1,721,057 research outputs found
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Mahasiswa Profesi Ners Terhadap Penerapan Standard Precaution Sebagai Upaya Pencegahan HealthcareAssociated Infections
Healthcare Associated Infections (HAIs) merupakan infeksi yang dialami pasien, dimana terjadi selama mendapatkan perawatan dan pada saat pasien masuk rumah sakit mereka tidak mendapatkan infeksi namun setelah pulang dari rumah sakit pasien mendapat infeksi yang baru, selain itu infeksi didapat dari petugas dan tenaga kesehatan saat proses pelayanan kesehatan di rumah sakit. HAIs memberikan dampak pada pasien, dimana perawatan yang dilakukan lebih lama sehingga pasien harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak. Selain berdampak pada pasien, rumah sakit juga mengalami hal yang sama karena harus mengeluarkan biaya yang besar untuk pemberian pelayanan kesehatan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan kepatuhan mahasiswa profesi dalam penerapan standard precaution saat melaksanakan praktik. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain deskriptif dan teknik sampling menggunakan total sampling yang melibatkan 157 mahasiswa yang menerapkan standard precaution sebagai responden penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik mahasiswa profesi, pengetahuan mahasiswa profesi dan kepatuhan mahasiswa profesi dalam penerapan standard precaution. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menggambarkan sebanyak 56.1% pengetahuan mahasiswa profesi tentang penerapan standard precaution dalam kategori baik. Kepatuhan mahasiswa profesi dalam penerapan standard precaution rata-rata 57,17% dalam kategori kurang optimal.
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu sebagian besar mahasiswa profesi memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik namun pada variabel kepatuhan mahasiswa profesi sebagian besar dalam penerapan standard precaution dalam kategori kurang optimal. Maka dari itu mahasiswa perlu meningkatkan kembali pemahaman dan kepatuhan terhadap penerapan standard precaution untuk melindungi dirinya dan pasien dari kejadin infeksi
Perbedaan Kepuasan Pasien Pada Pelayanan Puskesmas Terakreditasi Dan Puskesmas Tidak Terakreditasi DI Jember
Puskesmas was a health service facility that organizes public health efforts.
Patient satisfaction became one of the decisive indicators in measuring the quality
of health services. The level of community satisfaction of health service used
could be measured using 5 indicators of service and the existence of
accreditation. Accreditation was expected to make all health care facilities at the
first level able to provide services that meet the applicable standards and quality,
so that patients can feel satisfied with the services that have been given. This
study aimed to determine differences in patient satisfaction with accredited health
centers and non accredited community health centers in Jember. This research
was descriptive analytic research with cross sectional approach. The sample in
this study were 450 people with consequtive sampling technique. Data collection
from this research using questionnaire. Data were analyzed using p value of
0,000 which means that the value of p value <0,05. The conclusion that can be
taken from the explanation was Ha accepted indicating that there was a difference
between patient satisfaction toward accredited and not accredited health center
service in Jember Regency Year 2016. This research recommended health center
to provide excellent service for patient and upgrade their careworker’s skills
about caring
Prosiding Seminar Akademik Fakultas Seni Rupa “Seni dan Media dalam Kuasa Virtual”
Prosiding ini memuat 13 (tiga belas) artikel terpilih yang telah melewati beberapa tahap seleksi dari panitia. Pembahasan dari setiap artikel memiliki keunikan, baik dari objek materialnya maupun dari sudut pandang yang digunakan oleh para penulis.
Tema “Seni dan Media dalam Kuasa Virtual” sengaja dipilih dengan beberapa pertimbangan, yakni: Yang pertama, seni (dalam ranah apapun: baik seni rupa, seni pertunjukan, maupun seni media rekam) tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebut sebagai media. Karena seni dan media menjadi ruang dialogis yang tak hanya kompleks, namun juga konstruktif dan saling beririsan. Yang kedua, keterhubungan seni dan media serta sifat audiens yang aktif membuat ruang-ruang berkesenian menjadi tidak hanya berdaya namun juga akan terus dibicarakan dan menemui daya kreatifnya. Audiens menjadi kata kunci dan titik sentral dalam perbincangan, terutama ketika hadirnya ruang- ruang virtual di tengah kehidupan masyarakat saat ini. Yang ketiga, faktor kuasa. Kehadiran ruang virtual dalam seni dan media ditengarai menjadi cikal bakal munculnya relasi-relasi kuasa baru. Relasi- relasi baru inilah yang kemudian akan selalu erat dengan media dan segala konstruksinya. Seni dan media melalui ruang-ruang virtual mulai menjalankan strategi dan taktiknya untuk menjalankan kepentingannya. Selanjutnya seni dan media merupakan ranah multidisiplin yangtidak bisa selesai dan tuntas dengan dirinya sendiri. Bidang tersebut memerlukan disiplin keilmuan yang lain untuk bisa melihat dimensi-dimensinya yang semakin banyak dan kompleks, sehingga dengan melibatkan keilmuan yang lain diharapkan dapat memperkaya dan memperdalam kajian yang ada
Hubungan Peran Perawat Anak Dengan Tingkat Kepuasan Keluarga Selama Proses Hospitalisasi Anak Di Ruang Anak Rsd Balung Jember
Kepuasan keluarga penting untuk mengevaluasi pelayanan keperawatan
pada anak, mengingat keluarga tak lagi dipandang sebagai pengunjung melainkan
mitra bagi perawat dalam perawatan anak. Bentuk pelayanan keperawatan yang
dapat meningkatkan kepuasan keluarga salah satunya adalah dengan
mengoptimalkan peran perawat anak, yang merupakan bentuk praktik
keperawatan profesional. Peran perawat anak meliputi pemberi perawatan,
advokat keluarga, pendidikan, konseling, kolaborasi, pengambil keputusan etik,
dan peneliti.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan peran perawat
anak dengan tingkat kepuasan keluarga selama proses hospitalisasi anak di ruang
anak RSD Balung Jember. Desain penelitian menggunakan observasional analitik
dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh keluarga pasien anak di ruang rawat inap anak Rumah Sakit
Daerah Balung Jember. Teknik sampling menggunakan quota sampling yaitu
dengan jumlah sampel 35 responden. Alat pengumpulan data menggunakan
x
kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Data dianalisis
menggunakan Chi Square untuk mengetahui hubungan peran perawat anak dan
kepuasan keluarga selama proses hospitalisasi anak di ruang anak RSD Balung
Jember.
Hasil analisis karakteristik perawat di ruang rawat inap anak RSD Balung
Jember menunjukkan seluruhnya berjenis kelamin perempuan, mayoritas
pendidikan terakhir perawat adalah D3, sebagian besar perawat adalah Non-PNS,
sebagian besar gaji perawat dibawah UMK Kabupaten Jember, dengan masa kerja
tersingkat adalah 7 bulan dan masa kerja terlama adalah 225 bulan. Hasil analisis
karakteristik responden menunjukkan lebih dari 50% responden berumur 20-29
tahun, mayoritas jenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir responden
terbanyak SMP, pekerjaan responden terbanyak ibu rumah tangga, sebagian besar
pendapatan responden dibawah UMK Kabupaten Jember, dan lebih dari 50%
responden bersuku Jawa.
Hasil uji statistik menunjukkan lebih dari 50% responden menilai bahwa
peran perawat anak baik. Indikator peran perawat anak yang yang memiliki
kategori paling baik yaitu peran sebagai pemberi perawatan dan indikator peran
perawat anak yang memiliki kategori paling kurang yaitu peran sebagai peneliti.
Hasil uji statistik menunjukkan lebih dari 50% responden memiliki tingkat
kepuasan yang tinggi. Indikator kepuasan keluarga yang memiliki kategori paling
tinggi adalah aspek kepedulian dan indikator kepuasan keluarga yang memiliki
kategori paling rendah adalah aspek bukti fisik. Terdapat hubungan antara peran
xi
perawat anak dengan tingkat kepuasan keluarga selama proses hospitalisasi anak
di ruang rawat inap anak RSD Balung Jember.
Pelaksanaan peran perawat anak yang optimal memberikan tingkat
kepuasan yang tinggi. Kepuasan yang tinggi menciptakan pengalaman positif dan
loyalitas terhadap pelayanan rumah sakit. Loyalitas pasien dapat menjadi
kekuatan dan dapat memberikan dampak positif pada rumah sakit. Sehingga
pasien akan kembali ke rumah sakit dan menggunakan jasa pelayanan kesehatan
lagi dimasa yang akan datang
Hubungan Mekanisme Koping Dengan Tingkat Kecemasan Perempuan Menopause Di Desa Kesilir Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember
Menopause is the cessation of the menstrual cycle due to decreased estrogen and progesterone hormone. Decreased estrogen hormones will cause physical and psychological symptoms in menopausal women. Psychological impacts experienced by menopausal women is an anxiety. The most important factor in solving the psychological impact of anxiety symptoms is by using coping mechanisms. The purpose of this research is to analyze the correlation of coping mechanism with the level of anxiety of menopausal women in Kesilir Village Wuluhan District, Jember Regency. This research used an observational analytic design with cross-sectional approach with total of 84 respondents were obtained by using consecutive sampling technique. The data were collected by employing a questionnaire of coping mechanisms and a Zung Self Rating Anxiety Scale questionnaire to measure the anxiety levels. Data analysis are carried by using Spearman-rank correlation test with significance level of 0,05. This significance level showed that 43 menopausal women had adaptive mechanism of female adaptive menopause (51,2%) and 37 women had mild anxiety (44,0%) with p value 0,001 and correlation (r) +0.408. The correlation positive with the value of medium strength which means the better the coping mechanism, the lower the anxiety level of menopausal women. This finding indicates that it is significance to use coping mechanisms to reduce the anxiety level of menopausal women. In this research, a nurse has important role as an educator to give health education regarding the menopaus. This suggests that the importance of using coping mechanisms to reduce the anxiety level of menopausal women
Gambaran Sikap Perawat Dalam Penerapan Patient Safety di Ruang Rawat Inap Kelas III RSD dr. Soebandi Jember
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sikap perawat dalam penerapan patient safety di ruang rawat inap kelas III RSD dr Soebandi Jember. Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana ruang rawat inap kelas III RSD dr Soebandi Jember. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah 109 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas.Gambaran sikap perawat pelaksana diketahui dengan memaparkan distribusi frekuensi.
Hasil analisa responden menunjukkan karakteristik perawat yang menjadi responden maayoritas adalah berumur kisaran 30- 40 tahun, mayoritas perempuan, mayoritas sudah menikah, mayoritas berpendidikan DIII, mayoritas sudah menikah, mayoritas masa bekerja 5- 10 Tahun, mayoritas sudah mengikuti pelatihan patient safety. Sikap perawat di ruang rawat inap kelas III memiliki sikap mendukung dalam penerapan patient safety
Sikap perawat dapat menjadi predisposisi dalam penerapan patient safety. Hal ini dikarenakan kesiapan perawat berperan penting dalam pelaksanaan penerapan patient safety
HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA RUANG DENGAN PENERAPAN KESELAMATAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT PARU JEMBER
Tujuan nasional dalam unsur kesejahteraan umum adalah mewujudkan
derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Tujuan tersebut perlu diiringi dengan
peningkatan upaya guna memperluas dan mendekatkan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat dengan mutu yang baik. Sisi yang lain, dunia kesehatan mulai
menaruh kepedulian tinggi terhadap keselamatan pasien sejak malpraktik
menggema di seluruh belahan bumi melalui berbagai media cetak hingga jurnal
ilmiah ternama. Upaya pengelolaan yang baik perlu dilakukan untuk
meningkatkan pelayanan keperawatan diantaranya menggunakan fungsi
manajemen keperawatan, khususnya supervisi kepala ruang. Supervisi merupakan
fungsi pengarahan manajemen keperawatan, dan kepala ruang sebagai first line
manager mempunyai tanggung jawab untuk melakukan supervisi pelayanan
keperawatan yang diberikan pada pasien di ruang perawatan yang dipimpinnya.
Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan supervisi kepala ruang
dengan penerapan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Paru
Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode
deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini
sebanyak 32 responden. Cara pengambilan sampel yang digunakan adalah total
sampling. Penelitian dilakukan di ruang rawat inap kelas 2 dan 3 Rumah Sakit
Paru Jember. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner sehingga
data yang diperoleh adalah data primer. Uji validitas dan reliabilitas menggunakan
Pearson Product Moment dan menggunakan uji statistik Chi Square.
x
Hasil uji univariat terkait variabel supervisi kepala ruang menunjukkan
53,1% perawat pelaksana mempersepsikan supervisi kepala ruang pada kategori
cukup, dan selebihnya mempersepsikan supervisi kepala ruang kategori baik.
Variabel penerapan keselamatan pasien menunjukkan 56,2% perawat pelaksana
telah menerapkan keselamatan pasien dengan baik dan 43,8% sisanya telah
menerapkan keselamatan pasien dengan cukup. Hasil uji bivariat dari hubungan
supervisi kepala ruang dengan penerapan keselamatan pasien di ruang rawat inap
Rumah Sakit Paru Jember, dianalisis dengan uji Chi Square dan didapatkan nilai
p=0,000 < α= 0,05 yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara supervisi kepala ruang dengan penerapan keselamatan pasien di ruang
rawat inap Rumah Sakit Paru Jember.
Kegiatan supervisi adalah kegiatan-kegiatan yang terencana seorang
manajer melalui aktifitas bimbingan, pengarahan, motivasi dan evaluasi pada
stafnya dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehari-hari. Kegiatan bimbingan
yang diberikan oleh supervisor keperawatan sangat diperlukan agar terjadi
perubahan perilaku yang mencakup perubahan kognitif berupa pengetahuan
perawat. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
perilaku terbuka. Penentuan sikap yang didasari oleh pengetahuan dan kesadaran
akan lebih kuat tertanam dalam kepribadiannya, dibandingkan dengan sikap yang
tidak didasari atas pengetahuan atau konsep yang dipahaminya. Pengetahuan
perawat memberikan kontribusi positif dan signifikan dalam menerapkan
keselamatan pasien. Hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi terhadap
perawat untuk meningkatkan penerapan keselamatan pasien serta menjadikan
budaya keselamatan pasien dalam pelayanan keperawatan
HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TENTANG PROFESI KEPERAWATAN DENGAN MOTIVASI MELANJUTKAN PENDIDIKAN PROFESI NERS DI PSIK UNIVERSITAS JEMBER
Hubungan Persepsi Mahasiswa Tentang Profesi Keperawatan Dengan Motivasi
Melanjutkan Pendidikan Profesi Ners di PSIK Universitas Jember; Dewa Ayu
Dwi Chandra Yadnya Sari, 112310101046; 2015, 125 halaman, Program Studi
Ilmu Keperawatan Universitas Jember
Pendidikan keperawatan merupakan langkah awal di dalam meningkatkan
kemampuan profesionalisme perawat serta memberikan kesempatan untuk
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Perawat profesional harus
melewati dua tahap pendidikan yaitu tahap pendidikan akademik yang lulusannya
mendapat gelar S. Kep dan tahap pendidikan profesi yang lulusannya mendapat
gelar Ners (Ns). Mahasiswa selama menjalankan disiplin akademik atau
pendidikan akademik nantinya akan mendapatkan teori dan konsep ilmu serta
pengalaman mengenai profesi keperawatan. Teori dan konsep ilmu serta
pengalaman belajar mengenai profesi keperawatan yang diperoleh mahasiswa dari
tahap akademik ini akan membentuk persepsi positif ataupun negatif dan akan
menghasilkan sikap yang hasilnya dapat terlihat dalam perilaku yang ditunjukkan.
Banyaknya ilmu dan pengalaman mengenai profesi keperawatan yang diperoleh
akan menimbulkan suatu penilaian atau persepsi yang berbeda dari masingmasing
mahasiswa mengenai profesi keperawatan itu sendiri. Persepsi mahasiswa
mengenai profesi keperawatan akan mempengaruhi motivasi mahasiswa
melanjutkan pendidikan profesi Ners.
Tujuan dan metode penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
persepsi mahasiswa tentang profesi keperawatan dengan motivasi melanjutkan
pendidikan profesi ners di PSIK Universitas Jember. Jenis penelitian ini adalah
penelitian deskriptif korelasional menggunakan pendekatan cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini mahasiswa angkatan 2011 dan 2012 PSIK
Universitas Jember yang berjumlah 128 mahasiswa. Teknik pengambilan
x
menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 97
mahasiswa.
Hasil penelitian ini menunjukaan mahasiswa memiliki persepsi negatif
tentang profesi keperawatan sebanyak 52,6% dan mahasiswa memiliki persepsi
positif tentang profesi keperawatan sebanyak 47,4%. Motivasi melanjutkan
pendidikan profesi ners didapatkan mahasiswa yang memiliki motivasi kurang
sebanyak 50,5% dan mahasiswa yang memiliki motivasi baik 49,5%. Pada
mahasiswa dengan persepsi negatif dan memiliki motivasi kurang sebanyak
34,0%, sedangkan memiliki motivasi baik sebanyak 18,6%. Pada mahasiswa
dengan persepsi positif dan memiliki motivasi kurang sebanyak 16,5%, sedangkan
memiliki motivasi baik sebanyak 30,9%. Hasil uji statistik Chi Square
menunjukan nilai p value 0,003 yang artinya p value lebih kecil dari nilai alpha (p
< α) dengan nilai α = 0,05 sehingga Ha diterima artinya ada hubungan yang
signifikan antara persepsi mahasiswa tentang profesi keperawatan dengan
motivasi melanjutkan pendidikan profesi ners di PSIK Universitas Jember.
Persepsi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi
seseorang. Persepsi mahasiswa yang negatif dapat menimbulkan kurangnya
motivasi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan profesi ners di PSIK
Universitas Jember, sebaliknya persepsi mahasiswa yang positif tentang profesi
keperawatan juga dapat menimbukan motivasi baik mahasiswa untuk melanjutkan
pendidikan profesi ners. Mahasiswa diharapkan memiliki persepsi yang positif
mengenai profesi keperawatan yang nantinya dapat meningkatkan motivasi dalam
melanjutkan pendidikan profesi setelah lulus dari pendidikan akademik dan
mendapat gelar S. Kep. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah ada hubungan
yang signifikan antara persepsi mahasiswa tentang profesi keperawatan dengan
motivasi melanjutkan pendidikan profesi ners di PSIK Universitas Jember. Saran
penelitian ini adalah diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi institusi
pendidikan keperawatan untuk dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas
penyelenggaraan profesi ners, seperti memberikan informasi secara utuh tentang
keperawatan dan gambaran program pendidikan profesi ners
Hubungan Penerapan Atraumatic Care Dengan Tingkat Stres Saat Hospitalisasi Pada Anak Usia Sekolah Di Rsud Dr. Haryoto Kabupaten Lumajang
Hospitalisasi adalah keadaan dimana adanya tuntutan untuk tinggal di
rumah sakit karena kondisi sakitnya dan diharuskan mampu beradaptasi dengan
lingkungan rumah sakit. Penyakit dan hospitalisasi adalah krisis pertama yang
dihadapi oleh setiap anak utamanya anak usia sekolah, dimana anak sangat rentan
terhadap stres karena perubahan keadaan dan rutinitas lingkungan, serta
keterbatasan kemampuan mekanisme koping untuk menghadapi hal-hal yang
menimbulkan tekanan (stressor) (Wong, 2009). Reaksi terhadap stres hospitalisasi
yang ditunjukkan cenderung memiliki respon psikososial berupa perilaku protes,
bosan, kesepian, frustasi, menarik diri (isolasi diri), bertindak berani (agresif), tidak
mau berkontribusi (pasif), dan lain-lain (Hidayat, 2009)
Gambaran Praktik Kolaborasi Interprofesi Perawat Dokter Menurut Perawat DI Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Kabupaten Jember
Kolaborasi interpofesi merupakan strategi yang efektif dan efisien untuk
meningkatkan kualitas kesehatan pasien yang dapat dilakukan oleh berbagai
macam profesi tenaga kesehatan profesional. Dalam penelitian ini membahas
terkait kolaborasi interprofesi perawat-dokter. Kolaborasi kedua profesi tersebut
sangat berguna dalam perawatan pasien dalam kesehariannya untuk meningkatkan
kesembuhan pasien. Kolaborasi interprofesi perawat-dokter mempunyai 3
indikator penting yaitu partisipasi bersama dalam proses pengambilan keputusan
pengobatan atau perawatan pasien, berbagi informasi kepada pasien dan
kegotongroyongan. Pentingnya perawat-dokter mengetahui indikator tersebut
dalam proses kolaborasi interprofesi agar menciptakan pelayanan kesehatan yang
baik dan efektif kepada pasien secara berkesinambungan serta dapat memberikan
pengetahuan, keterampilan dan pengalaman satu sama lain dalam menjalani suatu
kerjasama dalam bidang kesehatan.
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui gambaran praktik
kolaborasi interprofesi perawat-dokter menurut perawat di ruang rawat inap
Rumah Sakit Kabupaten Jember. Pada penelitian ini menggunakan desain
deskriptif dan diukur secara kuantitatif serta pengambilan sampel menggunakan
total sampling dengan responden 79 perawat. Pengumpulan data menggunakan
kuesioner karakteristik perawat dan kuesioner NPCS (Nurse-Physician
Collaboration Scale) secara online. Analisis data penelitian ini menggunakan
analisis univariat.
Hasil penelitian praktik kolaborasi interprofesi perawat-dokter menurut
perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Daerah Kabupaten Jember yaitu
diperoleh usia perawat yang bekerja antara rentang 20-40 tahun yaitu 82,3%
dengan sebagian besar perawat yang bekerja berjenis kelamin perempuan sebesar 63,3%, perawat yang bekerja sebagian besar berpendidikan terakhir D3
Keperawatan dengan jumlah 77,2%, lama bekerja di RSD Kabupaten Jember > 5
tahun sebesar 87,3% dan di ruangan rawat inap selama 1-5 tahun sebesar 64,6%
serta sebagian besar bekerja sebagai perawat pelaksana yaitu 79,8% dengan status
kepegawaian non PNS berjumlah 62,0%. Seluruh perawat di semua ruang rawat
inap Rumah Sakit Daerah Kabupaten Jember dengan jumlah 79 perawat (100%)
memiliki perilaku kolaboratif baik atau bisa diartikan bahwa praktik kolaborasi
interprofesi perawat-dokter berjalan dengan baik.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan
praktik kolaborasi interprofesi perawat-dokter menurut perawat di ruang rawat
inap Rumah Sakit Daerah Kabupaten Jember dapat dikatakan berjalan dengan
baik. Adanya partisipasi bersama dalam proses pengambilan keputusan
pengobatan atau perawatan pasien, berbagi informasi kepada pasien dan
kegotongroyongan yang tercipta dengan baik antara kedua profesi (perawat dokter) maka pelaksanaan kegiatan praktik kolaborasi interprofesi perawat-dokter
menurut perawat semakin berjalan positif. Perawat disamping memerankan peran
kolaborasi juga sekaligus menjalankan fungsi interdependen, karena perawat
berkolaborasi dengan melibatkan tim dari berbagai profesi tenaga kesehatan.
Semakin baik dan efektif kinerja perawat dalam praktik kolaborasi interprofesi
perawat-dokter, maka hal tersebut akan berpengaruh juga kepada pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada pasien untuk mengoptimalkan kesembuhan
- …
