1,720,991 research outputs found
Efek Konsumsi Seduhan Bubuk Kopi Robusta Terhadap Resorpsi Tulang Alveolar Pada Tikus Yang Diinduksi Bakteri Porphyromonas Gingivalis
Bakteri Porphyromonas gingivalis adalah mikroorganisme yang banyak berperan dalam terjadinya periodontitis. Porphyromonas gingivalis dapat bertahan dan melawan pertahanan host dengan faktor virulensi yang dimiliki, seperti lipopolisakarida (LPS), reseptor membran luar yang spesifik, adhesion (fimbriae), dan produk ekstraselular. Pengaruh faktor virulensi pada bakteri P.gingivalis seperti fimbriae dan LPS dapat menstimulasi sel host untuk memproduksi sitokin proinflamasi (Tumor Necrosis Factor- α (TNF-α), IL-1α, IL-1β, dan IL6) dalam makrofag yang dapat mengganggu remodeling tulang alveolar, karena sitokin proinflamasi tersebut dapat meningkatkan osteoklasgenesis kemudian dapat meresorpsi tulang alveolar. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan bahan alami yaitu kopi robusta sebagai pencegahan adanya kerusakan jaringan. Kopi robusta memiliki kandungan biologi aktif seperti asam klorogenat, caffeic acid, ferulic acid dan kafein. Kandungan biologis aktif tersebut memiliki sifat antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan yang membuat bakteri tidak dapat bertahan hidup dan menekan kerusakan jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek konsumsi seduhan bubuk kopi robusta terhadap resorpsi tulang alveolar pada tikus wistar jantan yang diinduksi bakteri Porphyromonas gingivalis pada gambaran histologi
Efek Pemberian Seduhan Kopi Robusta (Coffea Canephora) Terhadap Sel Makrofag Dan Limfosit Pada Model Tikus Periodontitis
Penyakit periodontal memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat dengan
prevalensinya pada semua kelompok umur di Indonesia adalah 96,58%. Salah satu
dari penyakit periodontal adalah periodontitis yang merupakan inflamasi pada
jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh mikroorganisme spesifik atau
kumpulan dari mikroorganisme spesifik seperti Porphyromonas gingivalis.
Periodontitis mengakibatkan kerusakan progresif ligamen periodontal dan tulang
alveolar yang ditandai terjadinya kehilangan perlekatan dengan terbentuknya poket
periodontal atau resesi gingiva, resorpsi tulang alveolar, hingga meningkatnya
mobilitas gigi yang pada akhirnya dapat menyebabkan tanggalnya gigi.
Pada proses inflamasi terjadi infiltrasi sel-sel mononuklear yaitu makrofag
dan limfosit. Makrofag adalah sel yang berperan penting dalam sistem imunitas tubuh
untuk melawan patogen. Salah satu peran utama makrofag adalah fagositosis yang
dapat memicu aktivasi dari makrofag sebagai salah satu pertahanan tubuh yang kuat,
tetapi apabila makrofag teraktivasi secara berlebihan justru dapat menyebabkan
kerusakan jaringan. Limfosit merupakan sel inflamasi kronis yang bersifat spesifik
sebagai respons imun host terhadap adanya suatu jejas saat terjadi inflamasi yang
bersifat kronis. Limfosit dapat mensekresi RANKL yang akan berikatan dengan
RANK dan menyebabkan terjadinya diferensiasi dan aktivasi osteoklas sehingga
jumlah osteoklas akan meningkat dan terjadi resorpsi tulang.
Proses inflamasi di jaringan dapat dihambat dengan adanya bahan-bahan
alami yang memiliki kandungan antiinflamasi, salah satunya adalah kopi. Kopi
memiliki kandungan senyawa aktif yang penting seperti kafein, asam klorogenat,
asam kafeat, dan asam ferulat yang memiliki efek sebagai antiinflamasi. Jenis kopi
robusta memiliki kandungan kafein dan asam klorogenat yang lebih besar daripada
kopi arabika.
Jenis penelititan ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan yang
digunakan the post test only control group design. Penelitian ini telah disetujui oleh
Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Sampel penelitian
ini adalah tikus Wistar jantan sebanyak 20 ekor tikus yang terbagi secara acak dalam
5 kelompok, yaitu: kelompok normal (N) (4 ekor tikus) merupakan kelompok tikus
yang tidak diinduksi P. gingivalis, tidak diberikan seduhan kopi robusta, dan
dieutanasia pada hari ke-15; kelompok P5-A (4 ekor tikus) merupakan kelompok
tikus yang diinduksi P. gingivalis dan dieutanasia pada hari ke-19; kelompok P5-B (4
ekor tikus) merupakan kelompok tikus yang diinduksi P. gingivalis, diberi seduhan
kopi robusta robusta dan dieutanasia pada hari ke-19; kelompok P7-A (4 ekor tikus)
merupakan kelompok tikus yang diinduksi P. gingivalis dan dieutanasia pada hari ke-
21; kelompok P7-B (4 ekor tikus) merupakan kelompok tikus yang diinduksi P.
gingivalis, diberi seduhan kopi robusta robusta dan dieutanasia pada hari ke-21.
Hasil uji one way ANOVA untuk sel makrofag menunjukkan adanya
perbedaan signifikan (α<0,05) dan uji LSD menunjukkan perbedaan yang signifikan
pada beberapa kelompok (α<0,05). Hasil uji Kruskall Wallis untuk sel limfosit
menunjukkan adanya perbedaan signifikan (α<0,05) dan uji Mann-Whitney yang
menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada beberapa kelompok (α<0,05). Tikus
periodontitis yang tidak diberi seduhan kopi robusta jumlah sel makrofag dan
limfositnya lebih banyak dibandingkan dengan kelompok periodontitis yang diberi
seduhan kopi robusta.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa
pemberian seduhan kopi robusta (Coffea canephora) dapat menurunkan jumlah sel
makrofag dan limfosit pada model tikus periodonti
Uji Daya Hambat Minimal Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea Canephora) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis (in vitro)
Penyakit periodontitis banyak disebabkan oleh plak dan didapati bakteri Pophyromonas gingivalis sebagai penyebab utama. Lapisan membran terluar dari dinding Porphyromonas gingivalis memproduksi berbagai faktor virulensi patogenik, seperti lipopolisakarida yang akan mengaktivasi sel – sel inflamasi dan menyebabkan fagositosis terhadap antigen sehingga memicu radikal bebas. Biji kopi robusta secara alami memiliki kandungan bahan seperti kafein, senyawa fenolik, trigonellin, dan asam khlorogenik sebagai antibakteri dan anti inflamasi.. Senyawa Polifenol (asam khlorogenik) dalam biji kopi robusta memilki efek sebagai antiinflamasi dan antioksidan. Selain polifenol kopi juga mengandung senyawa kafein yang memperkuat pertahanan imun terhadap bakteri dan menstimulasi aktivitas lisozim, yang telah menunjukkan aktivitas bakterisidal. Oleh karena hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian efek anti bakteri kopi Robusta terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi minimal ekstrak biji kopi robusta (Coffea canephora) 0,5%; 0,75%; 1%; 1,25%; 1,5% dan 3% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis secara in vitro.
Pada penelitian ini dibagi menjadi 8 kelompok perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol negatif, ekstrak biji kopi robusta 0,5%, 0,75%, 1%, 1,25%, 1,5% dan 3%. Cawan petridish yang telah berisi media TSA yang telah disterilkan, ditambahkan suspensi P. gingivalis dengan kepadatan sesuai dengan standar Mc. Farland. Kemudian blankdisk uji putih bulat dengan diameter 6 mm yang masih steril diletakkan diatas media pertumbuhan bakteri sesuai dengan penempatan kelompok perlakuan dan ditetesi dengan ke 8 bahan perlakuan. Setelah 24 jam diinkubasi dalam desikator, daya hambat esktrak biji kopi robusta terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis diamati dan dilakukan pengambilan data dengan mengukur zona hambatnya menggunakan jangka sorong
Efek Pemberian Gel Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora) terhadap Jumlah Sel Makrofag dan Limfosit Jaringan Gingiva Model Tikus Periodontitis yang Diinduksi Porphyromonas gingivalis
Penyakit periodontal didefinisikan sebagai kondisi inflamasi dari gingiva, kerusakan tulang alveolar dan ligamen periodontal. Bakteri dominan yang menyebabkan periodontitis yaitu Porphyromonas gingivalis. P. gingivalis merupakan bakteri gram negatif anaerob yang memiliki komponen endotoksin yaitu lipopolisakarida yang dapat mengikat reseptor CD14/TLR-4 untuk meningkatkan sekresi sitokin proinflamatori. Sel radang yang berperan penting dalam respon inflamasi antara lain makrofag dan limfosit. Makrofag merupakan sel mononuklear yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh. Jumlah makrofag yang tinggi dapat menyebabkan destruksi pada jaringan periodontal yang lebih lanjut. Selain itu, terdapat limfosit yang berperan dalam inflamasi kronis. Jumlah limfosit yang berlebihan pada saat terjadi inflamasi dapat menyebabkan kerusakan pada kolagen, fibronektin, dan laminin yang berkontribusi pada destruksi lokal dari jaringan gingiva. Obat – obatan yang sering digunakan dalam terapi periodontitis dalam bentuk obat topikal dalam bentuk sediaan gel salah satunya gel Aloclair™ yang berbahan dasar Aloe Vera. Gel ini mengandung acetylated mannan untuk menghambat metabolisme asam arakidonat melalui jalur siklooksigenase. Saat ini telah dikembangkan gel yang berbahan dasar ekstrak biji kopi yang digunakan sebagai alternatif terapi. Kopi merupakan bahan alam yang telah terbukti sebagai antiinflamasi karena adanya senyawa antara lain flavonoid, polifenol, dan proantosianidin.
Ekstrak biji kopi robusta diperoleh dengan metode ekstraksi dengan menggunakan etanol 96%. Ekstrak biji kopi robusta selanjutnya dibuat sediaan gel 0,025 g/mL dan 0,05 g/mL dengan menambahkan basis gel dan diaduk hingga homogen. Sampel terdiri dari 20 tikus yang terbagi dalam 5 kelompok. Kelompok dibedakan berdasarkan perlakuan yaitu kelompok kontrol, kelompok periodontitis, kelompok gel aloclair, kelompok gel ekstrak biji kopi robusta 0,025 g/mL dan kelompok gel ekstrak bjiji kopi robusta 0,05 g/mL. Setelah itu dilakukan dekaputasi pada hari ke-8 setelah perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah makrofag dan limfosit pada kelompok perlakuan pada hari ke tujuh. Terjadi penurunan jumlah makrofag dan limfosit pada kelompok gel ekstrak biji kopi robusta 0,025 g/mL dan 0,05 g/mL. Penurunan jumlah makrofag dan limfosit tertinggi pada kelompok perlakuan gel Aloclair. Berdasarkan analisis statistik yang telah dilakukan, bahwa gel Aloclair lebih mampu menurunkan jumlah sel makrofag dan limfosit dibandingkan pada kelompok gel ekstrak biji kopi robusta 0,025 g/mL dan 0,05 g/mL. Pada kelompok gel ekstrak biji kopi robusta 0,025 g/mL dan 0,05 g/mL menunjukkan penurunan jumlah makrofag yang signifikan dibandingkan dengan kelompok periodontitis (p<0,05). Sedangkan, kelompok gel ekstrak biji kopi robusta 0,05 g/mL menunjukkan penurunan jumlah sel limfosit yang siginifkan dibandingkan kelompok periodontitis (p<0,05).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian gel ekstrak biji kopi robusta dapat menurunkan jumlah sel makrofag dan limfosit pada gingiva tikus periodontitis yang diinduksi P.gingivalis. Hal tersebut menyebabkan terjadinya keseimbangan jumlah makrofag dan limfosit yang dapat menurunkan efek destuktifny
Efek Seduhan Kopi Robusta terhadap Ekspresi C-Reactive Protein pada Model Tikus Hiperlipidemia
Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2012, pasien yang meninggal akibat penyakit kardiovaskuler sebesar 17,5 juta orang atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Hiperlipidemia merupakan salah satu faktor resiko yang paling berbahaya untuk terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK). Hiperlipidemia ditandai dengan peningkatan kadar Low Density Lipoprotein (LDL). Hiperlipidemia menyebabkan peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) dan penurunan kadar Nitric Oxide (NO) yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga LDL akan mudah masuk dan teroksidasi menjadi oxLDL yang akan dianggap sebagai antigen sehingga mengaktifkan makrofag untuk melakukan proses fagositik. Proses ini akan menyebabkan produksi berbagai macam sitokin proinflamasi seperti IL-1, IL-6, dan TNFα yang akan menstimulasi sel hepatosit membentuk protein fase akut seperti C-Reactive Protein (CRP).
Saat ini dibutuhkan bahan alami untuk mengatasi stress oksidatif dan inflamasi yang diharapkan dapat menurunkan ekspresi CRP. Salah satu bahan yang mempunyai potensi antioksidan dan antiinflamasi adalah kopi. Kafein memiliki peran sebagai antioksidan dengan cara menekan produksi radikal bebas dan memiliki efek anti inflamasi sebagai penghambat TNFα. Asam klorogenat dapat menghambat TNFα dan IL-6 sebagai antiinflamasi. Kandungan ferulic acid pada kopi juga memiliki potensi dalam menghambat peroksidasi lipid, sehingga dapat mecegah terjadinya aterosklerosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian kopi robusta sebagai penghambat ekspresi CRP pada tikus hiperlipidemia.
Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan rancangan penelitian randomized post test only control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok hiperlipidemia, dan kelompok kopi. Diet tinggi lemak dilakukan secara sondase pada pagi hari dengan campuran 3 gram lemak babi dan 2 gram kuning telur bebek. Seduhan kopi sebanyak 3,6 ml/ ekor/ hari diberikan secara sondase setiap sore hari. Pada hari ke-29 hewan coba dikorbankan untuk pengambilan organ jantung yang selanjutnya dilakukan pemrosesan jaringan secara histologi.
Pengamatan ekspresi CRP yang dilakukan oleh tiga orang pengamat dan pengukuran ekspresi CRP menggunakan histo score. Pemeriksaan kadar LDL dilakukan pada serum darah tikus dan
didapatkan bahwa kelompok hiperlipidemia mengalami peningkatan kadar LDL yang signifikan. Gambaran immunohistokima menunjukkan ekspresi CRP lebih kuat pada kelompok hiperlipidemia yang ditandai dengan intensitas warna coklat yang lebih kuat dibandingkan dengan kelompok kontrol dan perlakuan kopi. Selanjutnya, pada hasil uji post hoc LSD menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p < 0,05) pada semua kelompok. Pemberian seduhan kopi robusta terbukti menurunkan ekspresi CRP pada sel endotel tunika intima arteri koroner tikus hiperlipidemia. Hal ini terjadi karena kandungan dari kopi robusta yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Kafein dan asam klorogenat sebagai antioksidan akan mencegah produksi radikal bebas dengan beberapa mekanisme reaksi yaitu pelepasan hidrogen dan antioksidan, pelepasan elektron dari antioksidan, addisi asam lemak ke cincin aromatik pada antioksidan, dan membentuk senyawa kompleks antara lemak dan cincin aromatik dari antioksidan. Penghambatan proses oksidasi LDL oleh kafein dan asam klorogenat akan menyebabkan mekanisme inflamasi menurun sehingga terjadi penurunan CRP pada sel endotel kelompok kopi. Berdasarkan urian tersebut dapat disimpulkan pemberian seduhan kopi dapat menurunkan ekspresi CRP pada sel endotel tunika intima arteri koroner tikus yang diinduksi diet tinggi lemak
PROFIL LIPID DARAH PADA MODEL TIKUS PULPITIS DENGAN PAPARAN STREPTOCOCCUS MUTANS
Peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, atau low density lipoprotein
(LDL) dan penurunan kadar high density lipoprotein (HDL) dalam darah merupakan
suatu kondisi dislipidemia yang bisa berdampak pada terjadinya aterosklerosis dan
penyakit kardiovaskuler. Penelitian akhir-akhir ini melaporkan bahwa respon radang
dapat mempengaruhi metabolisme lipid dalam darah. Oleh karena itu diduga infeksi
gigi atau pulpitis yang terpapar Streptococcus mutans berpotensi mempengaruhi
metabolisme lipid yang nantinya akan berdampak pada peningkatan kadar kolesterol
total, trigliserida dan LDL serta turunnya HDL. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis profil lipid darah pada model tikus pulpitis yang meliputi kolesterol
total, trigliserida, LDL dan HDL.
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan rancangan post test only
control group design. Objek penelitian adalah 12 ekor tikus wistar (Ratus norvegicus)
jantan dengan kriteria inklusi yaitu jenis tikus wistar berjenis kelamin jantan, berat
badan tikus 170-250 gram, umur 3-4 bulan, kondisi sehat yang ditandai dengan
kondisi fisik yang baik, nafsu makan baik, dan perilaku normal. Tikus dibagi dalam
dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan (kelompok pulpitis) masingmasing
6 ekor. Model tikus pulpitis merupakan kelompok tikus yang dibuat perforasi
pulpa pada gigi molar pertama kiri rahang bawah, kemudian diberi Streptococcus
mutans dengan konsentrasi 0,5 McFarland sebanyak 0,02 ml pada kavitas gigi molar
pertama kiri rahang bawah sebanyak tiga kali seminggu selama 4 minggu, bukti
terjadinya pulpitis ditunjukkan dengan adanya perforasi pulpa serta perdarahan sesaat
setelah gigi dibur. Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah pada minggu ke-5,
tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 10 jam. Pembedahan dilakukan pada semua
kelompok tikus dan diambil darahnya dari jantung sebanyak 3 ml untuk dilakukan
pemeriksaan kadar profil lipid darah dengan metode Colorimetric Enzimatic
menggunakan Automatic Analyzer. Data yang diperoleh diuji normalitasnya dengan
Shapiro Wilk, hasilnya menunjukkan data terdistribusi normal (p>0,05). Kemudian
data dianalisis dengan uji parametrik independent T-test dengan derajat kemaknaan
(p<0,05).
Hasil penelitian menunjukkan kadar kolesterol total, LDL, dan HDL pada
kelompok pulpitis dengan paparan Streptococcus mutans lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok kontrol. Namun secara analisis perbedaan tersebut tidak signifikan
(p>0,05). Perlu penelitian lebih lanjut dan dilengkapi pemeriksaan level bakterimia
serta derajat inflamasi sitemik dengan cara memeriksa antigen yang terdapat dalam
sirkulasi dan analisis antibodi. Selain itu juga perlu disesuaikan lagi lamanya waktu
puasa untuk tikus sebelum dilakukan pengambilan sampel darah
Efek Pemberian Seduhan Bubuk Kopi Robusta Terhadap Kadar Fibrinogen Darah Pada Tikus Wistar (Rattus Norvegicus) Yang Diberi Pakan Tinggi Lemak
Hiperlipidemia adalah salah satu penyebab terjadinya inflamasi sistemik.
Hiperlipidemia merupakan peningkatan kolesterol diatas normal dalam darah,
terutama mencerminkan peningkatan kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL).
Kenaikan jumlah LDL yang diatas normal dapat memicu terjadinya proses
inflamasi pada arteri dan terjadi disfungsi endotel. LDL yang berlebihan akan
teroksidasi oleh Reactive Oxygen Species (ROS) yang merupakan pencetus reaksi
inflamasi. LDL yang teroksidasi (LDL-ox) akan difagositosis oleh makrofag
melalui LDL scavenger receptor sehingga menyebabkan makrofag penuh dengan
lemak. Hal tersebut disebut dengan sel busa atau foam cell. Foam cell ini dapat
meningkatkan produsi sitokin proinflamasi salah satunya TNF-α yang
menstimulasi perubahan protein plasma dalam hati untuk memproduksi kadar
fibrinogen. Upaya pencegahan dan pengobatan dapat menggunakan antiinflamsi
dan antioksidan. Salah satu obat yang mengandung antiinflamasi dan antioksidan
dan memiliki efek samping yang minimal adalah berasal dari tanaman herbal.
Pemberian kopi yang merupakan tanaman herbal mempunyai kandungan
antiinflamasi dan antioksidan diduga efektif menurunkan kadar fibrinogen.
Penelitian eksperimental laboratoris pada tikus wistar ini menggunakan
rancangan the post test only control group design. Sampel berjumlah 12 ekor,
berat 180-200 gram dan keadaan sehat. Tikus dibagi menjadi 3 kelompok,
kelompok 1 merupakan kelompok kontrol yang diinduksi diet standar, kelompok
2 merupakan kelompok hiperlipid yang diinduksi diet tinggi lemak menggunakan
kuning telur yang dicampur dengan minyak babi sebanyak 5 ml/hari, kelompok 3
merupakan kelompok kopi yang diinduksi diet tinggi lemak+kopi, kopi yang
diberikan sebanyak 3,6 ml/hari. Perlakuan dilakukan selama 56 hari untuk
mendapatkan tikus dalam keadaan hiperlipid. perlakuan dilanjutkan sampai tikus dieutanasia untuk diambil darah intrakardial dengan metode over inhalasi eter.
Pemeriksaan dan perhitungan kadar fibrinogen dilakukan dengan metode Heat
Precipitation. Darah intrakardial yang diambil ditampung dalam 2 vacuum tube.
Darah dalam vacuum tube pertama dilakukan sentrifuge selama 200 detik dengan
kecepatan 5000 rpm suhu ruang dan dibaca konsentrasi plasma menggunakan
refraktometer. Darah dalam vacuum tube kedua dicampur dengan heparin atau
EDTA dan diinkubasi dalam waterbath selama 3 menit di sentrifuge selama 200
detik dengan kecepatan 5000 rpm dan dibaca konsentrasi proteinplasma
menggunakan refraktometer. Konsentrasi atau kadar fibrinogen akan dihitung
berdasarkan perbedaan konsetrasi pada vacuum tube pertama dan vacuum tube
kedua dalam g/dl. Hasil dikalikan dengan 1000 untuk mendapatkan konsentrasi
fibrinogen dalam mg/dl. Data yang didapatkan peneliti selanjutnya dianalisis
secara statistik. Data dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji Shapiro-
Wilk untuk mengetahui data yang terdistribusi secara normal, lalu uji homogenitas
menggunakan Levene Test. , kemudian data diuji parametrik dengan One Way
ANOVA selanjutnya dapat dilanjutkan uji beda LSD
Hasil uji normalitas dan homogenitas diperoleh hasil uji data terdistribusi
normal dan homogen dan pada uji ANOVA didapatkan hasil p<0,05, selanjutnya
uji beda LSD didapatkan perbedaan yang bermakna pada tiap kelompok perlakuan
dengan nilai p>0,05, hal ini mungkin disebabkan oleh senyawa bioaktif kopi.
Penjelasan ini dapat dikemukakan antara lain, kopi mengandung senyawa aktif
polifenol dan alkaloid yang merupakan antioksidan dan antiinflamasi. Kandungan
bioaktif kopi ini dapat menghambat ekspresi dari mediator inflamasi khususnya
IL-6 yang berperan dalam sintesis fibrinogen di hepar, maka kadar fibrinogen
darah juga menurun. Senyawa polifenol dapat menurunkan pembentukan LDL-ox
dengan cara mengikat elemen yang tersisa dari produksi radikal bebas. Dengan
berkurangnya kadar LDL-ox dan meningkatnya senyawa antiinflamasi maka
dapat mengurangi respon inflamasi yang terjadi.
Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian kopi robusta dapat
menurunkan kadar fibrinogen. Namun, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai konsumsi dengan berbagai dosis dan durasi pemberian seduhan kopi
PROFIL LIPID DARAH PADA MODEL TIKUS PULPITIS DENGAN PAPARAN STREPTOCOCCUS MUTANS
Peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, atau low density lipoprotein
(LDL) dan penurunan kadar high density lipoprotein (HDL) dalam darah merupakan
suatu kondisi dislipidemia yang bisa berdampak pada terjadinya aterosklerosis dan
penyakit kardiovaskuler. Penelitian akhir-akhir ini melaporkan bahwa respon radang
dapat mempengaruhi metabolisme lipid dalam darah. Oleh karena itu diduga infeksi
gigi atau pulpitis yang terpapar Streptococcus mutans berpotensi mempengaruhi
metabolisme lipid yang nantinya akan berdampak pada peningkatan kadar kolesterol
total, trigliserida dan LDL serta turunnya HDL. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis profil lipid darah pada model tikus pulpitis yang meliputi kolesterol
total, trigliserida, LDL dan HDL.
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan rancangan post test only
control group design. Objek penelitian adalah 12 ekor tikus wistar (Ratus norvegicus)
jantan dengan kriteria inklusi yaitu jenis tikus wistar berjenis kelamin jantan, berat
badan tikus 170-250 gram, umur 3-4 bulan, kondisi sehat yang ditandai dengan
kondisi fisik yang baik, nafsu makan baik, dan perilaku normal. Tikus dibagi dalam
dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan (kelompok pulpitis) masingmasing
6 ekor. Model tikus pulpitis merupakan kelompok tikus yang dibuat perforasi
pulpa pada gigi molar pertama kiri rahang bawah, kemudian diberi Streptococcus
mutans dengan konsentrasi 0,5 McFarland sebanyak 0,02 ml pada kavitas gigi molar
pertama kiri rahang bawah sebanyak tiga kali seminggu selama 4 minggu, bukti
terjadinya pulpitis ditunjukkan dengan adanya perforasi pulpa serta perdarahan sesaat setelah gigi dibur. Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah pada minggu ke-5,
tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 10 jam. Pembedahan dilakukan pada semua
kelompok tikus dan diambil darahnya dari jantung sebanyak 3 ml untuk dilakukan
pemeriksaan kadar profil lipid darah dengan metode Colorimetric Enzimatic
menggunakan Automatic Analyzer. Data yang diperoleh diuji normalitasnya dengan
Shapiro Wilk, hasilnya menunjukkan data terdistribusi normal (p>0,05). Kemudian
data dianalisis dengan uji parametrik independent T-test dengan derajat kemaknaan
(p<0,05).
Hasil penelitian menunjukkan kadar kolesterol total, LDL, dan HDL pada
kelompok pulpitis dengan paparan Streptococcus mutans lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok kontrol. Namun secara analisis perbedaan tersebut tidak signifikan
(p>0,05). Perlu penelitian lebih lanjut dan dilengkapi pemeriksaan level bakterimia
serta derajat inflamasi sitemik dengan cara memeriksa antigen yang terdapat dalam
sirkulasi dan analisis antibodi. Selain itu juga perlu disesuaikan lagi lamanya waktu
puasa untuk tikus sebelum dilakukan pengambilan sampel darah
Perbandingan jumlah koloni bakteri saliva pada anak-anak karies dan non karies setelah mengkonsumsi minuman berkarbonasi (anak usia 10-12 tahun)
Karies gigi dan penyakit periodontal merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai di Indonesia. Karies gigi adalah penyakit yang multifaktora
PERBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI SALIVA PADA ANAK-ANAK KARIES DAN NON KARIES SETELAH MENGKOMSUMSI MINUMAN BERKARBONASI ( ANAK SIA 10-12 TAHUN )
KARIES GIGI DAN PENYAKIT PERIODRNTAL MERUPAKAN PENYAKIT GIGI DAN MULU
- …
