2 research outputs found

    Pandemic As a Crime Factor: Reason Mitigating or Aggravating Penal? (The Reflection Post Covid-19 in Indonesia)

    No full text
    Crime is part of the form of human behavior and will continue to develop following the dynamics of human life and civilization. There’s no exception that the Covid-19 pandemic that hit the world also had an impact on Indonesia. The impact is not only in the sphere of human health but also in the sphere of social life, including changes in human habits and behavior. Various Indonesian government policies to reduce the spread of Covid-19, such as restrictions on activities outside the home, to prisoner assimilation policies have also influenced changes in human behavior and the economic condition of the community which can be a potential change in the form and rate of crime. Crime will not be separated from the problem of criminal law and punishment, especially modern criminal law that is oriented to the perpetrator and the deed (daad-dader straafrecht) or also known as penal individualization. One of the characteristics of penal individualization is that the crime must be adapted to the characteristics and conditions of the perpetrator, which is elaborated with the view of the ecology school in criminology, a person’s evil deeds are influenced by the environment of the perpetrator (external factors). It becomes a question, is the pandemic condition a factor of crime, or is it a reason for aggravating or mitigating crime for criminals? To answer this question, the author uses a juridical/normative research approach, and it is found that the Covid-19 pandemic as a national disaster can become a mitigating circumstance and aggravating circumstances, in the form of Judicial Mitigating and Aggravating Circumstances. Keywords: Covid-19, punishment, Indonesia, criminal law, mitigating-aggravating pena

    SOSIALISASI, EDUKASI DAN PELATIHAN PEMANFAATAN TANAMAN BERKHASIAT OBAT UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.)

    No full text
    Kalimantan merupakan pulau yang kaya keanekaragaman hayati. Obat tradisional pada etnis Kalimantan umumnya masih dalam bentuk yang sederhana. Bahan baku yang diambil dari alam setelah dibersihkan biasanya langsung digunakan dalam bentuk segar dengan cara direndam/direbus kemudian diminum, diolah dengan cara dihaluskan dan ditumbuk/dipanaskan dalam bungkusan daun. Pengetahuan dan pemanfaatan tanaman obat masih minim terutama dalam pengolahannya menjadi sediaan yang efektif dan efisien agar mudah digunakan. Bawang dayak (Eleutherine palmifolia) merupakan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional terutama pada bagian umbinya. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan warga tentang khasiat tanaman bawang dayak sekaligus mendorong warga memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam tanaman tersebut sebagai tanaman obat keluarga serta dapat mengolah simplisia bawang dayak sebagai teh herbal untuk digunakan menjadi minuman berkhasiat obat. Metode yang digunakan adalah sosialisasi, edukasi materi tentang umbi bawang dayak dan pelatihan pembuatan teh herbal. Edukasi dilakukan dengan mengukur tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner yang dibagikan sebelum (pretest) dan sesudah (post-test) pemberian materi. Hasil pretest menujukkan bahwa pengetahuan dan minat warga untuk membudidayakan tanaman bawang dayak masih kurang. Namun pada hasil post-test menujukkan pengetahuan mereka menjadi meningkat. Kesimpulan dari kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan warga tentang tanaman berkhasiat obat umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)
    corecore