4,204 research outputs found
Pituitary adenylate cyclase-activating polypeptide acts synergistically with relaxin in modulating ovarian cell function in rats.
PENGARUH LATIHAN SHOOTING MENGGUNAKAN METODE DRILL TERHADAP KETEPATAN SHOOTING KE GAWANG PADA PEMAIN TUNAS MUDA FC
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan shooting menggunakan metode drill terhadap ketepatan shooting ke gawang pada pemain tunas muda fc. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain pra-eksperimen Pree-test dan post-tes. Populasi dalam penelitian ini adalah pemain sekolah sepak bola tunas muda fc yang berjumlah 24 pemain. Sampel yang diambil adalah seluruh pemain tunas muda fc yang berjumlah 24 pemain. Instrumen yang digunakan untuk tes ketepatan shooting adalah akurasi tendangan ke gawang dari nurhasanah (2001:157). Analisis data menggunakan uji t paired sampel test. Hasil analisi menunjukan bahwa terdapat peningkatan latihan shooting menggunakan metode drill terhaadap ketepatan shooting ke gawang pada pemain tunas muda fc, dengan t hitung 8, 568 > t tabel 23 dan nilai signifikan 0,000 < 0,05 dengan peningkatan persentase 32%
Kontribusi Power Otot Tungkai dan Koordinasi Mata dan Kaki terhadap Ketepatan Shooting ke Gawang pada Pemain Lindai Sinau Fc
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Kontribusi Power Otot Tungkai Dan Koordinasi Mata Dan Kaki Terhadap Ketepatan Shooting Ke Gawang Pada Pemain Lindai Sinau FC. Adapun jenis penelitian ini adalah korelasi ganda. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah pemain Lindai Sinau FC yang berjumlah 22 orang dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling sehingga sampel pada penelitian ini berjumlah 22 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes standing broadjump, tes koordinasi mata dan kaki, serta tes shooting ke gawang. Teknik analisa data yang digunakan adalah menghitung nilai korelasi ganda. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Terdapat kontribusi power otot tungkai terhadap ketepatan shooting ke gawang pada pemain Lindai Sinau FC sebesar KD = 43,16% dengan nilai rhitung = 0,657 > rtabel = 0,423 (2) Terdapat kontribusi koordinasi mata dan kaki terhadap ketepatan shooting ke gawang pada pemain Lindai Sinau FC sebesar KD = 29,27% dengan nilai rhitung = 0,541 > rtabel = 0,423 (3) Terdapat kontribusi power otot tungkai dan koordinasi mata dan kaki terhadap ketepatan shooting ke gawang pada pemain Lindai Sinau FC sebesar KD = 50,41% dengan nilai rhitung = 0,710 > rtabel = 0,423
Modulatory role of transforming growth factor β1 and androstenedione on follicle-stimulating hormone-induced gelatinase secretion and steroidogenesis in rat granulosa cells.
Transactivation of EGFR tyrosine kinase by the dietary flavonoids decreases focal adhesion kinase phosphorylation and inhibits invasive potential of human carcinoma cells.
Interplay of PI3K and cAMP/PKA signaling, and rapamycin-hypersensitivity in TGFβ1 enhancement of FSH-stimulated steroidogenesis in rat ovarian granulosa cells.
TGFb1 stimulates the secretion of matrix metalloproteinase 2 (MMP2) and the invasive behavior in human ovarian cancer cells, which is surpressed by MMP inhibitor BB3103.
Critical involvement of ILK in TGF beta 1-stimulated invasion/migration of human ovarian cancer cells is associated with urokinase plasminogen activator system
The Reproducibility of Lists of Differentially Expressed Genes in Microarray Studies
Reproducibility is a fundamental requirement in scientific experiments and clinical contexts. Recent publications raise concerns about the reliability of microarray technology because of the apparent lack of agreement between lists of differentially expressed genes (DEGs). In this study we demonstrate that (1) such discordance may stem from ranking and selecting DEGs solely by statistical significance (P) derived from widely used simple t-tests; (2) when fold change (FC) is used as the ranking criterion, the lists become much more reproducible, especially when fewer genes are selected; and (3) the instability of short DEG lists based on P cutoffs is an expected mathematical consequence of the high variability of the t-values. We recommend the use of FC ranking plus a non-stringent P cutoff as a baseline practice in order to generate more reproducible DEG lists. The FC criterion enhances reproducibility while the P criterion balances sensitivity and specificity
- …
