiki struktur tanah Hasil interaksi media dan klon berpengaruh nyata pada semua parameter kecuali pada diameter batang

    Kombinasi Tr I Choderma Har Z Ianum Dan Pupuk Mikoriza Untuk Mengendalikan Penyakit Moler Pada Tanaman Bawang Merah

    No full text
    Salah satu penyakit penting pada tanaman bawang merah yaitu penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Penyakit ini menyebabkan penurunan hasil sebesar 10-40%. Pengendalian yang umum dilakukan yaitu dengan menggunakan pengendalian kimiawi, namun beberapa jenis fungisida kimiawi sudah tidak efektif mengendaliakan F. oxysporum. Usaha yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit moler yang lebih ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan pengedalian hayati. Pengendalian hayati banyak dilakukan dengan menggunakan Trichoderma harzianum dan pupuk Mikoriza. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi T. harzianum dan dosis pupuk Mikoriza yang sesuai untuk mengendalikan penyakit moler

    IDENTIFIKASI HAMA KUTU DAUN Aphi s gos sypi i Glover DAN PREDATORNYA PADA TANAMAN CABAI Caps i cum Frut escens L

    No full text
    Hasil kesimpulan dari penelitian ini didapatkan populasi hama kutu daun pada tanaman cabai sebanyak 489 dengan nilai KM 218, KR 44,58 % pada lahan , KM 148, KR 30,36 % pada lahan 2 dan KM 108, KR 22,08 % pada lahan 3, jumlah FM 3 dan FR 37,5 %. Predator yang didapat kan pada tanaman cabai yaitu Menochilus sexmaculatus dan Lycosa sp. Populasi predator relatif lebih sedikit sehingga populasi hama Aphis Gossypii relatif lebih meningkat
    corecore