1,721,603 research outputs found
MENGENAL KEBUDAYAAN KEO: DONGENG, RITUAL DAN ORGANISASI SOSIAL
Dalam bahasa Kéo, tak ada ungkapan khusus untuk ‘terima kasih’. Namun demikian, hampir dalam semua pendarasan bhéa Kéo senantiasa menyebut nama orang (weta weki) dan mengingat namanya (sa ngara), baik orang hidup maupun yang telah meninggal, untuk segala pemberian material dan rohani yang telah diterima. Senada dengan bhea Keo, ada banyak individu dan institusi yang harus didaraskan bhea untuk mengungkapkan terima kasih. Hal itu tentu akan menjadikan halaman ini terlampau panjang. Maka secara selektif akan kusebut beberapa nama, yang mengungkapkan kesadaranku bahwa telah ada begitu banyak orang yang terlibat dalam merampungkan buku ini. Patut kusyukuri mereka semua.
Pertama, terima kasih untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo, khususnya Bupati Nagekeo Periode 2014 – 2018 (Drs. Elias Djo) dan Bupati Nagekeo Periode 2018 – 2024 (Dr. Johanes Don Bosco Do), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Tarsisius Djogo, S. Sos) dan Kabid Kebudayaan (Wilibrodus Lasa, A.Md. Par) yang telah mempercayakan saya tugas menulis buku ini. Dukungan dana dan moril sungguh luar biasa untuk dapat merampungkan penelitian dan tulisan ini.
Kedua, terima kasih untuk Universitas Katolik Widya Mandira (Unika Widya Mandira) Kupang yang telah memberikan saya kesempatan melakukan penelitian ini dengan risiko beberapa kali harus meninggalkan tugas utama di kampus. Terima kasih juga kepada rekan dosen Didimus Dedi Dhosa, S. Fil, M.A yang menjadi mitra peneliti dan Reginaldo Ch. Lake, ST, MT sebagai editor, layout naskah dan designer cover buku ini; Sekretaris Kristina Yulita, SE dan Yohanes Rogan, S. Fil. Juga terima kasih untuk sekelompok mahasiswa dari etnis Keo yang belajar di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, antara lain: Aris Koa, Marselina Tin Meo, Petronela Bhudhe, Asri Bhala, Melania Gore, Oliver Siga, Risna Bhoko, Benediktus Kowa, Kapistrano Celina Ceme, Andreas Dako So’o, Muamar Sarifudin Serajawa, Mira Ema). Mereka telah bersedia terlibat dalam beberapa kali kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di kampus dan kegiatan verifikasi di lapangan berhubungan dengan berbagai data dan cerita rakyat Keo di wilayah asal penuturnya masing-masing.
Ketiga, terima kasih untuk para informan kunci dan para pemuka adat di ketiga Kecamatan wilayah Keo (Mauponggo, Keo Tengah dan Nangaroro) yang telah meluangkan waktu untuk melakukan beberapa kali Focus Group Discussion (FGD) di pusat Kecamatan. Mereka itu adalah Mikhael Dhae, Arnold Dhae, Alfons Mere, Barnabas Kaka (Mauponggo), Blasius Minggu, Marsianus Bei, Yan Nanga, Ambrosius Fedha, Stanley Jawa, Benediktus Geju (Keo Tengah), dan Wilhelmus Masa, Paulus Pio, Thadeus Dhato, Yeremias Misi, Thomas Tiba Owa dan Yohanes Raja (Nangaroro).Buku ini membahas tentang sejarah masyarakat dan kebudayaan Keo. Beberapa isu utama seperti agama, budaya dan identitas diperbandingkan antara Keo Barat, Keo Tengah dan Keo Timur dengan masyarakat suku lainnya. Suatu realitas yang transformatif, dinamis dan kreatif menurut ideologi lokal bersama beberapa unsur seperti ritual, dongeng dan organisasi sosial diulas dari perspektif antropologis berbasis rumah, kampung dan tanah ulayat atau tanah adat.
Gambaran etnografi Kéo dan organisasi sosialnya dalam konteks Indonesia Timur yang diulas dengan rujukan pada masyarakat yang berbasis rumah, kampong dan tanah ulayat, kiranya membantu para pembaca untuk dapat memahami masyarakat dan kebudayaan Keo dalam dinamikanya
PHILIPUS PADA SULISTYA's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
PHILIPUS PADA SULISTYA's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
DWU-29T2 - 29 T2 Pakalu (Waiminahu) Philipus Pakalu Kanamanda village
Insert (spine):29 T2 Pakalu (Waiminahu) Insert: 30/7/97 10:30 11:30 Philipus Pakalu Kanamanda village T2 Side A: First missionary contact, send him to school Side B: Pigs belonging to Waiminakum tribe stolen by a Itokon tribe. Language as given: Eng
Philipus Desta Kristian Wahyu Mandiri's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
Philipus Desta Kristian Wahyu Mandiri's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
Sosiologi dan Politik / NG. Philipus dan Nurul Aini
Krisis ekonomi yang dialami negara kita tentu saja tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi semata. Akan tetapi, juga disebabkan oleh faktor-faktor lain, yaitu sosiologis, politis, kultur, dan antropologi. Faktor-faktor ini memang sering diabaikan dalam analisis ekonomi karena sulit diprediksi dengan menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat matematis dan statistik.Pemulihan ekonomi hanya dapat terwujud jika kehidupan politik diperbaiki dan upaya penegakan hukum dijalankan kembali karena bisnis sebagai lembaga ekonomi dapat menjadi kekuatan politik yang mampu memengaruhi proses pembuatan kebijakan dalam pemerintahan.Sudah seharusnya para pelaku bisnis mengerti tentang kehidupan politik dan seluruh proses politik yang terjadi, beserta aspek sosiologi masyarakat yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, melalui buku ini akan dibahas keterkaitan semua aspek di atas yang tentunya akan berguna bagi para praktisi bisnis, pengamat sosial dan politik, dan mahasiswa
Stabilization of clay with emulid 424 asphalt residue.
Soil stabilization is one of several methods to improve the properties soil in order to have the capability to fulfill highway structural design requirements. This thesis describes a laboratory investigation of soil stabilization using Emulid 424 asphalt residue. For this purpose soil samples were taken from Ujung Berung, Subang and Bontang. Both Ujung Berung clay and Bontang clay are classified as CH (USCS) or A-7-6 (AASHTO) and Subang clay is classified as MH (USCS) or A-7-5 (AASHTO). The investigations of both CBR and UCS were made on the soils treated with 0 %, 5 %, 10 %, 15 % and 20 % Emulid 424 asphalt residue emulsion by weight of dry soil. The mixture were tested for CBR and UCS after 7 days and 14 days of curing. The change of residue-soil mix is indicated as it reduced the PI of the soil. For example, the PI of natural Ujung Berung soil of 56.99 % was reduced to 40.01 % for a 15 % residue content. The CBR investigation for 10 % - 15 % residue content showed that the trend of CBR increase is significant up to 157 %, for example: for Bontang soil mix made with 10 % residue content, the CBR value increased from 3.5 % to 8.9 % after 7 days of curing. Furthermore, the CBR value reduced with an increase to 20 % of residue content, for example, the CBR value for Ujung Berung mix reduced from 1.7 % to 1.0 %. For the standard durability test the specimen broke down during water immersion within less than one day. So the durability test method was modified to water immersion of 26 degree C during 30 minutes for specimen with 7 days of curing. The residue-clay mixes with a greater than 75 % of the dray UCS strength. Soil stabilization with asphalt residue produced increased CBR and UCS values of soil mix up to respectively 8.9 and 7.9 kg/cm2. Based on Bina Marga standard, these stabilized soils are not acceptable for subbase material (CBR of 20 %), but it can be used for subgrade material
- …
