27 research outputs found
Modul Praktikum Keperawatan Komplementer
Penerbit KSU Mulia Husada (KMH) Lumajang, 2019Modul ini menjelaskan khusus tentang prosedur ketrampilan
komplementer mulai dari pengenalan tentang komplementer dan beberapa
prosedur pembuatan bahan herbal berkasiat obat seperti salep, infusa dan
serbuk yang diolah dari tanaman herbal serta terapi komplementer yang
lain seperti pijat bayi, terapi murottal Al-Quran, terapi food combining, dan
terapi Progresive Muscle Relaxation (PMR), sehingga mahasiswa dapat
memanfaatkan tanaman herbal disekitar, dan dapat mengaplikasikan pada
diri sendiri serta dapat diaplikasikan pada masyarakat. Dalam pendidikan
keperawatan mahasiswa diharapkan dapat mengkombinasikan ketrampilan
teknik dengan pengetahuan dan mengaplikasikannya pada setting
laboratorium serta setting klinik nantinya dan juga dengan menggunakan
pendekatan melalui keperawatan komplemeter sebagai tambahannya. Maka
metode pembelajaran berpusat mahasiswa (SCL) dalam pembelajaran ini
diharapkan dapat membekali mahasiswa sampai lulus dan berkiprah dalam
pembangunan masyarakat kesehatan
Modul Praktikum Metodologi Keperawatan
Lumajang: KSU Mulia Husada (KMH), 2019Modul ini menjelaskan tentang pembelajaran dalam kegiatan
praktikum Metodologi Keperawatan. Setting pelaksanaan
proses pembelajaran praktikum Metodologi Keperawatan di
Laboratorium atau dengan mempelajari kasus di tatanan klinis
secara nyata. Mahasiswa diharapkan dapat berpikir kritis dalam
melakukan proses asuhan keperawatan dengan memiliki
kognitif skill, tecnical skill dan personal skill dengan baik
Modul Praktikum Keperawatan Anak (Edisi 1)
Modul ini menjelaskan tentang pembelajaran dalam kegiatan
praktikum Keperawatan anak sesuai dengan Kurikulum Pendidikan D-III
Keperawatan. Modul ini dapat digunakan sebagai pedoman bagi Dosen dan
mahasiswa dalam melaksanakan proses pembelajaran di Laboratorium
sebelum lapangan/klinik. Mahasiswa diharapkan dapat
mengkombinasikan pengetahuan dengan ketrampilan tekhnik dan
mengaplikasikannya pada setting laboratorium maupun klinik.
Penyusun mempunyai harapan besar modul ini dapat memberikan
manfaat dan dapat membantu mahasiswa dalam pembelajaran
keperawatan anak sebelum praktik di Lapangan atau klinik sehingga tujuan
kesehatan dan peningkatan derajat kesehatan anak tercapai dengan
optimal
Asuhan Keperawatan Bronkopneumonia Pada An. G Dan An. N Dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Di Ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang 2018
Bronkopneumonia merupakan peradangan yang terjadi pada bronkus dan
paru akan mengakibatkan peningkatan produksi mukosa dan peningkatan gerakan
silia pada lumen bronkus. Pada hal ini, penderita bronkopneumonia menunjukkan
gejala sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal, serta batuk kering dan produktif
sehingga produksi sekret menjadi meningkat dan mengkibatkan ketidakefektifan
bersihan jalan nafas. Perubahan tersebut akan berdampak pada penurunan jumlah
oksigen yang dibawa oleh darah. Penurunan itu yang secara klinis penderita
mengalami pucat sampai sianosis dan dapat berakibat penurunan kemampuan
mengambil oksigen. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bekerja,
sehingga penderita bisa meninggal. Oleh sebab itu, brokopneumonia menjadi
penyebab kematian anak tertinggi ke 6 di Indonesia, yang mana hampir 30%
terjadi pada anak usia balita dan 16-22% per 1000 anak terjadi pada anak usia 5-9
tahun
Asuhan Keperawatan Bronkopneumonia Pada An. S Dan An. D Dengan Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Di Ruang Bougenville Rsud Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018
Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2011, jumlah penderita Bronkopneumonia pada balita di Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat kedua di Indonesia sedangkan angka kematian balita di Jawa Timur akibat Bronkopneumonia menduduki peringkat ke-6 di Indonesia. Proses peradangan dari proses penyakit Bronkopneumonia mengakibatkan produksi sekret meningkat sampai menimbulkan manifestasi klinis yang ada sehingga muncul masalah keperawatan utama yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif. Bersihan jalan nafas tidak efektif merupakan keadaan dimana individu tidak mampu mengeluarkan sekret dari saluran nafas untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas.
Tujuan laporan kasus ini adalah mengeksplorasi Asuhan Keperawatan By. S dan By. D yang mengalami Bronkopneumonia dengan Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif di Ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018. Intervensi yang dilakukan yaitu mengobservasi tanda-tanda vital, mengatur posisi dengan memberikan bantalan di bawah kepala, memberikan HE kepada keluarga supaya keluarga meningkatkan kebutuhan hidrasi klien, kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi, evaluasi dan tetap monitoring tanda-tanda vital setiap 2 jam.
Hasil yang didapatkan pada hari ke-3 masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada kedua partisipan teratasi, ditandai dengan suara nafas yang bersih, tidak ada dispneu (mampu bernafas dengan mudah), menunjukkan jalan nafas yang paten (irama nafas reguler, frekuensi pernapasan normal 30-40 kali per menit, tidak ada suara nafas abnormal (ronchi)) dan tidak ada retraksi dinding dada.
Dari hasil di atas diharapkan kepada keluarga harus dapat menghindari faktor yang dapat menyebabkan kekambuhan pada bronkopneumonia pada anak dan jika di temukan anak pada bronkopneumonia ini terjadi sesak segara membawa ke pelayanan kesehatan terdekat. Bagi perawat diharapkan perawat dalam menangani pasien anak dengan bronkopneumonia dapat melibatkan keluarga terutama pada pengaturan posisi, sehingga keluarga memahami bagaimana posisi yang tepat untuk pasien anak dengan bronkopneumonia. Bagi penulis selanjutnya diharapkan penulis selanjutnya tentang masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas ini terutama dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasinya, misal ASI yang diberikan melalui NGT sebaiknya segera diberikan dalam keadaan hangat
Asuhan Keperawatan Bronkopneumonia Pada An. G Dan An. N Dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Di Ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang 2018
Bronkopneumonia merupakan peradangan yang terjadi pada bronkus dan
paru akan mengakibatkan peningkatan produksi mukosa dan peningkatan gerakan
silia pada lumen bronkus. Pada hal ini, penderita bronkopneumonia menunjukkan
gejala sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal, serta batuk kering dan produktif
sehingga produksi sekret menjadi meningkat dan mengkibatkan ketidakefektifan
bersihan jalan nafas. Perubahan tersebut akan berdampak pada penurunan jumlah
oksigen yang dibawa oleh darah. Penurunan itu yang secara klinis penderita
mengalami pucat sampai sianosis dan dapat berakibat penurunan kemampuan
mengambil oksigen. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bekerja,
sehingga penderita bisa meninggal. Oleh sebab itu, brokopneumonia menjadi
penyebab kematian anak tertinggi ke 6 di Indonesia, yang mana hampir 30%
terjadi pada anak usia balita dan 16-22% per 1000 anak terjadi pada anak usia 5-9
tahun
PENERAPAN PELAYANAN KEPERAWATAN ISLAMI TERHADAP TINGKAT KEPUASAN PASIEN (Studi Kasus di Rumah Sakit Islam Lumajang)
Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden perempuan,
responden sebagian besar berusia 26–45 tahun (usia dewasa) dan sebagian besar
tingkat pendidikan responden SMA atau sederajat. Sebagian besar Pelayanan
Keperawatan Islami tahap orientasi, kerja dan terminasi di Rumah Sakit Islam
Lumajang adalah baik, dan sebagian besar tingkat kepuasan pasien di Rumah
Sakit Islam Lumajang adalah baik. Hasil uji spearmen rank didapatkan bahwa
terdapat hubungan secara sinifikan antara Pelayanan Keperawatan Islami baik
pada tahap orientasi, kerja dan terminasi dengan tingkat kepuasan pasien di
Rumah Sakit Islam Lumajang p = 0.000. Hasil uji regresi ordinal didapatkan
bahwa terdapat pengaruh yang bermakna pada semua tahap Pelayanan
Keperawatan Islami baik pada tahap orientasi, kerja dan terminasi terhadap
tingkat kepuasan pasien di Rumah Sakit Islam Lumajang dengan p <0.05 dan
wald >3.84/df (orintasi p = 0.000, atau wald 14. 274; kerja p = 0.000 atau wald
12.230; terminasi p = 0.000 atau wald 20.850).
Pelayanan Keperawatan Islami yang paling berpengaruh terhadap tingkat
kepuasan pasien berdasarkan Pelayanan Keperawatan Islami adalah tahap
terminasi. Tahap terminasi memberikan pengaruh yang paling bermakna karena
tahap terminasi mampu membangkitkan self confident (rasa percaya diri pasien),
optimisme pasien untuk sembuh, dan meningkatkan motivasi pasien. Selain itu,
pasien merasa diperhatikan, aman dan nyaman, serta merasa tenang karena
mendapatkan Pelayanan Keperawatan dari perawat yang bertanggung jawab,
amanah, dan berperilaku sesuai dengan norma dan etika Keperawatan yang
berlandaskan Agama Islam. Pelayanan Keperawatan Islami dapat diterapkan
perawat di rumah sakit dalam meningkatkan kepuasan pasien
Asuhan Keperawatan Pneumonia pada An. N dan An. A dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di Ruang Bougenville RSUD Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang atau peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh mikoorganisme seperti bakteri, virus, jamur, parasit namun pneumonia juga dapat disebabkan oleh bahan kimia ataupun karena paparan fisik seperti suhu atau radiasi. Peradangan parenkim paru disebabkan oleh selain mikroorganisme (fisik, kimiawi, alergi) sering disebut sebagai pneumonistis. Masalah akibat pneumonia adalah adanya penumpukan sputum pada saluran pernapasan pasien dapat memproduksi banyak mukus dan pengentalan cairan alveolar, peningkatan produksi sputum ini yang akan menyebabkan gangguan kebersihan jalan nafas jika dibiarkan dalam waktu yang lama akan menyebabkan hipoksemia lalu berkembang menjadi hipoksia berat dan penurunan kesadaran. Cakupan penemuan dan penanganan pneumonia pada balita di Kabupaten Lumajang pada tahun 2014 dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 3.458 kasus, baik yang ditemukan di Puskesmas, sarana pelayanan kesehatan swasta dan rumah sakit, karena besarnya jumlah kematian pneumonia disebut sebagai pandemi yang terlupakan. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah mengeksplorasi asuhan keperawatan pada anak pneumonia dengan masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas di Ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang. Desain yang digunakan Deskriptif dengan pendekatan studi kasus serta melakukan asuhan keperawatan pada pasien pneumonia dengan meningkatkan bersihanjalan napas yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian dilakukan kepada dua orang klien yang sudah terdiagnosa pneumonia pada rekam medik pasien. Data yang dikumpulkan dengan cara wawancara dengan pasien dan keluarga, observasi dan pemeriksaan fisik serta studi dokumentasi. Hasil penelitian asuhan keperawatan pada kedua pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan tindakan berupa fisioterapi dada (clapping), menganjurkan minum air hangat dan mengedukasi keluarga tentang penyakit pneumonia dapat terpenuhi dibuktikan dengan sekresi berkurang, auskultasi menunjukkan menurunan bunyi nafas tambahan weezing. Dari hasil penelitian diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan dan mengoptimalkan keterampilan untuk melaksanakan terapi yang berhubungan pada pneumonia dengan masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Selain itu tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan health education kepada pasien dan keluarga tentang pneumonia pada anak untuk meningkatkan pengetahuan keluarga sehingga keluarga dapat memahami faktor dari penyebab terjangkit pneumonia dan dapat mencegah sehingga untuk tidak terjangkit penyakit yang sama
Asuhan Keperawatan Bronkopneumonia Pada An. S Dan An. D Dengan Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Di Ruang Bougenville Rsud Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018
Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2011, jumlah penderita
Bronkopneumonia pada balita di Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat
kedua di Indonesia sedangkan angka kematian balita di Jawa Timur akibat
Bronkopneumonia menduduki peringkat ke-6 di Indonesia
Asuhan Keperawatan Anak Bronkopneumonia pada An. D dan An. J dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di Ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018
Penyakit infeksi masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian pada anak-anak khususnya Infeksi saluran pernafasan termasuk bronkopneumonia. Insidensi penyakit infeksi meningkat 40% dari tahun 2014. Di Indonesia sendiri berdasarkan survei 15% kematian balita yaitu masih disebabkan oleh infeksi yakni infeksi saluran pernafasan yang bersifat akut. Biasanya batuk tidak efektif dan menyebabkan hidung tersumbat, anak usia < 5 tahun tidak dapat mengatur bersihan jalan nafas secara mandiri sehingga anak yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan nafas ini berisiko tinggi untuk sesak nafas dan meninggal. Masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan napas yaitu individu mengalami ancaman pada kondisi pernafasan terkait anak dengan ketidakmampuan batuk secara efektif yang disebabkan akumulasi sekret. Dampak dari penumpukan sekret ini dapat mengganggu jalan nafas dan dapat menimbulkan gejala berupa sesak nafas pada anak. Jika infeksi kuman tersebut tidak ditangani terdapat komplikasi berupa sianosis karena sesak akibat penumpukan sekret yang berlebih sehingga memerlukan perawatan, pada kasus yang berat dan bayi atau anak biasa mengalami gagal jantung yang menyebabkan kematian. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada kedua pasien yaitu dengan teknik interview/ wawancara pada keluarga pasien karena pasien berusia < 5 tahun. Teknik kedua yaitu teknik observasi kondisi klinis pada anak khususnya tanda-tanda ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Teknik dokumentasi juga penting dilakukan dengan meninjau pemeriksaan penunjang pada pasien.
Pengkajian keperawatan yang dilakukan pada pasien anak Bronkopneumonia dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas memiliki 10 batasan karakteristik dengan adanya suara nafas tambahan berupa ronkhi, perubahan irama dan frekuensi pernafasan, sianosis, kesulitan untuk berbicara, penurunan suara nafas, batuk tidak efektif atau tidak ada, ortopnea, mata terbelalak dan gelisah. Intervensi dan Implementasi keperawatan yaitu memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, melakukan fisioterapi dada berupa clapping, auskultasi suara nafas, terapi kolaborasi oksigenisasi, farmakologi dengan bronkodilator dan nebulizer, pemantauan pernafasan dengan selalu memantau di sistem pernafasan pasien. Evaluasi yang didapatkan anak bronkopneumonia dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas yaitu dalam 3 hari perawatan didapatkan 3 dari 7 kriteria hasil yang dapat diselesaikan yaitu irama nafas reguler, frekuensi pernafasan dan kedalaman inspirasi. Saran bagi penulis selanjutnya perawatan pada pasien Bronkopneumonia dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas membutuhkan waktu lebih dari 3 hari untuk mencapai terpenuhinya keseleuruhan dari kriteria hasil yang direncanakan
