1,720,983 research outputs found
PENGELOLAAN LABORATORIUM IPA STUDI DI SMP NEGERI 80 JAKARTA TIMUR
Penelitian ini bertujuan mengkaji pelaksanaan pengelolaan laboratorium IPA di SMP Negeri 80 Jakarta Timur. Dalam peneliti ini dicoba untuk mendapatkan jawaban masalah yang ada, serta mengetahui dan mengungkapkan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakkan (actuating)/pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling) laboratorium IPA di SMP Negeri 80 Jakarta Timur. Pendekatan penelitian ini ditekankan kepada pendekatan kualitatif dengan teknik sampling purposive. Peneliti melakukan wawancara terhadap 5 (lima) nama subjek dari pihak sekolah SMP Negeri 80 Jakarta Timur yaitu :1 (satu) kepala laboratorium, 3 (tiga) guru IPA, dan 1 (satu) laboran, serta 6 (enam) nama subjek siswa SMP Negeri 80 Jakarta Timur.Hasil penelitian, dalam pendidikan IPA kegiatan laboratorium merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan laboratorium untuk mencapai tujuan pendidikan IPA. Tapi kenyataannya, pemanfaatan keadaan laboratorium IPA di SMP Negeri 80 Jakarta Timur masih sangat minim. Laboratorium tidak digunakan dengan maksimal dan pemanfaatan pengelolaannya sebagi sumber belajar belum optimal. Disebabkan karena kemampuan dan penguasaan laboran terhadap peralatan masih belum memadai, banyaknya alat-alat laboratorium dan bahan yang sudah rusak yang belum diadakan kembali dan tidak cukupnya/terbatasnya alat-alat dan bahan mengakibatkan tidak setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar untuk mengadakan eksperimen.Kesimpulan adalah pelaksanaan pengelolaan laboratorium yang berkaitan dengan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakkan (actuating)/pengarahan (directing) dan pengawasan (controlling) laboratorium IPA di SMP Negeri 80 Jakarta Timur belum optimal. Tidak menetapkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan, belum terakomodir dengan baik antara seluruh pemakai laboratorium, penggerakkan/pengarahan di laboratorium IPA belum maksimal, terlihat laboran yang tidak selalu berada di laboratorium. Kegiatan memonitori dan mengevaluasi laboratorium IPA juga belum terlaksana dengan baik, terlihat dari kondisi laboratoriumnya yang belum optimal.Kata Kunci : pengelolaan, laboratorium, IP
Metode Penelitian dan statistik :untuk perkuliahan,penelitian mahasiswa sarjana,dan pascasarjana
23cm;238ha
PENULISAN ARTIKEL ILMIAH PADA JURNAL SUATU KAJIAN PADA KEBIJAKAN DIRJEN DIKTI AKIBAT PENGARUH GLOBALISASI PADA ANALISIS KEBIJAKAN PENDIDIKAN
HUBUNGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN PROFESIONALISME GURU (STUDI KASUS DI SMA NEGERI 47 JAKARTA)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dengan profesionalisme guru di SMA Negeri 47 Jakarta. Variabel independen adalah kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi, sedangkan variabel dependen adalah profesionalisme guru. Populasi penelitian adalah guru-guru SMA Negeri 47 Jakarta sebanyak 68 orang guru, dan sampelnya sebanyak 40 orang. Metode penelitian adalah penelitian survei dengan pendekatan korelasional.Instrumen pengumpulan data adalah koesioner. Uji coba instrumen dilakukan pada 20 orang. Instrumen memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas. Analisis reliabilitas dengan Alpha Cronbach diperoleh, rx1 = 0,954; rx2, 0,906 dan ry = 0,829; yang berarti instrumen dapat dipertanggungjawabkan. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi dan regresi.Hasil penelitian adalah; (1)Terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan profesionalisme guru, karena: koefisien r hitung yang ada sebesar 0.763 pada taraf 􀄮 = 0,582, dan besarnya hubungan 58,2%. (2)Terdapat hubungan positif dan signifikan antara budaya organisasi dengan profesionalisme guru, karena: koefisien korelasi r hitung sebesar 0,497 pada taraf 􀄮 = 0,247, dan besarnya hubungan 24,7%. (3)Terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi secara bersama-sama dengan profesionalisme guru, karena: koefisien r hitung sebesar 0,791 dan besarnya hubungan 62,5%.Kesimpulan penelitian adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru di SMA Negeri 47 Jakarta, perlu dilakukan penerapan kepemimpinan transformasional secara berkelanjutan, dan pada saat yang sama pula perlu peningkatan pemahaman guru terhadap budaya organisasi sekolah. Manakala secara bersama-sama penerapan kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dipahami maka profesionalisme guru akan meningkat.Kata kunci : kepemimpinan transformasional, budaya organisasi, profesionalism
HUBUNGAN KEMAMPUAN KEPALA SEKOLAH DAN DISIPLIN KERJA GURU DENGAN KINERJA GURU DI SEKOLAH YAYASAN MAHANAIM KECAMATAN RAWALUMBU KOTA BEKASI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemampuan kepala sekolah dan disiplin kerja guru dengan kinerja guru. Tempat penelitian di sekolah Yayasan Mahanaim Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi. Populasi penelitian adalah para guru dari 3 sekolah Yayasan Mahanaim Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi sebanyak 70 guru. Teknik pengambilan sampel adalah propotional randomized sampling atau pengambilan sampel acak dengan memperhitungkan proporsi jumlah guru untuk setiap sekolah sehingga diperoleh sebanyak 20 orang untuk sampel uji coba dan 50 orang untuk sampel penelitian. Instrumenpenelitian adalah angket, dan memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas. Analisis data mempergunakan uji korelasi dan regresi.Hasil penelitian adalah: (1) Terdapat hubungan yang positif antara kemampuan kepala sekolah dengan kinerja guru, dengan koefisien korelasi sebesar 0.223 dan koefisien determinasi sebesar 0.050 (2) Terdapat hubungan yang positif antara disiplin kerja guru dengan kinerja guru, dengan koefisien korelasi sebesar 0.202 dan koefisien determinasi sebesar 0.041 (3) Terdapat hubungan yang positif antara kemampuan kepala sekolah dan disiplin kerja guru secara bersama-sama dengan kinerja guru, dengan koefisien korelasi berganda sebesar 0,277 dan koefisien determinasi sebesar 0.077.Kesimpulannya adalah kinerja guru dapat ditingkatkan melalui usaha peningkatan kemampuan kepala sekolah dan disiplin kerja guru yang lebih baik. Usaha untuk meningkatkan kemampuan kepala sekolah yaitu dengan memotivasi, mempengaruhi, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan/kemajuan sekolah, komitmen untuk meraih prestasi kerja, memilih pelaksanaan kerja yang terbaik, memecahkan masalah yang adaptif, antisipatif dan bersinergi. Usaha untuk meningkatkan disiplin kerja guru dapat dilakukan dengan sikap mental yang taat, tertib dan kesadaran dari dalam dirinya untuk menjalankan tugas dan wewenangnya, bekerja dengan baik, tekun, rajin dan berdedikasi tinggi, selalu hadir tepat waktu, pengendalian diri dari penyimpangan aturan maupun peraturan yang telah ditentukan.Kata Kunci : Kemampuan, disiplin, dan kinerja gur
Metode penelitian dan statistik : untuk perkuliahan, penelitian mahasiswa sarjana, dan pascasarjana
vi, 238 hal.: ill, tab.; 23 cm
MANAJEMEN PRIBADI GURU MENJADI KUNCI TERWUJUDNYA AKHLAK MULIA PESERTA DIDIK MENUJU GENERASI EMAS 2045
Tujuan penulisan adalah untuk memberikan pemahaman kepada para guru di Indonesia agar menyadari bahwa mereka merupakan komunitas yang unik dan luar biasa penting bagi bangsa Indonesia tercinta ini. Dikatakan demikian karena seluruh tindakan hidup para guru akan sangat mempengaruhi akhlak kehidupan masyarakat di lingkungan sekitarnya.Guru di dalam kehidupan nyata, sesuai dengan profesinya memberikan kompetensi kehidupan kepada masyarakat, kususnya para peserta didik, berupa pengetahuan untuk meningkatkan kecerdasan, keterampilan untuk dapat terampil mengelola kehidupan di lapangan, dan sikap hidup untuk dapat berinteraksi secara harmonis dengan masyarakat sekitarnya.Fokus kajian penulisan adalah pada manajemen pribadi guru yang menjadi kunci untuk mewujudkan akhlak mulia peserta didik. Subfokus adalah mengenal diri sendiri sebagai guru, interaksi harmonis dengan peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, dan masyarakat di lingkungan sekitar. Permasalahannya adalah bagaimana mengelola diri pribadi guru untuk menjadi model pembentukan akhlak mulia peserta didik? Pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik, yang merupakan generasi muda usia produktif, akan terwujud manakala para gurunya menjadi model dan teladan akhlak mulia bagi mereka.Manajemen diri sendiri sebagai pribadi guru yang baik menjadi kunci terwujudnya akhlak mulia peserta didik menuju generasi emas tahun 2045. Untuk itu guru harus dapat mengelola dirinya sendiri untuk berakhlak mulia, dan diwujudkan melalui: penampilan yang disiplin, tingkah laku yang ramah, rendah hati, penyayang, interaksi harmonis dengan sesama guru, kepala sekolah, dan lingkungan sekitar, sehingga menjadi contoh teladan bagi peserta didiknya. Diharapkan adanya pribadi guru yang dapat menjadi model dan teladan akhlak mulia bagi para peserta didik. Indonesia membutuhkan guru yang berakhlak mulia dan menjadi panutan peserta didik, yaitu perkataan dan perbuatannya konsisten.Kata kunci : manajemen, pribadi guru, akhlak mulia, peserta didi
- …
