5 research outputs found

    Tradition und Moderne in Tidore, Indonesien: die Instrumentalisierung islamischer Rituale und ihre politische Relevanz

    No full text
    Probojo L. Tradition und Moderne in Tidore, Indonesien: die Instrumentalisierung islamischer Rituale und ihre politische Relevanz. Südostasien. Münster: Lit; 1998

    Konflik tanpa akhir: pedagang minoriti dalam masyarakat pasca-kolonial

    No full text
    B: Sebuah bangsa yang lekat pada keuntungan, sedikit bertanya, apakah sesuatu yang diperoleh dengan hak atau tanpa hak, didapatkan dengan kelicikan atau dengan kekerasan. Nampaknya juga demikianlah halnya dalam perdagangan, atau seperti istilahnya dalam bahasa Jerman, yakni, yang telah dijadikan untuk penipuan R: Menyatakan kebenaran kepada mereka: saya bukan termasuk teman untuk keputusan umum yang berlaku bagi seluruh bangsa. (G.E. Lessing 1749. (copied from article

    Between Modernity and Tradition: ‘Local Islam’ in Tidore, North Maluku, the Ongoing Struggle of the State and the Traditional Elites

    No full text
    'Islam Lokal' orang Tidore, atau kebudayaan, hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan roh personal, jin. Kepercayaan ini dianggap sebagai bukan Islam, terbelakang dan bukan orang Indonesia; bahkan sebagai penyembah berhala, alfuru, oleh beberapa pegawai pemerintah sipil Tidore yang berpengaruh, dan terlibat di dalam program pembangunan pemerintah. Program pembangunan tersebut mencakup aspek-aspek seperti perubahan industri perikanan regional yang bersifat tradisional menjadi industri perikanan yang bersifat modern dan melibatkan masyarakat ke dalam gotong royong desa. Perusahaan-perusahaan baru di bidang industri perikanan dan pertanian menghasilkan sebuah sistem moneter baru yang berpengaruh besar pada struktur sosial dan kebudayan lokal. Ideologi negara, Pancasila, menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Masyarakat mulai memperdebatkan istilah Islam Pancasila, yang hanya menyembah Allah, dan Muslim yang hanya pergi ke mesjid. Menjadi modern tidak hanya berarti menjadi kaya. Ini adalah satu contoh kasus berimbasnya globalitas terhadap lokalitas. Di sisi lain, globalitas dapat memperkuat kesadaran lokalitas. Terdapat pula serangan-serangan terbuka terhadap kebudayaan sendiri yang diorganisasikan oleh para mubaliq di sekitar Ternate, yang mendukung gerakan keagamaan dalam melenyapkan rumah-rumah dan artefak-artefak roh,yang sangat menyinggung harga diri orang Tidore. Tetapi, keadiluhungan Orang Tidore lainnya yang bersifat tradisional menggarisbawahi 'bhinneka tunggal ika', serta 'menggali dan melestarikan kebudayaan setempat'. OrangTidore mendeklarasikan secara resmi bahwa 'Islam' di Tidore tidak akan pernah dapat dipisahkan dari Jin mereka. Tulisan ini mengulas perdebatan tersebut. Menyikapi hal ini, penulis berargumentasi bahwa ideologi pembangunan nasional dan negara bangsa telah mendorong masyarakat Tidore ke dalam kancah konflik dengan kebudayaannya sendiri. Gagasan 'kesatuan dalamkeragaman' hanya dapat direalisasikan, jika perbedaan dihormati dan diterima sebagai sebuah representasi sosial yang sahih dari setiap lokalitas
    corecore