1,722,581 research outputs found

    NUR MUHAMMAD CONCEPT IN HIKAYAT NUR MUHAMMAD KONSEP NUR MUHAMMAD DALAM HIKAYAT NUR MUHAMMAD Iffah Fauziah Rahardy

    No full text
     Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan hasil analisis suntingan teks litografi Hikayat Nur Muhammad dalam penelitian filologi. Selama ini teks litografi masih jarang digunakan dalam penelitian filologi. Oleh karena itu, peneliti memilih teks ini. Dalam hal ini, peneliti membandingkan dua teks litografi yang berada di British Library dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Berhubung teks yang digunakan merupakan teks jamak, peneliti menggunakan metode landasan (legger) yaitu memilih satu naskah yang dianggap memiliki kualitas yang lebih unggul, yaitu tes litografi koleksi Universiti Kebangsaan Malaysia. Dalam analisis resepsi sastra, peneliti mengungkap konsep Nur Muhammad secara lebih sederhana. Hikayat Nur Muhammad selama ini hanya ditanggapi secara umum, yaitu sesuai dengan konsep tasawuf sehingga cukup sulit dipahami oleh orang awam. Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti memformulasikan kembali Nur Muhammad secara lebih mudah agar dapat dipahami oleh pembaca awam.Dalam memformulasikan konsep Nur Muhammad, peneliti berpandangan bahwa konsep ini dapat dipahami melalui tiga hal, yaitu proses penciptaan manusia, tujuan diciptakannya manusia, serta ‘kembali’nya manusia kepada Sang Pencipta. Allah menciptakan alam sebagai makrokosmos yang nantinya akan dihuni oleh manusia sebagai mikrokosmos. Dalam menghuni alam ini manusia memiliki tugas utama, yaitu beribadah kepada Allah. Penghambaan manusia diwujudkan dalam lima aspek, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji. Setelah tugas sebagai manusia terselesaikan, manusia akan ‘kembali’ kepada Allah dan akan menempati ‘tempat terakhir’ sesuai dengan amal perbuatannya.Kata kunci: Hikayat Nur Muhammad, litografi, resepsi sastra, Nur Muhamma

    Nur Muhammad dari sudut hadis

    No full text
    Salah satu perkara yang biasa disebut oleh kitab-kitab agama ialah mengenai Nur Muhammad. Sesetengah pengarang menganggap bahawa hadis mengenai Nur Muhammad ini hadis sahih. Oleh itu mereka berhujah dengan hadis ini dan menjadikan hadis ini sebagai asas bahawa asal kejadian manusia dan juga semua makhluk-makhluk yang lain adalah dari Nur Muhammad. (Disalin daripada artikel)

    PAHAM NUR MUHAMMAD DALAM HIKAYAT NUR MUHAMMAD KETERKAITANNYA DENGAN TEKS UMDATUL ANSHAB

    Full text link
    Intisari Penelitian ini tentang paham Nur Muhammad di dalam Hikayat Nur Muhammad kaitannya dengan teks Umdatul Anshab. Naskah yang dipakai adalah Bat. Gen. 378 C / Ml. 378 C dan naskah v.d.w. 76/ ML.643 koleksi Perpustakaan NAsional RI Jakarta. Tujuannya untuk melihat keterkaitan antara naskah Hikayat Nur Muhammad dan Umdatul Anshab berkenaan dengan paham Nur Muhammad. Teori yang dipakai adalah teori intertekstual yang menegaskan sebuah karya baru bermakna optimal dalam hubungannya atau pertentangannya dengan teks lain. Untuk itu setiap teks sastra perlu dibaca dan dipahami dengan latar teks-teks lain, karena setiap teks merupakan mozaik kutipan-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks lain. Hasil penelitian memperlihatkan adanya relasi positif maupun kontrastif. Reaksi positif ditujukkan dengan adanya persamaan – persamaan ide gagasan terutama pada kejadian Nur Muhammad. Baik teks-teks hipogram maupun HNM sebagai teks transformasi menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah awal kejadian segala sesuatu. Hadis-hadis yang diacu dalam HNM memperlihatkan kesamaan dengan semua teks hipogramnya. Reaksi kontrastif ditunjukkan dalam penggambaran Nur Muhammad dalam teks HNM sebagai burung berkepala Ali, matanya Hasan dan Husein, lehernya Fatimah, kakinya Khadijah dan Aisyah, sayapnya Abu Bakar dan Umar, ekornya Usman dan punggungnya Abbas. Gambaran ini merupakan perombakan terhadap teks-teks hipogramnya. Perombakan ini dilakukan untuk melegitimasi ajaran Syiah. Bagian ini berbeda dari teks hipogramnya. Teks Umdatul Anshab yang menyinggung pemuliaan terhadap ahlul bayt Nabi namun tidak seeksplisit teks HNM . Pendekatan intertekstual pemahaman konsep Nur Muhammad semakin luas dan utuh berkat bantuan dari teks-teks terkait. Perbedaan pengungkapan konsep Nur Muhammad di berbagai teks tersebut memperlihatkan fungsi sendiri. Di dalam HNM, konsep Nur Muhammad berfungsi sebagai peneguh ajaran Syiah Zaidiyah tentang kecintaan terhadap ahlul bait.. Sedangkan pada teks Umdatul Anshab, konsep Nur Muhammad berfungsi untuk menegaskan silsilah Nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw, menegaskan tentang keutamaan dan kemuliaan Nabi Muhammad yang nurnya menjadi asal seluruh manusia. Kata Kunci: Nur Muhammad, intertekstual, relasi

    NUR MUHAMMAD DALAM TRADISI SUFISME

    No full text
    Nur Muhammad merupakan salah satu ajaran dalam tradisi sufisme yang dikembangkan pada mulanya oleh al-Hallaj; Ibn Arabi, al Jilli, al-Burhanpuri dan akhirnya al-Nabhani. Menurut Hallaj Nur Muhammad memiliki dua hakikat: 'qadimah' sebagai 'nur al-azali' yang menjadi sumber ilmu dan irfan serta sebagai titik tolak munculnya para nabi dan aulia Allah dan 'haditsah' merupakan eksistensi sebagai ibn Abdullah yang menjadi Nabi dan Rasul. Selanjutnya al­Nabhani juga berpendapat senada. Baginya Nur Muhamad bersumber dari Allah dan oleh karenanyaa ia bersifat 'qadim' sedangkan Nur Muhammad adalah sumber segala makhluk dan oleh karenanya bersifat 'huduts'. Melalui huduts inilah Nur Muhammad bisa bersentuhan langsung dengan makhluk. la juga menjadi penghubung antara Allah dengan hamba-Nya. Selanjutnya, hamba bisa berdialog langsung dengan TuhanNya melalui shalat. Shalat adalah identik dengan bacaan dan dialog antara hamba denganTuhanNya melalui rukun kauli, fi'li dan qalbi. Untuk bisa mengungkap esensi bacaan dan dialog tersebut hanya mungkin bisa diperoleh melalui Nur. Nur tersebut berasal dari Nur Muhammad. Dengan demikian ada persamaan antara Nur Muhammad dengan fungsi shalat, yakni penghubung hamba dengan Allah SWT.Kata Kunci: Syekh Yusuf al-Nabhani, Nur Muhammad, Tasawuf, Wasithah

    Nur Muhammad atau Tempatnya, Mana Dulu?

    Full text link
    Seseorang bertanya kepada saya. Pertanyaannya dimulakan dengan dua mukadimah. Pertama, Nur Muhammad ialah makhluk pertama yang diciptakan Allah. Dan kedua, setiap makhluk mempunyai tempat. Soalannya, apakah yang diciptakan terlebih dahulu, Nur Muhammad atau tempat bagi meletakkan Nur Muhammad

    NUR MUHAMMAD MENURUT TAREKAT TIJANIYAH

    Full text link
    Nur Muhammad merupakan salah satu topik penting dalam bidang tasawuf. Sebab konsep ini adalah sebuah teori sufistik tentang awal penciptaan makhluk di alam semesta. Konsep ini banyak muncul di kalangan para sufi falsafi, misal Ibn Arabi, Al-Hallaj, Al-Jilli, dan lain-lain. Mereka bersepakat bahwa Nur Muhammad mengandung pengertian “sempurna”. Sebab ia merupakan bentuk tajalli (penampakan diri) Tuhan. Kesempurnaan tajalli Tuhan hanya ada pada Insan Kamil (manusia sempurna). Namun, dalam hal ini terdapat keraguan dalam memahami konsep tersebut. Salah satunya adalah dalam pemakaian hadist dhoif dan hadist shahih yang mereka pakai dalam menjelaskan tentang Nur Muhammad. Dari permasalahan tersebut akan berakibat kurangnya pengetahuan tentang bagaimana wujud Tuhan yang bersifat transenden atau misteri yang sering dikutip para sufi falsafi kanzan mahfiyun dalam penciptaan makhluk yang bersifat imanen (baharu). Oleh karena itu, penelitian ini menarik untuk dibahas, dikarenakan adanya beberapa keraguan dalam pemahaman konsep tersebut. Adapun kajian yang memiliki kesamaan dari para sufi tersebut adalah Tarekat Tijaniyah, institusi tasawuf kenamaan yang memfokuskan pemikirannya pada konsep Nur Muhammad dengan berdasarkan ajarannya, berupa shalawat al-Fatih dan shalawat Jauhariyah al-Kamal. Agar lebih spesifik dalam kajian ini, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap konsep Nur Muhammad menurut Tarekat Tijaniyah. Penelitian ini termasuk penelitian tasawuf falsafi dan jenis penelitiannya adalah “library research”. Adapun metode yang digunakan, pertama, Metode Deskriptif, peneliti menggambarkan konsep Nur Muhammad beserta dasar-dasarnya secara ringkas, yang mengacu pada pemahaman para ulama Sufi, kemudian sekilas tentang sejarah Tarekat Tijaniyah dan penyebarannya, biografi Syeikh Ahmad Tijani, unsur-unsur penting yang ada di dalamnya, serta ta’lim dan ‘amaliyah-nya. Kedua, Metode Analisis, peneliti menganalisa tentang Nur Muhammad, kemudian dijelaskan serta dibandingkan sampai mendapat hasil yang maksimal. Setelah menyelesaikan penelitian ini, penulis menyimpulkan, bahwa yang disebut Nur Muhammad menurut Tarekat Tijaniyah yaitu awal dari segala ciptakan Allah dari hadhrah al-ghaib (eksistensi kegaiban). Adapun dasar-dasar dari konsep ini, terletak pada ajarannya, berupa shalawat al-Fatih dan shalawat Jauhariyah al-Kamal. Menurut Syaikh Ahmad Tijani, shalawat al-Fatih merupakan shalawat yang terdiri dari lafadz al-Fatih lima ughliq dan al-Khatim lima sabaq. Al-fatih lima ughliq yang berarti wujud Nabi Muhammad sebagai pembuka hati dari keterbelengguan al-rahmah al-ilahiyah, syirik, dan jahl bagi para makhluk di alam semesta. Sedang al-khatim lima sabaqa artinya bahwa wujud Nabi Muhammad sebagai pembuka dan penutup kenabian dan kerasulan. Sedangkan shalawat Jauhariyah al-Kamal merupakan kelanjutan dari pemikiran Syaikh Ahmad Tijani dalam shalawat al-Fatih, tentang Nur Muhammad. Hal ini dapat terlihat dari sembilan hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan. ,(عين الرحمة الربانية) , bagian, yaitu: pertama, bagian pertama نور) , Nabi Muhammad sebagai pemilik al-haq (al-haqiqah). Bagian ketiga عين الحق , ( ) Bagian kedua الكنز) , rahmat Nabi Muhammad seperti nur bagi seluruh makhluk alam. Bagian keempat ,(الأكوان الجوهر bermakna (الياقوتة) , Nabi Muhammad sebagai pusat ilmu pengetahuan. Bagian kelima ,(الأعظم Nur Muhammad bagaikan kilat yang berisi rahmat Tuhan ,(البرق) , yakni permata. Bagian keenam Nabi Muhammad ,(صاحب الحق الرباني) , kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Bagian ketujuh Nur Muhammad memancarkan al- ,(طلعة الحق , ( sebagai pembawa agama Allah. Bagian kedelapan cahaya yang tersimpan oleh Allah. ,(النور المطلسم) , haq dari dzat al-haq, Allah. Bagian kesembilan ,(عرض) tidak butuh tempat (dinisbatkan kepada Allah) dan ,(جوهر) Dikatakan lain, nur Muhammad itu butuh tempat (makhluk), yang selalu butuh terhadap dzat-Nya. Akhirnya, seraya mengakui segala kekurangan dalam kajian ini, penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya tentang Nur Muhammad menurut tarekat tijaniyah, dengan merelasikan terhadap pemikiran kontemporer, dengan analisis worldview Islam. Usaha ini tentunya tidak boleh menjadikan sebuah kajian terlepas dari kritik, yang diharuskan disetiap kajian akademis

    Nur Muhammad Dan Nur Panjtan: Satu Perbandingan

    No full text
    Pemahaman tentang hakikat Nur Muhammad ini berkaitan dengan makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah SWT. Isu kejadian awal makhluk ini juga menjadi perbincangan dalam aliran tarekat tasawuf dan dalam aliran Syiah Namun begitu dalam isu hakikat Nur Muhammad ini sebahagian para sarjana hadis menolak kejadian pertama makhluk adalah Nur Muhammad. Malah ada yang mengaitkan kejadian hakikat Nur Muhammad ini telah terpengaruh dengan konsep Nur Panjtan yang wujud dalam aliran Syiah. Kajian ini bertujuan membandingkan antara Nur Muhammad dengan Nur Panjtan melalui dari tiga aspek utama iaitu (1) dari sudut dalil yang dikemukakan oleh kedua-dua aliran, (2) aspek persamaan yang wujud antara keduanya dan seterusnya (3) kajian ini akan melihat perbezaan konsep Nur Muhammad dengan Nur panjtan. Kajian kualitatif ini menggunakan metode dokumentasi dan temu bual bagi memperoleh data. Kajian mendapati kedua-dua aliran Syiah dan tasawuf merujuk kepada dalil yang sama sebagai hujah bahawa cahaya Nabi Muhammad SAW adalah makhluk terawal dicipta. Namun, konsep Nur Panjtan yang difahami oleh Syiah mempunyai perbezaan ketara berbanding konsep hakikat Nur Muhammad yang difahami oleh tasawuf. Implikasi dari kajian ini dapat menjelaskan kekeliruan yang timbul dalam kalangan masyarakat hari ini. Selain itu juga, dapat memberi sumbangan kepada pihak berwajib untuk menjawab tuduhan yang dikeluarkan oleh sesetengah golongan yang mengatakan tasawuf terpengaruh dengan aliran Syiah yang sesat

    Konsep Nur Muhammad Studi Penafsiran Surat An-Nur Ayat 35

    Full text link
    “Nur Muhammad” merupakan konsep yang tidak asing dalam wacana tasawuf, demikian pula halnya dalam kajian ilmu tafsir, teks-teks “Nur Muhammad” juga dikenal luas. Teks-teks tersebut, sabahagian penulis temukan terkumpul di sebuah koleksi naskah dengan tema “Isra’ Mi’raj). Mungkin ini dikarenakan naskah tentang “Nur Muhammad” dibacakan setiap bulan, biasanya tanggal 27 bulan Rajab, yakni acara peringatan Isra’ dan Mi’raj. Artikel ini menunjukkan bahwa naskah “Nur Muhammad” dalam kajian tafsir surat an-nur ayat 35. Asumsi ini didasarkan pada analisa teks, perbadingan dengan naskah-naskah lainnya, serta analisa kehidupan social-budaya komnitas Muslim yang mentradisikan membaca naskah-naskah sesuai hari besar Islam. Pendekatan intertekstual pemahaman konsep Nur Muhammad semakin luas dan utuh berkat bantuan dari teks-teks terkait. Perbedaan pengungkapan konsep Nur Muhammad di berbagai teks tersebut memperlihatkan fungsi sendiri. Konsep Nur Muhammad berfungsi untuk menegaskan silsilah Nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw, menegaskan tentang keutamaan dan kemuliaan Nabi Muhammad yang nurnya menjadi asal seluruh manusia

    Nur Muhammad: suatu telaah sufistik menuju pintu Allah

    Full text link
    Nur Muhammad Merupakan salah satu topik pembahasan profetologi tasawuf yang dikenal semenjak masa awal Islam sampai saat ini. Nur Muhammad itu sudah dikenal sejak Nabi Muhammad Hidup. Perdebatan akademik mengenai Nur Muhammad masih terus berlanjut. Para akademisi ingin mengamil bagian terpenting untuk bisa memahami Nur Muhammad khususnya pada bagian sufistik. Quran surah An-Nur ayat 35 menjadi objek kajian para akademisi. Para pelaku tasawaf berupaya untuk mengejawantahkan konsep Nur Muhammad pada diri mereka. Tidak ketinggalan Ibnu Arabiy, al-Hallaj dan para sufi lainnya berupaya memahami dan menafsirkan tentang terminology Nur Muhammad. Dalam Artikel ini, penulis fokus melihat secara umum pandangan para sufi tentang Makhluq Nur Muhammad. Setelah melakukan telaah diskriftif dan metodologis, penulis menyimpulkan bahwa Nur Muhammad adalah Makhluq Allah yang diciptakan dan melakat pada Nabi Muhammad. Dan hadirnya Nur Muhammad merupakan salah satu bentuk skenario Allah untuk ditempatkan kepada Nabi Muhammad yang nantinya akan menjadi sosok panutan makhluq lainnya. Memahami dan meyakini tentang eksistensi Nur Muhammad menjadi salah satu kunci mendekatkan diri kepada Allah

    Genealogi dan Transmisi Pemikiran KH. Mahmud Hasil Tentang Nur Muhammad

    Full text link
    Nur Muhammad merupakan salah satu kajian dalam tasawuf falsafi yang cukup dikenal dan sudah lama diajarkan di Kalimantan. Kuatnya tasawuf dengan nuansa kajian Nur Muhammad ini hingga dijadikan sebagai asas dalam keilmuan tasawuf bahkan sampai di Nusantara, khususnya di Kalimantan Selatan. Hal ini menjadi penting karena sejarah panjang yang telah dilalui perlu dieksplorasi lebih mendalam. Dalam hal ini penulis meneliti pemikiran KH. Mahmud Hasil tentang ajaran Nur Muhammad serta genealogi dan transmisinya. KH. Mahmud Hasil merupakan ulama tasawuf di Kalimantan yang mengajarkan banyak ajaran tasawuf khususnya ajaran Nur Muhammad serta mengarang beberapa kitab tasawuf yang telah tersebar ke pelosok pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatera. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan mengangkat rumusan masalah, bagaimana Genealogi dan transimisi pemikiran KH. Mahmud Hasil serta bagaimana ajarannya tentang Nur Muhammad. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan masuk ke dalam penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah KH. Mahmud Hasil yang mengajarkan Nur Muhammad. Objek yang diteliti adalah genealogi dan transmisi pemikiran KH. Mahmud Hasil, ajarannya tentang Nur Muhammad serta isi kitab karangannya tentang Nur Muhammad. Teknik yang digunakan dalam memperoleh data yaitu dengan metode dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa genealogi ajaran Nur Muhammad KH. Mahmud Hasil sangat dipengaruhi oleh dua guru beliau, yakni Anang Ramli dari Bati-bati dan Abdus Syukur di Teluk Tiram. Selain itu beliau juga menjadikan sejumlah kitab karangan ulama tentang ajaran Nur Muhammad sebagai rujukan, diantaranya kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillāh as-Sakandarī, ad-Dur an-Nafis karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjary, kitab Sirrul Asrār, karya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Insānul Kāmil karya Syeikh Abdul Karim Al-Jaili, Misykātul Anwar dan Ihya ulum ad-Dīn karya al-Ghazali. Upaya transmisi pengajaran Nur Muhammad beliau lakukan diantaranya melalui pengajian majelis ta’lim diberbagai wilayah, kitab-kitab karangan beliau, mendirikan pondok pesantren, serta melalui para ulama dan murid beliau yang mengajarkan kitab karangan beliau. Pemikiran KH. Mahmud Hasil tentang Nur Muhammad berkaitan erat dengan pembahasan mengenai washilah, namun tidak hanya menawarkan konsep teoritis saja, akan tetapi juga menawarkan kaifiyat (tata cara) amaliyahnya, yakni washilah pada Nur Muhammad melalui jalan fana dan istighraq pada Nur Muhama
    corecore