31 research outputs found

    Identifikasi Gen Pertumbuhan Ayam Persilangan yang Diberi Pakan Level Protein Berbeda Melalui Analisis Profil Transkriptomik

    No full text
    ujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan dengan level protein kasar berbeda terhadap pola produksi, penampilan produksi, kualitas fisik karkas, dan profil asam lemak daging ayam persilangan serta untuk mengidentifikasi gen yang terlibat dalam proses pertumbuhan dan perkembangan otot ayam persilangan melalui analisis profil transkriptomik pada jaringan otot ayam persilangan. Penelitian dilakukan pada bulan September 2021 sampai dengan September 2022. Materi yang digunakan yaitu sebanyak 162 Day Old Chick (DOC) ayam persilangan yang tidak dibedakan jenis kelaminnya (unsexed) dengan rata-rata bobot badan dan koefisien keragaman yaitu 39,70 g/ ekor dan 9,26 %. Tahap pertama penelitian yaitu percobaan in vivo menggunakan 3 perlakuan protein kasar (PK) berbeda yaitu P1 (starter 18 %, finisher 16 %), P2 (starter 20 %, finisher 18 %) dan P3 (starter 22 %, finisher 20 %), dimana setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 9 ekor ayam persilangan. Variabel yang diamati yaitu penampilan produksi, kualitas fisik karkas dan profil asam lemak daging ayam persilangan. Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan jika ada perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan’s. Tahap kedua yaitu menggunakan sampel perlakuan penampilan produksi tertingi dan terendah pada tahap 1 untuk dilanjutkan uji profil transkriptomik menggunakan RNA sequencing. Variabel yang diamati yaitu Differentially Expressed Genes (DEG), Gene Ontology (GO), Kyoto Encyclopedia of Genes and Genomes (KEGG), dan validasi ekspresi gen. Nilai kuantifikasi ekspresi gen dihitung dengan rumus 2-∆∆Ct yang membandingkan nilai CT gen target dengan gen houskeeping Glyceraldehyde 3-phosphate dehydrogenase (GAPDH). Hasil penelitian tahap 1 diperoleh: penampilan produksi berupa konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan feed conversion ratio (FCR) tertinggi pada P3 yaitu 2653,54 g/ ekor, 852,23 g/ ekor, dan 3,04. Kualitas fisik karkas terbaik ditinjau dari nilai WHC, tekstur, warna L, a, b, cooking loss: pada P3 24,95 %, pada P1 7,42 kg/ cm2, pada P3 49,10, pada P1 1,27, pada P3 6,58, dan pada P3 25,05 %. Profil asam lemak daging terbaik ditinjau dari total Saturated Fatty Acid (SFA), Mono Unsaturated Fatty Acid (MUFA) dan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA): pada P1 (23,96 %), pada P2 (41,16), pada P3 (41,22 %). Pada tahap 2 diperoleh nilai DEG (p < 0,05) sebanyak 6.581 gen. Gene Ontology sebagai proses biologis yaitu respons terhadap stres, seluler komponen yaitu di bagian mitokondria, dan fungsi molekuler yaitu sebagai small molecule binding. KEGG pathway menunjukkan bahwa protein pada pakan mempengaruhi jalur metabolsime. Hasil validasi gen up regulated: BAZ1B dan MTSS1, down regulated: LZTS3, RRP1B, dan CCNG. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan protein kasar sebesar 22 % pada fase starter dan 20 % pada fase finisher memberikan pola pertumbuhan yang baik berdasarkan hasil uji in vivo dan identifikasi kandidat gen up regulated: BAZ1B dan MTSS1 dan down regulated: LZTS3, RRP1B, dan CCNG

    PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BAWANG PUTIH (Allium sativum) SEBAGAI ADITIF TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI AYAM PEDAGING

    No full text
    Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Desa Sumber Sekar Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung bawang putih sebagai aditif pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging yang diukur melalui beberapa variable, yaitu: konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB), konversi pakan dan Income Over Feed Cost (IOFC). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah DOC ayam pedaging strain Lohman Platinum yang diproduksi oleh PT. Multibreeder Adirama Indonesia Sidoarjo tbk., sebanyak 80 ekor yang tidak dibedakan jenis kelaminya dengan bobot badan awal rata-rata 47,85 ± 3,17 g/ekor dipelihara selama 35 hari. Koefisien keragaman (KK) 7,89%. Pakan yang digunakan adalah jagung, bekatul, konsentrat dan tepung bawang putih. Pemberian pakan dan minum secara ad-libitum. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan tepung bawang putih pada pakan dengan tingkat penggunaan P0 = pakan basal, P1 = pakan basal + tepung bawang putih 0,02%, P2 = pakan basal + tepung bawang putih 0,04%, P3 = pakan basal + tepung bawang putih 0,06%,dan P4= pakan basal + tepung bawang putih 0,08%. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) dari rancangan Acak Lengkap, dengan menggunakan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perbedaan yang nyata pada perlakuan dilakukan dengan Uji Jarak Berganda Duncan’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung bawang putih pada pakan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap konsumsi pakan akan tetapi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P < 0,01) terhadap pertambahan bobot badan (PBB), konversi pakan dan IOFC. Dimana PBB terbaik pada P2 yaitu: 1519,16 g/ekor, konversi pakan terendah pada P2 yaitu: 1,74 dan IOFC terbaik pada P2 yaitu: Rp. 10146,7 per ekor. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan tepung bawang putih dalam pakan pada level 0,04% memberikan hasil yang paling baik terhadap penampilan produksi ayam pedaging.   Kata Kunci: Ayam Pedaging, Tepung Bawang Putih, Penampilan Produks

    PENGABDIAN MASYARAKAT PEMBUATAN JAMU TERNAK UNGGAS BAGI KELOMPOK TERNAK MITRA KARYA BLITAR

    No full text
    Perubahan musim berdampak pada kesehatan ternak, khususnya unggas. Penggunaan bahan-bahan alami atau herbal telah lama digunakan untuk meningkatkan stamina terutama saat musim hujan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat secara daring tentang pembuatan jamu ternak unggas di kelompok ternak Mitra Karya, Kabupaten Blitar. Metode yang dilakukan adalah ceramah yang dilakukan secara ceramah dan praktek daring tentang pembuatan jamu unggas. Bahan jamu terdiri dari 8 jenis bahan yaitu kunyit, temu ireng, jahe merah, kencur, bawang putih, daun sirih hijau, dan sereh. Kemudian semua bahan dibleder, ditambah molases dan EM4 lalu difermentasi selama 1 minggu. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa masyarakat antusias menerapkan terutama bagi itik pedaging, dan meraskan manfaatnya karena selain ternak sehat kandangnya juga tidak bau. Kesimpulan kegiatan ini adalah pengabdian masyarakat tentang pembuatan jamu ternak unggas telah membawa dampak yang baik baik peternak

    Effect of The Combination Phytobiotic and Probiotic on The External Quality of Mojosari Egg-Laying Ducks

    No full text
    This study aims to evaluate the use of a combination between phytobiotics and probiotics on the external egg quality of laying ducks. One hundred Mojosari laying ducks were divided into 4 treatments and 5 replications, each replication with 5 ducks. The treatments were T1: control, T1: 0.25% combination, T2: 0.5% combination and T3: 0.75% combination. The variables observed were egg weight, egg length, egg width, and egg shape index. Observations on variables were carried out once a week for four weeks, each replicate using 2 eggs. The data was statistically analyzed using analysis of variance (ANOVA) from a Completely Randomized Design (CRD), and then the significant difference continued with Duncan’s Multiple Range Test. Based on the results, it shows that the different levels of the combination of phytobiotics and probiotics showed significantly different results (p0.05) on the egg length, egg width, and egg shape index. It can be concluded that the use of a 0.5 to 0.75 combination of phytobiotics and probiotics can improve the external quality of duck eggs

    Improving the nutritional content of apple pomace using biological treatments as a nonconventional broiler feed

    No full text
    This study was aimed to evaluate apple pomaces using fermentation and enzymatic technology (Aspergillus niger and glucanase enzymes). Treatments in this research were used enzymatic technology (T1) and fermentation technology (T2) and the second factor of the level of enzyme used Aspergillus niger processing: without Aspergillus niger (L0), 0.2% Aspergillus niger (L1), 0.4% Aspergillus niger (L2) and 0.6% Aspergillus niger (L3) and treatment used Glucanase enzyme: without Glucanase (L0), 0.2% Glucanase (L1), 0.4% Glucanase (L2) and 0, 6% Glucanase (L3). Data analysis used nested using a Completely Randomized Design. Based on the results of the study shows that fermentation technology using 0.6% glucanase gives better feed quality compared to the treatment using Aspergillus niger

    The different encapsulants of lileum leaves (

    No full text
    This research aimed to examine the differences encapsulant of leilem leaves and avocado seed (1 : 1) using a microwave oven to the microcapsule product physical quality and microscopic structure. The method was used laboratory experimental with 5 different encapsulants consist of gum arab (A1), whey (A2), chitosan (A3), maltodextrin (A4) and zeolit (A5) with 4 replications in every treatment, respectively. The Variables observed in this research consist of physical quality (dry matter, density, yield, solubility of solids) and microscopic structure. The data of physical quality was evaluate the size and structure, then the microscopic structure was analysed by analysis of variance (ANOVA) of the experiment using Completely Randomized Design (CRD). The results showed that the use of different encapsulates showed a significant (P < 0.05) effect on density and the solubility of solids in the product but it were not significant effect on dry matter and yield. Furthermore, different encapsulants also showed significantly different on the microscopic structure. Therefore, it can be concluded that the encapsulation process of the mixed extract of leilem leaves and avocado seeds using a microwave oven and chitosan encapsulation can produce the best physical quality and microscopic structure

    THE EFFECT OF FRYING METHOD ON NUTRITION CONTENT OF FLAXSEED (Linum usitatissimum) AS A POULTRY FEED: EFFECT OF FRYING METHOD ON NUTRITION CONTENT OF FLAXSEED (LINUM USITATISSIMUM) AS A POULTRY FEED

    No full text
    Linum usitatissimum is one of feed ingredients with high protein from the Cerealia group, so it is very potential to be used for bran substitution alternative, but flaxseed contain several antinutrients, like Phytic acid and tannin, it can cause disrupt metabolism and productivity of livestock, so it’s can be reduced by heating with the frying method. The purpose of this research was to determine the effect of frying variance on the nutritional content and antinutrient of flaxseed as a feed due to the treatment given. The analysis used is Analysis of Variance (ANOVA) in Completely Randomized Design (CRD). The results showed that the treatment was able to give a very significant effect (P&lt;0.01) on the content of dry matter, ash, crude protein, crude fiber, crude fat, gross energy, ADF, NDF, as well as anti-nutritional phytic acid and tannins. The frying treatment reduced the dry matter content by 94.99±0.07a, ash 2.93±0.01a, crude protein 20.48±0.07a, crude fat 27.10±0.02a, gross energy 5919.65±10.61a, ADF as much as 27.36±0.05a, NDF as much as 37.22±0.07a, as well as anti-nutritional phytic acid as much as 37.03±0.03a and tannin as much as 1.99±0.0014a, but increased the crude fiber as much as 15.84±0.01d. The best linseed roasted is roasted frying used sand as media with 10 minutes.Linum usitatissimum merupakan salah satu bahan pakan berprotein tinggi dari kelompok cerealia, sehingga sangat potensial untuk digunakan sebagai alternatif pengganti bekatul, namun biji rami mengandung beberapa zat antinutrisi seperti asam fitat dan tanin yang dapat mengganggu metabolisme dan produktivitas ternak, sehingga dapat dikurangi dengan pemanasan dengan metode penggorengan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi penggorengan terhadap kandungan nutrisi dan antinutrisi biji rami sebagai pakan akibat perlakuan yang diberikan. Analisis yang digunakan adalah Analisis Varians (ANOVA) dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mampu memberikan pengaruh yang sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap kandungan bahan kering, abu, protein kasar, serat kasar, lemak kasar, energi kotor, ADF, NDF, serta antinutrisi. asam fitat dan tanin. Perlakuan penggorengan menurunkan kadar bahan kering sebesar 94,99±0,07a, abu 2,93±0,01a, protein kasar 20,48±0,07a, lemak kasar 27,10±0,02a, energi kotor 5919,65±10,61a, ADF sebesar 27,36±0,05a, NDF sebanyak 37,22±0,07a, serta asam fitat antinutrisi sebanyak 37,03±0,03a dan tanin sebanyak 1,99±0,0014a, namun meningkatkan serat kasar sebanyak 15,84±0,01d. Penggorengan biji rami yang paling baik adalah penggorengan dengan menggunakan media pasir selama 10 menit

    Effect of corn substitution with Enzymated apple pomace on broiler production performance and percentage internal organ of broiler chickens

    No full text
    Corn is a feedstuff that use as a major component of energy sources and hard to be replaced other feedstuff in poultry ration, even its use is always above 45% in the composition of poultry feed. However, domestic maize availability is limited and the price is changes depend on season harvest time, and most of the availability for animal feed is still imported. Besides that, there is a ban on the use of Antibiotic Growth Promoter (AGP) in poultry feed and drinking water effectively since January 2018, so an effort is needed to replace AGP with natural feed additives or Natural growth promoters (NGP). Based on the above conditions, it is necessary to make efforts to replace corn with local feed ingredients, one of which is apple extraction pomace (apple pomaces). The pomace of apple extraction, if left unchecked, will quickly rot so that it will potentially as an environmental pollutant. The potential of apple pomace extract can be used as a feed ingredient with high sugar and energy content (2300 kcal/kg BK). This research was conducted in the Field Laboratory of Sumber Sekar, Laboratory of Animal Nutrition and Feed, Faculty of Animal Husbandry, Agricultural Technology Laboratory, Brawijaya University. The experiment used 192 DOC broilers and placed them in 8 postal cages per replication. Research on Enzymanted apple pomaces (EAP) as a substitute for corn used a completely randomized design (CRD) P0: basal feed, P1: substitution of EAP 5%, P2: substitution of EAP 10%, P3: substitution of EAP 15%. The variables observed were the production performances include (feed consumption, weight gain, feed conversion ration) and the % internal organs. Based on the research, the results were not significantly different on the production performances and the % of organs in broilers. The use of apple pomaces can be used as a substitute for broiler feed up to a level of 15%

    Pengaruh Penggunaan Bioherbal Sebagai Imbuhan Pakan Terhadap Kualitas Internal Telur Itik Mojosari

    No full text
    Itik petelur merupakan jenis ternak yang khusus dipelihara untuk menghasilkan telur konsumsi. Itik petelur yang populer di pelihara untuk dimanfaatkan telurnya di Indonesia adalah itik Mojosari. Itik Mojosari merupakan salah satu jenis itik lokal indonesia yang berasal dari persilangan itik Jawa dan itik liar yang berasal dari Mojokerto. Itik Mojosari memiliki keunggulan dari segi produktivitasnya yang tinggi, hal ini dikarenakan itik Mojosari dapat memproduksi telur sekitar 200-220 butir dalam satu tahun. Produktivitas itik mojosari tergolong tinggi, namun kualitas telur juga harus menjadi fokus perhatian. Kualitas telur adalah salah satu aspek yang berpengaruh pada nilai jual telur. Penambahan bioherbal sebagai bahan tambahan pakan pada itik mojosari mampu meningkatkan penyerapan nutrisi pada saluran pencernaan ternak. Probiotik dan fitobiotik yang merupakan bahan penyusun dari bioherbal mampu menyeimbangkan mikroflora dalam saluran pencernaan ternak serta meningkatkan daya tahan tubuh ternak dengan adanya senyawa antimikroba Itik petelur yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik petelur mojosari. Jumlah itik yang digunakan dalam penelitian sebanyak 100 ekor yang memiliki umur 40 hingga 44 minggu. Penelitian menggunakan 4 perlakuan yang memiliki 5 ulangan, setiap ulangan berisi 5 ekor itik. Kandang yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kandang bebek petelur sistem kering yang terbuat dari bambu pada setiap pembatasnya. Sekat pemisah antara kandang lain menggunakan bambu yang disusun secara teratur sehingga itik memiliki ruang gerak yang sesuai. Setiap petak dalam kandang telah dilengkapi tempat pakan dan minum untuk menunjang kebutuhan pada itik. Kandang akan dipisah menjadi 20 petak yang akan mencakup semua perlakuan dan setiap ulangan pada penelitian. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode percobaan dengan mengumpulkan data lapang yang akan dianalisi menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yang meliputi P0: Pakan basal, P1: Pakan basal + 0,25% Bioherbal, P2: Pakan basal + 0,50% Bioherbal, P3: Pakan basal + 0,75% Bioherbal. Variabel yang diamati adalah kualitas internal telur yang meliputi berat kuning telur, berat putih telur, volume kuning telur, volume putih telur, tinggi kuning telur, tinggi putih telur, dan nilai haugh unit. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa penambahan bioherbal sebagai feed additive pakan itik mojosari tidak berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap berat kuning telur, berat putih telur, volume kuning telur, volume putih telur, tinggi kuning telur, tinggi putih telur, dan nilai haugh unit. Hasil rata-rata nilai berat kuning telur itik mojosari dalam penelitian P0, P1, P2, dan P3 secara berurutan adalah 24,91 g; 24,03 g; 24,38 g; 24,84 g, rata-rata berat putih telur itik mojosari secara berurutan adalah 38,54 g; 38,56 g; 40,69 g; 38,40 g, rata-rata volume kuning telur itik mojosari secara berurutan adalah 24,63 ml; 23,12 ml; 23,62 ml; 24,12 ml, rata-rata volume putih telur itik mojosari secara berurutan adalah 37,38 ml; 37,90 ml; 39,55 ml; 37,67 ml, rata-rata tinggi kuning telur itik mojosari secara berurutan adalah 18,87 mm; 18,76 mm; 18,90 mm; 18,65 mm, rata-rata tinggi putih telur itik mojosari secara berurutan adalah 5,59 mm; 5,25 mm; 5,28mm; 4,85mm, rata-rata nilai haugh unit telur itik mojosari secara berurutan adalah 66,89; 64,46; 62,78; 59,52. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaaan bioherbal sebagai feed additive pada pakan tidak memberikan pengaruh terhadap kualitas internal telur itik mojosari. Perlakuan penelitian pada P2 dengan pemberian bioherbal sebesar 0,5% memberikan hasil terbaik pada variabel berat putih telur, volume putih telur, dan tinggi putih telur

    Modulation of Broiler Chicken Digesta pH, Viscosity and Crypth Depth by β-Glucan and Mannan Oligosaccharides (MOS)

    No full text
    Maintaining optimal intestinal environment is essential for proper feed digestion and nutrient absorption in poultry. This study was conducted to evaluate the effect of dietary supplementation with inactive yeast YP20 derived β-glucan and mannan oligosaccharides (MOS) on the intestinal environment of broiler chickens, particularly focusing on pH,viscosity, and crypth depth of digesta. A total of 6,000 day-old chicks (DOC) of the Lohmann strain. The birds were randomly distributed into three treatment groups, each consisting of 2000 birds: T0 (basal diet without supplementation), T1 (basal diet supplemented with 1 % inactive yeast YP20), and T2 (basal diet supplemented with 2 % inactive yeast YP20). The trial lasted for five weeks, after which samples of intestinal digesta were collected for laboratory analysis. The results showed that the average pH values were 5.58, 5.23, and 5.47 ,Meanwhile, the viscosity values were 21.50, 22.25, and 22.25 cP (centipoise) treatments and also the crypth depth values were 177.56, 196.44 and 176.84, respectively Statistical analysis indicated that there were no significant differences (p > 0.05) among treatments for either pH, crypth depth or viscosity. In conclusion, supplementation with inactive yeast YP20 up to a level of 20 kg/MT did not affect the modulating intestinal pH anddigesta viscosity of broiler chickens, suggesting that these additives can be included in broiler diets without negatively affecting intestinal physical
    corecore