1,721,007 research outputs found

    Studi Numerik Turbin Darriues Savonius Untuk Konversi Energi Arus Laut Kecepatan Rendah Dengan Menggunakan Simulasi CFD

    Get PDF
    Penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan tanpa emisi gas buang telah banyak dikembangkan seperti pemanfaatan energi kinetik dari arus air laut menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin. Tipe turbin yang digunakan antara lain adalah turbin sumbu vertikal Darrieus dan Savonius. Turbin Savonius cocok digunakan untuk arus laut kecepatan rendah sendangkan turbin Darrieus memiliki koefisien daya yang tinggi. Sehingga kombinasi kedua turbin ini akan dipelajari. Penelitian ini menggunakan dua model turbin kombinasi Darrieus- Savonius yakni model A dan model B. Untuk mengetahui kinerja turbin tersebut dilakukan analisa Computatioanl Fluid Dynamics (CFD) dengan menggunakan software ANSYS Fluent. Data kecepatan arus diambil dari kecepatan rata-rata perairan di sebelah barat Pulau Giliyang-Madura, selama 2 tahun (2014-2015) yakni 0,269 m/s. Hasil perhitungan CFD menunjukkan turbin kombinasi model B menghasilkan koefisien daya maksimum sebesar 0,256 pada tip speed ratio 1,6 dan memiliki kinerja 34% lebih baik dari turbin Savonius. ========== Using clean energy and without gas emission has been developed now day. Such as using kinetic energy from marine current with marine turbine. Kind of turbine is Darrieus and Savonius vertical Turbine. Savonius turbine suitable for the characteristics of ocean currents at low speed, while Darrieus Turbine has high power coefficient. So the combination of the two turbine is studied. This study uses two model of combination Darrieus Savonius turbine namely the model A and the model B. CFD simulation using software ANSYS Fluent carried out to know performance of Darrieus – Savonius turbine. The average speed of ocean current is obtained from the sea at Giliyang, Madura Island for 2 years (2014-2015) that is 0.269 m/s. The results of the CFD calculations show that the combination of turbine model B generate the peak power coefficient 0.256 at tip speed ratio 1.6 and has 34% performance better than the turbine Savonius

    Studi Numerik Turbin Darrieus-Savonius Untuk Konversi Energi Arus Laut Kecepatan Rendah Dengan Menggunakan Simulasi Cfd

    Get PDF
    Penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan tanpa emisi gas buang telah banyak dikembangkan seperti pemanfaatan energi kinetik dari arus air laut menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin. Tipe turbin yang digunakan antara lain adalah turbin sumbu vertikal Darrieus dan Savonius. Turbin Savonius cocok digunakan untuk arus laut kecepatan rendah sendangkan turbin Darrieus memiliki koefisien daya yang tinggi. Sehingga kombinasi kedua turbin ini akan dipelajari. Penelitian ini menggunakan dua model turbin kombinasi Darrieus- Savonius yakni model A dan model B. Untuk mengetahui kinerja turbin tersebut dilakukan analisa Computatioanl Fluid Dynamics (CFD) dengan menggunakan software ANSYS Fluent. Data kecepatan arus diambil dari kecepatan rata-rata perairan di sebelah barat Pulau Giliyang-Madura, selama 2 tahun (2014-2015) yakni 0,269 m/s. Hasil perhitungan CFD menunjukkan turbin kombinasi model B menghasilkan koefisien daya maksimum sebesar 0,256 pada tip speed ratio 1,6 dan memiliki kinerja 34% lebih baik dari turbin Savonius ============================================================================================= Using clean energy and without gas emission has been developed now day. Such as using kinetic energy from marine current with marine turbine. Kind of turbine is Darrieus and Savonius vertical Turbine. Savonius turbine suitable for the characteristics of ocean currents at low speed, while Darrieus Turbine has high power coefficient. So the combination of the two turbine is studied. This study uses two model of combination Darrieus Savonius turbine namely the model A and the model B. CFD simulation using software ANSYS Fluent carried out to know performance of Darrieus – Savonius turbine. The average speed of ocean current is obtained from the sea at Giliyang, Madura Island for 2 years (2014-2015) that is 0.269 m/s. The results of the CFD calculations show that the combination of turbine model B generate the peak power coefficient 0.256 at tip speed ratio 1.6 and has 34% performance better than the turbine Savoniu

    PENGARUH SUDUT DEADRISE TERHADAP TAHANAN PLANNING HULL

    Get PDF
    Tahanan kapal merupakan item yang sangat penting pada desain kapal, karena menyangkut pemilihan mesin utama. Kapal tipe lambung planning memiliki deadrise. Deadrise, ? merupakan kemiringan pelat dasar kapal terhadap sumbu horizontal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi deadrise 10°, 13° dan 18° terhadap tahanan dengan displasemen tetap. Objek penelitian adalah planning hull series 62. Perhitungan ini menggunakan metode persamaan Savitksy dan dibandingakan dengan perhitungan software. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa deadrise 10° menghasilkan tahanan kapal paling kecil, diikuti 13° dan 18°. Hal ini disebabkan deadrise 10° memiliki trim lebih kecil, karena trim yang berlebihan pada kapal akan menghasilkan tahanan yang besar

    STUDI PERANCANGAN KAPAL WISATA DAERAH RAJA AMPAT

    No full text
    Raja Ampat merupakan tempat wisata terbaik yang menjadi destinasi utama para wisatawan asing dan local dengan dihuni oleh beratus spesies makhluk bawah lautnya. Untuk memenuhi kebutuhan wisata, dirancang kapal wisata yang ditujukan bagi wisatawan asing maupun wisata lokal. Penelitian ini menggunakan metode perbandingan dimana teori yang digunakan adalah The Geosim Procedure untuk menentukan ukuran utama. Ukuran utama kapal baru dijadikan dasar dalam merencanakan kapal. Tahapan dalam merencakan kapal ini antara lain: menentukan rencana garis, menghitung stabilitas kapal, dan menghitung hambatan kapal. Dari hasil perhitungan diperoleh panjang kapal L = 45,04 m, lebar kapal B = 9,15 m, sarat kapal= 3,91 m, Displacement kapal = 578,08 ton. Pada kondisi full displacement kapal memenuhi kriteria stabiliats berdasarkan IMO. Sedangkan pada perhitungan tahanan kapal: pada kecepatan servis 12 knots kapal menghasilkan tahanan kapal sebesar 51, 2 kN. Jika efisiensi propulsi 0,55 maka power yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan 12 knots adalah 574 kW

    Analisa Pengaruh Root Gap Terhadap Pengujian Tarik Menggunakan Metode Pengelasan FCAW Posisi 3G Pada Material Baja SS 400

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh root gap terhadap pengujian tarik (Tensile Test) pada material baja SS 400 dengan ketebalan 10 mm dan 12 mm menggunakan metode pengelasan FCAW (Flux Core Arc Welding) pada posisi 3G Vertical up tanpa backing ceramic. Penelitian ini bersifat kuantitatif, kemudian standar yang digunakan dalam pengujian yaitu ASME section IX (2019). Hasil penelitian diperoleh kesimpulan pada spesimen dengan ketebalan 10 mm, didapatkan nilai tertinggi pada variasi root gap 2 mm dengan nilai YS (Yield Strenght) sebesar : 242,07 MPa, dan nilai aktual / nilai akhir sebesar : 315,33 MPa. Kemudian pada spesimen dengan ketebalan 12 mm, didapatkan nilai tertinggi terdapat pada variasi 3 mm dengan nilai YS (Yield Strenght) sebesar: 296,57 MPa, dan nilai aktual / nilai akhir sebesar: 464,17 MPa. This study aims to analyze the effect of the root gap on tensile testing (Tensile Test) on SS 400 steel material with a thickness of 10 mm and 12 mm using the FCAW (Flux Core Arc Welding) welding method at 3G Vertical up position without a ceramic backing. This research is quantitative, then the standard used in the test is ASME section IX (2019). The results of the study concluded that the specimen with a thickness of 10 mm, the highest value was obtained at the root gap variation of 2 mm with a YS (Yield Strength) value of: 242.07 MPa, and the actual value / final value of: 315.33 MPa. Then on the specimen with a thickness of 12 mm, the highest value was found in the 3 mm variation with the YS (Yield Strength) value of: 296.57 MPa, and the actual value / final value of: 464.17 MPa

    Analisa Teknis dan Ekonomis Pencegahan Korosi Pada Lambung KM. Dharma Kencana VII dengan Sistem ICCP (Impressed Current Cathodic Protection) dibandingkan dengan SACP (Sacrificial Anode Cathodic Protection)

    Get PDF
    Perlindungan badan kapal terhadap korosi dengan menggunakan proteksi katodik (Perlindungan Katodik). Pada prinsipnya adalah sel elektrokimia untuk mengendalikan korosi dengan mengkonsentrasikan reaksi oksigen pada sel galvanik dan menekan korosi pada katoda dalam sel yang sama. Ada dua macam perlindungan katodic yang di gunakan yaitu ICCP (Impressed Current Cathodic Protection) dan SACP (Sacrificial Anode Cathodic Protection), Kedua sistem tersebut dibandingkan dalam jangka waktu 20 tahun dari segi teknik dan Ekonomis dengan menggunakan perhitungan perhitungan sesuai standar DnV, yang dibandingkan dari tahap desain, tahap instalasi, dan pemeliharaan. Hasil dari tahap desain memiliki tingkat perlindungan ICCP lebih luas yaitu 0.7008 kg mampu mengcover area seluas 10 m2 sedangkan untuk SACP dengan total berat aluminium 1,01077 kg mampu mengcover area seluas 10 m2. Sedangkan hasil pada tahap Instalasi dimana Sistem SACP cenderung lebih mudah dari sistem ICCP. Untuk tahap pemeliharaan dimana sistem ICCP lebih unggul dari pada sistem SACP. Dan Secara Ekonomis dibandingkan dalam jangka waktu 20 tahun, untuk Sistem ICCP Lebih murah dibandingkan Sistem SACP. Kata Kunci: ICCP, Korosi, Proteksi katodik, SAC

    PERANCANGAN KAPAL PEMBERSIH SAMPAH (TRASH SKIMMER) UNTUK WILYAH PERAIRAN TELUK SUMENEP

    Get PDF
    Teluk Sumenep adalah sebuah teluk di Laut Jawa yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa Timur. Teluk Sumenep adalah salah satu tempat atau wadah masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. Kurang diperhatikannya volume sampah yang setiap hari memenuhi perairan Teluk Sumenep menjadi latar belakang dari dilakukannya penulisan ini. Penelitian ini bertujuan menghasilkan sebuah desain kapal kerja pembersih sampah yang tersebar di perairan laut khususnya perairan Teluk Sumenep. Konfigurasi peralatan geladak dan sistem bongkar muat yang dibuat berdasarkan kebutuhan dan jumlah volume sampah yang terdapat di Teluk Sumenep. Dengan mengasumsikan bahwa luasan wilayah yang ditinjau sebagai rute yang harus ditempuh kapal, maka didapatkan kapasitas muatan sampah yang dapat diangkut kapal yang direncanakan. Desain yang optimum didapatkan melalui metode optimasi dengan variabel, parameter, dan constraints yang telah ditentukan. Yakni berukuran L = 10,7 m, B = 4 m, H = 2 m, T = 1 m. Selanjutnya dari ukuran utama yang diperoleh ini dibuat lines plan dan general arrangements sesuai dengan konfigurasi peralatan bongkar muatnya. Penelitian ini akan menentukan ukuran utama kapal yang direncanakan, kapasitas muatan yang akan diangkut oleh kapal, tahanan dan mesin utama kapal

    Analisis Penggunaan Bulbous Bow pada Kapal Tanker 127 m terhadap Hambatan Kapal menggunakan Metode Computational Fluid Dynamic

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengoptimasi bentuk lambung kapal tanker 127M dengan fokus pada mengurangi hambatan kapal melalui penerapan metode Computational Fluid Dynamics (CFD). Hambatan kapal menjadi isu krusial dalam efisiensi operasional kapal, dan pendekatan tradisional dalam perancangan kapal telah bergeser menuju pendekatan berbasis simulasi numerik, seperti CFD. Penelitian ini melibatkan tahap simulasi komputasional yang melibatkan pemodelan digital tiga dimensi dari lambung kapal menggunakan software NUMECA. Data input meliputi kondisi operasional, geometri lambung kapal, dan sifat-sifat fluida. Dalam rangka mencapai optimisasi bentuk, variasi variasi geometri lambung diuji dan dievaluasi secara numerik dalam hal hambatan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan kapal tanker 127m. Selain itu penambahan Bulbousbow pada desain awal jika di analisa pada kecepatan 18 Knots mendapat hasil resistance 464.550 Kn, sehingga penambahan bulbousbow pada Kapal Tanker 127M ini efektif untuk mengurangi tahanan untuk kecepatan tinggi yaitu 18 Knot, jika di analisa pada kecepatan rendah 17 Knot kapal tanker 127m ini masih kurang efektif karena hasil resistance masih tinggi yaitu 398.842 kN. Kesimpulna dari penelitian ini adalah penambahan bulbousbow pada Kapal Tanker 127M ini efektif untuk mengurangi tahanan untuk kecepatan tinggi yaitu 18 Knot dengan hasil resistance 464.550 kN

    ANALISA CACAT PENGELASAN SMAW PADA POSISI 2G PADA BAJA MATERIAL A36 DENGAN VARIASI ARUS DAN SUDUT PENGELASAN

    Get PDF
    Pengelasan SMAW (Shielded Metal Arc Welding) digunakan untuk pengelasan menyambungkan material dengan memanaskan logam cair dan elektroda sebagai bahan pengisi. Cacat pengelasan adalah hasil dari las yang tidak memenuhi persyaratan, Cacat las yang terbentuk berpotensi menurunkan kualitas las sehingga dapat berdampak negatif pada penggunaan objek las selanjutnya. Tujuan dari penelitian ini menganalisis pengaruh variasi arus dan sudut kampuh terhadap cacat pengelasan mengunakan material A 36. Didalam penelitian ini menggunakan uji liquid penetrantan yang didapatkan hasil cacat las seperti undurcut, porosity dan over spatter dikarenakan kotornya daerah material, tidak stabilnya pengelasan dan tinggi elektroda yang tidak sesui.SMAW (Shielded Metal Arc Welding) welding is used for welding joining materials by heating the molten metal and electrodes as filler material. Welding defects are the result of welding that does not meet the requirements. Welding defects that are formed have the potential to reduce the quality of the weld so that it can have a negative impact on the use of the next welding object. The purpose of this study is to analyze the effect of variations in current and seam angles on welding defects using A 36 material. In this study using a liquid penetrant test which resulted in welding defects such as undurcut, porosity and over spatter due to dirty material area, unstable welding and high electrode height. not suitable

    ANALISA PENGARUH PENAMBAHAN ENERGY SAVING DEVICE (ESD) PROPELLER BOSS CAP FIN (PBCF) TERHADAP PERFORMA PROPELLER B-SERIES PADA KAPAL RO-RO 600 GT

    Get PDF
    ESD atau Energy Saving Devices adalah berbagai jenis peralatan yang mengacu pada pada konsep tindakan atau metode untuk menghemat energi. Pada dunia perkapalan, ESD ada banyak macamnya seperti Becker Mewis Duct, Wake Equalising Duct, dan Propeller Boss Cap Fins (PBCF). PBCF merupakan penambahan sirip kecil di bagian belakang propeller atau lebih tepatnya pada bosscap dengan tujuan untuk memperkecil atau bahkan meniadakan hubvortex saat propeller beroperasi. Pada penelitian ini akan digunakan metode CFD melalui software ANSYS Students untuk mencari pengaruh terhadap gaya dorong dari pemasangan PBCF pada propeller B-Series B4-40 dengan menggunakan ukuran utama kapal RO-RO 600 GT sebagai acuan penentuan dimensi propeller. Variasi PBCF yang akan diuji dalam penelitian ini adalah variasi pitch angle dengan variasi sudut 25°, 30°, 35°, 40°, dan 45°. Hasil uji CFD melalui software ANSYS menunjukkan adanya penambahan dan penurunan performa dalam hal gaya dorong propeller dengan penambahan gaya dorong tertinggi dihasilkan oleh PBCF dengan sudut 45° yaitu 126160.6 N atau 0.09% dan penurunan terbesar dialami saat penambahan PBCF dengan sudut 25° yaitu sebesar 125486.7 N atau -0.45%.ESD or Energy Saving Devices are various types of equipment that refer to the concept of actions or methods to save energy. In the world of shipping, there are many types of ESD such as Becker Mewis Duct, Wake Equalising Duct, and Propeller Boss Cap Fins (PBCF). PBCF is the addition of a small fin on the back of the propeller or more precisely on the boss cap with the aim of reducing or even eliminating the hub vortex when the propeller is operating. In this study, the CFD method will be used through the ANSYS Students software to find the effect on the thrust of the PBCF installation on the B-Series B4-40 propeller by using the main size of the RO-RO 600 GT ship as a reference for determining the dimensions of the propeller. The variation of PBCF that will be tested in this study is the pitch angle variation with angle variations of 25°, 30°, 35°, 40°, and 45°. The results of the CFD test through ANSYS software show that there is an increase and decrease in performance in terms of propeller thrust with the highest addition of thrust produced by PBCF with an angle of 45° which is 126160.6 N or 0.09% and the largest decrease is experienced when the addition of PBCF with an angle of 25° is 125486.7 N or -0.45%
    corecore