1,721,013 research outputs found
PENGARUH STRES FISIK TERHADAP KADAR KREATININ SERUM TIKUS WISTAR JANTAN (Rattus norvegicus)
Aktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan
harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan,
dan martabat manusia. Aktivitas fisik yang berat membutuhkan energi yang lebih
banyak. Aktivitas fisik berat merupakan stressor fisiologis yang menimbulkan stres
fisik. Secara fisiologis, peningkatan kebutuhan energi berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan oksigen. Konsumsi oksigen yang meningkat pada rantai
pernapasan akan menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas yang dihasilkan.
Ketidakseimbangan jumlah senyawa radikal bebas dan antioksidan yang ada dalam
tubuh menyebabkan peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang
berasal dari metabolisme terutama metabolisme aerobik sel-sel otot selama aktivitas
fisik tersebut. Stres fisik akan menimbulkan kerusakan progresif pada jaringan tubuh
yang kemudian akan mengakibatkan kematian sel. Pada organ ginjal akan
mengakibatkan kematian sel tubulus sehingga terjadi obstruksi kreatinin yang dalam
kondisi normal seharusnya lolos dalam filtrasi. Sehingga kreatinin akan tertumpuk
dan menyebabkan peningkatan kadar kreatinin yang berdifusi ke dalam plasma
sehingga terjadi peningkatan kadar kreatinin serum.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan
rancangan Post Test Only Control Group Design. Sampel penelitian yang diambil
adalah tikus wistar jantan berusia 2-3 bulan dengan berat ±200 gram. Metode yang
digunakan untuk pengambilan sampel adalah simple random sampling, yaitu sampel
yang diambil dalam penelitian diambil secara acak. Sampel diambil berdasarkan
kriteria yang telah ditentukan. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 10 ekor tikus
wistar jantan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol dan 1 kelompok perlakuan, masing-masing sejumlah 5 ekor tikus. Sebelum dilakukan
perlakuan, tikus diaklimatisasikan terlebih dahulu selama 7 hari. Setelah itu dilakukan
randomisasi dengan membagi hewan coba ke dalam 2 kelompok, masing-masing 5
tikus. Semua kelompok diberi pakan standar ad libitum. Kelompok kontrol (K) tidak
diberi stres fisik; kelompok perlakuan (P) diberikan stres fisik berupa swimming
stress dengan beban 6% dari BB tikus dilakukan selama 30 menit perhari selama 10
hari. Selanjutnya dilakukan pengambilan data hasil pengukuran kadar kreatinin serum
tikus pada masing-masing kelompok dengan menggunakan metode Jaffe dan dihitung
rata-rata kadar kreatinin serum untuk tiap kelompok. Data hasil penelitian kemudian
dilakukan uji statistik menggunakan program SPSS. Uji analisis data yang digunakan
adalah uji Mann Whitney.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna
pada kadar kreatinin serum tikus wistar jantan yang diberi stres fisik dengan yang
tidak diberi stres fisik
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK TAUGE (Vigna radiata (L)) TERHADAP KADAR SERUM TRIGLISERIDA PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI KUNING TELUR
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang
utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida serta
penurunan kadar kolesterol HDL. Dislipidemia juga merupakan salah satu faktor
penting terjadinya penyakit jantung koroner yang merupakan penyebab kematian
utama di dunia. Kadar trigliserida di atas 200 mg/dL perlu diwaspadai dan perlu
dikendalikan.
Tauge (Vigna Radiata (L)) merupakan makanan yang sering dikonsumsi seharihari.
Beberapa zat yang terkandung pada tauge ternyata memiliki peran sebagai
antioksidan maupun zat yang berhubungan dengan antioksidan yaitu fitosterol, fenol,
flavanoid, vitamin E (α-tokoferol), niasin, vitamin C dan beberapa mineral (selenium,
mangan, tembaga, zinc, dan besi). Tauge diduga mampu mempengaruhi proses
inflamasi dan menghambat absorpsi kolesterol dan trigliserida oleh usus sehingga
kadar trigliserida dalam tubuh bisa ditekan. Tauge juga mampu menurunkan sintesis
triasilgliserol pada jaringan adiposa. Adanya kandungan tersebut dapat digunakan
sebagai alternatif tatalakasana terhadap dislipidemia yang menjadi salah satu faktor
penting penyebab penyakit kardiovaskuler.
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang dilakukan adalah true experimental
laboratories yang dilaksanakan di Laboratorium Faal Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember secara in vivo. Penelitian ini dibagi menjadi kelompok perlakuan
dan kelompok kontrol yang pengambilan sampelnya dilakukan secara randomisasi.
Tikus dibagi dalam 5 kelompok dengan cara randomisasi, yaitu kelompok K(-), K(+),
P1, P2, dan P3. Setelah aklimatisasi selesai, semua kelompok P dan K(+) diberi injeksi
adrenalin yang kemudian dilanjutkan dengan diet tinggi lemak berupa kuning telur.
Selanjutnya, tikus diberi perlakuan berdasarkan kelompoknya, dimana K(-) diet normal
tanpa perlakuan dan K(+) diet normal dengan diberikan kuning telur 2 ml/200 g
BB/hari. Sedangkan untuk kelompok P diberi diet normal, kuning telur 2 ml/200 g
BB/hari dan ekstrak tauge dengan dosis sesuai dengan kelompoknya, yakni P1 50
mg/200 g BB/hari, P2 100 mg/200 g BB/hari, dan P3 200 mg/200 g BB/hari selama 6
minggu.
Kadar trigliserida serum diukur diakhir perlakuan. Darah diambil dari jantung
menggunakan spuit ±3cc lalu diperiksakan ke laboratorium menggunakan metode
pengukuran secara enzimatik dengan reagen GPO-PAP yang dibaca menggunakan
spektrofotometer dan dinyatakan dalam satuan mg/dL.
Untuk mengetahui distribusi normal dari kelompok kontrol dilakukan uji
normalitas Shapiro-Wilk dan didapatkan nilai signifikansinya (p>0,05) lebih besar dari
nilai α. Setelah itu dilanjutkan dengan uji homogenitas Lavane Test dan didaptkan nilai
signifikansi 0,295 (p>0,05). Analisis statistik yang digunakan untuk mengetahui
perbedaan rata-rata kadar trigliserida serum antara kelompok kontrol dengan perlakuan
adalah uji statistik One Way ANOVA.
Hasil penelitian ini didapatkan rata-rata kadar trigliserida serum K(-) sebesar
69,2±15,9 mg/dL; K(+) 92 ±14,9 mg/dL; P1 63,2 ±14,1 mg/dL; P2 53±6,9 mg/dL; dan
P3 sebesar 84,8±23,9 mg/dL. Rata-rata kadar trigliserida serum kelompok K(-), P1, P2
dan P3 lebih rendah dibandingkan dengan K(+). Kadar trigliserida kelompok P3 lebih
tinggi dibanding P1 dan P2 yang dosis ekstrak tauge lebih rendah. Pada uji parametrik
One Way ANOVA diperoleh nilai signifikansi 0,014 (sig<0,05) yang berarti terdapat
perbedaan signifikan pada rata-rata kadar trigliserida antara kelompok K(-), K(+), P1,
P2, dan P3. Namun setelah dianalisis post hoc multiple comparison dengan metode
Tukey HSD, didapatkan hasil signifikansi 0,014. Perbedaan signifikan hanya terdapat
pada kelompok K(+) dan P2 saja. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak
tauge (Vigna radiata (L)) dengan dosis 100 mg dapat menunjukkan perbedaan
signifikan kadar serum trigliserida dengan kelompok kontrol pada tikus wistar jantan
yang diinduksi kuning telur
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Singkong (Manihot esculenta) terhadap Ginjal Tikus Dilihat dari Kadar Blood Urea Nitrogen (BUN)
Pada umumnya singkong banyak dikonsumsi sebagai pengganti nasi dan juga sebagai sayuran. Pada era modern seperti sekarang, konsumsi singkong mulai ditinggalkan karena masyarakat lebih memilih tanaman padi sebagai makanan pokok setiap harinya. Tetapi, konsumsi daun singkong makin populer dikarenakan bisa diolah dalam berbagai macam masakan. Daun singkong banyak dikonsumsi karena murah dan mudah didapat, selain itu daun singkong memiliki banyak manfaat dibidang kesehatan karena memiliki kandungan flavonoid, triterpenoid, saponin, tannin, dan vitamin C (Nurdiana, 2013). Selain kandungan flavonoid yang baik untuk kesehatan, singkong juga mengandung beberapa zat sianogenik yang dapat memperburuk kondisi organ, seperti linamarin (>90%) dan lotaustralin (<10%) dengan kandungan terbesar terdapat pada daun singkong sebesar 5g linamarin dalam 1kg daun singkoang (Wanda et al., 1998).
Zat sianogenik atau efek toksik pada daun singkong dapat menyebabkan gangguan pada beberapa organ. Salah satu organ target dari ketoksisitasan adalah ginjal. Menurut Nuridayanti (2011) ginjal menjadi organ sasaran dikarenakan perananya dalam mengkonsentrasikan toksikan pada filtrat, membawa toksikan melalui tubulus, dan mengaktifkan toksikan tertentu, sehingga dapat menimbulkan efek toksikan yang ditunjukkan dengan perubahan biokimia sampai dengan kematian sel, yang umumnya muncul sebagai perubahan fisiologis ginjal sampai dengan gagal ginjal. Salah satu penilian fisiologis ginjal adalah pemeriksaan BUN atau ureum yang berfungsi untuk mengukur secara kasar fungsi ginjal (Sherwood, 2013).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh toksistas akut estrak daun singkong (Manihot esculenta) yang diberikan per oral pada mencit dengan melihat kadar BUN. Penelitian ini merupakan peneletian kuasi eksperimental dengan post test–only control group design. Sampel penelitian dibagi menjadi 2, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlkuan, dimana setiap kelompok berisi 5 ekor tikus. Pemberian perlakuan di dahului dengan uji pendahuluan. Uji pendahuluan bertujuan untuk mengetahui besaran dosis yang akan digunakan. Dosis yang di berikan sebanyak 5, 50, 300, dan 2000 mg/kg. Setelah dilakukan uji pendahuluan selama 14 hari dan telah di dapatkan dosis pasti, maka dilanjutkan dengan uji utama selama 14 hari. Jika selama uji utama ada tikus yang mati, maka akan segera di ambil darahnya untuk di ukur kadar BUN. Pada penelitian ini tikus pendahuluan diberi dosis 2000 mg/kgBB dan didapatkan hasil tikus masih hidup, sehinga dosis 2000 mg/kgBB digunakan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol diberi Na CMC.
Hasil dari penelitian ini didapatkan nilai rata-rata kadar BUN pada kelompok kontrol sebesar 42,3 mg/dL dan kelompok perlakuan sebesar 51,94 mg/dL. Lalu data dimasukan ke dalam spss dan didapatkan hasil (P>0,5). Peningkatan kadar BUN dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu diet tinggi protein dan keadaan dehidrasi, sehingga pada penelitian ini didapatkan dosis toksik ekstrak daun singkong (Manihot esculenta) tidak menyebabkan peningkatan yang bermakna terhadap kadar BUN pada kelompok perlakuan yang diinduksi ekstrak daun singkong (Manihot esculenta)
PENGARUH PEMBERIAN FRAKSI METANOL BANGLE (Zingiber cassumunar Roxb.) TERHADAP KADAR SERUM BDNF MENCIT SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER MALARIA SEREBRAL
Pengaruh pemberian fraksi metanol Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) dalam meningkatkan ekspresi endogen BDNF didapat dari pengukuran kadar BDNF di dalam serum mencit dengan metode immunoassay menggunakan Elisa kit. Pengukuran dilakukan satu kali setelah 24 jam mendapatkan perlakuan sebelum dilakukan terminasi. Hasil menunjukkan bahwa kadar serum BDNF dengan nilai tertinggi dimiliki oleh kelompok normal dengan rata-rata nilai 8.67 ng/ml disusul dengan kelompok perlakuan 1 (D) yaitu kelompok yang mendapatkan kombinasi Artemisinin dan fraksi metanol Bangle dengan rata-rata nilai sebesar 8.17 ng/ml. Kelompok lain berturut-turut adalah kelompok negatif 2 (C), kelompok negatif 1 (B), kelompok perlakuan 2 (E) dengan rata-rata nilai berturut-turut 7.16 ng/ml, 5.91 ng/ml, 5.50 ng/ml.
Data diuji normalitas dengan Saphiro Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p>0.05), dilanjutkan dengan ujian varian yang juga menunjukkan bahwa varian data sama (p>0.05). Analisis data dilanjutkan menggunakan One Way Anova karena telah memenuhi syarat. One Way Anova menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan minimal dua kelompok diantara kelima kelompok (p=0.257).
Kelompok yang diberikan perlakuan berupa penyondean Artemisinin dan fraksi metanol Bangle baik secara masing-masing (kelompok C dan E) atau kombinasi (kelompok D) tidak memiliki perbedaan yang bermakna secara analisis statistik baik terhadap kelompok normal maupun kelompok tanpa perlakuan (kelompok B). Namun secara deskriptif, Kelompok perlakuan 1 (D), yaitu kelompok yang mendapatkan kombinasi Artemisinin dan fraksi metanol Bangle memiliki rata-rata kadar serum BDNF yang lebih tinggi dibandingkan dua kelompok lain. Tidak adanya perbedaan yang bermakna secara statistik dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kandungan kompleks curcumin dalam fraksi metanol Bangle yang tidak murni dan waktu pemberian fraksi metanol Bangle yang kurang lama sehingga kurang maksimal dalam menimbulkan aktivitas antioksidan dan neuroprotektif.
Penelitian in vivo ini membuktikan bahwa fraksi metanol Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) dapat mempengaruhi peningkatan kadar serum BDNF mencit sebagai terapi komplementer malaria serebral meskipun perbedaannya tidak signifikan secara statistik
PENGARUH EKSTRAK DAN SERBUK MENTIMUN (Cucumis sativus) TERHADAP JUMLAH MAKROFAG PADA PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DERAJAT II B PADA TIKUS WISTAR
Luka bakar merupakan salah satu trauma yang sering terjadi pada kehidupan
sehari-hari, baik karena kelalaian individu maupun sebagai kecelakaan massal.
Berdasarkan data terakhir, terdapat 265.000 kematian setiap tahun disebabkan oleh
luka bakar. Perawatan lokal luka bakar idealnya menggunakan bahan yang bertindak
sebagai antimikroba dan dapat bertindak juga sebagai antiinflamasi, serta
memberikan suasana moist sehingga akan mempercepat proses penyembuhan.
Perawatan luka bakar umumnya menggunakan krim topikal silver sulfadiazine (SSD)
atau krim gentamicin topical, tetapi ada kemungkinan kecil terjadi alergi dan
keracunan perak pada penggunaan SSD dan juga mulai muncul resistensi terhadap
penggunaan gentamicin. Ekstrak mentimun (Cucumis sativus) terbukti dapat
mempercepat proses epitelisasi dan kontraksi luka secara signifikan pada perawatan
luka sayat. Kandungan mentimun yang sesuai untuk dressing luka bakar meliputi air,
flavonoid, tanin, triterpen, saponin, vitamin A, C, K, karoten, dan zea xantin karena
memiliki sifat sebagai antimikroba, antiinflamasi, antioksidan, dan dapat memberikan
suasana moist pada luka bakar dan mampu mempercepat penyembuhan luka bakar.
Sedangkan kandungan yang diduga meningkatkan jumlah makrofag dalam
penyembuhan luka bakar adalah komponen antimikroba seperti flavonoid, tanin, dan
triterpen, serta agen keratolitik, yaitu asam salisilat dan asam glikolat. Penelitian ini
membuktikan pengaruh gel ekstrak mentimun (Cucumis sativus) dan gel serbuk
mentimun (Cucumis sativus) terhadap jumlah makrofag pada penyembuhan luka
bakar derajat II B tikus Wistar pada hari ke-3 dan ke-10
AKTIVITAS LARVASIDA MINYAK ESENSIAL DAUN WORTEL (Daucus carota) TERHADAP LARVA Aedes aegypti INSTAR III/IV
Nyamuk Aedes sp. merupakan vektor beberapa penyakit yang menyerang manusia. Nyamuk Aedes aegypti
adalah vektor penyakit demam dengue, yellow fever, penyakit cikungunya, dan penyakit Zika,
sedangkan nyamuk Aedes albopictus adalah vektor penyakit cikungunya, demam dengue, dan West Nile
virus. Tindakan pengendalian pada nyamuk ditujukan kepada nyamuk dewasa atau larva. Pengendalian
nyamuk dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk atau insektisida. Insektisida yang umum
digunakan adalah temephos (abate). Temephos dianggap efektif, praktis, manjur dan dari segi ekonomi
lebih menguntungkan. Namun demikian penggunaan temephos secara terus-menerus meninggalkan residu
bagi lingkungan, sehingga diperlukan biolarvasida yang lebih ramah lingkungan seperti minyak
esensial yang didapatkan dari isolasi berbagai tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan
adalah daun wortel (Daucus carota). Minyak esensial daun wortel diharapkan dapat menjadi salah satu
larvasida alami dalam melawan perkembangan larva nyamuk Ae. aegypti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak esensial daun wortel memiliki aktivitas
larvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV dan mengetahui lethal concentration 50 (LC50)
minyak esensial daun wortel terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV dalam 24 jam. Jenis
penelitian ini adalah penelitian true experimental laboratories yang dilakukan secara in-vitro
dengan Post Test Only with Control Group Design. Sampel dibagi menjadi sebelas kelompok yang
didapatkan secara random. Kelompok positif diberikan 1 ppm temephos, kelompok negatif diberikan
aquades, serta kelompok perlakuan dengan pemberian minyak esensial 12,5 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25
ppm, 30 ppm, 35 ppm, 40 ppm, 45 ppm, dan 50 ppm. Jumlah sampel tiap kelompok adalah 25 ekor dengan
replikasi sebanyak 4 kali. Setelah 24 jam perlakuan, dilakukan observasi jumlah kematian larva
Aedes aegypti.
Berdasarkan hasil analisis data, terdapat perbedaan yang bermakna jumlah kematian larva pada dua
kelompok penelitian dengan korelasi positif dan kekuatan korelasi yang sangat kuat (p=0.954). Hal
ini menunjukkan bahwa minyak esensial daun wortel memiliki aktivitas larvasida terhadap larva Aedes
aegypti instar III/IV. Nilai rata-rata LC50 minyak esensial daun wortel terhadap larva Aedes
aegypti instar III/IV adalah sebesar 26,389 ppm dengan kisaran 22,123 – 29,551 ppm
PENGARUH EKSTRAK DAN SERBUK MENTIMUN (Cucumis Sativus) TERHADAP JUMLAH FIBROBLAS PADA PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DERAJAT IIB PADA TIKUS WISTAR
Luka bakar merupakan suatu respon kulit dan jaringan subkutan terhadap trauma suhu atau termal. Menurut WHO, luka bakar masih menjadi beban global karena angka kejadian yang masih tinggi. Selain itu, angka kejadian tertinggi terletak di Asia Tenggara dengan wanita dan anak-anak sebagai kelompok yang paling beresiko mengalami luka bakar. Hal ini yang menyebabkan banyak penelitian tentang perawatan luka bakar.
Luka bakar dalam tata laksananya selain resusitasi akut juga memerlukan perawatan khusus pada lukanya. Hal ini untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka bakar serta mencegah seminimal mungkin terjadinya jaringan parut. Oleh karena itu, dressing luka bakar harus mampu bertindak sebagai antimikroba, antiinflamasi, serta mampu membuat suasana luka menjadi moist. Hal-hal tersebut dibutuhkan agar luka bakar cepat sembuh.
Selama ini sediaan yang sering digunakan untuk dressing topikal luka bakar adalah silversulfadiazin dan gentamisin. Akan tetapi, silversulfadiazin meskipun kecil masih memiliki resiko terjadi keracunan perak terutama bagi ibu hamil dan anak-anak. Gentamisin sendiri penggunaannya sudah cukup luas di rumah sakit sehingga dikhawatirkan terjadi resistensi. Oleh karena itu, peneliti mengajukan mentimun sebagai bahan alternatif untuk dressing luka bakar. Kandungan mentimun seperti flavonoid, saponin, tannin, dan lainnya diduga dapat mempercepat penyembuhan luka termasuk meningkatkan jumlah fibroblas. Telah ada penelitian juga yang membuktikan efektifitas mentimun untuk penyembuhan luka sayat pada tikus dan luka bakar asam pada kornea guinea pig. Jenis penelitian menggunakan true experimental dengan post test only control group. Pengambilan sampel dilakukan secara randomisasi dengan sampel penelitiannya tikus Wistar jantan usia 2-3 bulan, dengan berat 100-200 gram. Jumlah sampel 24 ekor tikus dengan 3 replikasi setiap kelompok perlakuan. Terdapat 8 kelompok dengan 4 perlakuan. Masing-masing kelompok perlakuan dibagi 2 kelompok yaitu diterminasi hari ke-3 dan ke-10. Rincian dari kelompok perlakuan yaitu kelompok perlakuan pertama tikus diberi perawatan luka bakar dengan kasa yang dibasahi normal salin, kelompok perlakuan kedua tikus diberi perawatan dengan gel ekstrak mentimun, kelompok perlakuan ketiga tikus diberi perawatan dengan gel serbuk mentimun, dan kelompok perlakuan keempat tikus diberi perawatan luka dengan gentamicin topikal. Masing-masing tikus sebelumnya dibersihkan dulu lukanya dengan normal salin dan setelah dibari perlakuan ditutup dengan transparan film, direkatkan dengan hipafix, dan ditutup melingkar dengan plester.Pembuatan luka bakar dengan menempelkan logam aluminium yang bersuhu 700C selama 10 detik. Cara mendapatkan panas pada logam dengan memasukkan pada dry oven yand diatur pada suhu 70oC selama lima menit.
Pengambilan data dilakukan dengan penghitungan jumlah fibroblas dengan pengamatan sediaan dengan mikroskop cahaya pada perbesaran 400 kali pada enam lapang pandang. Analisis data yang digunakan one way ANOVA untuk perbandingan antar kelompok perlakuan dan uji Independent t-test untuk membandingkan antar hari pada setiap kelompok perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan bermakna jumlah fibroblas antar kelompok perlakuan pada tikus Wistar yang diberi luka bakar derajat IIB baik terminasi hari ketiga maupun hari kesepuluh. Pemberian gel ekstrak mentimun dan gel serbuk mentimun memiliki perbedaan jumlah fibroblas bermakna dengan kontrol negatif dan pemberian gentamisin pada hari ketiga dan kesepuluh. Pemberian gel ekstrak mentimun tidak memiliki perbedaan jumlah fibroblas bermakna dengan gel serbuk mentimun. Penurunan jumlah fibroblas dari hari ketiga ke hari kesepuluh memiliki perbedaan bermakna pada kelompok kontrol negatif dan gel serbuk mentimun, serta tidak memiliki perbedaan bermakna pada gentamisin dan gel ekstrak mentimun
Efektivitas Pemberian Ekstrak Tamarindus Indica Terhadap Jumlah Sel Osteoblas Tulang Femur Tikus Wistar Jantan yang Diinduksi Aluminium
Aluminium banyak dimanfaatkan dalam kehidupan tetapi aluminium termasuk logam non-esensial beracun bagi tubuh manusia. Aluminium paling banyak terakumulasi di tulang femur. Aluminium bersifat toksik karena meningkatkan jumlah radikal bebas sehingga terjadi stres oksidatif yang menyebabkan apoptosis osteoblas. Kerusakan osteoblas menyebabkan terjadinya gangguan mineralisasi tulang dan meningkatkan risiko fraktur spontan. Densitas mineral tulang akan lebih sedikit dibagian diafisis saat terjadi gangguan mineralisasi. Tamarindus indica atau Asam Jawa memiliki efek antioksidan. Efek antioksidan Tamarindus indica paling poten pada bagian bijinya. Biji Tamarindus indica memiliki kandungan polifenol tertinggi dari biji tanaman tropis lain seperti leci dan rambutan. Kandungan polifenol pada biji Tamarindus indica ialah myrecitin, procyanidin B2, dan caffeic acid. Antioksidan pada biji Tamarindus indica memiliki mekanisme menyumbangkan elektron dari gugus –OH pada cincin fenolik untuk menghentikan reaksi berantai oksidatif dan mencegah terbentuknya radikal hidroksil dan peroksidasi lipid yang berperan pada apoptosis sel.
Jenis penelitian ini ialah true experimental secara in vivo dengan randomized post test only control group design. Hewan coba menggunakan tikus Wistar jantan 25 ekor yang terbagi dalam lima kelompok menggunakan simple random sampling. Kelompok pada penelitian ini yaitu kelompok kontrol yang diberi aquabidest dan saline, kelompok perlakuan 1, 2, 3 yang diberikan larutan AlCl3 dosis 300mg/kgBB dan larutan ekstrak Tamarindus indica dengan dosis masing-masing 25, 50, 100mg/kgBB. Perlakuan dilakukan selama 10 minggu. Data penelitian diambil melalui pengamatan gambaran histopatologi jumlah sel osteoblas tulang femur tikus pada lima lapang pandan
PENGARUH MINYAK IKAN LEMURU (Sardinella Longiceps) TERHADAP EKSPRESI TUMOR NECROSIS FACTOR (TNF-a) KARTILAGO YANG DIINDUKSI COMPLETE FREUND’S ADJUVANT
Osteoartritis adalah suatu kelainan sendi kronis dimana terjadi proses pelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan sendi yang disertai dengan pertumbuhan tulang dan tulang rawan baru pada sendi. Menurut WHO (2010), kejadian osteoartritis lebih tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria di antara semua kelompok umur (wanita 2,95 per 1000 penduduk dan pria 1,71 per 1000).
Pada osteoartritis, mediator-mediator inflamasi ikut berperan penting dalam progresifitas penyakit. Salah satunya TNF-α yang merupakan sitokin yang disekresikan oleh makrofag. Adanya TNF-α pada sendi dikarenakan induksi CFA yang memicu kerusakan synovial membrane sehingga vaskularisasi dan infiltrasi sel-sel meningkat pada sel T CD4+, mengaktivasi makrofag, memproduksi sitokin TNF-α dan terjadi inflamasi. Selain itu, faktor-faktor pro-inflamasi juga terinduksi dan dilepaskan ke dalam rongga sendi, seperti Nitric Oxide, IL-1b, dan TNF-α lalu menginduksi kondrosit dengan cara menempel pada reseptor di permukaan kondrosit dan menyebabkan transkripsi gen MMP sehingga produksi enzim meningkat. Akibatnya, sintesis matriks terhambat dan apoptosis sel meningkat.
Ada beberapa para ahli menggunakan alternatif lain sebagai terapi osteoartritis yaitu dengan menggunakan minyak ikan lemuru. Minyak ikan lemuru memiliki kandungan EPA dan DHA yang dapat menurunkan mediator resorbsi tulang prostaglandin (PGE2) dan sitokin proinflamasi (IL-1α, IL-1β, TNF-α). Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh minyak ikan lemuru terhadap ekspresi TNF-α pada kartilago yang diinduksi oleh CFA.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian True Eksperimental dengan menggunakan The Randomized Post Test Only Kontrol Group Design, dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 di laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember, di laboratorium Biokimia dan Parasit Fakultas Kedokteran Universitas Jember serta di laboratorium Patologi Anatomi dan Fisiologi Universitas Brawijaya. Sampel yang digunakan adalah tikus Sprague Dawley bewarna putih, jenis kelamin jantan dengan berat 200-300 gram dan berumur 3-5 bulan. Jumlah sampel adalah 24 ekor tikus yang terbagi kedalam 2 kelompok, yaitu: kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok terbagi menjadi 3 sub kelompok berdasarkan lama pemberian minyak ikan lemuru yaitu kelompok 1 diberikan minyak ikan lemuru selama 7 hari, kelompok 2 selama 14 hari dan kelompok 3 selama 21 hari. Pada awalnya, semua kelompok diinduksi CFA dengan dosis 0,08 ml secara intra-artikular pada sendi tibiofemoral kaki kanan. Setelah 6 minggu pasca induksi CFA, kelompok perlakuan di berikan minyak ikan lemuru selama 7, 14 dan 21 hari, lalu di dekapitasi bersamaan dengan kelompok kontrol negatif berdasarkan waktu pemberian minyak ikan lemuru. Selanjutnya pengambilan dan pembuatan preparat jaringan sendi tibiofemoral serta pewarnaan Imunohistokimia dan pengamatan ekspresi TNF-α. Ekspresi TNF-α didapatkan dari skor histologi. Variabel bebas pada penelitian ini adalah lama pemberian minyak ikan lemuru dan variabel terikat adalah ekspresi TNF-α.
Data berupa skor histologi ekspresi TNF-α diuji normalitasnya dengan uji Saphiro Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p>0,05), dilanjutkan dengan uji homogenitas menggunakan Levene Test menunjukkan data memiliki varian sama (p>0,05) dan diuji One Way Anova dengan nilai sig 0,000 yang menunjukkan terdapat perbedaan skor TNF-α yang bermakna pada kelompok yang dibandingkan yaitu antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan dalam tiap waktu 7 hari, 14 hari maupun 21 hari. Selain itu, perbandingan antara kelompok perlakuan dalam setiap waktu, diduga kelompok perlakuan yang diberikan minyak ikan lemuru selama 21 hari yang memiliki skor TNF-α paling kecil dibandingkan pada pemberian minyak ikan lemuru selama 7 hari dan 14 hari. Hal ini dikarenakan semakin lama pemberian minyak ikan lemuru maka akan semakin meningkat kadar EPA dan DHA dalam jaringan sehingga daya hambat proses inflamasi minyak ikan semakin baik bagi persendian.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa minyak ikan lemuru dapat menurunkan ekspresi TNF-α dan waktu yang efektif dalam menurunkan TNF-α adalah 21 hari
Efek Toksisitas Pemberian Ekstrak Etanol Daun Singkong (Manihot Ezculenta) Terhadap Kadar Sgot Dan Sgpt Pada Tikus Wistar Betina
Indonesia merupakan negara yang kaya akan flora dan fauna. Banyak
tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat alami. Sumber alami yang
juga banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah daun singkong (Manihot
ezculenta). Namun, selain memiliki manfaat sebagai antioksidan, tidak menutup
kemungkinan terdapat efek toksik dari penggunaan daun singkong. Hidrogen
sianida (HCN) atau asam sianida merupakan racun pada daun singkong. Asam
sianida yang masuk ke dalam tubuh dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh
oleh darah, termasuk organ hati, sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada
organ hati. Salah satu jenis pemeriksaan yang sering dilakukan untuk mengetahui
adanya kerusakan pada hati adalah pemeriksaan enzim transaminase, yakni serum
glutamat piruvat transaminase (SGPT) dan serum glutamat oksaloasetat
transaminase (SGOT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya efek
toksisitas pemberian daun singkong terhadap kadar SGOT dan SGPT pada tikus
Wistar betina. Jenis penelitian ini adalah true experimental design dengan
rancangan penelitian Post Test Only Control Group Design. Berdasarkan panduan
dari OECD 420, metode penelitian yang digunakan adalah uji toksisitas dengan
metode fixed dosed. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 10 ekor
tikus, dengan 2 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol (Kn) dan kelompok
perlakuan 1 (P1). Kadar SGOT dan SGPT diukur dengan menggunakan metode
optimized UV test. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan menggunakan
uji T-test
Rata-rata kadar SGOT pada kelompok kontrol sebesar 110,4 IU/L dan ratarata kadar pada kelompok perlakuan sebesar 111 IU/L. Kelompok kontrol dan
kelompok perlakuan memiliki rata-rata kadar SGOT yang normal karena kadar
normal SGOT pada tikus betina sekitar 69 – 203 IU/L. Sedangkan rata - rata kadar
SGPT pada kelompok kontrol sebesar 70,8 IU/L dan pada kelompok perlakuan sebesar 67,6 IU/L. Kedua kelompok penelitian, kontrol dan perlakuan sama – sama
mengalami peningkatan kadar SGPT diatas nilai normal karena kadar normal SGPT
pada tikus betina sekitar 16 – 48 IU/L. Sesuai hasil uji independent t test pada kadar
SGPT, diperoleh nilai significancy sebesar 0.59 (p>0.05) sedangkan pada kadar
SGOT diperoleh nilai 0.972 (p>0.05), yang berarti tidak didapatkan perbedaan
kadar SGOT dan SGPT antara kelompok kontrol dan perlakuan.
. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada dosis 2000 mg/kgBB,
ekstrak daun singkong tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar
SGOT dan SGPT pada kelompok kontrol dan perlakuan
- …
