1,721,113 research outputs found
Penentuan Polifenol pada Madu Menggunakan Sistem Alir Multi-commutation dengan Deteksi Spektrofotmetri UV-Vis
Polifenol atau senyawa fenolik merupakan salah satu kelompok senyawa dengan ciri khas yaitu terdapat banyak gugus hidroksil dalam molekulnya. Polifenol berperan sebagai antioksidan karena kemampuannya dalam mereduksi radikal bebas. Senyawa polifenol salah satunya terdapat pada madu yaitu, antara lain flavonoid (quersetin, luteolin, kaempferol, apigenin, chrysin, galangin), asam fenolat, dan turunannya. Polifenol pada madu ini berfungsi sebagai zat antibakteri dan menjaga tubuh dari serangan radikal bebas yang bisa memicu penyakit kanker dan jantung. Berdasarkan uraian tersebut maka diperlukan analisis kadar polifenol secara kuantitatif untuk mengetahui kadar polifenol pada madu. Teknik analisis yang digunakan yaitu MCFIA (Multi-commutation Flow Injection Analysis). MCFIA adalah metode yang digunakan untuk menentukan kadar polifenol dan dikombinasikan dengan detektor spektrofotometri UV-Vis. MCFIA merupakan metode modifikasi FIA (Flow Injection Analysis) yaitu analisis kimia dengan cara menginjeksikan sejumlah volume sampel ke dalam suatu aliran carrier yang kemudian membawanya menuju detektor.
Teknik analisis MCFIA terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu: three-way selenoid valve, reaction coil, pompa peristaltik, dan detektor spektrofotometri UV-Vis. Komponen pendukung diantaranya komputer (software Labview 2018), Arduino Uno sebagai mikrokontroler, relay, power supply, dan webcam sebagai perekam data dari detektor. Pompa peristaltik akan menarik carrier (akuades) pada saat katup selenoid dalam keadaan mati menuju detektor sehingga menghasilkan suatu baseline. Three way valve solenoid secara bergantian diaktifkan dimana katup V1 untuk sampel atau larutan standar asam
ix
galat, katup V2 untuk larutan natrium karbonat 10%, dan katup V3 untuk reagen Folin-Ciocalteau. Pengaktifan katup selenoid yang secara bergantian dilakukan dengan memberikan suatu arus listrik dan menggunakan Arduino Uno sebagai mikrokontroler dan terhubung dengan software LabView.
Larutan yang keluar dari katup selenoid akan menuju ke mixing coil sehingga terjadi pencampuran yang kemudian menuju detektor spektrofotometri UV-Vis. Detektor akan mendeteksi dan akan memberikan respon berupa absorbansi yang direkam menggunakan webcam. Kerja dari webcam yaitu menggunakan teknik OCR (Optical Character Recognition). Teknik ini digunakan untuk mengubah file gambar yang diambil melalui webcam di tampilan layar absorbansi pada spektrofotometri UV-Vis, menjadi digital teks yaitu data dalam bentuk numeric pada komputer. Alat yang telah terangkai selanjutnya dilakukan optimasi volume injeksi larutan natrium karbonat 10% dan reagen Folin-Ciocalteau. Variasi volume injeksi yang digunakan adalah 75, 100, 125, 150 dan 175 μL, dengan panjang gelombang maksimum 660 nm, laju alir 25 μL/detik, dan diameter pipa 0,8 mm. Hasil optimasi diperoleh volume injeksi larutan natrium karbonat 10% dan reagen Folin-Ciocalteau adalah 150 μL dan 125 μL. Volume injeksi optimum digunakan untuk pengukuran larutan standar dan sampel.
Kinerja sistem alir MCFIA ditunjukkan dari beberapa kriteria pengukuran analitik, yaitu linieritas, sensitivitas, limit deteksi, repeatabilitas dan uji perolehan kembali. Linieritas dari persamaan y = 0,0022x + 0,0465 dengan koefisien korelasi sebesar 0,9985, sensitivitas sebesar 0,0022 absorbansi/ppm, limit deteksi sebesar 1,6 ppm, repeatabilitas kurang dari 2% dan uji perolehan kembali (% recovery) dari beberapa sampel madu tanpa merk, madu merk “Madu Rasa”, madu murni yaitu 120%; 89,2%; 118%. Volume injeksi berpengaruh terhadap nilai absorbansi serta puncak yang dihasilkan. Volume injeksi yang sesuai akan memberikan puncak dengan nilai absorbansi yang tinggi
Karakterisasi Aroma Kopi Robusta Argopuro Menggunakan Sensor Array Berdasarkan Variasi Suhu Penyeduhan
Kopi merupakan salah satu komoditi lokal yang ada di Jember, salah satunya kopi robusta Argopuro. Kopi memiliki kandungan dari beberapa senyawa volatil yang dapat mempengaruhi karakteristik aroma kopi itu sendiri. Aroma kopi sampai saat ini dikarakterisasi dengan cara melibatkan beberapa human tester dengan indera penciumannya. Cara ini menggunakan quality control yang sangat subjektif karena bergantung pada kemampuan, pemahaman, serta pengalaman masing-masing tester terhadap kopi robusta. Sehingga cara analisa aroma kopi dengan melibatkan human tester kurang bisa dijadikan acuan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis kopi berdasarkan aromanya. Oleh karena itu, diperlukan alternatif lain yang dapat digunakan untuk mengkarakterisasi jenis kopi berdasarkan aromanya, salah satunya dengan electronic nose/ gas sensor array. Tujuan penelitian untuk mengetahui pola respon gas sensor array terhadap aroma kopi Robusta Argopuro, pengaruh suhu terhadap pola sinyal gas sensor array, dan kinerja gas sensor array. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam deteksi aroma bubuk kopi menggunakan electronic nose/gas sensor array
Preparasi dan Karakterisasi Nanoselulosa dari Tongkol Jagung Secara Hidrolisis Asam
Jagung merupakan salah satu bahan makanan pokok dengan hasil produksi
yang tinggi dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat
pada umumnya hanya mengkonsumsi bagian daging jagung sedangkan bagian
lainnya kurang dimanfaatkan secara optimal, contohnya tongkol jagung. Tongkol
jagung memiliki kandungan selulosa sebesar 31% sehingga dapat dimanfaatkan
agar memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selulosa juga dapat diubah dalam
ukuran nanoselulosa untuk memperoleh sifat yang lebih unggul. Nanoselulosa
memiliki ukuran kurang dari 1000 nm, Keunggulan nanoselulosa yaitu memiliki
kemampuan dispersi serta biodegradasi dan peningkatan kristanilitas, aspek rasio
dan luas permukaannya. Pembuatan nanoselulosa dapat dilakukan dengan
beberapa metode yaitu secara mekanik, enzimatik dan kimiawi. Dalam penelitian
ini digunakan metode kimiawi secara hidrolisis asam. Penelitian ini bertujuan
untuk membuat nanoselulosa dari tongkol jagung dengan metode hidrolisis asam.
Dalam penelitian ini dikaji pengaruh konsentrasi asam sulfat terhadap sifat-sifat
nanoselulosa yang diperoleh yaitu struktur, ukuran dan jumlah gugus muatan pada
nanoselulosa.
Penelitian ini meliputi tiga tahapan yaitu: (1) isolasi selulosa dari tongkol
jagung (2) hidrolisis selulosa menggunakan asam sulfat dan (3) karakterisasi
nanoselulosa. Tahapan pertama dalam penelitian ini yaitu penghalusan sampel
tongkol jagung menggunakan grinder sehingga didapat serbuk berukuran 60 mesh.
Serbuk kemudian diproses delignifikasi menggunakan NaOH 3% dilanjutkan
bleaching menggunakan NaOCl
1,4%. Tahapan kedua dilakukan dengan
memvariasi konsentrasi asam sulfat 8,4 M; 9,4 M; 10,3 M dan 11,3 M dilanjut
dengan tahapan sonikasi dan menghasilkan suspensi nanoselulosa (selanjutnya
disebut NCC 8,4; NCC 9,4; NCC 10,3 dan NCC 11,3). Tahapan ketiga dilakukan
dengan beberapa analisis antara lain yaitu analisis gugus fungsi dengan Fourier
Transmission Infra Red (FTIR), analisis diameter partikel menggunakan Particle
Size Analyzer (PSA) dan penentuan jumlah gugus muatan pada permukaannanoselulosa dilakukan dengan titrasi konduktometri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses isolasi menghasilkan selulosa
berwarna putih dan hasil FTIR menunjukkan bahwa lignin dan hemiselulosa
sudah dihilangkan. Proses hidrolisis menyebabkan warna padatan nanoselulosa
hasil pengeringan dengan metode penentuan %padatan tersuspensi semakin gelapseiring dengan bertambahnya konsentrasi asam sulfat yang digunakan. Hasil FTIRnanoselulosa menunjukkan adanya perbedaan struktur pada selulosa setelah
hidrolisis dengan masuknya gugus sulfat. Peningkatan konsentrasi asam sulfat
membuat proses pemecahan daerah amorf selulosa semakin banyak sehinggamenghasilkan rata-rata diameter partikel yang semakin kecil. Rata-rata diameterpartikel diamati pada dua rentang diameter, yaitu 1-100 nm dan 1-10.000 nm.Data kedua rentang tersebut menunjukkan adanya peningkatan rata-rata diameterpartikel pada NCC 11,3. Hal tersebut dikarenakan proses hidrolisis dengankonsentrasi H
2
SO
11,3 M menyebabkan selulosa mengalami dehidrasi yangdisertai dengan degradasi polimer. Proses degradasi terjadi karena selulosamengalami oksidasi membentuk zat lain sehingga mempengaruhi hasilpengukuran diameter partikelnya. Jumlah gugus sulfat pada NCC 8,4; NCC 9,4;NCC 10,3 dan NCC 11,3 secara berurutan adalah 678 mmol/Kg, 740 mmol/Kg,
1313 mmol/Kg dan 1322 mmol/Kg. Berdasarkan hasil ini menunjukkan bahwasemakin meningkatnya konsentrasi asam sulfat membuat jumlah gugus sulfatsemakin besar pula
PENGUKURAN KANDUNGAN GULA PADA NIRA TEBU MENGGUNAKAN FOTODETEKTOR
Tebu merupakan salah satu tanaman penghasil gula yang paling utama
dibandingkan dengan tanaman lain seperti jagung dan aren. Tebu tumbuh subur di
daerah tropis dan sub tropis, sehingga tanaman ini cocok ditanam di Indonesia. Sebagai
sumber karbohidrat, permintaan tebu semakin meningkat seiring dengan pertambahan
jumlah penduduk. Kualitas gula yang dihasilkan oleh tebu sangat dipengaruhi oleh
bahan baku utamanya yaitu nira tebu. Kandungan utama pada nira tebu adalah air dan
beberapa zat terlarut lainnya seperti sukrosa, gula reduksi serta bahan organik dan
anorganik lainnya. Sehingga untuk menentukan kualitas tebu diperlukan pengukuran
pada nira tebu.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui kandungan gula dari nira tebu
dengan memanfaatkan fotodetektor yang selanjutnya terintegrasi dengan sistem
personal computer (PC). Alat ukur yang dibuat memanfaatkan prinsip penjalaran sinar
ketika sumber sinar melewati objek penelitian. Pada penelitian ini RGB (Red-Green-
Blue) bright LED digunakan sebagai sumber sinar, PIN fotodioda BPW 34 sebagai
fotodetektor, dan fiber optic sebagai media penjalaran. Modul Arduino UNO
digunakan sebagai modul mikrokontroler untuk menghubungkan alat ukur yang dibuat
dengan sistem PC berupa laptop. Sedangkan objek penelitian yang digunakan adalah
larutan gula dan nira tebu. Sebagai data pembanding digunakan refraktometer digital.
Pengendalian keadaan RGB bright LED serta pembacaan sistem sensor
menggunakan laptop berhasil dirangkai. RGB bright LED akan menyala sesuai dengan
besaran bit yang diberikan pada setiap komponen warna. Semakin besar bit yang diberikan, semakin terang intensitas sinar RGB bright LED yang dihasilkan. Bit
maksimal yang dapat diberikan adalah 255. Besaran tegangan keluaran dari sistem
sensor akan berubah ketika intensitas sinar yang diterima oleh PIN fotodioda BPW 34
berbeda. Semakin terang intensitas sinar yang diterima, semakin besar tegangan
keluaran yang ditampilkan pada laptop.
Penelitian pada larutan gula digunakan untuk mendapatkan kurva kalibrasi serta
mencari sinar terbaik yang selanjutnya digunakan untuk penelitian pada nira tebu. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kurva kalibrasi konsentrasi larutan terhadap tegangan
keluaran sistem sensor adalah berbanding terbalik, sedangkan kurva kalibrasi
konsentrasi larutan terhadap % Brix refraktometer digital adalah sebanding. Sinar
merah memiliki perubahan tegangan terbesar ketika konsentrasi larutan berubah.
Kurva kalibrasi serta sinar merah tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan
konsentrasi nira tebu.
Data hasil penelitian pada nira tebu yang didapatkan adalah tegangan keluaran
dari sistem sensor serta % Brix dari refraktometer digital. Data tersebut selanjutnya
dikonversikan menjadi konsentrasi dari nira tebu berdasarkan kurva kalibrasi. Hasil
analisis menunjukakan bahwa masih terdapat perbedaan hasil nilai konsentrasi nira
tebu ketika diukur menggunakan fotodetektor terhadap refraktometer digital yaitu
antara 3,1 gram/liter – 5,7 gram/liter.
Hasil pengukuran kandungan gula pada nira tebu menggunakan fotodetektor
dan refraktometer digital selanjutnya diuji statistik menggunakan uji-t. Dengan
mengguanakan taraf kepercayaan sebesar 95 % didapatkan nilai t tabel sebesar 2,1 dan
nilai t hitung sebesar 0,6. Karena t hitung kurang dari t tabel maka hasil pengukuran
menggunakan fotodetektor tidak berbeda signifikan terhadap pengukuran
menggunakan refraktometer digital. Sehingga pengukuran kandungan gula dalam tebu
menggunakan fotodetektor dapat digunakan sebagai alat ukur alternatif
Pengaruh Air Fuel Ratio (AFR) Terhadap Kualitas Syn-Gas Gasifikasi Sekam Padi Tipe Downdraft
Telah dilakukan penelitian gasifikasi sekam padi pada reaktor tipe downdraft satu saluran udara masuk. Penelitian dilakukan
pada variasi AFR 1,08, 1,35, 1,62, dan 1,90. Proses gasifikasi dilakukan menggunakan reaktor downdraft dengan dimensi
tinggi 185 cm, diameter luar 40 cm, diameter dalam 25 cm, dan diameter saluran udara masuk 5,08 cm. Bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sekam padi dengan berat 5 kg. Parameter yang diukur adalah komposisi syn-gas
dengan menggunakan Chromatography gas.. Dari hasil pengujian diperoleh komposisi syn-gas terbaik pada nilai AFR 1,35
yang ditunjukkan dengan komposisi flammable gas tertinggi yaitu CH4 12,90 %, CO 12,50 %, H2 5,78% dan nilai LHV syngas
sebesar 5051.244 kJ/m3 . Hal ini dikarenakan pada AFR 1,35 mencapai nilai AFR optimal gasifikasi
OPTIMALISASI SENSOR ELEKTROKIMIA GAS N20 MENGGUNAKAN ELEKTRODA PLATINA (Pt)
a. Respon sensor optimum pada konsentrasi elektrolit 0.025 M dan scan rate 80 mV/detik.
b. Karakterisasi sensor yang meliputi daerah kerja, sensitivitas dan batas deteksi dengan teknik polarisasi differential pulse voltammetry tidak berhasil dibandingkan teknik polarisasi voltammetri siklik karena puncak reduksi N20 yang terekam tidak stabil.
c. Karakterisasi sensor dengan teknik polarisasi voltammetri siklik didapatkan:
- Daerah linier
Tanpa membran 1,514 — 4,878g/L dengan kelinieran sebesar 0,9729, menggunakan membran 0,4125 — 1,329 g/L dengan kelinieran 0,9877.
- Batas deteksi
Tanpa membran 0,7706 g/L , menggunakan membran 0,14020 g/L.
- Sensitivitas
Tanpa membran -3274,7 nA(g/L)-1, menggunakan membran -466,77 nA(g/L)-1
PENENTUAN KAPASITAS ADSORPSI LIGNIN TERHADAP RHODAMIN B DALAM SISTEM DINAMIS
Rhodamin B merupakan zat warna sintetik yang berbahaya di lingkungan
karena bersifat toksik dan karsinogenik. Ada beberapa metode pengolahan limbah
zat warna Rhodamin B, salah satunya adalah metode adsorpsi. Metode adsorpsi
dengan menggunakan bahan alam telah banyak dilakukan untuk mengurangi
Rhodamin B di lingkungan dengan melibatkan senyawa aktif yang terdapat dalam
adsorben alam tersebut. Lignin merupakan salah satu senyawa aktif yang terdapat
dalam adsorben alam selain selulosa dan hemiselulosa. Kapasitas lignin dalam
menyerap berbagai jenis adsorben telah diketahui namun, kapasitas adsorpsi
lignin dalam menyerap Rhodamin B belum diketahui, sehingga penelitian ini
bertujuan untuk menentukan kapasitas adsorpsi lignin terhadap Rhodamin B.
Penelitian ini dilakukan dengan sistem dinamis, dimana larutan Rhodamin B
mengalir melewati lignin yang berada dalam kolom dengan kecepatan alir 0,08
mL/menit. Penggunaan sistem dinamis melibatkan efisiensi penggunaan kolom
dimana pada penelitian ini menggunakan metode fixed bed colomn untuk
mengetahui efektifitas kolom. Penelitian ini menggunakan dua variasi optimasi
yaitu optimasi massa adsorben dan variasi pH larutan influen. Variasi massa
adsorben yang digunakan adalah 0,1 g, 0,2 g dan 0,3 g, sedangkan variasi pH
larutan influen yang digunakan adalah pH 5, pH 6 dan pH 7. Hasil optimasi yang
diperoleh terhadap variasi massa adsorben yang dilakukan yaitu massa optimum
0,3 gram yang memiliki nilai kapasitas adsorpsi sebesar 8,29 mg/g, sedangkan
untuk variasi pH larutan influen hasil yang didapatkan yaitu pH optimum adalah
pH 7 yang memiliki nilai kapasitas adsorpsi sebesar 7,87 mg/g. Proses pengikatan
adsorben Rhodamin B pada permukaan adsorbat lignin melibatkan interaksi
ikatan hidrogen yang melibatkan sisi aktif pada lignin dan Rhodamin B.
Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa kapasitas
optimum adsorpsi lignin terhadap Rhodamin B adalah sebesar 7,94 mg/g. Saran
dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap lignin
murni yang dicampur dengan selulosa dan hemiselulosa murni untuk dapat
diketahui perbandingan kapasitas adsorpsi senyawa murni dengan sampel yang
terdapat di alam
- …
