2 research outputs found

    Peran Social Media Content Creator pada Future Creative Network (Finch Agency)

    No full text
    Latar belakang dari pemilihan tempat magang yang dilakukan karena adanya fenomena konvergensi yang menjadi serba digital pada industri periklanan. Tujuan dari kerja magang ini adalah untuk memahami proses suatu konten dari awal dikonsepkan hingga dapat dieksekusikan. Perusahaan yang menjadi tempat kerja magang adalah Finch Agency yang merupakan anak perusahaan dari Future Creative Network (FCN). Posisi yang dipilih adalah Social Media Content Creator pada departemen Social Media. Deskripsi pekerjaan sebagai Social Media Content Creator antara laun membuat ide perancangan konsep serta mengeksekusikannya yang berisikan pesan dari brand (klien). Konsep yang digunakan dalam laporan magang ini adalah Trendspotting (Rehn & Lindkvist, 2013), Ideation (Graham & Bachmann, 2004) Content Planning (Halvorson & Rach, 2012), dan Content Production (Halvorson & Rach, 2012). Kendala utama selama proses kerja magang adalah menyesuaikan persona dari klien kepada tren yang sedang terjadi. Kesimpulan yang didapatkan selama melakukan kerja magang diperlukan adanya analisis yang mendalam dan kreatifitas yang tinggi dalam memasukan produk dari klien ke suatu tren

    Analisis Adaptasi Lintas Budaya Mahasiswa Indonesia di Singapura dalam Menghadapi "Kiasu Culture"

    No full text
    Adaptasi merupakan hal penting dalam kehidupan manusia agar dapat menghadapi berbagai perubahan. Komunikasi berperan sebagai alat utama yang membantu individu menyesuaikan diri, terutama saat menghadapi perbedaan budaya dan lingkungan baru. Penelitian ini meneliti komunikasi antarbudaya dan proses adaptasi lintas budaya mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Singapura, dengan fokus pada pengaruh budaya "kiasu" dalam kehidupan akademik. Budaya "kiasu," yang mencerminkan ketakutan akan kegagalan dan dorongan kuat untuk selalu unggul, menjadi nilai dominan dalam sistem pendidikan dan kehidupan sosial di Singapura. Hal ini sangat berbeda dengan budaya belajar di Indonesia yang cenderung lebih santai dan tidak terlalu kompetitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan wawancara mendalam terhadap mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi di Singapura. Hasil temuan menunjukkan bahwa perbedaan budaya ini menimbulkan culture shock, baik secara akademik, perilaku, maupun emosional. Mahasiswa merespons tantangan tersebut dengan strategi asimilasi, seperti menyesuaikan gaya belajar, meningkatkan daya saing, dan mengikuti ritme kerja lokal, serta strategi integrasi dengan tetap mempertahankan identitas budaya asal melalui nilai-nilai pribadi dan kebiasaan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan adaptasi ditentukan oleh fleksibilitas individu dan kompetensi komunikasi antarbudaya yang baik. Adaptasi yang efektif tidak hanya membantu mahasiswa untuk bertahan, tetapi juga meningkatkan pencapaian akademik dan integrasi sosial mereka di lingkungan yang sangat kompetitif. Penelitian ini memberikan kontribusi pada penelitian komunikasi antarbudaya serta memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa internasional dalam menghadapi perbedaan budaya di lingkungan pendidikan global
    corecore