138 research outputs found
Tinjauan Pendampingan Keindonesiaan terhadap Telembai di GMIT Pniel Kolana
Penelitian ini bertujuan untuk meninjau Telembai di GMIT Pniel Kolana dari perspektif pendampingan keindonesiaan. Penelitian ini motivasi oleh adanya fakta masalah yang dialami oleh masyarakat Kolana sehingga budaya telembai hadir dalam upaya mempererat persatuan suku melalui nilai-nilai sosial budaya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif. Metode kualitatif dapat menjelaskan telembai di GMIT Pniel Kolana. Dalam hal pengumpulan data, penulis menggunakan wawancara mendalam (In defth interview). Wawancara ini ditujukan kepada tokoh adat, pendeta jemaat GMIT Pniel Kolana Klasis Alor Timur, tokoh pemerintahan dan masyarakat. Data yang diperoleh dari wawancara kemudian dikaji menggunakan teori pendampingan keindonesiaan dari Jacob Daan Engel. Berdasarkan temuan lapangan, setelah dianalisis dapat dikatakan bahwa; Pendampingan keindonesiaan dapat terjadi melalui telembai kepada jemaat Pniel Kolana sehingga secara tidak langsung telembai menjadi media untuk mempererat hubungan kekeluargaan warga jemaat dengan nilai-nilai sosial budaya yang menghadirkan situasi kemitraan antara pendamping dan yang didampingi dalam menata kehidupan. Telembai sebagai media pendampingan ini juga memberikan motivasi, dukungan dan dorongan untuk membangkitkan kembali semangat. Telembai mengandung nilai-nilai sosial budaya masyarakat seperti, gotong royong, berbagi rasa dan saling menerima, persaudaraan dan solidaritas dan pertemanan
Tinjauan Pendampingan Keindonesiaan Terhadap Korban Bencana Alam Seroja di GMIT Bethesda Tarus
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tinjauan pendampingan ke-Indonesiaan kepada korban bencana alam seroja di GMIT Bethesda Tarus. Penulis memakai pendekatan kualitatif melalui penelitian lapangan dengan teknik observasi lapangan, pengambilan data melalui wawancara, catatan lapangan, studi pustaka serta dokumen resmi atau dokumen pribadi guna mengumpulkan data yang diperlukan untuk dikaji berdasarkan teori Pendampingan Ke-Indonesiaan menurut Jacob Daan Engel. Penelitian ini berhasil menemukan pendampingan ke-Indonesiaan yang diberikan kepada korban bencana alam seroja yang mengalami berbagai persoalan yang berkaitan dengan permasalahan spiritualitas maupun emosional dan juga persoalan dasar yang berkaitan dengan kehilangan hal-hal material di GMIT Bethesda Tarus seperti program pelayanan maupun perkunjungan yang dilakukan oleh majelis jemaat maupun Pendeta melalui suara gembala guna memulihankan kondisi spiritual dan emosional jemaat dan juga melalui bantuan-bantuan dari pemerintah setempat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai payung yang memberikan pertolongan bagi warga setempat. Dengan demikian, melalui tinjauan pendampingan ke-Indonesiaan korban bencana alam seroja di GMIT Bethesda Tarus dapat memberikan kontribusi kepedulian kepada setiap orang melalui kegiatan pendampingan yang merupakan suatu tindakan yang begitu penting guna memulihkan kondisi seseorang yang berada dalam situasi krisis dan persoalan dalam kehidupan seperti bencana seroja yang terjadi. Diharapkan tulis ini dapat menjadi salah satu sumber referensi kepada pembaca guna memahami prinsip-prinsip dari kegiatan pendampingan
Osong Bagi Keluarga yang Berduka di desa Tanete dari Perspektif Pendampingan Keindonesiaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis osong bagi keluarga yang berduka di desa Tanete dari perspektif pendampingan keindonesiaan. Penelitian ini dilata rbelakangi oleh realita bahwa masyarakat to ala' yang tinggal di desa tanete banyak yang menganggap osong hanya sekedar ritual dan ajaran masyarakat yang diturunkan oleh nenek moyang sehingga masyraakat tetap mengembangkan sikap persaudaraan hingga akhir hayat manusia (kematian). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif. Metode kualitatif dapat menjelaskan pemahaman masyarakat to ala' di desa tanete tentang ritual osong, pemahaman keluarga yang berduka terhadap osong, makna ritual osong dan bagaimana sejarah osong di masyarakat to ala' yang sampai saat ini digunakan sebagai ritual kedukaan tradisional. Dalam hal pengumpulan data, penulis menggunakan wawancara mendalam (in defth interview) atau tidak terstruktur. Wawancara ditujukan kepada tokoh adat, petugas adat bululondong, tokoh masyarakat dan beberapa keluarga berduka yang menggunakan ritual osong dalam adat kematian. Data yang diperoleh dari wawancara yang dilakukan kemudian dikaji dengan menggunakan teori ritual oleh Victor Turner, Dhavamony, Catherine Bell, Rohtenbuhler; teori duka dari Totok S. Wiryasaputra dan teori pendampingan keindonesiaan dari Jacob Daan Engel. Berdasarkan temuan lapangan, setelah dianalisis dapat dikatakan bahwa ritual osong mengandung makna penghiburan bagi keluarga yang berduka yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pendampingan keindonesiaan. Kemudian, didalam ritual osong terdapat nilai-nilai sosial budaya masyarakat seperti gotong royong, berbagi rasa dan saling menerima, persaudaraan dan solidaritas yang harmonis dan pertemanan.This study aims to describe and analyze empty for bereaved families in the village of Tanete from the perspective of Indonesian assistance. This research is motivated by the fact that many of the To Ala' people who live in Tanete village consider osong to be just a ritual and community teachings handed down by their ancestors so that the community continues to develop an attitude of brotherhood until the end of human life (death). This research was conducted using qualitative methods and descriptive approach. Qualitative methods can explain the understanding of the to ala' community in Tanete village about the osong ritual, the understanding of families who grieve for osong, the meaning of the osong ritual and how the history of osong in the to ala' community is used as a traditional mourning ritual. In terms of data collection, the authors use in-depth interviews (in defth interview) or unstructured. The interviews were aimed at traditional leaders, Bululondong traditional officials, community leaders and several bereaved families who use the osong ritual in the death custom. The data obtained from the interviews conducted were then examined using ritual theory by Victor Turner, Dhavamony, Catherine Bell, Rohtenbuhler; the theory of grief from Totok S. Wiryasaputra and the theory of Indonesian accompaniment from Jacob Daan Engel. Based on the field findings, after being analyzed it can be said that the osong ritual contains a consolation meaning for grieving families which can then be used as a form of Indonesian assistance. Then, in the osong ritual there are socio-cultural values of the community such as mutual cooperation, sharing feelings and mutual acceptance, harmonious brotherhood and solidarity and friendship
Studi kasus konseling Pastoral terhadap kekerasan Verbal akibat peminjaman online illegal
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis Kekerasan verbal serta kondisi mental akibat peminjaman online illegal dari Prespektif konseling pastoral terhadap mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta lapangan bahwa peminjaman online illegal menimbulkan kekerasan verbal yang memiliki dampak serius bagi Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, seperti depresi dan trauma sehingga menghambat perkuliahan dan relasi di lingkungan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa studi kasus dan pendekatan deskriptif dengan wawancara mendalam sebagai alat pengumpulan data. Data yang diperoleh dari wawancara yang dilakukan dikaji menggunakan teori kekerasan verbal oleh Sutikno dan teori konseling pastoral dari Jacob Daan Engel.Hasil penelitian ditemukan bahwa, korban melakukan peminjaman online illegal dikarenakan kurangnya pengetahuan, tergiur oleh pemasaran iklan, dan lingkungan pertemanan hedon yang menuntut banyak hal dalam pemenuhan keinginan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa konseling pastoral tidak hanya membantu korban kekerasan verbal dalam proses pendampingan dan penyembuhan, akan tetapi korban kekerasan verbal mengalami proses peralihan dari pengembangan potensi yang dimiliki, mampu keluar dari masalah dengan merubah cara pandang dan mampu menemukan kepribadian yang ideal dengan realita yang sebenarnya tentang dirinya kemudian menjalani kehidupan yang lebih baik.This research aims to describe and analyze verbal abuse and mental conditions consequence from illegal online loans from perspective of pastoral counseling for Satya Wacana Christian University (SWCU) students. This research base on by field facts that illegal online loans lending causes verbal abuse which has serious impacts on Satya Wacana Christian University students, such as depression and trauma, so that disturb their studies and relationships in the social environment. This research uses qualitative methods in the form of case studies and descriptive approaches with in-depth interviews as data collection tools. Data gained from interviews, going to analyze using Sutikno's theory of verbal abuse and Jacob Daan Engel's pastoral counseling theory. The research results found that victims did illegal online loans because lack of knowledge, being tempted by advertising marketing, and a hedonistic friendship environment that demanded many things to fulfill their desires. Based on the analysis conducted, it was found that pastoral counseling not only helps victims of verbal abuse in the process of accompaniment and recovery, but victims of verbal abuse have a development transition process by their potential, able to get out of problems by changing their perspective and being able to find an ideal personality with the true reality about themselves and then live a better lif
Aktualisasi Pelayanan Kesehatan Mental di HKBP Distrik XIX Bekasi dari Perspektif Logo Pendampingan.
Tulisan ini membahas tentang aktualisasi pelayanan kesehatan mental di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Distrik XIX Bekasi. Dalam tulisan ini, penulis berargumen bahwa fungsi logo pendampingan keluarga sejalan dengan aturan yang dibuat oleh HKBP yang wajib dijalankan di setiap distrik, sehingga perlu dikembangkan sesuai dengan konteks tiap-tiap jemaat. Salah satu distrik yang telah menjalankan pelayanan kesehatan mental adalah HKBP distrik XIX Bekasi melalui program Diakonia Sosial Huria (DSH). Dalam menjalankan program DSH, masih banyak pendampingan yang belum berhasil menyentuh seluruh lapisan jemaat yang memiliki gangguan mental karena stigma masyarakat yang menganggap aib, mengucilkan dan menjaga jarak dari keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan kesehatan mental. Masyarakat bersikap demikian karena stigma yang masih berkembang di tengah masyarakat yang akhirnya membuat tekanan di keluarga dan membuat keluarga tertutup akan situasi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal ini membuat keadaan keluarga semakin tidak baik. Dengan demikina maka gereja HKBP perlu menyikapi keberadaan para penderita gangguan kesehatan mental, termasuk keluarganya melalui logo pendampingan keluarga.
Lebih lanjut, logo pendampingan keluarga menurut Engel dapat menjadi upaya realisasi diakonia transformative di HKBP
Tinjauan Pendampingan Pastoral Terhadap Penyalahguna Narkotika di Rumah Tahanan Kelas IIB Kota Salatiga
Masalah yang serius adalah tingginya tingkat penyalahgunaan narkotika di masyarakat. Penyalahgunaan narkotika tidak hanya berdampak pada kondisi mental seseorang, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai upaya pendampingan pastoral terhadap penyalahguna narkotika. Upaya tersebut merupakan bentuk proses pemulihan para pengguna narkoba agar bisa melepaskan diri dari kecanduan tersebut. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan ini bertujuan untuk menggali fenomena yang terkait dengan individu atau kelompok tertentu. Subjek pada penelitian ini adalah narapidana kasus narkotika di Rumah Tahanan Kelas IIB Kota Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa narasumber mengkategorikan dirinya sebagai orang yang tingkat spiritualnya rendah. Sehingga hal ini menjadi dasar bahwa pendampingan pastoral perlu ditingkatkan secara personal. Memberikan penyuluhan melalui pendekatan personal memiliki dampak yang signifikan bagi pengguna narkotika. Namun, keberhasilan pendampingan pastoral tergantung pada respons pengguna, keluarga, dan masyarakat sekitarnya. Respons tersebut mencakup penerimaan dan dukungan terhadap perubahan pengguna narkoba dalam upaya kesembuhan dari kecanduan. Penelitian ini difokuskan pada subjek yang sedang menjalani masa hukuman di Rumah Tahanan Kelas IIB Kota Salatiga. Berdasarkan hasil penelitian, penulis berharap penelitian selanjutnya dapat lebih menerapkan pendampingan pastoral secara konkret dan tepat, bukan hanya mempelajarinya.The serious issue at hand is the high prevalence of drug abuse in society. Drug abuse not only has an impact on an individual's mental well-being but also leads to physical damage. This research aims to evaluate the effectiveness of pastoral counseling in addressing drug addiction. The efforts made in this context are part of the recovery process for drug users to overcome their addiction. The research adopts a qualitative method with a descriptive approach, aiming to explore phenomena related to specific individuals or groups. The subjects of this study are inmates convicted of drug-related offenses in the Class IIB Detention Center in Salatiga City. The findings of this research indicate that the interviewees categorize themselves as individuals who are not closely connected to religion. Consequently, this serves as a basis for the need to enhance personalized pastoral counseling. Delivering counseling through a personal approach has a significant impact on drug users. However, the success of pastoral counseling depends on the response from drug users, their families, and the surrounding community. This response encompasses acceptance and support for the changes made by drug users in their efforts towards recovery. This research is focused on subjects currently serving their sentences in the Class IIB Detention Center in Salatiga City. Based on the research outcomes, the author hopes that future studies will not only investigate pastoral counseling but also implement it in a concrete and precise manner
Rekonstruksi Model Konseling Dan Pendampingan Onen Yang Efektif Menopang Dan Memberdayakan Istri Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Yayasan Sanggar Suara Perempuan Soe
Rekonstruksi model konseling dan pendampingan onen, ditujukan untuk menopang dan memberdayakan istri korban kekerasan. Penelitian ini mengintegrasikan 7 teknik dan pendekatan dalam logo Konseling Engel dengan 3 teknik dan pendekatan baru yang ditemukan dalam budaya onen pada ritus tae manu tef dan onen pada ritus utaum leot milik komunitas Orang Timor-Hoineno. Dasar filosofis ‘nekaf mese ansaof mese makait kit oke’, ‘Uis Neno nokan kit talan tia nabal-bal’ dan ‘Uis Neno nokat al-alkit ok oke’, dalam onen pada kedua ritus ini mengandung nilai-nilai spiritual berupa perjuangan (Tamepan Hit Nekak), solidaritas (Ka/Palufa) dan kekeluargaan (Fomili). Ketiga nilai spiritual ini kemudian diejawantahkan menjadi 3 teknik dan pendekatan baru dalam rekonstruksi model, berupa self struggle (fighting spirit), hybrid solidarity (support system) dan self help ability. Menggunakan metode reasearch and development (R&D), riset ini diterapkan pada 30 orang responden di Yayasan Sanggar Suara Perempuan (YSSP) Soe, dengan pendekatan mix method, quasi experiment (nonequivalent pretest- posttest control group design), observations dan interviews. Rekonstruksi model kosneling dapn pendampingan onen¸pada akhirnya menghasilkan model Konseling dan Pendampingan Feminis Keindonesiaan yang telah teruji efektifit menopang dan memberdayakan istri korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
Fi Ra Wali: Konstruksi Mystic Sphere tentang Sagu Dalam Narasi dan Praktik Sosio-Kultur Masyarakat Sentani
Fi Ra Wali dalam konteks masyarakat Sentani adalah bagian dari proses fenomena dialektika. Ia terpelihara dan dihidupi dalam ruang-ruang perjumpaan yang sakral, sebagai bagian dari realitas kultural kosmik mereka. Pengalaman yang sakral ini secara fungsional melahirkan loyalitas terhadap realitas moral guna memperlakukan alam sebagai saudara. Fi Ra Wali sebagai konsep diri orang Sentani dalam relasi emosional dengan sagu, memiliki sejarah suci tentang leluhur mereka, yang menyebabkan sagu adalah hidup atau kehidupan bagi orang Sentani. Sebagai perwujudan dari realitas kosmik, pada satu sisi, sagu menjadi makanan pokok tetapi pada sisi yang lain, sagu memiliki getaran jiwa yang bersifat anonim dan impersonal. Ia tidak hanya sekedar berfungsi sebagai tanaman lokal atau pohon yang memiliki kekuatan supranatural, tapi ia juga menjadi simbol kelompok yang dapat mengintegrasi semua klan atau kelompok sosial dalam masyarakat, Pertalian antar klan atau kelompok sosial terjadi karena adanya perjumpaan, hubungan dan hidup bersama yang dapat memobilisasi ruang-ruang kepentingan bersama dan nilai komunal. Sagu sebagai simbol suci bukan pada bendanya, tetapi pada cara mengekspresikan nilai dan sikap, sehingga sagu memiliki nilai yang lebih besar, suci, dan transenden dari yang lain. Karena itu, pewarisan nilai dari generasi ke generasi merupakan wujud komitmen moral untuk menghargai perbuatan ilahi di masa lampau serta tetap membangun kohesi sosial di tengah arus modernisasi. Modernisasi turut mempengaruhi tatanan nilai dan perilaku sosial masyarakat Sentani yang plural, karena itu muncullah gerakan glokalisasi dalam bentuk resistensi ala masyarakat Sentani sebagai bentuk penolakan terhadap kelompok dominan yang mengeser tradisi dan budaya lokal guna mempertahankan sagu sebagai komuditas utama yang memberi hidup. Riset etnografi dan teknik fenomenologi akan menggunakan teknik pengumpulan data kualitatif yakni observasi partisipan, wawancara dan studi pustaka digunakan untuk memperoleh data valid demi kepentingan riset. Identitas biasanya terkonstruksi secara kelembagaan berdasarkan kesepakatan juridis dan normative secara kolektif. Disertasi ini menyingkapkan bahwa identitas dapat terkonstruksi secara naratif dalam interaksi keseharian (everyday angagement) di tengah masyarakat. Keseharian hidup melahirkan pengalaman otentik sakral dalam relasi-relasi sosial, baik dalam ruang fisik maupun ruang spiritual orang Sentani. Identitas yang terkonstruksi dari realitas kultural kosmik yang ada dalam kosmologi, mampu mengintegrasikan masyarakat dalam sui generis (klan) guna menghadapi perubahan sosial dalam masyarakat. Dengan demikian, disertasi ini berkesimpulan bahwa Fi Ra Wali telah menciptakan ruang-ruang perjumpaan yang sakral (mistic sphere) sifatnya dalam mengumuli konteks yang multikultur.Fi R a Wali in the context of Sentani community is part of the process of dialectical phenomenon. It is preserved and lived in sacred meeting spaces, as part of their cosmic cultural reality. This sacred experience functionally breeds loyalty to moral reality in order to treat nature as brothers and sisters. Fi Ra Wali as a self-concept of Sentani people in an emotional relationship with sago, has a sacred history about their ancestors, which causes sago is life or life for Sentani people. As an embodiment of cosmic reality, on the one hand, sago becomes a staple food but on the other hand, sago has an anonymous and impersonal vibration of the soul. It not only functions as a local plant or tree that has supernatural powers, but it also becomes a symbol of a group that can integrate all clans or social groups in society, Relationships between clans or social groups occur because ofencounters, relationships and living together that can mobilize spaces of shared interest and communal values. Sago as a symbol of the sacred is not on the object, but on the way to express values and attitudes, so that sago has a greater value, holy, and transcendent than others. Therefore, the inheritance of values from generation to generation is a form of moral commitment to respect past divine deeds and to continue to build social cohesion in the midst of modernization. Modernization also influences the plurality of values and social behavior of the Sentani people, because of that the glocalization movement emerged in the form of resistance in the style of the Sentani people as a form of rejection of the dominant group that shifted local traditions and culture to maintain sago as the main community that gives life. Ethnographic research and phenomenology techniques will use qualitative data collection techniques namely participant observation, interviews and literature study used to obtain valid data for research purposes. Identity is usually constructed institutionally based on collective juridical and normative agreements. This dissertation reveals that identity can be constructed in a narrative in daily interactions ( everyday anga ge ment ) in the community. Everyday life gives birth to authentic sacred experiences in social relations, both in the physical space and the spiritual space of the Sentani people. Identities constructed from cosmic cultural realities that exist in cosmology are able to integrate society in sui generis (clans) in order to deal with social changes in society. Thus, this dissertation concludes that Fi Ra Wali has created spaces of encounter is sacred ( mystic sphere ) mengumuli nature in a multicultural context
Mangapuli sebagai Pendampingan Kedukaan Berbasis Budaya bagi Masyarakat Batak Toba di Desa Hinalang Bagasan Kabupaten Toba
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Mangapuli yang merupakan budaya Batak Toba sebagai pendampingan kedukaan berbasis budaya bagi masyarakat Batak Toba yang mengalami kedukaan di desa Hinalang Bagasan. Penelitian ini dimotivasi oleh fakta bahwa, budaya Mangapuli adalah kegiatan belasungkawa yang dilakukan oleh sanak keluarga untuk menghibur orang yang sedang berduka. Mangapuli bukan hanya sekadar kegiatan menghibur dengan kata-kata saja, melainkan memiliki nilai dan makna yang lebih dari sekedar menghibur. Berangkat dari masalah ini, sehingga sangat penting untuk mengkaji mangapuli dari pendampingan kedukaan dalam masyarakat Batak Toba khususnya di Desa Hinalang Bagasan, Kabupaten Toba, dengan fokus penelitian bagaimana pemaknaan mangapuli dalam masyarakat Batak Toba, dan bagaimana nilai serta makna yang ada dari rangkaian proses mangapuli. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dari rumusan masalah. Teknik Pengumpulan data dengan menggunakan wawancara semistruktural, dan untuk menentukan informan dengan menggunakan snowball dan purposive, dimana terdapat informan kunci dan informan pendukung yang direkomendasikan informan kunci dengan pertimbangan tertentu. Penelitian ini dilakukan di Desa Hinalang Bagasan Kabupaten Toba. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa budaya Mangapuli memiliki makna dan nilai marsihaholongan dalam bahasa Indonesia saling mengasihi, parsaoran dalam bahasa Indonesia kebersamaan, marsiurupan dalam bahasa Indonesia saling membantu, marsisarion dalam bahasa Indonesia saling mempedulikan, dan partinaonan dalam bahasa Indonesia saling menanggung dukacita, beban musibah satu dengan yang lain. Direkomendasikan bagi instansi pendidikan, masyarakat Hinalang dan gereja untuk melaksanakan dan menjaga eksistensi Mangapuli menjadi budaya dalam pendampingan kedukaan berbasis budaya. Namuin, dalam penelitian ini penulis belum sampai membahas tentang relasi lintas agama dalam melaksanakan Mangapuli, dan agama ekstrim yang tidak melaksanakan Mangapuli saat mengalami kedukaan karena doktrin gereja. Maka penelitian lebih lanjut direkomendasikan bagi para peneliti di bidang ini untuk memperlengkapinya
Komitmen Spiritual sebagai Loyalitas, Nilai Religi, dan Manajemen Sumber Daya Manusia di PT. Akuradata Cendikiatama Ekspertia (ACE) Solusindo
Loyalitas sumber daya manusia bagi perusahaan adalah elemen krusial untuk mendapatkan kepercayaan klien melalui penyelesaian pekerjaan. Tingkat loyalitas karyawan yang rendah menjadi permasalahan mendasar bagi perusahaan untuk mencapai visi, misi dan tujuan pendirian perusahaan. Model pengembangan loyalitas karyawan berbasis nilai religi dan manajemen sumber daya manusia mengedepankan nilai identitas, penatalayanan, tujuan, kekeluargaan dan kesatuan ekonomik melalui metodologi penelitian dan pengembangan. Metodologi tersebut menyertakan pendekatan deskriptif analisis, mixed method, quasi eksperimen, dan partisipatif dalam program intervensi Komitmen Spiritual. Observasi, wawancara dan angket untuk mendapatkan data kualitatatif dan data kuantitatif. Eksperimen digunakan untuk membuktikan efektivitas model secara statistikal signifikan, sedangkan wawancara dan observasi lapangan digunakan untuk memperoleh secara praktikal signifikan dampak model. Pengembangan model teruji Komitmen Spiritual menghantarkan hasil akhir teruji sebagai model Komitmen Spiritual dalam meningkatkan loyalitas karyawan berbasis nilai religi dan manajemen sumber daya manusia. Model Komitmen Spiritual merekomendasikan kepada perusahaan dalam mengembangkan nilai – nilai religi sebagai pemaknaan diri untuk mendapatkan loyalitas karyawan. Penelitian lebih lanjut juga direkomendasikan bagi para peneliti di bidang ini untuk memperlengkapi model ini
- …
