1,721,072 research outputs found
Validasi Metode Dan Penetapan Kadar Genistein Dalam Ekstrak Edamame (Glycine Max L. Merrill) Terfermentasi Aspergillus Oryzae Dengan Metode Klt Densitometri
Osteoporosis merupakan penyakit dengan penurunan densitas dan
kekuatan tulang yang mengakibatkan kerapuhan pada tulang yang biasanya
disertai dengan atau tanpa kerusakan arsitektur tulang. Gejala osteoporosis paling
banyak pada wanita dengan umur diatas 70 tahun. Memasuki usia 40 tahun, secara
fisiologis produksi estrogen mulai berkurang hingga konsentrasinya hanya
mencapai 10% saat wanita memasuki masa pascamenopause. Terapi untuk pasien
osteoporosis yaitu menopausal hormone therapy (MHT), namun terapi tersebut
memiliki efek samping seperti penyakit kardiovaskuler. Penelitian ini berfokus
pada bahan alam untuk mencari efek menguntungkan dari esterogen, salah
satunya yaitu fitoesterogen.
Isoflavon genistein merupakan salah satu fitoesterogen yang memiliki
aktivitas mirip esterogen atau Selective Estrogen-Receptor Modulators (SERMs)
alami. Genistein merupakan isoflavon utama yang terdapat pada kedelai yang
dapat merangsang fungsi osteoblast. Isoflavon pada kedelai terdapat dalam empat
bentuk, yaitu bentuk aglikon (non gula), bentuk glikosida, bentuk asetilglikosida,
bentuk malonilglikosida. Secara alami, isoflavon kedelai terdapat dalam bentuk
glikosida yaitu genistin, daidzin dan glisitin. Adanya proses fermentasi dapat
meningkatkan kandungan isoflavon aglikon pada kedelai. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui validitas metode analisis dan pengaruh fermentasi edamame
menggunakan jamur Aspergillus oryzae .
Tahap awal yang dilakukan adalah preparasi sampel yang terdiri dari
edamame non-fermentasi dan terfermentasi hari ke-1, 2, 3, dan 4. Kemudian
dilakukan validasi metode terhadap metode yang akan digunakan dan dilanjutkan dengan penetapan kadar daidzein pada ekstrak edamame non-fermentasi dan
terfermentasi.
Hasil optimasi kondisi analisis diperoleh pelarut yang digunakan adalah
metanol p.a; fase diam yang digunakan adalah silika gel 60 F
254
; fase gerak yang
digunakan adalah kombinasi n-heksana : etil asetat : asam asetat (2:5:0,15);
panjang gelombang optimum 266 nm; dan konsentrasi uji yang digunakan adalah
80 mg/ml.
Berdasarkan hasil pengujian parameter validasi yang telah dilakukan,
dapat disimpulkan bahwa metode analisis yang digunakan dalam penentuan kadar
genistein dalam ekstrak edamame non fermentasi dan edamame terfermentasi oleh
A. oryzae tidak valid, karena tidak memenuhi nilai resolusi pada parameter
selektivitas yaitu kurang dari 1,5 sehingga kurang selektif untuk pemisahan
genistein. Validasi yang dilakukan memenuhi parameter linieritas dengan nilai r
sebesar 0,998, Vx0 sebesar 3,513 % dan Xp sebesar 26, 745; memenuhi parameter
BD dan BK dengan nilai r sebesar 0,990, Vx0 sebesar 4,859 % dan Xp sebesar
24,949, nilai BD sebesar 24,949 ng sedangkan BK sebesar 74,798 ng; memenuhi
persyaratan presisi dengan nilai RSD kurang dari 5,3%; memenuhi persyaratan
akurasi dengan nilai recovery memenuhi rentang 90-107%. Kadar genistein yang
diperoleh pada penetapan kadar dalam ekstrak edamame yaitu sampel edamame
non fermentasi sebesar 0,0655 ± 1,8x10
-3
%b/b. Kemudian kadar genistein
menurun pada fermentasi hari pertama secara signifikan sebesar 0,0074 ± 3x10
-4
%b/b. Setelah itu, kadar mulai meningkat di hari kedua fermentasi sebesar 0,0387
± 2,4x10
-3
%b/b kemudian terus meningkat di hari ketiga fermentasi sebesar
0,0489 ± 2,6x10
-3
%b/b dan menurun kembali pada fermentasi hari keempat
sebesar 0,0294 ± 2,5x10
-3
%b/b
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENETAPAN KADAR FENOL TOTAL DAUN BENALU (Scurrula ferruginea (Jack.) Dans.) APEL MANALAGI (Malus sylvestris (L.) Mill.)
Indonesia menempati peringkat ke-5 dengan tingkat kematian tertinggi
akibat penyakit degeneratif. Salah satu penyebab penyakit degeneratif yaitu stres
oksidatif. Stres oksidatif terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi radikal
bebas dan pertahanan antioksidan dalam tubuh. Antioksidan dalam tubuh
diperlukan untuk mencapai konsentrasi radikal bebas yang rendah. Salah satu
sumber antioksidan dari luar tubuh adalah tumbuhan. Scurrula ferruginea (Jack.)
Dans. merupakan salah satu tumbuhan yang mempunyai aktivitas antioksidan.
Aktivitas antioksidan S. ferruginea telah banyak diketahui pada berbagai inang.
Aktivitas dan kandungan senyawa dari benalu juga dipengaruhi oleh inang. Pada
penelitian ini digunakan S. ferruginea pada apel manalagi yang diduga juga
memiliki aktivitas antioksidan karena apel telah dilaporkan memiliki aktivitas
antioksidan.
Fraksinasi dilakukan untuk membandingkan efektivitas pelarut yang
mampu mengambil senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan senyawa
fenol. Fraksinasi dilakukan menggunakan partisi cair-cair dengan pelarut berturutturut,
yaitu pelarut n-heksana dan etil asetat. Pengujian aktivitas antioksidan pada
penelitian ini menggunakan metode DPPH dengan pembanding vitamin C,
sedangkan untuk penetapan kadar fenol total menggunakan metode Folin-
Ciocalteu dengan standar asam galat.
Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan dari vitamin C, ekstrak
etanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air berturut-turut sebesar
3,393±0,0327 μg/ml; 5,648±0,0604 μg/ml; 22,929±0,0506 μg/ml; 3,734±0,0344
μg/ml; dan 6,105±0,0895 μg/ml. Sedangkan kadar fenol total yang didapat dari
ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air berturut-turut
sebesar 647,71 ± 1,5464; 134,44 ± 1,5379; 712,85 ± 1,6455; dan 445,34 ± 1,6651
mg GAE/g ekstrak. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas antioksidan dan kadar
fenol total tertinggi pada penelitian ini. Hasil analisis aktivitas antioksidan dan
kadar fenol total pada sampel menunjukkan nilai p<0,01 yang artinya terdapat
perbedaan yang signifikan aktivitas antioksidan dan kadar fenol total pada sampel.
Kadar fenol total dan aktivitas antioksidan pada penelitian ini menunjukkan
korelasi negatif dan signifikan
UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum) DAN DAUN SIDAGURI (Sida rhombifolia L.) TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL TIKUS YANG DIINDUKSI KARAGENIN
Inflamasi merupakan suatu mekanisme proteksi tubuh terhadap gangguan dari luar atau infeksi, akan tetapi inflamasi juga menjadi sebab timbulnya gangguan pada berbagai penyakit seperti rematik, asma, inflammatory bowel disease, bahkan kanker. Peningkatan jumlah neutrofil merupakan penanda adanya proses inflamasi karena neutrofil merupakan sel utama pada inflamasi dini yang bermigrasi ke jaringan dan puncaknya terjadi pada 6 jam pertama inflamasi. Tanaman jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan tanaman sidaguri (Sida rhombifolia L.) telah dikenal oleh masyarakat sebagai agen antiinflamasi dalam ekstrak tunggalnya, namun belum ada penelitian yang mengkombinasikan keduanya sebagai agen antiinflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi ekstrak tanaman jahe merah dan daun sidaguri terhadap jumlah sel neutrofil, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif terapi antiinflamasi dan mengetahui perbedaan aktivitas antiinflamasi ekstrak tunggal jahe merah atau sidaguri, kombinasi kedua ekstrak pada berbagai dosis, dan kontrol positif.
Uji aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan model inflamasi akut yang diinduksi karagenin. Hewan uji diberikan variasi dosis ekstrak jahe merah dan daun sidaguri untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi paling optimal setelah diberikan kombinasi ekstrak yang ditinjau dari jumlah sel neutrofil pada sediaan hapus darah. Sampel darah di ambil dari ekor tikus sebanyak tiga kali yaitu pada jam ke-0 (t0), tiga jam setelah disuntik karagenin (t3), dan tiga jam setelah t3 (t6) untuk melihat
jumlah neutrofil sebelum dan sesudah perlakuan. Masing-masing sampel darah pada tiap waktu kemudian dibuat sediaan hapusan darah dengan pengecatan Giemsa sesaat setelah pengambilan darah untuk dilakukan perhitungan neutrofil. Jumlah neutrofil didapat dengan menghitung setiap 100 sel leukosit dengan menjumlahkan neutrofil batang dan segmen. Data tersebut kemudian dijumlah dan dibuat rata-rata pada masing-masing kelompok, selanjutnya dihitung penurunan jumlah neutrofil pada waktu t3 dan t6 (t3-t6) tiap kelompok untuk uji statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol jahe merah dan daun sidaguri dosis 14 mg/200 g BB dan 160 mg/200 g BB (1:2) dan kombinasi ekstrak etanol jahe merah dan daun sidaguri dosis 28 mg/200 g BB dan 80 mg/200 g BB (2:1) mempengaruhi jumlah sel neutrofil sehingga dapat digunakan sebagai alternatif terapi antiinflamasi. Kombinasi ekstrak etanol jahe merah dosis 14 mg/200 g BB dan ekstrak daun sidaguri dosis 160 mg/200 g BB memiliki penurunan jumlah neutrofil terbesar dibandingkan seluruh kelompok kombinasi dan ekstrak tunggalnya namun lebih rendah dari kontrol positif (Na diklofenak).
Senyawa gingerol dan shogaol pada jahe bertanggung jawab pada aktivitas antiinflamasi melalui penghambatan spesifik pada siklooksigennase-2 (COX-2). Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sidaguri ialah alkaloid dan ecdysteroid yang berperan dalam penghambatan biosistesis prostaglandin dengan mengeblok siklooksigenase. Senyawa aktif β-sitosterol pada tanaman sidaguri juga memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi. Senyawa lain yang diduga memiliki aktivitas antiinflamasi dalam daun sidaguri adalah flavonoid dan saponin
Studi Etnofarmasi Tumbuhan Berkhasiat Obat Suku Osing di Desa Benelan Lor, Desa Badean, Desa Pengatigan, Desa Aliyan, dan Desa Kepundungan Kabupaten Banyuwangi
Indonesia memiliki sekitar 400 suku bangsa (etnis dan sub-etnis) dengan
berbagai pengetahuan yang diwariskan secara turun temurun, seperti pengetahuan
mengenai pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional awalnya dikenal dengan
ramuan jamu, dan sampai saat ini jamu masih diyakini sebagai obat yang dapat
menyembuhkan berbagai penyakit. Pengetahuan tentang tumbuhan obat memiliki
karakteristik yang berbeda pada suatu wilayah dan diwariskan secara turun
temurun. Proses pewarisan pengetahuan lokal mengenai obat tradisional dilakukan
secara lisan. Langkah untuk menggali pengetahuan suku lokal terhadap resep
tradisional berkhasiat obat yaitu dengan cara melakukan etnofarmasi.
Suku Osing merupakan suku yang dikenal dengan budayanya yang unik,
dan sistem pengobatannya yang masih bertahan sampai saat ini. Suku Osing
tersebar pada kecamatan-kecamatan yaitu Giri, Sempu, Licin, Kalipuro, Glagah,
Kabat, Rogojampi, Blimbingsari, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi
Kota, Genteng, dan Srono. Desa Benelan Lor Kecamatan Kabat, Desa Badean
Kecamatan Blimbingsari, Desa Aliyan dan Desa Pengatigan Kecamatan
Rogojampi, serta Desa Kepundungan Kecamatan Srono merupakan desa yang
masih terdapat penyehat tradisional dan belum pernah dilakukan penelitian
etnofarmasi sebelumnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi etnofarmasi pada
desa tersebut supaya pengetahuan tentang obat tradisional suku Osing tetap
terjaga, mendokumentasikan tumbuhan obat, dan meningkatkan pengetahuan
tentang penggunaan tumbuhan obat suku Osing.
Penelitian etnofarmasi ini dilakukan di suku Osing Desa Benelan Lor
Kecamatan Kabat, Desa Badean Kecamatan Blimbingsari, Desa Aliyan dan Desa
Pengatigan Kecamatan Rogojampi, serta Desa Kepundungan Kecamatan Srono
Kabupaten Banyuwangi dengan jumlah informan yaitu 5 orang sebagai penyehat
tradisional yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan suku Osing, keturunan
asli suku Osing, memiliki pengalaman dapat mengobati penyakit menggunakan
tumbuhan obat yaitu minimal 5 tahun, mengetahui dan menggunakan tumbuhan
sebagai obat tradisional berdasarkan suku Osing, dipercaya sebagai penyehat
tradisional oleh masyarakat sekitar, dan bersedia sebagai informan. Metode yang
digunakan adalah gabungan metode penelitian kualitatif dan metode penelitian
kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah snowball sampling dan
purposive sampling. Pengumpulan data didapatkan melalui wawancara semistructured
dengan menggunakan tipe pertanyaan open-ended.
Dari informan tersebut diperoleh informasi mengenai pengobatan suku
Osing yaitu terinventarisasi sebanyak 66 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai
obat. Terinventarisasi 75 resep tradisional yang dimanfaatkan untuk pengobatan
yang dibuat dengan berbagai cara yaitu direbus (73,33%), ditumbuk (13,33%),
diseduh dengan air (4%), diremas-remas (4%), digunakan langsung (2,67%),
dikukus (1,3%) dan diparut (1,3%). Cara penggunaan obat tradisional tersebut
yaitu dengan cara diminum tiga kali sehari (58,67%), diminum dua kali sehari
(22,67%), diminum satu kali sehari (12%), diteteskan pada telinga (2,67%),
digosokkan pada bagian yang sakit (1,33%), dimakan dua kali sehari (1,33%) dan
dimakan satu kali sehari (1,33%). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan
perhitungan Use Value (UV), Informan Consensus Factor (ICF), dan Fidelity
Level (FL), terdapat tumbuhan yang sering digunakan untuk mengobati kategori
penyakit dan dianggap penting untuk dilakukan uji bioaktivitas lebih lanjut yaitu
kencur untuk mengobati kategori penyakit sistem sirkulasi
Efek Kombinasi Minyak Atsiri Bangle (Zingiber purpureum Roxb.) dan Jahe Merah (Zingiber officinale var rubrum) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli
Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri flora normal pada tubuh. Adanya flora normal pada bagian tubuh tidak selalu menguntungkan, dalam kondisi tertentu flora normal dapat menjadi patogen dan menimbulkan penyakit. Pada penelitian sebelumnya, minyak atsiri bangle (Zingiber purpureum Roxb.) dan jahe merah (Zingiber officinale var rubrum) menunjukkan aktivitas antibakteri pada bakteri Gram positif dan Gram negatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri kombinasi bangle dan jahe merah pada bakteri S. aureus dan E. coli. Penelitian ini juga untuk mengetahui aktivitas antibakteri paling tinggi dari kombinasi minyak atsiri bangle dan jahe merah dengan perbandingan konsentrasi 1:3, 1:1, 3:1, 1:0 dan 0:1.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah true experimental laboratories dan rancangan yang digunakan adalah post test only group design. Pengujian aktivitas antibakteri diujikan pada 6 sampel uji yaitu kombinasi minyak atsiri bangle dan jahe merah dengan perbandingan 1:3, 1:1, 3:1, 1:0 dan 0:1 serta kontrol positif (gentamisin 9,2 μg/ml). Pengujian antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Pengamatan dilakukan dengan menghitung zona bening yang terbentuk. Data yang didapat dari uji antibakteri diuji statistik menggunakan metode Kruskal-wallis dan Man-whitney untuk mengetahui adanya perbedaan antar perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi minyak atsiri bangle dan jahe merah mempunyai aktivitas antibakteri pada S. aureus. Masing-masing kombinasi minyak atsiri memberikan aktivitas yang berbeda-beda terhadap masing-masing kelompok bakteri uji. Hal ini ditunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna dengan tingkat kepercayaan 95%. Aktivitas antibakteri kombinasi minyak atsiri bangle dan jahe merah lebih berpengaruh terhadap S. aureus dibandingkan E. coli, hal ini dikarenakan adanya perbedaan struktur dinding sel bakteri tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kombinasi minyak atsiri bangle dan jahe merah dibandingkan dengan bentuk tunggal memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri S. aureus dengan perbandingan konsentrasi 1:3, 1:1, 3:1, 1:0 dan 0:1. Pada aktivitas yang ditunjukkan E. coli menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Kombinasi minyak atsiri bangle dan jahe merah perbandingan 1:3 mempunyai aktivitas lebih besar dibandingkan perbandingan yang lain terhadap bakteri S. aureus
Uji Sitotoksisitas dan Apoptosis Ekstrak Etanol Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L. Merr) terhadap Kultur Sel Kanker Kolon WiDr In Vitro
Prevalensi kanker kolon yang terus meningkat baik di dunia maupun di
Indonesia, menjadikan kanker kolon menjadi permasalahan kesehatan global yang
perlu segera ditangani. Kayu kuning (Arcangelisia flava) merupakan salah satu
tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen kemoprevensi kanker
kolon karena adanya kandungan alkaloida berberin di dalamnya yang diduga
memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker, serta memiliki potensi dalam
menginduksi apoptosis sel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas
sitotoksik ekstrak etanol daun A. flava terhadap kultur sel kanker kolon WiDr, serta
mengetahui kemampuan ekstrak dalam memacu apoptosis.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratories, menggunakan
sel kanker kolon WiDr yang dikultur dalam media RPMI. Untuk uji sitotoksisitas,
kultur sel WiDr diberi perlakuan ekstrak etanol daun A. flava menggunakan 5 seri
konsentrasi yaitu 100, 200, 300, 400, dan 500 μg/ml kemudian dilakukan pembacaan
absorbansi sel dengan menggunakan ELISA reader untuk mengetahui persen sel
hidup setelah diberi perlakuan ekstrak. Hasil dari persen sel hidup, dianalisis dengan
menggunakan program probit dan diperoleh nilai IC50 sebesar 308 ± 83 μg/ml.
Pada penelitian ini juga dilakukan uji apoptosis sel untuk mengetahui
kemampuan ekstrak dalam memacu apoptosis sel. Kultur sel WiDr diberi perlakuan
ekstrak dengan konsentrasi IC50 dan 1,5 IC50 yaitu 310 μg/ml dan 460 μg/ml
kemudian dilakukan pengecatan DNA sel menggunakan etidium bromida- akridin
oranye. Hasil pengecatan dilihat di bawah mikroskop fluoresen untuk melihat sel
yang hidup, sel yang mengalami apoptosis, dan sel yang mengalami nekrosis.
Berdasarkan hasil uji apoptosis, diperoleh ekstrak etanol daun A. flava dengan
konsentrasi 310 μg/ml dapat memacu apoptosis sel sebesar 94,57 %, sedangkan pada
konsentrasi 460 μg/ml, ekstrak etanol daun A. flava dapat memacu apoptosis sel
sebesar 90,34 %.
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah ekstrak etanol
daun A. flava memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker kolon WiDr dengan
nilai IC50 sebesar 308 ± 83 μg/ml dan diduga aktivitas sitotoksik tersebut terjadi
melalui kemapuan ekstrak dalam memacu apoptosis sel
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL TOTAL DAN EKSTRAK ETANOL TERPURIFIKASI DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) TERHADAP Staphylococcus aureus RESISTEN
Infeksi merupakan keadaan masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh,
kemudian berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Sebagian besar penyakit
infeksi yang merugikan bagi manusia disebabkan oleh bakteri salah satunya
Staphylococcus aureus yang merupakan patogen penting dan berbahaya diantara
marga Staphylococcus. Bakteri S.aureus juga sering resisten terhadap berbagai jenis
obat, sehingga mempersulit pemilihan antimikroba yang sesuai untuk terapi.
S. aureus dapat ditemukan pada permukaan kulit sebagai flora normal,
terutama di sekitar hidung, mulut, alat kelamin, dan sekitar anus. S. aureus dapat
menyebabkan infeksi pada luka. Infeksi oleh S. aureus dapat menyebabkan sindroma
kulit. Resistensi muncul pertama kali yaitu pada populasi bakteri penyebab suatu
infeksi, baik karena keadaan umum pasien atau karena pengaruh pertahanan tubuh
hospes yang lemah, sehingga menyebabkan penggunaan antibiotik dalam jumlah
banyak.
Pengobatan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri yang resisten terhadap
antibiotika memerlukan produk baru yang memiliki potensi tinggi, Penelitian zat
yang berkhasiat sebagai anti bakteri perlu dilakukan untuk menemukan produk
antibakteri baru yang berpotensi uuntuk menghambat atau membunuh bakteri yang
resisten terhadap antibiotik dengan harga yang terjangkau. Salah satu alternatif yang
dapat ditempuh adalah memanfaatkan zat aktif pembunuh bakteri yang terkandung
dalam tanaman obat dan memiliki prospek sebagai sumber bahan obat salah satunya
adalah tanaman binahong.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas ekstrak
etanol total dan ekstrak etanol terpurifikasi daun terhadap pertumbuhan bakteri S.
aureus serta menentukan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) pada kedua
ekstrak tersebut. Daun binahong yang digunakan berasal dari Kecamatan Kreongan
Kabupaten Jember. Daun binahong dicuci, disortasi kemudian dikeringkan dan
diultrasonikasi dengan etanol70%. Dipekatkan dengan rotary evaporator hingga
diperoleh ekstrak kental. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi
sumuran in vitro.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh hasil pengujian aktivitas anti
bakteri berupa nilai daya hambat ekstrak etanol total daun binahong konsentrasi 2 ,4
,6 ,8% b/v terhadap bakteri S. aureus yaitu sebesar 8,00 ± 0,04; 9,42 ± 0,103; 11,56 ±
0,007 dan 13,23 ± 0,058 mm. Sedangkan pada uji aktivitas antibakteri ekstrak
terpurifikasi daun binahong pada konsentrasi yang sama menunjukkan nilai daya
hambat sebesar 10,54 ± 0,064; 12 ± 0,073; 13,45 ± 0,074; dan 15,11 ± 0,034 mm.
Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol total terhadap S.
aureus resisten adalah 1,5% b/v, sedangkan nilai KHM untuk ekstrak etanol
terpurifikasi terhadap S. aureus resisten adalah 1,7 % b/v
UJI AKTIVITAS ANTIHIPERLIPIDEMIA KOMBINASI EKSTRAK DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia Lamk.) DAN KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus)
Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) merupakan penyakit
pembunuh utama di dunia. Penyakit ini terutama disebabkan oleh proses
aterosklerosis pada arteri koronaria. Salah satu penyebab utama arterosklerosis adalah
hiperlipidemia. Daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) dan kelopak bunga
rosella (Hibiscus sabdariffa L) sering digunakan sebagai agen antihiperlipidemia.
Kedua herbal ini dapat menurunkan kadar kolesterol dengan mekanisme kerja yang
berbeda dan memungkinkan terjadinya efek komplementer. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui aktivitas antihiperlipidemia kombinasi ekstrak daun jati
belanda dan kelopak bunga rosella pada tikus putih jantan galur wistar. Parameter
yang digunakan pada penelitian ini adalah kadar kolesterol total, trigliserida,
kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan berat badan tikus. Selain itu, juga dilakukan
analisis flavonoid total pada kombinasi ekstrak daun jati belanda dan kelopak bunga
rosella.
Pengujian aktivitas antihiperlipidemia dilakukan pada hewan uji yang
diinduksi diet lemak tinggi selama 60 hari, kemudian diberi perlakuan kombinasi
ekstrak daun jati belanda dan kelopak bunga rosella selama 15 hari dengan tetap
diberi diet lemak tinggi. Diet lemak tinggi terdiri dari pakan, lemak babi, dan kuning
telur puyuh dengan perbandingan 80:15:5. Penelitian ini menggunakan rancangan
pretest-posttest with control group terhadap 25 ekor tikus jantan yang terbagi menjadi
5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif CMC Na, kelompok kontrol positif
orlistat, kelompok kombinasi ekstrak perbandingan 3:1, kelompok kombinasi ekstrak
perbandingan 1:3, serta kelompok kombinasi ekstrak 1:1. Sampling darah dan
pengukuran berat badan tikus dilakukan pada hari ke-0, 60, dan 75. Tujuannya untuk
mengukur kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan
berat badan tikus sebelum dan sesudah perlakuan. Data perubahan kadar lipid
kemudian diubah menjadi penurunan dan peningkatan kadar lipid, sedangkan
perubahan berat badan tikus diubah menjadi penurunan berat badan tikus. Data
kolesterol total dan kolesterol LDL diuji dengan uji parametrik ANOVA, sedangkan
data trigliserida, kolesterol HDL, dan berat badan diuji dengan uji non-parametrik
Kruskal Wallis.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, diketahui bahwa kombinasi
ekstrak daun jati belanda dan kelopak bunga rosella mampu menurunkan kadar
kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL, dan meningkatkan kadar HDL
dibandingkan kontrol negatif, namun tidak dapat menurunkan berat badan tikus.
Kombinasi dengan perbandingan 1:1 mampu meningkatkan kadar HDL terbesar
dibandingkan dengan kelompok lain. Kadar flavonoid pada kombinasi ekstrak daun
jati belanda dan kelopak bunga rosella dengan perbandingan 3:1, 1:3, dan 1:1
berturut-turut adalah 1,70; 0,80; dan 1,18 %. Kemungkinan tidak hanya senyawa
flavonoid yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antihiperlipidemia. Selain
flavonoid, senyawa yang terlibat dalam aktivitas antihiperlipidemia adalah senyawa
tanin dan saponin. Mekanisme aktivitas antihiperlipidemia kombinasi ekstrak daun
jati belanda dan kelopak bunga rosella dalam penelitian ini kemungkinan adalah
melalui penghambatan enzim lipase yang berperan dalam absorbsi lipid, serta
penghambatan terhadap enzim HMG KoA reduktase yang berperan dalam sintesis
kolesterol dalam tubuh. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
terkait mekanisme antihiperlipidemia
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KEMAMPUAN PROTEKSI TERHADAP KERUSAKAN DNA DARI PROTEIN ISOLAT BIJI MELINJO (Gnetum gnemon L.) TERHIDROLISIS MENGGUNAKAN ALKALASE TERIMOBILISASI
Penyakit degeneratif menjadi permasalahan besar bagi tiap negara dan sampai saat ini telah menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia. Salah satu faktor penyebab yang berhubungan erat dengan penyakit tersebut antara lain paparan radikal bebas. Radikal bebas terpenting yang terdapat di dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut dengan kelompok oksigen reaktif (ROS). Salah satu ROS yang paling reaktif dan toksik dibandingkan dengan kelompok radikal lain serta berperan besar dalam kerusakan DNA melalui reaksi fenton adalah radikal hidroksil. Pencegahan akibat radikal bebas ini dapat diatasi dengan senyawa antioksidan yang berasal dari tanaman melinjo (Gnetum gnemon L.).
Pada penelitian sebelumnya telah dilaporkan bahwa protein isolat biji melinjo yang dihidrolisis menggunakan enzim alkalase bebas memiliki potensi antioksidan. Namun alkalase bebas tersebut hanya dapat digunakan dalam sekali perlakuan. Perlu adanya solusi untuk penggunaan alkalase yang dapat digunakan secara berulang, yaitu dengan cara teknik imobilisasi enzim. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas enzim alkalase terimobilisasi dalam menghidrolisis protein isolat biji melinjo sebagai antioksidan, dalam hal ini uji peredaman radikal hidroksil dan proteksi terhadap kerusakan DNA. Efektivitas enzim alkalase terimobilisasi dalam menghidrolisis protein isolat biji melinjo dapat dilihat berdasarkan karakterisasi imobilisasi enzim pada FTIR dan SEM serta nilai derajat hidrolisis (%), sedangkan keberhasilan proses hidrolisis dapat dilihat melalui hasil SDS-PAGE. Uji aktivitas antioksidan ditentukan dengan melihat kemampuan dalam menghambat radikal hidroksil (%) dan proteksi terhadap kerusakan DNA dalam gel agarosa 1%. Data yang diperoleh berupa peredaman radikal hidroksil (%) dan nilai IC50, hasil uji One Way ANOVA dan post hoc LSD serta hasil elektroforesis gel agarosa yang dilihat melalui UV transluminator.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa protein isolat biji melinjo telah berhasil dihidrolisis menggunakan enzim alkalase terimobilisasi ditandai dengan nilai derajat hidrolisis sebesar 70,33% dan profil pita protein yang memudar berdasarkan perubahan berat molekul yang semakin kecil. Uji peredaman radikal hidroksil diperoleh dari nilai IC50 Gg-PK, Gg-PH terimobilisasi, Gg-PH bebas, dan GSH secara berturut-turut sebesar 0,3376 ± 0,0258 g/ , 0,0020 ± 0,0005 g/ , 0,0008 ± 0,0003 g/ 0,0003 ± 0,0001 g/ . Semakin kecil nilai IC50 yang diperoleh, maka semakin besar aktivitas antioksidan melalui peredaman radikal hidroksil. Hasil analisis LSD menunjukkan bahwa sampel Gg-PH terimobilisasi memiliki aktivitas antioksidan lebih bagus dibandingkan Gg-PK. Sedangkan kelompok sampel Gg-PH terimobilisasi tidak berbeda signifikan terhadap sampel Gg-PH bebas dan GSH. Protein yang dihidrolisis menggunakan alkalase terimobilisasi juga memiliki kemampuan dalam proteksi kerusakan DNA yang ditandai dengan perubahan kembali bentuk pita supercoil akibat paparan radikal hidroksil.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah protein biji melinjo (Gg-PH) terhidrolisis menggunakan alkase terimobilisasi memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dalam meredam radikal hidroksil dibandingkan protein kasar dan protein isolat, serta mampu memproteksi DNA dari kerusakan akibat radikal hidroksil dengan perbandingan 1:20 (plasmid DNA : protein)
UJI SITOTOKSISITAS DAN SELEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL TERPURIFIKASI Arcangelisia flava PADA SEL KANKER PAYUDARA MCF-7
Kanker adalah salah satu penyakit yang sangat sulit ditangani dan menjadi
penyebab kurang lebih 13% kematian di seluruh dunia. Berdasarkan data WHO
pada tahun 2012, terdapat 14,1 juta kasus kanker dan diperkirakan akan terus
meningkat sampai tahun 2030 menjadi 23,6 juta kasus setiap tahunnya. Menurut
Riset Kesehatan Dasar dikatakan bahwa prevalensi penyakit kanker di Indonesia
sebesar 1,4% atau diperkirakan sekitar 347.792 orang.Kanker payudaramerupakan
tumor ganas yang tumbuh di sel-sel payudara. Tumor ganas adalah sekelompok
sel kanker yang dapat tumbuh menjadi jaringan sekitarnya atau menyebar ke
organ tubuh lain.
Menurut Tsao et al., Pengobatan penyakit kanker dengan efek samping
yang relatif kecil dan aman adalah dengan menggunakan bahan alam. Penggunaan
senyawa alam, sintesis atau agen biologis kimia untuk membalikkan, menekan
atau mencegah progresi karsinogenik hingga menjadi kanker yang invasif disebut
dengan agen kemoprevensi. Tumbuhan Arcangelisia flava memiliki kandungan
senyawa golongan alkaloid protoberberin, yang terdiri dari berberin, palmatin, dan
jatrorrhizin. Berberin memiliki banyak aktivitas yang mendukung sebagai
antikanker. Senyawa ini mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara
MCF-7 dan MDA-MB-231.
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari sampai bulan Agustus 2015
bertempat di Laboratorium Fitokimia Bagian Biologi Farmasi Fakultas Farmasi
Universitas Jember untuk pembuatan ekstrak etanol terpurifikasi A. flava, dan
Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Jogjakarta untuk uji sitotoksisitas in vitro. Penelitian ini untuk mengetahui efek
sitotoksik dari ekstrak terpurifikasi daun A. flava terhadap sel MCF-7. Uji
sitotoksik dilakukan dengan menggunakan metode MTT.
Pada penelitian sebelumnya, berdasarkan data dari Puspitasari et al.,
diketahui bahwa ekstrak etanol total daun A. flava memiliki aktivitas sitotoksik
yang selektif terhadap sel kanker payudara MCF-7 dengan nilai IC50 sebesar 136 ±
17μg/ml dan SI sebesar 9,85. Uji sitotoksik ekstrak terpurifikasi daun A. flava
terhadap sel kanker payudara memberikan hasil berupa penurunan jumlah sel
hidup seiring dengan peningkatan kadar. Semakin tinggi konsentrasi, maka
semakin rendah jumlah sel hidup. Pada konsentrasi larutan uji 100 μg/ml
menunjukkan presentase hidup sebesar 86,47 %; 200 μg/ml sebesar 80,53 %; 400
μg/ml 78,25 %; 700 μg/ml sebesar 74,17 %; 1.000 μg/ml sebesar 65,81 %.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode yang valid
karena nilai CV berada di bawah batas yang ditentukan yaitu 15,74 %, menurut
Vanderperren et al., batas maksimal yang diperbolehkan untuk uji menggunakan
sel adalah sebesar 30 %. Nilai IC50 rata-rata dari 3 eksperimen yaitu sebesar
1829,84 ± 288,2 μg/ml. Nilai IC50 yang diperoleh menunjukan bahwa ekstrak A.
flava terpurifikasi tidak memiliki potensi yang baik sebagai agen sitotoksik pada
sel kanker payudara karena nilai IC50 yang di dapatkan lebih dari 1.000 μg/ml.
Menurut Omoregie et al., suatu zat dikatakan tidak toksik bila nilai IC50> 1.000
μg/ml, karena hasil tidak memenuhi syarat uji sitotoksik maka tidak dilakukan uji
selektivitas. Untuk penelitian lebih lanjut, penulis menyarankan perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut mengenai uji kombinasi antara ekstrak terpurifikasi A. flava
dan agen kemoterapi lainnya
- …
