835 research outputs found
Reformasi pendidikan dasar turki utsmani pada masa sultan muhammad rasid (1909-1918) .
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti terhadap sebab di balik munculnya kebijakan Pendidikan Dasar yang diterapkan oleh Turki Utsmani dalam bidang pendidikan. Peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam sejarah di balik munculnya kebijakan Pendidikan Dasar serta bentuk reformasi pendidikan yang diterapkan oleh Sultan Muhammad Rashad yang sangat terkait dengan perkembangan pendidikan Islam di masa Turki Utsmani . Oleh sebab itu, rumusan masalah dari penelitian ini adalah Bagaimana reformasi Pendidikan Dasar yang dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Rashad (1909-1918) dan Kenapa Sultan Muhammad Rashad lebih menfokuskan terhadap Pendidikan Dasar. Pendekatan yang digunakan peneliti adalah politik pendidikan. Pendekatan ini kemudian dikolaborasikan dengan teori inovasi pendidikan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa reformasi pendidikan dasar yang dilakukan Sultan Muhammad Rashad meliputi pembaharuan kurikulum pendidikan dasar, peningkatan kualitas tenaga pengajar, serta desentralisasi struktur lembaga pendidikan yang telah dibentuk sebelumnya. Peraturan pendidikan dasar yang dibuat oleh Sultan Muhammad Rashad berjalan sampai berakhirnya Turki Utsmani. Hingga saat ini bangunan sekolahnya masih dipakai untuk belajar mengajar.ix,79 hl
A critical analysis of Christian responses to Islamic claims about the work of the Prophet Muhammad, ‘the Messenger of God’.
The aims of this study are to analyse critically the different Christian responses to the Islamic understanding of the work of Muhammad. Chapter one consists a short introduction leading to an appraisal of Muhammad which incorporates historical, hagiographal and Quranic source material, and in the light of relevant Christian and Muslim scholarship. The second chapter presents a summary critical analysis of Muhammad in Christian theological perspective, from 661 A.D. to modern times. Chapter three presents a critique of Christian responses to the Muslim allegations that the text of the Bible has been infected with corruption; and that Muhammad's advent and status are foretold in the unadulterated' scriptures, and in the Gospel of Barnabas. Chapter four examines the theological significance of the work of Muhammad for Christians. Thus, Jesus and Muhammad are critically assessed and contrasted in order to ascertain the importance, for Christians, of the Muslim claims in respect of Muhammad as ’the messenger of God’. Chapter five provides a critical evaluation of the various Christian responses to Muhammad. It is argued that many of the said responses have been entangled in myths and misperceptions which have severely distorted the true account of Muhammad's work. Consequently, many Christians have failed to appreciate the divine legitimacy of Muhammad's call to prophethood. Further, it is argued that Christians should accept that Muhammad is a genuine prophet, and the messenger of God. However, Muhammad's use of the power-structure in order to maintain Islam is in sharp contrast to Jesus’ decision to face the consequences of his ministry passively through faith in God. Accordingly, orthodox Christian belief in the passion, death and resurrection of Jesus provides another dimension to prophethood, where the messenger and the message become one, an identification which finds no parallel in Islam, and which, in the nature of the case, cannot find a parallel
Reformasi pendidikan dasar turki utsmani pada masa sultan muhammad rasid (1909-1918) .
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti terhadap sebab di balik munculnya kebijakan Pendidikan Dasar yang diterapkan oleh Turki Utsmani dalam bidang pendidikan. Peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam sejarah di balik munculnya kebijakan Pendidikan Dasar serta bentuk reformasi pendidikan yang diterapkan oleh Sultan Muhammad Rashad yang sangat terkait dengan perkembangan pendidikan Islam di masa Turki Utsmani . Oleh sebab itu, rumusan masalah dari penelitian ini adalah Bagaimana reformasi Pendidikan Dasar yang dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Rashad (1909-1918) dan Kenapa Sultan Muhammad Rashad lebih menfokuskan terhadap Pendidikan Dasar. Pendekatan yang digunakan peneliti adalah politik pendidikan. Pendekatan ini kemudian dikolaborasikan dengan teori inovasi pendidikan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa reformasi pendidikan dasar yang dilakukan Sultan Muhammad Rashad meliputi pembaharuan kurikulum pendidikan dasar, peningkatan kualitas tenaga pengajar, serta desentralisasi struktur lembaga pendidikan yang telah dibentuk sebelumnya. Peraturan pendidikan dasar yang dibuat oleh Sultan Muhammad Rashad berjalan sampai berakhirnya Turki Utsmani. Hingga saat ini bangunan sekolahnya masih dipakai untuk belajar mengajar.ix,79 hl
Kekhalifaan Turki Utsmani (Studi Kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih 1451-1481 M)
Hasil Penelitian ini menemukan 1)Sultan Muhammad al-Fatih atau Mehmet II
dilahirkan pada 29 Maret 1432 Masehi di Adrianopoliss (perbatasan Turki-Bulgaris)
dan mendapatkan pendidikan terbaik yang tersedia di Turki Utsmani. Disebutkan di
berbagai sumber Muhammad al-Fatih menguasai lima bahasa dan sangat menguasai
seni perdamaian dan perang. Muhammad al-Fatih merupakan Sultan ketujuh dalam
silsilah kerajaan Turki Utsmani. Muhammad al-Fatih digelari al-Fatih yang berarti
sang pembuka karena keberhasilannya dalam penaklukan Konstantinopel. 2)Dalam
menjalankan pemerintahannya Muhammad al-Fatih mengeluarkan kebijakanya,
diantaranya kebijakan di bidang politik pemerintahan dengan membuat hukum
undang-undang untuk mengatur administrasi dan manajemanisasi pemerintahan,
kebijakan di bidang militer dengan memperkuat pasukan Utsmani dan kebijakan di
bidang keagamaan dengan diberlakukan sistem millet. Kebijakan ini Sultan terapkan
untuk menciptakan pemerintahan Turki Utsmani yang efektif, aman dan sejahtera.
3) Keberhasilan yang dicapai Muhammad al-Fatih pada masa kepemimpinannya
diantaranya dalam bidang politik dapat menaklukkan Konstantinopel dan
pemerintahan, dalam bidang sosial ekonomi budaya dengan memperhatikan penyair
dan perdagangan industri, dan dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban dengan
membangun akademi sekolah
Kekhalifaan Turki Utsmani (Studi Kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih 1451-1481 M)
Hasil Penelitian ini menemukan 1) Sultan Muhammad al-Fatih atau Mehmet II
dilahirkan pada 29 Maret 1432 Masehi di Adrianopoliss (perbatasan Turki-Bulgaris)
dan mendapatkan pendidikan terbaik yang tersedia di Turki Utsmani. Disebutkan di
berbagai sumber Muhammad al-Fatih menguasai lima bahasa dan sangat menguasai
seni perdamaian dan perang. Muhammad al-Fatih merupakan Sultan ketujuh dalam
silsilah kerajaan Turki Utsmani. Muhammad al-Fatih digelari al-Fatih yang berarti
sang pembuka karena keberhasilannya dalam penaklukan Konstantinopel. 2) Dalam
menjalankan pemerintahannya Muhammad al-Fatih mengeluarkan kebijakanya,
diantaranya kebijakan di bidang politik pemerintahan dengan membuat hukum
undang-undang untuk mengatur administrasi dan manajemanisasi pemerintahan,
kebijakan di bidang militer dengan memperkuat pasukan Utsmani dan kebijakan di
bidang keagamaan dengan diberlakukan sistem millet. Kebijakan ini Sultan terapkan
untuk menciptakan pemerintahan Turki Utsmani yang efektif, aman dan sejahtera.
3)Keberhasilan yang dicapai Muhammad al-Fatih pada masa kepemimpinannya
diantaranya dalam bidang politik dapat menaklukkan Konstantinopeldan
pemerintahan, dalam bidang sosial ekonomi budaya dengan memperhatikan penyair
dan perdagangan industri, dan dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban dengan
membangun akademi sekolah
KONTRIBUSI MUHAMMAD AL-FATIH (1429-1481 M) PADA PENDIDIKAN ISLAM DI PEMERINTAHAN TURKI UTSMANI
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam di dunia memiliki pokok ajaran
salah satunya tentang sejarah. Cicero, Filosof Yunani mengatakan: “Historia ia
magistra vitae” sejarah adalah guru yang hidup. Urgensi mempelajari ilmu sejarah
bagi umat Islam tertuang dalam QS. Thaha : 99, QS. Yusuf : 111 dan QS. Al-Hasyr :
18. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini yaitu kurangnya minat insan
pendidikan Islam pada umumnya untuk mempelajari sejarah Islam. Sejarah Islam
yang disampaikan di pendidikan Islam Indonesia banyak berpusat dan berhenti pada
pemerintahan bani Umayyah dan Abbasiyah. Padahal kepemimpinan Islam setelah itu
tidak boleh dilupakan begitu saja termasuk dalam pemerintahan Turki Utsmani.
Tokoh terkenal dalam kepemimpinan khalifah Utsmaniyah yaitu Sultan ke-7 (tujuh)
Muhammad II (Al-Fatih) yang telah berhasil menaklukkan kota Konstantinopel..
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja kontribusi Muhammad Al-
Fatih (1429-1481 M) pada Pendidikan Islam di Pemerintahan Turki Utsmani dan
bagaimana relevansinya terhadap pendidikan Islam saat ini.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan
fokus penelitian pada kontribusi Muhammad Al-Fatih pada Pendidikan Islam di
Pemerintahan Turki Utsmani. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber
data sekunder dan tersier. Teknik pengumpulan datanya menggunakan dokumentasi
serta analisis datanya menggunakan analisis isi (content analisys) dan analisis
deskriptif deduktif.
Hasil penelitian ini yaitu kontribusi Muhammad Al-Fatih pada pendidikan
Islam di pemerintahan Turki Utsmani yang meliputi pembangunan akademi dan
sekolah seperti penggunaan masjid Aya Sofya, dan Zairek sebagai pusat kegiatan
pendidikan Islam, pada masa kecilnya sultan membangun madrasah Sultaniye,
dibangun juga Dârü’l-Fünûn yang menjadi cikal bakal Istanbul University.
Kurikulum dan metode pendidikan berupa pendidikan agama dan pendidikan ilmu
umum serta pendidikan keahlian. Gaji guru dan petugas madrasah diatur dalam
undang-undang ‘Kanun-Name-i Al-i Osman’ yang sumber keuangannya diambil dari
lembaga wakaf, dan tingkatan madrasah serta program belajarnya meliputi Madrasah
Haşiye-i Tecrid, Madrasah Miftah, Madrasah Kırklı, Madrasah Ellili, Sahn-ı Seman,
Madrasah Altmışlı
Kata Kunci : Muhammad Al-Fatih dan Pendidikan Isla
KEBIJAKAN PEMERINTAH TURKI MENCABUT UNDANG-UNDANG LARANGAN HIJAB TAHUN 2013
Berdasarkan uraian dari bab 1 sampai dengan bab 4, maka dapat disimpulkan bahwa proses politik dalam pencabut UU larangan hijab Turki dimulai dari fungsi input yang meliputi komunitas politik, artikulasi politik, agregasi politik, komunikasi politik hingga terciptanya suatu output yang berupa kebijakan yang mengikat masyarakat Turki. Adapun input tersebut adalah sebuah tuntutan serta dukungan dari masyarakat, LSM, Organisasi maupun Kelompok Masyarakat yang menentang keberadaan UU langan hijab tersebut. Mereka menginginkan adanya penghapusan dan pencabutan UU larangan hijab yang diberlakukan di Turki. Keberadaan UU larangan hijab di Turki telah membuat masyarakat muslim Turki dan para perempuan kehilangan hak-hak sipil mereka. Hal tersebut di atas yang akhirnya membuat Pemerintah Turki yaitu antara pihak eksekutif dan legislatif berunding mengenai isu hijab tersebut. Maka disinilah terjadi proses konversi dari fungsi agregasi kepentingan yang didapat dari input hingga menjadi sebuah output.
Pada tahun 2013 Erdogan berhasil mencabut UU larangan hijab bagi semua masyarakat Turki terkecuali orang yang berprofesi sebagai polisi, militer, hakim dan jaksa. Erdogan menggunakan alasan HAM dan konsep demokrasi dalam mengajukan perubahan UU larangan hijab tersebut. Alasan-alasan Erdogan inipun akhirnya diterima oleh sebagian besar anggota parlemen Turki, yang mana lebih dari 50% menerima alasan Erdogan dan menyetujui perubahan UU larangan Hijab. Keberhasilan ini juga disebabkan oleh penguasaan partai AKP yang pada saat itu masih mendominasi kursi parlemen. Akhirnya pada bulan Oktober 2013, Erdogan mengumumkan kebijakan bahwa Undang-Undang larangan hijab di Turki telah di cabut dan kini perempuan Turki telah bebas menggunakan hijabnya di lingkungan sekolah maupun publik
Rekonsiliasi Turki Dengan Rusia Pada Tahun 2016 Reconciliation of Turkey With Rusia in 2016
Pada tanggal 9 Agustus 2016, Turki dan Rusia menjalin rekonsiliasi
hubungannya setelah terjadi konflik pada bulan November 2015 tentang
penembakan pesawat Sukhoi milik Rusia oleh Turki yang terjadi di perbatasan
Turki dengan Suriah. Rekonsiliasi Turki dengan Rusia tersebut terjadi setelah
Turki mengalami krisis setelah percobaan kudeta gagal yang terjadi pada 15 Juli
2016. Turki meminta maaf kepada Rusia perihal insiden penembakan pesawat
SU-24, namun sebelumnya Putin juga memberikan dukungan langsung kepada
Erdogan setelah percobaan kudeta terjadi. Kondisi hubungan Turki dengan Rusia
berubah dalam kurun waktu cepat, padahal keduanya sempat dalam konflik panas.
Turki yang diminta memintaa maaf atas insiden penembakan pesawat milik Rusia,
bersikukuh terhadap tindakannya dan tidak mengakui kesalahan serta mengklaim
Rusia yang telah melewati batas udara milik Turki walau hanya untuk sesaat.
Penelitaan ini bertujuan untuk menganalisis alasan Turki melakukan rekonsiliasi
hubungannya dengan Rusia dengan memggunakan asumsi dasar neorealisme.
Terdapat tiga asumsisi dasar neorealisme menjadi kunci peneliti dalam
menjelaskan alasan Turki melakukan rekonsiliasi hubungannya dengan Rusia.
Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif dan menggunakan data-data sekunder
yang berasal dari buku, jurnal, serta media cetak online. Data-data tersebut
dianalisis dan dideskripsikan untuk memperoleh gambaran secara utuh tentang
permasalahan yang diteliti dalam skripsi ini.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa alasan Turki merekonsiliasi
hubungannya dengan Rusia pada tahun 2016 dipengaruhi oleh sifat defensif-realis
Turki yang sedang mengalami dilema setelah terjadi kudeta pada tahun yang sama.
Namun tidak hanya itu saja yang menjadi dilema Turki. Peneliti menggunakan
paradigma Neorealisme, pertama Turki sedang dalam kondisi dilema karena
respon Barat yaitu Uni Eropa dan Amerika Serikat tidak mencerminkan dukungan konstruktif terhadap Turki setelah kudeta. Hal tersebut membuat Turki
memberikan sedikit pilihan dalam menjalin sekutu. Rekonsiliasi hubungan Turki
dengan Rusia merupakan strategi Turki untuk mendapatkan stabilitas dalam
negeri juga luar negeri. Kedua Turki ingin mengamankan perbatasannya dengan
Suriah karena Turki dengan Rusia sama-sama memiliki banyak kepentingan di
Suriah dan kepentingan mereka sangat kontras. Kontras yang dimaksud adalah
Turki tidak mendukung rezim Suriah yang sedang berkuasa namun mendukung
oposisinya. Berbeda dengan Rusia yang mendukung pihak rezim yang berkuasa.
Ketiga hubungan dagang Turki dengan Rusia sudah terjalin lama sehingga Turki
lebih condong melakukan kerja sama kembali dengan Rusia. Lalu yang terakhir
Turki ingin mengamankan suplai energi dari Rusia. Ketergantungan Turki
terhadap Rusia tentang suplai energi sangat tinggi. Turki juga menjadi negara
yang menjadi penerima suplai energi Rusia secara langsung melalui proyek -
TurkStream. Turki ingin memanfaatkan proyek tersebut sehingga kedepannya
Turki mampu mengatasi krisis ener
Pemikiran Turki Uthmaniyah Menurut Syeikh Wan Ahmad Bin Muhammad Zain Al-Fatani Dalam Bukunya Hadīqat Al-Azhār Wa Al-Rayāhīn
Kajian ini bertujuan untuk mengkaji biografi Syeikh Wan Ahmad bin
Muhammad Zain al-Fatani, buku beliau berjudul Hadīqat al-Azhār wa al-Rayāhīn, dan
mengkaji sejarah kerajaan Turki Uthmaniyah yang dimuatkan dalam buku tersebut.
Kajian ini juga ingin mengkaji sumbangan penulisan beliau terhadap masyarakat Melayu
Patani secara khusus. Data yang berkaitan telah dikumpulkan melalui kaedah
kepustakaan yang terdiri daripada artikel-artikel ilmiah, buku-buku yang berkaitan
dengan sejarah Turki Uthmaniyah dan lain-lain dalam pelbagai bahasa termasuk bahasa
Melayu, Arab, Inggeris dan Thai. Hasil kajian mendapati bahawa pertama, di Patani
terdapat para ilmuwan yang berkebolehan dalam bidang sejarah selain daripada bidang
agama dan lain-lain. Kedua, Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fatani
merupakan seorang tokoh yang pakar dalam bidang sejarah khususnya sejarah kerajaan
Turki Uthmaniyah. Ketiga, buku Hadīqat al-Azhār wa al-Rayāhīn merupakan karya
sejarah yang memberikan gambaran tentang sejarah kerajaan Turki Uthmaniyah sejak
zaman sultan pertama sehingga kepada zaman akhir hayat beliau sendiri. Keempat,
beliau terpengaruh dengan kaedah penulisan sejarah yang ditulis oleh Al-Saiyid Ahmad
bin Zaini Dahlān seorang tokoh sejarah terkemuka Saudi Arabia pada masa itu yang juga
merupakan guru kepadanya. Kelima, buku ini memberi sumbangan kepada bidang
sejarah yang sekali gus dapat menyifatkan bahawa Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad
Zain al-Fatani merupakan salah seorang ahli sejarah Islam dari kalangan orang Melayu
Sekularisasi dalam perundangan Turki dan kesannya terhadap masyarakat
Pengisytiharan Turki sebagai sebuah negara republik oleh Mustafa Kemal Ataturk telah membuka laluan kepada proses sekularisasi, khususnya dalam aspek perundangan. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji proses sekularisasi dalam perundangan Turki serta mengenal pasti kesannya terhadap masyarakat. Kajian ini menggunakan metode kajian kepustakaan dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Metode analisis kandungan dijalankan ke atas data-data yang diperoleh. Kajian mendapati proses sekularisasi perundangan Turki telah dilakukan sejak era Khilafah Uthmaniyyah dan diteruskan secara lebih agresif pada era Ataturk. Sekularisasi dalam perundangan telah memberi kesan terhadap gaya hidup masyarakat di bandar serta menyumbang kepada konflik polarisasi masyarakat. Justeru, kajian ini menegaskan bahawa sekularisasi dalam perundangan Turki merupakan cerminan kepada kegagalan Ataturk dalam membezakan di antara keperluan untuk maju dengan keperluan bagi memelihara Islam sebagai warisan tradisi Turki
- …
