1,720,972 research outputs found
ADSORPSI PENCEMARAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT OLEH KITOSAN YANG MELAPISI ARANG AKTIF TEMPURUNG KELAPA
Chitosan has been used as biosorbent. In addition to having advantages, chitosan as biosorbent also has disadvantages. Chitosan is very soluble in low pH, so it cannot adsorb Cr (total) at low pH. It is because the active site (amine group) of chitosan undergoes protonation, and its adsorption capability is easily influenced by anions in waters. Therefore, this research studied the use of chitosan coating on active charcoal of coconut shell to increase the adsorption capability of Cr (total), BOD, and COD. This research was done to evaluate the characteristics of the liquid waste quality with or without Wastewater treatment unit (IPAL), and compare them with the Regulation of DIY Governor number 7/2010. It also studied the effect of pH and Concentration of chitosan coating on active charcoal as adsorbent on the decrease of Cr (total), BOD, and COD concentration in the liquid waste of leather tanning. The results indicate that the liquid waste of the leather tanning industry with and without Wastewater treatment unit (IPAL) have exceeded the quality standard for the liquid waste of leather tanning industry. An ANOVA statistical test indicated that Cr (total), BOD, and COD are significant at 0.05 (p < 0.05), with various pH influencing the decrease in Cr (total), BOD, and COD. The highest removal percentage resulting from the effect of chitosan concentration coating on active charcoal is obtained in adsorbent C (K3A1), with Cr (total) (91.9%); BOD (99.5%); and COD (98.47%).
Uji Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (piper betle L) Terhadap Kualitas Mikrobiologi dan pH Sebagai Pengawet Alami Mie Basah
Abstrak – Telah dilakukan penelitian tentang Uji Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (piper betle L) Terhadap Kualitas Mikrobiologi dan pH Sebagai Pengawet Alami Mie Basah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun sirih dapat mengawetkan mie basah dan bagaimana tingkat kesukaan panelis terhadap mie basah yang ditambahkan ekstrak daun sirih. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengetahui jumlah mikroba (TPC) dan nilai pH terhadap mie basah yang diberikan ekstrak daun sirih dengan berbagai variasi Konsentrasi selama masa penyimpanan 0 jam, 12 jam, 24 jam, dan 36 jam. Hasil Penelitian menunjukan bahwa penambahan ekstrak daun sirih pada mie basah dengan konsentrasi 15% dan 30% dapat mempertahankan masa simpan sampai 36 jam dengan total mikroba 2.8 x 104 untuk Konsentrasi 30% dan 2,6 x 105 untuk konsentrasi 15% sedangkan pada perlakuan kontrol hanya mampu mempertahankan sampai 24 jam.
Studi Pembuatan Meat Analog
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan kimia yang terkandung pada meat analog dari tepung ampas tahu. Penelitian ini di lakukan dalam 2 tahap yaitu tahapan pertama adalah pembuatan tepung ampas tahu, kemudian di lanjutkan ke tahap yang kedua yaitu pembuatan meat analog atau daging tiruan dengan 5 perlakuan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) factor tunggal dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penelitian ini dilakukan dari bulan November 2018 sampai Januari 2019 di Laboratorium Fakultas Pertanian dan Laboratorium LPPMHP. Hasil yang di peroleh dari penelitian ini adalah perlakuan bahan baku meat analog tepung ampas tahu memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik kimia dan organoleptic meat analog tepung ampas tahu dengan kadar protein tertinggi 19.73, kadar lemak 1.7, kadar air terendah 42.9, kadar abu 1.31, kadar karbohidrat 33.14, serta tingkat penerimaan panelis terhadap aroma, warna, dan tekstur yang di sukai.Kata Kunci : Meat Analog, Tepung Ampas Tah
Asap cair cangkang sawit sebagai Biopreservative pada protein Tongkol (Thunnus sp) daging merah dan daging putih
MODIFIKASI PATI UMBI TALAS DENGAN METODE CROSS LINKING DAN APLIKASINYA SEBAGAI PENSTABIL PADA ES KRIM
Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi Sodium Trypoliphospat (STTP) dengan metode cross linking terhadap modifikasi pati umbi talas untuk diaplikasikan sebagai penstabil pada es krim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktor yaitu konsentrasi STTP (0%, 1%, 2%, dan 3%). Perlakuan terbaik diperoleh adalah STTP 3% yaitu memiliki nilai untuk Kadar air berkisar antara 11.66 - 15.33%, overrun berkisar antara 4 - 14%, untuk kecepatan leleh berkisar antara 9 - 14 menit, serta stabilitas emulsi berkisar antara 90-100%. Sementara uji hedonik perlakuan terbaik diperoleh dengan modifikasi pati konsentrasi STTP 3% dengan tingkat kesukaan panelis untuk aroma es krim berkisar antara 4.1 – 5.9, tekstur 1.6 – 5.8, serta untuk rasa berkisar antara 4.1 – 5.9.Kata Kunci : Pati Umbi Talas, Cross Linking, STTP, Es Kri
PENGARUH PENAMBAHAN PEKTIN EKSTRAK KULIT BUAH SALAK TERHADAP SIFAT FISIK SELAI KULIT PISANG KEPOK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi konsentrasi pektin kulit buah salak terhadap karakteristik fisik selai kulit pisang kepok dan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap selai kulit pisang kepok dengan penambahan variasi konsentrasi pektin kulit buah salak. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu variasi kosentrasi penambahan pektin kulit buah salak. Dalam penelitian ini masing-masing perlakuan diulang 3 kali dengan variasi konsentrasi pektin 0%, 0.5%, 1% dan 1.5%. Parameter yang diuji dalam penelitian ini yaitu uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa). Uji kimia (kadar air, sineresis dan daya oles). Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan perlakuan, dan perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan's Multiple Range Test (DMRT). Data diolah menggunakan Microsoft Office Excel 2007 dan apliikasi SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukan penambahan pektin pada selai kulit pisang kepok memberikan pengaruh nyata pada aroma, rasa, tekstur, kadar air, total, sineresis dan daya oles, serta memberikan pengaruh tidak nyata pada warna selai. Penambahan pektin pada selai diperoleh pada perlakuan 1.5% penambahan pektin dengan hasil penilaian pada warna selai dengan nilai 4.3, aroma selai dengan nilai 5.67 (agak suka), tekstur selai dengan nilai 5.16 (suka), rasa selai dengan nilai 5.33 (suka). Kadar air dengan nilai 49.74%, sineresis dengan nilai 0.06%, dan daya oles dengan nilai 11.66 cm
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KARAGENAN RUMPUT LAUT JENIS Kappaphycus alvarezii TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK PRODUK ES KRIM
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen Fisikokimia es krim dengan penambahan tepung karagenan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan 3 perlakuan. Perlakuan A1 (2,5 g), A2 (5 g) dan A3 (7,5 g) dengan 3 kali ulangan. Penelitian uji kimia kadar protein pada A1 14.93%, A2 16.45%, A3 18.21%, uji kadar lemak A1 5.12%, A2 5.21% dan A3 5.27%, uji fisik Viskositas A1 325.67 cp, A2 350.33 cp, dan A3 350.40 cp, Kecepatan pelelehan A1 12.68, A2 12.80, danA3 13.44, Nilai pH A1 7.34, A2 7.38, dan A3 7.38, sedangkan uji organoleptik Warna pada A1 dengan penambahan tepung karagenan 2,5g 5.27, A2 dengan penambahan tepung karagenan 5 g 5.43, A3 dengan penambahan tepung karagenan 7,5 g 5.20. Aroma pada A1 dengan penambahan tepung karagenan 2,5g 5.00, A2 dengan penambahan tepung karagenan 5 g 5.33%, A3 dengan penambahan tepung karagenan 7,5g 5.13. Rasa pada A1 dengan penambahan tepung karagenan 2,5 g 5.33, A2 dengan penambahan tepung karagenan 5g 6.00, A3 dengan penambahan tepung karagenan 7,5g 5.93. Tekstur pada A1 dengan penambahan tepung karagenan 2,5 g 4.37, A2 dengan penambahan tepung karagenan 5g 5.13, dan A3 dengan penambahan tepung karagenan 7,5g 4.9
PENINGKATAN NUTRISI MP-ASI (BISKUIT) DARI SUSU KEDELAI SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI BALITA
Biskuit MP-ASI merupakan solusi pembuatan suplemen ASI karena mengandung nutrisi yang baik untuk tumbuh kembang bayi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai gizi makanan pendamping dan sensoris. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dan bahan utama pengganti susu kedelai dalam pembuatan biskuit makanan pendamping ASI (S1 = 10%: S2 20%: S3 25%). 3 kali ulangan. Data penelitian diolah dengan analisis varians (ANOVA). Jika perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata, dilanjutkan dengan uji berganda Duncan (DMRT) pada taraf kepercayaan 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan menggunakan aplikasi SPSS versi 20. Hasil analisis kimia susu kedelai pada komponen dasar biskuit MPASI menunjukkan bahwa pada perlakuan pertama kadar air rata-rata S1 9,40% S211,34 S3 15,13%, kadar abu S1 0,67% S21,05 S3 1,35%, dan kadar lemak S17 , 95% S211.23 S3 14,92%, kadar serat kasar S1 0,34% S20,39 S3 0,42%, kadar protein S1 10,41% S211,42 S3 13,84%, kadar karbohidrat S1 58,427.4815% Hasil ini memenuhi Standar Nasional Indonesia Disyaratkan kandungan gizi maksimum biskuit tidak melebihi 5%, kecuali kadar air melebihi batas maksimum dan tidak memenuhi persyaratan
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA PEKTIN DARI LIMBAH KULIT RAMBUTAN (Nephelium lappaceum Linn)
Kulit rambutan merupakan limbah yang belum banyak dimanfaatkan. Salah satu usaha untuk mengurangi limbah kulit rambutan yaitu dengan memanfaatkannya menjadi pektin. Indonesia masih mengandalkan pektin import yang relatif mahal hargannya sehingga perlu dilakukan usaha untuk mengurangi import pektin dengan memanfaatkan limbah kulit rambutan untuk diekstrak menjadi pektin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik mutu fisikokimia pektin yang dihasilkan dari ekstraksi limbah kulit rambutan. Rancangan percobaan yang digunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) faktor tunggal dengan perlakuan konsentrasi pelarut HCl 0,1 N, 0,2 N, 0,3 N pada suhu 80C selama waktu 120 menit dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan konsentrasi pelarut terhadap karakteristik kimia pektin memberikan pengaruh nyata terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, kadar metoksil, kadar galakturonat dan sudah sesuai dengan standar mutu IPPA (2003), yang diperoleh pada konsentrasi HCl 0.3 N dengan karakteristik berturut-turut yaitu rendemen 8.02%, kadar air 10.584%, kadar abu 4.37%, berat ekivalen 1046.46 mg, kadar metoksil 4.65%, dan kadar galakturonat 91.61%
PENGARUH KONSENTRASI MALTODEKSTRIN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK PADA TILIAYA INSTAN
Tiliaya dalam penelitian ini akan dibuat instan akan mengikuti perkembangan jaman. Tiliaya instan dibuat dengan menggunakan metode pengeringan oven, dan ditambahkan maltodekstrin sebagai bahan pengisi. Tujuan penelitian untuk mengetahui sifat fisikokimia dan organoleptik tiliaya instan dengan penambahan maltodekstrin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dimana faktor dalam penelitian adalah konsentrasi maltodekstrin yaitu P0 : 0%, P1 : 5%, P2 : 10%, P3 : 15%. Masing-masing perlakuan akan diulang sebanyak 3 kali. Data analisis dengan uji statistik Analisis Of Variance (ANOVA). Bila terjadi uji nyata (p0,5) pada setiap perlakuan, maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik fisikokimia dan organoleptik tiliaya instan dengan penambahan konsentrasi maltodekstrin yaitu : Kadar air dengan nilai 3,09%-4,47%, Kadar Abu dengan nilai nilai 0,81%-1,16%, Kadar protein dengan nilai 7,11%-11,08%, Kadar lemak dengan nilai 16,99%-18,06%, Karbohidrat dengan nilai 66,31%-70,93%, Daya serap air dengan nilai 47,92%-66,03%, Waktu rehidrasi dengan nilai 0,58 menit-1,19 menit, Densitas kamba 0,54g/mL-0,70g/mL, Viskositas dengan nilai 327,73mPa.s-924,50mPa.s, dan hasil dari organoleptik yaitu : Warna dengan nilai 5,10-5.23, Aroma dengan nilai 5,10-5,30, Rasa dengan nilai 5,00-5.23, Tekstur dengan nilai 4,93-5,50
- …
