1,721,022 research outputs found

    AKULTURASI NILAI BUDAYA MELAYU DAN BATAK TOBA PADA MASYARAKAT MELAYU KOTA TANJUNGBALAI ASAHAN

    No full text
    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Abstract: &lt;/strong&gt;This paper attempts to analyze the acculturation process of Malays and Toba Batak cultures in Asahan Tanjungbalai, and to what extent the Sultan of Asahan influenced the process of acculturation. This study uses descriptive qualitative research method. The findings of this research showed that the process of acculturation Malay and Muslim Toba Batak culture in the city emerged from the government of Tanjungbalai Sultan Asahan I who ruled in the city before the independence era of the Republic of Indonesia. Religious leaders (ulama) and traditional leaders also played a role in the acculturation process of Malay cultural values in Tanjungbalai, especially in the Batak Toba ethnic Muslim milieu. Acculturation between these two cultures gave birth to a Malay culture which led to a different characteristic to the Malay culture in the archipelago. The author affirms that Malays in the city, by nature, tends to be tough in character as a result of Toba Batak ethnic character.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Abstrak: &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Acculturation of the Malay and Toba Batak Cultural Values on Malay Societies in Tanjung Balai City Asahan North Sumatra&lt;/strong&gt;.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bertujuan untuk mengetahui proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Tanjungbalai Asahan, serta seberapa besar pengaruh Sultan Asahan dalam proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Asahan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses akulturasi budaya Melayu dan budaya Batak Toba Muslim di kota Tanjungbalai berawal  dari  pemerintah Sultan Asahan I yang memerintah di kota Tanjungbalai sebelum kemerdekaan  Negara Republik Indonesia. Tokoh agama (ulama) dan tokoh adat juga turut berperan dalam  proses akulturasi nilai budaya Melayu di Kota Tanjungbalai, khususnya pada etnis Batak Toba Muslim. Akulturasi antar dua budaya ini melahirkan sebuah budaya Melayu yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan budaya Melayu di Nusantara. Melayu di kota ini memiliki sifat serta karakter yang cenderung kasar dan keras, seperti karakter etnis Batak toba.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Kata Kunci: &lt;/strong&gt;Melayu, Batak Toba, Kesultanan Asahan, Islam&lt;/p&gt;</jats:p

    Komunikasi Penanaman Nilai-Nilai Budaya Melayu Pada Masyarakat Batak Toba Muslim Di Kota Tanjungbalai Sumatera Utara

    Full text link
    Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang berkaitan dengan sejarah kesultanan Asahan di kota Tanjungbalai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi penanaman nilai-nilai budaya Melayu pada masyarakat Batak Toba Muslim di kota Tanjungbalai. Tanjungbalai adalah salah satu kota di Sumatera Utara, yang dikenal memiliki adat budaya Melayu. Melayu sebagai kelompok budaya, mempunyai ciri-ciri: bertutur bahasa Melayu, beragama Islam, dan beradat istiadat Melayu. Nilai-nilai ini tumbuh dan berkembang serta diturunkan dari generasi ke generasi. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Adapun bentuk penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Hasil penelitian membuktikan bahwa proses masuk dan berkembangnya nilai-nilai budaya Melayu di kota Tanjungbalai, bermula dari kedatangan Sultan Aceh (Sultan Iskandar Muda) yang singgah sebentar salah satu Tanjung untuk beristirahat dalam perjalanan. Proses komunikasi penanaman nilai- nilai budaya Melayu pada etnis Batak Toba Muslim di kota Tanjungbalai ini kemudian dilanutkan pada masa pemerintah (Sultan Asahan (Putra kandung Sultan Iskandar Muda yaitu Sultan Abdul Jalil) yang memerintah di kota Tanjungbalai sebelum kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Sultan memerintahkan seluruh masyarakat yang hidup dibawah perlindungan sultan untuk berbudaya Melayu. Selain itu, tokoh agama (ulama) dan tokoh adat turut berperan dalam penanaman nilai budaya Melayu di Kota Tanjungbalai, khususnya pada etnis Batak Toba. Akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba yang terjadi di kota Tanjungbalai ini, kemudian melahirkan budaya Melayu yang berbeda dengan Melayu di daerah lain. Melayu di kota Tanjungbalai memiliki sifat dan ciri khas yang cenderung keras seperti sifat masyarakat Batak Toba pada umumnya

    Strategi Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN-SU Medan

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), sehingga dapat mencapai visi dan misinya. Apa langkah yang ditempuh FDK dalam mencapai tujuan? Adakah strategi pencapaian yang dilakukan FDK dalam menjalin hubungan keluar? apakah FDK mempunyai target waktu ? Apakah program Program Studi yang ada memenuhi syarat kurikulum yang berkualitas? Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SU. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teori Executif Summary dalam buku Laurie J. Wilson & Joseph D. Ogden, Strategic Communications Planning : For Effective Public Relation & Marketing. Dari Hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa saat ini, FDK mulai memperbaiki diri melalui beberapa strategi komunikasi yang baru. Diantaranya dengan memperbaiki visi dan misi FDK, membenahi diri melalui perbaikan kurikulum serta Prodi yang ada. Selain itu FDK juga melakukan sosialisasi ke daerah-daerah bahkan ke beberapa Perguruan Tinggi di luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand, dalam rangka memperkenalkan FDK ke masyarakat

    Peer Review Teori Kultivasi

    Full text link

    Pemahaman Masyarakat Muslim Kota Medan Terhadap Makna Halal dan Tayib

    Full text link
    This study is a field study on the understanding of the Muslim community of Medan on the meaning of halal and tayyib. The problem of Halal and tayyib is not new in Muslim society, because all aspects of Muslim life are always in contact with the words halal and tayyib. Halal is not only related to food and beverages but all products consumed by society. This study uses a descriptive qualitative research approach. Data collection techniques using qualitative methods, namely interviews, Focus Group Discussion (FGD), and documentation. Most Muslims in Medan do not understand the meaning of halal and tayyib according to Islamic teachings

    Konflik dan Media Sosial (Konflik di Kota Tanjung Balai Sumatera Utara)

    Full text link
    Penelitian ini adalah penelitian lapangan menggunakan kualitatif, penelitian ini meneliti tentang konflik yang terjadi di kota Tanjungbalai antar etnis Cina dan Melayu yang berakibat kerusakan beberapa kelenteng di kota Tanjungbalai. Tanjungbalai adalah kota yang terletak di Sumatera Utara, sebuah kota yang dianggap sebagai model kerukunan antar umat beragama. Tanjungbalai adalah sebuah kota pantai kecil yang baru-baru ini dilanda konflik "antar-agama'. Sebuah teguran yang sebenarnya tidak berbahaya namun sangat tidak sopan dan tidak sensitif tentang kebisingan suara azan oleh seorang perempuan Non Muslim (Buddha) dan non pri-bumi (Cina) memicu kerusuhan fisik yang relatif kecil kegaduhan non-fisik (daring) terhadap komunitas Buddha dan Cina di Tanjungbalai khususnya, dan Cina umumnya. Orang yang dianggap "Melayu" dikota ini tidaklah "murni" atau benar-benar berasal dari suku Melayu sebagaimana yang lazim ditemukan di daerah Melayu lain. Orang Melayu di kota ini terdiri dari berbagai kelompok budaya dan agama, yang didominasi oleh etnis dan budaya suku Batak Toba. Oleh karena itu, orang Melayu di kota ini cenderung bersikap seperti orang Batak Toba, berkarakter keras dan memiliki solidaritas tinggi. Karakteristik ini mungkin bisa menerangkan tentang cepat dan kuatnya kemunculan konflik dan kerusuhan antar-agama di Tanjung Balai
    corecore