358 research outputs found
KARAKTERISTIK SAMBAL TUMPANG DARI CAMPURAN TEMPE SEGAR DAN TEMPE
Tempe merupakan makanan khas Indonesia. Lama fermentasi yang optimal dalam pembuatan tempe adalah 36-48 jam. Jika tempe tidak terjual dan tidak ada
proses pengolahan lebih lanjut akan mengalami over fermented atau terfermentasi lanjut. Salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai ekonomi tempe
terfermentasi lanjut adalah dengan mengolah menjadi sambal tumpang. Alternatif pembuatan sambal tumpang diharapkan dapat melestarikan warisan makanan
tradisional Indonesia agar tidak mengalami kepunahan. Sambal tumpang merupakan sambal berbahan baku campuran tempe terfermentasi lanjut dan tempe
segar serta penambahan bumbu-bumbu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh perbandingan tempe terfermentasi lanjut dan tempe segar serta
lama fermentasi tempe terfermentasi lanjut dalam pembuatan sambal tumpang dan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia dan mikrobiologis sambal
tumpang pada suhu rendah (50C) selama 3 minggu. Penelitian terdiri dari 2 perlakuan yaitu A (1 : 1) dan B (3 : 2 ) dan diulang 3 kali.Data yang diperoleh
diolah menggunakan metode deskriptif, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penyimpanan
suhu rendah (50C) selama tiga minggu, sambal tumpang A (1 : 1) memiliki karakteristik nilai kecerahan 41,77 - 42,5; kadar air 49,650 - 51, 067% (wb);
protein terlarut 0,456 - 0,554 % (db) dan total mikroba 8,340 - 8,950 log CFU/ml. Pada sambal tumpang B (3 : 2) memiliki karakteristik nilai kecerahan 41,08
- 41,98; kadar air 50,712 - 52,535% (wb); protein terlarut 0,558 - 0,623 % (db) dan total mikroba 8,592 - 9,090 log CFU/ml
KARAKTERISTIK KIMIA BIJI KOPI ROBUSTA HASIL FERMENTASI MENGGUNAKAN MIKROFLORA ASAL
Civet Coffee is coffee beans fermented by microflora in gastric mongoose which has a high economic value due to have a distinctive aroma and
flavor. The purpose of this study mainland for knowing the characteristics of some chemical components in robusta coffee beans fermented by microflora
in feces civet. Processing of coffee is done by using the semi-wet dry fermentation. Factorial designed experiment with fermentation time factor,
consisting of four levels: 0 hours, 8 hours, 16 hours, and 24 hours. Experiments were performed 3 times, treatment 0 hours was used as control. The
results showed that the robusta coffee beans fermented using native microflora in the treatment of civet feces fermentation time 0 hours has a moisture
content of 10.53%, protein content of 13.15%, fat content of 6.68%, ash content of 3.39%, carbohidrat levels of 66.26%, reducing sugar of 7%, pH value of
6.5, a total acid of 0.002, and caffeine levels of 6600 mg / kg. In the treatment of fermentation 8 hours gained a moisture content of 11.23%, protein
content of 12.29%, fat content of 8.18%, ash content of 3.48%, carbohidrat levels of 64.81%, reducing sugar of 5.74%, pH value of 6.4, a total acid of
0.004, and caffeine levels of 1100 mg / kg. At 16 hours fermentation time treatment was obtained a moisture content of 10.88%, the value protein
content of 11.73%, fat content of 8.23%, ash content of 3.59%, carbohidrat levels of 65.43%, reducing sugar of 5.49%, pH value of 6, a total acid of 0.004,
and caffeine levels of 10000 mg / kg. At the 24-hour treatment fermentation obtained a moisture content of 11.4%, protein content of 11.33%, fat content
of 8.34%, ash content of 3.61%, carbohidrat levels of 65.31%, reducing sugar of 4.56%, pH value of 5.8, a total acid of 0.005, and caffeine levels of 9300
mg / k
Automatic texture segmentation for content-based image retrieval application
In this article, a brief review on texture segmentation is presented, before a novel automatic texture segmentation algorithm is developed. The algorithm is based on a modified discrete wavelet frames and the mean shift algorithm. The proposed technique is tested on a range of textured images including composite texture images, synthetic texture images, real scene images as well as our main source of images, the museum images of various kinds. An extension to the automatic texture segmentation, a texture identifier is also introduced for integration into a retrieval system, providing an excellent approach to content-based image retrieval using texture features
Karakteristik Fisik Dan Organoleptik Bawang Hitam Hasil Pemanasan Oven Kabinet Kedap Udara Dengan Variasi Suhu Dan Lama Pemanasan
Bawang putih (Allium Sativum L.) merupakan tumbuhan yang dapat diolah menjadi produk herbal. Upaya untuk memperluas sifat fungsional bawang putih telah dilakukan yaitu dengan pemanasan pada suhu tinggi dan waktu yang lama. Teknik tersebut dapat menghasilkan bawang hitam dengan aroma yang tidak menyengat, memiliki rasa manis, dan sifat fungsional yang baik. Metode pemanasan bawang hitam sebelumnya menggunakan Rice Cooker kondisi Warm Mode atau Magic Jar. Namun, untuk produksi secara komersil terdapat kendala pengaturan suhu dan kapasitas produksi sehingga perlu digunakan oven kedap udara untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan organoleptik bawang hitam hasil pemanasan menggunakan oven kabinet kedap udara dengan perlakuan suhu dan lama pemanasan yang berbeda serta mengetahui suhu dan lama pemanasan yang tepat untuk menghasilkan bawang hitam dengan karakteristik yang diinginkan.
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan dua faktor dan diulang sebanyak 2 kali. Faktor yang pertama yaitu suhu pemanasan (A), terdiri atas (70ºC, 75ºC, dan 80ºC) dan faktor kedua lama pemanasan (B), terdiri atas (4; 8; 12; dan 16 hari). Parameter pengamatan yang digunakan yaitu tekstur, warna , rendemen dan uji organoleptik yang meliputi atribut kesukaan warna, aroma, tekstur, rasa dan keseluruhan . Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dari data rata-rata ulangan setiap parameter. Data hasil pengamatan ditampilkan dalam bentuk grafik dan diagram batang yang kemudian dilakukan pembahasan
Karakteristik Ragi Kopi Luwak Bermedia Campuran Tepung Beras dan Ekstrak Kulit Buah Kopi dalam Kemasan Plastik Selama Penyimpanan
Tujuan dari penelitian adalah mengetahui karakteristik ragi kering kopi
luwak dengan perbedaan pengemas plastik polipropilena dan aluminium foil selama
masa penyimpanan. Hasil penelitian yang diharapkan yaitu mendapatkan jenis
kemasan yang tepat untuk ragi kering kopi luwak in vitro, dapat menyediakan ragi
kering kopi luwak in vitro, dan menjadi sumber khasanah serta peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi
Pangan dan Hasil Pertanian, Laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian,
dan Laboratorium Rekayasa Pangan dan Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil
Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian experimental. Variabel pengamatan
meliputi kadar air, total mikroorganisme, daya fermentasi ragi yang meliputi pH,
kemampuan produksi asam dan kemampuan fermentasi glukosa. Penelitian ini
terdiri dari dua faktor. Faktor dari penelitian yaitu perlakuan jenis bahan pengemas
dan lama penyimpanan dengan masing-masing 3 kali ulangan. Pengolahan data
penelitian menggunakan analisis deskriptif. Data hasil pengamatan ditampilkan
dalam bentuk tabel, dan untuk mempermudah interpretasi data, maka dibuat grafik
atau histogram.
Plastik pengemas yang hasilnya lebih baik untuk produksi ragi kering kopi
luwak in vitro adalah plastik aluminium foil. Populasi mikroorganisme pada
penyimpanan menggunakan pengemas plastik aluminium foil masih lebih tinggi
dibandingkan pengemas plastik polipropilena. Populasi mikroorganisme diakhir
masa penyimpanan dengan pengemas plastik polipropilena dan aluminium foil
secara berturut-turut adalah 6,27 dan 6,53 log cfu/ml. Populasi mikroorganisme
menurun dikarenakan adanya tanin pada ekstrak kulit buah kopi serta terjadinya
degradasi plastik akibat pengaruh sinar ultraviolet. Kadar air diakhir penyimpanan
dengan pengemas plastik polipropilena dan aluminium foil secara berturut-turut
adalah 7,88% dan 7,74%.
Nilai kemampuan fermentasi glukosa diakhir masa penyimpanan pada
plastik polipropilena dan alumunium foil adalah 207,5358 dan 218,0691 mg
glukosa/gram ragi jam. Konsumsi glukosa yang semakin rendah oleh
mikroorganisme selama masa penyimpanan menunjukkan kemampuan yang rendah
dalam memfermentasi glukosa. Hasil nilai pH dan kemampuan produksi asam yang
pada pengemas plastik polipropilena dan aluminium foil pada diakhir masa
penyimpanan berturut-turut adalah 5,38 dan 5,11 serta 4,1207 dan 4,6623 mg/ gram
ragi jam. Nilai total asam berbanding terbalik dengan nilai pH, semakin tinggi nilai
total asam maka semakin rendah pH begitupun sebaliknya. Pembentukan asamasam
organik terjadi akibat adanya aktivitas mikroorganisme yang ada pada ragi
Karakteristik Fisiko-Kimia Bawang Hitam (Black Garlic) Pada Berbagai Waktu Aging
Bawang putih dipercaya memiliki potensi sebagai pangan fungsional
dengan berbagai macam manfaat salah satunya sebagai antiosidan
INAKTIVASI ENZIM PROTEASE PADA PUREE EDAMAME (Glycine max) MENGGUNAKAN TEKNIK PULSED ELECTRIC FIELD (PEF)
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu: 1.Perubahan yang terjadi akibat penggunaan Pulsed Electric Field (PEF) dapatmenurunkan aktivitas enzim protease hingga 88,5%, total mikroba 80-89%,aktivitas antioksidan 44,5% dan warna 2,43%.2.Penggunaan PEF diperkirakan dapat mempetahankan kualitas warna pureeedamame hingga lima minggu dua hari berdasarkan rumus persamaan lineardan memperlambat pertumbuhan mikroba selama dua minggu
APLIKASI α-AMILASE DALAM PRODUKSI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) LUWAK ARTIFISIAL
Penggunaan α-amilase dan ragi luwak kering pada fermentasi selama 8
jam menghasilkan kopi dengan nilai cup test sebesar 83,75; lebih tinggi
daripada kopi yang difermentasi tanpa α-amilase, dengan nilai 80,13.
Kopi yang difermentasi menggunakan α-amilase dan ragi luwak kering
pada fermentasi selama 8 jam menghasilkan komponen flavor yang
disukai panelis seperti furan, piridin, pirazin, benzen, asam organik, dan
alkohol masing-masing secara berurutan sebesar 28,28 %; 8,98 % ; 9,98
%; 3,48 %; 9,02 %; dan 3,84 %; lebih tinggi dari kopi yang difermentasi
tanpa α-amilase yang hanya berkadar masing-masing secara berurutan
sebesar 19,52 %; 7,54 %; 2,28 %; 1,81 %; 6,75 %; dan 0,53 %
KARAKTERISASI KIMIA KOPI LUWAK ROBUSTA ARTIFISIAL DENGAN PENAMBAHAN ENZIM α-AMILASE SELAMA FERMENTASI
Kopi luwak memiliki nilai ekonomis tinggi. Kopi ini memiliki keistimewaan berupa flavor dan citarasa yang khas. Flavor serta citarasa ini terbentuk selama buah kopi berada dalam sistem pencernaan hewan luwak akibat fermentasi serta hidrolisis yang terjad
APLIKASI α-AMILASE DALAM PRODUKSI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) LUWAK ARTIFISIAL
Penggunaan α-amilase dan ragi luwak kering pada fermentasi selama 8
jam menghasilkan kopi dengan nilai cup test sebesar 83,75; lebih tinggi
daripada kopi yang difermentasi tanpa α-amilase, dengan nilai 80,13.
Kopi yang difermentasi menggunakan α-amilase dan ragi luwak kering
pada fermentasi selama 8 jam menghasilkan komponen flavor yang
disukai panelis seperti furan, piridin, pirazin, benzen, asam organik, dan
alkohol masing-masing secara berurutan sebesar 28,28 %; 8,98 % ; 9,98
%; 3,48 %; 9,02 %; dan 3,84 %; lebih tinggi dari kopi yang difermentasi
tanpa α-amilase yang hanya berkadar masing-masing secara berurutan
sebesar 19,52 %; 7,54 %; 2,28 %; 1,81 %; 6,75 %; dan 0,53 %
- …
