1,721,021 research outputs found
STUDI LAJU KONSUMSI BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) PADA PAKAN YANG DIBERI EKSTRAK NABATI
Burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) merupakan salah satu burung pemakan biji yang dikategorikan sebagai hama bagi tanaman padi karena mempunyai kemampuan konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan burung pemakan biji yang lain. Sehingga diperlukan upaya untuk menurunkan tingkat konsumsi dalam upaya untuk meminimalisir dampak kehilangan hasil dari serangan hama burung pada tanaman padi.
Beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan diketahui dapat mempengaruhi aktivitas makan hewan. Namun, penelitian yang mengkaji pengaruh ekstrak tumbuhan terhadap aktivitas makan dan respon tubuh burung sedikit dilakukan. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan beberapa ekstrak tanaman pada pakan terhadap aktivitas makan dan indeks nutrisi burung Bondol Jawa. Beberapa jenis ekstrak yang digunakan, diantaranya: mengkudu (Morinda citrifolia), serai wangi (Cymbopogon nardus), lada (Piper nigrum), sembukan (Paederia scadens), dan kemangi (Ocimum basilicum)
STUDI LAJU KONSUMSI BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) PADA PAKAN YANG DIBERI EKSTRAK NABATI
Burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) merupakan salah satu burung pemakan biji yang dikategorikan sebagai hama bagi tanaman padi karena mempunyai kemampuan konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan burung pemakan biji yang lain. Sehingga diperlukan upaya untuk menurunkan tingkat konsumsi dalam upaya untuk meminimalisir dampak kehilangan hasil dari serangan hama burung pada tanaman padi.
Beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan diketahui dapat mempengaruhi aktivitas makan hewan. Namun, penelitian yang mengkaji pengaruh ekstrak tumbuhan terhadap aktivitas makan dan respon tubuh burung sedikit dilakukan. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan beberapa ekstrak tanaman pada pakan terhadap aktivitas makan dan indeks nutrisi burung Bondol Jawa. Beberapa jenis ekstrak yang digunakan, diantaranya: mengkudu (Morinda citrifolia), serai wangi (Cymbopogon nardus), lada (Piper nigrum), sembukan (Paederia scadens), dan kemangi (Ocimum basilicum).
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis ekstrak yang terdiri atas 5 jenis, yaitu: biji lada, buah mengkudu, daun serai, daun sembukan, dan daun kemangi. Faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak yang terdiri atas 4 taraf konsentrasi, yaitu: 0,10 gr/ml, 0,15 gr/ml, 0,20 gr/ml, dan 0,25gr/ml. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah: (1) Jumlah pakan yang dikonsumsi burung, (2) Perubahan bobot tubuh burung, (3) Kemampuan bertahan hidup burung, dan (4) Indeks nutrisi burung. Data yang didapatkan kemudian diolah menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji kisaran jarak berganda Duncan pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara jenis dan konsentrasi ekstrak terhadap jumlah pakan yang dikonumsi dan perubahan bobot tubuh. Namun terdapat interaksi antara jenis dan konsentrasi ekstrak terhadap laju pertumbuhan, efisiensi konversi makanan yang dimakan, dan efisiensi konversi makanan yang dicerna. Penambahan ekstrak lada pada pakan memberikan jumlah pakan yang dikonsumsi paling sedikit dibandingkan jenis ekstrak lain (19,04 gr). Peningkatan konsentrasi lada pada 0,25 gr/ml menujukkan jumlah pakan yang dikonsumsi sebesar 36,97 gr dan lebih sedikit dibandingkan konsentrasi 0,20 gr/ml (41,61 gr). Terjadi perbedaan respon tubuh burung dalam menerima jenis ekstrak dan konsentrasi yang diberikan pada pakan selama 15 hari pengujian. Peningkatan bobot tubuh burung paling besar tedapat pada penambahan ekstrak mengkudu (0,99 gr). Penurunan bobot tubuh paling besar terdapat pada penambahan ekstrak lada (-1,15 gr). Peningkatan konsentrasi pada masing-masing jenis ekstrak menunjukkan penurunan bobot tubuh yang semakin besar. Indeks nutrisi burung menujukkan hasil bahwa ekstrak lada 0,25 gr/ml memberikan nilai laju konsumsi relatif (0,13 gr/gr bobot/hari) dan laju pertumbuhan relatif (-0,010 gr/gr bobot/hari) paling rendah dibandingkan jenis ekstrak dan konsentrasi lain. Efisiensi konversi makanan yang dimakan dan efisiensi konversi makanan yang dicerna pada ekstrak lada 0,25 gr/ml lebih rendah dibandingkan perlakuan lain, dengan nilai masing-masing sebesar -9,09% dan -11,53%. Sehingga ekstrak lada pada konsentrasi 0,25 % merupakan perlakuan paling baik dalam menurunkan jumlah pakan yang dikonsumsi, bobot tubuh, dan nilai indeks nutrisi burung bondol Jawa
KAJIAN HISTOPALOGI SERANGAN NEMATODA pralylenchus coffeae PADA TANAMAN KOPI,tylenchulus semipenetrans PADA TANAMAN JERUK DAN meloidogyne spp. pada tanaman Tembakau
Hasil kajian histopatologi menunjukkan bahwa P. coffeae merupakan
nematoda endoparasit migratori dan hanya merusak sel parenkhim korteks ke arah
sumbu longitudinal, menyebabkan luka dan pembengkakan.
T. semipenetrans merupakan nematoda semiendoparasit dan merusak sel korteks
sedangkan Meloidogyne spp. merupakan nematoda endoparasit sedenter, merusak
stele dan menyebabkan terbentuknya sel raksasa (giant cells)
UJI EFEKTIVITAS INSEKTISIDA KARBOSULFAN TERHADAP HAMA TANAMAN TERUNG JEPANG (Solanum melongena L.)
Terung Jepang (Solanum Melongena L.) merupakan komoditi hortikultura yang penting bagi Indonesia. Tanaman terung ini hanyak diserang oleh hama sehingga dapat menurunkan produksinva. Usaha pengendalian yang dilakukan agar produksi tidak turun dengan menggunakan insektisida dan cara pengendalian lainnya seperti cara budidaya. Penggunaan insektisida dilakukan jika cara yang lain dianggap kurang berhasil. lnsektisida yang digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman terung Jepang berbahan aktif karbosulfan. Insektisida tersebut baru pertama digunakan untuk mengendalikan hama tanaman terung Jepang. Untuk mengetahui keefektifan insektisida karbosulfan dilakukan di laboratorium Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember dan lahan produksi PT. Mitra Tani Dua Tujuh di desa Karanganyar Kecamatan Ambulu pada bulan Desember 2000 sampai Maret 2001. Penelitian di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap Tunggal 6 perlakuan dengan 3 ulangan dan di lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok Tunggal 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Hasil penelitian di laboratorium diketahui nilai LC50 insektisida karbosullan untuk S. Litura 2,16 % dan E sparsa 0,05 % Adanya korelasi positif antara konsentrasi insektisida karbosulfan terhadap mortalitas larva E.sparsa dan S.litura. Perlakuan insektisida karbosulfan dapat menyebabkan penurunan jumlah penetasan telur S.litura Aplikasi insektisida di lapang dengan konsentrasi yang berbeda dapat menurunkan jumlah populasi maupun intensitas kemsakan yang disebabkan oleh E.sparsa, S.litura, ulat pemakan daun dan buah
PENGARUH MEDIA PERBANYAKAN TERHADAP VIRULENSI CENDAWAN Metarrhizium anisepliae (M.) PADA KUMBANG BADAK Oryctes rhinoceros (L.)
. Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil pembiakan massal cendawan M anisopliae pada media biakan air kelapa muda menghasilkan kerapatan konidia lebih tinggi dibandingkan dengan media biakan jagung manis, jagung lokal dan jagung hibrida.
2. Media biakan air kelapa muda mencapai virulensi tertinggi dengan nilai LT.50 terendah (12.51 hari) dibanding dengan dari media biakan yang Iainnya (jagung manis, jagung lukal dan jagung hibrida).
3 Mortalitas uret di lapang pada 1-3 minggu media air kelapa muda cenderung lebih tinggi dibanding media perbanyakan yang lain, sedang pada minggu ke-4
Dwi Budi RAHAYUNINGSIH PEM. I. ABDUL Mukti NUR II. SOEDRADJAD
JUDUL. RESPON PERTUMBUHAN AWAL KLON-KLON UNGGUL KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) PADA MEDIA TANAH GAMBUT 9715101059
KATA KUNCI JUDUL. COFFEA CANEPHORA
ASTRAK. Produktivitas kopi robusta di Indonesia masih cukup rendah, karena belum menggunkan bahan tanam unggul sesuai dengan kondisi Iingkungan setempat. Tanah gambut di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk perluasan tanaman kopi. Klon-klon unggul kopi robusta diharapkan mempunyai respon terhadap perlumbuhan awalnya sehingga dapat diketahui jenis klon kopi yang sesuai ditanam pada media tanah gambut untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Penelitian yang telah dilakukun bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan awal klon-klon unggul kopi robusta pada media tanah gambut serta interaksinya.
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Kaliwining Jember dengan ketinggian tempat - 45 m dpl selama bulan Juni sampai dengan September 2001. Rancangan yang digunakan RAK faktorial 3 X 7 dengan 4 ulangan kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Faktor pertama yaitu macam media yang terdii dad 3 taraf : tanah gambut: campuran tanah gambut, tanah, dan pupuk kandang; campuran tanah dan pupuk kandang, faktor kedua meliputi macam klon unggul kopi robusta: KI (BP 308), K2 (BP 436). 1.0 (BP 961), K4 (BP 534), K5 (BP 409), K6 (BP 936), K7 (Ekselsa). Parameter yang diuji meliputi panjang akar, jumlah akar, berat basah akar, berat kering akar, diameter batang, tinggi tanaman, berat basah daun dan berat kering daun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon yang paling baik dan mampu beradaptasi dengan tanah masam dan miskin hara seperti tanah gambut adalah klon BP 308 dan Fkseisa karena mempunyai struktur akar yang baik serta dapat menyerap nutrisi secara optimum. Media yang paling baik untuk pertumhuhan tanaman kopi adalah campuran tanah gambut, tanah regosol dan pupuk kandang, karena terbukti dapat meningkatkan pH dan memperbaiki struktur tanah Hasil interaksi media dan klon berpengaruh nyata pada semua parameter kecuali pada diameter batang
Kombinasi Tr I Choderma Har Z Ianum Dan Pupuk Mikoriza Untuk Mengendalikan Penyakit Moler Pada Tanaman Bawang Merah
Salah satu penyakit penting pada tanaman bawang merah yaitu penyakit
moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Penyakit ini menyebabkan
penurunan hasil sebesar 10-40%. Pengendalian yang umum dilakukan yaitu
dengan menggunakan pengendalian kimiawi, namun beberapa jenis fungisida
kimiawi sudah tidak efektif mengendaliakan F. oxysporum. Usaha yang dilakukan
untuk mengendalikan penyakit moler yang lebih ramah lingkungan yaitu dengan
menggunakan pengedalian hayati. Pengendalian hayati banyak dilakukan dengan
menggunakan Trichoderma harzianum dan pupuk Mikoriza. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui konsentrasi T. harzianum dan dosis pupuk Mikoriza
yang sesuai untuk mengendalikan penyakit moler
IDENTIFIKASI HAMA KUTU DAUN Aphi s gos sypi i Glover DAN PREDATORNYA PADA TANAMAN CABAI Caps i cum Frut escens L
Hasil kesimpulan dari penelitian ini didapatkan populasi hama kutu daun pada
tanaman cabai sebanyak 489 dengan nilai KM 218, KR 44,58 % pada lahan
, KM 148, KR 30,36 % pada lahan 2 dan KM 108, KR 22,08 % pada lahan
3, jumlah FM 3 dan FR 37,5 %.
Predator yang didapat kan pada tanaman cabai yaitu Menochilus sexmaculatus
dan Lycosa sp.
Populasi predator relatif lebih sedikit sehingga populasi hama Aphis Gossypii
relatif lebih meningkat
EFEKTIVITAS DAUN JERUK PURUT, DAUN SALAM DAN DAUN SEREH TERHADAP HAMA NGENGAT BERAS Corcyra cephalonica (St.)
Hasil penelitian menunjukan terdapat interaksi bahan dan dosis (AxD) pada parameter jumlah larva, pupa, imago C.cephalonic; mortalitas larva, pupa, imago C.cephalonica; jarak sebar larva C. cephalonica dan intensitas kerusakan beras. Secara berturut-turut perlakuan terbaik pada perlakuan daun jeruk purut dosis 6 gr (A1D3) dengan rata-rata jumlah larva, pupa dan imago C. cephalonica terendah yaitu sebesar 9,33 ekor, sedangkan jumlah larva, pupa dan imago tertinggi pada perlakuan daun salam 2 gr (A2D1) sebesar 16,00 ekor. Mortalitas
larva, pupa dan imago C.cephalonica tertinggi pada perlakuan daun jeruk purut dosis 6 gr (A1D3) sebesar 53,3 persen, sedangkan perlakuan terendah pada perlakuan salam dosis 2gr (A2D1) sebesar 20,00 persen. Dispersi larva terjauh pada perlakuan daun jeruk purut dosis 6 gr (A1D3) sebesar 3,29 cm, sedangkan perlakuan dengan dispersi larva terdekat pada perlakuan daun salam dosis 2 gr (A2D1) yang mencapai 1,74 cm. Intensitas kerusakan beras terendah pada perlakuan daun jeruk purut dosis 6 gr (A1D3) sebesar 31,4 persen, sedangkan intensitas kerusakan beras tertinggi pada perlakuan daun salam dosis 2 gr (A2D1) sebesar 38,03 persen
PENGARUH PENAMBAHAN NUTRISI TERHADAP PATOGENITAS CENDAWAN Beauveria Bassiana PADA Hypothenenus hampei DI PERKEBUNAN KOPI RAKYAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan nutrisi yang
dapat mempertahankan efektivitas cendawan Beuveria Bassiana untuk
mengendalikan hama bubuk buah kopi di perkebunan kopi rakyat dan untuk
mengetahui tingkat kerapatan spora yang telah ditambahkan dengan nutrisi.
Penelitian dirancang dengan rancangan RAL yang terdiri dari lima factor
perlakuan penambahan nutrisi, yaitu pemberian nutrisi tetes tebu, nutrisi madu,
Nutrisi larutan Sukrosa, Larutan glukosa dan. Masing-masing perlakuan diulang
sebanyak tiga kali. Nutrisi di campurkan setelah spora B.bassiana telah dilakukan
perbanyakan menggunakan fermentor sangat sederhana dengan komposisi nutrisi
spora 108/ml+1,5 ml testes tebu,madu,larutan sukrosa,larutan glukosa.
Berdasarkan hasil data pengamatan jumlah kerapatan konidia dari berbagai
macam perlakuan pemberian nutrisi yang terbaik terdapat pada perlakuan tetes
tebu yaitu mencapai 3,7 108/ml pada pemberian perlakuan dengan penambahan
nutrisi yang berupa madu terdapat kodia yang cukup tinggi yaitu mencapai 3,3
108/ml sedangkan pada perlakuan terendah terdapat pada perlakuan control
dengan 2,4 108/ml Sedangkan hasil mortalitas hama penggerek buah kopi H.
hampei yang tertinggi terdapat pada perlakuan B. bassiana dengan penambahan
nutrisi tetes tebu di hari ke- 3 setelah aplikasi dengan rata-rata 26,67 sedangkan
penambahan nutrisi menggunakan larutan glukosa dan larutan sukrosa
menunjukkan rata-rata yang sama pada pengamatan di hari ke 7 terdapat
peningkatan yang berbeda nyata antara perlakuan penambahan nutrisi dengan
menggunakan tetes tebu, larutan glukosa,larutan sukrosa,madu dan control
,mortalitas tertinggi di hari ke 7 terdapat pada perlakuan tetes tebu dengan tingkat
kematian 58,33 lebih tinggi dari perlakuan menggunakan madu yang tingkat
kematianya 48,33. Selanjutnya pada hari ke-14 dan hari ke-21 tingkat kematian
yang paling tinggi masih di tunjukkan pada perlakuan tetes tebu
UJI PREDASI KEPIK PEMBUNUH Rhynocoris fuscipes TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK Spodoptera litura
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi, Fakultas
Pertanian, Universitas Jember, pada bulan Juli sampai November 2015. Penelitian
ini dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap percobaan. Tahap
persiapan terdiri dari pembuatan pakan buatan untuk rearing S.litura, persiapan
rearing R.fuscipes, dan rearing S.litura. Tahap percobaan meliputi pelaksanaan uji
predasi, uji efisiensi predasi dan analisis data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi predasi
R.fuscipes terhadap S.litura adalah stadia dari S.litura. Semakin besar ukuran
tubuh mangsa maka laju predasi akan menurun. Laju predasi tertinggi terjadi pada
S.litura instar 1 yaitu dengan rata-rata kematian mangsa 99,3 %, yang diikuti oleh
S.litura instar 3 dengan rata-rata kematian 52,6 % dan instar 5 dengan rata-rata
kematian 5,14 %. Pada hasil efisiensi predasi menunjukkan kebutuhan konsumsi
R.fuscipes betina lebih banyak dibandingkan dengan R.fuscipes jantan. R.fuscipes
betina dalam mempredasi S.litura instar 3 yaitu sebanyak 25,9 mg dengan waktu
menghisap selama 41 menit. R.fuscipes betina dalam mempredasi S.litura instar 1
yaitu sebanyak 1,5 mg dengan waktu menghisap selama 6 menit.
Berdasarkan hasil uji predasi dan uji efisiensi predasi menunjukkan
ketertarikan terhadap mangsa instar awal dibandingkan dengan instar akhir.
R.fuscipes ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai agen pengendalian hayati
dalam mengendalikan populasi hama S.litura. Pengendalian pada instar awal
diharapkan dapat lebih baik karena intensitas kerusakan daun belum terlalu parah.
Strategi pengendalian dilapang yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pelepasan
predator secara massal pada saat populasi hama membutuhkan penanganan yang
cepat
- …
