2 research outputs found

    Analisis Dinamika Atmosfer Saat Hujan Lebat di Wilayah Pontianak Menggunakan Model WRF-ARW (Studi Kasus 22-23 Desember 2022)

    No full text
    Abstract West Kalimantan has a tropical rainforest climate characterized by high rainfall intensity. On December 22–23, 2022, heavy rainfall occurred in Pontianak City with an intensity reaching 101.3 mm/day, resulting in flooding in the area. This study analyzes weather conditions and atmospheric stability during the event using the WRF-ARW model with FNL data as model input, along with GSMaP data and observations of air temperature and surface pressure for verification. Model accuracy was evaluated using dichotomous equations (Accuracy, FAR, POFD), correlation coefficient, and Mean Absolute Error (MAE). The verification results indicate that the GD scheme performed better than the KF Kessler and KF Lin schemes, with the GD scheme achieving an accuracy value of 0.74 and lower error. Analysis using the GD scheme suggests atmospheric conditions conducive to the formation of convective clouds that caused the heavy rainfall. These conditions were marked by an unstable atmosphere with a maximum temperature of 30°C before the rain, low surface pressure, high wind speeds in the waters west of Pontianak City, humidity reaching 100%, and CAPE values indicating moderate instability (2000 J/kg). Keywords: Heavy rain, cumulus parameterization scheme, WRF-ARW  Abstrak Kalimantan Barat memiliki iklim hutan hujan tropis yang dicirikan dengan intensitas curah hujan tinggi. Pada 22–23 Desember 2022, terjadi hujan lebat di Kota Pontianak dengan intensitas mencapai 101,3 mm/hari, yang menyebabkan banjir di kota tersebut. Studi ini menganalisis kondisi cuaca dan stabilitas atmosfer selama peristiwa tersebut menggunakan model WRF-ARW dengan data FNL sebagai input model, serta data GSMaP dan pengamatan suhu udara serta tekanan permukaan untuk verifikasi. Akurasi model dievaluasi menggunakan persamaan dikotomi (Akurasi, FAR, POFD), koefisien korelasi, dan Mean Absolute Error (MAE). Hasil verifikasi menunjukkan bahwa skema GD memiliki performa lebih baik dibandingkan skema KF Kessler dan KF Lin, dengan nilai akurasi skema GD mencapai 0,74, serta error lebih rendah. Analisis dengan skema GD mengindikasikan kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan konvektif penyebab hujan lebat. Kondisi ini ditandai oleh atmosfer yang labil dengan suhu maksimum 30°C sebelum hujan, tekanan permukaan rendah, kecepatan angin yang tinggi di perairan bagian barat Kota Pontianak, kelembapan udara mencapai 100%, serta kategori CAPE menunjukkan ketidakstabilan sedang (2000 J/Kg). Kata-kata kunci: Hujan lebat, skema parameterisasi kumulus, WRF-AR

    Analisis Dinamika Atmosfer Saat Hujan Lebat di Wilayah Pontianak Menggunakan Model WRF-ARW (Studi Kasus 22-23 Desember 2022)

    No full text
    Abstrak Kalimantan Barat memiliki iklim hutan hujan tropis yang dicirikan dengan intensitas curah hujan tinggi. Pada 22–23 Desember 2022, terjadi hujan lebat di Kota Pontianak dengan intensitas mencapai 101,3 mm/hari, yang menyebabkan banjir di kota tersebut. Studi ini menganalisis kondisi cuaca dan stabilitas atmosfer selama peristiwa tersebut menggunakan model WRF-ARW dengan data FNL sebagai input model, serta data GSMaP dan pengamatan suhu udara serta tekanan permukaan untuk verifikasi. Akurasi model dievaluasi menggunakan persamaan dikotomi (Akurasi, FAR, POFD), koefisien korelasi, dan Mean Absolute Error (MAE). Hasil verifikasi menunjukkan bahwa skema GD memiliki performa lebih baik dibandingkan skema KF Kessler dan KF Lin, dengan nilai akurasi skema GD mencapai 0,74, serta error lebih rendah. Analisis dengan skema GD mengindikasikan kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan konvektif penyebab hujan lebat. Kondisi ini ditandai oleh atmosfer yang labil dengan suhu maksimum 30°C sebelum hujan, tekanan permukaan rendah, kecepatan angin yang tinggi di perairan bagian barat Kota Pontianak, kelembapan udara mencapai 100%, serta kategori CAPE menunjukkan ketidakstabilan sedang (2000 J/Kg). Kata-kata kunci: Hujan lebat, skema parameterisasi kumulus, WRF-AR
    corecore