70 research outputs found
Hubungan Jenis Persalinan Dengan Kejadian Postpartum Blues Pada Ibu Nifas DI Rumah Sakit Daerah Balung Kabupaten Jember
Postpartum blues merupakan suatu sindrom gangguan ringan berupa perasaan sedih yang sering dirasakan oleh ibu saat periode postpartum yang terjadi pada kisaran dua hingga 14 hari semenjak ibu melahirkan. Postpartum blues dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berhubungan atau multifaktor. Jenis persalinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi postpartum blues. Proses persalinan seringkali menimbulkan traumatik pada aspek psikologis sehingga mengakibatkan berbagai masalah pada psikologis ibu postpartum berupa ketakutan dan kecemasan. Jenis persalinan yang sering dilakukan adalah normal pervagina dan sectio caesarea.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis persalinan dengan kejadian postpartum blues pada ibu postpartum di Rumah Sakit Daerah Balung Kabupaten Jember. Variabel independen adalah postpartum blues dan variabel dependen adalah jenis persalinan. penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling. data dikumpulkan dengan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dan lembar ceklist jenis persalinan. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji chi square dengan nilai signifikan 0,05.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan responden sebanyak 61 orang dengan persalinan normal pervagina sejumlah 22 responden dan persalinan sectio caesarea sejumlah 39 responden. Responden yang mengalami postpartum blues pada persalinan normal pervagina sejumlah 3 orang (4,9%) dan sectio caesarea sejumlah 17 orang (27,9%). Hasil uji chi-square menunjukkan nilai value adalah 0,036 (ρ value
< 0,05) dan hasil dari odd ratio adalah 4,89 (OR = 4,89). Maka dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian postpartum blues.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian postpartum blues pada ibu nifas di Rumah Sakit Daerah Balung Kabupaten Jember. Jenis persalinan dapat mempengaruhi kejadian postpartum blues karena seseorang memiliki pengalaman yang buruk sehingga menyebabkan trauma psikis yang dapat menimbulkan kemampuan ibu dalam merawat diri dan bayi akan berkurang. Perawat mampu melaksanakan peran perawat dalam melakukan edukasi dan melakukan antenatal care secara rutin pada masa kehamilan ibu sehingga ibu dapat mengetahui kondisi janin yang dikandung dan dapat mempersiapkan persalinan yang akan dilakukan, memberikan edukasi pada ibu dan keluarga tentang dampak dari jenis persalinan, melaksanakan pengkajian lebih lanjut atau memberikan informasi dan konseling pada ibu postpartum blue
Hubungan Dukungan Suami Dengan Kesiapan Persalinan Pada Ibu Hamil Usia Remaja Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukowono Kabupaten Jember
Kesiapan persalinan merupakan proses perencanaan kelahiran dan antisipasi
tindakan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Ibu hamil usia remaja (<20
tahun) termasuk kelompok berisiko karena pada usia tersebut fungsi reproduksi
dan mental belum matang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
antara dukungan suami dan kesiapan persalinan pada ibu hamil usia remaja di
wilayah kerja Puskesmas Sukowono Kabupaten Jember. Penelitian ini
menggunakan korelasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Besar
sampel 34 ibu hamil usia remaja dengan menggunakan total sampling. Data
diperoleh dengan menggunakan kuesioner dukungan suami (nilai validitas 0,759 -
0,820 dan nilai reliabilitas 0,789) dan kuesioner kesiapan persalinan (nilai
validitas 0,488 - 0,835 dan nilai reliabilitas 0,957). Analisis data menggunakan uji
spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mendapatkan
dukungan suami kurang yaitu 19 orang dan kesiapan persalinan kategori siap
yaitu 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara dukungan
suami dengan kesiapan persalinan (p - value = 0,000) dan kekuatan (r = 0,623).
Dukungan suami sangat penting terhadap kesiapan persalinan pada ibu hamil usia
remaja. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan suami yang
diterima ibu hamil, maka semakin tinggi kesiapan persalinan. Dukungan suami
pada ibu hamil sangat berarti karena suami merupakan orang terdekat bagi ibu
hamil. Dukungan yang diberikan suami kepada ibu hamil dapat memberikan
ketenangan sehingga menimbulkan sikap positif ibu terhadap kehamilannya. Ibu
hamil usia remaja yang memiliki dukungan suami yang baik akan mempersiapkan
rencana dan program persalinan yang lebih matang, sehingga persalinan ibu hamil
lancar dan memberikan keselamatan pada ibu dan janin
Gambaran Masalah Keperawatan pada Anak dengan Demam Tifoid di Rumah Sakit Perkebunan Sekarisidenan Besuki
Demam tifoid menempati penyakit 3 besar setelah diare dan dengue fever dan merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dialami oleh anak dan dapat menyebabkan kematian. Demam tifoid disebabkan oleh bakteri S.Typhi yang terjadi karena personal hygiene yang buruk dan kurangnya kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Bakteri S.Typhi yang masuk kedalam tubuh melepaskan endotoksin yang menimbulkan berbagai gejala klinis. Berdasarkan tanda dan gejala yang muncul dapat dirumuskan menjadi suatu masalah keperawatan aktual, masalah keperawatan risiko, dan masalah keperawatan promosi kesehatan. Dalam perumusan masalah keperawatan tersebut terdapat kesenjangan antara literatur dengan praktik kerja di rumah sakit akibat perbedaan dalam perumusan masalah keperawatan berdasarkan tanda dan gejala yang muncul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan masalah keperawatan pada anak dengan demam tifoid di Rumah Sakit Perkebunan Sekarisidenan Besuki. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif dengan jumlah sampel 176 responden pasien anak dengan demam tifoid. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar cheklist masalah keperawatan dari SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia). Analisis data pada penelitian ini adalah menggunakan analisis univariat. Hasil analisis karakteristik responden demam tifoid terkait usia didapatkan karakteristik terbanyak pada usia 1-3 tahun dan 3-6 tahun yang masing-masing memiliki nilai yang sama sebesar 53 orang atau 30,1%, jenis kelamin laki-laki (100 orang atau 56,8%), dan tidak memiliki riwayat demam tifoid sebelumnya (159 orang atau 90,3%). Hasil analisis pada masalah keperawatan aktual didapatkan tertinggi pada masalah keperawatan hipertermia (151 atau 85,8%). Hasil analisis masalah keperawatan risiko didapatkan tertinggi pertama yaitu masalah keperawatan ketidakseimbangan cairan (16 atau 9,1%). Hasil analisis masalah keperawatan promosi kesehatan didapatkan tertinggi pada masalah keperawatan kesiapan peningkatan manajemen kesehatan (1 atau 0,6%). Hasil analisis masalah keperawatan pada 176 responden didapatkan 235 masalah keperawatan yang muncul dengan proporsi tertinggi pertama pada masalah keperawatan aktual (215 atau 91,5%). Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini yaitu masalah keperawatan tertinggi pada masalah keperawatan aktual. Masalah keperawatan aktual membutuhkan tindakan utama dalam menangani tanda dan gejala demam tifoid yang muncul saat ini untuk mengurangi kejadian yang tidak diinginkan seperti kematian pada anak. Implikasi keperawatan yang dapat diterapkan yaitu memberikan informasi untuk meningkatkan pengetahuan perawat dalam mengangkat masalah keperawatan dengan memperhatikan tanda gejala yang muncul pada proses pengkajian, sehingga perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan mampu memberikan tindakan keperawatan secara tepat yang pada akhirnya dapat mengurangi masalah keperawatan pada anak dengan demam tifoid
Hubungan Persepsi Orang Tua Tentang Kegawatan Demam Berdarah Dengue Dengan Tindakan Penanganan Awal Demam Berdarah Dengue Pada Anak DI Rumah DI Wilayah Kerja Puskesmas Jenggawah Jember
Hingga saat ini Demam Berdarah Dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang umum di Indonesia. Salah satu penyebab kematian akibat penyakit DBD karena persepsi yang salah pada penderita dan penyakit DBD. Respon masyarakat mengenai penyakit DBD cenderung menganggap bukan masalah serius, sehingga menyebabkan perilaku pencegahan dan penanganan DBD kurang terkontrol seperti keterlambatan pengobatan, diagnosis yang salah, pengetahuan yang tidak memadai tentang tingkat keparahan penyakit, pemahaman tentang tanda-tanda keparahan penyakit DBD, dan penanganan awal yang salah dapat menyebabkan DBD menjadi lebih parah dan mengakibatkan syok.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi orang tua tentang kegawatan Demam Berdarah Dengue dengan tindakan penanganan awal Demam Berdarah Dengue pada anak di rumah di wilayah Puskesmas Jenggawah. Penelitian ini menggunakanldesain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada 67 sampel sesuai kriteria inklusi dengan teknik total sampling. Kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner Persepsi Kegawatan Demam Berdarah Dengue dan kuesioner Tindakan Penanganan Awal Demam Berdarah Dengue. Analisis hubungan persepsi dengan tindakan penanganan awal menggunakan uji korelasi spearman rank test dengan tingkat signifikasi 0,05
Pengaruh Fisioterapi Dada terhadap Saturasi Oksigen pada Anak dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di RSU Kaliwates Jember
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses yang secara
kontinu di mulai dari konsepsi hingga dewasa yang menggambarkan semua
perubahan yang terjadi pada hidup seseorang di dalam kandungan hingga lahir
yang dapat diamati pertumbuhan dan perkembangannya. Jika individu mengalami
suatu perubahan atau penurunan dari kondisi yang sebelumnya maka dapat
dikatakan sakit. Apabila terdapat masalah kesehatan pada anak, maka proses
tumbuh kembangnya juga akan ikut terhambat. ISPA adalah penyebab utama
morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia terutama pada bagian
perawatan anak. Pada RSU Kaliwates Jember didapatkan data penderita ISPA
pada balita sebanyak 67 anak yang tiap bulannya berobat rawat inap. Manifestasi
klinis dari penyakit ini biasanya batuk tidak efektif yang ditandai dengan hidung
tersumbat akibat produksi mukus berlebihan yang menyebabkan proses
pernafasan tidak berjalan dengan lancar. Anak yang berusia kurang dari 5 tahun
masih kesulitan untuk mengatur bersihan jalan nafas secara mandiri sehingga akan
mengalami ketidakefektifan bersihan jalan nafas dan memiliki resiko cukup tinggi
untuk mengalami sesak nafas. Anak yang mengalami gangguan saluran
pernafasan sering terjadi peningkatan produksi lendir atau dahak yang berlebihan
pada paru-parunya sehingga lendir tersebut menumpuk dan menjadi kental hingga
sulit untuk dikeluarkan, terganggunya transportasi pengeluaran dahak ini dapat
menyebabkan anak semakin kesulitan untuk mengeluarkan dahak. Mukus ini
menjadi sumbatan atau obstruksi jalan napas yang menghalangi masuk dan
keluarnya udara dari dan ke paru-paru dapat menurunkan jumlah oksigen yang
masuk ke dalam paru-paru, yang menyebabkan absorpsi oksigen oleh darah
berkurang sehingga saturasi oksigen pasien dibawah normal. Fisioterapi dada
efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi dengan
mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membersihan
sekret dari bronkus untuk mencegah penumpukan sekret sehingga oksigen dapat
masuk ke dalam paru-paru dan saturasi oksigen normal.
Penelitian ini menggunakan pra experimental dengan pendekatan one
group pretest-posttest design. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple
random sampling dengan menetapkan subjek yang dilakukan secara acak. Total
sampel adalah 20 responden balita usia 1-5 tahun dengan diagnosa medis ISPA
yang mendapatkan terapi fisioterapi dada dengan saturasi oksigen normal dan
hipoksia. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pulse oxymetry untuk mengetahui perubahan saturasi oksigen pada pasien.
Fisioterapi dada dilakukan dalam durasi waktu 20 menit dengan frekuensi 2 kali
dalam sehari yaitu pada pagi dan malam hari. Hipotesis yang diambil dalam
penelitian ini adalah hipotesis alternatif (Ha) dengan tingkat kesalahan (α) <0,05,
yaitu ada pengaruh fisioterapi dada terhadap saturasi oksigen pada anak ISPA. Uji
statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Uji statistik Wilcoxon digunakan
untuk menganalisis perbedaan rata-rata nilai saturasi oksigen pretest dan posttest
pada kelompok perlakuan.
Hasil uji Wilcoxon kelompok perlakuan pada nilai saturasi oksigen
didapatkan nilai p-value 0,001. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata nilai saturasi oksigen pada
kelompok perlakuan. Berdasarkan hasil dari uji statistik, dapat disimpulkan bahwa
fisioterapi dada berpengaruh terhadap saturasi oksigen pada anak ISPA. Hal ini
dibuktikan dengan adanya peningkatan darah bersih yang mengandung oksigen
mencapai pembuluh kapiler jaringan sehingga oksigen dapat berdifusi ke
pembuluh darah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif
pilihan fisioterapi dada pada anak ISPA untuk meningkatkan saturasi oksigen
Gambaran Efikasi Diri Maternal Pada Ibu Remaja Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukowono Kabupaten Jember
Ibu remaja merupakan perempuan yang masih pada tahap peralihan antara masa anak-anak dan dewasa tetapi harus berperan sebagai orang tua. Ibu remaja memiliki perasaan dilema yang mana harus menjalankan tugasnya sebagai ibu yaitu membesarkan anak dan memenuhi kebutuhannya. Di sisi lain sebagai remaja, dia harus menyelesaikan permasalahannya dalam fase tumbuh kembang remaja. Ibu remaja memiliki pengalaman yang terbatas dalam merawat bayi, dengan demikian sering merasa tidak kompeten dan tidak percaya diri. Kondisi ini akan menghambat dalam menjalankan perannya sebagai ibu.
Efikasi diri maternal merupakan kepercayaan diri terhadap kemampuan, kompetensi seorang ibu yang dirasakan dalam merawat bayinya dan persepsi peran sebagai ibu. Percaya diri merupakan faktor yang mempengaruhi adaptasi dan pencapaian identitas ibu dalam perawatan bayi serta kedekatan ibu dengan anak. Percaya diri yang tinggi akan menunjukkan efikasi diri yang tinggi pula. Sedangkan efikasi diri yang rendah ditunjukkan dengan ketidakpuasaan dengan peran orang tua.
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran efikasi diri maternal pada ibu remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Sukowono Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metodel deskritpif analitik. Sampel pada penelitian ini berjumlah 50 responden yang berusia kurang dari 20 tahun. Instrumen pada
penelitian ini adalah kuesioner efikasi diri maternal yang terdapat 20 pertanyaan, kuesioner ini memiliki 4 pilihan jawaban. Analisa data pada penelitian ini adalah menngunakan analisa univariat.
Pada penelitian ini didapatkan usia 19 tahun paling banyak memiliki efikasi diri rendah daripada usia lainnya. Hal ini berbeda dengan karakteristik remaja tahap akhir. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan faktor sosial budaya mengenai riwayat pernikahan karena married by accident (MBA). Semakin besar usia bayi semakin sering ibu remaja berinteraksi dengan bayi mereka sehingga dapat mempengaruhi efikasi diri maternal ibu remaja. Mayoritas responden adalah ibu primipara. Ibu primipara memiliki efikasi diri maternal lebih rendah daripada ibu multipara karena ibu multipara lebih banyak pengalaman dalam merawat anak. Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi efikasi diri maternal ibu remaja. Ibu yang berpendidikan kurang yang memiliki pengetahuan yang terbatas tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi sehingga dapat mempengaruhi efikasi diri maternal. Seluruh responden adalah ibu rumah tangga dan lebih dari separuh responden memiliki pendapatan <Rp 500.000 perbulan. Ibu remaja yang hanya di rumah dengan pendapatan rendah mengakibatkan ibu remaja bergantung pada orangtua. Kebiasaan ini menjadi hal yang lumrah untuk mendapatkan dukungan keungan untuk memenuhi perawatan sehari-hari bayi dikeluarga ibu remaja
HUBUNGAN PERAN PERAWAT PENDIDIK DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT KLIEN SKIZOFRENIA DI POLI PSIKIATRI RSD dr. SOEBANDI KABUPATEN JEMBER
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan peran perawat pendidik dengan kepatuhan minum obat klien skizofrenia di Poli Psikiatri RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember. Manfaat penelitian bagi peneliti yakni mampu berpikir kritis dan ilmiah serta meningkatkan pengetahuan mengenai peran perawat pendidik dan kepatuhan minum obat. Manfaat bagi institusi pendidikan keperawatan yakni menjadi sumber rujukan terbaru dan bahan ajar mengenai keilmuan khususnya keperawatan jiwa dan manajemen. Manfaat bagi Instansi Pelayanan Kesehatan dapat dijadikan sumber informasi dan masukan untuk mengoptimalkan pendidikan kesehatan dan pembuatan kebijakan dalam kepatuhan minum obat klien skizofrenia rawat jalan, khususnya ditatanan keperawatan jiwa agar tidak timbul kembali ketidakpatuhan.
Desain penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penyusunan hingga publikasi dilakukan mulai Desember 2015 hingga Juni 2016. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah 171 klien skizofrenia dan jumlah sampel sebanyak 62 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan Consecutive Sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner kepatuhan minum obat modifikasi dari Morisky Medication Adherence Scales.
Hasil uji statistik spearman-rank menunjukkan ada hubungan peran perawat pendidik dengan kepatuhan minum obat klien skizofrenia di Poli Psikiatri RSD dr. Soebandi Jember (p value = 0,000 dan r=0,536; CI = 95%). Distribusi peran perawat pendidik berfungsi baik sebanyak 59,7 % dan tidak berfungsi baik sebanyak 40,3%. Kepatuhan minum obat dengan kategori kepatuhan tinggi sebanyak 48,4%, kategori kepatuhan sedang 46,8 % dan sisanya kategori kepatuhan rendah. Adanya indikator dalam peran perawat pendidik yang menjadi prioritas adalah kemampuan dalam berkomunikasi, wawasan luas, empati, dan contoh perilaku professional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator peran perawat pendidik yang terlaksana dengan baik adalah indikator contoh perilaku professional, sehingga perlu ditingkatkan lagi mengenai indikator kemampuan komunikasi pada perawat agar sebagaimana fungsi dan tugas peran perawat pendidik dapat terlaksana dengan baik
Pengaruh Stres Hospitalisasi pada Anak Usia 3-6 Tahun dengan Permainan Peralatan Medis dan Puzzle di Ruang Anak Rumah Sakit Umum Kaliwates
Stres hospitalisasi merupakan pengalaman tidak menyenangkan sehingga
anak yang harus berusaha beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Stres
hospitalisasi disebabkan perpisahan dengan keluarga maupun teman sebaya,
adanya perubahan terhadap status kesehatan dengan lingkungan, keterbatasan
mekanisme koping anak mengatasi masalah. Reaksi stres hospitalisasi merubah
anak bersikap agresif, marah, berontak, sering bertanya, tidak mau makan, tidak
kooperatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi permainan
peralatan medis dan puzzle terhadap stres hospitalisasi anak usia 3-6 tahun di
RSU Kaliwates yang merupakan salah satu RS agricultural di Jawa Timur.
Penatalaksanaan stres hospitalisasi dapat diatasi dengan APE (Alat
Permainan Edukatif) sebagai sarana mengembangkan daya berpikir, aspek bahasa,
motorik, dan keterampilan. Model asuhan keperawatan anak untuk menekankan
stres hospitalisasi menggunakan modifikasi teori adaptasi S.C. Roy. Jenis
penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan rancangan one
group pre and posttest design without control. Peneliti menggunakan metode
pengambilan sampel simple random sampling dengan cara mengocok nama-nama
responden yang telah memenuhi kriteria pengukuran kuesioner skrining untuk
menentukan 20 sampel. Kuesioner Behavioral Checklist pada penelitian bertujuan
untuk mengukur tingkat stres hospitalisasi.
Analisa univariat untuk mengetahui frekuensi, persentase pada setiap sub
variabel dan analisa bivariat untuk mengetahui adanya perbedaan hasil
menggunakan shapiro wilk, dan uji statistik parametrik paired sample t-test.
Berdasarkan penelitian 20 responden mendapatkan hasil pretest terbanyak stres
hospitalisasi sedang sebesar 70,0%, menjadi posttest terbanyak stres hospitalisasi
rendah sebesar 75,0% didominasi laki-laki sebesar 55,0% usia 3 tahun.
Mengalami hospitalisasi 2-3 hari (55,0%), dan tidak pernah dihospitalisasi 55,0%.
Rerata pretest diberikan terapi permainan sebesar 41,10 menjadi 46,95. Tanda
negatif pada kolom difference -5,7 menunjukkan nilai selisih penurunan.
Pada uji paired sample t-test menunjukkan ada perbedaan antara tingkat
stres hospitalisasi anak usia 3-6 tahun pretest dan posttest (ρ value = 0,000)
karena nilai p <0,05 sehingga kombinasi terapi permainan peralatan medis dan
puzzle memiliki pengaruh terhadap tingkat stres hospitalisasi. Kesimpulan
penelitian ini adalah setelah diberikan terapi permainan tingkat stres hospitalisasi
anak banyak mengalami penurunan atau dominan rendah. Hasil penelitian ini
dapat digunakan sebagai acuan untuk peneliti selanjutnya, seperti
mengkombinasikan permainan operation IBD dan materi kerajinan serupa yang
dapat dikreasikan anak
PENGARUH DIABETES SELF MANAGEMENT EDUCATION AND SUPPORT (DSME/S) TERHADAP KUALITAS HIDUP PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER
Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik kronik dengan penderita
tidak mampu memproduksi insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin
dengan cukup sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa darah yang melebihi
nilai normal. DM merupakan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan
dalam waktu cukup panjang. Pengetahuan dan kemampuan pasien DM
diperlukan untuk melakukan manajemen perawatan diri. Self-care
merupakan tindakan yang bertujuan untuk mengontrol diabetes yang meliputi
tindakan pengobatan dan pencegahan komplikasi. Ketidakpatuhan pasien dalam
perawatan diri dapat menyebabkan kenaikan gula darah dan menimbulkan
berbagai macam komplikasi. Kondisi ini mempengaruhi kualitas hidup
pasien. Penanganan DM tipe 2 yang dapat memberikan peranan penting ialah
edukasi. Diabetes Self-Management Education and Support (DSME/S)
merupakan salah satu bentuk edukasi yang memfasilitasi pengetahuan,
keterampilan, kemampuan pasien, dan dukungan keluarga dalam melakukan
perawatan diri yang optimal guna mencegah timbulnya komplikasi dan
meningkatkan kualitas hidup. DSME/S ini diberikan dalam bentuk discharge
planning kepada pasien dalam meningkatkan pengetahuan mengenai DM dan
menambah keterampilan pasien dalam melakukan perawatan diri secara mandiri.
Discharge planning yang baik memungkinkan pasien DM secara mandiri
melakukan perawatan lanjutan yang aman dan realistis setelah meninggalkan
rumah sakit.
Tujuan pada penelitian ini adalah menganalisis pengaruh Diabetes
Self-Management Education and Support (DSME/S) terhadap kualitas hidup
pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSD dr. Soebandi Jember. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian quasi experimental dengan desain penelitian
pre test post test with control group design. Teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik consecutive sampling yaitu pengambilan secara
berurutan sesuai dengan urutan pasien masuk rumah sakit dengan jumlah sampel
sebanyak 30 orang yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu 15 orang pada
kelompok intervensi dan 15 orang pada kelompok kontrol. Pengukuran
kualitas hidup menggunakan Diabetes Quality of Life (DQOL). Pemberian
DSME/S diberikan sebanyak 6 kali dengan 4 sesi dirumah sakit dengan durasi 60 menit setiap sesinya dan 2 sesi dirumah pasien dengan durasi 150 menit setiap
sesinya. Uji dependent t-test digunakan untuk mengetahui perbedaan kualitas
hidup pasien DM Tipe 2 sebelum dan sesudah pemberian DSME/S pada
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Uji Independent t-test
digunakan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 antara
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
Hasil analisis data menggunakan uji dependent t-test diperoleh nilai p
sebesar 0,001 pada kelompok perlakuan dan nilai p sebesar 0,002 pada kelompok
kontrol. Nilai p pada kedua kelompok yaitu p < α (α=0,05), yang berarti ada
perbedaan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 sebelum dan sesudah
pemberian DSME/S pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Hasil
analisis data menggunakan uji independent t-test diperoleh nilai p < α (α=0,05)
yaitu sebesar 0,001 yang berarti ada perbedaan kualitas hidup antara kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol. Peningkatan kualitas hidup lebih tinggi
pada kelompok perlakuan dibandingkan pada kelompok kontrol.
DSME/S bertujuan dalam mendukung pengambilan keputusan, perilaku
perawatan diri, pemecahan masalah, dan kolaborasi aktif dengan tim kesehatan
lain untuk meningkatkan hasil klinis, status kesehatan, dan kualitas hidup.
Keluarga berperan penting dalam perawatan kesehatan terutama bagi pasien DM.
Keluarga atau orang terdekat bagi pasien DM adalah pihak yang pertama kali
memberikan pertolongan apabila salah satu anggota keluarga atau terdekatnya
mengalami gangguan kesehatan. Dukungan keluarga dalam proses pemeliharaan
dan perawatan kesehatan melalui DSME/S ini diharapkan dapat meningkatkan
kepatuhan pasien dalam melakukan perawatan sehingga kualitas hidupnya
meningkat
Gambaran Dukungan Sosial Ibu Hamil Dengan Preeklampsia di RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo
Desain penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan menggunakan
non probability sampling dengan pendekatan consecutive sampling. Sampel
dalam penelitian ini berjumlah 60 responden ibu hamil dengan preeklampsia pada
usia kehamilan >20 minggu. Instrument pada penelitian ini menggunakan
kuesioner Medical Outcomes Study : Social Support Survey (MOS-SSS) yang
terdiri dari 19 pertanyaan dengan empat indikator dan satu pernyataan tambahan.
Analisis data pada penelitian ini adalah menggunakan analisis univariat.
Hasil analisis karakteristik responden terkait kejadian preeklampsia
didapatkan karateristik terbanyak pada usia 20-35 tahun (41 orang atau 68,3%),
paritas multipara (38 orang atau 63,3%), riwayat pemyakit (tidak ada 49 orang
atau 81,7%), pendidikan SD (33 orang atau 55%), tidak bekerja (54 orang atau
90%), dan ekonomi Rp. 500.000,-Rp. 1.000.000, (43 orang atau 71,7%). Pada tiap
indikator dukungan sosial ibu hamil dengan kategori tinggi berada pada dukungan
emosional (38 orang atau 63,3%), dukungan affectionate (45 orang atau 75%),
dan dukungan interkasi sosial (31 orang atau 51,7%), sedangkan pada kategori
sedang berada pada dukungan tangible (31 orang 51,7%) dan pernyataan
tambahan berupa pengalihan kondisi ibu (56 orang atau 93,3%). Terkait dukungan
sosial yang diterima oleh ibu hamil dengan preeklampsia berada pada kategori
sedang (31 orang atau 51,7%).
Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini yaitu tingkat dukungan
sosial yang diterima oleh responden masih memerlukan dukungan lebih untuk
dapat menunjang status kesehatan. Dukungan tersebut dapat berupa informasi,
pemberian fasilitas yang dibutuhkan dan ikut serta memeriksakan kehamilan di
fasilitas kesehatan. Implikasi keperawatan yang dapat diterapkan yaitu
memberikan suatu informasi dan edukasi mengenai kondisi kehamilan dengan
preeklampsia serta memberikan teknik relaksasi untuk mengurahi tingkat
kecemasan, stres, dan memberikan rasa nyaman aman bagi ibu
- …
