116 research outputs found

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPSIAGAAN PERAWAT DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KECAMATAN GUMUKMAS KABUPATEN JEMBER

    Get PDF
    Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim (BNPB, 2016). Menurut Marfai (2009) Indonesia menempati urutan ketiga di dunia sebagai negara yang paling rawan dan paling sering dilanda bencana banjir, setelah India dan China. Menurut Solichah (2016) di Kabupaten Jember pada tahun 2016 sejumlah wilayah terendam banjir seperti beberapa desa/kelurahan, yang pertama di Kecamatan Gumukmas sebanyak 262 kk terendam banjir, yang kedua di Puger sebanyak 90 kk terendam banjir, dan ketiga di Patrang sebanyak 10 kk terendam banjir. Sedangkan jumlah perawat yang bekerja di wilayah kerja Puskesmas Gumukmas Kecamatan Gumukmas sejumlah 12 orang di Puskesmas induk dan 4 orang di Ponkesdes. Menurut Ramli (2011) peran kunci perawat tercermin dalam manajemen bencana yaitu pada saat pra, saat dan pasca bencana. Adanya kesiapsiagaan dapat meminimalkan dampak dari bencana banjir

    A Critique on the Book Fusus al-Hakam and The School of Ibn Arabi

    Get PDF
    Fusus al-Hakam is written by Muhyiddin Ibn Arabi. During the nearly eight centuries since this work was written, many writers have tried to unravel its knots with their descriptions and interpretations. The book Fusus al-Hakam and The School of Ibn Arabi by Abu al-'Ala Afifi is one of the most recent commentaries on Fusus al-Hakam, which was scrutinized in the form of commentaries. In this article, we try to introduce and critique this book translated by Mohammad Javad Gohari. The present book has been written as a "commentary" on Fusus al-Hakam; therefore, not all expressions of Fusus have been studied by the author. In the present book, Afifi has tried to explain in a language understandable regarding the mystical and philosophical issues of Fusus and to solve some linguistic and intellectual difficulties of Ibn Arabi for the western readers who are less familiar with the issues of unity. Therefore, this book can be helpful in understanding the complex issues of Fusus al-Hakam. Another prominent point of this book is the author's lack of prejudice against Ibn Arabi, which has turned him into a fair critic and impartial judge in the evaluation of Fusus. The author also tries to help to better establish them in the mind of the reader by emphasizing and repeating the key topics of Ibn Arabi's view in the book, including the unity of existence, the relationship between the universe and God, and related topics

    Gambaran Tingkat Kecemasan pada Pasien Glaukoma di Poli Mata Rumah Sakit di Kabupaten Jember

    No full text
    Glaukoma merupakan penyakit kerusakaan saraf optik yang dapat mengakibatkan gangguan lapang pandang. Gejalanya hampir mirip dengan gejala penyakit lain yang seringkali tidak disadari oleh penderita sehingga berdampak pada keterlambatan diagnosis dan dapat menyebabkan kebutaan yang permanen pada penderitanya. Kebutaan yang dialami oleh pasien glaukoma tidak hanya menyebabkan masalah fisik namun juga masalah psikososial, salah satunya adalah kecemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran tingkat kecemasan pada pasien glaukoma di Poli Mata RSD. dr. Soebandi Jember, RS. Baladhika Husada Jember, dan RS. Bina Sehat Jember. Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik penentuan sampel menggunakan non probability sampling dengan cara purposive sampling. Perhitungan sampel menggunakan rumus Lameshow dan didapatkan sebanyak 73 responden. Pengumpulan data menggunakan kuisioner Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) yang telah dimodifikasi oleh peneliti dan kuisioner karakteristik responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia rata-rata responden yaitu 64 tahun, jenis kelamin paling banyak yaitu laki-laki 37 orang (50,7%), sebagian besar berstatus perkawinan menikah sebanyak 56 orang (76,7%), tingkat pendidikan paling banyak yaitu SMA/ SMK 20 orang (27,4%), jenis pekerjaan paling banyak yaitu pensiunan PNS/ swasta 24 orang (32,9%), lama menderita glaukoma pada sebagian besar responden yaitu lebih dari 1 tahun 50 orang (68,5%), keluhan yang paling dominan dirasakan oleh sebagian besar responden yaitu padangan kabur 45 oran

    PENGARUH TERAPI EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (EFT) TERHADAP DEPRESI PADA KLIEN HIPERTENSIDI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi EFT terhadap depresi pada klien hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Jember. Desain Penelitian ini yang digunakan adalah quasy experimental design dengan rancangan pretest-posttest with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah klien hipertensi yang mengalami depresi di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggawah Kabupaten Jember yang tercatat pada bulan Januari 2016 hingga September 2017. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability samplingdengan pendekatanconsecutive sampling yaitu sebanyak 20 klien hipertensi yang mengalami depresi, 10 orang respoden sebagai kelompok intervensi terapi EFT dan 10 responden sebagai kelompok kontrol. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu hasil pengukuran tingkat depresi menggunakan Skala Beck Depression Inventories II (BDI-II) dan lembar observasi. Uji statistik yang dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah Wilcoxon digunakan untuk menganalisis perbedaan tingkat depresi sebelum dan sesudah pemberian terapi EFT pada kelompok intervensi dan kontrol dan Mann Witney Test menganalisis perbedaan tingkat depresi antara kelompok intervensi dan kontrol (ɑ=0,05) Hasil analisis deskripstif menunjukkan rata-rata usia responden kelompok intervensi dan kontrol yaitu 53,70 dan 53,30 tahun dengan lama menderita hipertensi selama 1 tahun. Sebagian besar berjenis kelamin perempuan dengan pendidikan tidak tamat SD. Mayoritas riwayat pekerjaan lain—lain (pedagang kopi, sayur, dll) dengan pendapatan rendah. Sebagian responden berstatus menikah dan memiliki riwayat keluarga hipertensi. Mayoritas kelompok intervensi berada pada tingkat depresi normal setelah diberikan terapi EFT, namun ada 1 orang yang berada pada tingkat depresi ringan. Hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon diperoleh tingkat depresi pada masing-masing kelompok, yaitu kelompok terapi EFT (p=0,003) sedangkan untuk kelompok kontrol (p=1,000). Hasil uji statistik menggunakan Mann Witney Test didapatkan bahwa nilai p=0,001 (p<ɑ, ɑ=0,05) hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat depresi antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi EFT berpengaruh terhadap depresi pada klien hipertensi. Hal ini dibuktikan adanya penurunan tingkat depresi yang awalnya 10 responden mengalami tingkat depresi ringan menjadi 9 reponden berada pada tingkat depresi normal dan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat depresi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Penurunan tingkat depresi karena efek relaksasi dari ketukan pada titik meridian yang menstimulasi kelenjar pituitary untuk mengeluarkan hormon endorphin yang dapat memproduksi hormon serotonin dan dopamin. Keadaan tersebut mengakibatkan respon relaksasi sehingga tingkat depresi menurun. Berdasarkan hasil penelitian ini perawat dapat mengunakan terapi EFT dalam menangani depresi yang terjadi pada klien hipertensi

    Hubungan Postur Kerja dengan Muskuloskeletal Disorder Pada Perawat RS Paru Jember

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara postur kerja dengan keluhan MSDs pada Perawat RS Paru Jember. Desain Penelitian ini menggunakan cross sectional dengan total responden sebanyak 30 orang dengan menggunakan teknik sampling yaitu total sampling. Instrumen pada penelitian ini adalah kuisoner Nordic body map untuk mengetahui tingkat keluhan MSDs dan lembar observasi Rapid Upper Lamb Assesment (RULA) untuk mengukur tingakt kesalahan postur kerja. Hasil penelitian didapatkan bahwa perawat pada Rumah Sakit Paru Jember mengalami tingkat kesalahan postur tubuh saat bekerja dalam kategori rendah sebanyak 1 orang (3,3%), sedang sebanyak 25 orang (83,3%), dan tinggi sebanyak 4 orang(13,3%) yakni berarti bahwa terdapat kesalahan postur tubuh saat bekerja. Sedangkan keluhan MSDs didapatkan hasil bahwa seluruh reponden, sebanyak 30 orang (100%) mengalami keluhan MSDs namun dalam kategori rendah. Analisa hubungan menggunakan Spearmen correlation menunjukkan adanya hubungan positif yang terkait dengan postur kerja dan keluhan MSDs ( p< 0,000 dan r = 1,000). Keluhan MSDs sendiri dapat berasal dari berbagai faktor. Faktor yang berkaitan erat dengan keluhan ini adalah postur kerja yang tidak alamiah, dimana sikap kerja tidak alamiah berarti sikap sikap kerja yang slah dan menyebabkan tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah. Contohnya seperti pergerakan tangan terangkat, punggung dan leher yang terlalu membungkuk, kepala terangkat, semakin jauh posisi tubuh terhadap posisi gravitasi tubuh maka akan semakin besar untuk meningkatkan risiko keluhan MSDs. Penyebab sikap tubuh tidak alamiah ini seringkali berasal dari individu dan alat alat kerja yang tidak sesuain dengan kemampuan pekerja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan sangat kuat antara postur tubuh dengan keluhan MSDs diakrenakan selama bekerja tubuh seringkali melakukan suatu gerakan yang berulang dan juga dilakukan dalam jangka waktu yang sudah lama. Apabila dibiarkan berlarut – larut maka akan menimbulkan efek munculnya keluhan MSDs yang akan dirasakan dikemudian waktu. Oleh karena itu sangat diharapkan untuk menerapkan bagaimana postur tubuh yang benar dalam bekerja agar terhindar dari keluhan MSDs

    Gambaran Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Perawat Puskesmas Terhadap Penatalaksanaan Pasien TB MDR (Multi Drugs Resistant) di Kabupaten Jember

    No full text
    TB MDR adalah TB Resisten Obat terhadap minimal 2 (dua) obat anti TB yang paling penting, INH dan Rifampisin secara bersama-sama atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti Etambuthol, Streptomycin dan Pyrazinamid (Kemenkes RI, 2014). Di Indonesia, sebagai bentuk usaha pencegahan terhadap TB MDR melalui program DOTS plus (Directly Observed Treatment, Short-course) dibuat sebuah kegiatan yang bernama MTPTRO (Menejemen Terpadu Pengendalian TB Resisten Obat) khusus bagi tenaga kesehatan, dimana perawat sebagai salah satu pemberi layanan menjadi tenaga kesehatan yang terdidik dan terlatih dalam penatalaksanaan TB MDR (Permenkes No 13 tahun 2013) di Jawa Timur dari tahun 2016 didapatkan data jumlah penderita TB MDR yang mendapatkan pengobatan 56,54%. Saat ini Jawa Timur menduduki peringkat kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Sedangkan di Kabupaten Jember hingga pertengahan tahun 2016 ada 40 penderita TB MDR. Saat ini Kabupaten Jember menempati peringkat kedua dengan jumlah penderita TB MDR terbanyak di Jawa Timur. Hal ini perlu diwaspadai karena prevalensinya menunjukkan peningkatan dan ada beberapa dari penderita yang menolak pengobatan, putus obat dan ada 1 orang yang terdiagnosa menderita Pra XDR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan perawat Puskesmas terhadap penatalaksanaan pasien TB MDR di Kabupaten Jember. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti, bagi institusi pendidikan, bagi instansi kesehatan, bagi keperawatan, dan bagi masyarakat. Jenis penelitian ini adalah deskriptif yang menggambarkan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan perawat Puskesmas terhadap penatalaksanaan xi TB MDR. Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perawat Puskesmas di kabupaten Jember sebanyak 17 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan jumlah sampel 17 orang. Analisa data menggunakan analisa univariat untuk menggambarkan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan perawat Puskesmas terhadap penatalaksanaan TB MDR di Kabupaten Jember. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan perawat Puskesmas terhadap penatalaksanaan pasien TB MDR di Kabupaten Jember 3 responden (17,65%), tingkat pengetahuan cukup 12 responden (70,59%) dan tingkat pengetahuan buruk 2 responden (11,76%). Sedangkan sikap perawat Puskesmas terhadap penatalaksanaan pasien TB MDR di Kabupaten Jember didapatkan data responden dengan sikap yang baik berjumlah 9 responden (52,94%), dan sikap sangat baik berjumlah 8 responden (47,06%). Pada tindakan perawat Puskesmas terhadap penatalaksanaan pasien TB MDR di Kabupaten Jember didapatkan hasil dari 17 responden terdapat responden dengan tindakan cukup berjumlah 14 responden (82,35%), dan tindakan buruk berjumlah 3 responden (17,65%), dan tindakan baik 2 responden (11,76%). Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar perawat Puskesmas yang memiliki tingkat pengetahuan cukup, sebagian besar perawat Puskesmas memliki sikap yang sangat baik, dan melakukan tindakan yang baik terhadap penatalaksanaan TB MDR. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran yang dapat diterapkan yakni bagi penelitian dapat menambah wawasan dan data untuk penelitian selanjutnya, bagi institusi pendidikan sebagai referensi bagi mahasiswa keperawatan untuk menambah informasi dan sumber data , bagi instansi kesehatan sebagai sumber informasi kepada perawat Puskesmas dalam melakukan upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif terhadap TB MDR, selain itu sebagai bahan evaluasi bagi Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam upaya meningkatkan potensi sumber daya manusia di Puskesmas, dan bagi keluarga serta masyarakat dapat melakukan upaya preventif atau pencegahan terhadap penularan TB MDR, xii dan dapat membantu memberikan dukungan kepada pasien TB MDR untuk melaksanakan program pengobatan sampai dengan selesai dan dinyatakan sembuh

    Hubungan Religiusitas dengan Kecemasan pada Pasien Pre Operasi di Rumah Sakit III Baladhika Husada

    No full text
    Prosedur operasi merupakan suatu pengalaman yang menegangkan bagi hampir semua pasien. Perasaan cemas sebelum melakukan operasi merupakan respon yang normal pada pasien pre operasi. Respon tersebut muncul karena mengalami kecemasan serta rasa takut seperti rasa nyeri post operasi, kemungkinan akan cacat, takut pada tindakan anastesi, alat-alat operasi dan bahkan kematian. Beberapa pasien kadang tidak dapat mengontrol kecemasan sehingga terjadi disharmoni dalam tubuh. Salah satu koping yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan yaitu religiusitas. Religiusitas mempunyai peran penting dalam kehidupan serta dalam keperawatan perioperatif. Religiusitas merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kesehatan yakni dapat meredakan tekanan dalam hidup dan mampu meringankan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan religiusitas dengan kecemasan pada pasien pre operasi di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability sampling dengan cara purposive sampling. Sampel yang diperoleh sebanyak 81 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang diukur ada dua variabel yakni variabel religiusitas dan variabel kecemasan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner religiusitas untuk mengukur religiusitas dan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) untuk mengukur kecemasan pre operasi. Analisa data menggunakan uji statistik Kendal Tau B dengan tingkat signifikan 0,01. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas pada pasien pre operasi tinggi (86,4%). Kecemasan pada pasien pre operasi adalah cemas sedang (46,9%). Hasil uji statistik menggunakan Kendal Tau B didaptkan hasil p value 0,001 sehingga dapat diartikan bahwa terdapat korelasi antara religiusitas dengan kecemasan. Nilai korelasi Kendal Tau B sebesar -0,396 menunjukkan bahwa korelasi bersifat negatif dengan keeratan hubungan lemah. Hal ini berarti semakin tinggi religiusitas maka semakin sedang kecemasan pasien pre operasi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan kecemasan pada pasien pre operasi di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada. Praktik keagamaan dapat membantu untuk lebih tenang, dapat mengalihkan perhatian, dapat mengurangi efek dari hospitalisasi dan dapat meningkatkan kesehatan mental sebelum operasi. Perawat dapat mengkaji kecemasan pasien pre operasi sehingga perawat dapat memberikan intervensi berbasis religiusitas untuk mengurangi kecemasan pada pasien pre operasi

    Gambaran Tingkat Kualitas Tidur pada Pasien Pre Operative di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada Jember

    Get PDF
    Tindakan pembedahan merupakan suatu pengalaman yang sulit karena dianggap sebagai peristiwa yang menegangkan pada hampir semua pasien. Sehingga selain dapat menimbulkan gangguan fisik juga dapat menimbulkan masalah psikologis. Pre operative merupakan tahap awal pembedahan dimana pasien akan menghadapi berbagai stres psikologis dengan tingkat stressor yang berbeda-beda seperti rasa cemas, takut, dan khawatir karena berbagai anggapan pasien maupun keluarga terhadap pembedahan. Hal ini dapat mengakibatkan pasien mengalami masalah psikologis salah satunya gangguan tidur yang mana berkontribusi terhadap kualitas tidur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pasien dan tingkat kualitas tidur pada pasien pre operative di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada Jember. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif eksploratif dimana tingkat kualitas tidur sebagai variabel dependen. Pengambilan sampel penelitian sebanyak 95 pasien dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang terdiri dari 7 indikator kualitas tidur. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar pasien pre operative memiliki kualitas tidur buruk yakni sebesar 90,5% atau 86 orang. Indikator kualitas tidur yang menunjukkan kontribusi paling besar terhadap buruknya kualitas tidur ialah efisiensi tidur dimana sebanyak 82 orang (86,3%) memiliki efisiensi tidur yang sangat buruk. Kondisi tersebut terjadi pada pasien yang tidak mampu menangani stres yang dihadapinya (faktor psikologis seperti cemas dan khawatir terhadap pembedahan) dan adanya perubahan lingkungan yang mendadak sehingga mengakibatkan terganggunya irama sirkadian tubuh dan menyebabkan tahapan tidur tidak optimal yakni pada tahap 4 NREM dan REM. Akibatnya, muncullah berbagai masalah tidur dimana hal ini membuat pasien akan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur dari pada waktu untuk tidur. Uraian tersebut merupakan tanda efisiensi tidur yang sangat buruk. Kualitas tidur memiliki peran penting pada pasien pre operative. Hal ini karena kualitas tidur yang buruk dapat berkaitan dengan peningkatan hormon katekolamin yang memiliki pengaruh terhadap sistem kardiovaskularr. Kualitas tidur yang buruk pada pasien pre operative dapat berdampak pada terjadinya penundaan bahkan pembatalan operasi, risiko intra operative, memperlambat pemulihan, dan komplikasi pasca operasi. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa kualitas tidur optimal pada pasien pre operative belum tercapai. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perawat untuk mampu menginformasikan dengan baik terkait pembedahan dan kebutuhan tidur sehingga pasien dapat mengidentifikasi secara mandiri hal-hal yang mempengaruhi kualitas tidur dan mengekpresikan hal tersebut kepada perawat. Selain itu, perawat dapat melakukan modifikasi lingkungan, melakukan edukasi terkait pembedahan dan kebutuhan tidur, serta melakukan terapi keperawatan seperti terapi SEFT agar kualitas tidur dapat terkelola dengan baik

    MOTIVASI PERAWAT DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA KLIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT DAERAH BALUNG

    No full text
    Motivasi Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Spiritual pada Klien di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Balung; Akhmat Robbi Tricahyono, 112310101061; 2015, xix halaman + 159 halaman, Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember. Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit. Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh perawat dalam bentuk asuhan keperawatan. Asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat dituntut memperhatikan individu sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang berespon secara holistik dan unik terhadap perubahan kesehatan yang terjadi. Perawat sebagai tenaga kesehatan profesional mempunyai kesempatan yang paling besar untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan atau asuhan keperawatan yang komprehensif dengan membantu klien memenuhi kebutuhan dasar yang holistik (Hamid, 2000). Kebutuhan dasar holistik merupakan aspek penting dalam pelayanan keperawatan yang terdiri dari biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Aspek-aspek ini selalu berkaitan dan mempengaruhi perubahan bio-psiko-sosiospiritual seseorang ketika sehat atau sakit. Dalam upaya pencapaian perawatan kesehatan yang optimal, perawat dituntut mampu memenuhi kebutuhan dasar klien melalui pemberian asuhan keperawatan pada klien secara holistik. x Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan motivasi perawat dan pemenuhan kebutuhan spiritual pada klien di ruang rawat inap Rumah Sakit Daerah Balung. Desain penelitian menggunakan observasional analitik melalui metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Daerah Balung. Teknik sampling menggunakan total sampling yaitu dengan jumlah sampel 48 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang telah dilakukan uji validitas. Data dianalisis menggunakan Chi Square untuk mengetahui hubungan motivasi perawat dan pemenuhan kebutuhan spiritual pada klien di ruang rawat inap Rumah Sakit Balung. Hasil analisis karakteristik responden menunjukkan karakteristik perawat pelaksana yang menjadi responden mayoritas adalah perempuan, mayoritas berpendidikan terakhir Diploma/D3 Keperawatan, mayoritas berstatus belum PNS, mayoritas berpendapatan/gaji Rp. 1.026.042,00 atau dibawah UMR Kabupaten Jember, dan mayoritas memiliki lama kerja 67 bulan atau 5,6 tahun. Motivasi perawat pelaksana di ruang rawat inap RSD Balung sebagian besar dipengaruhi oleh subvariabel motivasi ekstrinsik dan lebih dari separuh perawat pelaksana di ruang rawat inap RSD Balung memiliki motivasi yang rendah. Pemenuhan kebutuhan spiritual pada klien di ruang rawat inap RSD Balung menunjukkan bahwa lebih dari separuh perawat pelaksana di ruang rawat inap RSD Balung memiliki pemenuhan kebutuhan spiritual yang tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi perawat dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pada klien di ruang rawat inap RSD Balung. Pemenuhan kebutuhan spiritual menjadi aspek penting dalam proses kesembuhan klien. Aspek tersebut merupakan tugas perawat untuk memenuhi dengan melihat kebutuhan spiritual yang tepat bagi klien. Perawat dituntut mampu tidak mengenyampingkan kebutuhan spiritual dan selalu berkoordinasi dengan tim kesehatan lainnya dalam diskusi pertemuan rumah sakit atau manajemen rumah sakit

    Penilaian Kekuatan Otot Pada Pasien Fraktur dengan Manual Muscle Testing: Narrative Literature Review

    Get PDF
    Kekuatan otot pada pasien fraktur pada umumnya mengalami penurunan yang disebabkan oleh pasca tindakan pembedahan yang mengakibatkan munculnya permasalahan berdasarkan diagnosa keperawatan pada pasien fraktur yaitu hambatan mobilitas fisik. Oleh karena itu perlu dilakukannya penilaian kekuatan otot pada pasien fraktur untuk mengetahui kondisi kekuatan otot pasca tindakan pembedahan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kekuatan otot pada pasien fraktur dengan metode Manual Muscle Testing (MMT) dan kondisi kekuatan otot pada pasien fraktur. Penelitian ini menggunakan narrative literature review dengan PRISMA flow chart sebagai metode penyeleksian literatur. Pencarian artikel menggunakan Boolean operator (AND, OR, NOT) dengan kata kunci “fraktur” OR “muscle strength” OR “Manual Muscle Testing (MMT)”. Kriteria inklusi artikel 1) tahun publikasi 2015-2020; 2) bisa diakses secara full text ; 3) original research article; 4) artikel terindex nasional (SINTA) atau internasional (Scimagojr); 5) menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Database yang digunakan Pubmed, Wiley Online Library, Springerlink, Google Scholar, Ebscohost, Science Direct dan Nature kemudian didapatkan 11 artikel yang akan diulas. Hasil penelusuran artikel didapatkan 11 berjenis original research dengan studi prevalensi (1), studi crossectional (1), studi kohort retrospective (2), studi kohort prospective (1), studi randomized, procpective, comparative (1), studi report (2), studi quasi experimental (2), dan randomized clinical trial study (1). Sintesis dari literatur menunjukkan bahwa MMT merupakan alat ukur yang reliable, tidak memerlukan alat tambahan untuk melakukan penilaian kekuatan otot serta bersifat universal (dapat menilai kekuatan otot pada fraktur dan non fraktur) dan kondisi kekuatan otot pada pasien fraktur mengalami penurunan. Penurunan kekuatan pada pasien fraktur diakibatkan oleh adanya imobilisasi post operasi sehingga memerlukan waktu untuk proses recovery otot. Proses recovery otot dapat dipengaruhi oleh proses terjadinya fraktur, lokasi fraktur dan tingkat luka pada fraktur. Oleh karena itu, penilaian kekuatan otot dapat menjadi pertimbangan bagi perawat atau praktisi dalam proses perawatan pada pasien fraktur agar dilakukan pada tatanan klinik untuk meningkatkan kualitas proses penyembuhan pasien post operasi fraktur
    corecore