1,721,013 research outputs found

    PERBRDAAN VOLUME, VISKOSITAS DAN pH SALVA PADA ANAK-ANAK KARIES DAN NON KARIES SETELAH MENGKOMSUMSI MINUMAN BAKING SODA ( ANAK USIA 10-12 tAHUN )

    No full text
    Karies gigi dan penyakit periodental merupakan penyakit gigi serta mulut tang paling sering dijumpai di Indonesi

    HUBUNGAN KECEMASAN PASIEN ANAK USIA 6-13 TAHUN TERHADAP PENCABUTAN GIGI DI PUSKESMAS SUMBERSARI JEMBER

    Full text link
    Anak-anak usia 6-13 tahun merupakan masa dimana terjadi proses pergantian gigi sulung menjadi gigi permanen. Pencabutan gigi merupakan salah satu perawatan yang sering dilakukan untuk mengatasi persistensi atau gigi berjejal yang sering terjadi pada masa ini. Pencabutan gigi merupakan pencetus pertama dari kecemasan anak. Kecemasan dapat diartikan sebagai respon emosional terhadap suatu bahaya yang akan terjadi sehubungan dengan perawatan gigi. Kecemasan pada anak usia 6-13 tahun dapat ditunjukkan secara langsung dengan ekspresi wajah dan tingkah laku, misalnya menangis. Kecemasan yang terjadi pada anak dalam praktek dokter gigi merupakan halangan yang sering mempengaruhi perilaku anak karena mempengaruhi kooperatif anak dalam perawatan gigi. Semakin tinggi kecemasan anak maka anak akan semakin bersikap nonkooperatif dalam perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecemasan pasien anak usia 6-13 tahun terhadap pencabutan gigi di Puskesmas Sumbersari Jember. Penting bagi dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya memahami perasaan cemas anak pada setiap perawatan, karena kecemasan pada pasien anak dapat menyebabkan kegagalan dalam perawatan gigi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di poli gigi Puskesmas Sumbersari Jember pada bulan November-Desember 2014. Sampel penelitian adalah semua pasien anak yang datang ke poli gigi Puskesmas Sumbersari Jember yang memenuhi kriteria berjumlah 77 pasien. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati ekspresi wajah pasien menggunakan facial image scale sebelum dilakukan prosedur pencabutan gigi dan di dokumentasikan menggunakan kamera digital yang diamati oleh 3 peneliti. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi-Square Test dilanjutkan dengan analisis Odds ratio untuk melihat seberapa besar resiko tingkat kecemasan terhadap pencabutan. Data penelitian dianalisa menggunakan uji statistik Chi-Square Test, yang menunjukkan p=0,000 (p< α, α=0,05) artinya ada hubungan antara kecemasan pasien dengan pencabutan gigi. Hasil uji statistik menggunakan Odds ratio nilai estimate dari Odds Ratio sebesar 19.200. Nilai tersebut menunjukkan pasien yang cemas memiliki resiko 19 kali lipat untuk tidak melakukan pencabutan gigi dibanding pasien yang tidak cemas

    Pengaruh Bioactive glass Nano Silica Abu Ampas Tebu terhadap Jumlah Makrofag Pulpa Tikus Wistar Jantan

    No full text
    Bioactive glass adalah salah satu bahan dibidang kedokteran gigi yang memiliki komposisi terdiri dari SiO2, Na2O, CaO dan P2O5 dengan silika (SiO2) 45-52%. ) sebagai komposisi utama. Salah satu sumber untuk mendapatkan silika tersebut adalah dari abu ampas tebu. Abu ampas tebu dapat digunakan sebagai bahan pembuatan bioactive glass dikarenakan abu ampas tebu memiliki kandungan silika yang cukup tinggi sekitar 70%. Selain kandungan silika yang tinggi, keuntungan menggunakan abu ampas tebu adalah meningkatkan nilai ekonomi dari abu ampas tebu dan kemungkinan terjadi reaksi penolakan dari tubuh yang rendah jika diaplikasikan karena berasal dari alam. Fungsi dari Bioactive glass adalah sebagai bahan remineralisasi, mengurangi hipersensitifitas, scaffold, menstimulasi growth factor dan proliferasi sel. Salah satu fungsi bioactive glass yang dapat menstimulasi growth factor dan proliferasi membuat peneliti ingin melihat keefektifitasan bioactive glass nano silica abu ampas tebu terhadap proses proliferasi melalui makrofag. Makrofag dipilih peneliti dikarenakan fungsinya yang berbagai macam yaitu, fagosit, antigen processing dan antigen presenting cells (APC). Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian eksperimental laboratoris in vivo. Rancangan yang digunakan adalah Post Test-Only Control Design. Kelompok perlakuan dilakukan dengan cara mempreparasi gigi molar tikus dan diperforasi seujung sonde kemudian dilakukan perlakuan dengan pengaplikasian bahan bioactive glass nano silica abu ampas tebu kemudian di tumpat menggunakan caviton dan ditunggu selama 3 dan 7 hari. Kelompok kontrol dilakukan dengan cara mempreparasi gigi molar tikus dan diperforasi seujung sonde kemudian ditumpat menggunakan caviton dan ditunggu selama 3 dan 7 hari. Setelah ditunggu 3 dan 7 hari masing-masing kelompok, tikus kemudian dikorbankan pada hari ke-3 dan ke-7 untuk diambil gigi berserta rahangnya kemudian dilakukan pewarnaan dengan hematoksilin eosin dan dilakukan pengamatan dengan mikroskop binokuler untuk melihat makrofag dengan pembesaran 400 kali. Dari data hasil penelitian di uji normalitas dan homogenitasnya dengan menggunakan Kolmogorov-smirnov dan uji Levene. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan uji parametrik One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significance Difference). Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok perlakuan di hari ke-3 mengalami peningkatan jumlah makrofag dan dihari ke-7 mengalami penurunan jumlah makrofag. Hal ini menunjukkan bahwa pada hari ke-3 kelompok perlakuan telah mencapai fase proliferasi karena bantuan bahan bioactive glass nano silica abu ampas tebu yang dapat membentuk hydroxycarbonate apatite lebih cepat. Pembentukan hydroxycarbonate apatite yang terjadi dapat mengurangi inflamasi yang terjadi sehingga proses proliferasi lebih cepat dan dihari ke-7 menurun karena proses proliferasi hampir selesai. Pada kelompok kontrol pada hari ke-3 dan ke-7 mengalami peningkatan makrofag. Hal ini dikarenakan proses penyembuhan terjadi secara fisiologis dimana makrofag mencapai puncaknya dihari ke-7 untuk terjadi proses proliferasi. Berdasarkan hasil penelitian yang terjadi dapat disimpulkan bahwa bahan bioactive glass nano silica abu ampas tebu dapat berpengaruh dalam menurunkan jumlah makrofa

    GAMBARAN CORAK KARIES GIGI MOLAR SULUNG PADA PASIEN ANAK DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS JEMBER BERDASARKAN JENIS KELAMIN (USIA 6 DAN 7 TAHUN)

    No full text
    Tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran corak karies gigi molar sulung pada pasien anak di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember berdasarkan jenis kelamin (usia 6 dan 7 tahun).. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif observasional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu rekam medik yang tersimpan di bagian Rekam Medik RSGM FKG Universitas Jember dengan rentang usia pasien 6-7 tahun, diagnosa karies gigi tertanggal mulai Juni 2015 – November 2015. Hasil gambaran perbedaan corak karies gigi molar sulung pada pasien anak di RSGM diambil dari 168 kartu rekam medis bulan Juni 2015 sampai dengan November 2015. Pada sampel anak perempuan gigi molar sulung yang paling banyak terkena karies adalah gigi 55 dengan persentase 7,96%, sedangkan yang terendah adalah gigi 54 dengan persentase 3,98%. Pada sampel anak lakilaki gigi molar sulung yang paling banyak terserang karies adalah gigi 65 dengan persentase 7,28%, sedangkan terendah pada gigi 64 dengan persentase 5,46%. Permukaan gigi molar sulung yang paling banyak terserang karies adalah permukaan oklusal 50,91% pada perempuan dan 49,88% pada laki-laki, terendah adalah bukal 1,57% pada perempuan dan 1,19% pada laki-laki. Keparahan karies gigi molar sulung yang terbanyak adalah pulpitis reversibel 58,52% pada perempuan dan 53,13% pada laki-laki, dan yang terendah adalah nekrosis pulpa 4,58% pada perempuan dan 6,03% pada laki-laki,. Kesimpulan yang didapat adalah masing-masing kelompok jenis kelamin memiliki gambaran corak yang khas. Pada anak usia 6-7 tahun sampel perempuan terbanyak adalah gigi 55, sedangkan yang terendah gigi 54. Permukaan gigi molar sulung terkena karies yang terbanyak adalah permukaan oklusal, sedangkan permukaan bukal merupakan yang terendah. Keparahan karies gigi molar sulung yang terbanyak adalah pulpitis reversibel, sedangkan yang terendah nekrosis pulpa. Sedangkan pada anak usia 6-7 tahun sampel laki-laki jenis gigi terbanyak adalah gigi 65, sedangkan gigi 64 merupakan yang terendah. Permukaan gigi molar sulung yang karies adalah permukaan oklusal, dan yang terendah adalah permukaan bukal. Keparahan karies gigi molar sulung yang terbanyak adalah pulpitis reversibel, dan yang terendah adalah nekrosis pulpa

    KEBUTUHAN PERAWATAN RESTORASI GIGI SULUNG TERHADAP PASIEN ANAK DI RSGM UNIVERSITAS JEMBER

    No full text
    Kondisi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia sampai saat ini sangat memprihatinkan. Prevalensi penyakit karies gigi terus meningkat setiap tahunnya, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 terdapat 53,2% masyarakat Indonesia yang merupakan penderita karies gigi. Permasalahan gigi dan mulut juga terjadi pada anak-anak, tahun 2013 pada kelompok umur 5-9 tahun dan 10-14 tahun sebesar 28,9% dan 25,2%. Terjadi peningkatan permasalahan dibandingkan Riskesdas 2007 yang hanya sebesar 21,6% dan 20,6%. Karies gigi adalah suatu proses kronis regresif yang dimulai dengan larutnya mineral enamel akibat terganggunya keseimbangan antara enamel, dentin dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik. Terganggunya keseimbangan antara enamel, dentin dan sementum disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat sehingga timbul destruksi komponen-komponen organik yang akhirnya menyebabkan suatu kavitas. Keterlambatan penanganan dapat mengakibatkan rasa sakit dan terganggunya fungsi pengunyahan, fungsi bicara, estetika serta menjadi fokus infeksi. Keadaan tersebut tidak hanya terjadi pada orang dewasa namun dapat pula terjadi pada anak-anak. Penelitian pendahuluan oleh Riskesdas hanya bertujuan untuk mengetahui prevalensi penyakit karies gigi di masyarakat namun tidak menjelaskan mengenai gigi yang masih dapat dilakukan perawatan restorasi. Untuk menghindari terjadinya hal yang sangat merugikan sebaiknya penelitian kebutuhan perawatan restorasi pada gigi sulung berdasarkan usia dan jenis kelamin segera dilakukan. Indikator karies gigi yang digunakan berupa prevalensi karies gigi. Prevalensi karies gigi yaitu angka yang menunjukkan jumlah karies gigi sekelompok orang pada tempat tertentu dan waktu tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan karies gigi pada reponden untuk mendapatkan data kebutuhan perawatan restorasi gigi sulung berdasarkan usia dan jenis kelamin. Hasil penelitian pada 111 responden anak dengan usia 5-9 tahun menunjukkan bahwa pasien anak dengan kelompok usia 7 tahun yang berkunjung ke Klinik Pedodonsia Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Jember Periode September-November 2015 memiliki kebutuhan perawatan yang tertinggi, yakni sebesar 43,25%; usia 9 tahun 6,3%; usia 6 tahun 14,41%; usia 8 tahun 30,64%; sedangkan kebutuhan perawatan terendah merupakan responden dengan kelompok usia 5 tahun sebesar 5,4%. Berdasarkan jenis kelamin presentase kebutuhan perawatan restorasi pada responden laki-laki sebanyak 53,16% dan responden perempuan sebanyak 46,84%. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan perawatan restorasi berdasarkan usia tertinggi didapatkan pada anak usia 7 tahun sebanyak 43,25%, sedangkan yang terendah pada anak usia 5 tahun sebanyak 5,4%. kebutuhan perawatan restorasi berdasarkan jenis kelamin pada pasien anak laki-laki sebesar 53,16% lebih tinggi dibandingkan pada pasien anak perempuan sebesar 46,84%

    Analisis Pembentukan Odontoblast-like Cell pada Pulpa Tikus Wistar (Rattus norvegicus) setelah Pemberian Gel Bioactive Glass Nano Silica dari Abu Ampas Tebu

    No full text
    Pulpa gigi merupakan bagian dari struktur gigi berupa jaringan lunak yang kaya akan pembuluh darah, terletak dalam suatu ruangan yang dikelilingi oleh struktur jaringan keras gigi seperti dentin, sementum dan enamel. Pulpa gigi berfungsi dalam proses dentinogenesis, imunologis, nutrisi dan proprioreseptor. Pulpa gigi yang terkena iritan akan membentuk suatu barrier berupa jaringan yang termineralisasi, yang disebut dentin tersier (Fuks, 2008). Proses pembentukan dentin tersier bersifat reaksioner dan reparatif. Dentin reaksioner diproduksi oleh sel odontoblast yang masih dapat bertahan hidup dari iritan, sedangkan dentin reparatif dibentuk oleh odontoblast-like cell hasil diferensiasi sel mesenkim dental papilla sebagai respon untuk menggantikan sel odontoblast yang mati akibat iritan pada pulpa. Pembentukan odontoblast-like cell dapat dirangsang dengan mengaplikasikan bahan perangsang yang diletakkan di atas sisa lapisan dentin maupun di atas pulpa yang terbuka sebagai bahan regenerasi dentin yang dapat mengadsorbsi growth factors, terutama Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) yang ada di pulpa untuk menstimulasi terbentuknya odontoblast-like cell (Murray et al., 2002). Penggunaan gel bioactive glass nano silica pada penelitian ini sebagai bahan perangsang pembentukan odontoblast-like cell. Bahan gel bioactive glass nano silica dapat berikatan dengan cairan tubuh membentuk lapisan hydroxycarbonate apatite (HCA). Lapisan ini akan mengadsorbsi faktor pertumbuhan Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) yang berperan dalam proses proliferasi dan diferensisasi sel mesenkim dental papilla menjadi odontoblast-like cell. Sampel pada penelitian ini adalah 16 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 4 kelompok, masing – masing kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Kelompok kontrol pertama (C14), gigi molar pertama atas tikus dipreparasi dengan bur bulat pada bagian oklusal dengan kedalaman ± 1 mm, diperforasi menggunakan ujung sonde, ditumpat sementara dengan caviton, lalu dieuthanasi pada hari ke-14. Kelompok perlakuan pertama (BAG14), gigi molar pertama atas tikus dipreparasi dengan bur bulat pada bagian oklusal dengan kedalaman ± 1 mm, diperforasi menggunakan ujung sonde, diaplikasi bahan gel bioactive glass nano silica, ditumpat sementara dengan caviton, lalu dieuthanasi pada hari ke-14. Kelompok kontrol kedua (C28), gigi molar pertama atas tikus dipreparasi dengan bur bulat pada bagian oklusal dengan kedalaman ± 1 mm, diperforasi menggunakan ujung sonde, ditumpat sementara dengan caviton, lalu dieuthanasi pada hari ke-28. Kelompok perlakuan kedua (BAG28), gigi molar pertama atas tikus dipreparasi dengan bur bulat pada bagian oklusal dengan kedalaman ± 1 mm, diperforasi menggunakan ujung sonde, diaplikasi bahan gel bioactive glass nano silica dan ditumpat sementara dengan caviton, lalu dieuthanasi pada hari ke-28. Pengambilan jaringan dilakukan pada region gigi yang mendapat perlakuan, lalu dibuat sediaan preparat histologi dan dilakukan penghitungan jumlah odontoblast-like cell menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400X. Hasil uji normalitas menggunakan shapiro wilk dan homogenitas menggunakan uji levene dengan nilai signifikansi (p > 0,05) didapatkan hasil bahwa data terdistribusi normal dan homogen dengan nilai signifikansi p > 0,05. Oleh karena data terdistribusi normal dan homogen maka dilakukan analisis statistik parametrik one way ANOVA. Hasil uji one way ANOVA menunjukan signifikansi 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan antar masing – masing kelompok. Selanjutnya dilakukan uji post hoc LSD (least significant difference) untuk mengetahui signifikansi perbedaan antar masing – masing kelompok. Hasil uji LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antar masing – masing kelompok dengan nilai signifikansi p < 0.05. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa rerata jumlah odontoblast-like cell pada kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar gel bioactive glass nano silica dapat digunakan sebagai alternatif bahan regenerasi dentin

    Pengaruh Permen Hisap Yang Mengandung Zinc Citate Dan Tidak Mengandung Zinc Citrate Terhadap Jumlah Koloni Streptococcus Sp.Pada Salak Plak Supragingiva.

    No full text
    Salah satu unsur penting dalam makanan adalah karbohidrat ,yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan energi terutama untuk pertumbuhan dan perkembangan anak

    EFEK MINUMAN BERKARBONASI TERHADAP PERUBAHAN WARNA RESIN KOMPOSIT NANOHIBRIDA YANG DIPOLES DAN TIDAK DIPOLES

    No full text
    Resin komposit nanohibrida merupakan salah satu bahan restorasi gigi yang memiliki nilai estetik baik. Selain itu, resin komposit nanohibrida memiliki permukaan yang halus dan mudah mengkilap saat dipoles. Namun resin komposit dapat berubah warna akibat makanan dan minuman yang dikonsumsi, salah satunya adalah minuman berkarbonasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perubahan warna pada resin komposit yang dipoles dan tidak dipoles setelah perendaman dalam minuman berkarbonasi. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratoris dengan rancangan penelitian the post test only control group design. Pada kelompok komposit yang dipoles, pemolesan dilakukan hanya pada satu sisinya, sedangkan pada kelompok yang tidak dipoles, tidak dilakukan perlakuan apapun pada permukaannya. Total sampel yang digunakan sebanyak 32 sampel dibagi menjadi 4 kelompok yang direndam dalam minuman berkarbonasi dan saliva buatan selama 7 hari. Bahan perendam diganti setiap 24 jam sekali. Alat untuk menguji intensitas cahaya pada sampel mengunakan spektrofotometer. Data hasil penelitian diintepretasi dan ditabulasi kemudian dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji One-way ANOVA dan uji LSD (Least Significant Different). Hasil yang didapatkan yaitu terdapat perbedaan yang signifikan pada komposit yang tidak dipoles dan direndam dalam minuman berkarbonasi dibandingkan kelompok lain (p<0,05). Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah resin komposit yang tidak dipoles lebih mudah mengalami perubahan warna dibandingkan dengan resin komposit yang dipoles

    Perbandingan jumlah koloni bakteri saliva pada anak-anak karies dan non karies setelah mengkonsumsi minuman berkarbonasi (anak usia 10-12 tahun)

    No full text
    Karies gigi dan penyakit periodontal merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai di Indonesia. Karies gigi adalah penyakit yang multifaktora

    Gambaran Kesehatan Gigi Mulut Dan Jumlah Streptococcus SP Pada Anak Sindroma Down DI Kecamatan Patrang Dan Sumbersari Jember

    No full text
    Sindroma down merupakan salah satu bentuk retardasi mental berat dengan prevalensi 1-2 kejadian per 1000 kelahiran. Sindroma down merupakan suatu kelainan genetik yang dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. Kelainan ini merupakan hasil dari kelainan kromosom, tidak selalu diturunkan kepada keturunan berikutnya. Kelainan kromosom yang sering ditemukan adalah kelebihan kromosom 21 yang disebut trisomi 21. Akibat adanya kelainan kromosom, penyandang sindoma down memiliki karakteristik fisik dan mental yang khas sehingga menyebabkan proses pembelajaran yang lebih lambat dibanding orang normal. Salah satu akibat dari keterbatasan fisik dan mental tersebut adalah besarnya masalah kesehatan gigi dan mulut. Adanya keterbatasan fisik pada penyandang sindoma down menyebabkan pergerakan motorik yang lebih terbatas dalam melakukan pembersihan rongga mulut. Lambat dan kurang benar atau kurang sempurnanya menyikat gigi pada penyandang sindoma down menyebabkan proses pembersihan kurang, sehingga oral hygiene rendah yang menjadikan faktor penyebab karies tinggi. Guna mengetahui gambaran kesehatan gigi mulut pada anak penyandang sindoma down, dilakukan penelitian tentang bagaimana gambaran kesehatan gigi mulut dan jumlah bakteri Streptococcus sp pada penyandang sindroma down di SLB Bintoro, SLB Negeri Patrang dan SLB C TPA Sumbersari Kabupaten Jember dengan menggunakan indeks DMF-T dan OHI-S. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji gambaran kesehatan gigi dan mulut serta mengkaji pengaruh dari jumlah bakteri Streptosoccus sp ke angka kejadian karies pada anak penyandang sindroma down
    corecore