24 research outputs found

    Peningkatan Kelarutan Kurkumin dari Serbuk Kunyit (Curcuma longa Linn.) dalam Air Melalui Modifikasi Struktur sebagai Micelle dengan Asam Sitrat

    Full text link
    Kurkumin merupakan senyawa aktif yang memiliki banyak manfaat, salah satunya dapat meningkatkan imun tubuh. Kekurangan kurkumin sebagai senyawa aktif adalah sifatnya yang cepat tereliminasi, sulit terabsorpsi, dan cepat termetabolisme. Hal ini yang menyebabkan kurkumin memiliki keterbatasan yaitu bioavailabilitasnya yang rendah dalam darah. Peningkatan bioavailabilitas kurkumin dapat dilakukan dengan memodifikasi struktur dalam berbagai bentuk sediaan obat seperti bentuk misel. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi struktur kurkumin sebagai misel dengan modifier asam sitrat. Analisa permodelan polinomial orde dua pada penelitian ini berdasarkan persamaan matematis dalam program Design Expert ver. 10. Respon yang dihasilkan merupakan 13 variasi konsentrasi serbuk kunyit (%w/v) dan waktu pemanasan refluks (min) yang siap running. Berdasarkan hasil analisa, model yang disarankan dari program untuk respon kadar kurkumin adalah quadratic dengan p-value yang dimiliki kurang dari 0,05. Kondisi optimal untuk menghasilkan misel KUR-AST dari serbuk kunyit adalah konsentrasi serbuk kunyit sebesar 3,30% dengan pemanasan refluks selama 30 menit. Misel KUR-AST optimal yang diuji dapat meningkatkan kelarutan kurkumin dalam air hingga 134,6 kali lipat dibandingkan dengan kontrol ekstrak etanol kunyit

    Peningkatan Kelarutan Kurkumin dari Serbuk Kunyit (Curcuma Longa Linn.) dalam Air melalui Sistem Dispersi Padat dengan Asam Sitrat

    No full text
    Kurkumin merupakan senyawa aktif yang memiliki berbagai manfaat dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Kurkumin termasuk ke dalam golongan obat BSC (Biopharmaceutical Classification system) kelas II yang kelarutannya sangat rendah didalam air. Sistem dispersi padat merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kelarutan kurkumin didalam air, dimana sistem tersebut terdiri dari satu atau beberapa zat aktif yang terdispersi pada keadadan padat dalam suatu zat pembawa. Pada penelitian ini dispersi padat dibuat dengan metode solvent evaporation dengan asam sitrat sebagai pembawa dengan membuat 13 variasi konsentrasi kunyit dan kecepatan ultraturax. Kadar kurkumin diukur dengan metode spektrofotometri. Dalam penelitian ini dilakukan uji kelarutan dengan metode High Performance Liquid Chromatography dan analisis data (optimasi) menggunakan design expert 10. Dari hasil analisis data menggunakan design expert 10, kondisi optimal pembentukan Dispersi Padat Kurkumin – Asam Sitrat adalah pada konsentrasi serbuk kunyit sebesar 2,3089% dengan kecepatan homogenisasi ultra turax sebesar 16400 rpm. Bedasarkan uji kelarutan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Dispersi Padat Kurkumin – Asam Sitrat dengan metode solvent evaporation belum dapat meningkatkan kelarutan kurkumin dalam pelarut air dan buffer fosfat pH 6

    Thermal Conductivity Measurement Experiment of Metal using Heat Sensor and Arduino

    Full text link
    The characteristics of metals are very important to know in order to get optimal utilisation. In this research, a system for measuring the heat propagation of various types of metals is developed. Measurements will be made using a number of LM35 sensors placed scattered on the metal to be tested. In this research, Arduino is used to read the data through ADC which then sends the data to the computer. The data is then processed simultaneously for several metal samples so that the heat propagation of each can be compared. The fixed parameters used in this research are the area of each plate and also the distance between the plates. Finally, the success of the method to measure the heat propagation of different metals is reported. Further results can be developed to identify different types of metals and their purity

    Simulasi Analisa Kelainan pada Paru-paru Menggunakan Algoritma JST Propagasi Balik

    Full text link
    Tubuh Manusia terdiri dari banyak sekali organ, salah satunya adalah paru-paru. Paru-paru termasuk organ penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat pernafasan pada manusia, paru-paru sendiri mempunyai beberapa peran penting, jika mengalami kelainan, maka peran penting paru-paru bisa terganggu. Oleh karena itu dibutuhkan pemeriksaan dini untuk mengetahui sejak dini apakah ada kelainan di paru-paru. Perlu deteksi dalam mengetahui kelainan pada paru-paru secara singkat untuk mendeteksi gangguan paru-paru. Untuk itu algoritma yang terkait dengan visi komputer dan pemrosesan gambar sangat penting untuk membantu deteksi dini pada paru-paru yang mempunyai kelainan. Pada analisa kali ini digunakan JST (Jaringan Syaraf Tiruan) dengan metode propagasi balik, JST sendiri terdiri dari tiga lapisan input,output,hidden dengan metode propagasi balik yang menjadi komponen penting dalam pelatihan jaringan syaraf tiruan. Visualisasi Citra memerlukan cropping,resizing untuk mendapatkan citra dengan pixel yang sesuai, thresholding untuk mengubah citra menjadi citra biner,median filter untuk mengurangi noise. Proses analisa citra paru-paru terdiri dari penginputan citra pada matlab yang diubah kedalam data matriks yang dijadikan sebagai data input(x). Terdapat dua hasil citra dari pengolahan picsart dan codding matlab, pengolahan data input terdiri dari 50 data input dengan memiliki hidden layer 10, output layer sama dengan 1,diberikan nilai error = 0 dan jumlah epoch 1000,serta jumlah neuron 10 yang bertujuan agar target output semakin akurat, mendekati target yang diharapkan. Jaringan syaraf tiruan sudah berhasil mengenali pola visualisasi citra paru-paru yang sehat dan mengalami kelainan, namun tidak dapat ditarik kesimpulan karna target yang diharapkan tidak dapat ditampilkan karena kurangnya support aplikasi Matlab R2014b pada perintah nntool

    Uji Coba Pembentukan Sinogram Menggunakan Sensor Tunggal

    Full text link
    Pada proses tomografi diperlukan sinogram sebagai data pembentuknya. Sinogram dalam hal ini akan memberikan informasi intensitas radiasi pada setiap sudut proyeksi radiasi untuk masing-masing sensor. Pada penelitian ini diajukan gagasan pembentukan sinogram menggunakan sensor tunggal. Sensor yang digunakan pada penelitian ini hanya mampu menerima paparan sumber radiasi pada satu arah dan akan dikembangkan metode pemecahan sensor menggunakan kurva distribusi. Algortima yang digunakan adalah membagi sensor menjadi 8 bagian titik serap radiasi. Pembagian sensor ini mengacu pada kurva distribusi normal, sehingga didapatkan 8 selang nilai sensor yaitu -0,05, -0,1, -0,15, -0,2, 0 , 0,2, 0,15, 0,1, dan 0,05 terhadap nilai rata-ratanya. Uji coba dilakukan dengan melakukan penyinaran awal pada sudut 0o sampai sudut 360o dengan kenaikan sudut sebesar 5o. Langkah berikutnya dilakukan penyinaran selama 60 detik. Data yang diambil adalah nilai yang diterima sensor pada saat detik ke 60. Hasil pengukuran semua sudut selanjutnya digunakan dalam pembentukan sinogram. Keberhasilan pembentukan sinogram dalam ujicoba ini menjadi langkah awal pembentukan tomografi yang lebih efisien pada tahap selanjutnya

    Analisis Akurasi Jarak Vertikal dan Horizontal CItra Ultrasonografi Menggunakan Phantom Berbasis Agar

    Full text link
    Uji kontrol kualitas ultrasonografi perlu dilakukan karena penggunaannya yang tinggi di rumah sakit, puskesmas, dan klinik untuk mendiagnosis penyakit. Salah satu uji kontrol kualitas pada ultrasonografi adalah keakurasian jarak vertikal dan horizontal. Namun dalam melakukan uji kontrol kualitas perlu adanya phantom ultrasound. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis keakurasian jarak vertikal dan horizontal menggunakan phantom berbahan dasar bubuk agar plain dan jarum spinal sebagai objek. Jarum disusun secara vertikal dan horizontal dengan masing-masing berjarak 2 cm. Saat pemindaian USG dilakukan variasi dengan mengubah nilai frekuensi, gain, dan TGC. Pengolahan citra menggunakan aplikasi Image-J dengan pilihan tools plot profile untuk menghitung jarak antar objek. Pada variasi frekuensi diperoleh rata-rata nilai akurasi jarak vertikal adalah 1.97 cm sehingga nilai kesalahan keakuraisan adalah 0.27 mm, dan rata-rata nilai akurasi jarak horizontal sebesar 1.92 cm sehingga nilai kesalahan keakurasian adalah 0.81 mm. Sedangkan untuk variasi gain diperoleh rata-rata nilai akurasi jarak vertikal adalah 1.95 cm sehingga nilai kesalahan keakurasian yaitu 0.47 mm, dan rata-rata nilai akurasi jarak horizontal yaitu 1.94 cm sehingga nilai kesalahan keakurasiannya adalah 0.57 mm. Pada variasi TGC diperoleh rata-rata niali akurasi jarak vertikal sebesar 1.97 cm sehingga nilai kesalahan keakurasian yaitu 0.34 mm, dan rata-rata nilai akurasi jarak horizontal adalah 1.97 cm sehingga nilai kesalahan keakurasian adalah 0.33 mm. Dari semua komponen uji menunjukkan bahwa memenuhi standar American Association of Physicists in Medicine (AAPM)

    Perbedaan Tingkat Pengetahuan tentang Menopause Sebelum dan Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan pada Ibu Usia 30 – 45 Tahun di Dusun Grompol Kabupaten Semarang

    Full text link
    Latar Belakang: Meningkatnya usia harapan hidup wanita setiap tahun berdampak pada peningkatan jumlah wanita yang mengalami menopause. Menopause merupakan suatu tahap kehidupan yang dialami setiap wanita yang masih dipengaruhi oleh hormon reproduksi menjelang usia 50 tahun. Pemberian pendidikan kesehatan sebagai upaya untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada individu, kelompok maupun masyarakat sehingga memperoleh pengetahuan melalui cara membaca dan mendengarkan. Pengetahuan yang kurang tentang menopause dapat menimbulkan berbagai masalah menjelang masa menopause. Tujuan penelitianini untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang menopause. Metodologi : Penelitian menerapkan desain penelitian Eksperimen Deskriptif Kuantitatif dengan rancangan one group pra test post test. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu usia 30 –45 tahun dan besar sampel sebanyak 26 partisipan. Metode pengumpulan data melalui kuesioner (angket). Analisa univariat berupa frekuensi dan proporsi. Analisa bivariat dengan test t perpasangan α = 0,05. Uji validitasnya menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment. Hasil Penelitian : Sebelum diberikan pendidikan kesehatan 10 responden (38,4%) dari 26 memiliki pengetahuan kurang. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan sebanyak 15 responden (57,7%) dari 26 responden memiliki pengetahuan baik. Hasil paired t testdiperoleh nilai p-value0,000. Dengan demikian ada perbedaan yang bermakna pada pengetahuan tentang menopause pada ibu usia 30 –45 tahun di Dusun Grompol sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu : umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, informasi dan sumber informasi

    Investigasi Difusi pada Sistem Urinari untuk Gangguan Fungsi Ginjal Model Empat Kompartemen Menggunakan Metode Monte Carlo

    Full text link
    Tidak diijinkan karya tersebut diunggah ke dalam aplikasi Repositori Perpustakaan Universitas karena telah proses in review di Jurnal Nasional Terakreditas (Jurnal Fisika dan Aplikasinya Institut Teknologi Sepuluh November).Ginjal merupakan sepasang organ pada sistem urinari yang berfungsi untuk menyaring darah dan pembentukan urin. Pembentukan urin yang dilakukan melalui salah satu proses yaitu reabsorpsi tubulus. Proses ini merupakan proses difusi baik secara pasif maupun terfasilitasi. Proses terjadi di tubulus pada ginjal dapat disimulasikan dengan menggunakan simulasi permodelan Monte Carlo Cell. Pembuatan model 4 kompartemen yang terdiri dari pembuluh darah, 2 ginjal dengan salah satu ginjal mengalami penurunan fungsi ginjal dan kandung kemih. Dua kompartemen ginjal dengan salah satu ginjal yang mengalami penurunan fungsi berpengaruh pada proses difusi yang terjadi saat proses reabsorpsi zat pada ginjal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari proses difusi yang terjadi pada ginjal dengan penentuan beberapa variabel tetap dan indikator yang akan diamati menggunakan simulasi Monte Carlo Cell. Penggunaan simulasi Monte Carlo Cell memungkinkan untuk mencoba segala probabilitas yang terjadi pada dalam proses difusi pada filtrasi, reabsorpsi dan sekresi dalam ginjal.Hasil dari penelitian menunjukan bahwa semakin sedikit jumlah lubang maka perpindahan molekul semakin lambat dan juga semakin sedikit jumlah molekul permukaan maka perpindahan molekul semakin lambat.Kidney is a pair of organ in our urinary system that function to filter blood and urine establishment through filtration, reabsorption and secretion process.Formation of urine is done through one of processes, named tubular reabsorption. This process is a process of diffusion, passively and facilitated. The process happens in tubular reabsorption in kidney can be simulated by using Monte Carlo Cell simulation. Making model of 4 compartments consist of blood vessel, 2 kidneys with one kidney experiencing decreased function of kidney and bladder. Two kidney compartments with one of it experiencing decreased function affect the diffusion process that happens in substance reabsorption process in kidney.The purpose of this research is to study the diffusion process which happens in kidney by selecting several fixed variable and indicators which will be inspected by using Monte Carlo Cell simulation. The use of Monte Carlo Cell simulation enable to try any probabilities that occur in diffusion process of filtration, reabsorption and secretion process in kidney. The result of this research shows that the fewer number of molecules, the slower the molecular displacement and also the fewer number of surface molecules, the slower the molecular displacements

    Studi Proses Deposit Gadolinium Pada Globus pallidus menggunakan monte carlo Cell

    Full text link
    Gadolinium adalah logam berat tanah jarang dari kelompok lantanida, dengan nomor atom 64 dan tujuh elektron tidak berpasangan yang mempunyai sifat paramagnetik dan dimanfaatkan sebagi kontras pada MRI. Gadolinium bersifat racun bagi tubuh jika digunakan langsung ke dalam tubuh. Oleh karena itu, untuk mengurangi toksisitas gadolinium, gadolinium diberikan dengan kelat sebelum digunakan secara medis.Gadolinium biasanya di injeksi melalui intravena kemudian berdifusi didalam tubuh dan akan diantar pada otak salah satunya globus pallidus dan akan diekskresikan melalui ginjal. Selain hal tersebut gadolinium tidak dapat diekskresikan melalui ginjal apabila terjadi deposit pada jaringan tubuh seperti pada otak. Proses deposit gadolinium dapat terjadi karena karena transmetalasi. Gadolinium yang menyebar melalui logam endogen , dan melalui proses pertukaran logam di mana logam endogen menarik kelat dan melepaskan gadolinium murni , gadolinium murni terdeposit di otak besar dan salah satunya terdeposit di globus pallidus . Proses difusi adalah mekanisme yang memindahkan zat dari konsentrasi tinggi ke rendah . Tubuh manusia merupakan tempat dimana banyak proses difusi dapat terjadi. Dalam penelitian ini , disimulasikan menggunakan metode sel Monte Carlo (Mcell) yang sangat akurat , yang dapat mensimulasikan pergerakan reaksi molekul intraseluler dan ekstraseluler pada tingkat sel . Mcell dapat disimulasikan berdasarkan proses difusi antar sel. Pada penelitian ini Variasi gadolinium 5.000 , 7.500 , dan 10.000 digunakan sebagai konsentrasi gadolinium saat berdifusi dari otak besar ke globus pallidus . Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat simpulkan bahwa molekul gadolinium yang semakin banyak akan menghasilkan molekul gadolinium murni yang terendap pada globus pallidus pallidus hal ini dibuktikan berdasarkan simulasi variasi 10.000, 7.500, 5.000 yang menghasilkan kecepatan perubahan molekul gadolinium menjadi molekul gadolinium murni pada globus pallidus antar ketiga variasi ini adalah 57,65 second/detik , 42,35 second/detik, 28,82 second/detik

    GULA DARAH PUASA DAN JUMLAH SEL BETA TIKUS DIABETES SETELAH PEMBERIAN TEMPE DAUN YAKON

    Full text link
    Diabetes  mellitus  adalah penyakit metabolik ditandai hiperglikemia  dan berpotensi terjadi komplikasi kronis pada organ tubuh. Tujuan penelitian menghitung kadar gula darah puasa (GDP) dan jumlah sel Beta pankreas dengan metoda Immunohystochemistry (IHC) pada tikus Sprague dawley yang diinduksi Streptozotocin setelah pemberian tempe daun Yakon (Smallanthus sonchifolia). Sejumlah 40 tikus jantan Sprague dawley usia 11-12 minggu dibagi menjadi 8 kelompok secara acak. Kelompok normal tidak mendapatkan perlakuan apapun. Kelompok DM (diabetes mellitus) mendapat induksi Streptozotocin, namun tidak mendapat tempe daun Yakon. Setelah induksi Streptozotocin 35 mg/kgbb, kelompok perlakuan 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, berturut-turut mendapat tempe mengandung daun Yakon dosis 200 mg (P1), 400 mg (P2), 800 mg (P3), tempe (P4), teh daun Yakon (P5) dan Metformin 500 mg (P6). Perlakuan diberikan 60 hari. Sebelum terminasi, tikus diambil darah untuk pemeriksaan kadar gula darah puasa. Setelah terminasi, pankreas diambil dan dibuat slide preparat metoda IHC serta dihitung jumlah sel Beta pankreasnya. Uji statistik dengan One-Way ANOVA  dan uji korelasi Pearson  menggunakan SPSS 19 dan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan GDP kelompok perlakuan P2 352 gr/dL terendah dibanding kelompok perlakuan lain. Sedangkan jumlah sel Beta pankreas, kelompok P2 (44) dan P3 (45) tertinggi dibanding kelompok perlakuan lain. Uji One Way ANOVA untuk kadar GDP kelompok normal-DM-P2 menunjukan bermakna (p=0,000). Uji One Way ANOVA untuk jumlah sel beta kelompok normal-DM-P2 menunjukan bermakna (p=0,048). Uji korelasi GDP dengan jumlah sel Beta Pankreas menunjukan kekuatan lemah (p=0,820; r=0,067). Pemberian tempe daun Yakon dosis 400 mg/kb BB mampu menurunkan GDP dan meningkatkan jumlah sel Beta pada tikus diabetes yang diinduksi Streptozotocin. Korelasi kadar GDP dengan jumlah sel Beta pankreas memiliki kekuatan yang lemah
    corecore